Anda di halaman 1dari 2

GANGGUAN KEPRIBADIAN AMBANG (Borderline Personality Disorder) 1.

Definisi Gangguan Kepribadian Ambang (Borderline Personality Disorders) disebut demikian karena berada di perbatasan antara gangguan neurotik dan skizofrenia atau kepribadian yang didominasi oleh ketidak stabilan dalam hubungan pergaulan sosial, citra diri (self image), alam perasaan (affects) dan tindakan yang tidak terduga serta menyolok (marked implusitivy). Gangguan kepribadian ambang (Borderline Personality Dissorder) adalah gangguan kepribadian yang mempunyai ciri-ciri utama berupa impulsivitas dan ketidak stabilan hubungannya dengan orang lain dan mood (Sanislow, Grilo, &McGlashan, 2000) 2. Ciri-ciri atau Gejala o Berupaya keras untuk mencegah agar tidak diabaikan, terlepas dari benar-benar diabaikan atau hanya dalam bayangannya. o Ketidakstabilan atau intensitas ekstrem dalam hubungan interpersonal, ditandai dengan perpecahan, yaitu mengidealkan orang lain dalam satu waktu dan beberapa waktu kemudian menistakannya. o Rasa diri (sense of self) yang tidak stabil. o Perilaku impulsif, termasuk sangat boros dan perilaku seksual yang sangat tidak pantas. o Perilaku bunuh diri (baik hanya berupa sinyal maupun sungguh-sungguh mencoba) dan mutilasi diri yang berulang. o Kelabilan emosional yang ekstrem. o Perasaan kosong yang kronis o Sangat sulit mengendalikan kemarahan o Pikiran paranoid dan simtom-simtom disosiatif yang dipicu oleh stres. 3. Penyebab a. Kekerasan pada masa kanak-kanak, penolakan dan terpisah dengan orangtua kandung Banyak studi menunjukkan bahwa hubungan kekerasan pada anak, terutama pelecehan dan kekerasan seksual akan menumbuhkan perkembangan kepribadian anak di kemudian hari menjadi BPD. Penderita gangguan kepribadian borderline mengalami kekerasan verbal, emosi, fisik dan seksual pada masa perkembangan kanak-kanaknya. Pada anak-anak perempuan yang yang terpisah dari orangtua kandung dan dipungut oleh orangtua asuh mempunyai resiko mengalami kekerasan dan pelecehan seksual lebih besar dibandingkan anak laki, akan tetapi antara keduanya memiliki potensi kekerasan lainnya. Keduanya mempunyai hubungan keterdekatan kemunculan gangguan kepribadian pada fase perkembangan selanjutnya. b. Faktor perkembangan lainnya. Faktor lain kemunculan gangguan kepribadian borderline tidak hanya disebabkan oleh gangguan spektrum dari trauma saja, penelitian Kernberg menyebutkan bahwa kemunculan BPD disebabkan oleh kegagalan tugas-tugas perkembangan pada masa kanak-kanak. Kegagalan tersebut berupa kegagalan anak dalam mengenal dan membedakan diri anak dengan orang lain yang selanjutnya berkembang bentuk-bentuk psikosis pada anak. Pendidikan orangtua di rumah juga ikut mempengaruhi terbentuknya BPD, seperti interaksi negatif antara orangtua-anak, kurangnya empati, dan lebih besar kritikan yang ditujukkan pada anak diabndingkan penghargaan.

c. Faktor genetic. Beberapa literatur menyebutkan bahwa perlakuan - perlakuan yang berhubungan dengan BPD akan mempengaruhi pada gen yang nantinya akan mempengaruhi pada kepribadian anak, akan tetapi faktor genetik ini masih diteliti lebih lanjut. Pengaruh serotonin berhubungan dengan genetik diduga juga ikut berpengaruh d. Fungsi neurotransmitter Ketidak seimbangan neurotransmiter seperti serotonin, norepinephrine dan acetylcholine (berpengaruh pada jenis emosi dan mood); GABA, (stabilisator perubahan mood), fungsi amygdala; ikut mempengaruhi perilaku-perilaku penderita BPD dalam merespon stressor yang muncul. Perilaku impulsif dan agresivitas disebabkan oleh ketidakseimbangan serotonin dan bagian wilayah prefrontal kortek

Referensi: http://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/31441429/gangguan_kepribadian_abnormal.doc? awsaccesskeyid=akiair6fsimdfxpeersa&expires=1381251022&signature=kjin%2fwvuxazdtqdkujud2 gz4h2g%3d http://psikososialabnormal.blogspot.com/p/gangguan-kepribadian.html

Anda mungkin juga menyukai