Anda di halaman 1dari 18

KEMENTRIAN

PENDIDIKAN

DAN

KEBUDAYAAN

NASIONAL
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
PROGAM STUDI PENDIDIKAN SAINS 2014

NAMA KELOMPOK : 1. UJI FIRMANTO

(11030654205)

2. ANDARINA I.R.

(11030654206)

3. RIO BASKARA

(11030654214)

4. MIFTAHUL JANNAH

(11030654224)

GAYA PEGAS
ABSTRAK
Telah kami lakukan percobaan pada tanggal 26 Maret 2014 di Laboratorium
Pendidikan Sains Unesa mengenai gaya pegas yang bertujuan untuk menentukan
konstanta pegas dan frekuensi getaran pada pegas. Dalam percobaan kali ini metode
yang kami gunakan adalah dengan mengukur panjang pegas tanpa beban kemudian
mengukur panjang pegas setelah pembebanan sehingga diperoleh pertambahan
panjang pegas. setelah itu diperoleh besar konstanta pegas dan frekuensi getaran pada
10 massa benda yang telah ditentukan. Diperoleh hasil frekuensi sebesar (1,67
0,287) Hz dengan ketidakpastian sebesar 17,20 % dan ketelitian sebesar 82,80 %.
Pada percobaan kedua, metode yang digunakan adalah menghitung waktu getaran ke
5. diperoleh frekuensi sebesar (1,203 0,14) Hz dengan ketidakpastian sebesar 11,64
% dan ketelitian sebesar 88,36 %. Pada percobaan gaya pegas didapatkan suatu
kesimpulan bahwa massa benda berpengaruh pada frekuensi getaran pada pegas dan
semakin berat massa benda maka akan semakin kecil frekuensi getaran pada pegas.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di lingkungan sekitar, sering kita temui benda-benda yang berprinsip seperti pegas.
Diantaranya seperti pegas dapat kita jumpai pada sepeda motor. Dimana pegas pada
sepeda motor sering disebut atau dikenal dengan nama shuck breaker. Dengan adanya
shuck breaker ini maka kita merasa nyaman ketika mengendarai sepeda motor karena
keelastisannya Pegas merupakan salah satu contoh benda elastis. Elastis atau elastisisitas
adalah kemampuan sebuah benda untuk kembali ke bentuk awalnya ketika gaya luar
yang diberikan pada benda tersebut dihilangkan. Jika sebuah gaya diberikan pada sebuah
benda yang elastis, maka bentuk benda tersebut berubah sehingga benda tersebut
termampatkan namun karena elastisitas dari pegasnya, maka pegas meregang kembali.
Untuk pegas dan karet, yang dimaksudkan dengan perubahan bentuk adalah pertambahan
panjang.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakng di atas, dapat diambli suatu rumusan masalah :
1. Bagaimana cara menentukan konstanta pegas?
2. Bagaimana cara menentukan frekuensi getaran pada pegas?

C. Tujuan
Tujuan percobaan ini adalah :
1. Mengetahui cara menentukan konstanta pegas.
2. Mengetahui cara menentukan frekuensi getaran pada pegas

BAB II
KAJIAN TEORI
Hukum Hooke Pada Pegas Pada tahun 1676, Robert Hooke mengusulkan sutu hokum
fisika yang menyangkut pertambahan panjang sebuah benda elastic yang dikenai oleh suatu
gaya. Menurut Hooke, pertambahan panjang berbanding lurus dengan yang diberikan pada
benda.

Secara

matematis,

hokum

Hooke

ini

dapat

dituliskan

sebagai

F= k . x
Dengan
F = gaya yang dikerjakan (N)
x = pertambahan panjang (m)
k = konstanta gaya (N/m)
(Bob Foster, 2004:122-123)
Pegas merupakan salah satu contoh benda elastis. elastis atau elastsisitas adalah
kemampuan sebuah benda untuk kembali ke bentuk awalnya ketika gaya luar yang diberikan
pada benda tersebut dihilangkan. Jika sebuah gaya diberikan pada sebuah benda yang elastis,
maka bentuk benda tersebut berubah. Untuk pegas dan karet, yang dimaksudkan dengan
perubahan bentuk adalah pertambahan panjang. Perlu kita ketahui bahwa gaya yang diberikan
juga memiliki batas-batas tertentu. Sebuah karet bisa putus jika gaya tarik yang diberikan
sangat besar, melawati batas elastisitasnya. Demikian juga sebuah pegas tidak akan kembali
ke bentuk semula jika diregangkan dengan gaya yang sangat besar. Jadi benda-benda elastis
tersebut memiliki batas elastisitas. Setiap pegas memiliki panjang alami, jika pada pegas
tersebut tidak diberikan gaya. Pada kedaan ini, benda yang dikaitkan pada ujung pegas berada
dalam posisi setimbang (lihat gambar a). Untuk semakin memudahkan pemahaman
dirimu,sebaiknya dilakukan juga percobaan.
Apabila benda ditarik ke kanan sejauh +x (pegas diregangkan), pegas akan
memberikan gaya pemulih pada benda tersebut yang arahnya ke kiri sehingga benda kembali
ke posisi setimbangnya.

Sebaliknya, jika benda ditarik ke kiri sejauh -x, pegas juga memberikan gaya pemulih
untuk mengembalikan benda tersebut ke kanan sehingga benda kembali ke posisi setimbang.
Besar gaya pemulih F ternyata berbanding lurus dengan simpangan x dari pegas yang
direntangkan atau ditekan dari posisi setimbang (posisi setimbang ketika x = 0).
Persamaan yang sering dikenal sebagai persamaan pegas dan merupakan hukum
hooke. Hukum ini dicetuskan oleh paman Robert Hooke (1635-1703). k adalah konstanta dan
x adalah simpangan. Tanda negatif menunjukkan bahwa gaya pemulih alias F mempunyai
arah berlawanan dengan simpangan x. Ketika kita menarik pegas ke kanan maka x bernilai
positif, tetapi arah F ke kiri (berlawanan arah dengan simpangan x). Sebaliknya jika pegas
ditekan, x berarah ke kiri (negatif), sedangkan gaya F bekerja ke kanan.
Jadi gaya F selalu bekeja berlawanan arah dengan arah simpangan x. k adalah
konstanta pegas. Konstanta pegas berkaitan dengan elastisitas sebuah pegas. Semakin besar
konstanta pegas (semakin kaku sebuah pegas), semakin besar gaya yang diperlukan untuk
menekan atau meregangkan pegas. Sebaliknya semakin elastis sebuah pegas (semakin kecil
konstanta pegas), semakin kecil gaya yang diperlukan untuk meregangkan pegas. Untuk
meregangkan pegas sejauh x, kita akan memberikan gaya luar pada pegas, yang besarnya
sama dengan F = +kx. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa x sebanding dengan gaya yang
diberikan pada benda.
Getaran

adalah

gerak

bolak-balik

secara

periodik

yang

selalu

melalui

titik

keseimbangan.Satu getaran adalah gerakan dari titik mula-mula dan kembali ke titik tersebut.
Periode (waktu getar) adalah waktu yang digunakan untuk mencapai satu getaran penuh,
dilambangkan T (sekon atau detik).Frekuensi adalah banyaknya getaran tiap detik,
dilambangkan f (Hertz). Amplitudo adalah simpangan maksimum dari suatu getaran,
dilambangkan A (meter).Simpangan adalah jarak besarnya perpindahan dari titik
keseimbangan ke suatu posisi, dilambangkan Y (meter). Sudut fase getaran adalah sudut
tempuh getaran dalam waktu tertentu, dilambangkan (radian). Fase getaran adalah
perbandingan antara lamanya getaran dengan periode, dilambangkan.
Sebuah pegas yang digantung vertikal ke bawah ujungnya diberi beban m ditarik dengan
gaya F sehingga pegas bertambah panjang sebesar x, kemudian gaya dilepas, maka beban
bersama ujung pegas akan mengalami gerak harmonik dengan periode:

T = periode (s)
f = frekuensi pegas (Hz)
m = massa beban (kg)
= 22/7 atau 3,14
k = konstanta pegas (N/m)
Nilai k dapat dicari dengan rumus hukum Hooke yaitu:
F=ky
Pada pegas:
F = m a = m2 y = m y
Perlu selalu di ingat bahwa hukum hooke hanya berlaku untuk daerah elastik, tidak
berlaku untuk daerah plastik maupun benda-benda plastik. Menurut Hooke, regangan
sebanding dengan tegangannya, dimana yang dimaksud dengan regangan adalah persentase
perubahan dimensi. Tegangan adalah gaya yang menegangkan per satuan luas penampang
yang dikenainya.
Sebelum diregangkan dengan gaya F,energi potensial sebuah pegas adalah nol, setelah
diregangkan energi potensialnya berubah.
1.Tegangan
Tegangan didefinisikan sebagai hasil bagi antara gaya tarik F yang dialami kawat
dengan luas penampang (A).
Tegangan adalah besaran skalar dan memiliki satuan Nm-2 atau Pascal
(Pa).Berdasarkan arah gaya dan pertambahan panjangnya (perubahan bentuk),tegangan
dibedakan menjadi 3 macam,yaitu tegangan rentang,tegangan mampat,dan tegangan geser.
2.Regangan
Regangan didefinisikan sebagai hasil bagi antara pertambahan panjang L dengan
panjang awalnya L.
Karena L sama-sama merupakan dimensi panjang, maka regangan tidak mempunyai
satuan (regangan tidak mempunyai dimensi). Regangan merupakan ukuran perubahan bentuk

benda dan merupakan tanggapan yang diberikan oleh benda terhadap tegangan yang
diberikan.
Persamaan matematis dari Modulus Elastis (E) atau modulus Young (Y). Jadi,
modulus elastis sebanding dengan Tegangan dan berbanding terbalik Regangan.

BAB III

METODE PERCOBAAN

A. Rancang Percobaan

Gambar 1. Rancangan percobaan

B. Alat Dan Bahan


1) Pegas

1 buah

2) Statif

1 buah

3) Stopwatch

1 buah

4) Mistar

1 buah

5) Beban

1 set

C. Variabel Variabel
1. Variabel manipulasi

: massa beban.

2. Variabel kontrol

: jenis pegas, panjang simpangan, jenis beban, jumlah

getaran
3. Variabel respon

: waktu.

D. Langkah Percobaan
Percobaan 1
Langkah pertama adalah mengukur panjang pegas tanpa beban, lalu menggantungkan
beban bermassa m pada ujung bawah pegas. Setelah itu, mengukur panjang pegas
setelah pembebanan, kemudian mengulangi langkah-langkah tersebut dengan
merubah-ubah massa beban m. Memasukkan data hasil percobaan ke dalam tabel 1,
hitung juga tetapan pegas yang digunakan:
Percobaan 2
Langkah pertama menyusun alat sebagaimana terlihat pada skema percobaan., lalu
menarik beban ke bawah kemudian melepaskannya. Setelah itu mengukur waktu (t)
yang dibutuhkan beban untuk melakukan sejumlah n getaran dengan menggunakan
stopwatch, kemudian mengulangi langkah 1 sampai dengan 3 dengan massa beban
yang berbeda-beda. Memasukkan hasil pengamatan pada tabel pengamatan.

BAB IV
DATA DAN ANALISIS
A. Data Pengamatan
Berdasarkan hasil pengamatan yang kami lakukan maka diperoleh data sebgai berikut:
Tabel 1. Hasil Pengukuran untuk Mencari Tetapan Pegas
No.

Massa Beban

Panjang pegas setelah

Pertambahan panjang

(gram)

pembebanan

pegas

(
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

50
70
90
110
130
150
170
190
210
230

) cm

cm

16,0
19,0
21,8
24,6
27,7
30,8
34,5
36,7
39,9
43,0

Keterangan : panjang pegas tanpa beban (

1,5
4,5
7,3
10,1
13,2
16,3
20,0
22,2
25,4
28,5
) cm = 14,5 cm

Tabel 2. Hasil Pengukuran untuk Mencari Frekuensi


No.

Massa Beban
(gram)

1
2
3
4
5
6
7
8

50
70
90
110
130
150
170
190

Waktu getaran
(

) sekon
2,13
3,30
3,90
4,22
4,52
4,81
5,20
5,47

No.

Massa Beban

Waktu getaran

(gram)

) sekon

9
210
5,73
10
230
6,08
Keterangan :
Jumlah getaran (n)
=5
Simpangan (

) cm

= 5 cm

B. Analisis Data
Berdasarkan data yang terdapat pada tabel 1, kelompok kami akan mencari

frekuensi dengan perhitungan menggunakan persamaan 1 yaitu :

mencari nilai k dapat digunakan persamaan

untuk

Berdasarkan data hasil

pengamatan diatas, maka data dapat dianalisis menjadi:


Tabel 3. Frekuensi Getaran dengan Menggunakan Persamaan 1
No.

Massa beban

F=mxg

(kg)
1
0,05
2
0,07
3
0,09
4
0,11
5
0,13
6
0,15
7
0,17
8
0,19
9
0,21
10
0,23
Keterangan : g = 10 m/s2

(N)
0,5
0,7
0,9
1,1
1,3
1,5
1,7
1,9
2,1
2,3

(m)
0,015
0,045
0,073
0,101
0,132
0,163
0,200
0,222
0,254
0,285

(N/m)
33,33
15,56
12,33
10,89
9,85
9,20
8,50
8,56
8,27
8,07

(Hz)
4,13
2,39
1,81
1,59
1,39
1,25
1,13
1,07
1,00
0,95

Pada tabel 3, Sebelum mencari frekuensi yang harus kami lakukan adalah mengubah
satuan panjang dan massa dengan m dan kg sehingga akan didapatkan nilai k dari

persamaan

. Nilai F dapat dicari dengan persamaan F = m x g, dengan nilai

percepatan gravitasi sebesar 10 m/s2. Berdasarkan persamaan

maka akan

didapatkan hasil frekuensi getaran seperti pada tabel 3. Berdasarkan nilai frekuensi
pada tabel 3, semakin besar massa suatu benda maka akan semakin kecil pula nilai
frekuensinya. Kemudian didapat deviasi, sehingga diperoleh f (1,67 0,287) Hz
dengan ketidakpastian sebesar 17,20 % dan ketelitian sebesar 82,80 %.
Berdasarkan data yang terdapat pada tabel 2, kelompok kami mencari

frekuensi dengan pengukuran menggunakan persamaan 2 yaitu :

dimana n

adalah banyaknya getaran dan t adalah bayaknya waktu yang dibutuhkan untuk
melakukan n getaran. Jumlah getaran yang kelompok kami gunakan adalah sebanyak 5
getaran. Hasilnya adalah sebagai berikut :

Tabel 4. Frekuensi Getaran dengan Menggunakan Persamaan 2


No.

Massa Beban

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

(gram)
50
70
90
110
130
150
170
190
210
230

(sekon)
2,13
3,30
3,90
4,22
4,52
4,81
5,20
5,47
5,73
6,08

(Hz)
2,35
1,51
1,28
1,18
1,11
1,04
0,96
0,91
0,87
0,82

Berdasarkan tabel diatas, semakin besar massa beban maka akan semakin
kecil nilai frekuensi getaran yang dihasilkan. Kemudian didapat deviasi, sehingga

diperoleh f (1,203 0,14) Hz dengan ketidakpastian sebesar 11,64 % dan ketelitian


sebesar 88,36 %.

BAB V
PEMBAHASAN
A. Diskusi
Berdasarkan tujuan dari praktikum yang kami lakukan yaitu untuk menentukan
frekuensi getaran pegas hasil perhitungan dan pengukuran, maka didapatkan hasil nilai

frekuensi dengan menggunakan persamaan

sebesar (1,67 0,287) Hz

dengan ketidakpastian sebesar 17,20 % dan ketelitian sebesar 82,80 %. Sementara

dengan persamaan

diperoleh frekuensi getaran sebesar (1,203 0,14) Hz

dengan ketidakpastian sebesar 11,64 % dan ketelitian sebesar 88,36 %. Terdapat


perbedaan pada hasil frekuensi dengan menggunakan persaan 1 dan 2. Hal ini
disebabkan oleh kurangnya ketelitian kami dalam membaca alat ukur waktu dan
menentukan satu getaran.
Massa beban berpengaruh pada perhitungan frekuensi getaran pegas, semakin
berat massa beban maka akan semakin kecil frekuensi yang dihasilkan. Karena pada
yang lebih berat akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk melakukan satu
getaran. Terbukti pada percobaan dengan massa seberat 50 gram dibutuhkan waktu
sebesar 2,13 sekon untuk melakukan 5 getaran, sementara pada percobaan dengan
massa sebesar 230 gram dibutuhkan 6,08 sekon untuk melakukan 5 getaran.

B. Kesimpulan

1. Frekuensi suatu getaran dapat diperoleh dengan persamaan

2. Pada persamaan

dan

diperoleh frekuensi sebesar (1,67 0,287) Hz

dengan ketidakpastian sebesar 17,20 % dan ketelitian sebesar 82,80 %.

3. Pada persamaan

diperoleh frekuensi sebesar (1,203 0,14) Hz dengan

ketidakpastian sebesar 11,64 % dan ketelitian sebesar 88,36 %.


4. Massa benda berpengaruh pada frekuensi getaran pada pegas.
5. Semakin berat massa benda maka akan semakin kecil frekuensi getaran pada
pegas.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.

2012.

Fisika

Dalam

Kehidupan

Sehari-hari.

Melalui

http://nira15.blogspot.com/2012/08/fisika-dalam-kehidupan-sehari-hari.html

Fisika

dalam Kehidupan Sehari-hari (Untuk kawan UNDIKSHA). Diakses pada tanggal 30


Maret 2014.
Dibara, Irfan. 2012. Gaya Pegas. Melalui http://irfandibara.blogspot.com/ gaya pegas .
irfandi. Diakses pada tanggal 30 Maret 2014.
Foster, Bob. 2004. Fisika SMA Terpadu. Jakarta : Erlangga.
Halliday. 1984. Fisika Untuk Universitas Edisi ketiga jilid 1. Jakarta : Erlangga.

Legion.

2012.

Praktikum

Fisika

Tentang

Ayunan.

Dalam

http://kevinxiipa3.blogspot.com/2012/03/praktikum-fisika-tentang-ayunan.html.
Maret 2014.
Sabir. 2006. Buku Kerja Fisika SMA. Padang : Esis.

17

LAMPIRAN
Percobaan 1
f (Hz)

d2

4,13
2,39
1,81
1,59
1,39
1,25
1,13
1,07
1,00
0,95
f = 16,71

2,459
0,719
-0,139
-0,081
-0,281
-0,421
-0,541
-0,601
-0,671
-0,721

6,047
0,517
0,019
0,007
0,079
0,177
0,293
0,361
0,450
0,520
d2 = 7,436

Standar Deviasi

Taraf ketidakpastian

=
=

=
=

= 17,20 %
Ketelitian

Percobaan 2
f (Hz)
2,35
1,51
1,28
1,18
1,11
1,04
0,96
0,91
0,87
0,82
f = 12,03

d
1,147
0,307
0,077
-0,023
-0,093
-0,163
-0,243
-0,293
-0,333
-0,383

d2
1,316
0,094
0,006
0,001
0,009
0,027
0,060
0,086
0,111
0,147
d2 = 1,857

Standar Deviasi

=
Taraf ketidakpastian

=
=

=
=

= 11,64 %
Ketelitian
=