Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN Hemostatik adalah zat yang digunakan untuk menghentikan perdarahan.

Obatobatan ini diperlukan untuk mengatasi perdarahan yang meliputi daerah yang luas. Pemilihan obat-obat harus dilakukan secara tepat dan sesuai dengan pathogenesis terjadinya perdarahan tersebut. Bila daerah perdarahan kecil tindakan fisik seperti penekanan, pendinginan, atau kauterisasi seringkali dapat menghentikan perdarahan dengan cepat. Perdarahan dapat disebabkan oleh defisiensi factor pembekuan darah yang bersifat herediter misalnya defisiensi factor hemofilik (Faktor VIII) dan dapat pula akibat defisiensi banyak factor yang sulit di diagnosis. Defisiensi suatu factor dapat diobati dengan memberikan kekuarangan factor tersebut misalnya factor VIII, factor antihemolitik kriopresipitat, factor IX dan lain lain. Selain dari factor pembekuan darah. Perdarahan juga dapat dihentikan dengan memberikan obat-obat yang dapat meningkatkan pembentukan factor-faktor pembekuan darah misalnya vitamin K. atau yang menghambat mekanisme fibrinolitik seperti asam aminokaproat. Selain hemostatic sistemik, bisa juga diberikan hemostatic local.[1]

BAB II PEMBAHASAN

II.1. MEKANISME PEMBEKUAN DARAH NORMAL Secara umum terjadi melalui tiga langkah utama: 1. Sebagai respons terhadap kerusakan pembuluh darah/ darah itu sendiri, maka rangkaian reaksi kimiawi yang kompleks terjadi dalam darah dan melibatkan banyak faktor pembekuan darah. Hasil akhirnya adalah terbentuknya suatu kompleks substansi teraktivasi yang secara kolektif disebut aktivator protrombin. 2. Aktivator protrombin mengkatalisis perubahan trombin menjadi trombin. 3. Trombin bekerja sebagai enzim untuk mengubah fibrinogen menjadi benangbenang fibrin yang merangkai trombosit, sel darah, dan plasma untuk membentuk bekuan.

Pembentukan Aktivator Protrombin:

1. Mekanisme ini dimulai bila terjadi trauma pada dinding pembuluh darah dan jaringan yang berdekatan pada darah, pada setiap kejadian tersebut, mekanisme ini akan menyebabkan pembentukan aktivator protrombin.

2. Aktivator protrombin ini dibentuk melalui 2 cara, yaitu jalur ekstrinsik yang dimulai dengan terjadinya trauma pada dinding pembuluh dan jalur intrinsik yang berawal di dalam darah itu sendiri.

Langkah-langkah jalur ekstrinsik,

yaitu pelepasan faktor jaringan

atau

tromboplastin jaringan, selanjutnya mengaktifasi faktor X yang dibentuk oleh kompleks lipoprotein dari faktor jaringan dan bergabung dengan faktor VII, kemudian dengan hadirnya ion Ca2+ akan membentuk faktor X yang teraktivasi. Selanjutnya faktor X yang teraktivasi tersebut akan segera berikatan dengan fosfolipid jaringan, juga dengan faktor V untuk membenuk senyawa yang disebut aktivator protrombin.

Langkah-langkah jalur intrinsik, yaitu pengaktifan faktor XII dan pelepasan fosfolipid trombosit oleh darah yang terkena trauma, kemudian faktor XII yang teraktivasi ini akan mengaktifkan faktor XI, kemudian faktor XI yang teraktivasi ini akan mengaktifkan faktor IX, faktor IX yang teraktivasi bekerja sama dengan faktor VIII terakivasi dan dengan fosfolipid trombosit dan faktor 3 dari trombosit yang rusak, akan mengkatifkan faktor X. Disini jelas bahwa bila faktor VIII atau trombosit kurang maka langkah ini akan terhambat. Faktor VIII adalah faktor yang tidak dimiliki oleh penderita hemofilia. Trombosit tidak dimiliki oleh penderita trombositopenia. Faktor X yang teraktivasi akan bergabung dengan faktor V dan trombosit untuk membentuk suatu kompleks yang disebut aktivator protrombin.

Perubahan Trombin Menjadi Trombin: Setelah aktivator protrombin terbentuk akibat pecahnya pembuluh darah maka dengan adanya ion Ca2+ dalam jumlah yang mencukupi, akan menyebabkan perubahan protrombin menjadi trombin. Trombosit juga berperan dalam pengubahan protrombin menjadi trombin, karena banyak protrombin mula-mula melekat pada reseptor protrombin pada trombosit yang telah berikatan pada jaringan yang rusak. Pengikatan ini akan mempercepat pembentukan trombin dan protrombin yag terjadi dalam jaringan dimana pembekuan diperlukan.

Protrombin adalah protein plasma yang tidak stabil dan dengan mudah pecah menjadi senyawa-senyawa yang lebih kecil, salah satu diantaranya trombin. Vitamin K juga sangat berperan dalam pembekuan darah karena kurangnya vitamin K akan menurunkan kadar protrombin sampai sedemikian rendahnya hingga timbul pendarahan.

Perubahan Fibrinogen Menjadi Fibrin: Trombin adalah enzim protein dengan kemampuan proteolitik yang bekerja terhadap fibrinogen dengan cara melepaskan empat peptida yang berberat molekul rendah dari setiap molekul fibrinogen sehingga membentuk molekul fibrin monomer yang memiliki kemampuan untuk berpolimerisasi dengan molekul fibrin monomer yang lain. Dengan cara demikian, dalam beberapa detik banyak molekul fibrin monomer berpolimerisasi menjadi benang-benang fibrin yang panjang, sehingga terbentuk retikulum bekuan.

Namun benang-benang fibrin ini ikatannya tidak kuat dan mudah diceraiberaikan, maka dalam beberapa menit berikutnya akan terjadi proses yang akan memperkuat jalinan/ikatan tersebut. Proses ini melibatkan zat yang disebut faktor stabilisasi fibrin. Trombin yang tadi berperan dalam membentuk fibrin, juga mengaktifkan faktor stabilisasi fibrin yang kemudian akan membentuk ikatan kovalen antara molekul
4

fibrin monomer, sehingga saling keterkaitan antara benang-benang fibrin yang berdekatan sehingga menambah kekuatan jaringan fibrin secara tiga dimensi.

Bekuan darah yang terdiri dari jaringan benang fibrin yang berjalan dari segala arah dan menjerat sel-sel darah, trombosit, dan plasma. Benang-benang fibrin juga melekat pada pembuluh darah yang rusak; oleh karena itu bekuan darah menempel pada lubang di pembuluh darah dan dengan demikian mencegah kebocoran darah.[2]

II.2 MEKANISME FIBRINOLITIK Ketika tubuh terluka dan cedera menyebabkan pendarahan,

sangat penting bahwa tubuh mampu untuk membendung aliran darah. Hanya jika pendarahan dihentikan, tubuh akan mampu bertahan dan itulah sebabnya koagulasi adalah proses penting dalam hemostasis, yang tidak lain adalah koagulasi diikuti dengan melarutkan gumpalan darah dankemudian memperbaiki jaringan yang terluka. Setelah dipulihkan dan jaringan diperbaiki, bekuan darah atau trombus harus disingkirkan dari jaringan yang cedera. Hal ini dicapai dengan jalur fibrinolisis. Selain utamadalam mekanisme mengimbangi yang pembekuan, sistem berperan terdapat koagulasi pula yaitu sistem sistem fibrin kontrol atau secara

mekanismefibrinolisis

menghancurkan

enzimatik. Fibrinadalah protein tak larut yang dibentuk dari fibrinogen oleh kegiatanproteolitik trombin sewaktu pembekuan darah normal.Pada sistem fibrinolisis, komponen yang berperan terdiri dari plasminogen, aktivator plasminogen, dan inhibitor plasminogen. Plasminogen adalah suatu glikoprotein rantai tunggal dengan

aminoterminal, glutamic acid glutamic acid yang mudah dipecah oleh proteolisis menjadi bentuk modifikasi dengan suatu terminal lysin e ,valin a t a u m ethionin. Plasminogen adalah prekursor inaktif plasmin yangdikonversikan oleh kerja proteolitik enzim urokinase. Plasminogen disebut juga profibrinolisin. Plasminogen berisi motif struktur sekunder yangdikenal sebagai kringles, yang mengikat secara khusus untuk lisin danarginin residu pada fibrin (Ogen). Ketika dikonversi dari plasminogenmenjadi plasmin, berfungsi sebagai protease serin.

Plasminogenmerupakan bentuk proenzim dari plasmin. Plasmin adalah suatu enzim proteolitik dengan spesifisitas yangtinggi terhadap fibrin dan dapat

memecah fibrin, fibrinogen, F V dan F VIII, komplemen, hormon, serta protein lainnya.[3]

II.3. OBAT HEMOSTATIK LOKAL 1. HEMOSTASIS SERAP Hemostatik serap menghentikan perdarahan dengan pembentukan suatu bekuan buatan atau memberikan jala serat-serat yang mempermudah pembekuan darah bila diletakkan langsung pada permukaan yang berdarah. Dengan kontak pada permukaan asing, trombosit akan pecah dan membebaskan factor yang memulai proses pembekuan darah. Hemostatic golongan ini berguna untuk mengatasi perdarahan yang berasal dari pembuluh darah kecil saja seperti kapiler. Golongan ini tidak efektif untuk menghentikan perdarahan dari arteri atau vena yang tekanan intravaskularnya tinggi. Yang termasuk golongan ini adalah spons gelatin, oksisel (selulosa oksida) dan busa fibrin insani (human fibrin foam). Spons gelatin dan oksisel dapat digunakan sebagai penutup luka yang akhirnya akan diabsorpsi. Hal ini menguntungkan karena tidak memerlukan penyingkiran atau pengeluaran yang mengakibatkan perdarahan ulang, seperti yang terjadi pada penggunaan kain kassa. Untuk absorpsi yang sempurna pada kedua zat ini diperlukan waktu sampai 6 jam. Selulosa oksida dapat mempengaruhi regenerasi tulang dan dapat mengakibatkan timbulnya kista apabila digunakan dalam jangka waktu panjang pada patah tulang. Selain itu penggunaan jangka panjang selulosa oksida dapat menimbulkan gangguan epitelisasi. Pada busa fibrin insani dapat digunakan setelah dibasahi dan dengan sedikit penekanan dapat menutup luka dengan baik pada permukaan yang berdarah. 2. ASTRINGEN Zat ini bekerja dengan mengendapkan protein darah sehingga perdarahan dapat dihentikan. Sehubungan dengan cara penggunaannya, zat ini dinamakan styptic atau bisa disebut juga kauterisasi kimia. Yang termasuk kelompok ini antara lain adalah

feri klorida, nitras argenti, asam tanat. Kelompok ini digunakan untukmenghentikan perdarahan kapiler dan bersifat kaustik. 3. KOAGULAN Obat kelompok ini pada penggunaan local menimbulkan hemostasis dengan dua cara yaitu mempercepat perubahan protrombin menjadi thrombin dan secara langsung menggumpalkan fibrinogen. a. Aktivator Protrombin Esktrak yang mengandung protrombin dapat dibuat antara lain dari jaringan otak yang diolah secara kering dengan asetat. Beberapa racun ular juga memiliki aktivitas tromboplastin yang dapat menimbulkan pembekuan darah. Salah satu contoh adalah Russels Viper Venom. b. Trombin Zat ini tersedia dalam bentuk bubuk atau larutan untuk penggunaan local. Sediaan ini tidak boleh digunakan untuk suntikan IV karena bisa terjadi pembekuan yang cepat dan menimbulkan emboli.

4. VASOKONSTRIKTOR Obat vasokonstriktor dapat digunakan dalam menghentikan perdarahan local. Penggunaan obat ini misalnya dengan pemberian Adrenalin 1 : 1000. Penggunaannya dapat diberikan dengan membasahi kassa dengan larutan adrenalin kemudian ditempelkan kepada bagian yang luka. Adrenalin akan menyebabkan efek langsung kepada pembuluh darah yaitu vasokonstriksi. Perdarahan yang dapat dihentikan dengan pemberian adrenalin adalah perdarahan yang kecil seperti arteriol dan vena kecil. [1][4]

II.4. OBAT HEMOSTATIK SISTEMIK Terdapat beberapa cara untuk menghentikan perdarahan dengan cara memasukkan zat ke dalam system vascular. Salah satunya dengan memberikan transfusi darah, seringkali perdarahan dapat dihentikan segera. Hal ini terjadi karena penderita

mendapatkan semua faktor pembekuan darah yang terdapat dalam darah transfusi. Keuntungan lainnya ialah perbaikan volume sirkulasi. Perdarahan yang disebabkan oleh defisiensi factor pembekuan darah tertentu dapat diatasi dengan menggantikan/memberikan faktor pembekuan yang kurang tersebut. Zat zat tersendiri : 1. Faktor antihemofilik (faktor VIII) dan Cryoprecipitated Antihemophilic Factor : Berguna untuk mencegah atau mengatasi perdarahan pada penderita hemofilia A (defisiensi faktor VIII) dan penderita yang darahnya

mengandung inhibitor faktor VIII 2. Kompleks faktor IX : Sediaan ini mengandung faktor II, VII, IX dan X; serta sejumlah kecil protein plasma lain. Digunakan untuk pengobatan hemofilia B, atau bila diperlukan faktor - faktor yang terdapat dalam sediaan tersebut untuk mencegah perdarahan. Akan tetapi karena ada kemungkinan timbulnya hepatitis, sebaiknya preparat ini tidak diberikan pada penderita non hemofilia. Efek samping, berupa trombosis, demam, menggigil, sakit kepala dan shock anafilaksis. 3. Human fibrinogen : Sediaan ini hanya digunakan bila dapat ditentukan kadar fibrinogen dalam darah penderita, dan daya pembekuan yang sebenarnya. 4. Vitamin K : Sebagai hemostatik, vitamin K memerlukan waktu untuk menimbukan efek, sebab vitamin K harus merangsang pembentukan darah terlebih dahulu. Secara Spesifik, Vitamin K bekerja merangsang pembentukan factor II, VII, IX, dan X.

10

Selain dengan pemberian darah, terdapat beberapa sediaan lain yang lazim digunakan untuk menghentikan atau mengurangi perdarahan secara sistemik, diantaranya adalah : 1. Asam aminokaproat : Merupakan inhibitor kompetitif plasminogen dan penghambat dari aktivator

plasmin. Plasmin sendiri berperan

menghancurkan fibrinogen, fibrin dan faktor pembekuan darah lainnya. Oleh karena itu asam aminokaproat dapat membantu mengatasi perdarahan berat akibat fibrinolisis yang berlebihan.

2. Asam traneksamat : Indikasi dan mekanisme kerja yang sama dengan asam aminokaproat, tetapi 10 kali lebih kuat dengan efek samping lebih sedikit. 3. Karbozokrom : Dapat memperbaiki permeabilitas kapiler dan untuk mencegah dan mengobati perdarahan kapiler. Sehingga resistensi vascular meningkat dan perdarahan bisa dikurangi. Obat ini tidak mempengaruhi system pembekuan darah.[1][4]

11

VITAMIN K MEMBANTU PEMBENTUKAN FAKTOR II, VII, IX, X

12

AS. AMINOKAPROAT DAN AS. TRANEKSAMAT MENGHAMBAT PLASMINOGEN

13

DAFTAR PUSTAKA 1. Gan Gunawan, Sulistya et al. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta; Balai Penerbit FKUI, 259-72.

2. Emmanuel College University of Cambridge [Internet] Blood Clotting


[Online Refference] Accessed on 2013 November 1. Available at : http://www.emma.cam.ac.uk/~rjb4/blood_clotting.htm 3. PubMed Free Medical Journal [Internet] Fibrinolytics [Online Journal] Accessed on 2013 November 2, Available at : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11460480 4. New England Medical Journal [Internet] Hemostatic Drugs. Last Update July 23 2008. Accessed on 2013 November 2 Available At : http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJM199807233390407

14