Anda di halaman 1dari 6

4. Pemeriksaan Diagnostik Demam Berdarah Dengue a.

Laboratorium: Parameter laboratoris yang dapat diperiksa antara lain: Leukosit: dapat normal atau menurun. Mulai hari ke 3 dapat ditemui limfositosis relatif (>45% dari total leukosit) disertai adanya limfosit plasma biru (LPD) > 15% dari jumlah total leukosit yang pada fase syok akan meningkat Trombosit: umumnya terdapat trombositopenia pada hari ke 3-8 Hematokrit: kebocoran plasma dibuktikan dengan ditemukannya peningkatan hematokrit 20% dari hematokrit awal, umumnya dimulai pada hari ke 3 demam Hemostasis: dilakukan pemeriksaan PT, APTT, fibrinogen, D-Dimer, atau FDP pada keadaan yang dicurigai terjadi perdarahan atau kelainan pembekuan darah Protein/ albumin: dapat terjadi hipoproteinemia akibat kebocoran plasma SGOT/SGPT dapat meningkat Ureum, kreatinin: bila didapatkan gangguan fungsi ginjal Elektrolit: sebagai parameter pemantauan pemberian cairan Golongan darah dan cross match (uji cocok serasi): bila kaan diberikan transfusi darah atau komponen darah Imunoserologi dilakukan pemeriksaan IgM dan IgG terhadap dengue IgM: terdeteksi mulai hari ke 3-5, meningkat sampai minggu ke 3, menghilang setelah 60-90 hari IgG: pada infeksi primer, IgG mulai terdeteksi hari ke 14, pada infeksi sekunder IgG mulai terdeteksi hari ke Uji HI: dilakukan pengambilan bahan pada hari pertama serta serta saat pulang dari perawatan, uji ini digunakan untuk kepentingan surveilans NS 1: antigen NS1 dapat dideteksi pada awal demam hari pertama sampai hari ke 8. Sensitivitas antigen NS 1 berkisar 63%- 93,4% dengan spesifisitas 100% sama tingginya dengan spesifisitas gold standart kultur virus. Hasil negatif antigen NS 1 tidak menyingkirkan adanya infeksi virus dengue

b. Pemeriksaan Radiologis: Pada foto dada didapatkan efusi pleura, terutama pada hemitoraks kanan tetapi apabila terjadi perembesan plasma hebat, efusi pleura dapat dijumpai pada kedua hemitoraks. Pemeriksaan foto rontgen dada sebaiknya dalam posisi lateral

decubitus kanan (pasien tidur dalam posisi pada sisi badan sebelah kanan). Ascites dan efusi pleura dapat pula dideteksi dengan pemerksaan USG

Malaria

a. Pemeriksaan Imunoserologis Diagnosis malaria sebagai mana penyakit pada umumnya didasarkan pada manifestasi klinis (termasuk anamnesis), uji imunoserologis dan ditemukannya parasit (plasmodium) di dalam penderita. b. Pemeriksan Biomolekuler Prinsip dasar: tes floresensi yaitu adanya protein pada plasmodium yang dapat mengikat acridine orange akan mengidentifikasi eritrosit terinfeksi plasmodium. QBC (Semi Quantitative Buffy Coat) merupakan teknik pemeriksaan dengan menggunakan tabung kapiler dengan diameter tertentu yang dilapisi acridine orange tetapi cara ini tidak dapat membedakan spesies plasmodium dan kurang tepat sebagai instrumen hitung parasit. Pemeriksaan biomolekuler digunakan untuk mendeteksi DNA spesifik parasit/ plasmodium dalam darah penderita malaria.tes ini menggunakan DNA lengkap yaitu dengan melisiskan eritrosit penderita malaria untuk mendapatkan ekstrak DNA. c. Pemeriksaan mikroskopis malaria Pemeriksaan imunoserologis didesain baik untuk mendeteksi antibody spesifik terhadap paraasit plasmodium maupun antigen spesifik plasmodium atau eritrosit yang terinfeksi plasmodium teknik ini terus dikembangkan terutama menggunakan teknik radioimmunoassay dan enzim immunoassay. d. Pemeriksaan tes darah untuk malaria Pemeriksaan mikroskopik darah tepi untuk menemukan adanya parasit malaria sangat penting untuk menegakkan diagnosa. Pemeriksaan satu kali dengan hasil negatif tidak mengenyampingkan diagnosa malaria. Pemeriksaan darah tepi 3 kali

dengan hasil negatif maka diagnosa malaria dapat dikesampingkan. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan oleh tenaga yang berpengalaman dalam pemeriksaan parasit malaria. Adapun pemeriksaan darah tepi dapat dilakukan melalui: Tetesan preparat darah tebal Merupakan cara terbaik untuk menemukan parasit malaria karena tetesan darah cukup banyak dibandingkan preparat darah tipis. Sediaan mudah dibuat khususnya untuk studi di lapangan. Ketebalan dalam membuat sediaan perlu untuk memudahkan identifikasi parasit. Pemeriksaan parasit dilakukan selama 5 menit Tetesan darah tipis Digunakan untuk identifikasi jenis plasmodium, bila dengan preparat darah tebal sulit dilakukan. Kepadatan parasit dinyatakan sebagai hitung parasit (parasite count), dapat dilakukan berdasar jumlah eritrosit yang mengandung parasit per 1000 sel darah merah. Bila jumlah parasit >100.000/ul darah menandakan infeksi yang berat. Hitung parasit penting untuk menentukan prognosa penderita malaria, walaopun komplikasi dapat timbul dengan jumlah parasit yang minimal. Tes antigen : P-F test Yaitu mendeteksi antigen P-Falciparum (histidine rich protein II). Deteksi sangat cepat hanya 3-5 menit, tidak memerlukan latihan khusus, sensitivitasnya baik, tidak memerlukan alat khusus. Tes serologi Tes serologi mulai dikembangkan sejak tahun 1962 dengan memakai teknik indirect fluorescent antibody test. Tes ini berguna mendeteksi adanya antibodi spesifik terhadap malaria atau pada keadaan dimana parasit sangat minimal. Tes ini kurang bermanfaat sebagai alat diganostik sebab antibodi baru terjadi setelah beberapa hari parasitemia. Manfaat tes serologi terutama untuk penelitian epidemiologi atau alat uji saring donor darah. Titer >1:200 dianggap sebagai infeksi baru; dan test>1:20 dinyatakan positif. Metode-metode tes serologi antara lain indirect hemagglutinin test, immunoprecipitation techniques, ELISA test, radioimmunoassay. Pemeriksaan PCR (polymerase chain reaction) Pemeriksaan ini dianggap paling peka dengan teknologi amplifikasi

DNA, waktunya singkat dan sensitivitas maupun spesifitasnya tinggi. Keunggulan tes ini walaupun jumlah parasit sangat sedikit dapat memberikan hasil positif. Campak a. Pemeriksaan laboratorium Meliputi : Pemeriksaan darah tepi hanya ditemukan adanya leukopeni, Dimana jumlah leukosit cenderung menurun disertai limfositosis relative. Pemeriksaan serologic dengan cara hemaglutination inhibition test dan complement fiksatior test akan ditemukan adanya antibody yang spesifik dalam 1-3 hari setelah timbulnya ras dan puncaknya pada 2-4 minggu kemudian. b. Biakan virus ( mahal ) Isolasi dan identifikasi virus : Swab nasofaring dan sampel darah yang diambil dari pasien 2-3 hari sebelum onset gejala sampai 1 hari setelah timbulnya ruam kulit (terutama selama masa demam campak) merupakan sumber yang memadai untuk isolasi virus. selama stadium prodromal, dapat terlihat sel raksasa berinti banyak pada hapusan mukosa hidung.

Thypoid

Menurut FKUI (2005) untuk memastikan diagnosis perlu dikerjakan pemeriksaan laboratorium sebagai berikut : a. Pemeriksaan yang berguna untuk menyokong diagnosis Pemeriksaan darah tepi Terdapat gambaran leukopeni, limfositosis relatif dan aneosinofilia pada permulaan sakit. Mungkin terdapat anemia dan trombositopenia ringan. Pemeriksaan sumsum tulang Terdapat gambaran sumsum tulang berupa hiperaktif (retikuloendotelial system) RES dengan adanya sel makrofag, sedangkan sistem eritropoesis, granolupoesis dan trombopoesis berkurang.

b. Pemeriksaan laboratorium untuk membuat diagnosis Biakan empedu

Basil salmonella typosa dapat ditemukan dalam darah penderita biasanya dalam minggu pertama sakit. Selanjutnya lebih sering ditemukan dalam urin dan feses dan mungkin akan tetap positif untuk waktu yang lama. Jika pada pemeriksaan selama dua kali berturut-turut tidak didapatkan basil salmonella typosa pada urin dan tinja, maka pasien dinyatakan betul-betul sembuh. Pemeriksaan widal Pada permulaan terjadi penyakit, widal akan positif dan dalam perkembangan selanjutnya, misal 1 2 minggu kemudian akan semakin meningkat meski demam typhoid telah diobati. Untuk membuat diagnosis yang diperlukan ialah titer zat anti terhadap O. Titer yang bernilai 1/200 atau lebih dan atau menunjukkan kenaikan yang progresif digunakan untuk membuat diagnosis. Menurut NN (2006) dikatakan meningkat bila titernya lebih dari 1/400 atau didapatkan kenaikan titer 2 kali lipat dari titer sebelumnya dalam waktu satu minggu. Hasil widal akan bertahan positif cukup lama (berbulan-bulan) sehingga meski sembuh dari penyakit demam typhoid, widal masih mungkin positif. Tetapi tidak selalu pemeriksaan widal positif walaupun penderita sungguh-sungguh menderita typhus

abdominalis sebagaimana terbukti pada autopsi setelah penderita meninggal dunia. Titer dapat positif karena keadaan sebagai berikut : 1) Titer O dan H tinggi karena terdapatnya aglutinin normal, karena infeksi basil coli patogen dalam usus. 2) Pada neonatus, zat anti tersebut diperoleh dari ibunya melalui tali pusat. 3) Terdapat infeksi silang dengan ricketsia (werl felix). 4) Akibat imunisasi secara alamiah karena masuknya basil peroral atau pada keadaan infeksi subklinis.