Anda di halaman 1dari 13

1.

Perbedaan anatomis antara gingiva sehat dan tidak sehat Gingiva memiliki tekstur permukaan seperti kulit jeruk yang lembut dan tampak tidak beraturan, yang disebut stippling. Stippling adalah gambaran gingiva sehat, dimana berkurang atau menghilangnya stippling umumnya dihubungkan dengan adanya penyakit gingiva.12 Secara anatomis gingiva terdiri dari Marginal Gingiva, Sulkus Gingiva, Attached (Jingiva) dan interdental Gingiva. Marginal Gingiva (Unattached Gingiva) Marginal gingiva adalah sambungan tepi atau pinggiran dari gingiva yang mengelilingi gigi berbentuk seperti lingkaran atau kerah baju. Marginal gingiva dipisahkan dari attached gingiva oleh suatu lekukan dangkal berupa garis yang disebut, free gingival groove. Biasanya lebarnya sekitar 1 mm dari dinding jaringan lunak sulkus gingiva. Marginal gingiva dapat dipisahkan dari permukaan gigi dengan probe periodontal. 12 Marginal gingiva dapat dikenali melalui pemeriksaan klinik karena lunak dan mudah ditarik dengan syringe. Edema pada gingiva dapat menyebabkan gingivitis.12,13 Sulkus Gingiva Sulkus gingiva adalah celah dangkal atau ruang disekitar gigi yang mengelilingi gigi pada satu lapisan epithelium free gingival margin gigi dengan gigi yang lainnya. Sulkus ini berbentuk V dan hanya sedikit saja yang dapat dimasuki oleh probe periodontal. Determinasi klinik dari kedalaman sulkus gingiva merupakan parameter diagnostik yang penting. Ukuran normal atau ukuran ideal kedalaman sulkus gingiva sekitar 0,43 mm. 12,13 Pemeriksaan klinik dapat digunakan untuk menentukan kedalaman dari sulkus dengan menggunakan instrument logam yang dikenal dengan probe periodontal. Penilaian dilakukan berdasarkan kedalaman yang dapat ditembus oleh probe periodontal. 12,13 Gingiva Attached Attached gingiva merupakan suatu lanjutan dari marginal gingiva. Attached gingiva berbatas tegas, elastis dan merekat erat pada periosteum dari tulang alveolar. Aspek facial dari attached gingiva meluas ke mukosa alveolar dibatasi oleh mucogingival junction. 12,13 Karena mucogingival junction tetap tidak bergerak hingga dewasa, perubahan lebar attached gingiva disebabkan oleh perubahan posisi dari coronal end. Lebar dari attached gingiva meningkat sesuai umur dan pada gigi yang supraerupsi. Dari aspek lingual mandibula, akhir dari attached gingiva dihubungkan oleh mukosa lingual alveolar diteruskan hingga mukosa membrane mulut. 12 Interdental Gingiva

Interdental gingiva menempati embrasure gingival yang berupa ruang kosong di bawah daerah kontak gigi. lnterdental gingiva meluas dalam arah fasiolingual dan cenderung menyempit kearah mesiodistal, yang bentuknya menyesuaikan terhadap kontur proksimal gigi. Interdental gingiva terdiri atas papilla facialis dan papilla lingualis. Permukaan fasial dan lingual berbentuk tapered menuju daerah kontak interproksimal, sedangkan permukaan mesial dan distal berbentuk konkaf dan mengkilap. 9

Gambar 4. Gambaran Anatomi Gingiva

2. Perbedaan tanda-tanda klinis antara gingiva sehat dan tidak sehat Gambaran Klinik Gingiva Normal atau Sehat

1. Warna Gingiva Warna attached gingiva dan marginal gingiva pada umumnya berwarna pink yang dipengaruhi oleh suplai darah, ketebalan dan tingkat keratinisasi epithelium dan adanya kandungan sel pigmen. Warna gingiva bervariasi dan berbeda tergantung dari individunya karena berhubungan dengan pigmentasi kutaneus. Warna gingiva lebih terang pada individu yang berambut hitam. Warna gingiva pada anak lebih kemerah-merahan dikarenakan adanya peningkatan vaskularisasi dan epithelium yang lebih tipis dibandingkan dengan orang dewasa.12 Attached gingiva yang berbatasan dengan mukosa alveolar pada aspek bukal terlihat jelas sebagai Mucogingival Junction. Alveolar mukosa berwarna merah, halus dan mengkilat, pink dan berstipling. Epithelium mukosa alveolar lebih tipis, nonkeratinisasi dan tidak mengandung rete pegs.12 2. Kontour Gingiva Kontour gingiva sangat bervariasi dan bergantung pada bentuk maupun kesejajarannya dalam lengkung gigi, lokasi dan bentuk daerah kontak proksimal, serta luas embrasure gingiva sebelah fasial dan lingual. Marginal gingiva mengelilingi gigi menyerupai kerah baju. Selama masa erupsi gigi permanen, marginal gingiva lebih tebal dan memiliki protuberantia atau tonjolan. Bentuk interdental gingiva ditentukan oleh kontur permukaan proksimal gigi, lokasi, bentuk daerah kontak, dan luas embrasure gingiva. Pada gigi yang versi lingual, gingiva horizontal dan lebih tipis. 12 3. Konsistensi Konsistensi gingiva padat, keras, kenyal dan melekat erat pada tulang alveolar. Kepadatan attached gingiva didukung oleh susunan lamina propria secara alami dan hubungannya dengan mucoperiosteum tulang alveolar, sedangkan kepadatan marginal gingiva di dukung oleh serat-serat gingiva.12 4. Tekstur Permukaan Gingiva memiliki tekstur permukaan seperti kulit jeruk yang lembut dan tampak tidak beraturan, yang disebut stippling. Stippling adalah gambaran gingiva sehat, dimana berkurang atau menghilangnya stippling umumnya dihubungkan dengan adanya penyakit gingiva. Stippling tampak terlihat pada anak usia 3 dan 10 tahun, sedangkan gambaran ini tidak terlihat pada bayi. Pada awal masa erupsi gigi permanen, stippling menunjukkan gambaran yang bergerombol dan lebih lebar 1/8 inci, meluas dari daerah marginal gingiva sampai ke daerah attached gingival. 12 5. Keratinisasi Epitel yang menutupi permukaan luar marginal dan attached gingiva mengalami keratinisasi maupun parakeratinisasi. Keratinisasi dianggap sebagai suatu bentuk perlindungan terhadap penyesuaian fungsi gingiva dari rangsangan atau iritasi. Lapisan

pada permukaan dilepaskan dalam bentuk helaian tipis dan diganti dengan sel dari lapisan granular dibawahnya. Keratinisasi mukosa mulut bervariasi pada daerah yang berbeda. Daerah yang paling banyak mengalami keratinisasi adalah palatum, gingiva, lidah dan pipi.12 6. Posisi Posisi gingiva menunjukkan tingkatan dimana marginal gingiva menyentuh gigi. Ketika masa erupsi gigi, marginal dan sulkus gingiva berada di puncak mahkota. Selama proses erupsi berlangsung. marginal dan sulkus gingival terlihat lebih dekat kearah apikal. 12 7. Ukuran Ukuran gingiva menunjukkan jumlah total elemen seluler dan intraseluler, serta vaskularisasinya. Penyakit gingival biasanya ditandai oleh terjadinya perubahan ukuran dari komponen mikroskopik.12

Gambar 5. Gambaran Klinis Gingiva Normal

3. Perbedaan histologis antara gingiva sehat dan tidak sehat Gingiva Lebih merah karena lapisan epitel yang tipis, zat tanduknya sedikit dan adanya vaskularisasi pembuluh darah yang banyak. Kurangnya stippling karena papila jaringan ikat dari lamina propria lebih pendek dan lebih datar Konsistensinya lunak karena kurang padatnya jaringan ikat dari lamina propria. Sulkusnya relatif dalam. Tepi-tepi menggumpal dan membulat dihubungkan dengan adanya hiperami dan edema yang disebabkan proses erupsi gigi.

Sementum Lebih tipis, kurang padat Cenderung terjadi hiperplasia sementum pada bagian apikal dan epitel attachment.

Ligamen periodontal Ruang ligamen periodontal lebih lebar Serat-seratnya kurang padat dan jumlah seratnya kurang ditiap daerah Terdapatnya pertambahan cairan jaringan yaitu aliran darah dan cairan getah bening

Tulang Alveolar Lamina dura lebih tipis. Trabekula lebih sedikit. Ruang sumsum lebih besar. Derajat kalsifikasi yang lebih rendah Bertambahnya aliran darah dan cairan getah bening

4. Rangsang-rangsang fisiologis yang dapat meningkatkan sekresi saliva Faktor-faktor yang menyebabkan rangsang sekresi saliva adalah: melihat, mencium dan mengkonsumsi makanan yang meningkatkan nafsu makan. Daerah nafsu makan pada otak, terletak di daerah pusat parasimpatis hipotalamus anterior, dan berfungsi sebagai respon terhadap sinyal dari daerah pengecapan dan penciuman dari korteks serebral dan amigdala.

o Mekanis, mis. Mengunyah makanan keras atau permen karet o Kimiawi, oleh rangsangan seperti asam, manis, asin atau pedas

o Neuronal, melalui sistem saraf autonom baik simpatis atau parasimpatis o Psikis, stress menghambat sekresi o Rangsangan rasa sakit, mis. Radang gingivitis berpikir, melihat, membaui, atau mendengar suatu makanan lezat, apalagi dalam keadaan/sedang lapar. Faktor-faktor yang mempengaruhi sekresi saliva: Kelenjar saliva dapat dirangsang dengan cara-cara berikut: Mekanis, misalnya mengunyah makanan keras atau permen karet Kimiawi, oleh rangsangan seperti asam, manis, asin, pahit, dan pedas. Neuronal, melalui sistem saraf autonom baik simpatis maupun parasimpatis. Psikis, stress menghambat sekresi, ketegangan dan kemarahan dapat bekerja sebagai stimulasi. Rangsangan rasa sakit, misalnya oleh radang, gingivitis, dan pemakaian protesa yang dapat menstimulasi sekresi.

5. Mekanisme sekresi saliva Kelenjar saliva yang utama adalah kelenjar parotis, submandibularis, dan sublingualis. Sekresi saliva normal sehari-hari berkisar antara 800-1500 mililiter dengan pH sekitar 6 sampai 7. Saliva terutama mengandung sejumlah besar ion kalium dan ion bikarbonat, kebalikan dari plasma dimana lebih banyak mengandung ion natrium dan klorida.Penjelasan lebih lanjut mengenai anatomi dan fisiologi dari kelenjar saliva akan dibahas pada sintesis. b. Aroma merupakan sinyal kimia dari penghiduan yang diterima oleh korteks Cerebral yang dijalarkan ke Hipotalamus Anterior yang kemudian dijalarkan ke Nukleus Salivatorius yang akan dijalarkan ke Kelenjar-kelenjar penghasil Saliva. Keadaan tubuh ketika mencium aroma (aroma makanan) akan menimbulkan Refleks Saliva Didapat (Terkondisi) yaitu Pengeluaran air liur terjadi tanpa rangsangan oral. Hnaya berpikir, melihat, membaui, atau mendengar suatu makanan lezat yang dapat memicu pengeluaran air liur melalui refleks ini. Refleks ini merupakan respons yang dipelajari sebelumnya berdasarkan pengalaman. Masukan berasal dari luar mulut dan secara mental berkaitan dengan kenikmatan makan bekerja melalui korteks serebrum untuk merangsang pusat saliva di medula c. sekresi saliva Disekitar rongga mulut terdapat empat klenjar ludah yaitu: a. Kelenjar Parotis, letaknya dibawah depan dari telinga diantara prosesus mastoid kiri dan kanan os mandibular, duktusnya duktus stensoni.

b. Kelenjar Submaksilaris (sub mandibularis), terletak di rongga mulut bagian belakang, duktusnya bernama duktus wartoni, bermuara di rongga mulut dekat frenulum lingua. Ukurannya kurang lebih sebesar kacang kenari. c. Sub lungualis , letaknya dibawah selaput lendir dasar rongga mulut bermuara di dasar rongga mulut. d. Bucallis, yang kecil menghasilkan mucus. Sekresi saliva (Salivasi) diatur oleh syaraf parasimpatis Nukleus salivatorius superior dan inferior batang otak (pertemuan pons dan medula), yang akan teraktivasi melalui stimulus taktil dan pengecapan dari lidah serta daerah rongga mulut. Aroma makanan yang disukai juga dapat menstimulasi, dengan mengaktifkan daerah pusat nafsu makan di otak (pusat parasimpatis hipotalamus anterior) memberikan respons terhadap sinyal dari daerah penciuman dan pengecapan dari cortex cerebri / amigdala. Sementara itu, syaraf simpatis hanya mengaktivasi pengeluaran saliva dalam jumlah sedikit.

6. Perbedaan komposisi mikroflora saliva pada kondisi normal dan abnormal terdapat perbedaan komposisi mikroflora saliva antara orang sehat dengan penderitaxerostomia. Komposisi mikroflora normal saliva adalah mikoorganisme yg ditemukan setiap saatsecara konsisten dan dalam jumlah yg signifikan dalam sampel saliva. Mikroorganisme terdiridari bacteria ( gram positif dan negative), fungi, mycoplasma, protozoa dan virus. Bacteria sepertistreptococcus, lactobacillus dan actinomyces. Fungi seperti candida albicans. Sedangkan virusseperti Epstein-Barr dan human herpes virus tipe 6.Saliva pada orang sehat memiliki peran menjaga pertumbuhan bakteri pathogen dalam ronggamulut atau merupakan bagian dari system imun mukosa. Komposisi mikroflora saliva pada penderita xerostomia mengalami perubahan maka dari itu, kuman akan lebih mudah berkembangyang menyebabkan mikroorganisme kariogenik seperti streptokokus mutans, lactobacillus dancandida meningkat. Selain itu, fungsi bakteriostase dari saliva berkurang. Akibatnya, pasien yangmenderita mulut kering akan mengalami proses karies gigi, infeksi candida dan gingivitis.

7. Peran saliva sebagai faktor risiko karies Di dalam mulut selalu ada saliva yang berkontak dengan gigi. Saliva berperan dalam menjaga kelestarian gigi. Banyak ahli menyatakan, saliva merupakan pertahanan pertama terhadap karies. Mereka juga menyatakan bahwa fungsi saliva sebagai pelicin, pelindung, buffer , pembersih, anti pelarut dan anti bakteri. Namun demikian saliva juga memegang peranan penting lain yaitu dalam proses terbentuknya plak gigi, saliva juga merupakan media yang baik untuk kehidupan mikroorganisme tertentu yang berhubungan dengan karies gigi.(6)

Peran saliva dalam proses karies gigi 1.aliran saliva yang adekuat mengurangi akumulasi plak pada permukaan gigi 2.berdifusinya komponen saliva (kalsium, fosfat, hidroksil, dan ion fluoride) pada plak dapat mengurangi daya larut email dan meningkatkan remineralisasi dari lesi dini karies gigi 3.Kapasitas bufer bikarbonat pada saliva dapat mereduksi atau membatasi turunnya pH ketika bakteri memetabolisir gula 4.Protein saliva membentuk pelikel yang menghambat lepasnya ion dari enamel 5.komponen saliva (IgA, lisosom, laktoperoksidase, dan laktorerin) memiliki efek antibakterial

Selain memiliki efek buffer, saliva juga berguna untuk membersihkan sisa-sisa makanan di dalam mulut. Aliran rata-rata saliva meningkat pada anak-anak sampai berumur 10 tahun. Namun setelah dewasa hanya terjadi sedikit peningkatan. Pada individu yang berkurang fungsi salivanya, maka aktivitas karies akan meningkat secara signifikan 8. Perbedaan mikroskopik dari kelenjar liur mayor Kelenjar saliva ini merupakan kelenjar saliva terbanyak dan ditemui berpasang pasangan yang terletak di ekstraoral dan memiliki duktus yang sangat panjang. Kelenjarkelenjar saliva mayor terletak agak jauh dari rongga mulut dan sekretnya disalurkan melalui duktusnya kedalamrongga mulut. Menurut struktur anatomi dan letaknya, kelenjar saliva mayor dapat dibagi atastiga tipe yaitu parotis, submandibularis dan sublingualis. Masing masing kelenjar mayor inimenghasilkan sekret yang berbeda beda sesuai rangsangan yang diterimanya. Saliva padamanusia terdiri atas sekresi kelenjar parotis (25%), submandibularis (70%), dan sublingualis(5%).

Kelenjar Parotis

Anatomi: - Kelenjar ini merupakan kelenjar terbesar dibandingkan kelenjar saliva lainnya.-

Letak kelenjar berpasangan ini tepat di bagian bawah telinga terletak antara prosessus mastoideus dan ramus mandibula . Kelenjar ini meluas ke lengkungzygomatikum di depan telinga dan mencapai dasar dari muskulus masseter.-

Kelenjar parotis memiliki suatu duktus utama yang dikenal dengan d u k t u s Stensen . Duktus ini berjalan menembus pipi dan bermuara pada vestibulus oris pada lipatan antara mukosa pipi dan gusi dihadapkan molar dua atas.-

Kelenjar ini terbungkus oleh suatu kapsul yang sangat fibrous dan memiliki beberapa bagian seperti arteri temporal superfisialis, vena retromandibular dannervu s fasialis yang menembus dan melalui kelenjar ini. Histologi: -Kelenjar ini dibungkus oleh jaringan ikat padat dan mengandung sejumlah besarenzim antara lain amylase, lisozim, fosfatase asam, aldolase, dan kolinesterase.-

Kelenjar parotis

adalah kelenjar tubuloasinosa kompleks, yang pada manusiaadalah serosa murni . Kelenjar ini dikelilingi oleh kapsula jaringan ikat yangtebal, dari sini ada septa jaringan ikat termasuk kelenjar dan membagi kelenjarmenjadi lobulus yang kecil. Kelenjar parotis mempunyai sistem saluran keluaryang rumit sekali dan hampir semua duktus ontralobularis adalah duktus striata.-

Saluran keluar yang utama yaitu duktus parotidikius steensen terdiri dari epitel berlapis semu

, bermuara kedalam vestibulum rongga mulut berhadapan dengangigi Kelenjar parotis secara khas dipengaruhi oleh mumps yaitu parotitis epidemika . molar kedua atas.

4 Fisiologi:

Kelenjar parotis menghasilkan suatu sekret yang kaya akan air yaitu serous.-

Saliva pada manusia terdiri atas 25% sekresi kelenjar parotis. Kelenjar SubmandibularisAnatomi: -

Kelenjar ini merupakan kelenjar yang berbentuk seperti kacang dan memilikikapsul dengan batas yang jelas.-

Di dalam kelenjar ini terdapat arteri fasialis yang melekat erat dengan kelenjar ini.-

Kelenjar ini teletak di dasar mulut di bawah ramus mandibula dan meluas ke sisileher melalui bagian tepi bawah mandibula dan terletak di permukaan muskulusmylohyoid.-

Pada proses sekresi kelenjar ini memiliki duktus Wharton

yang bermuara diujung lidah.

Histologi: -

Kelenjar ini terdiri dari jaringan ikat yang padat.-

Kelenjar submandibularis

adalah kelenjar tubuloasinosa kompleks, yang padamanusia terutama pada kelenjar campur dengan sel-sel serosa yang dominan,karena itu disebut mukoserosa . Terdapat duktus interkalaris, tetapi saluran ini pendek karena itu tidak banyak dalam sajian, sebaliknya duktus striata berkembang baik dan panjang.-

Saluran keluar utama yaitu duktus submandibularis wharton

bermuara padaujung papila sublingualis pada dasar rongga mulut dekat sekali dengan frenulumlidah,

dibelakang gigi seri bawah. Baik kapsula maupun jaringan ikat stroma berkembang baik pada kelenjar submandibularis.

5 Fisiologi: -

Kelenjar submandibularis menghasilkan 80% serous (cairan ludah yang encer)dan 20% mukous (cairan ludah yang padat).-

Kelenjar submandibularis merupakan kelenjar yang memproduksi air liurterbanyak. -

Saliva pada manusia terdiri atas 70% sekresi kelenjar submandibularis. Kelenjar SublingualAnatomi: -

Kelenjar ini terletak antara dasar mulut dan muskulus mylohyoid merupakansuatu kelenjar kecil diantara kelenjar kelenjar mayor lainnya.-

Duktus utama yang membantu sekresi disebut duktus Bhartolin

yang terletak berdekatan dengan duktus mandibular dan duktus Rivinus yang berjumlah 8-20 buah.-

Kelenjar ini tidak memiliki kapsul yang dapat melindunginya. Histologi: -

Kelenjar sublingualis adalah kelenjar tubuloasinosa dan kelenjar tubulosakompleks. Pada manusia kelenjar ini adalah kelenjar campur meskipun terutamakelenjar mukosa karena itu disebut seromukosa.

Sel-sel serosa yang sedikithampir seluruhnya ikut membentuk demilune. Duktus interkalaris dan duktusstriata jaringan terlihat.-

Kapsula jaringan ikat tidak berkembang baik, tetapi kelenjar ini lobular halus biasanya terdapat 1012 saluran luar yaitu duktus sublingualis, yang bermuarakesepanjang lipatan mukosa yaitu plika sublingualis, masing-masing mempunyaimuara sendiri. Saluran keluar yang lebih besar yaitu duktus sublingualis mayorbartholin bermuara pada karunkula sublingualis bersama-sama dengan duktuswharton, kadang-kadang keduanya menjadi satu. Fisiologi: - Kelenjar sublingualis menghasilkan sekret yang mukous dan konsistensinyakental.-

Saliva pada manusia terdiri atas 5% sekresi kelenjar sublingualis

9. Perbedaan mikroskopik antara dua tipe sel sekretori dalam kelenjar liur Ada dua tipe sel sekretori, yaitu sel mucus dan serous, tergantung pada tipe sekresi yang dihasilkan. Sel mucus memiliki sitoplasma yang keabuan dan memproduksi produk mukis sekretori. Sel serous memiliki sitoplasma yang terang dan memproduksi produk serous sekretori. Sel sekretori yang ditemukan dalam kelompok, atau acinus, yang menyerupai anggur yang berkarang. Setiap acinus terdiri dari sebuah lapisan tunggal sel epitel yang mengelilingi lumen, pusat pembukaan dimana saliva disimpan setelah diproduksi oleh sel sekretori.

10. Perbedaan proporsi komponen mikroorganisme dalam rongga mulut antara orang yang sehat dengan perempuan tersebut? 11. Mekanisme terjadinya pembengkakan pada gusi perempuan tersebut