Anda di halaman 1dari 41

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Dislokasi sangat penting dikuasai oleh tenaga medis terutama para profesional yang berkecimpung dalam dunia kedokteran. Dislokasi adalah keadaan di mana tulangtulang yang membentuk sendi tidak lagi berhubungan secara anatomis (tulang lepas dari sendi). Dislokasi ini dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau terlepasnya seluruh komponen tulang dari tempat yang seharusnya (dari mangkuk sendi). Seseorang yang tidak dapat mengatupkan mulutnya kembali sehabis membuka mulutnya adalah karena sendi rahangnya terlepas dari tempatnya. Dengan kata lain: sendi rahangnya telah mengalami dislokasi. Dislokasi terjadi saat ligamen memberikan jalan sedemikian rupa sehingga tulang berpindah dari posisinya yang normal di dalam sendi. Dislokasi dapat disebabkan oleh faktor penyakit atau trauma karena dapatan (acquired) atau karena sejak lahir (kongenital). Dalam kehidupan sehari-hari, persendian dapat mengalami gangguan. angguan sendi ini dapat berupa proses keradangan karena infeksi, imunologis, proses degenerasi, maupun trauma. !rauma pada sendi sering disebabkan oleh beberapa hal, yaitu : "ontusio sendi, biasa terjadi karena suatu benturan. #oint strain, terjadi karena trauma kecil yang terjadi berulang $ ulang. #oint sprain%keseleo, terjadi karena adanya robekan mikroskopis dari ligament atau kapsul sendi yang tidak menggangu kestabilan. &uptur ligamen Dislokasi (',()

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi Dislokasi adalah keadaan dimana tulang-tulang yang membentuk sendi tidak lagi berhubungan secara anatomis (tulang lepas dari sendi). )tau dislokasi adalah suatu keadaan keluarnya (bercerainya) kepala sendi dari mangkuknya. Dislokasi merupakan suatu kedaruratan yang membutuhkan pertolongan segera. *ila terjadi patah tulang di dekat sendi atau mengenai sendi disertai luksasi sendi yang disebut fraktur dislokasi. Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi. Dislokasi ini dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau terlepasnya seluruh komponen tulang dari tempat yang seharusnya (dari mangkuk sendi). (()

2.2

Anatomi Sen i Sendi merupakan hubungan antar tulang sehingga tulang dapat digerakkan. Dimana hubungan dua tulang disebut persendian (artikulasi). *eberapa komponen penunjang sendi:

"apsula sendi adalah lapisan berserabut yang melapisi sendi. Di bagian dalamnya terdapat rongga. +igamen (ligamentum) adalah jaringan pengikat yang mengikat luar ujung tulang yang saling membentuk persendian. +igamentum juga berfungsi mencegah dislokasi.

!ulang ra,an hialin (kartilago hialin) adalah jaringan tulang ra,an yang menutupi kedua ujung tulang. *erguna untuk menjaga benturan.

-airan sino.ial adalah cairan pelumas pada kapsula sendi.

ambar '. /ersendian normal )da 0 macam sendi berdasarkan karakteristik masing-masing: '. Sindesmosis : adalah sendi dimana dua tulang ditutupi oleh jaringan fibrosa. 1isalnya sutura pada tulang tengkorak. (. Sinkondrosis : adalah sendi dimana kedua tulang ditutupi oleh tulang ra,an. 1isalnya lempeng epifisis yang merupakan suatu sinkondrosis yang bersifat sementara yang menghubungkan antara epifisis dan metafisis dan memberikan kemungkinan pertumbuhan memanjang pada tulang. 2. Sinostosis : adalah bila sendi mengalami obliterasi dan terjadi penyambungan antara keduanya. *eberapa sindesmosis dan semua sinkondrosis bergabung, menjadi sinostosis. 3. Simfisis : adalah suatu jenis persendian dimana kedua permukaannya ditutupi oleh tulang ra,an hialin dan dihubungkan oleh fibrokartilago dan jaringan fibrosa yang kuat. 1isalnya pada simfisis pubis dan sendi inter.ertebra.

0. Sendi sino.ial : adalah sendi dimana permukaannya ditutupi oleh tulang ra,an hialin dan pinggirnya ditutupi oleh kapsul sendi berupa jaringan fibrosa dan di dalamnya mengandung cairan sino.ial. (2,3) 2.! Pen"e#a# islokasi Dislokasi disebabkan oleh : '. !rauma: jika disertai fraktur, keadaan ini disebut fraktur dislokasi. - -edera olahraga 4lah raga yang biasanya menyebabkan dislokasi adalah sepak bola dan hoki, serta olah raga yang beresiko jatuh misalnya : terperosok akibat bermain ski, senam, .olley. /emain basket dan pemain sepak bola paling sering mengalami dislokasi pada tangan dan jari-jari karena secara tidak sengaja menangkap bola dari pemain lain. - !rauma yang tidak berhubungan dengan olah raga. *enturan keras pada sendi saat kecelakaan motor biasanya menyebabkan dislokasi. - !erjatuh !erjatuh dari tangga atau terjatuh saat berdansa diatas lantai yang licin

(. "ongenital Sebagian anak dilahirkan dengan dislokasi, misalnya dislokasi pangkal paha. /ada keadaan ini anak dilahirkan dengan dislokasi sendi pangkal paha secara klinik tungkai yang satu lebih pendek dibanding tungkai yang lainnya dan pantat bagian kiri serta kanan tidak simetris. Dislokasi congenital ini dapat bilateral (dua sisi). )danya kecurigaan yang paling kecil pun terhadap kelainan congenital ini mengeluarkan pemeriksaan klinik yang cermat dan sianak diperiksa dengan sinar 5, karena tindakan dini memberikan hasil yang sangat baik. !indakan dengan reposisi dan pemasangan bidai selama beberapa bulan, jika kelainan ini tidak ditemukan secara dini, tindakannya akan jauh sulit dan diperlukan pembedahan.

2. /atologis )kibatnya destruksi tulang, misalnya tuberkolosis tulang belakang. Dimana patologis: terjadinya 6tear ligament dan kapsul articuler yang merupakan kompenen .ital penghubung tulang. (2,5)

1.$ Patofisiologi Dislokasi biasanya disebabkan karena faktor fisik yang memaksa sendi untuk bergerak lebih dari jangkauan normalnya, yang menyebabkan kegagalan tekanan, baik pada komponen tulang sendi, ligamen dan kapsula fibrous, atau pada tulang maupun jaringan lunak. Struktur-struktur tersebut lebih mudah terkena bila yang mengontrol sendi tersebut kurang kuat. (2) '.0 Klasifikasi Dislokasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut: '. Dislokasi kongenital : !erjadi sejak lahir akibat kesalahan pertumbuhan. (. Dislokasi patologik : )kibat penyakit sendi dan atau jaringan sekitar sendi, misalnya tumor, infeksi, atau osteoporosis tulang. 7ni disebabkan oleh kekuatan tulang yang berkurang. 2. Dislokasi traumatik : merupakan kedaruratan ortopedi (pasokan darah, susunan saraf rusak dan mengalami stress berat, kematian jaringan akibat anoksia) akibat oedema (karena mengalami pengerasan). !erjadi karena trauma yang kuat sehingga dapat mengeluarkan tulang dari jaringan disekeilingnya dan mungkin juga merusak
5

struktur sendi, ligamen, syaraf, dan system .askular. "ebanyakan terjadi pada orang de,asa.

*erdasarkan tipe kliniknya dibagi: '. Dislokasi )kut : 8mumnya terjadi pada shoulder, elbo,, dan hip. Disertai nyeri akut dan pembengkakan di sekitar sendi. (. Dislokasi "ronik 2. Dislokasi *erulang : #ika suatu trauma dislokasi pada sendi diikuti oleh frekuensi dislokasi yang berlanjut dengan trauma yang minimal, maka disebut dislokasi berulang. 8mumnya terjadi pada shoulder joint dan patello femoral joint. ((,2)

2.%

Diagnosis )namnesis : perlu ditanyakan tentang : &asa nyeri )danya ri,ayat trauma 1ekanisme trauma )da rasa sendi yang keluar *ila trauma minimal dan kejadian yang berulang, hal ini dapat terjadi pada dislokasi rekurrens (9,:) /emeriksaan klinis a. Deformitas ;ilangnya penonjolan tulang yang normal
6

/emendekan "edudukan yang khas untuk dislokasi tertentu

b. *engkak c. !erbatasnya gerakan atau gerakan yang abnormal (9,:) /emeriksaan penunjang /emeriksaan radiologi untuk memastikan arah dislokasi dan apakah disertai fraktur./emeriksaan diagnostik dengan cara pemeriksaan sinar $5 (pemeriksaan 5&ays). (2,:)

2.&Kom'likasi "omplikasi yang dapat menyertai dislokasi antara lain :. "omplikasi Dini : ') -edera saraf : saraf aksila dapat cedera < pasien tidak dapat mengkerutkan otot deltoid dan mungkin terdapat daerah kecil yang mati rasa pada otot tesebut () -edera pembuluh darah : )rteri aksilla dapat rusak 2) =raktur disloksi "omplikasi lanjut : ') "ekakuan sendi bahu: 7mmobilisasi yang lama dapat mengakibatkan kekakuan sendi bahu, terutama pada pasien yang berumur 3> tahun. !erjadinya kehilangan rotasi lateral, yang secara otomatis membatasi abduksi () Dislokasi yang berulang: terjadi kalau labrum glenoid robek atau kapsul terlepas dari bagian depan leher glenoid 2) "elemahan otot ((,?) 2.( Penatalaksanaan
7

/enatalaksanaan dislokasi sebagai berikut :


o o

+akukan reposisi segera. Dislokasi sendi kecil dapat direposisi di tempat kejadian tanpa anestesi, misalnya : dislokasi siku, dislokasi bahu, dislokasi jari pada fase syok), sislokasi bahu, siku atau jari dapat direposisi dengan anestesi loca< dan obat penenang misalnya .alium.

o o

Dislokasi sendi besar, misalnya panggul memerlukan anestesi umum. Dislokasi reduksi: dikembalikan ketempat semula dengan menggunakan anastesi jika dislokasi berat.

"aput tulang yang mengalami dislokasi dimanipulasi dan dikembalikan ke rongga sendi.

Sendi kemudian diimobilisasi dengan pembalut, bidai, gips atau traksi dan dijaga agar tetap dalam posisi stabil. *eberapa hari sampai minggu setelah reduksi dilakukan mobilisasi halus 2-3@ sehari yang berguna untuk mengembalikan kisaran sendi

1emberikan kenyamanan dan melindungi sendi selama masa penyembuhan. (A,'>)

2.) *a+am Dislokasi I. Dislokasi Sen i Jari Sendi jari mudah mengalami dislokasi dan bila tidak ditolong dengan segera sendi tersebut akan menjadi kaku kelak. Sendi jari dapat mengalami dislokasi ke arah telapak tangan atau punggung tangan.

/enatalaksanaan: #ari yang cedera dengan tarikan yang cukup kuat tapi tidak disentakkan. Sambil menarik, sendi yang terpeleset ditekan dengan ibu jari dan telunjuk. )kan terasa bah,a sendi itu kembali ke tempat asalnya. Setelah diperbaiki sebaiknya untuk sementara ,aktu ibu jari yang sakit itu dibidai. 8ntuk membidai dalam kedudukan setengah melingkar seolah $ olah membentuk huruf 4 dengan ibu jari. (:,A)

II.

Dislokasi Sen i Sik, #atuh pada tangan dapat menimbulkan dislokasi sendi siku ke arah posterior. &eposisi dilanjutkan dengan membatasi gerakan dalam sling atau gips selama tiga minggu untuk memberikan kesembuhan pada sumpai sendi. (9,:)

ambar 2. Dislokasi radius III. Dislokasi Pergelangan tangan -Dislo+ation of t.e L,nate/ Dislokasi pergelangan tangan adalah suatu kondisi dimana permukaan sendi dari tulang pembentuk sendi pergelangan tangan mengalami pergeseran atau penguluran baik secara langsung maupun tidak langsung. a. Dislokasi tulang lunatum Dislokasi ini jarang ditemukan, berupa dislokasi ke anterior. Dislokasi tulang lunatum terjadi bila jatuh dengan pergelangan tangan dalam keadaan dorsofle@y, dan tulang lunatum terdorong ke arah palmar dan mengalami rotasi A> > pada carpar tunnel. !erdapat pembengkakan pada daerah pergelangan tangan, nyeri apabila jari-jari diekstensikan. *isa didapatkan gejala lesi ner.us medianus. /ada dislokasi yang baru, dilakukan reposisi di ba,ah pembiusan umum dengan melakukan penekanan pada tulang lunatum. /ada dislokasi yang lama, reposisi tidak bisa dilakukan dan perlu dilakukan eksisi. b. Dislokasi perilunatum Seluruh korpus mengalami dislokasi ke arah dorsal kecuali tulang lunatum masih tetap bersama-sama tulang radius.
10

/engobatan dilakukan reduksi tertutup. *ila gagal, dilakukan reduksi terbuka. I0. Dislokasi 1egio Ba., (Shoulder Dislocation) /ada regio bahu terdapat beberapa sendi yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi, yaitu sendi sternoklavikular, sendi akromioklavikular, dan sendi glenohumoral. ;ubungan skapulothorakal bukan merupakan sendi melainkan suatu hubungan muskuler antara dinding thoraks dan skapula. 1elalui keempat hubungan ini yang terdiri atas tiga persendian dan satu hubungan muskular ini terjadi gerakan ke segala arah di gelang bahu. Dislokasi regio bahu (sendi glenohumoral) merupakan 0> B kasus dari semua dislokasi. ?> B dari dislokasi regio bahu ini adalah tipe dislokasi bahu anterior. Stabilitas sendi bahu tergantung dari otot - otot dan kapsul tendon yang mengitari sendi bahu. Sedangkan hubungan antara kepala humerus dengan cekungan glenoid terlalu dangkal. 4leh karena itu pada sendi glenohumoral sering terjadi dislokasi, baik akibat trauma maupun pada saat serangan epilepsi. 1elihat lokasi kaput humeri terhadap glenoidalis, dislokasi paling sering ke arah anterior dan lebih jarang ke arah posterior. /ada ,aktu terjadinya dislokasi yang pertama mengalami kerusakan atau a.ulasi dari fibrocarltilage antara kapsul sendi dengan glenoidalis di bagian anterior dan inferior. Dengan adanya robekan tadi, maka sendi bahu akan mudah mengalami dislokasi ulang bila mengalami cedera lagi. ;al ini disebut sebagai recurrent dislokasi. !anda-tanda korban yang mengalami Dislokasi sendi bahu yaitu: C Sendi bahu tidak dapat digerakakkan C "orban mengendong tangan yang sakit dengan yang lain C "orban tidak bisa memegang bahu yang berla,anan C "ontur bahu hilang, bongkol sendi tidak teraba pada tempatnya

11

ambar 9. Shoulder dislocation Dislokasi A+romio+la2i+,laris "ekuatan sendi akromiokla.ikular disebabkan oleh simpai sendi dan ligament korakokla.ikular. Dislokasi sendi akromiokla.ikular tanpa disertai rupturnya ligament korakokla.ikuar, biasanya tidak menyebabkan dislokasi fragmen distal ke cranial dan dapat diterapi secara konser.atif dengan mitela yang disertai latihan dan gerakan otot bahu. *ila tidak berhasil atau adanya robekan ligament korakokla.ikula kadang dilakukan operasi reposisi terbuka dan pemasangan fiksasi interna.

12

ambar 3. Dislokasi acromiocla.icularis

Dislokasi Sterno+la2i+,lar Dislokasi sternokla.ikular ini jarang terjadi dan bisa terjadi akibat trauma langsung kla.ikula kearah dorsal yang menyebabkan dislokasi posterior atau retrosternal. )tau bisa terjadi akibat tumbukan pada bagian depan bahu sehingga bagian medial dari kla.ikula tertarik kearah depan dan menyebabkan lepasnya sendi sternokla.ikular kearah anterior. /engobatan konserfatif dengan reposisi dan imobilisasi bisa berhasil dan bila gagal perlu dilakukan operasi. Dang terpenting ialah latihan otot supaya tidak terjadi hipotrofik pada otot bahu.

13

ambar 0. Dislokasi Sternocla.icular

a.

Dislokasi #a., anterior Sering terjadi pada usia de,asa muda, kecelakaan lalu lintas ataupun cedera olah raga. Dislokasi terjadi karena kekuatan yang menyebabkan gerakan rotasi ekstern (puntiran keluar) dan ekstensi sendi bahu. /osisi lengan atas dalam posisi abduksi. "aput humerus didorong ke depan dan menimbulkan a.ulsi simpai sendi bagian ba,ah dan kartilago beserta periosteum labrum glenoidalis bagian anterior. +esi ini disebut bankart lesion. "arena terjadi robekan kapsul, kepala humerus akan keluar dari cekungan glenoid ke arah depan dan medial, kebanyakan tertahan di ba,ah coracoideus. 1ekanisme lain terjadinya disloksi adalah trauma langsung. /ederita jatuh, pundak bagian belakang terbentur lantai atau tanah. proksimal ke depan. aya akan mendorong permukaan belakang humerus bagian

ambar :. Dislokasi bahu anterior Klinis /asien merasakan sendinya keluar dan tidak mampu menggerakkan lengannya, dan lengan yang cedera ditopang oleh tangan sebelah lain. /undak terasa sakit sekali, bentuk pundak asimetris, posisi badan pendeita miring ke arah sisi yang sakit, bentuk deltoid pada sisi yang cedera tampak mendatar, hal ini disebabkan kepala humerus sudah keluar dari cekungan glenoid ke depan. /ada palpasi daerah subacromius jelas teraba cekungan.
14

Pemeriksaan 'en,n3ang Dengan pembuatan 5 $ ray foto, umumnya dengan proyeksi )/ sudah dapat terdiagnosis adanya dislokasi sendi bahu.

ambar ?. 5 $ ray foto dislokasi bahu anterior Penatalaksanaan "eadaan ini memerlukan reposisi segera. )da beberapa indikasi untuk melakukan reposisi, yaitu : tidak adanya fraktur, tidak adanya defisit neurologi 4leh karena itu sebelum melakukan reposisi sebaiknya dilakukan beberapa pemeriksaaan '. Eer.us a@illary : ?B terjadi kelumpuhan >- inner.asi m. Deltoideus : tidak di tes '- Sensoris: diba,ah m. Deltoideus (. 2. Eer.us &adialis: e@tensi tangan )rtery brachialis: denyut nadi radialis

15

ambar A. Pre reduction examination !erdapat 2 cara untuk mereposisi dislokasi bahu anterior, yaitu : 1. Cara Stimson -ara ini mudah dan tidak memerlukan anestesia. /enderita tidur tengkurang di atas meja, lengan yang cedera dibiarkan tergelantung ke ba,ah. +engan diberi beban seberat 0 $ : F kg. /ada saat otot bahu dalam keadaan relaksasi, diharapkan terjadi reposisi akibat berat lengan yang tergantung di samping tempat tidur tersebut. ;al ini dilakukan selama (> $ (0 menit.

ambar '>. -ara Stimson 2. Cara Hippocrates


16

*ila cara stimson gagal maka dilakukan cara hippocrates. /enderita tidur terlentang di atas meja, lengan penderita pada sisi yang sakit ditarik ke distal, posisi lengan sedikit abduksi. Sementara itu kaki penolong ditekankan ke aksila untuk mengungkit kaput humerus ke arah lateral dan posterior. Setelah reposisi, bahu dipertahankan dalam posisi endorotasi dengan penyangga ke dada selama paling sedikit 2 minggu.

ambar ''. -ara ;ippocrates 3. Cara Kocher /enderita ditidurkan di atas meja. /enolong melakukan gerakan yang dapat dibagi dalam 3 tahap. !ahap pertama, dalam posisi siku fleksi penolong menarik lengan atas ke arah distal !ahap kedua, dilakukan gerakan eksorotasi dari sendi bahu !ahap ketiga, melakukan gerakan adduksi dan fleksi pada sendi bahu !ahap ke empat, melakukan gerakan endorotasi sendi bahu.

Setelah tereposisi sendi bahu difiksasi dengan dada, dengan .erband dan lengan ba,ah digantung dengan sling. 7mmobilisasi cukup 2 minggu. -ara ini paling sering dilakukan di klinik.

17

ambar '(. -ara "ocher Kom'likasi "omplikasi yang mungkin terjadi dislokasi bahu anterior, yaitu : -edera ple@us brachialis dan n. )@illaris yang menyebabkan kumpulnya m. deltoid sehingga bahu tidak dapat diangkat abduksi &obeknya muskulus tendineus cuff (cuff rotator) /atah tulang humerus ekurrens dislokasi bahu anterior ;al ini disebabkan terjadinya celah robekan fibrocartilago di daerah bannkart yang menetap. !rauma yang ringan saja seperti mengenakan baju atau menutup jendela akan terjadi posisi abduksi dan eksternal rotasi yang akan mengakibatkan dislokasi kembali. "alau terjadi lebih dari 2 @, dianjurkan untuk dilakukan operasi. 1etode operasi yang dipakai yaitu, *risto,, *annkart, dan /utti plat. !ujuan dari operasi ini untuk melakukan rekonstruksi struktur bagian anterior sendi.

#. Dislokasi #a., 'osterior


18

Dislokasi ini jarang terjadi, mekanisme biasanya penderita jatuh dimana posisi lengan atas dalamkedudukan adduksi atau internal rotasi.

Klinis4 Sangat sakit di daerah bahu. /osisi lengan dalam kedudukan adduksi dan internal rotasi. !erdapat penonjolan kaput di daerah posterior. Pemeriksaan 1a iologi4 /royeksi )/ kadang sulit dilihat, "alau perlu dilakukan proyeksi aksial. Penatalaksanaan4 "eadaan ini memerlukan reposisi tertutup segera alam narkosis umum dengan melakukan rotasi ekstern pada bahu dan kaput humerus didorong ke depan. Setelah reposisi, dipasang gips spika bahu dalam posisi abduksi 2> > selama 2 minggu. (2,:) +. Dislokasi #a., inferior -L,5atio Ere+ta/ "aput humerus terperangkap diba,ah ka.itas glenoidale sehingga terkunci dalam posisi abduksi. "arena robekan kapsul sendi lebih kecil dibanding kepala humerus, maka sangat susah kepala humerus ditarik keluar, hal ini disebut sebagai Gefek lubang kancing (*utton hole effect)H

19

/enatalaksanaan +akukan traksi berla,anan dengan arah dislokasi. ),alnya lakukan tarikan ke arah dislokasi, yaitu ke arah atas, lanjutkan tarikan semakin lama semakin ke ba,ah (counter abduksi), dan akhirnya arahkan lengan ke sisi penderita.

0.

Dislokasi 1egio Pangg,l (Hip Dislocation) Dislokasi panggul lebih jarang dijumpai daripada dislokasi bahu atau siku. 1ekanisme terjadinya dislokasi yaitu saat kaput yang terletak di belakang asetabulum, kemudian segera berpindah ke dorsum illium. *iasanya juga mengalami cedera serius misalnya trauma benturan depan mobil akibat tabrakan mobil frontal. /enderita mungkin mengalami syok berat dan tidak dapat berdiri. !ungkainya terletak dalam posisi tinggi yang sesuai dengan paha difleksikan, dan dirotasikan ke interna. !ungkai pada sisi yang cedera lebih
20

pendek daripada sisi yang normal. +ututnya bersandar pada paha yang berla,anan dan trokantor mayor dan pantat menonjol secara abnormal. Dislokasi hip joint adalah suatu kejadian%peristi,a menyakitkan di mana komponen peluru%bola%caput humeri tulang paha keluar dari tempatnya%acetabulum. Sehingga penderita mengalami rasa nyeri, karena caput humeri bergerak%bekerja bukan pada tempatnya lagi. E'i emiologi4 &as bukan merupakan faktor risiko untuk dislokasi hip. Dislokasi ;ip lebih sering terjadi pada laki-laki muda dari pada orang yang karena cedera yang berhubungan dengan perilaku berisiko. ;ip dislokasi akibat cedera traumatik (terutama 1I-s) lebih umum pada mereka yang lebih muda dari 20 tahun dibandingkan orang tua. ;ip dislokasi akibat jatuh lebih umum pada mereka dari 90 tahun lebih tua. Pemeriksaan fisik4 Seperti halnya korban trauma besar, penilaian jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi sangat penting primer. Selama sur.ei sekunder, pemeriksaan dari korset panggul dan pinggul adalah ,ajib. /emeriksaan harus terdiri dari inspeksi, palpasi, aktif % pasif rentang gerak, dan pemeriksaan neuro.askular. 6 7nspeksi: Dalam prakteknya, ini penampilan dapat diubah dengan adanya dislokasi atau fraktur-kelainan tulang lainnya

/osterior: hip adalah tertekuk, terputar ke dalam , dan adduksi. )nterior: hip tertekuk minimal, terputar ke luar dan abduksi

- /alpasi: 1eraba panggul dan ekstremitas ba,ah untuk cacat tulang-langkah kotor atau off. Dalam sebuah dislokasi hip anterior, kadang-kadang pada femoralis teraba hematoma. ;al ini menunjukkan cedera .askular.

21

&ange of motion4 /asien dengan dislokasi hip memiliki jangkauan sangat terbatas gerak. 1enge.aluasi apa pasien dapat dilakukan dengan nyaman. #angan paksa melakukan berbagai gerakan pada pasien yang tidak bisa mentolerir manipulasi normal,. &entang nyeri gerak hampir tidak termasuk dislokasi hip.

/emeriksaan Ne,ro2ask,lar4 !anda-tanda cedera ner.us ischiadicus meliputi:


;ilangnya sensasi di kaki belakang dan kaki "ehilangan dorsifle@ion (cabang peroneal) atau fleksi plantar (cabang tibial) "ehilangan refleks tendon dalam (D!&s) di pergelangan kaki ;ilangnya sensasi atas paha "elemahan dari paha depan "ehilangan D!&s di lutut ;ematoma +oss of pulses 1uka pucat

!anda-tanda cedera saraf femoralis adalah sebagai berikut:


!anda-tanda cedera .askuler meliputi:


ambar '2. Dislokasi panggul

22

!anda-tanda klinis terjadinya dislokasi panggul: C "aki pendek dibandingkan dengan kaki yang tidak mengalami dislokasi C "aput femur dapat diraba pada panggul C Setiap usaha menggerakkan pinggul akan mendatangkan rasa nyeri Anatomi 7isiologi4 !ulang pel.is adalah penghubung antara badan dan anggota ba,ah yaitu tulang sakrum dan koksigeus bersendi antara satu dengan yang lainnya. /ada simfasis pubis pel.is terbagi atas ( bagian : '. (. /el.is mayor atau rongga panggul besar. /el.is minor atau rongga panggul kecil

Di antara ke ( rongga tersebut dibatasi oleh garis tepi atau linea terminalis. Sendi $ sendi pel.is antara lain : sendi sakro iliaka adalah sendi antara ilium yang disebut aurikuler dan kedua sisi sakrum, gerakan ini sangat sedikit karena ligamennya sangat kuat menyatukan permukaan sendi sehingga membatasi gerakan ke seluruh jurusan. Patofisiologi 4 Dislokasi panggul paling sering dialami oleh de,asa muda dan biasanya diakibatkan oleh abdukasi, ekstensi dan ekstra traumatik yang berlebihan. -ontohnya posisi melempar bola berlebihan. -aput humeri biasanya bergeser ke anterior dan inferior melalui robekan traumatik pada kapsul sendi panggul. =aktor yang sering menyebabkan resiko dislocation hip joint adalah: /el.is yang mempunyai peluru%bola%caput yang kecil dengan diameter (( mm, dan peluru%bola%caput yang memiliki leher%collum yang tebal. Pengo#atan Hi' Dislokasi /engobatan untuk dislokasi hip termasuk:

/enurunan dislokasi hip:


o

/enataan kembali tulang


23

*edah untuk patah tulang panggul 7stirahat: !erapi fisik untuk hip dislokasi Eonsteroidal anti-inflammatory obat untuk sakit
o o o

7buprofen ( 1otrin )d.il ) Eapro@en ( )napro@, Eaprosyn, )le.e ) "etoprofen ( 4rudis )

)nti nyeri narkotika ;ip dislokasi uji klinis Dislokasi panggul ada 2 macam, yaitu dislokasi panggul posterior, dislokasi panggul

anterior, dan dislokasi panggul central. a. Dislokasi 'angg,l 'osterior

Dislokasi posterior hip joint biasa disebabkan oleh trauma. 7ni terjadi pada a@is longitudinal pada femur saat femur dala keadaan fleksi A>o dan sedikit adduksi. /emeriksaan pada penderita dislokasi posterior hip joint akan menunjukkan tanda yang abnormal. /aha (pada bagian yang mengalami dislokasi) diposisikan sedikit fleksi, internal rotasi dan adduksi. 7ni merupakan posisi menyilang karena kaput femur terkunci pada bagian posterior asetabulum. Salah satu bagian pemeriksaan adalah memeriksa kemampuan sensorik dan motorik e@tremitas ba,ah dari bagian ba,ah hingga ke panggul yang mengalami dislokasi, karena kurangnya kepekaan saraf pada panggul merupakan suatu komplikasi masalah yang tidak laJim pada kasus dislokasi hip joint. Dislokasi panggul posterior biasa disebabkan oleh trauma. 7ni terjadi pada a@is longitudinal pada femur saat femur dalam keadaan fleksi A>o dan sedikit adduksi. 8e3ala klinis /emeriksaan pada penderita dislokasi panggul posterior akan menunjukkan tanda yang abnormal. /aha (pada bagian yang mengalami dislokasi) diposisikan sedikit fleksi! internal
24

rotasi dan adduksi. 7ni merupakan posisi menyilang karena kaput femur terkunci pada bagian posterior asetabulum.

ambar '0. Dislokasi panggul posterior 1ekanisme trauma pada dislokasi posterior karena kaput femur dipaksa keluar ke belakang asetabulum melalui suatu trauma yang dihantarkan pada diafisis femur dimana sendi panggul dalam posisi fleksi atau semifleksi. !rauma biasanya tejadi karena kecelakaan lalu lintas dimana lutut penumpang dalam keadaan fleksi dan menabrak dengan keras yang berada di bagian depan lutut. "elainan ini juga dapat juga terjadi se,aktu mengendarai motor. 0>B persen dislokasi disertai !ipe 7 fraktur pada pinggir asetabulum dengan fragmen kecil atau besar.2 !erdapat klasifikasi menurut !hompson Kpstein ('A:2) yang penting untuk rencana pengobatan: : dislokasi tanpa fraktur atau dengan fragmen tulang yang kecil.

!ipe 77 : dislokasi dengan fragmen tulang yang besar pada bagian posterior asetabulum. !ipe 777 : dislokasi dengan fraktur bibir asetabulum yang komunitif. !ipe 7I : dislokasi dengan fraktur dasar asetabulum. !ipe I : dislokasi dengan fraktur kaput femur.

/ada kasus yang jelas, diagnosis mudah dilakukan : kaki pendek, adduksi, rotasi internal dan sedikit fleksi. !etapi kalau salah satu tulang panjang mengalami fraktur, biasanya femur,
25

cedera panggul dengan mudah dapat terle,at. /edoman yang terbaik adalah memotret pel.is dengan sinar 5 pada tiap kasus cedera yang berat, dan pada fraktur femur, pemeriksaan sinar 5 harus mencakup panggul. !ungkai ba,ah harus diperiksa untuk mencari ada tidaknya tandatanda cedera saraf ischiadikus. /ada foto anteroposterior kaput femoris terlihat di luar mangkuknya dan di atas asetabulum. Segmen atap asetabular atau kaput femoris mungkin telah patah dan bergeser< foto oblik berguna untuk menunjukkan ukuran fragmen itu. "alau fraktur ditemukan, fragmen tulang yang lain (yang mungkin perlu dibuang) harus dicurigai. -! scan adalah cara terbaik untuk menunjukkan fraktur asetabulum atau setiap fragmen tulang. "eadaan dislokasi panggul merupakan tindakan darurat karena reposisi yang dilaksanakan segera mungkin dapat mencegah nekrosis a.askuler kaput femur. 1akin lambat reposisi dilaksanakan makin tinggi kejadian nekrosis a.askuler. &eposisi tertutup dilakukan dengan pembiusan umum menurut beberapa cara : metode *igelo,, metode Stimson, dan metode )llis. 1etode )llis merupakan metode yang lebih mudah. Pemeriksaan Salah satu bagian pemeriksaan adalah memeriksa kemampuan sensorik dan motorik e@tremitas ba,ah dari bagian ba,ah hingga ke panggul yang mengalami dislokasi, karena kurangnya kepekaan saraf pada panggul merupakan suatu komplikasi masalah yang tidak laJim pada kasus dislokasi panggul. /emeriksaan penunjang dengan pembuatan 5 $ ray foto, umumnya dengan proyeksi )/.

26

ambar '9. 5 $ ray foto dislokasi panggul posterior

Penatalaksanaan !erapi untuk mengembalikan keadaan ini ada dua cara :


1. Metode Allis : penderita dalam posisi terlentang di lantai, pembant mena!an pangg l dan mene"ann#a$ A!li beda! mela" "an %le"si pada l t t sebesar 900 dan t ng"ai diadd "si ringan dan rotasi medial$ &engan ba'a! ditempat"an diba'a! l t t dan dila" "an tra"si (erti"al dan "ap t %em r diang"at dari bagian posterior asetab l m$ )angg l dan l t t die"stensi"an se*ara !ati+!ati$ ,#arat terpenting dalam mela" "an reposisi adala! sesegera m ng"in dan dila" "an dengan pembi san m m disertai rela"sasi #ang * " p$ )ada tipe -- setela! reposisi ma"a %ragmen #ang besar di%i"sasi dengan s*re' se*ara operasi$ )ada tipe --- biasan#a dila" "an red "si tert t p dan apabila ada %ragmen #ang ter.eba" dalam asetab l m di"el ar"an melal i tinda"an operasi$ /ipe -0 dan 0 . ga dila" "an red "si se*ara tert t p dan apabila bagian %ragmen #ang lepas tida" tereposisi ma"a !ar s direposisi dengan operasi$ )as*a reposisi dila" "an tra"si " lit selama 4+6 mingg , setela! it tida" mengin.a""an "a"i dengan .alan memperg na"an tong"at selama 3 b lan$

2. "he #igelo$ %aneuver : !empatkan penderita di lantai (telentang). )mati (dislokasi) secara cermat dan suruh seorang asisten mendorongnya ke anterosuperior pada S7)S. =leksikan lutut penderita dan panggulnya, dan rotasikan tungkainya pada posisi netral. !arik tungkainya ke atas secara terus-menerus dengan lembut. Saat masih dilakukan traksi (penarikan) sesuai arah femur, rendahkan tungkainya ke lantai. &eduksi biasanya jelas dirasakan tetapi perlu didukung dengan sinar-5. #ika metode tersebut gagal mereduksi dislokasi, minta asisten meneruskan penekanan secara kuat pada S7)S. Dengan lutut sebagian difleksikan, tarik tungkai sesuai dengan deformitas. =leksikan panggul perlahan hingga A>o dan rotasikan secara lembut ke internal dan eksternal untuk melepaskan kaput dari struktur-struktur yang menahannya. "embalikan kaput pada tempatnya dengan rotasi interna dan eksterna lebih lanjut, atau rotasi eksterna dan ekstensi. *ila masih terpengaruh anestesi, periksa lutut, apakah terdapat ruptur ligamentum cruciatum posterior. .
27

ambar ':. "he #igelo$ %aneuver (. Segera setelah penderita dianestesi, tempatkan ia dengan ,ajah menghadap ke meja, sehingga paha yang cedera terkatung ke ba,ah dengan lututnya pada A>o dan kakinya bersandar pada lutut anda. Suruh seorang asisten memegang paha yang normal secara horiJontal, agar pel.is tidak menjadi miring. !ekan terus menerus ke arah ba,ah pada lutut yang difleksikan hingga otot-ototnya berelaksas dan kaput femoris dapat masuk ke asetabulum. #ika perlu goyangkan lututnya. #ika metode ini gagal, rujuk untuk dilakukan reduksi terbuka. 8ji stabilitas, saat penderita masih diberi anestesi, fleksikan panggulnya sampai A> o dan lakukan pemeriksaan apakah kaput femoris mudah keluar dari asetabulum dari arah posterior ataukah tetap pada tempatnya. #ika dapat tergelincir dengan mudah, diduga ada fraktur pada tepi posterior asetabulum. Setelah dilakukan reduksi diperlukan pera,atan lebih lanjut, dengan:

'. #ika reduksi stabil, pelaksanaan bergantung pada pergerakannya, apakah menimbulkan
28

sakit atau tidak. #ika tidak menimbulkan rasa sakit, maka tidak diperlukan traksi, karena itu lakukan pergerakan aktif di tempat tdur dan setelah '> hari penderita diberi tongkat ketiak dengan menahan beban berat parsial. #ika pergerakan menimbulkan nyeri, lakukan traksi ekstensi hingga nyeri hilang, lalu berdirikan dengan tongkat ketiak, dilanjutkan dengan menahan beban berat parsial sampai penuh. (. #ika reduksi tidak stabil, sehingga kaput femur keluar dari asetabulum, maka lakukan pemeriksaan sinar-5. #ika hasilnya menunjukkan satu potongan tulang besar patah dari pinggir asetabulum, maka rujuk untuk perbaikan. Sebaliknya, lakukan traksi ekstensi dengan pen tibia. #ika reduksi dapat dikontrol, lanjutkan untuk menggunakan sekurang-kurangnya 9 minggu. Kom'likasi "omplikasi yang mungkin terjadi dislokasi panggul posterior, yaitu +esi n. 7schiadicus Eekrosis a.askuler terjadi ' -( tahun pasca trauma )rtrosis degeneratif "omplikasi dapat berupa komplikasi dini yaitu kerusakan ner.us skiatik, kerusakan pada kaput femur, kerusakan pada pembuluh darah, dan fraktur diafisis femur. "omplikasi lanjut dapat berupa nekrosis a.askuler, miositis osifikans, osteoartritis. #. Dislokasi 'angg,l anterior /ada cedera ini pederita biasanya terjatuh dari suatu tempat tinggi dan menggeserkan kaput femur di depan asetabulum. /emeriksaan dislokasi anterior, kaki dibaringkan eksorotasi dan seringkali agak fleksi. Dalam posisi adduksi tapi tidak dalam posisi menyilang. /enderita tidak dapat bergerak fleksi secara aktif ketika dalam keadaan dislokasi. "aput femur jelas berada di depan triangle femur. (2,:) 8e3ala klinis an Pemeriksaan /emeriksaan dislokasi panggul anterior, kaki dibaringkan eksorotasi dan seringkali agak fleksi. Dalam posisi adduksi tapi tidak dalam posisi menyilang. /enderita tidak dapat
29

bergerak fleksi secara aktif ketika dalam keadaan dislokasi. "aput femur jelas berada di depan triangle femur. (2,:) Penatalaksanaan !erapi dilakukan dengan membaringkan penderita di lantai, dan lakukan anestasi seperti pada penanganan dislokasi panggul posterior. Dengan melakukan pengamatan secara cermat, suruh seorang asisten menarik pel.isnya dengan kuat sepanjang manu.er pada S7)S. /egang tungkai penderita dan bengkokkan panggul dan lutut sampai A>o. &otasikan tungkainya ke posisi netral. ;al ini akan mengubah dislokasi panggul anterior menjadi posterior. !arik tungkai penderita terus menerus ke atas agar dapat mengangkat kaput femur ke dalam asetabulum. (2,:,?) #ika panggul tidak dapat direduksi, turukan tungkainya ke lantai ketika sedang mempertahankan reduksi. #ika panggul masih tidak dapat direduksi, maka gunakan traksi sesuai dengan arah deformitas (fleksi dan adduksi). Saat mempertahankan traksi, angkat tungkainya pada posisi .ertikal agar dapat memba,a kaput femur pada tepi anterior asetabulum. Sekarang, dengan masih mempertahankan traksi, rotasikan tungkai ke internal dan turunkan pahanya menjadi posisi yang diekstensikan. #ika panggul masih tidak dapat direduksikan, suruh seorang asisten terus memegang pel.is dengan kuat. Suruh asisten kedua berdiri di depannya dan menarik dengan kuat sesuai dengan arah femur. )bduksikan panggul yang normal dan letakkan tumit anda tanpa sepatu pada tempat kaput femur yang anda pikirkan. "emudian tekan ke arah posterolateral hingga kaput masuk ke dalam socket dengan bunyi debam. #ika gagal, rujuk untuk dilakukan reduksi terbuka. Setelah dilakukan reduksi diperlukan pera,atan lebih lanjut, pertahankan penderita di tempat tidur hingga ia dapat mengontrol panggulnya kembali. "emudian biarkan ia berdiri dan menahan beban berat. )mati kaput femur terhadap nekrosis aseptik, sama seperti dislokasi panggul posterior. (2,:,?) +. Dislokasi 'angg,l +entral 9 o#t,rator Dislokasi obturator ini sangat jarang ditemukan. Dislokasi obturator disebabkan karena gerakan abduksi yang berlebih (hiper-abduksi) dari panggul yang normal yang

30

disebabkan karena trokantor mayor bergerak berla,anan dengan pel.is untuk mengungkit kaput femur keluar dari asetabulum. 8e3ala Klinis an 'emeriksaan /anggul akan sangat terlihat dalam posisi abduksi dan tidak dapat diba,a ke posisi normal tanpa penyesuaian dari pel.is. "elainan saraf sangat jarang terlihat pada kasus seperti ini.(2,:) Penatalaksanaan !erapi pada dislokasi obturator, yang terjadi akibat sobeknya capsul inferior, adalah sangat memungkinkan untuk mengubah dislokasi ini menjadi dislokasi panggul anterior maupun posterior, dan kemudian dapat direduksi dengan cara yang tepat. *agaimanapun juga traksi abduksi pada tungkai dengan traksi yang berla,anan dengan pel.is sangat diperlukan. *erikan tekanan kuat, lalu letakkan pada sisi medial kaput femur dengan melakukan sedikit gerakan internal dan eksternal rotasi. )dduksikan ke posisi normal. Selama kaput femur yang mengalami dislokasi tidak bergerak ke arah yang dapat mengganggu suplay darah, penderita dapat mulai berjalan dengan tongkat ketiak tanpa beban pada tungkainya setelah beristirahat di tempat tidur selama beberapa hari. /enderita harus berjalan dengan tongkat ketiak selama 9 minggu dan melakukan pemeriksaan dengan sinar-5 dengan inter.al ( sampai 2 bulan untuk tahun pertama dan 9 bulan untuk tahun kedua. "emungkinan terjadi avascular necrosis sangat kecil karena arah dislokasi ini. (2,:) Dislokasi Hi' #a:aan *eberapa anak lahir dengan masalah yang disebut dislokasi pinggul ba,aan pinggul (displasia). "ondisi ini biasanya didiagnosis segera setelah bayi lahir. Sebagian besar ,aktu, hal itu mempengaruhi hip kiri dalam kelahiran anak pertama, perempuan, dan bayi yang lahir dalam posisi sungsang. (2,9)

31

ambar '?. dislokasi hip kongenital Anatomi Dalam dislokasi pinggul, bola pada bagian atas tulang paha (femoralis kepala) tidak duduk aman di soket (acetabulum) dari sendi pinggul. Sekitarnya ligamen juga dapat lepas dan meregang. *ola dapat lepas dalam soket atau benar-benar luar itu. (2,9) Pen"e#a# /enyebab masalah ini masih belum diketahui. (2,9) 8e3ala /ada dislokasi ba,aan, tanda a,al mungkin LmengklikL suara saat kaki bayi yang baru lahir didorong terpisah. #ika kondisi itu terus terdeteksi pada tahap bayi, akhirnya kaki yang terkena akan tampak lebih pendek dari yang lain, kulit di lipatan paha akan muncul tidak merata, dan anak akan memiliki fleksibilitas lebih pada sisi yang terkena. "etika ia mulai berjalan, ia mungkin akan lemas, berjalan kaki, atau LgoyanganL seperti bebek. (2,9) Diagnosa /emeriksaan fisik dengan teliti bayi yang baru lahir biasanya mendeteksi dislokasi hip. /ada bayi yang lebih tua dan anak-anak, hip-sinar @ dapat mengkonfirmasikan diagnosis.(2,9)
32

Pengo#atan /engobatan dislokasi tergantung pada usia anak. Dalam atau sangat muda bayi baru lahir, misalnya, perangkat lunak disebut posisi memanfaatkan /a.lik akan menjaga tulang pinggul dalam soket dan merangsang pengembangan pinggul normal. #ika metode tidak bekerja, tulang pinggul sering dapat mendorong kembali ke tempatnya pada anak berumur 9 bulan sampai ( tahun. /rosedur, disebut reduksi tertutup, dilakukan di ba,ah anestesi. #ika reduksi tertutup gagal untuk memperbaiki masalah, operasi terbuka untuk reposisi hip mungkin diperlukan. Setelah anak adalah lebih dari ( tahun, ditutup. 1engikuti baik atau membuka prosedur tertutup, anak akan memakai cor dan % atau ka,at gigi selama beberapa bulan. 7ni akan membantu menjaga tulang pinggul di soket sementara menyembuhkan. )nak-anak sangat mungkin mengalami penundaan sebelum berjalan karena para pemain. 1eskipun perbedaan panjang kaki mungkin tetap, pengobatan a,al pinggul ba,aan dislokasi hip joint dapat mempromosikan fungsi normal dan akhirnya iJin gaya hidup aktif. (2,9) 0. Dislokasi Sen i L,t,t Dislokasi pada sendi lutut biasanya terjadi pada trauma yang berat ,yang langsung mengenai sendi lutut. Subluksasio dapat terjadi secara sekunder pada penyakit degeneratif ataupun pada penyakit infeksi yang sudah berlangsung cukup lama. !ulang tibia dapat menjadi dislokasi ke .entral , dorsal ataupun ke setiap sisi . Dapat juga terjadi rotasi yang abnormal pada femur. 1ekanisme terjadinya dislokasi pada sendi lutut biasanya melalui hiperekstensi dan torsi pada sendi lutut. Dislokasi akut pada sendi lutut sering disertai dengan kerusakan pada pembuluh darah ataupun persarafan pada popliteal space. ambaran klinis dijumpai adanya trauma pada daerah lutut disertai pembengkakan, nyeri dan hamartrosis serta deformitas.

33

/engobatan, tindakan reposisi dengan pembiusan harus dilakukan sesegera mungkin dan dilakukan aspirasi hemartrosis dan setelahnya dipasang bidai gips posisi '> o-l0o selama ' minggu kemudian dipasang gips sirkuler d iatas lutut selama :-? minggu, bila ternyata lutut tetap tak stabil (.arus ataupun .algus) maka harus dilakukan operasi untuk erbaikan pada ligamen.

BAB III As,.an Ke'era:atan 'a a Pasien engan Dilokasi A. Pengka3ian '. Dislokasi 7dentitas "lien 1eliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang dipakai, status perka,inan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, no. register, tanggal 1&S, diagnosa medis. &i,ayat /enyakit Sekarang /engumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari disklokasi yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. 7ni bisa berupa kronologi terjadinya penyakit. &i,ayat /enyakit Dahulu
34

/ada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab dislokasi, serta penyakit yang pernah diderita klien sebelumnya yang dapat memperparah keadaan klien dan menghambat proses penyembuhan. (. /emeriksaan =isik /ada penderita Dislokasi pemeriksan fisik yang diutamakan adalah nyeri, deformitas, fungsiolesa misalnya: bahu tidak dapat endorotasi pada dislokasi anterior bahu. B. Diagnosa Ke'era:atan '. (. 2. 3. 0. Eyeri akut berhubungan dengan discontinuitas jaringan angguan mobilitas fisik berhubungan dengan deformitas dan nyeri saat mobilisasi "ecemasan berhubungan dengan kondisi tentang penyakit angguan bodi image berhubungan dengan deformitas dan perubahan bentuk tubuh. "urang /engetahuan keterbatasan kognitif, interpretasi terhadap informasi yang salah, kurangnya keinginan untuk mencari informasi, tidak mengetahui sumbersumber informasi. 9. "erusakan integritas kulit berhubungan dengan 7mmobilitas fisik

;. N;P
Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi Nyeri akut berhubungan dengan: Agen injuri (biologi, kimia, fisik, psikologis), kerusakan jaringan DS: - Laporan secara verbal DO: - Posisi un uk menahan n!eri - "ingkah laku berha i#ha i - $angguan idur (ma a sa!u, ampak capek, suli a au gerakan kacau, men!eringai) - "erfokus pada diri sendiri - %okus men!empi (penurunan persepsi &ak u, kerusakan proses berpikir, penurunan in eraksi dengan orang dan lingkungan) - "ingkah laku dis raksi, con oh : jalan# jalan, menemui orang lain dan'a au ak ivi as, ak ivi as berulang#ulang) - (espon au onom (seper i diaphoresis, Rencana keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil NOC : Pain Level, pain con rol, comfor level Se elah dilakukan infakan kepera&a an selama )* Pasien idak mengalami n!eri, dengan kri eria hasil: +ampu mengon rol n!eri ( ahu pen!ebab n!eri, mampu menggunakan ehnik nonfarmakologi un uk mengurangi n!eri, mencari ban uan) +elaporkan bah&a n!eri berkurang dengan menggunakan manajemen n!eri +ampu mengenali n!eri (skala, in ensi as, frekuensi dan anda n!eri) +en!a akan rasa n!aman se elah n!eri berkurang Intervensi NIC : Lakukan pengkajian n!eri secara komprehensif ermasuk lokasi, karak eris ik, durasi, frekuensi, kuali as dan fak or presipi asi Observasi reaksi nonverbal dari ke idakn!amanan ,an u pasien dan keluarga un uk mencari dan menemukan dukungan -on rol lingkungan !ang dapa mempengaruhi n!eri seper i suhu ruangan, pencaha!aan dan kebisingan -urangi fak or presipi asi n!eri -aji ipe dan sumber n!eri un uk menen ukan in ervensi Ajarkan en ang eknik non farmakologi: napas dala, relaksasi, dis raksi, kompres hanga ' dingin ,erikan analge ik un uk mengurangi n!eri: ))*** "ingka kan is iraha ,erikan informasi en ang n!eri seper i pen!ebab n!eri, berapa lama n!eri akan berkurang dan an isipasi ke idakn!amanan dari prosedur +oni or vi al sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik per ama kali

35

perubahan ekanan darah, perubahan nafas, nadi dan dila asi pupil) - Perubahan au onomic dalam onus o o (mungkin dalam ren ang dari lemah ke kaku) - "ingkah laku ekspresif (con oh : gelisah, merin ih, menangis, &aspada, iri abel, nafas panjang'berkeluh kesah) - Perubahan dalam nafsu makan dan minum

"anda vi al dalam ren ang normal "idak mengalami gangguan idur

Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi

Rencana keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil NOC : 1oin +ovemen : Ac ive +obili ! Level Self care : ADLs "ransfer performance Se elah dilakukan indakan kepera&a an selama)*gangguan mobili as fisik era asi dengan kri eria hasil: -lien meningka dalam ak ivi as fisik +enger i ujuan dari peningka an mobili as +emverbalisasikan perasaan dalam meningka kan kekua an dan kemampuan berpindah +emperagakan penggunaan ala ,an u un uk mobilisasi (&alker) NIC : Exercise therap ! a"bulation +oni oring vi al sign sebelm'sesudah la ihan dan liha respon pasien saa la ihan -onsul asikan dengan erapi fisik en ang rencana ambulasi sesuai dengan kebu uhan ,an u klien un uk menggunakan ongka saa berjalan dan cegah erhadap cedera Ajarkan pasien a au enaga keseha an lain en ang eknik ambulasi -aji kemampuan pasien dalam mobilisasi La ih pasien dalam pemenuhan kebu uhan ADLs secara mandiri sesuai kemampuan Dampingi dan ,an u pasien saa mobilisasi dan ban u penuhi kebu uhan ADLs ps* ,erikan ala ,an u jika klien memerlukan* Ajarkan pasien bagaimana merubah posisi dan berikan ban uan jika diperlukan Intervensi

Gangguan mobilitas fisik ,erhubungan dengan : - $angguan me abolisme sel - -e erlemba an perkembangan - Pengoba an - -urang suppor lingkungan - -e erba asan ke ahan kardiovaskuler - -ehilangan in egri as s ruk ur ulang - "erapi pemba asan gerak - -urang penge ahuan en ang kegunaan pergerakan fisik - .ndeks massa ubuh dia as /0 ahun percen il sesuai dengan usia - -erusakan persepsi sensori - "idak n!aman, n!eri - -erusakan muskuloskele al dan neuromuskuler - .n oleransi ak ivi as'penurunan kekua an dan s amina - Depresi mood a au cemas - -erusakan kogni if

36

- Penurunan kekua an o o , kon rol dan a au masa - -eengganan un uk memulai gerak - $a!a hidup !ang mene ap, idak digunakan, decondi ioning - +alnu risi selek if a au umum DO: - Penurunan &ak u reaksi - -esuli an merubah posisi - Perubahan gerakan (penurunan un uk berjalan, kecepa an, kesuli an memulai langkah pendek) - -e erba asan mo orik kasar dan halus - -e erba asan (O+ - $erakan diser ai nafas pendek a au remor - -e idak s abilan posisi selama melakukan ADL - $erakan sanga lamba dan idak erkoordinasi

Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi Kecemasan berhubungan dengan %ak or ke urunan, -risis si uasional, S ress, perubahan s a us keseha an, ancaman kema ian, perubahan konsep diri, kurang penge ahuan dan hospi alisasi

Rencana keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil NOC : -on rol kecemasan -oping Se elah dilakukan asuhan selama )))))klien kecemasan era asi dgn kri eria hasil: -lien mampu mengiden ifikasi dan mengungkapkan gejala cemas +engiden ifikasi, mengungkapkan dan menunjukkan ehnik un uk mengon ol cemas 3i al sign dalam ba as normal Pos ur ubuh, ekspresi &ajah, bahasa ubuh dan ingka ak ivi as menunjukkan berkurangn!a kecemasan NIC : #nxiet Reduction $penurunan kece"asan% $unakan pendeka an !ang menenangkan 2!a akan dengan jelas harapan erhadap pelaku pasien 1elaskan semua prosedur dan apa !ang dirasakan selama prosedur "emani pasien un uk memberikan keamanan dan mengurangi aku ,erikan informasi fak ual mengenai diagnosis, indakan prognosis Liba kan keluarga un uk mendampingi klien .ns ruksikan pada pasien un uk menggunakan ehnik relaksasi Dengarkan dengan penuh perha ian .den ifikasi ingka kecemasan ,an u pasien mengenal si uasi !ang menimbulkan kecemasan Dorong pasien un uk mengungkapkan perasaan, ke aku an, persepsi -elola pemberian oba an i cemas:******** Intervensi

DO'DS: .nsomnia -on ak ma a kurang -urang is iraha ,erfokus pada diri sendiri .ri abili as "aku 2!eri peru Penurunan "D dan den!u nadi Diare, mual, kelelahan $angguan idur $eme ar Anoreksia, mulu kering Peningka an "D, den!u nadi, (( -esuli an bernafas ,ingung ,loking dalam pembicaraan Suli berkonsen rasi

37

Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi Gangguan body image berhubungan dengan: ,iofisika (pen!aki kronis), kogni if'persepsi (n!eri kronis), kul ural'spiri ual, pen!aki , krisis si uasional, rauma'injur!, pengoba an (pembedahan, kemo erapi, radiasi) DS: Depersonalisasi bagian ubuh Perasaan nega if en ang ubuh Secara verbal men!a akan perubahan ga!a hidup DO : Perubahan ak ual s ruk ur dan fungsi ubuh -ehilangan bagian ubuh ,agian ubuh idak berfungsi Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi Kurang Pengetahuan ,erhubungan dengan : ke erba asan kogni if, in erpre asi erhadap informasi !ang salah, kurangn!a keinginan un uk mencari informasi, idak menge ahui sumber#sumber informasi* DS: +en!a akan secara verbal adan!a masalah DO: ke idakakura an mengiku i ins ruksi, perilaku idak sesuai

Rencana keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil NOC: ,od! image Self es eem Se elah dilakukan indakan kepera&a an selama )* gangguan bod! image pasien era asi dengan kri eria hasil: ,od! image posi if +ampu mengiden ifikasi kekua an personal +endiskripsikan secara fak ual perubahan fungsi ubuh +emper ahankan in eraksi sosial NIC : ,od! image enhancemen -aji secara verbal dan nonverbal respon klien erhadap ubuhn!a +oni or frekuensi mengkri ik dirin!a 1elaskan en ang pengoba an, pera&a an, kemajuan dan prognosis pen!aki Dorong klien mengungkapkan perasaann!a .den ifikasi ar i pengurangan melalui pemakaian ala ban u %asili asi kon ak dengan individu lain dalam kelompok kecil Intervensi

Rencana keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil NOC: -o&l&dge : disease process -o&ledge : heal h ,ehavior Se elah dilakukan indakan kepera&a an selama )* pasien menunjukkan penge ahuan en ang proses pen!aki dengan kri eria hasil: Pasien dan keluarga men!a akan pemahaman en ang pen!aki , kondisi, prognosis dan program pengoba an Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur !ang dijelaskan secara benar Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa !ang dijelaskan pera&a ' im keseha an lainn!a NIC : -aji ingka penge ahuan pasien dan keluarga 1elaskan pa ofisiologi dari pen!aki dan bagaimana hal ini berhubungan dengan ana omi dan fisiologi, dengan cara !ang epa * $ambarkan anda dan gejala !ang biasa muncul pada pen!aki , dengan cara !ang epa $ambarkan proses pen!aki , dengan cara !ang epa .den ifikasi kemungkinan pen!ebab, dengan cara !ang epa Sediakan informasi pada pasien en ang kondisi, dengan cara !ang epa Sediakan bagi keluarga informasi en ang kemajuan pasien dengan cara !ang epa Diskusikan pilihan erapi a au penanganan Dukung pasien un uk mengeksplorasi a au mendapa kan second opinion dengan cara !ang epa a au diindikasikan 4ksplorasi kemungkinan sumber a au dukungan, dengan cara !ang epa Intervensi

Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan : 4ks ernal : - 5iper ermia a au hipo ermia - Subs ansi kimia - -elembaban - %ak or mekanik (misaln!a : ala !ang dapa menimbulkan luka, ekanan,

Rencana keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil NOC : "issue .n egri ! : Skin and +ucous +embranes 6ound 5ealing : primer dan sekunder Se elah dilakukan indakan kepera&a an selama)** kerusakan in egri as kuli pasien era asi dengan kri eria hasil: Intervensi NIC : Pressure Management Anjurkan pasien un uk menggunakan pakaian !ang longgar 5indari keru an pada empa idur 1aga kebersihan kuli agar e ap bersih dan kering +obilisasi pasien (ubah posisi pasien) se iap dua jam sekali +oni or kuli akan adan!a kemerahan

38

res rain ) - .mmobili as fisik - (adiasi - 7sia !ang eks rim - -elembaban kuli - Oba #oba an .n ernal : - Perubahan s a us me abolik - "onjolan ulang - Defisi imunologi - Perubahan sensasi - Perubahan s a us cairan - Perubahan pigmen asi - Perubahan sirkulasi - Perubahan urgor (elas isi as kuli ) DO: - $angguan pada bagian ubuh - -erusakan lapisa kuli (dermis) - $angguan permukaan kuli

.n egri as kuli !ang baik bisa diper ahankan (sensasi, elas isi as, empera ur, hidrasi, pigmen asi) "idak ada luka'lesi pada kuli Perfusi jaringan baik +enunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kuli dan mencegah erjadin!a sedera berulang +ampu melindungi kuli dan memper ahankan kelembaban kuli dan pera&a an alami +enunjukkan erjadin!a proses pen!embuhan luka

Oleskan lo ion a au min!ak'bab! oil pada derah !ang er ekan +oni or ak ivi as dan mobilisasi pasien +oni or s a us nu risi pasien +emandikan pasien dengan sabun dan air hanga -aji lingkungan dan perala an !ang men!ebabkan ekanan Observasi luka : lokasi, dimensi, kedalaman luka, karak eris ik,&arna cairan, granulasi, jaringan nekro ik, anda# anda infeksi lokal, formasi rak us Ajarkan pada keluarga en ang luka dan pera&a an luka -olaburasi ahli gi8i pemberian diae "-"P, vi amin 9egah kon aminasi feses dan urin Lakukan ehnik pera&a an luka dengan s eril ,erikan posisi !ang mengurangi ekanan pada luka

BAB I0 KESI*PULAN

KESI*PULAN Dislokasi adalah keadaan dimana tulang-tulang yang membentuk sendi tidak lagi berhubungan secara anatomis. Diagnosa dislokasi dapat ditegakkan melalui anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan radiologis. Dalam menghadapi kasus dislokasi, kita harus mengetahui macam dislokasi, komplikasi, dan penanganannya. )da beberapa macam terapi untuk menangani kasus dislokasi, hal ini disesuaikan dengan indikasi dari terapinya. SA1AN
39

Sebagai tenaga medis, kita harus bisa memahami kasus dislokasi karena hal ini bisa terjadi. /emahaman yang dimaksud mulai dari macam dislokasi, cara mendiagnosa dislokasi, komplikasi, serta terapi yang ada.

40

DA7TA1 PUSTAKA

'. 1ansjoer, ). dkk. (>>>. Kapita Selekta Kedokteran &ilid 2. 1edia )esculapius. #akarta (. -ole, Marren ; and Nollinger &obert 1. "extbook of Surger', Einth Kdition. Ee, Dork: 1eredith -orporation. 2. Salter &obert bruce. 'AAA. !e@tbook of Disorder and 7njuries of the 1usculoskeletal System, 2rd-ed. *altimore: Milliams O Milkins. 3. &asjad -hairuddin, (>>:, Pengantar (lmu #edah )rtopedi edisi ketiga, #akarta: /!.Darsif Matampone ()nggota 7")/7). 0. &eksoprojo, S.'AA0. Kumpulan Kuliah (lmu #edah. *inarupa )ksara. #akarta 9. Mim de #ong, Syamsuhidajat, &. (>>2. #uku *&ar (lmu #edah! edisi dua. /enerbit *uku "edoktern K -. #akarta :. )ppley ) ?. raham O Salomon +ouis, 'AA0. )rthopedi dan +raktur Sistem, Kdisi ketujuh, cetakan pertama. #akarta : Midya 1edika. reene, Malter *, ,etter-s )rthopaedics, Eorth -arolina, A. Meinsterin Stuart +, "urek-s )rthopaedics, +ippincot Mililiams O Milkins. '>. Sh,artJ Seymor 7. Principles of Surger'! fifth edition . Ee, Dork, 1c ra,-;ill, 7nformation Ser.ices -ompany.

41