Anda di halaman 1dari 15

Laporan Praktikum Teknologi Penyimpanan dan Penggudangan

Hari, tanggal

: Senin, 18 Februari 2013

Gol/Kelompok : P2 / 4 Dosen Asisten : Dr. Indah Yuliasih : (F34090101) (F34090135)

1. Ariska Duti Lina 2. Dimas Herdiyanto

PENGAMATAN LAPANG TEKNIK PENYIMPANAN KOMODITI DAN PRODUK PERTANIAN

Oleh : 1. Nia Khairina (F3411004) 2. Iis Solihat (F34110045)

2013 DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tanaman jeruk merupakan tanaman tahunan yang berasal dari Asia. Sejak ratusan tahun yang lalu jeruk sudah tumbuh di Indonesia. Jeruk di Indonesia berasal dari peninggalan penjajahan Belanda yang membawa jeruk manis dan jeruk keprok dari Amerika dan Itali. Sekarang ini, jeruk merupakan salah satu komoditas yang paling sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Terutama dalam pemasok buah-buahan nasional dan mempunyai nilai komersial yang cukup tinggi. Tanaman jeruk juga memiliki banyak manfaat pada daun dan buahnya. Daun jeruk biasanya digunakan untuk rempah-rempah sebagai penyedap makanan. Sedangkan, buah jeruk memiliki kandungan vitamin C yang tinggi sehingga dapat dimakan sebagai buah segar ataupun makanan olahan. Salah satu pruduk olahan jeruk yang sering kita temui yaitu minuman produk olahan jeruk. Oleh karena itu, untuk menjaga kandungan dan nilai tambah yang dapat diambil dari jeruk maka praktikan melakukan pengamatan untuk mengetahui bagaimana penyimpanan, penggudangan serta transportasi yang baik untuk mengelola jeruk dan minuman produk olahan jeruk agar terjaga dari kerusakankerusakan yang dapat terjadi. Pengamatan dilakukan pada pasar modern dan pasar tradisional untuk jeruk dan pasar modern dan rumah tangga untuk minuman produk olahan jeruk.

1.2 Tujuan Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengidentifikasi cara-cara penyimpanan yang biasa dilakukan oleh konsumen dan distributor/pedagang (di rumah tangga, pasar tradisional, pasar modern), mengidentifikasi keunggulan dan kelemahan masing-masing teknik penyimpanan yang ada, dan memilih/menentukan teknik penyimpanan yang optimum untuk komoditi dan produk pertanian tertentu berdasarkan sifat komoditi pertanian tersebut.

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Komoditas Jeruk

Jeruk merupakan salah satu komoditas yang paling diminati saat ini. Produk-produk minuman olahan jeruk yang rata-rata banyak di pasarkan di pasar modern memiliki keunggulan yang sekarang ini memang sangat dibutuhkan yaitu kepraktisannya. Kepraktisan merupakan salah ide utama dalam proses penciptaan minuman olahan jeruk ini. Rasa, yang merupakan faktor utama dalam pemilihan produk minuman olahan jeruk juga sangat menentukan kepuasan konsumen. Jeruk merupakan buah yang dihasilkan oleh tanaman jeruk yang berasal dari Asia. Cina dipercaya sebagai tempat pertama kali jeruk tumbuh. Sejak ratusan tahun yang lalu, jeruk sudah tumbuh di Indonesia baik secara alami atau dibudidayakan. Tanaman jeruk yang ada di Indonesia adalah peninggalan orang Belanda yang mendatangkan jeruk masin dan keprok dari Amerika dan Italia (Anonim 2011). Menurut Kemenristek (2010), klasifikasi tanaman botani tanaman jeruk sebagai berikut : Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Kelas : Dycotyledonae Ordo : Rutales Keluarga : Rutaceae Genus : Citrus Spesies : Citrus sp. Adapun beberapa jenis jeruk lokal yang dibudidayakan di Indonesia adalah jeruk Keprok, jeruk Siem, jeruk citrun/lemon, dan jeruk besar. Sedangkan beberapa jenis jeruk yang digunakan untuk bumbu masak adalah jeruk nipis, jeruk Purut, dan jeruk sambal. Jeruk memiliki banyak kandungan yang sangat baik apabila dikonsumsi oleh tubuh kita. Beberapa di antaranya adalah vitamin C, kalsium, potasium, thiamin, dan riboflavin. Sehingga, untuk menjaga agar zat-zat tersebut bertahan lama maka dibutuhkan teknik penyimpanan yang baik agar daya tahan jeruk bisa bertahan lama.

2.2

Produk Olahan Jeruk

Minuman ringan merupakan minuman yang tidak mengandung alkohol, merupakan minuman olahan dalam bentuk bubuk atau cair yang mengandung bahan makanan atau bahan tambahan lainnya baik alami atau sintesis yang

dikemas dalam kemasan yang siap untuk dikonsumsi. Minuman ringan terdiri dari dua jenis, yaitu minuman ringan dengan karbonasi dan minuman ringan tanpa karbonasi (non-karbonasi). Minuman ringan dengan karbonasi adalah minuman yang dibuat dengan menambahkan CO2 dalam air minum, sedangkan minuman ringan tanpa karbonasi adalah minuman selain minuman ringan dengan karbonasi (Anonim 2010). Salah satu contoh produk olahan jeruk adalah minuman olahan jeruk. Jeruk tidak hanya bisa dibuat dalam bentuk minuman, masih ada bentuk lain dari produk olahan jeruk, antara lain manisan jeruk.

III. METODOLOGI
3.1 Metode
Komoditi dan produk dipilih oleh masing-masing

kelompok

Lokasi pengamatan ditentukan oleh masing-masing kelompok

Dilakukan pengamatan terhadap hal-hal berikut : Wadah/kemasan yang digunakan Kondisi ruang penyimpanan (perkiraan : suhu, RH, intensitas cahaya) Teknik penumpukan (jika ada) Kerusakan komoditi dan produk yang mungkin terjadi (fisik, mekanik, fisiologis, mikrobiologis) Cara mencegah kerusakan yang mungkin dilakukan Keunggulan dan kelemahan teknik penyimpanan di satu tempat dibandingkan dengan lainnya (rumah tangga dengan pasar tradisional atau pasar modern, dan sebaliknya berkaitan dengan lama penyimpanan, biaya penyimpanan, kemudahan praktek penyimpanan, peluang terjadinya kerusakan, dll) Ada/tidak pengendalian hama (metode yang digunakan, frekuensi pemeriksaan, tingkat keberhasilan, dll) Karakteristik praktek penyimpanan (kemudahan mengambil dan meletakkan kembali, kemudahan melakukan sistem first in first out)

Laporan hasil pengamatan lapang

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Pengamatan (terlampir)

4.2

Pembahasan

4.2.1 Komoditas Penyimpanan merupakan salah satu kegiatan pascapanen yang akan menentukan kualitas buah jeruk sampai di tangan konsumen. Apabila penyimpanannya baik dan benar, maka buah jeruk tersebut akan sampai di tangan konsumen secara baik dan akan memberikan keuntungan yang lebih. Sebaliknya, apabila penyimpanan komoditas tersebut kurang baik, maka akan memberikan kerugian terhadap pihak produsen atau distributor yang disebabkan oleh berkurangnya daya tahan komoditas dan kekurangpuasan dari pihak konsumen. Buah jeruk memiliki karakteristik yang kulit buahnya mudah dikupas, serat cukup halis, memiliki kandungan air yang banyak, segar dan memiliki biji yang sedikit dan kecil-kecil (Aak 1994). Jeruk sangat diminati konsumen disebabkan karena memiliki berbagai manfaat yang memang sangat baik untuk tubuh. Di antara manfaat tersebut yaitu sebagai makanan buah segar yang memiliki kandungan vitamin C yang tinggi, sering dimanfaatkan sebagai obat tradisional penurun panas, pereda nyeri saluran napas bagian atas dan penyembuh radang mata (Kemenristek 2010). Akan tetapi sering kali manfaat-manfaat jeruk tersebut kurang maksimal diterima oleh konsumen, disebabkan oleh faktor penyimpanan yang kurang baik. Pada praktikum kali ini, praktikan mengamati teknik penyimpanan komoditas jeruk yang ada di pasar tradisional dan pasar modern. Perbandingan mengenai teknik penyimpanan jeruk di pasar tradisional dan di pasar modern dapat dilihat pada Tabel 1. Hasil Pengamatan Komoditas Jeruk. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa penyimpanan jeruk di pasar modern jauh lebih daik dibandingkan dengan di pasar tradisional. Berdasarkan literatur dari Kemenristek (2010), suhu yang paling tepat untuk menyimpan buah jeruk adalah pada temperatur ruangan 10oC - 15oC dengan kelembaban 85-90%. Penyimpanan pada suhu ini akan memberikan daya tahan pada jeruk selama dua sampai lima minggu tergantung kematangan dari buah jeruk tersebut. Berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh, suhu penyimpanan pada pasar modern adalah 17oC sedangkan

pada pasar tradisional adalah sekitar 30oC yaitu pada suhu normal sebab jeruk tersebut hanya dibiarkan begitu saja tidak diberikan pendingin khusus yang dapat memperpanjang daya tahan buah jeruk. Tujuan dari penyimpanan pada suhu rendah adalah untuk menurunkan tingkat stres pada buah jeruk. Rukmana (2008) menyebutkan bahwa tipe penyimpanan buah ada dua macam, yakni penyimpanan dingin pada suhu sekitar 5-20oC (cool storage) dan (-1)-(-5)oC (cold storage) yang dilakukan secara mekanis dengan penguapan gas cair bertekanan dalam sistem tertutup dan penyimpanan beku pada suhu sekitar (-5)-0oC (chilled storage) dan (-30)-(-10)oC (frozen storage). Dari literatur tersebut dapat disebutkan bahwa penyimpanan buah jeruk termasuk pada penyimpanan dingin cool storage. Sedangkan menurut Purnawijayanti (2001), penyimpanan pada suhu 10-15oC termasuk pada penyimpanan sejuk. Purnawijayanti (2001) juga menyebutkan bahwa penyimpanan sejuk ini tidak dapat mematikan mikroorganisme, sehingga kerusakan mungkin akan tetap terjadi. Adapun wadah yang digunakan untuk menyimpan jeruk tersebut di pasar modern adalah dikemas masing-masing dengan plastik HDPE. Sedangkan di pasar tradisional disimpan tanpa menggunakan kemasan khusus seperti di pasar modern. Penggunaan kemasan pada buah jeruk ini memberikan daya tarik kepada konsumen untuk membeli jeruk di pasar modern. Pengemasan secara masingmasing pada buah jeruk di pasar modern menunjukkan bahwa buah jeruk tersebut memang sangat diperhatikan satu-persatu. Hal ini bisa mengindikasikan bahwa buah jeruk yang ada di pasar modern tersebut memiliki kualitas yang lebih bagus dibandingkan dengan buah jeruk yang ada di pasar tradisional. Menurut Kemenristek (2010), teknik penumpukan yang digunakan untuk penyimpanan buah jeruk sangat mempengaruhi tingkat kerusakan pada buah jeruk. Teknik penumpukan yang baik adalah dengan menyusun buah jeruk tersebut dengan sedemikian rupa sehingga di antara buah jeruk ada ruang udara bebas. Wadah yang digunakan untuk menyusun buah jeruk adalah berkapasitas 50-60 kg. Pada pasar modern, teknik penumpukan yang dilakukan terhadap buah jeruk sangat bagus yaitu dengan menyusun buah jeruk seperti batu bata yaitu memberikan celah di antara jeruk yang satu dengan yang lain dan semakin ke atas maka penumpukan yang dilakukan semakin sedikit. Dari penumpukan yang telah dilakukan di pasar modern (Gambar 1 di lampiran) terlihat bahwa pada teknik penumpukan tersebut terdapat celah-celah sebagai ruang udara bebas (beraturan). Pada pasar tradisional (Gambar 2 di lampiran) penumpukan dilakukan secara sembarangan (tidak beraturan) sehingga kemungkinan kerusakan yang akan terjadi pada buah jeruk akan meningkat. Dari teknik penumpukan yang dilakukan di pasar modern dan pasar tradisional, kerusakan-kerusakan buah jeruk yang

mungkin terjadi adalah kerusakan secara fisik dan mekanis. Hal ini disebabkan oleh teknik penumpukan yang dilakukan terhadap buah jeruk. Adapun beberapa keunggulan teknik penyimpanan di pasar modern adalah peluang terjadinya kerusakan sangat rendah karena teknik penumpukan yang digunakan biasanya bagus dan daya tahan buah jeruk di pasar modern relatif lebih lama dibandingkan dengan pasar tradisional sebab kondisi-kondisi yang mendukung daya tahan buah jeruk relatif lebih baik. Sedangkan kelemahan dari teknik penyimpanan di pasar modern adalah biaya penyimpanannya lebih mahal dibandingkan di pasar tradisional dan karena biasanya di pasar modern setiap jeruk dikemas dengan plastik HDPE, maka untuk mengecek apakah buah jeruk tersebut masih bagus atau tidak sedangkan pada pasar tradisional jeruk tidak dikemas sehingga untuk melihat kondisi apakah jeruk tersebut masih dalam keadaan bagus atau tidak dapat dilakukan dengan mudah. Pengendalian hama yang dilakukan ketika penyimpanan di pasar modern dan pasar tradisional yang diamati tidak ada sewaktu dilakukan pengamatan. Kemudian untuk praktek penyimpanan di pasar modern termasuk susah dalam mengambil dan meletakkan kembali. Hal ini disebabkan teknik penumpukan yang dilakukan di pasar modern karena disusun secara teratur, maka untuk mengambil buah jeruk yang ada di bagian paling bawah tumpukan sangat susah. Karena teknik tumpukan yang dilakukan seperti pada Gambar 1 pada lampiran, maka sistem pengambilan yang dapat dilakukan adalah last in first out. Hal ini disebabkan teknik penumpukan yang mengharuskan untuk mengambil jeruk bagian atas dulu, sedangkan untuk mengambil jeruk di bagian bawah tumpukan sangat susah. 4.2.2 Produk Buah jeruk bisa dikonversi dalam bentuk lain, salah satunya adalah dalam bentuk minuman olahan jeruk. Minuman olahan jeruk saat ini sudah sangat menjamur di berbagai pasar modern sehingga sangat mudah didapatkan. Konsumen dari minuman-minuman olahan jeruk ini sangat beragam, mulai dari kalangan anak-anak, remaja, dewasa, hingga orang tua pun mengkonsumsi minuman olahan jeruk ini. Banyaknya konsumen dari berbagai minuman olahan jeruk ini, membuat para distributor di pasar modern harus memperhatikan teknik penyimpanan berbagai macam minuman olahan jeruk. Tak hanya pasar modern selaku distributor yang harus memperhatikan teknik penyimpanan ini, rumah tangga juga selaku salah satu konsumen dari produk-produk minuman olahan jeruk perlu memperhatikan teknik penyimpanan yang baik di tingkat rumah tangga.

Pengamatan kali ini juga memperhatikan dan membandingkan teknik penyimpanan minuman olahan jeruk yang terdapat pada pasar modern dan rumah tangga. Hasil pengamatan dapat dilihat pada Tabel 2. Hasil Pengamatan. Pasar modern memberikan tempat penyimpanan minuman olahan jeruk adalah di dalam lemari pendingin dengan suhu 9oC dan 3oC. Sedangkan yang berada di luar lemari pendingin bersuhu 17oC. Berdasarkan literatur Purnawijayanti (2001), penyimpanan ini termasuk pada penyimpanan dingin yaitu berkisar antar suhu 0oC 7oC. Akan tetapi penyimpanan pada suhu tidak mematikan mikroorganisme, sehingga produk olahan masih bisa dirusak oleh mikrobiologis. Selain itu, pada lemari pendingin juga dilengkapi dengan lampu yang berfungsi untuk memberikan intensitas cahaya yang rendah. Pada rumah tangga penyimpanan minuman olahan jeruk ada yang dilakukan dengan menyimpannya di dalam lemari pendingin seperti pada pasar modern (Gambar 3). Akan tetapi, bagi beberapa rumah tangga yang tidak memiliki lemari pendingin, penyimpanan biasanya dilakukan pada suhu ruang. Penyimpanan pada suhu ruang biasanya hanya bisa bertahan berkisar 1-2 minggu. Wadah yang digunakan untuk menyimpan minuman olahan jeruk ini adalah combipack dan di dalam lemari pendingin pada pasar modern. Pada rumah tangga penyimpanan biasanya dilakukan dengan kemasan aslinya. Misalnya sewaktu dibeli berkemasan combipack, pada saat sampai di rumah juga disimpan dengan kemasan tersebut. Teknik penumpukan yang dilakukan di pasar modern tidak ada, sebab kemasan minuman olahan jeruk biasanya berukuran tinggi, sehingga akan membahayakan produk apabila ditumpuk yang bisa menyebabkan kerusakan pada kemasan. Rumah tangga tidak menumpuk minuman olahan apabila kemasannya berukuran besar. Akan tetapi jika kemasannya berukuran kecil, biasanya rumah tangga akan menumpuk minuman olahan jeruk tersebut. Fungsinya untuk mengefisienkan tempat di dalam lemari pendingin. Pasar modern biasanya banyak mengalami kerusakan kemasan yang menyebabkan kemasan dari produk-produk tersebut jadi terlihat jelek. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk kerusakan fisik yang sering terjadi di pasar modern. Selain itu kerusakan mikrobiologis juga bisa terjadi, karena penyimpanan yang dilakukan hanya sampai penyimpanan dingin. Di rumah tangga, kerusakan mikrobiologis merupakan kerusakan yang paling sering terjadi. Hal ini terjadi disebabkan kelalaian dari rumah tangga, misalnya kelupaan menutup kemasan, atau menyatukan produk tersebut dengan produk lain yang sudah terkontaminasi bakteri (mikrobiologis). Tindakan pencegahan yang sering dilakukan pihak pasar modern untuk mengurangi tingkat kerusakan pada produk minuman olahan jeruk ini adalah

dengan tidak menumpuk produk-produk tersebut, melainkan hanya membariskan produk tersebut. Selain itu, pihak pasar modern juga akan memisahkan produkproduk yang mudah terkontaminasi dengan produk-produk olahan jeruk. Rumah tangga juga melakukan hal yang sama, yaitu memisahkan produk-produk yang mudah rusak dengan produk-produk minuman olahan jeruk. Adapun beberapa kelebihan dari teknik penyimpanan di pasar modern adalah minimnya kelalaian dalam penyimpanan sedangkan pada rumah tangga tinggi. Hal ini disebabkan pada pasar modern penyimpanan diawasi oleh orang yang memang bertugas untuk mengawasi hal tersebut sedangkan di rumah tangga tidak. Akan tetapi biaya penyimpanan di pasar modern lebih mahal dibandingkan di rumah tangga. Sebab lemari pendingin yang digunakan di pasar modern memiliki daya yang lebih tinggi sehingga membutuhkan listrik yang lebih banyak juga. Praktek penyimpanan sebenarnya sama-sama mudah, akan tetapi di pasar modern, produk-produk yang disimpan dalam lemari pendingin bukan hanya satu tetapi banyak, maka dalam penempatannya harus diperhatikan. Sedangkan di rumah tangga tidak terlalu membutuhkan perhatian sebanyak di pasar modern. Pengendalian hama yang dilakukan di pasar modern tidak terlalu tampak sewaktu pengamatan dilakukan. Rumah tangga juga sebenarnya tidak terlalu melakukan pengendalian hama di dalam lemari pendinginnya. Sebab, sangat jarang ada hama yang masuk ke dalam lemari pendingin. Terkecuali apabila hama tersebut terbawa oleh sayuran atau buah-buahan. Praktek penyimpanan yang ada di pasar modern umumnya terbilang acak (random). Konsumen bisa saja mengambil produk olahan minuman jeruk dari bagian depan, tengah, atau pun belakang.

V.

PENUTUP

5.1 Kesimpulan Jeruk merupakan suatu komoditas yang paling sering kita lihat di dalam kehidupan sehari-hari. Jeruk bisa kita temui baik di pasar modern maupun pasar tradisional. Pada pasar modern jeruk dikemas dan dijaga agar tetap segar serta agar tidak mengalami kerusakan. Berbeda halnya dengan jeruk yang ada di pasar tradisional, jeruk yang ada di pasar tradisional dibiarkan saja langsung terkena matahari, dan cara penumpukannya pun berantakan, hal ini dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada jeruk. Jeruk dapat diolah menjadi berbagai jenis produk, salah satunya adalah minuman olahan jeruk dalam kemasan. Minuman olahan jeruk ini non alkohol dan tidak berkarbonatasi. Minuman olahan jeruk ini sudah banyak ditemukan di pasar modern. Biasanya minuman olahan jeruk ini dikemas di wadah yang berbentuk combipack. Dalam pengamatan dilakukan perbandingan cara penyimpanan minuman produk olahan jeruk di pasar modern dengan rumah tangga. Di dalam pasar modern minuman produk olahan jeruk disusun perbaris untuk menarik perhatian konsuman dan mempermudah pengambilan produk, serta ditempatkan bersama produk olahan yang serupa agar tidak terkontaminasi. Sedikit berbeda penyimpanan pada rumah tangga, minuman produk olahan jeruk di simpan didalam lemari es dan tidak jarang penyimpanan dilakukan dengan menumpuk satu produk dengan produk lainnya, hal ini menyebabkan terjadinya kerusakan fisik pada produk. Selain itu, tidak jarang pula rumah tangga menempatkan produk dengan produk yang tidak serupa sehingga dapat terjadi kontaminasi pada produk. Oleh karena itu, dapat disimpulkan penyimpanan yang paling baik yang dapat dilakukan pada komoditi jeruk yaitu di pasar modern dibandingkan dengan pasar tradisional. Pada produk olahan jeruk penyimpanan yang baik pula terdapat di dalam pasar modern daripada di rumah tangga. Hal ini dapat dibuktikan dari pengamatan yang dilakukan di pasar modern.

5.2 Saran Semoga ke depannya pengamatan yang dilakukan oleh praktikan dapat lebih baik sehingga data yang diberikan dapat sesuai dengan literatur yang tercantum.

DAFTAR PUSTAKA

Aak. 1994. Budidaya Tanaman Jeruk. Yogyakarta : Penerbit Kanisius. Anonim. 2010. Minuman Olahan. [terhubung berkala]. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26006/5/Chapter%20I.pdf. [25 Februari 2013]. Anonim. 2011. Budidaya Pertanian : Jeruk. [terhubung berkala]. http://www.iptek.net.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg=2&doc=2a11. [28 Februari 2013]. Kemenristek. 2010. Jeruk (Citrus sp.). [terhubung berkala]. http://www.warintek.ristek.go.id/pertanian/jeruk.pdf. [25 Februari 2013]. Purnawijayanti H A. 2001. Sanitasi Hegiene Dan Keselamatan Kerja Dalam Pengolahan Makanan. Yogyakarta : Penerbit Kanisius. Rukmana R. 2008. Bertanam Buah-buahan Di Pekarangan. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.

LAMPIRAN
Tabel 1. Hasil Pengamatan Komoditas Jeruk Parameter Pasar Modern Wadah/Kemasan Kondisi ruang penyimpanan Plastik HDPE 17oC Ditumpuk seperti batu bata yang memiliki sela-sela Mikrobiologis Penumpukan yang teratur, menjaga suhu ruang penyimpanan

Pasar Tradisional Tidak ada 30oC Tumpuk tidak beraturan Mekanis, fisik, dan mikrobiologis

Teknik penumpukan

Kerusakan komoditi yang mungkin terjadi Cara mencegah kerusakan yang mungkin dilakukan

Tidak ada

Keunggulan : Peluang terjadinya kerusakan berkurang karena penumpukan yang teratur, suhu yang relatif terjaga Keunggulan dan kelemahan teknik penyimpanan Kelemahan : biaya penyimpanan yang lebih mahal, susahnya memeriksa kondisi buah yang berada di dalam plastik masingmasing.

Keunggulan : biaya penyimpanan relatif lebih murah, pengecekan kondisi buah jeruk secara langsung dapat dilihat tanpa perlu melepas kemasan karena tidak dikemas secara sendiri-sendiri. Kelemahan : Suhu relatif kurang terjaga, peluang terjadinya kerusakan mekanis, fisik dan mikrobiologis lebih besar Tidak ada Sangat mudah dalam mengambil karena teknik

Pengendalian hama

Tidak ada

Krakteristik praktek penyimpanan Dalam pengambilan dan pengembalian

lebih mudah

penumpukannya tidak teratur

Tabel 2. Hasil Pengamatan Produk Olahan Minuman Jeruk Parameter Pasar Modern Rumah Tangga Wadah/Kemasan Kondisi ruang penyimpanan Teknik Penumpukan Combipack 9oC, 3oC, dan 17oC Dibariskan belakang Combipack 0oC

ke Tidak teratur

Kerusakan produk yang mungkin Fisik terjadi mikrobiologis

dan Mikrobiologis

Cara mencegah kerusakan yang Pemisahan produkmungkin dilakukan produk yang mudah rusak, peningkatan pengawasan Keunggulan dan teknik penyimpanan kelemahan Keunggulan minimnya kelalaian

Pemisahan produkproduk yang mudah rusak, menurunkan tingkat kelalaian.

: Keunggulan : Tidak tingkat terlalu membutuhkan perhatian yg lebih Kelemahan : biaya penyimpanan lebih Kelemahan : lebih mahal mudah terkontaminasi, karena biasanya semua bahan berada dalam satu lemari pendingin Tidak ada Tidak ada

Pengendalian hama Karakteristik penyimpanan

praktek Mudah diambil dari Mudah diambil bagian mana pun (dari depan, tengah, belakang)