Anda di halaman 1dari 13

Arti Akhlak Dalam kamus besar bahasa indonesia online kata akhlak diartikan sebagai budi pekerti; kelakuan.[1].

Sebenarnya kata akhlak berasal dari bahasa Arab, dan jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia bisa berarti perangai, tabiat[2] . Sedang arti akhlak secara istilah sebagai berikut; Ibnu Miskawaih (w. 421 H/1030 M) mengatakan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Sementara itu, Imam Al-Ghazali (1015-1111 M) mengatakan akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gambling dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.[3] Dari pengertian-pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa akhlak adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan perilaku/perbuatan manusia. Pembagian Akhlak Secara umum akhlak atau perilaku/perbuatan manusia terbagi menjadi dua; pertama; akhlak yang baik/mulia dan kedua; aklak yang buruk/tercela. Macam-macam akhlak 1. 2. 3. 4. 5. 6. Akhlak terhadap diri sendiri Aklak terhadap keluarga (Orang tua, akhlak terhadap adik/kakak) Akhlak terhadap teman/sahabat, teman sebaya Akhlak terhadap guru Akhlak terhadap orang yang lebih muda dan lebih tua Akhlak terhadap lingkungan hidup/linkungan sekitar.

Dan inti dari berkakhlak tersebut diatas intinya adalah berakhlak baik kepada Allah SWT. Karena Allah SWT telah menjadikan diri dan lingkungan sekitar dengan lengkap dan sempurna. Tugas Manusia/Tindakan Manusia Allah SWT menciptakan manusia dengan tujuan utama penciptaannya adalah untuk beribadah. Ibadah dalam pengertian secara umum yaitu melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangannya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Manusia diperintahkan-Nya untuk menjaga, memelihara dan mengembangkan semua yang ada untuk kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Dan Allah SWT sangat membeci manusia yang melakukan tindakan merusak yang ada. Maka karena Allah SWT membenci tindakan yang merusak maka orang yang cerdas akan meninggalkan perbuatan itu, dia sadar bahwa jika melakukan per buatan terlarang akan berakibat pada kesengsaraan hidup di dunia dan terlebih-lebih lagi di akhirat kelak, sebagai tempat hidup yang sebenarnya. Maka intinya manusia harus berakhlak yang mulia.

[1] [2]

http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php Kamus Al-Mufid

[3]

http://wizanies.blogspot.com/2007/08/akhlak-etika-moral.html

Sukai ini:
Pengertian Definisi Akhlak akhlak adalah sebagai budi pekerti atau kelakuan. Dalam Bahasa Arab kata akhlak (akhlaq) di artikan sebagai tabiat, perangai, kebiasaan, bahkan agama. Meskipun kata akhlak berasal dari Bahasa Arab, tetapi kata akhlak tidak terdapat di dalam Al Qur'an. Kebanyakan kata akhlak dijumpai dalam hadis. Satu-satunya kata yang ditemukan semakna akhlak dalam al Qur'an adalah bentuk tunggal, yaitu khuluq, tercantum dalam surat al Qalam ayat 4: "Wa innaka la'ala khuluqin 'adzim", yang artinya: Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung. Sedangkan hadis yang sangat populer menyebut akhlak adalah hadis riwayat Malik, Innama bu'itstu liutammima makarima al akhlagi, yang artinya: Bahwasanya aku (Muhammad) diutus menjadi Rasul tak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak mulia. Perjalanan keilmuan selanjutnya kemudian mengenal istilah-istilah adab (tatakrama), etika, moral, karakter disamping kata akhlak itu sendiri, dan masing-masing mempunyai definisi yang berbeda. Menurut Imam Gazali, akhlak adalah keadaan yang bersifat batin dimana dari sana lahir perbuatan dengan mudah tanpa dipikir dan tanpa dihitung resikonya (al khuluqu haiatun rasikhotun tashduru 'anha al afal bi suhulatin wa yusrin min ghoiri hqjatin act_ fikrin wa ruwiyyatin. Sedangkan ilmu akhlak adalah ilmu yang berbicara tentang baik dan buruk dari suatu perbuatan. Dari definisi itu maka dapat difahami bahwa istilah 17. Akhlak adalah netral, artinya ada akhlak yang terpuji (al akhlaq al mahmudah) dan ada akhlak yang tercela (al akhlaq al mazmumah). Ketika berbicara tentang nilai baik buruk maka muncullah persoalan tentang konsep baik buruk. Dari sinilah kemudian terjadi perbedaan konsep antara akhlak dengan etika. Etika (ethica) juga berbicara tentang baik buruk, tetapi konsep baik buruk dalam ethika bersumber kepada kebudayaan, sementara konsep baik buruk dalam ilmu akhlak bertumpu kepada konsep wahyu, meskipun akal juga mempunyai kontribusi dalam menentukannya. Dari segi ini maka dalam ethica dikenal ada ethica Barat, ethika Timur dan sebagainya, sementara al akhlaq al karimah tidak mengenal konsep regional, meskipun perbedaan pendapat juga tak dapat dihindarkan. Etika juga sering diartikan sebagai norma-norma kepantasan (etiket), yakni apa yang dalam bahasa Arab disebut adab atau tatakrama. Sedangkan kata moral meski sering digunakan juga untuk menyebut akhlak, atau etika tetapi tekanannya pada sikap seseorang terhadap nilai, sehingga moral sering dihubungkan dengan kesusilaan atau perilaku susila. Jika etika itu masih ada dalam tataran konsep maka moral sudah ada pada tataran terapan.Melihat akhlak, etika atau moral seseorang, harus dibedakan antara perbuatan

yang bersifat temperamental dengan perbuatan yang bersumber dari karakter kepribadiannya. Temperamen merupakan corak reaksi seseorang terhadap berbagai rangsang yang berasal dari lingkungan dan dari dalam diri sendiri. Temperamen berhubungan erat dengan kondisi biopsikologi seseorang, oleh karena itu sulit untuk berubah. Sedangkan karakter berkaitan erat dengan penilaian baik buruknya tingkahlaku seseorang didasari oleh bermacam-macam tolok ukur yang dianut masyarakat. Karakter seseorang terbentuk melalui perjalanan hidupnya, oleh karena itu ia bisa berubah.

A- Pengertian Akidah Akhlak Menurut bah s k t qi h r s l ri h s r itu - - ] artinya adalah mengikat atau mengadakan perjanjian. Sedangkan Aqidah menurut istilah adalah urusanurusan yang harus dibenarkan oleh hati dan diterima dengan rasa puas serta terhujam kuat dalam lubuk jiwa yang tidak dapat digoncangkan oleh badai subhat (keragu-raguan). Dalam definisi yang lain disebutkan bahwa aqidah adalah sesuatu yang mengharapkan hati membenarkannya, yang membuat jiwa tenang tentram kepadanya dan yang menjadi kepercayaan yang bersih dari kebimbangan dan keraguan. Berdasarkan pengertian-pengertian di atas dapat dirumuskan bahwa aqidah adalah dasardasar pokok kepercayaan atau keyakinan hati seorang muslim yang bersumber dari ajaran Islam yang wajib dipegangi oleh setiap muslim sebagai sumber keyakinan yang mengikat. S m nt r k t khl k jug r s l ri h s r itu ]j m kn ]yang rtin tingk h l ku p r ng i t i t w t k mor l t u u i p k rti. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, akhlak dapat diartikan budi pekerti, kelakuan. Jadi, akhlak merupakan sikap yang telah melekat pada diri seseorang dan secara spontan diwujudkan dalam tingkah laku atau perbuatan. Jika tindakan spontan itu baik menurut pandangan akal dan agama, maka disebut akhlak yang baik atau akhlaqul karimah, atau akhlak mahmudah. Akan tetapi apabila tindakan spontan itu berupa perbuatan-perbuatan yang jelek, maka disebut akhlak tercela atau akhlakul madzmumah. B. Dasar Akidah Akhlak Dasar aqidah akhlak adalah ajaran Islam itu sendiri yang merupakan sumber-sumber hukum l m Isl m itu l Qur n n l H its. l Qur n n l H its l h p om n hi up dalam Islam yang menjelaskan kriteria atau ukuran baik buruknya suatu perbuatan manusia. Dasar aqidah akhlak yang pertama dan ut m l h l Qur n n. K tik it n t nt ng qi h khl k N i Muh mm S W Siti is h rk t . D s r qi h khl k N i Muh mm S W l h l Qur n. Islam mengajarkan agar umatnya melakukan perbuatan baik dan menjauhi perbuatan buruk. Ukuran baik dan buruk tersebut dikatakan l m l Qur n. K r n l Qur n m rup k n firman Allah, maka kebenarannya harus diyakini oleh setiap muslim. Dalam Surat Al-Maidah ayat 15-16 is utk n ng rtin S sungguhn t l h t ng kepadamu rasul kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al-Kitab yang kamu sembunyikan dan banyak pula yang dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu

cahayadari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orangorang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan izinN n m nunjuki m r k k j l n ng lurus. Dasar aqidah akhlak yang kedua bagi seorang muslim adalah AlHadits atau Sunnah Rasul. Untuk m m h mi l Qur n l ih t rinci um t Islam diperintahkan untuk mengikuti ajaran Rasulullah SAW, karena perilaku Rasulullah adalah contoh nyata yang dapat dilihat dan dimengerti oleh setiap umat Islam (orang muslim). C. Tujuan Akidah Akhlak Aqidah akhlak harus menjadi pedoman bagi setiap muslim. Artinya setiap umat Islam harus meyakini pokok-pokok kandungan aqidah akhlak tersebut. Adapun tujuan aqidah akhlak itu adalah : a) Memupuk dan mengembangkan dasar ketuhanan yang sejak lahir. Manusia adalah makhluk yang berketuhanan. Sejak dilahirkan manusia terdorong mengakui adanya Tuhan. Firman Allah dalam surah Al- r f t 172-173 ng rtin D n (Ing tl h) k tik Tuhanmu menguluarkan kehinaan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka, seraya rfirm n: Buk nk h ku ini Tuh nmu? m r k menjawab: B tul (Engk u Tuh n k mi) k mi j i s ksi (K mi l kuk n ng demikian itu), agar dihari kiamat kamu tidak mengatakan: S sungguhn k mi (Bani Adam) adalah orangorang yang lengah t rh p ini (K s n tuh n) t u g r k mu ti k mengatakan: S sungguhn or ng-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat hulu? Dengan naluri ketuhanan, manusia berusaha untuk mencari tuhannya, kemampuan akal dan ilmu yang berbeda-beda memungkinkan manusia akan keliru mengerti tuhan. Dengan aqidah akhlak, naluri atau kecenderungan manusia akan keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Kuasa dapat berkembang dengan benar b) Aqidah akhlak bertujuan pula membentuk pribadi muslim yang luhur dan mulia. Seseorang muslim yang berakhlak mulia senantiasa bertingkah laku terpuji, baik ketika berhubungan dengan Allah SWT, dengan sesama manusia, makhluk lainnya serta dengan alam lingkungan. Oleh karena itu, perwujudan dari pribadi muslim yang luhur berupa tindakan nyata menjadi tujuan dalam aqidah akhlak. c) Menghindari diri dari pengaruh akal pikiran yang menyesatkan. Manusia diberi kelebihan oleh Allah dari makhluk lainnya berupa akal pikiran. Pendapat-pendapat atau pikiran-pikiran yang semata-mata didasarkan atas akal manusia, kadang-kadang menyesatkan manusia itu sendiri. Oleh karena itu, akal pikiran perlu dibimbing oleh aqidah akhlak agar manusia terbebas atau terhindar dari kehidupan yang sesat.
HUBUNGAN AKHLAK DGN IBADAH

HUBUNGAN IBADAH DENGAN AKHLAK

HUBUNGAN IBADAH DENGAN AKHLAK


B. DIMENSI ESOTERIS IBADAH Pengalaman ibadah seharusnya tidak sekedar berdimensi eksoteris, yang hanya bersifat simbolik dan lahiriah, namun hendanya sampai kepada pemahaman dan penghayatannya. Yang dimaksud pemahaman dalam ibadah adalah memahami makna-makna dan nilai-nilai serta esensi ibadah. Sedangkan yang dimaksud dengan penghayatan ibadah adalah melakukan apresiasi dan ekspresi ibadah itu dengan diiringi perbuatan-perbuatan yang bersifat aplikatif yang sejaaan dengan hakikat dan hikmah ibadah. Pengamalan ibadah dengan pemahaman dan penghayatan itulah dimensi esoteris dalam ibadah. Pelaksanaan ibadah berdimensi esoteric banyak isyarat dalam Al-quran dan Al-sunnah, bahkan dimensi esoteris ini dianggap lebih utama dan penting karena ia merupakan inti dah ruhnya ibadah. Harun nasution mengemukakan, bahwa tujuan dari ibadah itu bukanlah hanya sekedar menyembah, tetapi taqarub kepada allah, agar dengan demikian roh manusia senantiasa diingatkan kepada hal-hal yang bersih dan suci, akhirnya rasa kesucian seseorang menjadi kuat dan tajam. Roh yang suci itu akan membawa kepada budi pekerti yang baik dan luhur. Oleh karena itu, ibadah disamping merupakan latihan spiritual juga merupakan latihan moral. Dari penjelasan diatas, dapat dipahami bahwa ibadah yang dilakukan manusia harus bermakna dalam kehidupan kesehariannya. Bila pengalaman ibadah tidak memilki makna, maka amalan ibadah secar eksoterik tidak akan membawa manfaat, baik bagi dirinya maupun sesamanya. Ibadah shlat misalnya,memilki tujuan menjauhkan manusia dari perbuatan-perbuatan jahat dan dan mendorongnya untuk senantiasa berbuat hal-hal yang baik dan bermanfaat. Begitu juga halnya dengan ibadah shaum (puasa), berdasarkan firman Allah, dinyatakan bahwa dengan melaksanakan ibadah shaum pelakunya diharapkan menjadi manusia yang bertaqwa, yakni manusia-manusia yang senantiasa melakukan perbuatan baik dan menjauhi perbuatan buruk atau jahat. Berpuasa itu bukanlah sekedar menahan diri dari makan, minum dan hubungan suami isteri, akan tetapi jauh lebih dalam daripada itu, sebagaimana banyak dikemukakan dalam hadits Rasulullah SAW, bahwa: sesungguhnya puasa itu bukanlah menahan diri dari perkataan yang tidak sopan. Bahkan bila ada yang mencaci dan tidak menghargai seseorang, maka hendaknya ia mengatakan bahwa aku sedang puasa dan dalam hadist lain Rasulullah bersabda : O rang yang

tidak meninggalkan kata-kata bohong dan senantiasa berdusta, tidak ada faedahnya menahan diri dari makan dan minum. Demikian halnya dengan zakat, merupakan suatu tindakan memberikan sebagian harta yang dimilki untuk kepentingan masyarakat, yakni bahwa zakat yang diambil dari harta itu berfungsi untuk membersihkan dan mensucikan pemiliknya. Dalam sebuah hadist, tergambarkan bahwa zakat/shadaqah itu memilki arti yang luas sekali, sejak memberi senyum kepada sesama manusia,mengambil duri dijalan agar tidak terinjak orang, member air yang ada payung kepada orang yang berjahat dan menuntun orang yang lemah penglihatannya. Demikan pula ibadah haji yang merupakn ibadah yang paripurna. Seitap orang yang akan melaksanakan ibadah haji harus meninggalkan seluruh aklah yang buruk, sepeti mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh, berbuat hal yang tidak baik dan bertengkar. Larangan ini dimaksudkan agar mereka meninggalkan akhlak semacam itu dan senantiasa berprilaku dengan baik. Ketika melaksanakan ibadah haji, setiap orang berdoa agar ibadah haji yang ditunaikannya itu mabrur atau diterima Allah SWT. Diantara indikasi kemabruran haji seseorang adalah terjadinya perubahan sikap dan tingkah laku seseorang sekembalinya dari menunaikan ibadah haji kearah peningkatan akhlaq yang baik. Ibadah dalam dimensi esoteric lebih tertuju kepada kandungan makna ibadah itu sendiri, yang diiringi rasa keikhlasan untuk mendapatkan ridha ilahi rabbi. Pelaksanaan ibadah harus mencapai esensi dan hakikat tujuannya, yang akan memberi dampak positif bagi sipelakunya sendiri maupun lingkungan sekitarnya. Setelah uraian diatas, maka ibadah itu tidaklah semata dilakukan dalam satu dimensi saja, baik eksoterisnya saja maupun esoterisnya saja. Kedua_duanya harus seiring dan sejalan. Bila semata berdimensi eksoterisnya, maka ibada itu tidak memiliki makna dan tidak memperoleh hakikat tujuan ibadah itu sendiri. Namun jika mengamalkan ibadah semata esoterisnya, juga dianggap tidak sah sebab ibadah itu harus secara lahiriah praktek perbuatannya dilakukan sesuai dengan petunjuk dan tuntunan syariat. Jadi ibadah dengan akhlak, satu dengan yang lainnya menyatu dan seharusnya demikian antara yang satu dengan yang lainnya tidak terpisahkan.dalam melakukan ibadah mengandung implikasi akhlaq (sikap perbuatan). Demikian halnya berakhlaq al karimah merupakan efek atau akibat melakukan ibadah yang teratur, baik dan benar. Banyak kalangan melakukan pembahasan antara materi ibadah dengan akhlaq selalu terpisah. Pembahasan ibadah lebih banyak menekankan kepada tatacara beribadah, baik menyangkut syarat-syaratnya, rukun-rukunnya maupun hokumhukumnya, karena pada umumnya pembahasan ibadah semata menggunakan pedekatan fiqhiyah. Sementara itu, penulisan materi akhlaq menekankan persoalan teori atau ada juga yang lebih rinci melakukan pembahasan melalui pendekata filosofis. Penulisan model seperti itu sah-sah saja dan

memang untuk mendalami ilmu pengetahuan agama seharusnyalah demikian. Hanya saja keterkaitan antara ibadah dengan ahklaq tidak secara eksplisit dikemukakan antara satu dengan yang lainnya. Berbeda halnya setelah memahami makna eksoteris dan esoteric ibadah, maka dalam mempraktekkan ibadah akan timbul suatu kesadaran terhadap aplikasi dan implikasi amaliah ibadahnya, baik terhadap dirinya maupun masyarakat sekitar.

Tugas ibadah akhlak Universitas Prof. DR. HAMKA sekaligus kenangan terakhir sekelompok dengan amel, sebelum dia mengundurkan diri dari kampus tercinta.. Diposkan oleh wu'ul-ann di 09.36 Tidak ada komentar: Poskan Komentar Posting Lama Beranda Langganan: Poskan Komentar (Atom) 2). Akhlak adalah buah daripada ilmu dan ibadah. Ilmu dan ibadah yang membuahkan akhlak yang baik adalah ilmu dan ibadah yang bernilai di sisi Allah S.W.T. Sebaliknya ilmu dan ibadah yang membuahkan akhlak yang buruk, itu menandakan bahawa ilmu dan ibadah yang dilakukan selama ini tidak berbuah atau tidak mendapat nilaian di sisi Allah S.W.T.

Akhlak yang buruk boleh dididik menjadi baik. Perubahan ini berlaku apabila nafsu seseorang manusia itu berjaya dididik. Akhlak manusia menjadi rosak kerana manusia terlalu menurut desakan hawa nafsu dan syaitan. Kejahatan nafsu ini dapat dilihat melalui firman Allah S.W.T.: "Sesungguhnya nafsu itu sangat mengajak kepada kejahatan" (Yusuf:53) Sabda Rasulullah SAW: "Sejahat-jahat musuh engkau ialah nafsu engkau yang terletak diantara dua lambung engkau"

Manakala tentang syaitan, Allah berfirman: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh kamu yang nyata" (Yusuf:5) (Insyaallah, sama2 lah kita ke arah yang lebih baik)

BAB I Pembahasan A. Pengertian Akidah, Ibadah, dan Akhlak 1. Akidah ) yang berarti qi h ( ) menurut bahasa Arab (etimologi) berasal dari kata al- q u ( ikatan, at-tautsiiqu( ) yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu )yang ( ) yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquw-wah ( berarti mengikat dengan kuat. Sedangkan menurut istil h (t rminologi): qi h J i qi h Isl mi h l h k im n n ng t guh l h im n n ng t guh n p sti ng

tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya. rsif t p sti k p ll h

dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid dan taat kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya, hari Akhir, takdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang telah shahih tentang Prinsip-prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang gh i rim n k p p ng m nj i ijm ik s c r ilmi h (konsensus) dari Salafush Shalih, serta seluruh berita- rit q thi (p sti) sh hih s rt ijm S l fush Sh lih.1[2] 2. Ibadah Ibadah ( )s c r timologi r rti m r n hk n iri s rt tun uk. Di l ms r i h

maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah yang

mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Diantara definisinya : a. Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah , yaitu tingkatan ketundukan yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi, b. Ibadah ialah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah , baik berupa ucapan atau perbuatan, yang dzahir maupun bathin. c. Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah : Ibadah adalah segala sesuatu ng m nc kup s mu h l ng icint i n iri h i ll h T l ik rup uc p n n

amalan, yang nampak dan yang tersembunyi.2[3] 3. Akhlak

1[2] [Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M] 2[3] http://taimiah.org/index.aspx?function=item&id=949&node=4109

Dalam hal ini ada dua pendekatan yang dapat digunakan untuk mendefinisikan akhlak, yaitu pendekatan linguistik (kebahasaan), dan pendekatan terminologi (peristilahan).3[4]

Pendekatan (Kebahasaan)

Linguistik : Berasal dari bahasa Arab, yaitu isim mashdar (bentuk infinitive) yaitu merupakan isim jamid atau isim ghair mustaq, yaitu isim yang tidak memiliki akar kata, melainkan kata tersebut memang telah demikian adanya.

Pendekatan Terminologi : Sifat (Peristilahan)

yang

tertanam

dalam

jiwa

yang

mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

Dapat diambil kesimpulan bahwa ilmu akhlak adalah ilmu yang membahas tentang perbuatan manusia yang dinilai baik dan buruk. Dapat dilihat dalam Muj m l-Wasith disebutkan ilmu akhlak adalah: . (Ilmu yang objek pembahasannya adalah tentang nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatan manusia yang dapat disifatkan dengan baik atau buruk)4[5]

B.

Sumber Nash Tentang Akidah, Ibadah, dan Akhlak

a. Nash Hadith )) (( Or ng rim n ng p ling s mpurn im nn l h ng p ling ik khl kn . (Shahih. HR. Abu Dawud 4682 dan At-Tirmidzi 1162, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-J mi 1230 1232)5[6] . N sh Qur n contohn QS 31 (Luqm n : 13-17)

13. dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

3[4] Prof. Dr.H. Abuddin Nata, M.A., Akhlak Tasawuf, PT Raja Grafindo Persada, 2006, hlm. 1 4[5] Al-Mujam al-Wasith hlm. 252 5[6] Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga, Akhlaq/Tasawuf, Yokyakarta : 2005. Hlm. 65

14. dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. 15. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. 16. (Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui. 17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Jika kita perhatikan, hadith dan ayat di atas, maka disana memuat tentang tiga hal yang wajib dimiliki serta dicapai oleh individu, yaitu sifat-sifat yang menyangkut masalah akidah, ibadah, dan akhlak. Tiga hal ini tidak boleh dipisahkan pada pribadi seseorang sehingga harus selalu lengkap dan sempurna. Sekalipun hanya satu dari unsur itu yang hilang, maka tidak akan tercapai kesempurnaan pribadi individu.

C.

Hubungan Akidah, Ibadah dan Akhlak

Bertasawuf pada hakikatnya adalah melakukan serangkaian ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt dan ibadah itu sendiri kaitannya sangat erat dengan akhlak. Dalam hal ini Harun Nasution mengatakan bahwa ketika mempelajari tasawuf ternyata di sana akan didapatkan al-Qur n n l-Sunnah yang mementingkan akhlak,

karenanya ibadah erat sekali kaitannya dengan akhlak, dan kaum sufilah terutama yang

pelaksanaan ibadahnya membawa kepada pembinaan akhlak yang mulia terlebih dalam diri mereka sendiri, sehingga dikalangan mereka dikenal istilah al-takhalluq bi akhlaq Allah, yaitu berbudi pekerti dengan budi pekerti Allah, atau juga istilah al-ittisaf bisifat Allah, yaitu mensifati diri mereka dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah Swt.6[7] Aqidah merupakan suatu keyakinan hidup yang dimiliki oleh manusia.Keyakinan hidup ini diperlukan manusia sebagai pedoman hidup untuk mengarahkan tujuan hidupnya sebagai mahluk alam.Pedoman hidup ini dijadikan pula sebagai pondasi dari seluruh bangunan aktifitas manusia Pondasi aktifitas manusia itu tidak selamanya bisa tetap tegak berdiri, maka dibutuhkan adanya sarana untuk memelihara pondasi yaitu ibadah. Ibadah merupakan bentuk pengabdian dari seorang hamba kepada allah. Ibadah dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada allah untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan terhadap allah. Apabila aqidah telah dimiliki dan ibadah telah dijalankan oleh manusia, maka kedua hal tersebut harus dijalankan dengan sebaik-baiknya, oleh karena itu diperlukan adanya suatu peraturan yang mengatur itu semua.Aturan itu disebut Muamalah. Muamalah adalah segala aturan islam yang mengatur hubungan antar sesama manusia. Muamalah dikatakan berjalan baik apabila telah memiliki dampak sosial yang baik. Untuk dapat mewujudkan aqidah yang kuat yaitu dengan cara ibadah yang benar dan juga muamalah yang baik, maka diperlukan suatu ilmu yang menjelaskan baik dan buruk, menjelaskan yang seharusnya dilakukan manusia kepada yang lainya, yang disebut dengan akhlak. Dengan akhlak yang baik seseorang akan bisa memperkuat aqidah dan bisa menjalankan ibadah dengan baik dan benar. Ibadah yang dijalankan dinilai baik apabila telah sesuai dengan muamalah.Muamalah bisa dijalankan dengan baik apabila seseorang telah memiliki akhlak yang baik. Contohnya : Jika berjanji harus ditepati yaitu apabila seorang berjanji maka harus ditepati. Jika orang menepati janji maka seseorang telah menjalankan aqidahnya dengan baik.Dengan menepati janji seseorang juga telah melakukan ibadah. Pada dasarnya setiap perbuatan yang dilakukan manusia harus didasari denga aqidah yang baik, karena setiap hal yang dilakukan pasti ada aturanya . Hubungan aqidah dengan akhlak

6[7] Harun Nasution. Islam Rasional, Gagasan dan Pemikiran. (Bandung: Mizan. 1995). Cetakan III. hal. 57.

Salah satu fungsi akhlak adalah untuk menopang keimanan.Agar iman seseorang relative stabil, perlu ditopang oleh pelaksanaan akhlak yang konsisten.7[8] Dasar pendidikan akhlak bagi seorang muslim adalah aqidah yang benar terhadap alam dan kehidupan, Karena akhlak tersarikan dari aqidah dan pancaran dirinya. Oleh karena itu jika seorang beraqidah dengan benar, niscahya akhlaknya pun akan benar, baik dan lurus. Begitu pula sebaliknya, jika aqidah salah maka akhlaknya pun akan salah. Aqidah seseorang akan benar dan lurus jika kepercayaan dan keyakinanya terhadap alam juga lurus dan benar. Karena barang siapa mengetahui sang pencipta dengan benar, niscahya ia akan dengan mudah berperilaku baik sebagaimana perintah allah. Sehingga ia tidak mungkin menjauh bahkan meninggalkan perilaku-perilaku yang telah ditetapkanya. Pendidikan akhlak yang bersumber dari kaidah yang benar merupakan contoh perilaku yang harus diikuti oleh manusia. Mereka harus mempraktikanya dalam kehidupan mereka, karena hanya inilah yang menghantarkan mereka mendapatkan ridha allah dan atau membawa mereka mendapatkan balasan kebaikan dari allah. Akhlak merupakan tingkahlaku yang dipengaruhi oleh nilai-nilai yang diyakini oleh seseorang dan sikap yang menjadi sebahagian daripada keperibadiannya. Nilai-nilai dan sikap itu pula terpancar daripada konsepsi dan gambarannya terhadap hidup. Dengan perkataan lain, nilai-nilai dan sikap itu terpancar daripada aqidahnya yaitu gambaran tentang kehidupan yang dipegang dan diyakininya Aqidah yang benar dan gambaran tentang kehidupan yang tepat dan tidak dipengaruhi oleh kepalsuan, khurafat dan falsafah-falsafah serta ajaran yang palsu, akan memancarkan nilainilai benar yang murni di dalam hati. Nilai-nilai ini akan mempengaruhi pembentukan sistem akhlak yang mulia. Sebaliknya, jika aqidah yang dianuti dibina di atas kepalsuan, maka ia akan memancarkan nilai-nilai buruk di dalam diri dan mempengaruhi pembentukan akhlak yang buruk. Akhlak yang baik dan akhlak yang buruk, merupakan dua jenis tingkah laku yang berlawanan dan terpancar daripada dua sistem nilai yang berbeda. Kedua-duanya memberi kesan secara langsung kepada kualitas individu dan masyarakat. lndividu dan masyarakat yang dikuasai dan dianggotai oleh nilai-nilai dan akhlak yang baik akan melahirkan individu dan masyarakat yang sejahtera. Begitulah sebaliknya jika individu dan masyarakat yang dikuasai oleh nilai-nilai dan tingkahlaku yang buruk, akan porak peranda dan kacau bilau.

7[8] Alwan Khaoiri, dkk. Akhlaq/Tasawuf. Yogyakarta : Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga. 2005s

Al-Quran juga menggambarkan bagaimana aqidah orang-orang beriman, kelakuan mereka yang mulia dan gambaran kehidupan mereka yang penuh tertib, adil, luhur dan mulia. Berbanding dengan perwatakan orang-orang kafir dan munafiq yang jelek. Gambaran mengenai akhlak mulia dan akhlak tercela begitu jelas dalam perilaku manusia sepanjang sejarah. Al-Quran juga menggambarkan bagaimana perjuangan para rasul untuk menegakkan nilai-niai mulia dan murni di dalam kehidupan dan bagaimana mereka ditentang oleh kefasikan, kekufuran dan kemunafikan yang cuba menggagalkan tertegaknya dengan kukuh akhlak yang mulia sebagai teras kehidupan yang luhur dan murni itu.

Daftar Pustaka Team Pentashih. Al- Quran dan Terjemahan. Jakarta : Depag RI. Khairi, Alwan. Akhlaq/Tasawuf. Yogyakarta : Pokja UIN Sunan Kalijaga. 2005 Yazid bin Abdul Qadir Jawas . Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. Bogor : Pustaka At-Taqwa. 2004 Nasution, Harun. Islam Rasional, Gagasan dan Pemikiran. Bandung: Mizan. 1995. Nata, Abuddin. Akhlak Tasawuf. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. 2006.

8[1]Dr. Saifan Nur dalam kuliah pertemuan pertama di semester 2. Diposkan oleh Muhammad Ridha Basri di Sabtu, Maret 23, 2013 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest Label: makalah