Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA PANGAN PROTEIN II

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Kelulusan Praktikum Biokimia Pangan

Oleh : Nama NRP No. Meja Kelompok Asisten Tanggal : Nabila Marthia : 083020008 : 2 (Dua) : 1 (Satu) : Riane Rizky.,ST : 23 Maret 2010

LABORATORIUM BIOKIMIA PANGAN JURUSAN TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS PASUNDAN BANDUNG 2010

LABORATORIUM BIOKIMIA PANGAN PROTEIN II


1. Uji Denaturasi Protein a. Tujuan Percobaan Untuk mengetahui protein yang terdenaturasi dengan pemanasan dan penambahan asam atau basa. b. Prinsip Percobaan Berdasarkan pengendapan ptotein dimana protein bila diubah pHnya menjadi tidak stabil sehingga mudah diendapkan dengan pemanasan. c. Reaksi Percobaan
R CH NH2 COOH + NaOH R COOH + NH2CH3COOH

Gambar 1. Reaksi Uji Denaturasi Protein

d. Metode Percobaan
5 mL sampel ukur pH awal

Panaskan dengan penangas air ukur pH

CH3 COOH

NaOH ukur pH

Gambar 2. Metode Percobaan Uji Denaturasi Protein.

e. Hasil Pengamatan Tabel 1. Hasil Pengamatan Uji Denaturasi Protein


pH Bahan pH Awal Setelah dipanaskan Setelah (+) asam Setelah (+) basa Keterangan

Kaldu 5 (b) Nutrisari 4 (c) Ekstra Joss (d) 3 3 14 5 3 13

(+) Terdenaturasi

(+) Terdenaturasi

14

(+) Terdenaturasi

(Sumber : Meja 2, Nabila dan Ika, 2010) Keterangan : (+) = pH berubah (-) = pH tidak berubah

Gambar 3. Hasil Pengamatan Uji Denaturasi Protein Sampel G

Gambar 4. Hasil Pengamatan Uji Denaturasi Protein Sampel H

Gambar 5. Hasil Pengamatan Uji Denaturasi Protein Sampel I

f. Pembahasan Beberapa jenis protein sangat peka terhadap perubahan lingkungannya. Suatu protein mempunyai arti bagi tubuh apabila protein tersebut di dalam tubuh dapat melakukan aktivitas biokimiawi yang menunjang kebutuhan tubuh. Aktivitas ini banyak tergantung pada struktur dan konformasi molekul protein yang tepat. Apabila konformasi molekul protein berubah, misalnya oleh perubahan suhu, pH, atau karena terjadinya suatu reaksi dengan senyawa lain, ion-ion logam, maka aktivitas biokimiawinya akan berkurang. Protein yang mengalami perubahan konformasi alamiah menjadi suatu konformasi yang tidak menentu

merupakan suatu proses yang disebut denaturasi (Poedjiadi, 2005). Denaturasi biasanya merupakan suatu peralihan keadaan protein yang teratur rapi menjadi tidak teratur. Jika molekulmolekul protein terdapat dalam larutan, biasanya dalam keadaan struktur sekunder dan tersier (Kusnawidjaja, 1987). Bila susunan ruang atau rantai polipeptida suatu molekul protein berubah, maka dikatakan protein ini terdenaturasi. Sebagian besar protein globuler mudah mengalami denaturasi. Ada dua macam denaturasi, yaitu pengembangan ranti peptida dan pemecahan protein menjadi unit lebih kecil tanpa disertai pengembangan molekul. Protein yang terdenaturasi berkurang kelarutannya. Lapisan molekul protein bagian dalam bersifat hidrofobik berbalik keluar, sedangkan bgian luar yang bersifat hidrofil terlipat kedalam. Denaturasi dapat diartikan suatu perubahan atau modifikasi terhdap struktur sekunder, tersier, dan

kuartener terhadap molekul protein, tanpa terjadinya pemecahan ikatan-ikatan kovalen. Deterjen atau sabun dapat menyebabkan denaturasi protein, karena senyawa ini dapat membentuk jembatan atara gugus hidrofobik dengan hidrofilik sehingga praktis terdeanaturasi. Disamping itu, aseton dan alcohol dapat pula menyebabkan denaturasi (Winarno, 1992). Berdasarkan percobaan dengan Denaturasi Protein, dapat diketahui bahwa pada sampel soyjoy, country choice dan pepton memberikan hasil positif terjadinya denaturasi protein yang ditandai dengan terjadinya perubahan pH setelah ditambah asam dan basa serta dengan pemanasan. Denaturasi dapat diartikan suatu perubahan atau

modifikasi terhadap struktur sekunder, tersier, dan kuarterner terhadap molekul protein, tanpa terjadinya pemecahan ikatanikatan kovalen (Winarno, 1992). Adanya gugus amino dan karboksil bebas pada ujungujung rantai molekul protein, menyebabkan protein mempunyai banyak muatan (polielektrolit) dan bersifat amfoter (dapat bereaksi dengan asam maupu basa). Pada pH tertentu yang disebut titik isolistrik (pI), muatan gugus amino dan karboksil bebas akan saling menetralkan sehingga molekul bermuatan nol (Winarno, 1992). Penambahan pelarut organik tertentu, seperti etanol dan aseton, ke dalam larutan protein dalam air akan menyebabkan berkurangnya kelarutan protein, sehingga memungkinkan

pengendapannya. Kejadian ini disebabkan oleh kelarutan protein yang pada pH dan kekuatan ion tertentu merupakan fungsi

konstanta

dielektrik

daripada

medium, gugus

dan ion

adanya dengan

kecenderungan

menurunnya

hidratasi

masuknya pelarut organik tersebut (Wirahadikusumah, 2001). Suatu protein mempunyai arti bagi tubuh apabila protein tersebut di dalam tubuh dapat melakukan aktivitas biokimiawi yang menunjang kebutuhan tubuh. Aktivitas ini banyak

tergantung pada struktur dan konformasi molekul protein yang tepat. Apabila konformasi molekul protein berubah, misalnya oleh perubahan suhu, pH, atau karena terjadinya suatu reaksi dengan senyawa lain, ion-ion logam, maka aktivitas biokimiawinya akan berkurang. Protein yang mengalami perubahan konformasi alamiah menjadi suatu konformasi yang tidak menentu

merupakan suatu proses yang disebut denaturasi. Di samping oleh pH, suhu tinggi, dan ion logam berat, denaturasi dapat pula terjadi oleh adanya gerakan mekanik, alkohol, aseton, eter, dan detergen (Poedjiadi, 2005). Protein akan mengalami koagulasi apabila dipanaskan pada suhu 50 C atau lebih. Koagulasi ini hanya terjadi apabila protein berada pada titik isolistriknya (Poedjiadi, 2005). Denaturasi flokulasi protein kadang-kadang bola tetapi dapat dapat juga mengakibatkan mengakibatkan
0

terbentuknya gel. Makanan dapat didenaturasi, dan proteinnya diawastabilkan, pada saat pembekuan dan penyimpanan beku (deMan, 1997).

2. Uji Salting Out a. Tujuan Percobaan Untuk mengetahui terjadinya endapan protein akibat adanya penambahan garam ammonium sulfat. b. Prinsip Percobaan Berdasarkan garam ammonium sulfat yang bersifat dapat menarik air, dimana air dari protein ditarik sehingga kestabilan protein akan terganggu dan mengendap. c. Reaksi Percobaan
NH2 R C H COOH + (NH4)2SO4 + 2H2O R H C NH2 COSO4 + 2Na4OH + OH-

Gambar 5. Reaksi Uji Salting Out.

d. Metode Percobaan
5 mL lar.protein + ammonium sulfat

(NH4 )2 SO4 (sampai tidak larut)

Bilas dgn aquadest + air +3 mL biuret

Endapan disaring larutkan dalam 1 mL air & lakukan uji biuret

Gambar 6. Metode Percobaan Uji Salting Out.

e. Hasil Pengamatan Tabel 2. Hasil Pengamatan Uji Salting Out.


(NH4)2SO4 + Pereaksi Biuret
Bahan Soyjoy (g) Country choice (h) Pepton (i) Pereaksi Warna Biru Kuning Ungu Hasil (+) (-) (+) Keterangan endapan protein tidak ada endapan protein endapan protein

(Sumber : Meja 2, Nabila dan Ika, 2010) Keterangan : (+) = Terbentuk warna ungu (-) = Tidak terbentuk warna ungu

Gambar 7. Hasil Pengamatan Uji Salting Out f. Pembahasan Berdasarkan percobaan dengan menggunakan Uji

Salting Out, dapat diketahui bahwa pada sampel soyjoy dan

pepton

memberikan

hasil

positif

terjadinya

endapan

dan

mengandung ikatan peptida yang ditandai dengan terbentuknya senyawa ungu. Senyawa warna ungu yang terbentuk pada Uji Salting Out disebabkan karena endapan yang telah dilarutkan oleh aquadest bereaksi dengan larutan biuret (NaOH dan CuSO4) sehingga larutan protein menjadi bersifat basa (bermuatan negatif) dan bereaksi dengan ion Cu
2+

membentuk kompleks.

Pada Uji Salting Out dilakukan penambahan (NH4)2SO4 karena amonium sulfat merupakan garam netral yang tidak mempengaruhi konsentrasi dan jumlah muatan pada tiap ion dalam larutan protein. Pengendapan protein dengan cara penambahan garam didasarkan pada pengaruh yang berbeda-beda daripada

penambahan garam tersebut pada kelarutan beberapa protein globular. Bila konsentrasi garam netral yang ditambahkan tersebut dinaikkan terus, maka kelarutan protein menjdi

berkurang; sampai pada konsentrasi garam yang sangat tinggi, protein akan mengalami pengendapan. Efek ini disebut saltingout (Wirahadikusumah, 2001). Proses kristalisasi protein sering dilakukan dengan jalan penambahan garam amoniumsulfat atau NaCl pada larutan dengan pengaturan pH pada titik isolistriknya. Kadang-kadang dilakukan pula penambahan aseton atau alkohol dalam jumlah tertentu. Pada dasarnya semua usaha yang dilakukan itu dimaksudkan untuk menurunkan kelarutan protein dan ternyata

pada titik isolistrik kelarutan protein paling kecil, sehingga mudah dapat dikristalkan dengan baik (Poedjiadi, 2005). Umumnya, proses kristalisasi dilakukan dengan

perlakuan pemanasan dan bertujuan untuk memperoleh kembali zat yang telah dilarutkan menjadi bentuk solid. Inilah yang membedakan dengan proses salting-out yang hanya

menambahkan dan melarutkan garam amonium sulfat. Kristalisasi adalah proses pengendapan yang

berlangsung sangat-sangat lambat sehingga molekul- molekul dapat tersusun dalam kisi-kisi kristal. Sekali inti kristal terbentuk pertumbuhan kristal selanjutnya akan lebih mudah dan lebih cepat (Nurachman, 2001). Pada Uji Salting Out ini dilakukan Uji Biuret. Hal ini dilakukan untuk membuktikan dan memperjelas bahwa ada senyawa protein dalam suatu bahan (ikatan peptida) yang akan membentuk senyawa ungu dengan ion positif dari larutan biuret.

3. Uji Logam Berat a. Tujuan Percobaan Untuk mengendapkan protein dengan menambahkan ion logam berat dan untuk mengetahui kereaktifan logam berat dalam suatu cairan. b. Prinsip Percobaan Berdasarkan pada pH tertentu (asam atau basa) protein akan bermuatan negatif (sebagai anion) sehingga dapat bereaksi dengan ion logam positif untuk saling menetralkan. c. Reaksi Percobaan

H R C COOH + Na2CO3 NH2

H Fe3+
R C COO

NH2 Fe2+ R C H COOFe

NH2

Gambar 9. Reaksi Percobaan Uji Logam Berat

d. Metode Percobaan

2 mL lar.protein + 2 tetes Na2 CO3 1%

10 tetes lar.logam

Amati setelah 25
Gambar 10. Metode Percobaan Uji Logam Berat.

e. Hasil Pengamatan Tabel 3. Hasil Pengamatan Uji Logam Berat.


Bahan (f) Na2CO3 1% + Lar. logam (g) (h) (i) (a) Pereaksi CuSO4 (+++) (+++) (++++) (++++) (++++) AgNO3 (+) (+) (+++++) (++) (+++++) FeCl3 (+++++) (+++++) (+) (+++++) (+++++) PbCl2 (++) (++++) (+++) (+++) (+) HgCl2 (++++) (++) (++) (+) (++) Ket Terbentuk endapan

(Sumber : Nabila dan Ika, Meja 2, 2010). Keterangan : (+) = Sedikit terbentuk endapan (++) = Agak banyak terbentuk endapan (+++) = Banyak terbentuk endapan (++++) = Agak banyak terbentuk endapan (+++++) = Paling banyak terbentuk endapan

Gambar 11. Hasil Pengamatan Uji Logam Berat Sampel F

Gambar 12. Hasil Pengamatan Uji Logam Berat Sampel G

Gambar 13. Hasil Pengamatan Uji Logam Berat Sampel H

Gambar 14. Hasil Pengamatan Uji Logam Berat Sampel I

Gambar 15. Hasil Pengamatan Uji Logam Berat Sampel A

f. Pembahasan Sebagian besar protein dapat diendapkan dari larutan air dengan penambahan asam tertentu, seperti misalnya, asam triklorasetat dan asam perklorat. Penambahan asam ini

menyebabkan terbentuknya garam protein yang tidak larut. Zat pengendap lainnya adalah asam tungstat, fosfotungstat, dan metafosat. Protein dapat juga diendapkan dengan kation tertentu seperti Zn
2+ 2+

dan Pb (Wirahadikusumah, 2001).

Protein mempunyai titik isolistrik yang berbeda-beda. Titik isolistrik protein mempunyai arti penting karena pada umumnya sifat fisika dan kimia erat hubungannya dengan pH isolistrik ini. Pada pH di atas titik isolistrik protein bermuatan negatif, sedangkan di bawah titik isolistrik protein bermuatan positif. Oleh karena itu untuk mengendapkan protein dengan ion logam, diperlukan pH larutan di atas titik isolistrik, sedangkan

pengendapan oleh ion negatif memerlukan pH di bawah titik isolistrik. Ion-ion positif yang dapat mengendapkan protein antara lain ialah Ag , Ca , Zn , Hg , Fe , Cu , dan Pb (Poedjiadi, 2005). Tembaga adalah logam merah muda, yang lunak, dapat ditempa, dan liat. Ia melebur pada 1038 C. Karena potensial elektrode standarnya positif, (+0,34V untuk pasangan Cu/Cu ), ia tak larut dalam asam klorida dan asam sulfat encer, meskipun dengan adanya oksigen ia bisa larut sedikit. Garam-garam tembaga (II) umumnya berwarna biru, baik dalam bentuk hidrat, padat, maupun dalam larutan air (Svehla, 1985).
2+ 0 + ++ ++ ++ ++ ++ ++

Perak yang direaksikan dengan natrium karbonat akan menghasilkan endapan putih kekuningan membentuk perak karbonat (Svehla, 1985). Merkurium adalah logam cair yang putih keperakan pada suhu biasa, dan mempunyai rapatan 13, 534 g ml pada 25 C. Ia tak dipengaruhi oleh asam klorida atau asam sulfat encer (2M), tetapi mudah bereaksi dengan asam nitrat (Svehla, 1985). Besi yang murni adalah logam berwarna putih-perak, yang kukuh dan liat. Ia melebur pada 1535 C. Jarang terdapat besi komersial yang murni; biasanya besi mengandung sejumlah kecil karbida, silisida, fosfida, dan sulfida dari besi, serta sedikit grafit. Zat-zat pencemar ini memainkan peranan penting dalam kekuatan struktur besi. Asam klorida encer atau pekat dan asam sulfat encer dapat melarutkan besi (Svehla, 1985). Timbel adalah logam yang berwarna abu-abu kebiruan, dengan rapatan yang tinggi (11,48 g ml pada suhu kamar). Ia mudah melarutkan dalam asam nitrat yang pekatnya (8M), dan terbentuk juga nitrogen oksida. Dengan natrium karbonat akan membentuk endapan putih campuran timbel karbonat dan timbel hidroksida (Svehla, 1985).
-1 0 -1 0

DAFTAR PUSTAKA Anonim. (2009). Kurang Energi Protein. http://www.gizi.net/kep/index.shtml. Diakses : 25 Maret 2010. Bandung. Anonim. (2008). Artikel Protein. http://id.wikipedia.org. Diakses : 24 Maret 2010. Bandung. deMan, John M. (1997). Kimia Makanan. Edisi Kedua. Penerbit ITB. Bandung. Hertadi, Rukman. Keajaiban Protein: Molekul Biomilenium. www.std.ryu.titech.ac.jp/.../iken/iken-rukman.htm. Diakses : 25 Maret 2010. Bandung. Nurachman, Zeily. (2001). Fwd: Komentar Mengenai Kristalisasi Protein. www.google.com. Diakses : 25 Maret 2010. Bandung. Poedjiadi, Anna. (2005). Dasar-Dasar Biokimia. Universitas Indonesia. Jakarta. Penerbit

Sudarmadji, Slamet, dkk. (2007), Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Edisi kedua, cetakan pertama. Penerbit Liberty, Yogyakarta. Svehla, G. (1985), Analisis Kualitatif Makro dan Semimikro. Edisi kelima. Penerbit PT. Kalman Media Pusaka. Jakarta. Winarno, F.G. (1992). Kimia Pangan dan Gizi. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

LAMPIRAN
Apel (Bahan f)

Zat Gizi Energi Lemak Protein Karbohidrat Total Kalsium Fosfor Serat Besi Vitamin A Vitamin B1 Vitamin B2 Vitamin C Niacin

Jumlah yang Terkandung 58,00 kal 0,40 gr 0,30 gr 14,90 gr 6,00 mg 10 mg 0,70 mg 2,7 mg 24,00 RE 0,04 mg 0,03 mg 5,00 mg 0,10 mg

Soyjoy (Bahan g)

Country Choice (Bahan h)

Pepton (Bahan i)

Yoghurt (Bahan a)

Zat Gizi Air Energi Protein Total lemak Karbohidrat Fosfor Serat Ampas Kalsium, Ca Besi, Fe Magnesium, Mg, Phospor, P Potassium, K Vitamin C, asam ascorbic Thiamin

Jumlah yang Terkandung 74.48 g 101.877 kcal 4.37 gr 1.08 g 19.05 g 119.4 mg 0 mg 1.02 g 151.9 mg 0.07 mg 119.4 mg 5,00 mg 194.5 mg 0.66 mg 0.037 mg

Protein Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia. Langsung ke: navigasi, cari

Segelas susu sapi. Susu sapi merupakan salah satu sumber protein. Protein (akar kata protos dari bahasa Yunani yang berarti "yang paling utama") adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan kadang kala sulfur serta fosfor. Protein berperan penting dalam struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup dan virus. Kebanyakan protein merupakan enzim atau subunit enzim. Jenis protein lain berperan dalam fungsi struktural atau mekanis, seperti misalnya protein yang membentuk batang dan sendi sitoskeleton. Protein terlibat dalam sistem kekebalan (imun) sebagai antibodi, sistem kendali dalam bentuk hormon, sebagai komponen penyimpanan (dalam biji) dan juga dalam transportasi hara. Sebagai salah satu sumber gizi, protein

berperan sebagai sumber asam amino bagi organisme yang tidak mampu membentuk asam amino tersebut (heterotrof). Protein merupakan salah satu dari biomolekul raksasa, selain polisakarida, lipid, dan polinukleotida, yang merupakan penyusun utama makhluk hidup. Selain itu, protein merupakan salah satu molekul yang paling banyak diteliti dalam biokimia. Protein ditemukan oleh Jns Jakob Berzelius pada tahun 1838. Biosintesis protein alami sama dengan ekspresi genetik. Kode genetik yang dibawa DNA ditranskripsi menjadi RNA, yang berperan sebagai cetakan bagi translasi yang dilakukan ribosom. Sampai tahap ini, protein masih "mentah", hanya tersusun dari asam amino proteinogenik. Melalui mekanisme pascatranslasi, terbentuklah protein yang memiliki fungsi penuh secara biologi. [sunting] Struktur

Struktur tersier protein. Protein ini memiliki banyak struktur sekunder beta-sheet dan alpha-helix yang sangat pendek. Model dibuat dengan menggunakan koordinat dari Bank Data Protein (nomor 1EDH).

Struktur protein dapat dilihat sebagai hirarki, yaitu berupa struktur primer (tingkat satu), sekunder (tingkat dua), tersier (tingkat tiga), dan kuartener (tingkat empat). Struktur primer protein merupakan urutan asam amino penyusun protein yang dihubungkan melalui ikatan peptida (amida). Sementara itu, struktur sekunder protein adalah struktur tiga dimensi lokal dari berbagai rangkaian asam amino pada protein yang distabilkan oleh ikatan hidrogen. Berbagai bentuk struktur sekunder misalnya ialah sebagai berikut:

alpha helix (-helix, "puntiran-alfa"), berupa pilinan rantai asamasam amino berbentuk seperti spiral; beta-sheet (-sheet, "lempeng-beta"), berupa lembaranlembaran lebar yang tersusun dari sejumlah rantai asam amino yang saling terikat melalui ikatan hidrogen atau ikatan tiol (S-H); beta-turn, (-turn, "lekukan-beta"); dan gamma-turn, (-turn, "lekukan-gamma").

Gabungan dari aneka ragam dari struktur sekunder akan menghasilkan struktur tiga dimensi yang dinamakan struktur tersier. Struktur tersier biasanya berupa gumpalan. Beberapa molekul protein dapat berinteraksi secara fisik tanpa ikatan kovalen membentuk oligomer yang stabil (misalnya dimer, trimer, atau kuartomer) dan membentuk struktur kuartener. Contoh struktur kuartener yang terkenal adalah enzim Rubisco dan insulin. Struktur primer dari protein bisa di tentukan dengan beberapa metoda: (a) hidrolisa protein dengan asam kuat (i.e., 6N HCl) dan kemudian komposisi asam amino ditentukan dengan amino acid analyzer instrumen, (2) sekuen analisa dari N-terminus dengan menggunakan degradasi Edman, (3) kombinasi dari pencernaan dengan trypsin dan mass spektrometri, dan (4) penentuan molekular mass dengan mass spektrometri.Struktur sekunder bisa ditentukan dengan meggunakan spektroskopi circular dichroism (CD) dan Fourier Transform Infra Red (FTIR). Spektrum CD dari puntiran-alfa menunjukkan dua absorbans negatip pada 208 dan 220 nm dan lempeng-beta menunjukkan satu negatip peak sekitar 210-216 nm. Estimasi dari komposisi struktur sekunder dari protein bisa dikalkulasi dari CD spektrum. Di spektrum FTIR, pita amida-I dari puntiran-alfa adalah berbeda dengan pita amida-I dari lempeng-beta. Jadi, komposisi struktur sekunder dari protein juga bisa di estimasi dari IR spektrum. Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Protein

Kurang Energi Protein


Pada menu ini anda akan mendapatkan informasi seputar masalah Kurang Energi-Protein, yang meliputi : Epidemiologi Menu ini hadir untuk memberikan informasi kepada anda tentang beberapa aspek epidemiologi dari masalah KEP, baik yang sudah diterbitkan maupun yang masih berupa dokumen sementara. Informasi yang akan tersaji terdiri dari: Peta Masalah, Data Prevalensi, Cakupan Program, dan Hasil Monitoring. Beberapa keterbatasan teknis maupun non-teknis sering dijumpai dalam proses Penyusunan dokumen, sehingga informasi yang tersaji mungkin belum lengkap. Namun demikian, Redaksi akan selalu berusaha melengkapinya untuk memenuhi harapan anda. Riset dan Teknologi Menu ini hadir untuk memberikan informasi kepada anda tentang beberapa penelitian/studi masalah KEP serta aspek-aspek teknologi yang sedang berkembang. Informasi yang akan tersaji terdiri dari: Studi pengembangan, Survei evaluasi, Uji coba teknologi/metodologi, serta beberapa Riset sebagai tugas akhir yang dilakukan oleh mahasiswa (baik tingkat Sarjana maupun Pascasarjana) di dalam negeri maupun luar negeri. Beberapa keterbatasan teknis maupun nonteknis banyak kami dijumpai selama proses Penyusunan dokumen, sehingga informasi yang tersaji mungkin belum lengkap. Namun demikian, Redaksi akan selalu berusaha melengkapinya untuk memenuhi harapan anda.

Komunikasi, Informasi, dan Edukasi Pada menu ini anda akan mendapatkan informasi tentang beberapa sarana yang dihasilkan sebagai media komunikasi, media informasi, maupun media edukasi dalam rangka pengembangan wawasan masalah Kurang Energi-Protein. Makalah/Artikel Pada menu ini anda akan mendapatkan informasi tentang beberapa Makalah yang dibuat oleh pakar gizi pada kegiatan-kegiatan tertentu seperti seminar, simposium, diskusi panel, dan sejenisnya; maupun artikel-artikel yang dimuat pada media massa tertentu yang membahas masalah Kurang Energi-Protein. Sumber : http://www.gizi.net/kep/index.shtml

Protein Sangat Menentukan Kesehatan Anda Awal bulan Mei lalu, di TVRI ditayangkan berita mengenaskan mengenai banyaknya anak-anak balita yang dirawat di beberapa rumah sakit karena kekurangan gizi. Hal ini dibenarkan oleh UNICEF (badan dunia yang mengurusi anak-anak) yang menyebutkan bahwa penyakit busung marasmus (kekurangan kalori) dan kwasiorkor (busung lapar akibat kurang protein) telah mengakibatkan kematian balita di berbagai daerah Indonesia. Di pulau Jawa saja terdapat 4,5 juta wanita dan 8 juta anak-anak usai pra sekolah yang kurang gizi. Diperkirakan jumlah ini akan terus membengkak bila krisis ekonomi tak juga berlalu. Dengan makanan bergizi, dimaksudkan di sini adalah makanan yang cukup mengandung hidrat arang, lemak, protein serta vitamin dan mineral yang sering menjadi masalah adalah protein. Selain harganya mahal, banyak orang tidak tahu seberapa banyak yang dibutuhkan dan apa saja sumber- sumber protein. Protein, berasal dari kata proteus (bahasa Yunani), yang berarti utama. Manfaatnya bagi tubuh manusia, sesuai arti katanya sungguh sangat besar. Berkat protein, tubuh manusia bisa tumbuh dan terpelihara. Ia membentuk sel-sel dan jaringan baru tubuh dan memelihara pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh yang aus. Protein juga membantu pengaturan asam basa di dalam tubuh, serta membentuk hormon dan enzim yang kemudian berperan dalam berbagai proses kimia tubuh. Protein juga bisa menjadi bahan bahan untuk energi bila keperluan tubuh akan hidrat arang dan lemak tidak terpenuhi. Bila kita mengkonsumsi makanan berprotein, tubuh akan menyerap protein dalam bentuk asam amino. Asam amino ini terbagi dalam asam amino nonesensial dan asam amino esensial. Asam amino esensial inilah yang mesti diperoleh dari makanan, karena tubuh tidak bisa membuatnya sendiri. Asam amino esensial terdiri atas isoleusin, leusin, lisin, methionin, femialanin, threonin, triptofan, dan valin. Jumlah konsumsi protein bagi setiap orang berbeda, tergantung pada umur, berat badan,

jenis kelamin, dan mutu protein. Tabel di atas memperlihatkan berapa banyak protein yang dibutuhkan seseorang dalam sehari. Jadi kalau Anda seorang wanita berusia 16 tahun, dengan berat badan 50 kg, kebutuhan protein Anda 51 gram sehari. Ini bisa didapatkan bila Anda memakan makan pagi dengan menu: mi rebus dengan susu satu gelas (11 gram); makan siang: nasi,daging sapi, sop kacang merah dan tempe (26 gram); makan malam: nasi, bakso daging dan 1 potong tahu (14 gram). Jumlah protein: 51 gram. Sumber protein Yang diketahui dan dikomsumsi banyak orang selama ini adalah sumber protein hewani yaitu daging, ikan, ayam, telur dan susu. Protein yang berasal dari hewan ini memiliki semua asam amino esensial, hingga disebut protein lengkap. Sumber protein lainnya adalah padi-padian, biji-bijian,dan kacang-kacangan. Namun sumber protein jenis ini yang disebut protein nabati atau protein tidak lengkap, senantiasa mempunyai kekurangan satu atau lebih asam amino esensial. Sebab itu cara mengkonsumsinya harus dikombinasikan agar saling melengkapi. Perbedaan kelengkapan itu mengakibatkan ia hanya mampu memelihara jaringan tubuh, sedangkan protein hewani mampu memelihara jaringan tubuh dan menjamin pertumbuhannya. Agar asam aminonya layak disebut sebagai protein lengkap, protein nabati bisa dikomsumsi dengan sesamanya. Misalnya padi-padian (kaya dengan methionin) dengan biji-bijian (kaya dengan lisin dan triptofan). Dalam hal ini terdapat pada nasi dengan tahu atau perkedel jagung. Namun toh protein hewani tetap penting bagi tubuh dan tak dapat digantikan seratus persen oleh protein nabati. Jika dianggap terlalu mahal, cukup mengkonsumsi sehari sekali, misalnya ikan dan telur.

Kelebihan protein tidak baik, karena dapat mengganggu metabolisme protein yang berada di hati. Ginjal pun akan terganggu tugasnya, karena bertugas membuang hasil metabolisme protein yang tidak terpakai. Kekurangan protein akan membuat Anda mudah merasa lelah, tekanan darah turun, dan daya tahan terhadap infeksi menurun. Pada anak-anak, selain mudah terserang penyakit kwasiorkor, juga pertumbuhan dan tingkat kecerdasannya akan terganggu.dn Sumber : www.google.com

Peranan Protein dalam Pemakanan yang Baik Protein adalah nutrien yang sangat penting yang namanya datang dari perkataan Greek '"protos" yang bermaksud "pertama." Untuk menggambarkan satu molekul protein, fikirkan suatu rantai yang sangat panjang dengan pautan. Pautan ini mewakili asid amino, blok binaan dalam protein, yang sangat penting untuk pengawalan sel, pertumbuhan dan pembaikan. Fungsi Utama Badan kita menggunakan protein untuk membina sel baru, menyelenggara tisu dan mengawal fungsi sel. Hampir separuh daripada protein yang diambil setiap hari ditukar menjadi enzim, "pekerja protein" yang khusus mengawal kelajuan tindak balas biologi di dalam badan anda dan membenarkannya mengerjakan fungsi seperti mencerna makanan dan mengumpulkan atau membahagikan molekul untuk membuat sel baru dan bahan kimia. Untuk menjalankan fungsi-fungsi ini, enzim selalunya memerlukan vitamin dan mineral tertentu.

Untuk membuat semua protein yang diperlukan oleh badan, 22 asid amino yang berbeza diperlukan. Sembilan dianggap sebagai perlu, yang bermakna mereka tidak dibuat oleh badan dan mesti diperolehi dari makanan. Badan kita boleh mengeluarkan yang 13 lagi dari lemak, karbohidrat dan asid amino yang lain. Jadi, mereka ini dikenali sebagai asid amino tak perlu. Sumber Makanan Daging, ayam itik, ikan, telur, keju, kacang, kekacang dan soya. Penggunaan Adalah bermungkinan kita mengambil terlalu banyak protein. Jumlah protein yang diperlukan untuk kesihatan yang baik berbeza.

Seorang dewasa lelaki atau perempuan biasa memerlukan 0.8 gram protein bagi setiap kilogram (2.2 pound) berat badan. Semakin tua, protein baru disintesiskan dengan kurang cekap dan jisim otot (tisu protein) berkurangan sementara kandungan lemak tetap atau meningkat. Inilah sebabnya otot seolah-olahnya "bertukar menjadi lemak" dalam usia tua. Kanak-kanak, remaja, wanita mengandung, individu yang mengalami kecederaan dan atlit mungkin memerlukan lebih protein setiap hari.

Semaklah di pasaran tempatan anda untuk pengambilan harian protein yang disyorkan. Sumber : www.org.com