Anda di halaman 1dari 35

RSUD ARIFIN ACHMAD

Fakultas Kedokteran UNRI


SMF/ BAGIAN SARAF
Sekretariat : SMF Saraf Irna Medikal Lantai 3
Jl. Diponegoro No. 2 Telp. (0761) 7026225
PEKANBARU
STATUS PASIEN

I.

Nama Koass

Awal Alfitri

NIM/NUK

0708112078

Tanggal

16 Januari 2014

Pembimbing

dr. Agus Tri Joko, Sp.S

IDENTITAS PASIEN

Nama

Tn. D

Umur

62 tahun

Jenis kelamin

Pria

Alamat

Jln. Bunga Raya no. 23 Kabupaten Siak

Agama

Islam

Status perkawinan

Kawin

Pekerjaan

IRT

Tanggal Masuk RS

14 Januari 2014

Medical Record

83 62 01

II. ANAMNESIS : autoanamnesa dan alloanamnesa dari pasien dan anaknya


tanggal 15 Januari 2014
Keluhan Utama
Kedua tungkai tidak dapat digerakkan.
Riwayat Penyakit Sekarang

3 hari SMRS pasien mengatakan kedua tungkai tidak dapat digerakkan.


Sebelumnya pasien terjatuh dengan posisi terduduk. Selain tidak dapat
digerakkan, pasien juga tidak dapat merasakan tungkainya saat diraba.
1

Menurut pengakuan anak pasien orang tuanya tidak ada demam. Pasien
juga tidak ada merasa nyeri ataupun panas pada punggung dan pinggang.
Pasien juga mengatakan tidak ada bengkak pada punggungnya. Sebelum
terjatuh pasien masih bisa berjalan sendiri.

Pasien juga mengatakan tidak menyadari jika BAB dan BAK setelah
terjatuh tersebut. Sebelum terjatuh pasien mengaku BAB dan BAK masih
menyadarinya sehingga tidak mengompol dan tidak BAB di tempat tidur.

Sedangkan fungsi ereksi pasien sebelum terjatuh masih dalam batas


normal. Ini terbukti pada saat pagi hari pasien terbangun.

Keluhan diatas tidak diikuti dengan kedua lengannya. Kedua lengan pasien
masih dapat digerakkan dan merasa bila diraba ataupun dicubit.

Riwayat Penyakit Dahulu

Keluhan yang sama seperti ini sebelumnya tidak ada

Tekanan darah tinggi

: (+)

Penyakit gula

: disangkal

Penyakit jantung

: disangkal

Riwayat kolesterol tinggi

: disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat keluhan yang sama tidak ada

Riwayat stroke tidak ada

Riwayat Kebiasaan
Pernah merokok saat usia 14 tahun dan telah berhenti 10 tahun yang lalu,
minum minuman beralkohol (-).
RESUME ANAMNESIS
Tn. D, usia 62 tahun, kedua tungkai tidak dapat digerakkan setelah jatuh terduduk
3 hari SMRS. Tidak bisa merasa pada tungkai tersebut, tidak menyadari BAB dan
BAK, dan tidak bisa ereksi. Riwayat demam tidak ada, bengkak dan nyeri pada
punggug tidak ada.

III. PEMERIKSAAN
A. KEADAAN UMUM
Tekanan darah

: kanan : 140/90mmHg, kiri : 140/90mmHg

Denyut nadi

: kanan : 92x/mnt, teratur; kiri : 92 x/mnt, teratur

Jantung

: HR: 110x/mnt, irama ireguler

Paru

: Respirasi : 22 x/mnt, tipe : abdominotorakal

Status Gizi

: Berat Badan : 48 kg Tinggi Badan : 154 cm

B. STATUS NEUROLOGIK
1) KESADARAN

: Komposmentis

2) FUNGSI LUHUR

: Normal

3) KAKU KUDUK

: Tidak ada

GCS 15 : E4 M6 V5

4) SARAF KRANIAL
1. N. I (Olfactorius )
Daya pembau

Kanan
DBN

Kiri
DBN

Keterangan
Dalam batas normal

2. N.II (Opticus)
Daya penglihatan
Lapang pandang
Pengenalan warna

Kanan
DBN
DBN
DBN

Kiri
DBN
DBN
DBN

Keterangan
Dalam batas normal

3. N.III (Oculomotorius)
Ptosis
Pupil
Bentuk
Ukuran
Gerak bola mata
Refleks pupil
Langsung
Tidak langsung

Kanan Kiri
(-)
(-)
Bulat
3 mm
DBN
(+)
(+)

Keterangan

Bulat
3
mm
Dalam
DBN batas
normal
(+)
(+)

4. N. IV (Trokhlearis)
3

Gerak bola mata

Kanan
DBN

Kiri
DBN

Keterangan

Kanan
DBN
DBN
(+)

Kiri
DBN
DBN
(+)

Keterangan
DBN
DBN
DBN

Kanan
DBN
(-)
(-)

Kiri
SDN
(-)
(-)

Keterangan

5. N. V (Trigeminus)
Motorik
Sensibilitas
Refleks kornea
6. N. VI (Abduscens)
Gerak bola mata
Strabismus
Deviasi

DBN

7. N. VII (Facialis)
Tic
Motorik:
- sudut mulut
- menutup mata
- mengerutkan dahi
- lipatan nasolabial
Daya perasa
Tanda chvostek

Kanan
(-)

Kiri
(-)

Keterangan

DBN
(+)
(+)
Dalam

DBN
(+)
(+)
Dalam

Dalam batas
normal

DBN
(-)

DBN
(-)

8. N. VIII (Akustikus)
Pendengaran

Kanan
DBN

9. N. IX (Glossofaringeus)
Kanan
Arkus farings
DBN
Daya perasa
DBN
Refleks muntah
(+)

Kiri
DBN

Keterangan

Kiri
DBN
DBN
(+)

Keterangan
DBN
DBN
DBN

Kiri
DBN
DBN

Keterangan
DBN
DBN

10. N. X (Vagus)
Arkus farings
Dysfonia

Kanan
DBN
DBN

11. N. XI (Assesorius)

Kanan
DBN
Eutrofi

Kiri
DBN
Eutrofi

Keterangan
DBN
Eutrofi

12. N. XII (Hipoglossus)


Kanan
Motorik
DBN
Trofi
Eutrofi
Tremor
(-)
Disartri
(-)

Kiri
DBN
Eutrofi
(-)
(-)

Keterangan
DBN
DBN
DBN
DBN

Motorik
Trofi

IV. SISTEM MOTORIK


Ekstremitas atas
Kekuatan
Distal
Proksimal
Tonus
Trofi
Ger.involunter
Ekstremitas bawah
Kekuatan
Distal
Proksimal
Tonus
Trofi
Ger.involunter
Badan
Trofi
Ger. involunter

Kanan

Kiri

5
5
Normal
Eutrofi
(-)

5
5
Normal
Eutrofi
(-)

0
0
Normal
Eutrofi
(-)

0
0
Normal
Eutrofi
(-)

(-)
(-)

(-)
(-)

Keterangan

Kesan:
paraplegia

Normal
Normal

V. SISTEM SENSORIK
Kanan

Kiri

Ekstremitas atas
Raba
Nyeri
Suhu
Propioseptif

DBN
DBN
DBN
DBN

DBN
DBN
DBN
DBN

Ekstremitas bawah
Raba

Keterangan
Anastesi setinggi thorakal
III-IV

Nyeri
Suhu
Proprioseptif

VI. REFLEKS

Fisiologis
Biseps
Triseps
KPR
APR
Patologis
Babinski
Chaddock
Hoffman
Tromer
Reflek primitif :
Palmomental
Snout

Kanan

Kiri

Keterangan

(+)
(+)
meningkat
(+)

(+)
Hiperreflek fisiologis
(+)
meningkat
(+)

(+)
(-)
(-)

(+)
(-)
(-)

(-)
(-)

(-)
(-)

VII. FUNGSI KORDINASI

Kanan
telunjuk DBN

Test
hidung
Test tumit lutut
Gait
Tandem
Romberg

Kiri
DBN

Keterangan

Tidak dapat dilakukan

VIII. SISTEM OTONOM


Miksi
Defekasi

: pakai pampers
: terpasang IV catheter

IX. PEMERIKSAAN KHUSUS/LAIN


a. Laseque

: tidak terbatas

b. Kernig

: tidak terbatas

c. Patrick

: -/-

d. Kontrapatrick : -/e. Valsava test

: -/-

f. Brudzinski

: -/-

X. RESUME PEMERIKSAAN
Keadaan umum
Kesadaran

: Komposmentis

Tekanan darah

: 140/90mmHg

Denyut nadi

: 92 x/mnt,teratur

Pernafasan

: 22 kali permenit

Fungsi luhur

: DBN

Rangsang meningeal
Saraf kranial

: (-)

: dalam batas normal

Motorik

: paraplegia

Sensorik

: Anastesi setinggi thorakal III-IV

Kordinasi

: DBN

Otonom

: (-)

Refleks fisiologis : meningkat


Refleks patologis : Refleks Babinski (+)/(+)
D. DIAGNOSIS KERJA
DIAGNOSIS KLINIS

: paraplegia

DIAGNOSIS TOPIK

: mielopati thorakal III-IV

DIAGNOSIS ETIOLOGIK

: spinal chord injury

DIAGNOSIS BANDING

: mielitis transversa, tumor mielum

E. USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG

MRI setinggi thorakal III-IV

F. PENATALAKSANAAN
a. Umum
Kontrol tanda-tanda vital dan neurologis
Pemberian nutrisi peroral sesuai kebutuhan kalori pasien
Mobilisasi dan rehabilitasi medik
b. Khusus

IVFD RL 16 tetes/menit

Lab
Leukocyte
Eritrosit

Hasil
14.600
4,52x10

3500-10000/L
4-5,5 x 106 / L

Hemoglobin 14,2

11.0-16.5g/dl

Hematokrit

44,3

40-47%

Trombocyte
Na
K
Cl
Ca

387.000
143,9
3,98
100,1
1,152

150000-390000/L
136-144 m.mol/L
3,8-5,6 m.mol/L
97-103 m.mol/L
1,11-1,35 %

X-RAY

Foto thorak
Tidak ada infiltrate dan
cardiomegali
Planing
1. Infus RL 20 tpm
2. Pasang DC
3. Inj Ranitidin 2x1 amp
4. Inj. Dexamethason 3x1
Follow up
17 Januari 2014
S:
tidak bisa digerakkak kedua tungkai, BAB dan BAK tidak menyadari,
demam tidak ada
O:
Kes : CM GCS : 15 (E4 M6 V5)
TTV : TD : 130/80
RR : 22x/i

HR : 105x/i
T : 37,2

Kaku kuduk (-). Laseque tidak terbatas.

Reflek fisiologis : meningkat


Reflek babinski : -/Motorik :
Sensorik :

A : paraplegia ec. Mielopati thorakal III-IV


P:
1. IVFD RL 20 gtt/i
2. Ranitidin inj. 2x1
3. Dexamethason inj. 3x1

10

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I. Definisi
Paraplegi terbagi menjadi tipe spastic (UMN) dan flaksid (LMN).
Paraplegi spastik adalah kekakuan otot dan kejang otot disebabkan oleh kondisi
saraf tertentu. Paraplegi spastik disebabkan oleh spondylitis TB , spinal cord
injury, genetic disorder (hereditary spastic paraplegia),autoimmune diseases,
syrinx (a spinal chord disorder) tumor medulla spinalis, mutiple sclerosis.4
Paraplegi flaksid adalah kelemahan atau kurangnya otot yang tidak
memiliki penyebab yang jelas. Otot lemas sebagian karena kurangnya aktivitas
dalam otot,gerakan sukarela yang sebagian atau seluruhnya hilang. Paraplegi
flaksid termasuk polio, lesi pada neuron motorik yang lebih rendah, Guillain
Barre syndrome.
1.1 Anatomi
Tulang belakang atau vertebra adalah tulang tak beraturan yang
membentuk punggung yang mudah digerakkan. terdapat 33 tulang punggung pada
manusia, 7 tulangcervical, 12 tulang thorax (thoraks atau dada), 5 tulang lumbal, 5
tulang sacral, dan 4 tulang membentuk tulang ekor (coccyx). Sebuah tulang
punggung terdiri atas duabagian yakni bagian anterior yang terdiri dari badan
tulang atau corpus vertebrae, dan bagian posterior yang terdiri dari arcus
vertebrae.5

11

Gambar 1.1 Tulang belakang


Medula spinalis mulai dari akhir medulla oblongata di foramen magnum
sampai konus medullaris di level Tulang Belakang L1-L2. Medulla Spinalis
berlanjut menjadiKauda Equina (di Bokong) yang lebih tahan terhadap cedera.
Medula spinalis terdiriatas traktus ascenden (yang membawa informasi di tubuh
menuju ke otak seperti rangsang raba, suhu, nyeri dan gerak posisi) dan traktus
descenden (yang membawainformasi dari otak ke anggota gerak dan mengontrol
fungsi tubuh). Ketika tulangbelakang disusun, foramen ini akan membentuk
saluran sebagai tempat sumsum tulang belakang atau medulla spinalis. Dari otak
medula spinalis turun ke bawah kira-kiraditengah punggung dan dilindungi oleh
cairan jernih yaitu cairan serebrospinal. Medula spinalis terdiri dari berjuta-juta
saraf yang mentransmisikan informasi elektrik dari danke ekstremitas, badan,
organ tubuh dan kembali ke otak. Otak dan medula spinali smerupakan sistem
saraf pusat dan yang mehubungkan saraf-saraf medula spinalis ketubuh adalah
sistem saraf perifer.5,6
Medula spinalis diperdarahi oleh 2 susunan arteri yang mempunyai
hubungan istemewa, yaitu arteri spinalis dan arteri radikularis. Arteri spinalis
dibagi menjadi arterispinalis anterior dan posterior yang berasal dari arteri
vertebralis, sedangkan arteri radikularis dibagi menjadi arteri radikularis posterior
dan

anterior

yang

dikenal

juga

ramus

vertebra

medularis

arteria

interkostalis. Medula Spinalis disuplai oleh arterispinalis anterior dan arteri

12

spinalis posterior. Nervus spinalis/akar nervus yang berasaldari medula spinalis


melewati suatu lubang di vertebra yang disebut foramen danmembawa informasi
dari medula spinalis samapi ke bagian tubuh dan dari tubuh keotak.5
Ada 31 pasang nervus spinalis dan dibagi dalam empat kelompok nervus
spinalis, yaitu :5
a. nervus servikal : berperan dalam pergerakan dan perabaan pada lengan, leher,
dananggota tubuh bagian atas
b. nervus thorak : mempersarafi tubuh dan perut
c. nervus lumbal dan nervus sakral : mempersarafi tungkai, kandung kencing, usus
dan genitalia.

Gambar 1.2 Peta dermatomal system sensorik saraf


- Paraparese UMN : lesi terdapat supranuklear thd segmen medula spinalis
lumbosakral (L2-S2).

13

- Paraparese LMN : lesi setinggi segmen medula spinalis L2-S2 atau lesi
infranuklear.
- Tetraparese UMN : lesi terdapat supranuklear terhadap segmen medulaspinalis
servikal IV.
- Tetraparese : ekst.superior LMN, ekst. Inferior UMN
Gangguan Sensibilitas
o Gangguan rasa eksteroseptif
o Gangguan rasa proprioseptif

Gangguan sensibilitas segmental :


o Lipatan paha : lesi Medula spinalis L1
o Pusat : lesi med. spinalis thorakal 10
o Papila mammae : lesi med. spinalis th. 4
o Saddle Anestesia : lesi pada konus

Gangguan sensibilitas radikuler :


o Ggn sensibilitas sesuai dgn radiks post.

Gangguan sensibilitas perifer :


o Glove/stocking anesthesia

Gangguan Susunan Saraf Otonom


o Produksi keringat
o Bladder : berupa inkontinensia urinae atau uninhibited bladder.
Autonomic bladder/ spastic bladder lesi medula spinalis
supranuklearterhadap segmen sakral.
Flaccid bladder/ overflow incontinence lesi pada sakral
medulaspinalis.

1.

Mielitis Transversa

2.1 Definisi

14

Mielitis transversa adalah kelainan neurologi yang disebabkan oleh


peradangan sepanjang medulla spinalis baik melibatkan satu tingkat atau segmen
dari medulla spinalis. Istilah mielitis menunjukkan peradangan pada medulla
spinalis, trasversa menunjukkan posisi dari peradangan sepanjang medulla
spinalis. Serangan inflamasi pada medulla spinalis dapat merusak atau
menghancurkan mielin yang merupakan selubung serabut sel saraf. Kerusakan ini
menyebabkan jaringan parut pada sistem saraf yang menganggu hubungan antara
saraf pada medulla spinalis dan tubuh.7
Mieliti transversa merupakan suatu gangguan neurologi yang disebabkan
oleh kehilangan selubung mielin pada medulla spinalis, disebut juga sebagai
demielinisasi. Demielinisai ini muncul secara idiopatik menyertai infeksi atau
vaksinisasi, atau disebabkan multipel sclerosis. Salah satu teori mayor tentang
penyebabnya adalah bahwa inflamasi immune-mediated adalah sebagai suatu
hasil paparan terhadap antigen virus. Kelainannya berupa inflamasi melibatkan
medulla spinalis pada kedua sisinya. Pada mielitis transversa akut, onset terjadi
tiba tiba dan progresif dalam beberapa jam dan atau beberapa hari. Lesi dapat
terjadi di setiap bagian dari medulla spinalis meskipun biasanya terbatas pada
bagian kecil saja. 8
2.2 Etiologi
Para peniliti tidak dapat menentukan secara pasti penyebab mielitis
transvera. Infalamasi yang menyebabkan kerusakan yang luas pada serabut saraf
dari medulla spinalis dapat disebabkan oleh infeksi viral, reaksi autoimun yang
abnormal atau menurunnya aliran darah melalui pembuluh darah yang terletak
pada medulla spinalis . Mielitis tranversa dapat juga terjadi sebagai komplikasi
dari syphilis, campak, penyakit lyme, dan beberapa vaksinasi termasuk
chichenpox dan rabies. Beberapa kasus yang penyebabnya tidak dapat diketahui
disebut idiopatik.
Mielitis transversa sering terjadi setelah infeksi virus. Agent infeksi
perkirakan penyebab mielitis tranversa termasuk varicella zooster (virus yang
menyebabkan chickenpox dan shingella), herpes simplek, sitomegalovirus,
Epstein-Barr, influensa, echovirus, human immunodeficiency virus (HIV),

15

hepatiti A dan rubella. Mielitis transversa juga dihubungkan dengan beberapa


infeksi bakteri pada kulit, infeksi telinga tengah (otitis media), dan Mycoplasma
pneumoniae (pneumonia bakterial).
Pada kasus mielitis transversa post infeksi, mekanisme sistem immun baik
pada viral atau infeksi bakteri tampaknya berperan penting dalam menyebabkan
kerusakan saraf spinal. Walaupun peneliti belum mengetahui secara tepat
mekanisme kerusakan saraf spinal. Rangsangan sistem immun sebagai respon
terhadap infeksi menunjukkan bahwa suatu reaksi autoimmune yang bertanggung
jawab. Pada penyakit autoimun, sistem imun yang secara normal melindungi
tubuh terhadap organisme,melakukan kesalahan dengan menyerang jaringan
tubuh sendiri yang menyebabkan inflamsi dan pada beberapa kasus merusak
mielin medulla spinalis. Mielitis transversa juga terdapat pada beberapa penyakit
autoimun seperti systemic lupus erythematosus, Sindrom Sjogren's, dan
sarcoidosis. Kadang kadang pada mielitis transversa akut yang berkembang
dengan cepat sebagai tanda awal serangan dari multipel sklerosis
Beberapa kasus mielitis transversa disebabkan oleh malformai arteri-vena
spinalis (kelainan yang merubah aliran darah) atau penyakit vaskuler seperti
atherosklerosis yang menyebabkan iskemik. Sehingga menurunkan kadar oksigen
pada jaringan medulla spinalis. Iskemik

dapat disebabkan perdarahan

(hemorragik) dalam medulla spinalis, pembuluh darah yang menyumbat atau


sempit, atau faktor lainnya. Pembuluh darah membawa oksigen dan nutrisi ke
jaringan medulla spinalis dan membuang hasil metabolisme. Saat pembuluh
darah tersumbat atau menyempit dan tidak dapat membawa sejumlah oksigen ke
jaringan medulla spinalis. Saat area medulla spinalis menjadi kekurangan oksigen
atau iskemik. sel dan serabut saraf mulai mengalami perburukan secara cepat.
Kerusakan ini menyebabkan inflamasi yang luas kadang kadang menyebabkan
mielitis transversa. 9
2.3 Patologi
Makroskopis pada medulla spinalis yang mengalami peradangan akan
tampak

edema,

hiperemi

dan

pada

kasus

berat

terjadi

perlunakan

(mielomalasia).10

16

Mikroskopis akan tampak pada leptomening tampak edema, pembuluh


pembuluh darah yang melebar dengan infiltrasi perivaskuler dan pada medulla
spinalis tampak pembuluh darah yang melebar dengan infiltrasi perivaskuler
(limfosit/leukosit) di substansia grisea dan alba. Tampak pula kelainan degeneratif
pada sel - sel ganglia, pada akson akson dan pada selubung mielin, disamping
itu tampak adanya hiperplasia dari mikroglia. Traktus traktus panjang disebelah
atas atau bawah daripada segemen yang sakit dapat memperlihatkan kelainan
kelainan degeneratif.11
2.4 Gambaran Klinis
Mielitis tranversa dapat terjadi secara akut (terjadi dalam beberapa jam
sampai beberapa hari) atau subakut (terjadi dalam satu atau dua minggu). Gejala
awal umumnya meliputi sakit pinggang didaerah yang terlokalisasi, parastesia
yang mendadak (perasaan yang abnormal seperti terbakar, gatal, tertusuk, atau
perasaan geli) di kaki, hilangnya sensorik dan paraparesis (kelemahan pada
sebagian kaki). Paraparesis sering menjadi paraplegia (kelemahan pada kedua
kaki dan pungung bagian bawah). Gangguan fungsi kandung kemih dan buang air
besar sering terjadi. Beberapa penderita juga melaporkan mengalami spasme otot,
gelisah, sakit kepala, demam, dan hilangnya selera. Tergantung pada segmen
medulla spinalis yang terlibat, beberapa penderita mengalami masalah dengan
sistem respiratori. Dari beberapa gejala, muncul empat gejala klasik mielitis
tranversa :

Kelemahan otot atau paralisis kedua lengan atau kaki.

Nyeri

kehilangan rasa pada kaki dan jari jari kaki

Disfungsi kandung kemih dan buang air besar

Beberapa penderita mengalami tingkatan kelemahan yang bervariasi pada kaki


dan lengan. Pada awalnya penderita dengan mielitis tranversa terlihat bahwa
mereka terasa berat atau menyerat salah satu kakinya atau lengan mereka terasa
lebih berat dari normal. Pergerakan tangan dan kaki misalnya kekuatan dapat
mengalami penurunan. Beberapa minggu penyakit tersebut secara progresif
17

berkembang menjadi kelemahan kaki secara menyeluruh, akhirnya menuntut


penderita untuk menggunakan suatu kursi roda.
Nyeri adalah gejala utama pada kira- kira sepertiga hingga setengah dari
semua pendrita mielitis transvera. Nyeri terlokalisir di pinggang atau perasaan
yang menetap seperti tertusuk atau tertembak yang menyebar ke kaki, lengan atau
badan .
Penderita juga mengalami gangguan sensorik seperti kebas ,perasaan geli,
kedinginan atau perasaan terbakar. Hampir 80 % penderita mielitis transversa
mengalami kepakaan yang tinggi terhadap sentuhan misalnya pada saat
perpakaian atau sentuhan ringan dengan jari menyebabkan ketidak nyamanan atau
nyeri (disebut allodinia). Beberapa penderita juga mengalami pekaan yang tinggi
terhadap perubahan temperatur atau suhu panas atau dingin7
2.6 Diagnosa dan diagnosa banding
Mielitis transversa harus dibedakan dari mielopati akibat kompresi medulla
spinalis (baik karena neoplasme medulla spinalis instrinsik maupun ekstrinsik,
ruptur diskus intervertebralis akut), infeksi epidural dan polineuritis pasca infeki
akut (sindroma guillain barre).10
Mendiagnosa mielitis tranversa dengan pemeriksaan riwayat perjalanan
penyakit dan pemeriksaan fisik dan neurologi. Karena sering sulit untuk
membedakan antara penderita idiopatik dengan penderita yang mempunyai suatu
penyakit, pemeriksa pertama sekali harus menyingkirkan penyebab tersebut. Bila
dicurigai trauma medulla spinalis, harus dicari untuk menyingkirkan lesi (daerah
yang mengalami kerusakan atau kelainan fungsional) yang menyebabkan
penekanan medulla spinalis . Lesi lesi yang berpotensi menekan medulla
spinalis misalnya tumor, herniasi,bergesernya diskus, stenosis (penyempitan
saluran yang menahan medulla spinalis) atau abses. Untuk menyingkirkan lesi dan
memeriksa inflamasi medulla spnalis. Penderita sering di MRI, suatu prosedur
untuk melihat gambaran otak dan medulla spinalis. Pemeriksa juga melakukan
myelografi dimana menyuntikkan bahan kedalam saluran dalam medulla spinalis.
9

18

Pungsi lumbal dapat dilakukan pada mielitis transversa biasanya tidak


didapati blokade aliran likuor, pleoitosis moderat (antara 20 200 sel/mm3)
terutama jenis limposit, protein sedikit meninggi (50 120 mg / 100ml) dan
kadar glukosa norma. Berbeda dengan sindroma gullain barre dimana djumpai
peningkatan kadar protein tanpa disertai pleositosis. Pada sindroma gullain barre,
jenis kelumpuhan flakid serta pola gangguan sensibilitasnya di sampaing
mengenai kedua tungkai juga terdapat pada kedua lengan (glove and stocking).
Lesi kompresi medulla spinalis dapat dibedakan dari mielitis karena perjalanan
penyakitnya tidak akutsering didahului dengan nyeri segmental sebelum
timbulnya lesi parenkim medulla spinalis. Selain itu pada pungsi lumbal djumpai
blokase aliran likuor dengan kadar protein yang meningkat tanpa disertai adanya
sel. Pemerikaan foto polos vertebra antero posterior dan lateral,mielografi dan
sken tomografi akan lebih memastikan ada tidaknya lesi kompresi medulla
spinalis tersebut.10
Test darah dilakukan untuk menyingkirkan bebebagai penyakit lainnya
seperti lupus erithematosus sistemik, HIV, dan defisiensi vitamin B12. Pada
penderita mielitis transversa, cairan cerebrospinal dalam medulla spinalis dan otak
mengandung protein lebih tinggi dan peningkatan leukosit yang mengindikasikan
adanya infeksi. Bila tidak ada penyebab yang jelas dari test tersebut, penderita
dianggap menderita mielitis transversa idiopatik.9
2.6 Pengobatan
Tujuan pengobatan pertama ditujukan untuk meredakan respon imun yang
disebabkan oleh trauma medulla spinalis. Pengobatan awal pada penderita mielitis
tranversa dengan pemberian steroid dosis tinggi secara intravena atau oral. Pada
beberapa

kasus,obat

immunosuppresent

yang

sangat

kuat

seperti

cyclophosphamide boleh diberikan. Pada beberapa penderita dengan mielitis


transversa sedang dan berat diberikan steroid selama 5 sampai 7 hari. suatu
prosedur yang disebut plasma exchange dapat digunakan. Prosedur ini melibatkan
memindahkan darah dari pasien, dan pemisahan ke dalam sel darah dan plasma
(cairan). Sel darah kemudian bercampur menjadi suatu pengganti cairan plasma
buatan dan kembali ke pasien itu. Karena sel sel immun di dalam plasma, ini

19

secara efektif dapat merusakkan sel imun pada tubuh, yang dapat membantu
mengatasi kerusakan mielin.12
Pemberian glukokortikoid atau ACTH , biasanya diberikan pada penderita
yang datang dengan gejala awitannya sedang berlangsung dalam waktu 10 hari
pertama atau bila terjadi progresivitas defisit neurologik. Glukokortikoid dapat
diberikan dalam bentuk prednisolon oral 1 mg / kg berat badan / hari sebagai dosis
tunggal selama 2 minggu lalu secara bertahap dan dihentikan setelah 7 hari. Bila
tidak dapat diberikan peroral dapat pula diberikan metilprednisolon secara
intravena dengan dosis 0,8 mg / kg/hari dalam waktu 30 menit. Selain itu ACTH
dapat diberikan secara intramuskular dengan dosis 40 unit dua kali perhari
(selama 7 hari), lalu 20 unit dua kali sehari (selama 4 hari) dan 20 unit dua kali
perhari (selama 3 hari) . untuk mencegah efek samping kortikosteroid, penderita
diberi diet rendah garam dan simetidin 300 mg 4 kali / hari atau ranitidin 150 mg
2 kali / hari. Selain itu sebagai alternatif dapat diberikan antasida peroral.10
Pengobatan mielitis tranversa diusahakan selama 6 bulan mulai dari
serangan. Setelah itu, sebaiknya upaya pengobatan lebih efektif diarahkan ke
rehabilitasi dan rehabilitasi harus dimulai sedini mungkin untuk mengurangi
kontraktur dan mencegah tromboemboli.
Nyeri atau dysesthesias (perasaan gelisah, seperti terbakar, tertuk peniti
atau jarum, atau perasaan tersengat listrik) diobati dengan obat obatan seperti
gabapentin, carbamazepine, nortriptyline, atau tramadol. Pengobatan yang lain
nyeri dan dysesthesias adalah transcutaneous elecrical nerve stimulation (TENS)
terapi ini melibatkan penggunaan dari suatu alat yang merangsang area nyeri
dengan suatu loncatan listrik yang kecil sehingga mengganggu sensasi rasa nyeri.
Pemasangan kateter diperlukan karena adanya retensi urin dan untuk
mencegah terjadinya infeki raktus urinarius dilakukan irigasi dengan antieptik dan
pemberian antibiotik profilaksis (trimetropin sulfametoksasol) 1 gram tiap
malam. Konstipasi dan dan retensi urin sering merupakan masalah pada penderita
dengan

mielitis

transversa.

Oxybutinin,

hyoscyamine,

tolterodine,

dan

propantheline sering dapat mengobati beberapa masalah kandung kemih pada


penderita mielitis transversa. Pada saat terdapat retensi urin, rangsangan nervus
sakralis

dapat

membantu

penderita

mencegah

pemakaiaan

kateter

20

berulang.Dulcolax, senekot, dan bisacodyl dapat membantu memperbaiki


konstipasi.10,12
Pencegahan dekubitus dilakukan dengan alih baring tiap 2 jam. Bila terjadi
hiperhidrosis dapat diberikan propantilinbromid 15 mg sebelum tidur. Disamping
terapi medikamentosa maka diet / nutrisi juga harus diperhatikan, 125 gra protein,
vitamin dosis tinggi dan cairan sebanyak 3 liter perhari dibutuhkan. Setelah masa
akut berlalu maka tonus otot mulai meninggi sehingga sering timbul spasme
kedua tungkai, hal ini dapat diatasi dengan pemberian baclofen 15-80 mg / hari,
atau diazepam 3 4 kali 5 mg / hari.
2.8 Prognosis
Perbaikan dari mielitis tansversa biasanya dimulai antara 2 sampai 12
minggu dari onset gejala dan mungkin berlangsung sampai 2 tahun.
Bagaimanapun bila tidak ada perbaikan dalam 3 6 bulan pertama, maka tidak
dijumpai penyembuhan yang signifikan. Sekitar sepertiga dari orang orang yang
terinfeksi mielitis transversa akan mengalami penyembuhan yang sempurna dari
gejala klinisnya, mereka kembali dapat berjalan normal dan gejala yang minimal
pada kandung kemih,buang air besar dan parastesia. Sertiga lainnya mengalami
perbaikan dan meninggalkan defisit neurologis seperti gaya berjalan yang spastik,
disfungsi sensorik dan sering kencing atau inkontinensia urin. Sepertiga lainnya
tetap tidak mengalami perbaikan sama sekali, mereka tetap dikursi roda atau
berbaring ditempat tidur dengan tergantung pada orang lain untuk memenuhi
kebutuhan hidup mereka. Meskipun sulit membuat prediksi pada setiap kasus,
para peneliti menyatakan bahwa onset gejala yang cepat secara umum
menghasilkan perbaikan yang jelek .
Kebanyakan penderita hanya mengalami sekali episode gangguan
meskipun jarang, kasus rekuren atau relaps mileitis transvera dapat terjadi .
beberapa pasien sembuh secara sempurna kemudian mengalami relaps kembali.
Pada kasus relaps . dokter akan menyelidi kemungkinan penyebab seperti MS atau
lupus erythematosus sistemik sejak penderita mengalami releaps tersebut.7
3.Tumor Mielum

21

3.1 Definisi
Tumor medula spinalis adalah tumor di daerah spinal yang dapat terjadi
pada daerah cervical pertama hingga sacral, yang dapat dibedakan atas; A.Tumor
primer: 1) jinak yang berasal dari a) tulang; osteoma dan kondroma, b) serabut
saraf disebut neurinoma (Schwannoma), c) berasal dari selaput otak disebut
Meningioma; d) jaringan otak; Glioma, Ependimoma. 2) ganas yang berasal dari
a) jaringan saraf seperti; Astrocytoma, Neuroblastoma, b) sel muda seperti
Kordoma. B. Tumor sekunder: merupakan anak sebar (metastase) dari tumor
ganas di daerah rongga dada, perut, pelvis dan tumor payudara.13
3.2 Klasifikasi
Berdasarkan asal dan sifat selnya, tumor pada medula spinalis dapat dibagi
menjadi tumor primer dan tumor sekunder. Tumor primer dapat bersifat jinak
maupun ganas, sementara tumor sekunder selalu bersifat ganas karena merupakan
metastasis dari proses keganasan di tempat lain seperti kanker paru-paru,
payudara, kelenjar prostat, ginjal, kelenjar tiroid atau limfoma. Tumor primer
yang bersifat ganas contohnya adalah astrositoma, neuroblastoma, dan kordoma,
sedangkan yang bersifat jinak contohnya neurinoma, glioma, dan ependimoma.13
Berdasarkan lokasinya, tumor medula spinalis dapat dibagi menjadi dua
kelompok, yaitu tumor intradural dan ekstradural, di mana tumor intradural itu
sendiri dibagi lagi menjadi tumor intramedular dan ekstramedular. Macam-macam
tumor medula spinalis berdasarkan lokasinya dapat dilihat pada Tabel 3.1.

22

Gambar 3.1 (A) Tumor intradural-intramedular, (B) Tumor intraduralekstramedular, dan (C) Tumor Ekstradural
Tabel 3.2. Tumor Medula Spinalis Berdasarkan Gambaran Histologisnya
Ekstra dural

Intradural ekstramedular

Chondroblastoma

Ependymoma,

Chondroma

myxopapillary

Hemangioma

Epidermoid

Lipoma
Lymphoma
Meningioma
Metastasis
Neuroblastoma

Lipoma
Meningioma
Neurofibroma
Paraganglioma

Neurofibroma
Osteoblastoma

Schwanoma

Osteochondroma

Intradural intramedular
tipeAstrocytoma
Ependymoma
Ganglioglioma
Hemangioblastoma
Hemangioma
Lipoma
Medulloblastoma
Neuroblastoma
Neurofibroma

Osteosarcoma
Sarcoma
Vertebral
hemangioma

Oligodendroglioma
Teratoma

3.4 Etiologi dan Patogenesis


Penyebab tumor medula spinalis primer sampai saat ini belum diketahui
secara pasti. Beberapa penyebab yang mungkin dan hingga saat ini masih dalam
tahap penelitian adalah virus, kelainan genetik, dan bahan-bahan kimia yang
bersifat karsinogenik. Adapun tumor sekunder (metastasis) disebabkan oleh selsel kanker yang menyebar dari bagian tubuh lain melalui aliran darah yang
kemudian menembus dinding pembuluh darah, melekat pada jaringan medula
spinalis yang normal dan membentuk jaringan tumor baru di daerah tersebut.19

23

Patogenesis dari neoplasma medula spinalis belum diketahui, tetapi


kebanyakan muncul dari pertumbuhan sel normal pada lokasi tersebut. Riwayat
genetik kemungkinan besar sangat berperan dalam peningkatan insiden pada
anggota keluarga (syndromic group) misal pada neurofibromatosis. Astrositoma
dan neuroependimoma merupakan jenis yang tersering pada pasien dengan
neurofibromatosis tipe 2 (NF2), di mana pasien dengan NF2 memiliki kelainan
pada kromosom 22. Spinal hemangioblastoma dapat terjadi pada 30% pasien
dengan Von Hippel-Lindou Syndrome sebelumnya, yang merupakan abnormalitas
dari kromosom 3.18
3.5 Manifestasi Klinis
Menurut Cassiere, perjalanan penyakit tumor medula spinalis terbagi
dalam tiga tahapan15, yaitu:

Ditemukannya sindrom radikuler unilateral dalam jangka waktu yang lama

Sindroma Brown Sequard

Kompresi total medula spinalis atau paralisis bilateral


Keluhan pertama dari tumor medula spinalis dapat berupa nyeri radikuler,

nyeri vertebrae, atau nyeri funikuler. Secara statistik adanya nyeri radikuler
merupakan indikasi pertama adanya space occupying lesion pada kanalis spinalis
dan disebut pseudo neuralgia pre phase. Dilaporkan 68% kasus tumor spinal sifat
nyerinya radikuler, laporan lain menyebutkan 60% berupa nyeri radikuler, 24%
nyeri funikuler dan 16% nyerinya tidak jelas 15. Nyeri radikuler dicurigai
disebabkan oleh tumor medula spinalis bila:

Nyeri radikuler hebat dan berkepanjangan, disertai gejala traktus


piramidalis

Lokasi nyeri radikuler diluar daerah predileksi HNP


seperti C5-7, L3-4, L5 dan S1

Tumor medula spinalis yang sering menyebabkan nyeri radikuler adalah


tumor yang terletak intradural-ekstramedular, sedang tumor intramedular jarang

24

menyebabkan nyeri radikuler. Pada tumor ekstradural sifat nyeri radikulernya


biasanya hebat dan mengenai beberapa radiks.15
Tumor-tumor intrameduler dan intradural-ekstrameduler dapat juga
diawali dengan gejala TTIK seperti: hidrosefalus, nyeri kepala, mual dan muntah,
papiledema, gangguan penglihatan, dan gangguan gaya berjalan. Tumor-tumor
neurinoma dan ependimoma mensekresi sejumlah besar protein ke dalam likuor,
yang dapat menghambat aliran likuor di dalam kompartemen subarakhnoid spinal,
dan kejadian ini dikemukakan sebagai suatu hipotesa yang menerangkan kejadian
hidrosefalus sebagai gejala klinis dari neoplasma intraspinal primer.17
Bagian tubuh yang menimbulkan gejala bervariasi tergantung letak tumor
di sepanjang medula spinalis. Pada umumnya, gejala tampak pada bagian tubuh
yang selevel dengan lokasi tumor atau di bawah lokasi tumor. Contohnya, pada
tumor di tengah medula spinalis (pada segmen thorakal) dapat menyebabkan nyeri
yang menyebar ke dada depan (girdleshape pattern) dan bertambah nyeri saat
batuk, bersin, atau membungkuk. Tumor yang tumbuh pada segmen cervical
dapat menyebabkan nyeri yang dapat dirasakan hingga ke lengan, sedangkan
tumor yang tumbuh pada segmen lumbosacral dapat memicu terjadinya nyeri
punggung atau nyeri pada tungkai.19
Berdasarkan lokasi tumor, gejala yang muncul adalah seperti yang terihat
dalam Tabel 2 di bawah ini.
Tabel 3.3 Tanda dan Gejala Tumor Medula Spinalis
Lokasi

Tanda dan Gejala

Foramen

Gejalanya aneh, tidak lazim, membingungkan, dan tumbuh lambat

Magnum

sehingga sulit menentukan diagnosis. Gejala awal dan tersering


adalah nyeri servikalis posterior yang disertai dengan hiperestesia
dalam dermatom vertebra servikalis kedua (C2). Setiap aktivitas
yang meningkatkan TIK (misal ; batuk, mengedan, mengangkat
barang, atau bersin) dapat memperburuk nyeri. Gejala tambahan
adalah gangguan sensorik dan motorik pada tangan dengan pasien

25

yang melaporkan kesulitan menulis atau memasang kancing.


Perluasan tumor menyebabkan kuadriplegia spastik dan hilangnya
sensasi secara bermakna. Gejala-gejala lainnya adalah pusing,
disartria, disfagia, nistagmus, kesulitan bernafas, mual dan muntah,
serta atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius. Temuan
neurologik tidak selalu timbul tetapi dapat mencakup hiperrefleksia,
rigiditas nuchal, gaya berjalan spastik, palsi N.IX hingga N.XI, dan
Servikal

kelemahan ekstremitas.
Menimbulkan tanda-tanda sensorik dan motorik mirip lesi radikular
yang melibatkan bahu dan lengan dan mungkin juga menyerang
tangan. Keterlibatan tangan pada lesi servikalis bagian atas (misal,
diatas C4) diduga disebabkan oleh kompresi suplai darah ke kornu
anterior melalui arteria spinalis anterior. Pada umumnya terdapat
kelemahan dan atrofi gelang bahu dan lengan. Tumor servikalis
yang lebih rendah (C5, C6, C7) dapat menyebabkan hilangnya
refleks tendon ekstremitas atas (biseps, brakioradialis, triseps).
Defisit sensorik membentang sepanjang tepi radial lengan bawah
dan ibu jari pada kompresi C6, melibatkan jari tengah dan jari
telunjuk pada lesi C7, dan lesi C7 menyebabkan hilangnya sensorik

Torakal

jari telunjuk dan jari tengah.


Seringkali dengan kelemahan spastik yang timbul perlahan pada
ekstremitas bagian bawah dan kemudian mengalami parestesia.
Pasien dapat mengeluh nyeri dan perasaan terjepit dan tertekan pada
dada dan abdomen, yang mungkin dikacaukan dengan nyeri akibat
gangguan intratorakal dan intraabdominal. Pada lesi torakal bagian
bawah, refleks perut bagian bawah dan tanda Beevor (umbilikus
menonjol apabila penderita pada posisi telentang mengangkat kepala

melawan suatu tahanan) dapat menghilang.


Lumbosakral Suatu situasi diagnostik yang rumit timbul pada kasus tumor yang
melibatkan daerah lumbal dan sakral karena dekatnya letak segmen
lumbal bagian bawah, segmen sakral, dan radiks saraf desendens
dari tingkat medula spinalis yang lebih tinggi. Kompresi medula
spinalis lumbal bagian atas tidak mempengaruhi refleks perut,
26

namun menghilangkan refleks kremaster dan mungkin menyebabkan


kelemahan fleksi panggul dan spastisitas tungkai bawah. Juga terjadi
kehilangan refleks lutut dan refleks pergelangan kaki dan tanda
Babinski bilateral. Nyeri umumnya dialihkan keselangkangan. Lesi
yang melibatkan lumbal bagian bawah dan segmen-segmen sakral
bagian atas menyebabkan kelemahan dan atrofi otot-otot perineum,
betis dan kaki, serta kehilangan refleks pergelangan kaki. Hilangnya
sensasi daerah perianal dan genitalia yang disertai gangguan kontrol
usus dan kandung kemih merupakan tanda khas lesi yang mengenai
Kauda

daerah sakral bagian bawah.


Menyebabkan gejala-gejala sfingter dini dan impotensi. Tnda-tanda

Ekuina

khas lainnya adalah nyeri tumpul pada sakrum atau perineum, yang
kadang-kadang menjalar ke tungkai. Paralisis flaksid terjadi sesuai
dengan radiks saraf yang terkena dan terkadang asimetris.
i. Tumor Ekstradural

Sebagian besar merupakan tumor metastase, yang menyebabkan kompresi


pada medula spinalis dan terletak di segmen thorakalis. Nyeri radikuler dapat
merupakan gejala awal pada 30% penderita tetapi kemudian setelah beberapa hari,
minggu/bulan diikuti dengan gejala mielopati. Nyeri biasanya lebih dari 1 radiks,
yang

mulanya

hilang

dengan istirahat,

tetapi

semakin

lama

semakin

menetap/persisten, sehingga dapat merupakan gejala utama, walaupun terdapat


gejala yang berhubungan dengan tumor primer. Nyeri pada tumor metastase ini
dapat terjadi spontan, dan sering bertambah dengan perkusi ringan pada vertebrae,
nyeri demikian lebih dikenal dengan nyeri vertebrae.

a. Tumor Metastasis Keganasan Ekstradural11


Memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

Sebagian besar tumor spinal (>80 %) merupakan metastasis


keganasan terutama dari paru-paru, payudara, ginjal, prostat, kolon,
tiroid, melanoma, limfoma, atau sarkoma.

27

Yang pertama dilibatkan adalah korpus vertebra. Predileksi lokasi


metastasis tumor paru, payudara dan kolon adalah daerah toraks,
sedangkan tumor prostat, testis dan ovarium biasanya ke daerah
lumbosakral.

Gejala kompresi medula spinalis kebanyakan terjadi pada level


torakal, karena diameter kanalisnya yang kecil (kira-kira hanya 1
cm).

Gejala akibat metastasis spinal diawali dengan nyeri lokal yang


tajam dan kadang menjalar (radikuler) serta menghebat pada
penekanan atau palpasi.
ii. Tumor Intradural-Ekstramedular9

Tumor ini tumbuh di radiks dan menyebabkan nyeri radikuler kronik


progresif. Kejadiannya 70% dari tumor intradural, dan jenis yang terbanyak
adalah neurinoma pada laki-laki dan meningioma pada wanita.
a. Neurinoma (Schwannoma)
Memiliki karakteristik sebagai berikut:
Berasal dari radiks dorsalis

Kejadiannya 30% dari tumor ekstramedular

2/3 kasus keluhan pertamanya berupa nyeri radikuler, biasanya pada


satu sisi dan dialami dalam beberapa bulan sampai tahun, sedangkan
gejala lanjut terdapat tanda traktus piramidalis

39% lokasinya disegmen thorakal

b. Meningioma
Memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
80% terletak di regio thorakalis dan 60% pada wanita usia
pertengahan
Pertumbuhan lambat

28

Pada 25% kasus terdapat nyeri radikuler, tetapi lebih sering dengan
gejala traktus piramidalis dibawah lesi, dan sifat nyeri radikuler
biasanya bilateral dengan jarak waktu timbul gejala lain lebih pendek
iii. Tumor Intradural-Intramedular15,18
Lebih sering menyebabkan nyeri funikuler yang bersifat difus seperti rasa
terbakar dan menusuk, kadang-kadang bertambah dengan rangsangan ringan
seperti electric shock like pain (Lhermitte sign).
a. Ependimoma
Memiliki karakteristik sebagai berikut:

Rata-rata penderita berumur di atas 40 tahun

Wanita lebih dominan

Nyeri terlokalisir di tulang belakang

Nyeri meningkat saat malam hari atau saat bangun

Nyeri disestetik (nyeri terbakar)

Menunjukkan gejala kronis

Jenis miksopapilari rata-rata pada usia 21 tahun, pria lebih dominan

b. Astrositoma
Memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

c.

Prevalensi pria sama dengan wanita

Nyeri terlokalisir pada tulang belakang

Nyeri bertambah saat malam hari

Parestesia (sensasi abnormal)

Hemangioblastoma
Memiliki karakter sebagai berikut:

Gejala muncul pertama kali saat memasuki usia 40 tahun

29

Penyakit herediter (misal, Von Hippel-Lindau Syndrome) tampak


pada 1/3 dari jumlah pasien keseluruhan.

Penurunan sensasi kolumna posterior

Nyeri punggung terlokalisir di sekitar lesi

3.6 Diagnosis19
Selain dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik, diagnosis tumor medula
spinalis dapat ditegakkan dengan bantuan pemeriksaan penunjang seperti di
bawah ini.
a. Laboratorium
Cairan spinal (CSF) dapat menunjukkan peningkatan protein dan
xantokhrom, dan kadang-kadang ditemukan sel keganasan. Dalam
mengambil dan memperoleh cairan spinal dari pasien dengan tumor
medula spinalis harus berhati-hati karena blok sebagian dapat berubah
menjadi blok komplit cairan spinal dan menyebabkan paralisis yang
komplit.
b. Foto Polos Vertebrae
Foto

polos

seluruh

tulang

belakang

67-85%

abnormal.

Kemungkinan ditemukan erosi pedikel (defek menyerupai mata burung


hantu pada tulang belakang lumbosakral AP) atau pelebaran, fraktur
kompresi patologis, scalloping badan vertebra, sklerosis, perubahan
osteoblastik (mungkin terajdi mieloma, Ca prostat, hodgkin, dan biasanya
Ca payudara.
c. CT-scan
CT-scan dapat memberikan informasi mengenai lokasi tumor,
bahkan terkadang dapat memberikan informasi mengenai tipe tumor.
Pemeriksaan ini juga dapat membantu dokter mendeteksi adanya edema,
perdarahan dan keadaan lain yang berhubungan. CT-scan juga dapat
membantu dokter mengevaluasi hasil terapi dan melihat progresifitas
tumor.
d. MRI

30

Pemeriksaan ini dapat membedakan jaringan sehat dan jaringan


yang mengalami kelainan secara akurat. MRI juga dapat memperlihatkan
gambar tumor yang letaknya berada di dekat tulang lebih jelas
dibandingkan dengan CT-scan.
3.7 Diagnosis Banding18
Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS)
Lumbar (Intervertebral) Disk Disorders
Mechanical Back Pain
Brown-Sequard Syndrome
Infeksi Medula Spinalis
Cauda Equina Syndrome
3.8 Penatalaksanaan20
Penatalaksanaan untuk sebagian besar tumor baik intramedular maupun
ekstramedular

adalah

dengan

pembedahan.

Tujuannya

adalah

untuk

menghilangkan tumor secara total dengan menyelamatkan fungsi neurologis


secara maksimal. Kebanyakan tumor intradural-ekstramedular dapat direseksi
secara total dengan gangguan neurologis yang minimal atau bahkan tidak ada post
operatif. Tumor-tumor yang mempunyai pola pertumbuhan yang cepat dan agresif
secara histologis dan tidak secara total dihilangkan melalui operasi dapat diterapi
dengan terapi radiasi post operasi.13
Terapi yang dapat dilakukan pada tumor medulla spinalis adalah :
a.

Deksamethason: 100 mg (mengurangi nyeri pada 85 % kasus,


mungkin juga menghasilkan perbaikan neurologis).

b.

Penatalaksanaan berdasar evaluasi radiografik

Bila tidak ada massa epidural: rawat tumor primer (misalnya


dengan sistemik kemoterapi); terapi radiasi lokal pada lesi
bertulang; analgesik untuk nyeri.

31

Bila ada lesi epidural, lakukan bedah atau radiasi (biasanya 30004000 cGy pada 10x perawatan dengan perluasan dua level di atas
dan di bawah lesi); radiasi biasanya seefektif seperti laminektomi
dengan komplikasi yang lebih sedikit.

c. Penatalaksanaan darurat (pembedahan/ radiasi) berdasarkan


derajat blok dan kecepatan deteriorasi

bila > 80 % blok komplit atau perburukan yang cepat:


penatalaksanaan sesegera mungkin (bila merawat dengan radiasi,
teruskan deksamethason keesokan harinya dengan 24 mg IV
setiap 6 jam selama 2 hari, lalu diturunkan (tappering) selama
radiasi, selama 2 minggu.

bila < 80 % blok: perawatan rutin (untuk radiasi, lanjutkan


deksamethason 4 mg selama 6 jam, diturunkan (tappering) selama
perawatan sesuai toleransi.

d. Radiasi
Terapi radiasi direkomendasikan umtuk tumor intramedular yang
tidak dapat diangkat dengan sempurna. Dosisnya antara 45 dan 54 Gy.
e.

Pembedahan
Tumor biasanya diangkat dengan sedikit jaringan sekelilingnya
dengan teknik myelotomy. Aspirasi ultrasonik, laser, dan mikroskop
digunakan pada pembedahan tumor medula spinalis.
Indikasi pembedahan:
Tumor dan jaringan tidak dapat didiagnosis (pertimbangkan biopsi
bila lesi dapat dijangkau). Catatan: lesi seperti abses epidural dapat
terjadi pada pasien dengan riwayat tumor dan dapat disalahartikan
sebagai metastase.
Medula spinalis yang tidak stabil (unstable spinal).
Kegagalan radiasi (percobaan radiasi biasanya selama 48 jam,
kecuali signifikan atau terdapat deteriorasi yang cepat); biasanya

32

terjadi dengan tumor yang radioresisten seperti karsinoma sel ginjal


atau melanoma.
Rekurensi (kekambuhan kembali) setelah radiasi maksimal.
3.9 Komplikasi18,20
Komplikasi yang mungkin pada tumor medula spinalis antara lain:
Paraplegia
Quadriplegia
Infeksi saluran kemih
Kerusakan jaringan lunak
Komplikasi pernapasan
Komplikasi yang muncul akibat pembedahan adalah:
Deformitas pada tulang belakang post operasi lebih sering terjadi
pada anak-anak dibanding orang dewasa. Deformitas pada tulang
belakang tersebut dapat menyebabkan kompresi medula spinalis.
Setelah pembedahan tumor medula spinalis pada servikal, dapat
terjadi

obstruksi

foramen

Luschka

sehingga

menyebabkan

hidrosefalus.
3.10 Prognosis
Tumor dengan gambaran histopatologi dan klinik yang agresif mempunyai
prognosis yang buruk terhadap terapi. Pembedahan radikal mungkin dilakukan
pada kasus-kasus ini. Pengangkatan total dapat menyembuhkan atau setidaknya
pasien dapat terkontrol dalam waktu yang lama. Fungsi neurologis setelah
pembedahan sangat bergantung pada status pre operatif pasien. Prognosis semakin
buruk seiring meningkatnya umur (>60 tahun).20

33

DAFTAR PUSTAKA
1. Aminorf, J.M., Greenberg, A.D., and Simon, P.R., 2005. Clinical
Neurology. Edisi 7. USA:Lange Medical Books/McGraw-Hill.p 155-157
2. Dorland, W.A Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 29.
Jakarta: EGC.
3. Diana Kohnle. 2011. Paraplegia. Keck Medical Center of University Of
Sourthern California. Diakses dari
http://www.keckmedicalcenterofusc.org/condition/document/230663
4. Adam, R.D., Victor, M. and Ropper, A.H. 2005. Principles of Neurology.
Edisi 8. NewYork : McGraw-Hill. p 50-52; 1049-1092
5. R. Putz, R. Pabst. 2006.Atlas Anatomi Manusia Sobotta. Edisi 21.Jilid 2.
Jakarta: EGC.
6. Sherwood L. 2007. Human physiology from cells to system. Edisi ke-6.
Canada: ThomsonBrooks/ Cole;.p. 77-211.
7. National Institut of neurological disorder and stroke, myelitis trasversa
dalam www.ninds.nih.gov/disorder/trasversemyeilitis.
8. Anonymous. transversa myelitis Dalam www.wikipedia.org/wiki/trasverse
myelitis
9. Anonymous,

mielitis

tranversa

Dalam

www.healthnewsflash.com/conditions/transverse_myelitis.htm
10. Harsono, dr. 2003. Mielitis transversa Dalam Kapita Selekta Neurologi,
Gajah mada University press, Yogyakarta
11. Igusti Gede Ngoerah,dr,Prof. 1994. Mielitis Dalam Dasar Dasar Ilmu
Penyakit Saraf, Airlangga University Press, Surabaya
12. anonymous. Mielitis tranversa dalam www.answer.com/topic/transverse
mielitis

34

13. Hakim, A.A. 2006. Permasalahan serta Penanggulangan Tumor Otak dan
Sumsum Tulang Belakang. Medan: Universitas Sumatera Utara
14. Huff,

J.S.

2010.

Spinal

Cord

Neoplasma.

[serial

online].

http://emedicine.medscape.com/article/779872-print.
15. Japardi, Iskandar. 2002. Radikulopati Thorakalis. [serial online].
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1994/1/bedah-iskandar
%20japardi43.pdf.
16. American Cancer Society. 2009. Brain and Spinal Cord Tumor in Adults.
[serial online]. http://www.cancer.org/acs/groups/cid/documents/
webcontent/003088-pdf.
17. Mumenthaler, M. and Mattle, H. 2006. Fundamental of Neurology. New
York: Thieme. Page 146-147.
18. Harrop, D.S. and Sharan, A.D. 2009. Spinal Cord Tumors - Management
of

Intradural

Intramedullary

Neoplasms.

[serial

online].

http://emedicine.medscape.com/article/249306-print.
19. National Institute of Neurological Disorders and Stroke. 2005. Brain and
Spinal Cord Tumors - Hope Through Research. [serial online].
http://www.ninds.nih.gov/disorders/brainandspinaltumors/detail_brainands
pinaltumors.htm.
20. Satyanegara. 2010. Ilmu Bedah Saraf. Edisi IV. Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama

35