Anda di halaman 1dari 12

Intervensi sebagai Upaya Mencari Alternatif dalam

Pembangunan yang Dilanda Krisis


(Suatu Refleksi Hakikat Pembangunan Berdasar Pandangan
Hettne, Todaro dan Seers)

BAB I
PENDAHULUAN

Pembangunan bangsa ini telah dilakukan sejak lama. Dimulai pada tahun
1945 pada saat kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan. Pembanguna
yang dimaksud adalah pembangunan yang utuh, bukan hanya menyangkut
pembangunan pada sektor fisik belaka namun lebih luas lagi pada pembangunan
dari sisi mental dan jiwa.
Pembangunan Nasional di Indonesiakan mengacu pada nilai-nilai berikut:
Visi Misi Dan Strategi Pembangunan Nasional

Visi:
Terwujudnya kehidupan masyarakat, bangsa dan Negara yang aman, bersatu,
rukun dan damai; Terwujudnya kehidupan masyarakat, bangsa dan Negara yang
menjunjung tinggi hukum, kesetaraan dan hak azasi manusia; serta Terwujudnya
perekonomian yang mampu menyediakan kesempatan kerja dan kehidupan yang
layak serta memberikan fondasi yang kokoh bagi pembangunan yang
berkelanjutan.

Misi:
Mewujudkan Indonesia yang aman dan damai;
Mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis; serta
Mewujudkan Indonesia yang sejahtera.
Strategi pokok yang ditempuh.
Strategi Penataan Kembali Indonesia yang diarahkan untuk
menyelamatkan system ketatanegaraan Republik Indonesia berdasarkan semangat,
jiwa, nilai, dan consensus dasar yang melandasi berdirinya Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang meliputi Pancasila; Undang-Undang Dasar 1945
(terutama Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945); tetap tegaknya Negara
Kesatuan Republik Indonesia, dan tetap berkembangnya pluralisme dan
keberagaman dengan prinsip Bhineka Tunggal Ika;
Strategi Pembangunan Indonesia yang diarahkan untuk membangun
Indonesia disegala bidang yang merupakan perwujudan dari amanat yang tertera
jelas dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 terutama dalam pemenuhan
hak dasar rakyat dan penciptaan landasan pembangunan yang kokoh.
Permasalah utama saat ini adalah apakah pembangunan Indonesia yang
begitu mulia seperti tertuang dalam acuan nilai-nilai diatas sudah dijalankan
dengan baik? Atau, sudahkan sesuai dengan kebutuhan zaman (globalisasi) saat
ini? Penulis akan mencoba merefleksikan berdasarkan pandangan dari Seers,
Todaro dan Hettne.
BAB II
URAIAN

A. Pembangunan dan Globalisasi


Dalam bukunya yang berjudul : Contours of Descent (2003), Robert
Pollin menuliskan bahwa pada era tahun 1961-1980 ketika banyak negara
berada pada masa awal pembangunan, laju pertumbuhan GDP per kapita
mereka mencapai 3,2% per tahun. Namun, ketika dunia dilanda oleh
globalisasi neoliberal yang mendorong pembangunan ke arah pendulum
dominasi pasar (market-driven development) atas negara (state-led
development) justru telah menciptakan krisis pembangunan.
Indikatornya adalah pada era tahun 1981-1999, angka pertumbuhan
GDP per kapita merosot tajam hanya mencapai 0,7%. Implikasinya adalah
kondisi kemiskinan semakin bertambah buruk. Dengan mengambil garis
kemiskinan yang ekstrim dengan menyejajarkan konsumsi per hari dengan
satu dollar Amerika Serikat, pada pertengahan tahun 1990-an, kurang lebih
sekitar 33% penduduk dunia yang berada di negara-negara sedang
berkembang mengalami kesengsaraan. Di antara masyarakat miskin ini,
sekitar 550 juta jiwa berada di Asia Selatan, 215 juta berada di Sub-Sahara
Afrika, dan 150 juta berada di Amerika Latin (Castel, 2000). Krisis
pembangunan juga melanda Indonesia. Pada awalnya, pertumbuhan ekonomi
Indonesia cukup mengesankan dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 7% per
tahun. Bahkan Indonesia pernah diprediksikan menjadi salah satu kekuatan
ekonomi penting di kawasan Asia Timur dan Tenggara. Namun, sejak krisis
pada pertengahan tahun 1997 kehidupan sosial ekonomi Indonesia menjadi
semakin terpuruk. Pada tahun 1998 jumlah orang miskin di Indonesia sebesar
49,5 juta jiwa atau sebesar 24,23% dari keseluruhan jumlah penduduk
dibandingkan pada tahun 1996 yang mencapai 22,5 juta jiwa atau sekitar
11,2% (Billah, 2002). Seiring kebijakan ekonomi neoliberal yang semakin
intensif dilaksanakan pemerintah, jumlah penduduk miskin terus bertambah
besar. Menurut data BPS, pada Desember 2005, jumlah penduduk miskin di
Indonesia menjadi 18 juta keluarga. Dengan kata lain, jika setiap keluarga
terdiri dari tiga orang, itu berarti terdapat sekitar 54 juta jiwa penduduk atau
21% dari 250 juta penduduk di Indonesia yang dikategorikan miskin
(Kompas, 1 Februari 2006).
Awal Terjadinya Krisis Pada era tahun 1960 dan 1970-an, proyek
pembangunan di negara-negara Dunia Ketiga, termasuk Indonesia
dilatarbelakangi oleh pandangan yang kuat tentang peran negara. Pada masa
ini, berkembang suatu konsensus bahwa keterlibatan negara diperlukan dalam
rangka mempromosikan pembangunan yang pada akhirnya lebih dikenal
sebagai “an activist role for government” (Leftwich, 2000). Dominasi
pandangan ini berakhir pada penghujung tahun 1970-an seiring kemunculan
ideologi neoliberal atau the New Right di Inggris dan AS setelah negara
kesejahteraan Keynesian gagal mengatasi krisis ekonomi waktu itu. Sejak saat
itu, aras pemikiran utama di bidang ekonomi politik didominasi oleh
pemikiran neoliberal yang diprakarsai oleh Milton Friedmann dan Friedrich
Hayek. “The lost decade for development” merupakan ungkapan untuk
menyebut era tersebut karena pikiran-pikiran neoliberal tidak saja berpengaruh
terhadap konsepsi pembangunan, tetapi juga menyangkut kebijakan dan
strategi yang dilaksanakan (Toye, 1987). Selanjutnya, melalui proyek
globalisasi ekonomi yang ditopang oleh lembaga-lembaga seperti WTO, Bank
Dunia, dan IMF, pandangan-pandangan tersebut berusaha
diinstitusionalisasikan, dan diadopsi oleh sebagian besar Dunia Ketiga,
termasuk Indonesia. Namun sayangnya, pembangunan ala neoliberal ini gagal
meraih tujuan-tujuan yang diharapkan. Dalam arti, meningkatkan harkat dan
martabat manusia dalam segala dimensinya atau, dalam bahasa Sen (1999),
sebagai perluasan ruang kebebasan manusia.
Proyek globalisasi neoliberal yang ditopang oleh kapitalisme global
telah menciptakan krisis pembangunan dalam dua dimensi sekaligus, yakni
krisis polarisasi kelas (the crisis of class polarization) dan krisis lingkungan
(the ecological unsustainability). Setidaknya, ada tiga faktor yang
menyebabkan krisis pembangunan ini. Pertama, keyakinannya yang terlalu
berlebihan terhadap kebajikan pasar dan kemampuan pasar dalam melakukan
self-regulating. Padahal, banyak studi menunjukkan bahwa keberhasilan
negara-negara industri maju adalah akibat pembangunan yang ditopang oleh
intervensi negara yang efektif (Vartianen, 1995; Panic, 1995). Kedua,
berangkat dari kenyataan bahwa globalisasi berlangsung dalam kekuatan,
intensitas, dan wilayah yang tidak seimbang. Negara-negara maju terus
mendesakkan agenda privatisasi dan liberalisasi di negara-negara sedang
berkembang, tetapi mereka sendiri terus melakukan proteksi terhadap
ekonomi domestiknya. Mengomentari hal ini, Green dan Luehrmann (2003)
mengemukakan, : Ironically, for all their talk about “free trade”, it is
subsidies and various protectionist measures by developed countries that are
making it hard for much of the third world to earn an honest living through
trade”. Ketiga, meningkatnya kesalingtergantungan Globalisasi telah
merongrong kekuasaan negara melalui integrasi pasar-pasar domestik
sehingga negara tidak lagi mempunyai kemampuan yang cukup untuk
mengontrol ekonomi nasional. Negara Pembangunan Demokrasi Solusi yang
ditawarkan para ahli dalam mengatasi krisis pembangunan adalah dengan
menciptakan negara efektif (Skocpol, 1985) dan mendorong terciptanya
negara pembangunan demokrasi (White, 1998).
Suatu negara dikatakan efektif jika mampu melakukan intervensi
secara efektif terhadap kegagalan pasar. Untuk itu, ada tiga prakondisi yang
harus dipenuhi, yakni sovereign integrity (kontrol administratif-militer yang
stabil dalam batas wilayah yang ada), kecukupan sumber daya keuangan, dan
pegawai pemerintahan yang loyal dan mempunyai cukup kemampuan (loyal
and skilled officials) (Skocpol, 1985). Selanjutnya, negara yang efektif ini
penting dalam rangka menciptakan negara pembangunan demokrasi. Ini
karena pembangunan demokrasi akan memerlukan otoritas politik dan
kapasitas administratif untuk memelihara public order melalui pengelolaan
konflik yang muncul sebagai akibat pembelahan struktural dalam masyarakat
(White, 1998). Selain itu, negara pembangunan demokrasi melibatkan tiga
fungsi dasar socioeconomic, yakni fungsi regulatif, infrastruktural, dan
redistributif. Fungsi regulatif tidak hanya merujuk kepada peran negara dalam
manajemen makro ekonomi, tetapi juga membangun kerangka kerja
institusional bagi berfungsinya pasar yang kompleks. Sementara itu, fungsi
infrastruktural merujuk kepada penciptaan infratruktural fisik dan sosial yang
dicapai melalui kebijakan sosial dan ketentuan hukum menyangkut
penjaminan kesejahteraan. Terakhir, fungsi redistributif berkenaan dengan
upaya penyelesaian kemiskinan absolut dan memperbaiki bentuk-bentuk
kerusakan sosial sebagai akibat ketimpangan sosial yang didasarkan pada
kelas, gender, dan etnisitas.
Bagi Indonesia, gagasan ini menjadi sangat menarik dan relevan bukan
saja bangsa ini telah terjebak kedalam kemiskinan, korupsi, dan konflik
horisontal ataupun vertikal yang parah sehingga melemahkan negara dalam
banyak dimensi, tetapi juga kemampuan rezim demokrasi dalam
mempertahankan pembangunan sosial ekonomi yang pantas sangat tergantung
pada kemampuannya dalam membangun negara pembangunan yang efektif.
Dalam kaitan ini, Przeworski dalam (White, 1998) mengemukakan bahwa jika
demokrasi hendak dipertahankan, maka negara harus menjamin integritas
teritorial dan keamanan fisik, memelihara kondisi yang diperlukan bagi warga
negara untuk melakukan aktivitas, memobilisasi public saving,
mengoordinasikan alokasi sumber, dan distribusi pendapatan yang akurat.
Namun sebagai alternatif pemecahan persoalan pembangunan bagi
Indonesia di tengah gelombang deras globalisasi neoliberal, diperlukan
komitmen dan tindakan nyata elit politik, guna membangun Indonesia ke arah
demokrasi ekonomi yang mensejahterakan segenap warga negara.

B. Pembangunan yang Tepat bagi Indonesia


Pembangunan yang dilakukan diseluruh belahan dunia memiliki
kekhasannya masing-masing. Pembanguna tidak bisa disamakan antara Eropa,
Asia maupun Afrika, karena tiga benua tadi memiliki permasalahn yang
berbeda-beda juga. Pembangunan yang dilaksanakan mengikuti model Eropa
ternyata berhasil di Eropa Barat dan Jepang tetapi tidak berhasil sesuai
harapan di dunia ketiga. Pembangunan model Eropa tercermin dalam rencana
Marshall untuk pembangunan Eropa Barat dan Jepang yang berintikan; modal,
perencanaan dan pertumbuhan (Hettne). Tentunya pembangunan dengan
model ini tidak dapat diterapkan di negara dunia ketiga karena banyaknya
masalah yang timbul disana, seperti; kemiskinan, kesenjangan, pengangguran.
Memang bila model ini dipaksanakan pertumbuhan akan berjalan, tapi
pembangunan tidak berjalan disini.
Bagi negara di dunia ketiga, pembangunan harus bisa memberikan
jawaban pada 3 pertanyaan, yakni;
o Apa yang akan terjadi dengan kemiskinan?
o Apa yang akan terjadi dengan pengangguran?
o Apa yang akan terjadi dengan perbedaan (baik suku, agama, ras
dan antar golongan)?
Bila semua dari 3 hal tersebut telah terjawab maka pembangunan telah
terlaksana dengan baik. Namun bila baru dua atau satu pertanyaan saja yang
mampu terjawab maka akan menimbulkan efek yang aneh bagi perkembangan
negari, walaupun income perkapitanya sudah meningkat (Seers).
Bagi Indonesia (yang masih termasuk dalam negara dunia ketiga),
pembangunan adalah keharusan namun harus disertai dengan semangat dan
jiwa yang khas dan sesuai dengan nilai-nilai yang dianut bangsa. Menurut
Michael Todaro, pembangunan harus memiliki 3 komponen dasar, yakni;
- Kecukupan: kemampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan
dasar,
- Jati diri: menjadi manusia seutuhnya,
- Kebebasan dari sikap menghamba: kemampuan untuk memilih.

Maka jelaslah bahwa pembangunan fisik akan kurang optimal jika tidak
dilakukan juga pembangunan dari sisi mental. Akan terjadi ketimpangan
karakter bangsa yang dapat mempengaruhi ketahanan bangsa di masa depan.
Maka pembangunan yang paling tepat bagi Indonesi adalah pembangunan
yang bisa mengadopsi berbagai macam kondisi dan menghilangkan hambatan
dari berbagai apek bangsa seperti ekonomi, sosial budaya, kemanan, dan lain
sebagainya. Pembangunan yang seimbang antara pembangunan pada fisik,
mental dan jiwa bagi segenap anak bangsa.

C. Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan


Partisipasi masyarakat dalam pembangunan mutlak diperlukan, tanpa
adanya partisipasi masyarakat pembangunan hanyalah menjadikan masyarakat
sebagai objek semata. Salah satu kritik adalah masyarakat merasa “tidak
memiliki” dan “acuh tak acuh” terhadap program pembangunan yang ada.
Penempatan masyarakat sebagai subjek pembangunan mutlak diperlukan
sehingga masyarakat akan dapat berperan serta secara aktif mulai dari
perencanaan, pelaksanaan hingga monitoring dan evaluasi pembangunan.
Terlebih apabila kita akan melakukan pendekatan pembangunan dengan
semangat lokalitas. Masyarakat lokal menjadi bagian yang paling memahami
keadaan daerahnya tentu akan mampu memberikan masukan yang sangat
berharga. Masyarakat loka denga pengetahuan serta pengalamannya menjadi
modal yang sangat besar dalam melaksanakan pembangunan. Masyarakat
lokal-lah yang mengetahui apa permasalahan yang dihadapi serta juga potensi
yang dimiliki oleh daerahnya. Bahkan pula mereka akan mempunyai
“pengetahuan lokal” untuk mengatasi masalah yang dihadapinya tersebut.
Midgley (1986) menyatakan bahwa partisipasi bukan hanya sekedar
salah satu tujuan dari pembangunan sosial tetapi merupakan bagian yang
integral dalam proses pembangunan sosial. Partisipasi masyarakat berarti
eksistensi manusia seutuhnya. Tuntutan akan partisipasi masyarakat semakin
menggejala seiring kesadaran akan hak dan kewajiban warga negara.
Kegagalan pembangunan berperspektif modernisasi yang mengabaikan
partisipasi negara miskin (pemerintah dan masyarakat) menjadi momentum
yang berharga dalam tuntutan peningkatan partisipasi negara miskin, tentu
saja termasuk di dalamnya adalah masyarakat. Tuntutan ini semakin kuat
seiring semakin kuatnya negara menekan kebebasan masyarakat. Post-
modernisme dapat dikatakan sebagai bentuk perlawanan terhadap modernisme
yang dianggap telah banyak memberikan dampak negatif daripada positif bagi
pembangunan di banyak negara berkembang. Post-modernisme bukan hanya
bentuk perlawanan melainkan memberikan jawaban atau alternatif model yang
dirasa lebih tepat. Post-modernisme merupakan model pembangunan alternatif
yang ditawarkan oleh kalangan ilmuan sosial dan LSM. Isu strategis yang
diusung antara lain anti kapitalisme, ekologi, feminisme, demokratisasi dan
lain sebagainya. Modernisme dianggap tidak mampu membawa isu-isu
tersebut dalam proses pembangunan dan bahkan dianggap telah menghalangi
perkembangan isu strategis itu sendiri. Post-modernisme dinyatakan sebagai
model pembangunan alternatif karena memberikan penawaran konsep yang
jauh berbeda dengan modernisme. Tekanan utama yang dibawa oleh post-
modernisme terbagi dalam tiga aspek, yaitu agen pembangunan, metode dan
tujuan pembangunan itu sendiri.
Pembangunan dengan basis pertumbuhan ekonomi yang diusung oleh
paradigma modernisme memiliki banyak kekurangan dan dampak negatif.
Pendekatan ini hanya menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi dengan
menggunakan indikator GDP yang tidak mencerminkan adanya pemerataan.
Kesenjangan antar penduduk mungkin saja terjadi sehingga indikator
pertumbuhan ekonomi hanya mencerminkan keberhasilan semu saja.
Akumulasi modal yang berhasil dihimpun sebagian besar merupakan investasi
asing yang semakin memuluskan jalannya kapitalisme global.
Perkembangan paradigma pembangunan alternatif sebagai bentuk
kritik sekaligus perlawanan modernisme semakin pesat seiring dengan
semakin berkembangnya LSM baik dari kuantitas maupun kualitas. Posisi
tawar LSM yang semakin baik terhadap pemerintah memberikan kontribusi
berupa diterimanya ide-ide pembangunan yang selama ini mereka
dengungkan. Faktor yang kedua adalah meningkatnya kesadaran akan
pembangunan berkelanjutan yang peka terhadap isu ekologi. Modernisme
selama ini dianggap sebagai pembawa kerusakan lingkungan dengan
industrialisasinya. Pertumbuhan ekonomi yang meningkat ternyata diiringi
pula oleh meningkatnya kerusakan lingkungan. Kegagalan paradigma
pembangunan yang menekankan pada pertumbuhan ekonomi pada beberapa
negara berkembang, terlebih setelah terjadinya krisis moneter pada tahun
1990-an.
Paradigma pembangunan alternatif memiliki banyak varian dan model
yang dikembangkan oleh tiap-tiap ahli maupun LSM. Turunan dari model
pembangunan alternatif ini semakin beragam apabila dihadapkan pada
permasalahan lokalitas yang berbeda di tiap wilayah. Kelebihan dari
paradigma pembangunan alternatif ini adalah sifatnya yang mampu
menyesuaikan dengan kondisi lokalitas yang ada. Konsekuensinya adalah
bermunculannya model-model pembangunan dalam skala mikro yang sangat
sulit untuk diangkat dalam tataran makro.
Paradigma pembangunan alternatif dapat dikatakan sebagai sebuah
proses transformasi sosial dengan sasaran peningkatan kapasitas kelembagaan
dan pembangunan manusia. Sasaran inilah yang bertolak belakang dengan
pembangunan berbasiskan pertumbuhan. Perbedaan mendasar lainnya adalah
pada sumberdaya yang digunakan dalam proses pelaksanaannya.
Pembangunan dengan konsep pertumbuhan mengedepankan arti penting dari
modal, teknologi, perdagangan, investasi asing serta ilmu pengetahuan
modern yang biasanya berkembang dari luar komunitas.
Post-modernisme berkembang dari realitas sederhana, dimana untuk
mencapai gaya hidup masyarakat menengah sebagai gaya hidup dunia
sangatlah tidak mungkin. Paradigma ini merupakan akumulasi dari penolakan
pembangunan yang semakin menguat pada tahun 1980-an. Post-modernisme
diartikan sebagai penolakan terhadap upaya homogenisasi yang merupakan
dampak dari pembangunan ala barat. Semua tatanan sosial, budaya, selera dan
gaya hidup seluruh manusia di dunia ini akan dibawa pada sebuah nilai
tunggal. Proses ini sebenarnya telah sedikit banyak menunjukkan
keberhasilannya saat ini. Globalisasi yang dapat diartikan sebagai bentuk
negara tanpa batas sehingga semua informasi dapat mengalir melintasi ruang
dan waktu dengan begitu mudahnya.
Pembangunan ala barat dapat berkembang dengan adanya dukungan
dari perusahaan multi nasional yang menghegemoni hingga ke seluruh
pelosok negeri dengan model kapitalismenya. Homogenisasi ini membawa
dampak pada perubahan seluruh aspek pada tiap sistem sosial yang ada. Post-
modernisme dapat dikatakan sebagai bentuk neo-tradisionalisme yang
membawa nilai-nilai budaya tradisional untuk “melawan” pembangunan ala
barat.
BAB III
PENUTUP

Pembangunan adalah suatu upaya perubahan yang dilandaskan pada suatu


pilihan pandangan tertentu yang tidak bebas dari pengalaman (sejarah), realitas
keadaan yang sedang dihadapi, serta kepentingan pihak-pihak yang membuat
keputusan pembangunan. Dimanapun, pembangunan mempunyai hubungan
dengan kemiskinan begitu pembangunan tersebut diimplementasikan. Bahkan
pembangunan yang tidak memperhitungkan kondisi masyarakat yang dibangun
akan membawa dampak perubahan sosial yang ekstrem seperti ketertinggalan
kaum miskin karena keterbatasan akses non-ekonomis, akses politis, sosial, dan
sebagainya.
Dari beberapa pendapat mengenai pembangunan, pendapat dari Todaro
tentang tujuan pembangunan saya anggap paling tepat dan relevan bagi bangsa
Indonesia. Menurut Todaro, pembangunan bertujuan untuk:
1. Peningkatan ketersediaan serta perluasan distribusi berbagai
macam barang kebutuhan hidup yang poko.
2. Peningkatan standar hidup yang tidak hanya berupa peningkatan
pendapatan tetapi juga penyediaan lapangan kerja, perbaikan kualitas
pendidikan, peningkatan perhatian pada nilai-nilai kultural dan
kemanusiaan, untuk memperbaiki kesejahteraan dan menumbuhkan jati diri.
3. Perluasan pilihan-pilihan ekonomis dan sosial, untuk
membebaskan dari sikap menghamba dan ketergantungan (baik kepada
orang maupun kepada negara bangsa lain atau kekuatan yang dapat
merendahkan nilai-nilai kemanusiaan).
Pembangunan di Indonesia adalah pembangunan yang bisa mengadopsi
berbagai macam kondisi dan menghilangkan hambatan dari berbagai apek bangsa
seperti ekonomi, sosial budaya, kemanan, dan lain sebagainya. Pembangunan
yang seimbang antara pembangunan pada fisik, mental dan jiwa bagi segenap
anak bangsa.