Anda di halaman 1dari 53

PENGETAHUAN BAHAN MAKANAN TERNAK

1. Pengantar

Pada modul ini dikemukakan tentang pengetahuan tentang bahan makanan ternak, dimana aspek pengetahuan ini akan sangat penting bagi mahasiswa dan praktisi peternakan dalam hal efisiensi dan mempertahankan produktivitas ternak yang dipelihara. Untuk mengarah pada hal tersebut, maka pada modul ini akan dibahas tentang : (1) Komponen penyusun bahan makanan ternak (BMT); (2) Klasifikasi/penggolongan bahan makanan ternak; (3) Pengenalan BMT jenis hijauan; (4) BMT sumber protein dan sumber energi; (5) Bahan Baku Sumber Mineral dan Pelengkap/Tambahan. Untuk melengkapinya, maka dalam modul ini ditambahkan materi Cara Memilih Bahan Pakan yang Murah dan Prinsip Formulasi Ransum. Aspek pengetahuan bahan makanan ternak yang akan disampaikan merupakan dasar pedoman bagi praktisi peternakan di lapang, baik bekerja di perusahaan maupun bekerja secara mandiri.

2. Tujuan Instruksional Umum

Dalam modul ini anda dibantu dalam memahami berbagai jenis bahan makanan ternak dalam hal ini penggolongannya baik pada ternak Ruminansia dan Non Ruminansia baik yang berasal dari hijauan, biji-bijian, limbah industri, limbah pertanian, hijauan segar dan yang diawetkan.

3. Tujuan Instruksional Khusus

Setelah mempelajari modul ini anda diharapkan dapat :

a. Menjelaskan komponen penyusun bahan makanan ternak.

b. Menjelaskan klasifikasi/penggolongan bahan makanan ternak.

c. Menjelaskan bahan makanan ternak jenis hijauan.

d. Menjelaskan bahan makanan ternak sumber protein dan sumber energi.

e. Menjelaskan bahan baku sumber mineral dan pelengkap/tambahan

f. Menjelaskan Cara Memilih Bahan Pakan yang Murah dan Prinsip Formulasi Ransum

4. Kegiatan Belajar

4.1 Kegiatan Belajar 1

KOMPONEN PENYUSUN BAHAN MAKANAN TERNAK

4.1.1 Uraian dan Contoh

Zat makanan atau zat nutrisi adalah penyusun bahan pakan yang

umumnya mempunyai komposisi kimia yang serupa untuk keperluan hidup.

Sesuai dengan komposisi kimia utama tubuh ternak, maka suatu bahan yang akan

digunakan sebagai bahan pakan memiliki salah satu atau seluruh fraksi seperti

dibawah ini.

AIR
AIR
PAKAN
PAKAN

- Protein

- Lemak

- Karbohidrat

- Vitamin

ORGANIK :PAKAN - Protein - Lemak - Karbohidrat - Vitamin BAHAN KERING AN-ORGANIK : Mineral Air -

BAHAN KERING

BAHAN

KERING

BAHAN KERING
- Karbohidrat - Vitamin ORGANIK : BAHAN KERING AN-ORGANIK : Mineral Air - sebagian tersedia dalam

AN-ORGANIK : Mineral- Karbohidrat - Vitamin ORGANIK : BAHAN KERING Air - sebagian tersedia dalam bahan pakan (air

Air

- sebagian tersedia dalam bahan pakan (air metabolis)

- diberikan terpisah sebagai air minum

- harus bebas dari pengaruh garam

Karbohidrat

- dibutuhkan untuk energi, panas tubuh, sintesis lemak

Lemak

- untuk meningkatkan ketersediaan energi dalam tubuh

Protein

- untuk sintesis jaringan tubuh, pertumbuhan dan perbaikan jaringan rusak

- produksi daging, telur, susu

Mineral

- untuk perkembangan jaringan tulang

- untuk maintenance

- sangat penting untuk fisiologis tubuh

Vitamin

- dibutuhkan dalam jumlah kecil

- berfungsi sebagai : ko-enzym dan regulator metabolis

Setelah dikonsumsi oleh ternak, setiap unsur nutrisi berperan sesuai dengan fungsinya terhadap tubuh ternak untuk mempertahankan hidup dan berproduksi secara normal. Zat nutrisi yang perlu diperhatikan pada ternak adalah : bahan kering (BK), energi, protein, mineral, dan vitamin. Unsur-unsur nutrisi tersebut dapat diketahui melalui proses analisis terhadap bahan pakan yang dilakukan di laboratorium.

4.1.2 Analisis Kimia

Komponen penyusun bahan makanan dapat dipisahkan dan ditentukan kandungannya berdasarkan analisis laboratorium. Ada 2 metode yang banyak digunakan di laboratorium, yaitu : analisis proksimat dan analisis serat. 4.1.2.1 Analisis Proksimat Metode ini dikembangkan oleh Henneberg dan Stokman pada tahun 1965 di Weende Experiment Station, sehingga metode ini dikenal juga dengan nama “Analisis Proksimat Weende”. Analisis ini didasarkan atas komposisi kimia dari bahan makanan dengan skema sebagai berikut :

Bahan Makanan

Pemanasan 105 0 C

Bahan Kering

berikut : Bahan Makanan Pemanasan 105 0 C Bahan Kering Kjehdahl Eter Ekstraksi Lemak Nitrogen Residu
Kjehdahl
Kjehdahl

Eter Ekstraksi

Lemak

Nitrogen

Residu

Asam

Basa

Abu dan Serat Kasar

Eter Ekstraksi Lemak Nitrogen Residu Asam Basa Abu dan Serat Kasar Pembakaran Abu Serat Kasar MK
Eter Ekstraksi Lemak Nitrogen Residu Asam Basa Abu dan Serat Kasar Pembakaran Abu Serat Kasar MK

Pembakaran

Abu

Serat Kasar

Bahan Ekstrak Tiada N (BETN) dapat ditentukan dari bahan kering yang dikurangi protein, lemak, serat kasar, dan abu. Analisis proksimat terhadap bahan pakan akan menghasilkan data-data tentang nutrisi yang terkandung dalam bahan pakan tersebut dan berapa besar konsentrasinya. Data-data ini akan membantu kita mempersiapkan dan mengelola pakan ternak, terutama dalam meramu bahan pakan yang dibutuhkan oleh ternak sesuai dengan tingkat kebutuhannya.

4.1.2.2 Analisis Serat Van Soest dan Moore menguraikan lebih lanjut komponene dinding sel menjadi serat-serat sehingga analisis tersebut lebih dikenal dengan “Analisis Serat Van Soest”. Adapun bagan analisis tersebut adalah sebagai berikut :

Bahan Makanan Detergen netral NDS Neutral Detergent Soluble Atau Isi Sel NDF Neutral Detergent Fiber
Bahan Makanan
Detergen
netral
NDS
Neutral Detergent Soluble
Atau Isi Sel
NDF
Neutral Detergent Fiber
Atau Dinding Sel
Detergen
Asam
ADS
Acid Detergen Soluble
Isi : Hemiselulose
ADF
Acid Detergen Insoluble Fiber
Isi : Lignoselulose
(dinding sel yang mengandung
nitrogen)
72% H 2 SO 4
Soluble
Isi : Selulose
Acid Insoluble
Isi : lignin

Selanjutnya secara umum komponen-komponen penyusun bahan makanan ternak

melalui analisis proksimat dan analisis Van Soest dapat digambarkan sebagai

berikut :

FRAKSI-FRAKSI BAHAN KERING MAKANAN TERNAK

Komponen Analisis Proksimat Fraksi Kimia Fraksi Van Soest Abu-1 Abu Larut dalam Isi Sel detergen
Komponen Analisis
Proksimat
Fraksi Kimia
Fraksi Van Soest
Abu-1
Abu
Larut
dalam
Isi Sel
detergen
Neutral Detergen Soluble
Ekstrak Eter
Trigliserida
Pigmen, dll.
Bahan Ekstrak Tiada
Gula
Nitorgen
Pati
Pektin
Hemiselulose
Acid Detergen Soluble
OH-soluble
Lignin
Serat Kasar
OH-insoluble
Selulose
Acid Detergen Fiber
Abu-2
Abu
tidak
larut
dalam
Dinding sel
detergen
Neutral Detergen Soluble

Keterangan :

Abu-1 dan Abu-2 = Total abu

4.1.2

Latihan 1

a.

Sebutkan komponen utama penyusun bahan makanan ternak !

b.

Bagaimana metode untuk mendapatkan data-data kandungan bahan

makanan ternak yang akurat ?

c.

Bagaimana fraksi BETN dapat diketahui ?

d.

Sebutkan hasil analisis kimia bahan makanan ternak menurut Van Soest !

4.1.3

Petunjuk Latihan 1

1.

Komponen penyusun bahan makanan ternak terdiri dari air dan bahan

kering.

2.

Data-data kandungan bahan makanan ternak dapat diperoleh melalui :

analisis laboratorium.

3.

BETN = Bahan kering – (protein, lemak, serat kasar, abu)

4.

Kandungan hemiselulose, selulose dan lignin.

4.1.4

Rangkuman

1. Bahan makanan ternak terdiri dari 2 komponen utama yaitu : air dan bahan

kering. Komponen yang menjadi bagian bahan kering terdiri dari bahan

organik (protein, lemak, karbohidrat, vitamin) dan bahan an-organik (mineral)

2. Data komposisi zat makanan penyusun suatu bahan dapat lebih akurat

diketahui melalui proses analisis kimia di laboratorium. Karena hasil analisa

merupakan kondisi yang sesuai dengan bahan pada saat tersebut.

3. Melalui proses analisis proksimat dapat dihasilkan data kandungan protein,

lemak, serat dan abu. Berdasar hasil tersebut dapat diketahui kandungan

BETN dengan perhitunagn sebagai berikut BETN = Bahan kering – (protein,

lemak, serat kasar, abu)

4. Melalui rangkain proses analisis Van Soest dapat diketahu fraksi bahan yang

memisahkan antara komponen dinding dan isi sel. Komponen dinding sel

merupakan bagian sel tanaman yang mempunyai fraksi yang dapat dicerna

oleh ternak yaitu selulose dan hemiselulose, sedangkan komponen lignin

terpisah sebagai bagian yang tidak dapat dicerna mikroba rumen.

4.1.5 Tes Formatif

Petunjuk : Lingkari B jika pernyataan benar dan S jika pernyataan salah.

1. – S

B

Air bukan merupakan zat penyusun bahan makanan ternak.

 

2. – S

B

Kandungan zat kimia bahan makanan ternak sangat berhubungan dengan kualitas dan penggunaannya dalam pakan.

3. – S

B

Untuk mengetahui kandungan suatu bahan hanya dapat dilakukan dengan cara analisa laboratorium

4. – S

B

Salah satu tujuan analisa bahan adalah untuk mengetahui karakteristik bahan dengan lebih baik

5. – S

B

Selain kandungan zat makanan, kualitas bahan makanan ternak juga dipengaruhi oleh batasan penggunaan dalam pakan.

6. – S

B

Kandungan

anti

nutrisi

dapat

dikurangi

pengaruhnya

dengan

 

melakukan prosesing terhadap bahan.

7. – S

B

Kualitas dan kuantitas suatu bahan juga sangat dipengaruhi oleh faktor musim

8. – S

B

Pakan yang diberikan selama 24 jam dengan frekuensi pemberian tertentu merupakan pengertian ransum

9. – S

B

Pertukaran nutrisi terjadi setelah bahan masuk dalam tubuh ternak

10. – S

B

Bahan pakan adalah segala bahan yang dapat dimakan, disukai, dapat dicerna sebagian atau seluruhnya, dan bermanfaat bagi ternak.

4.1.6 Umpan Balik dan Tidak Lanjut

Cocokkanlah jawaban anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang

terdapat di bagian belakang dari modul ini. Hitunglah jawaban anda yang benar

dan kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan

anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1 ini.

Rumus :

Jumlah jawaban anda yang benar

Tingkat Penguasaan = ------------------------------------------- x 100 %

10

Arti tingkat penguasaan yang anda capai :

90% - 100% = baik sekali

80%

-

89%

= baik

70%

-

79%

= sedang

<

69%

= kurang

Jika tingkat penguasaan anda mencapai 80% ke atas, anda dapat

meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Tetapi bila tingkat penguasaan anda

masih di bawah 80%, anda harus mengulangi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian

yang belum anda kuasai.

4.2 Kegiatan Belajar 2 KLASIFIKASI/PENGGOLONGAN BAHAN MAKANAN TERNAK

4.2.1 Uraian dan Contoh Bahan makanan ternak merupakan penyusun ransum untuk memenuhi kebutuhan ternak akan zat-zat makanan untuk kelangsungan hidup, pertumbuhan,

aktivitas, reproduksi maupun produksi sesuai dengan tujuan pemeliharaan. Bahan makanan ternak dapat diklasifikasikan atas dasar :

a. Asal bahan

b. Karakteristik Fisik, Kimia dan penggunaannya

4.2.1.1 Klasifikasi Baham Makanan Ternak berdasarkan asalnya Secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar

yaitu : bahan makanan asal tanaman dan asal hewan, disamping ada kelompok

makanan

kelompok tersebut.

I. Bahan Makanan Ternak Asal Tanaman

tambahan dan stimulator pertumbuhan sebagai kelengkapan kedua

a. Hijauan segar

b. Hijauan kering

c. Hijauan awetan

d. Jerami

e. Umbi-umbian

f. Butir-butiran/biji-bijian: padi, legiminosa

g. Kulit butir-butiran dan biji-bijian

h. Hasil ikutan hasil pertanian

i. Hasil ikutan industri minyak tanaman

j. Hasil ikutan industri lain

II. Bahan Makanan Ternak Asal Hewan

a. Asal ikan

b. Asal ternak/hewan lain

III.

Makanan tambahan

IV. Stimulator pertumbuhan dan produksi

4.2.1.2 Klasifikasi Baham Makanan Ternak berdasarkan karakteristik

kimia, fisik dan penggunaannya Pengelompokan bahan makanan ini didasarkan atas kegunaannya, karena bahan tersebut mengandung komponen penyusun yang lebih menonjol disamping

karakteristik fisiknya. Klasifikasi ini lebih dikenal dengan klasifikasi atau kelas- kelas Bahan Makanan Ternak Internasional. Adapun pengelompokannya sebagai berikut :

1. Hijau kering dan jerami : yang termasuk dalam kelas ini adalah semua hay, jerami kering, dry fodder ( bagian aerial dari tanaman jagung atau sorghum ), dry stover ( bagian aerial tanpa biji dari tanaman jagung atau sorghum ), sekam, kulit biji polongan, dan semua bahan pakan kering yang mengandung lebih dari 35 % dinding sel.

2. Pasture ( hijauan ), ramban : yang termasuk dalam kelas ini adalah semua tanaman yang diberikan secara segar sebagai hijaun atau hijauan segar.

3. Silase : yang termasuk kelas ini adalah semua pakan hijauan yang dipotong-potong atau dicacah-cacah dan difermentasikan , tetapi tidak termasuk silase ikan , biji-bijian, akar-akaran dan umbi-umbian.

4. Sumber energi : yang termasuk kelas ini adalah semua biji-bijian , hasil ikutannya,umbi-umbian kacang-kacangan,buah-buahan,akar-akaran,yang mengandung protein kasar kurang dari 20 % dan serat kasar kurang dari 18 % atau dinding sel kurang dari 35%

5. Sumber protein : yang termasuk kelas ini adalah semua bahan pakan yang mempunyai kandungan protein 20 % atau lebih dan dapat berasal dari tanaman , hewan, ikan, susu.

6. Sumber mineral

7. Sumber vitamin

8. Additive : yaitu zat-zat tertentu yang ditambahkan dalam ransum seperti antibiotika , hormon,bahan-bahan pewarna dan pengharum dan obat-

obatan.

4.2.1.3 Penggolongan Bahan Makanan Ternak khusus Ternak Ruminansia Bahan pakan untuk ternak ruminansia dibagi atas dua golongan yaitu bahan pakan kasar dan bahan dasar penguat. Namun dalam praktek di lapangan, kedua bahan tersebut membutuhkan bahan tambahan untuk melengkapi kebutuhan ternak.

a. Bahan Pakan Kasar (Serat Kasar) Bahan ini merupakan pakan utama bagi ternak ruminansia. Kita mengenal pakan kasar ini dalam bentuk pakan hijauan. Pakan hijauan ialah semua bahan pakan yang berasal dari tanaman ataupun tumbuhan berupa daun-daunan, terkadang termasuk batang, ranting, dan bunga. Yang termasuk kelompok pakan hijauan ialah bangsa rumput (gramineae), kacang-kacangan (legume), daun- daunan, dan limbah pertanian. Semuanya bisa diberikan dalam dua bentuk,

yakni hijauan segar atau kering. Yang termasuk hijauan segar adalah hijauan yang diberikan dalam keadaan masih segar, ataupun berupa silase. Sedangkan hijauan kering bisa berupa hay (hijauan yang sengaja dikeringkan) ataupun jerami kering (sisa hasil ikutan pertanian yang dikeringkan). Hijauan sebagai bahan pakan ternak sapi di Indonesia memegang peranan yang amat penting karena hijauan mengandung hampir semua zat yang diperlukan hewan. Bahan ini diberikan dalam jumlah yang besar sesuai kebutuhan ternak. Perkembangan teknologi pakan ternak ruminansia menunjukkan banyak alternatif bahan makanan ternak sumber serat kasar, yaitu :

a. Rumput-rumputan : antara lain rumput lapangan, rumput gajah, rumput benggala, Brachiaria,dan lain-lainnya.

b. Leguminosa antara lain : daun turi, dan lamtoro, daun kaliandra, daun gliricidia, stylosanthes, centro dan lain-lainnya.

c. Daun-daunnan ( rambanan ) antara lain : daun nangka, daun pisang, daun waru dan sebagainya .

d. Limbah pertanian : jerami padi, jerami jagung, jerami kacang tanah, jerami kacang kedele, daun ubi jalar, daun ketela pohon, pucuk tebu dan lain-lain. Bahan pakan kasar ini umumnya mengandung serat kasar ( selulosa dan hemiselulosa ) yang tinggi. Ruminansia dapat menggunakan selulosa dan polimer-polimer dari tanam-tanaman, yang tidak dapat dicerna oleh enzim-enzim yang dihasilkan tubuh hewan, sebagai sumber energi, karena adanya proses fermentasi oleh mikroba diperut depan yaitu dirumen, retikulum dan umasum . kurang lebih 90 % pencernaan selulosa terjadi diperut depan. Selain sebagai sumber energi, pakan kasar merupakan stimulus fisik bagi perkembangan kapasitas rumen. Sedangkan Volatyl Fatty Acids (VFA) yang merupakan hasil fermentasi selulosa di dalam rumen, merupakan stimulus kimia bagi perkembangan papila rumen.

b. Bahan pakan penguat (pakan konsentrat)

Pakan penguat adalah pakan yang berkonsentrasi tinggi dengan kadar serat kasar yang relatif rendah dan mudah dicerna. Fungsinya adalah meningkatkan dan memperkaya (pelengkap) nilai gizi pada bahan pakan lain (hijauan) yang nilai gizinya rendah. Bahan pakan penguat merupakan pakan pelengkap bagi ruminansia, sebab tidak semua zat-zat makanan dapat dipenuhi oleh rumput atau hijauan. Sehingga untuk menutup kekurangan tersebut perlu ditambahkan pakan penguat yang tersusun dari berbagai bahan pakan biji-bijian dan hasil ikutan pengolahan hasil pertanian maupun industri. Bahan pakan penguat ini mengandung serat kasar rendah , kandungan proteinnya relatif tinggi dan mudah dicerna bila dibandingkan dengan hijauan maupun rumput.pakan penguat dibedakan menjadi konsentrat sumber energi dan konsentrat sumber protein.

Konsentrat sumber energi yaitu bahan-bahan yang mengandung protein kasar kurang dari 20 % dan mengandung serat kasar kurang dari 18%. sebagai contoh adalah bekatul, dedak, pollard, onggok, empok, molases, jagung, shorgum dan sebagainya. Konsentrat sumber protein yaitu bahan-bahan yang mengandung

protein kasar 20 % atau lebih. Contoh : bungkil kedele, bungkil kelapa , bungkil kapuk, bungkil kacang, tepung ikan dan lain-lain. Suatu contoh pada ternak sapi yang sedang tumbuh ataupun yang sedang dalam periode penggemukan harus diberikan pakan penguat yang cukup, oleh karena itu pada sistem dry lot fattening diberikan justru sebagian besar pakan berupa pakan penguat atau konsentrat.

c. Pakan tambahan (pakan additive) Pakan tambahan bagi ternak sapi biasanya berupa : vitamin, mineral, dan urea (Nutrient additive); antibiotika, hormon, enzim, dan probiotik (Non Nutrient additive). Pakan tambahan ini seringkali digunakan pada sapi yang dipelihara secara intensif, yang hidupnya berada di dalam kandang terus menerus. Vitamin yang dibutuhkan ternak sapi adalah vitamin A (karotina) dan vitamin D. Sedangkan mineral sebagai bahan pakan tambahan dibutuhkan untuk berproduksi, terutama Ca dan P. Tepung tulang (sumber Ca dan P), kapur biasa atau kapur tembok (CaCO 3 ) (sumber Ca), dicalcium phosphat / kapur makan (sumber Ca dan P) bisa diberikan kepada sapi. Pada umumnya pakan tambahan vitamin dan mineral berupa feed–supplement / vit-min mix. Urea sebagai bahan pakan tambahan hanya bisa diberikan kepada sapi dalam jumlah yang sangat terbatas, yakni 1-2 % (maksimal) dari BK ransum. Jika terlalu banyak, sapi bisa keracunan. Urea mengandung 45% N. Penggunaannya harus diimbangi ketersediaan bahan pakan yang kaya karbohidrat (bekatul, tetes, gaplek). Penggunaan antibiotika (mis : chlortetracyclin, oxytetracyclin, penicilin) dalam usaha peternakan sudah cukup meluas. Antibiotika pada dasarnya bukanlah makanan dan efek terhadap makanan adalah sekunder. Mekanisme kerja antibiotika cukup menguntungkan bila diberikan/ditambahkan dalam makanan sapi. Dalam upaya untuk mempercepat produksi daging sapi, juga banyak digunakan hormon pertumbuhan dalam penggemukan sapi. Hormon sintetis stilbestrol dalam aplikasinya memberikan efisiensi pakan yang lebih baik. Pada saat ini juga telah berkembang pemanfaatan probiotik pada ternak ruminansia.

Probiotik merupakan alternatif dalam metode manipulasi fungsi saluran pencernaan. Aplikasi dilapang membutuhkan pertimbangan ekonomis mengingat nilai manfaat yang belum teruji secara luas.

4.2.2 Latihan 2

a. Berdasar apa bahan makanan ternak dapat diklasifikasikan ?

b. Meskipun terdiri dari dua kelompok besar, bahan makanan ternak dapat dikelompokkan menjadi 4 golongan, sebutkan !!

c. Bagaimana menentukan suatu bahan termasuk dalam kelompok sumber energi dan protein ?

4.2.3 Petunjuk Latihan 2

a. Klasifikasi bahan makanan ternak berdasar asal dan karakteristiknya.

b. Asal tanaman, hewan, tambahan, dan stimulator.

c. Analisa kandungan protein dan serat kasar merupakan suatu bahan dapat digunakan sebagai dasar suatu bahan termasuk dalam sumber energi atau protein

4.2.4 Rangkuman

1. Dua kelompok besar yaitu : bahan makanan asal tanaman dan asal hewan, disamping ada kelompok makanan dan stimulator pertumbuhan sebagai kelengkapan kedua kelompok tersebut. Bahan Makanan Ternak Asal Tanaman : Hijauan segar, Hijauan kering, Hijauan awetan, Jerami, Umbi-umbian, Butir- butiran/biji-bijian : padi, legiminosa, Kulit butir-butiran dan biji-bijian, Hasil ikutan hasil pertanian, Hasil ikutan industri minyak tanaman, Hasil ikutan industri lain. Bahan Makanan Ternak Asal Hewan : Asal ikan dan Asal ternak/hewan lain. Makanan tambahan dan Stimulator pertumbuhan dan produksi 2. Kelas-kelas Bahan Makanan Ternak Internasional. Adapun pengelompokannya sebagai berikut :

a. Hijau kering dan jerami

b. Pasture ( hijauan )

c. Silase

d. Sumber energi

e. Sumber protein

f. Sumber mineral

g. Sumber vitamin

h. Additive

3. Bahan pakan untuk ternak ruminansia dibagi atas dua golongan yaitu bahan pakan kasar dan bahan dasar penguat. Namun dalam praktek di lapangan, kedua bahan tersebut membutuhkan bahan tambahan untuk melengkapi kebutuhan ternak.

a. Bahan Pakan Kasar (Serat Kasar) Bahan ini merupakan pakan utama bagi ternak ruminansia. Kita mengenal pakan kasar ini dalam bentuk pakan hijauan. Pakan hijauan ialah semua bahan pakan yang berasal dari tanaman ataupun tumbuhan berupa daun- daunan, terkadang termasuk batang, ranting, dan bunga. Perkembangan teknologi pakan ternak ruminansia menunjukkan banyak alternatif bahan makanan ternak sumber serat kasar, yaitu :

a. Rumput-rumputan : antara lain rumput lapangan, rumput gajah, rumput benggala, Brachiaria,dan lain-lainnya.

b. Leguminosa antara lain : daun turi, dan lamtoro, daun kaliandra, daun gliricidia, stylosanthes, centro dan lain-lainnya.

c. Daun-daunnan (rambanan) antara lain : daun nangka, daun pisang, daun waru dan sebagainya .

d. Limbah pertanian : jerami padi, jerami jagung, jerami kacang

tanah,jerami kacang kedele, daun ubi jalar, daun ketela pohon, pucuk tebu dan lain-lain.

b. Bahan pakan penguat (pakan konsentrat) Pakan penguat adalah pakan yang berkonsentrasi tinggi dengan kadar serat kasar yang relatif rendah dan mudah dicerna. Konsentrat sumber energi yaitu bahan-bahan yang mengandung protein kasar kurang dari 20

% dan mengandung serat kasar kurang dari 18%. sebagai contoh adalah

bekatul, dedak, pollard, onggok, empok, molases, jagung, shorgum dan

sebagainya. Konsentrat sumber protein yaitu bahan-bahan yang

mengandung protein kasar 20 % atau lebih. Contoh : bungkil kedele,

bungkil kelapa , bungkil kapuk, bungkil kacang, tepung ikan dan lain-lain.

c. Pakan tambahan (pakan additive)

Pakan tambahan bagi ternak sapi biasanya berupa : vitamin, mineral, dan

urea (Nutrient additive); antibiotika, hormon, enzim, dan probiotik (Non

Nutrient additive).

4.2.5 Tes Formatif 2

Petunjuk : Lingkari B jika pernyataan benar dan S jika pernyataan salah.

1. – S

B

Dalam pengetahuan bahan makanan ternak tidak perlu adanya klasifikasi makanan tambahan dan stimulir pertumbuhan

2. – S

B

Silase merupakan jenis bahan makanan yang tidak tidak termasuk dalam klasifikasi hijauan

3. – S

B

Yang termasuk kelas Sumber protein adalah semua bahan pakan yang mempunyai kandungan protein 20 % atau lebih dan dapat berasal dari tanaman , hewan, ikan, susu.

4. – S

B

Pakan hijauan ialah semua bahan pakan yang berasal dari tanaman berupa daun-daunan, terkadang termasuk batang, ranting, dan bunga.

5. – S

B

Konsentrat

untuk

ternak

ruminansia

mengandung

bahan

sumber

energi saja.

6. – S

B

Fungsinya pakan penguat pada ternak ruminansia adalah meningkatkan dan memperkaya nilai gizi pada bahan pakan hijauan.

7. – S

B

Pada umumnya pakan tambahan vitamin dan mineral berupa feed– supplement / vit-min mix.

8. – S

B

Antibiotika pada dasarnya bukanlah makanan dan efek terhadap makanan adalah sekunder.

9. – S

B

Jerami padi, jerami jagung, jerami kacang tanah, jerami kacang kedele, daun ubi jalar, daun ketela pohon, pucuk tebu termasuk kelas limbah pertanian

10. – S

B

Bahan pakan additive dipergunakan untuk melengkapi kekurangan kandungan zat makanan dalam ransum

4.2.6. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Cocokkan jawaban anda dengan Kunci Jawaban Test Formatif 2 yang

terdapat di bagian belakang modul ini. Hitunglah jawaban anda yang benar dan

kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan anda

terhadap materi Kegiatan Belajar 2 ini.

Rumus :

Jumlah Jawaban Anda yang benar

Tingkat Penguasaan = ----------------------------------------------- x 100%

10

Arti tingkat penguasaan yang Anda capai :

90% - 100%

=

baik sekali

80% -

89%

=

baik

70% -

79%

=

sedang

< 69%

=

kurang

Bila tingkat penguasaan Anda mencapai 80% ke atas, Anda dapat

meneruskan dengan Kegiatan Belajar 3. Tetapi bila tingkat penguasaan Anda

masih di bawah 80%, maka Anda harus mengulangi Kegiatan Belajar 2, terutama

bagian yang belum Anda kuasai.

4.3 Kegiatan Belajar 3 BAHAN MAKANAN TERNAK JENIS HIJAUAN

4.3.1 Uraian dan Contoh Yang dimaksud dengan hijauan makanan ternak adalah bahan makanan asal tanaman dalam keadaan segar, kering atau yang diawetkan yang digunakan sebagai makanan ternak, tanpa mengganggu kesehatan ternak. Penyediaan pakan hijauan bagi ternak ruminansia merupakan suatu faktor

penting bagi keberhasilan dalam pemeliharaan. Untuk itu dibutuhkan kualitas hijauan yang dapat memenuhi kebutuhan ternak. Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam pengelolaan tanaman makanan ternak adalah :

1. Pengolahan lahan

2. Penyediaan bibit dan cara penanamannya

3. Pemeliharaan, meliputi : penyulaman, pengairan, penyiangan, pemupukan dan pemberantasan hama penyakit.

4. Pemungutan hasil panen, meliputi : pengukuran produksi dan cara

pemanenannya. Hijauan makanan ternak, biasa diberikan dalam keadaan segar dengan kualitas yang memadai, merupakan makanan pokok ternak ruminansia dan non

ruminansia herbivora. Dalam keadaan berlebihan hijauan segar dapat dikeringkan atau diawetkan, sehingga masih dapat digunakan sebagai persediaan bahan makanan ternak, khususnya padawa waktu terbatasnya persediaan hijauan segar. Secara umum, hijauan mempunyai karakteristik sebagai berikut :

a. Sifatnya bulky, yaitu mempunyai berat rendah per unit volume.

b. Serat kasar tinggi ( > 18%)

c. Energi rendah bila dibandingkan dengan makanan penguat.

d. Mineral, umumnya kandungan kalsium, potasium dan trace mineral lebih tinggi dibanding konsentrat, tetapikandungan fosfor rendah.

e. Vitamin, kandungan vitamin yang larut lemak tinggi, terutama untuk leguminosa kaya akan vitamin B.

f.

Protein, bervariasi. Leguminosa dapat mencapai 20% atau lebih, sebaliknya jerami hanya mengandung 3-4 % protein kasar.

4.3.1.1 Pengaruh Umur Pemotongan terhadap Kualitas Hijauan

Salah satu faktor penentu kualitas hijauan namun seringkali kurang mendapat perhatian adalah proses pemanenan. Proses pemanenan pada hijauan tergantung pada jenis hijauan yang ditanam dan tentunya sistem atau manajemen dalam pengelolaan hijauan. Berdasarkan pola pertumbuhan yang dimiliki masing- masing species, maka faktor umur tanaman merupakan faktor penting yang harus diperhatikan dalam menentukan jadwal pemotongan. Tingkat kedewasaan (kematangan atau umur) adalah salah satu faktor yang penting dan mempengaruhi nilai gizi hijauan makanan ternak. Ada suatu tingkat kedewasaan optimal dari hijauan makanan ternak, dimana lewat batas tersebut, komposisi kimia , perbandingan daun dan batang atau banyaknya biji (butiran), sangat besar pengaruhnya terhadap nilai gizi. Proses pemanenan pada hijauan tergantung pada jenis hijauan yang ditanam dan tentunya sistem atau manajemen dalam pengelolaan hijauan. Berdasarkan pola pertumbuhan yang dimiliki masing-masing species, maka faktor umur tanaman merupakan faktor penting yang harus diperhatikan dalam menentukan jadwal pemotongan. Beberapa tanaman hijauan dipotong atau dipanen beberapa kali dalam setahun. Setiap pemotongan mempunyai zat gizi yang khusus, disamping ciri-ciri fisiknya. Tahap pertumbuhan dan umur tanaman pada masa perkembangan tanaman merupakan faktor yang penting dalam menentukan produsi dan kualitas hijauan dan dalam penerapan umur pemotongan maka kombinasi kedewasaan (maturity) dan umur tanaman merupakan petunjuk utama. Beberapa faktor pendukung lain adalah : kondisi tanah, suhu, intensitas cahaya, panjang hari, air dan manajemen. Tingkat kedewasaan didasarkan atas pertumbuhan atau pertumbuhan kembali (re- growth) dan selanjutnya harus dipertimbangkan dalam batas-batas pemotongan, maka pemotongan hijauan makanan ternak seringkali diikuti dengan data tingkat kedewasaan.

Pola pertumbuhan tanaman merupakan grafik berbentuk sigmoid, dengan pola yang ada akan dapat diketahui waktu yang tepat dalam pemotongan. semakin tua umur tanaman maka produksi (kuantitas) akan semakin meningkat. Dengan demikian dapat diketahui bahwa umur pemotongan mempengaruhi produksi hijauan, dimana kedua aspek tersebut merupakan interaksi antara umur (umur dan interval pemotongan) dan produksi (kuantitas dan kualitas). Hijauan yang dipotong pada umur muda, maka hasil yang diperoleh tidak sebesar jika hijauan dipotong pada umur tua. Meskipun demikian, pemotongan pada umur tua mempunyai konsekuensi terhadap kualitas berupa penurunan nilai gizi. Sedangkan pemotongan pada umur terlalu muda akan berakibat buruk terhadap pertumbuhan kembali (regrowth) hijauan. Tanaman muda teridentifikasi dalam tahap establismental yang merupakan tahap transisi dimana pada tahap ini terjadi produksi awal : daun, titik tumbuh, dan akar sekunder. Pada tahap ini belum terdeposisi nutrisi yang cukup terdistribusi pada seluruh bagian tanaman dengan kandungan air cukup tinggi. Sehingga pemberian hijauan yang masih muda pada ternak masih cukup beresiko terhadap kesehatan ternak. Produksi hijauan yang terkait aspek kualitas hijauan mencakup nilai gizi dan tingkat konsumsi hijauan oleh ternak. Nilai gizi adalah kandungan zat makanan dan kecernaan zat makanan tersebut. Umur yang semakin tua akan meurunkan kualitas hijauan dimana nilai TDN (Total Digestible Nutrient) dan CP (Crude Protein) semakin menurun sedangkan kandungan NDF (Neutral Detergent Fiber), ADF (Acid Detergent Fiber), dan Lignin semakin tinggi. Sehingga dapat disimpulkan, bahwa pada umur pemotongan yang lebih tua maka nilai gizi hijauan semakin turun (TDN ; CP ) dan tingkat kecernaan juga

semakin turun (NDF ; ADF ; Lignin ). Secara morfologi, terjadinya penurunan kualitas hijauan terjadi karena perubahan dalam imbangan daun dan batang. Semakin tua umur tanaman, maka pada tahap floral stem elongation, batang akan memiliki persentase yang lebih besar daripada daun. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa pada umur pemotongan yang lebih tua, produksi secara kuantitas akan lebih besar, namun secara kualitas akan turun sebagai

resultan dari komposisi batang terlalu tinggi yang berakibat pada turunnya kecernaan dan palatabilitas hijauan.

4.3.1.2 Manajemen Pemotongan Hijauan Hijauan makanan ternak mempunyai masa produktif yang berbeda tergantung pada karakteristik species hijauan. Setelah pemotongan pertama, maka hijauan akan memiliki interval waktu antara pemotongan pertama sampai dengan akhir masa produktif. Dalam manajemen pemotongan terdapat 2 aspek utama, yaitu : tinggi pemotongan dan frekuensi/interval pemotongan. Aspek yang terkait dengan umur tanaman adalah interval pemotongan hijauan selama masa produktif. Interval waktu pemotongan lebih lama maka produksi persatuan waktu juga akan meningkat sampai dengan batas tertentu. Nilai nutrisi hijauan akan sangat dipertimbangkan ketika material tanaman yang didapat pada pemotongan dengan frekuensi rendah (interval lama) akan menghasilkan proporsi daun tua yang lebih tinggi dengan nilai nutrisi rendah. Interval pemotongan pada hijauan berhubungan erat dengan : produksi, nilai nutrisi, potensi pertumbuhan kembali, komposisi botani, dan daya tahan hijauan. Dalam hal ini diperlukan suatu pengetahuan yang baik sehingga dapat diketahui ketepatan umur pemotongan hijauan sehingga dihasilkan kuantitas dan kualitas yang optimal.

4.3.1.3 Hijauan Segar

Hijauan segar, dapat diperoleh dari hijauan/tanaman makanan ternak yang dipotong atau tidak yang diberikan kepada ternak dalam keadaan segar. Hijauan segar adalah semua bahan pakan yang diberikan kepada ternak dalam bentuk segar, baik yang dipotong terlebih dahulu (oleh manusia) maupun yang tidak (disengut langsung oleh ternak). Hijauan ini dapat berasal dari pasture maupun tanaman padangan. Hijauan segar umumnya terdiri atas daun-daunan yang berasal dari rumput-rumputan, tanaman biji-bijian/ jenis kacang-kacangan. Rumput-rumputan merupakan hijauan segar yang sangat disukai ternak, mudah diperoleh karena memiliki kemampuan tumbuh tinggi, terutama di daerah

tropis meskipun sering dipotong/disengut langsung oleh ternak sehingga menguntungkan para peternak/pengelola ternak. Hijauan banyak mengandung

karbohidrat dalam bentuk gula sederhana, pati dan fruktosa yang sangat berperan dalam menghasilkan energi.

a. Rumput-rumputan Rumput Gajah (Pennisetum purpureum), rumput Benggala (Panicum maximum), rumput Setaria (Setaria sphacelata), rumput Brachiaria (Brachiaria decumbens), rumput Mexico (Euchlena mexicana) dan rumput lapangan yang tumbuh secara liar.

b. Kacang-kacangan: lamtoro (Leucaena leucocephala), stylo (Sty- losantes guyanensis), centro (Centrocema pubescens), Pueraria phaseoloides, Calopogonium muconoides dan jenis kacang-kacangan lain.

c. Daun-daunan: daun nangka, daun pisang, daun turi, daun petai cina dll

Pasture dapat diartikan sebagai suatu areal tanah yang ditanami hijauan makanan ternak, dimana ternak dapat langsung dilepas untuk mendapatkan makanan diareal tersebut. Keuntungan yang dapat diperoleh dari penggunaan pasture maupun tanaman padangan antara lain :

- mengurangi biaya penyediaan makanan

- memperkecil defisiensi beberapa zat makanan

- memperkecil biaya bangunan

- meningkatkan kesuburan tanah

- dapat diperoleh hijauan dengan kualitas yang memadai dan dalam keadaan seragam

- disamping dipergunakan sebagai tempat mendapatkan makanan, dapat dipergunakan juga sebagai tempat yang bebas untuk bergerak bagi ternak yang bersangkutan Kualitas hijauan segar yang diperoleh, disamping tergantung kepada kondisi tanah, iklim dan curah hujan maupun cara tanam, juga sangat tergantung kepada kedewasaan (umur) tanaman dan pemotongan.

4.3.1.4

Hijauan Kering dan Jerami

Termasuk kedalam kelompok ini adalah semua jenis jerami dan hijauan pakan ternak yang sudah dipotong dan dikeringkan. Kandungan serat kasarnya

lebih dari 18% (jerami, hay dan kulit biji kacang-kacangan). Pengawetan hijauan melalui proses pengeringan, dalam bentuk khusus adalah berupa hay, yaitu hijauan yang dipotong pada periode pertumbuhan (growing) dan diawetkan melalui pengeringan yang digunakan sebagai bahan makanan ternak. Kualitas hay yang dihasilkan sangat tergantung kepada beberapa faktor, antara lain :

- kualitas dari hijauan segarnya (haycrop), yang tergantungkepada jenis hijauan yang digunakan dan umur waktu pemotongan.

- lama pengeringan, untuk mendapatkan hay dengan kualitas baik, pengeringan sebaiknya dilakukan selama 2-3 hari dibawah sinar matahari (dalam cuaca baik), dengan dilakukan pembalikan setiap harinya. Pengeringan yang kurang baik tanpa pembalikan, dimana masih ada bagian-bagian yang kurang kering, dapat menimbulkan kerusakan hay karena adanya jamur atau bakteri.

- kondisi selama penyimpanan, walaupun hay yang dihasilkan berkualitas baik, tetapi kalau penyimpanan kurang mendapat perhatian, kualitas hay akan menurun. Kelembaban yang tinggi dapat menyebabkan proses oksidasi dan fermentasi yang akan menurunkan kualitas hay.

Jerami adalah sisa-sisa tanaman setelah biji atau buahnya dipetik untuk kepentingan manusia atau disebut sebagai hasil ikutan (limbah) pertanian, biasanya terdiri atas batang dan daun. Karena merupakan tanaman yang sudah tua, dan sudah diambil hasilnya, maka nilai nutrisinya dapat dikatakan rendah. Berbagai jerami di areal pertanian yang padat ternak, jerami banyak dipergunakan sebagai pengganti sebagian hijauan segar makanan ternak ruminansia. Pola penggunaan limbah pertanian ini dalam ransum ternak mengikuti pola tanam yang ada di daerah bersangkutan. Limbah pertanian yang dapat

dikatakan banyak digunakan di sepanjang tahun adalah jerami padi, yang selalu tersedia selain rumput.

4.3.1.5 Silase Selain pengeringan, pengawetan hijauan makanan ternak dapat juga dilakukan dalam bentuk silase, yaitu hijauan yang difermentasikan pada kelembaban tinggi dan dalam situasi an aerob. Pegertian lain, silase adalah hijauan pakan ternak yang disimpan dalam bentuk segar biasanya berasal dari tanaman sebangsa padi-padian dan rumput-rumputan. Karena disimpan dalam bentuk segar, maka silase yang dihasilkan tidak mengalami perubahan komposisi kimia yang besar. Kualitas silase yang dihasilkan tergantung pada faktor :

- umur waktu pemotongan bahan segar

- kandungan karbohidrat

- tipe silo yang digunakan

- kandungan bahan kering bahan segar

- pemotongan bahan segar

- situasi dan kondisi selama fermentasi Silase tidak dapat diberikan kepada ternak semua umur, misal pada sapi, baru dapat diberikan setelah sapi berumur 6 – 8 minggu. Pada sapi yang sedang laktasi, sebaiknya diberikan setelah pemerahan sehingga bau yang kurang sedap tidak berpindah pada air susu yang dihasilkan. Perbandingan komposisi kimia silase dengan hijauan segar.

4.3.2 Latihan 3

a. Bagaimana hubungan antara umur pemotongan dengan kualitas hijauan ?

b. Faktor apa saja yang dipergunakan dalam menilai produksi suatu hijauan?

c. Jelaskan perbedaan antara hijauan yang diawetkan secara segar dan dikeringkan !

4.3.3

Petunjuk Latihan 3

a. Pada umur muda, tanaman mempunyai kandungan zat gizi yangtinggi namun biomassanya rendah, kondisi sebaliknya pada tanaman yang berumur tua.

b. Produksi suatu jenis hijauan diukur dari segi kuantitas dan kualitasnya.

c. Pengawetan cara segar dan kering memberikan hasil hijauan awetan yang berbeda karena prisnip prosesnyapun berbeda.

4.3.4 Rangkuman Yang dimaksud dengan hijauan makanan ternak adalah bahan makanan

asal tanaman dalam keadaan segar, kering atau yang diawetkan yang digunakan sebagai makanan ternak, tanpa mengganggu kesehatan ternak. Secara umum, hijauan mempunyai karakteristik sebagai berikut :

a. Sifatnya bulky, yaitu mempunyai berat rendah per unit volume.

b. Serat kasar tinggi ( > 18%)

c. Energi rendah bila dibandingkan dengan makanan penguat.

d. Mineral, umumnya kandungan kalsium, potasium dan trace mineral

lebih tinggi dibanding konsentrat, tetapikandungan fosfor rendah.

e. Vitamin, kandungan vitamin yang larut lemak tinggi, terutama untuk leguminosa kaya akan vitamin B.

f. Protein, bervariasi. Leguminosa dapat mencapai 20% atau lebih, sebaliknya jerami hanya mengandung 3-4 % protein kasar. Tingkat kedewasaan (kematangan atau umur) adalah salah satu faktor yang penting dan mempengaruhi nilai gizi hijauan makanan ternak. Ada suatu tingkat kedewasaan optimal dari hijauan makanan ternak, dimana lewat batas tersebut, komposisi kimia , perbandingan daun dan batang atau banyaknya biji (butiran), sangat besar pengaruhnya terhadap nilai gizi. Interval waktu pemotongan lebih lama maka produksi persatuan waktu juga akan meningkat sampai dengan batas tertentu. Nilai nutrisi hijauan akan sangat dipertimbangkan ketika material tanaman yang didapat pada pemotongan dengan frekuensi rendah (interval lama) akan menghasilkan proporsi daun tua yang lebih tinggi dengan nilai nutrisi rendah. Interval pemotongan pada hijauan

berhubungan erat dengan : produksi, nilai nutrisi, potensi pertumbuhan kembali,

komposisi botani, dan daya tahan hijauan.

Hijauan segar adalah semua bahan pakan yang diberikan kepada ternak

dalam bentuk segar, baik yang dipotong terlebih dahulu (oleh manusia) maupun

yang tidak (disengut langsung oleh ternak). Hijauan ini dapat berasal dari pasture

maupun tanaman padangan.

Termasuk kedalam kelompok hijauan kering adalah semua jenis jerami

dan hijauan pakan ternak yang sudah dipotong dan dikeringkan. Kandungan serat

kasarnya lebih dari 18% (jerami, hay dan kulit biji kacang-kacangan). Jerami

adalah sisa-sisa tanaman setelah biji atau buahnya dipetik untuk kepentingan

manusia atau disebut sebagai hasil ikutan (limbah) pertanian, biasanya terdiri atas

batang dan daun. Silase adalah hijauan pakan ternak yang disimpan dalam bentuk

segar biasanya berasal dari tanaman sebangsa padi-padian dan rumput-rumputan.

Karena disimpan dalam bentuk segar, maka silase yang dihasilkan tidak

mengalami perubahan komposisi kimia yang besar.

4.3.5 Tes Formatif 3

Petunjuk : Lingkari B jika pernyataan benar dan S jika pernyataan salah.

1. – S

B

Hijauan makanan ternak adalah bahan makanan asal tanaman dalam keadaan segar, kering atau yang diawetkan yang digunakan sebagai makanan ternak, tanpa mengganggu kesehatan ternak.

2. – S

B

Tingkat kedewasaan (kematangan atau umur) bukan merupakan faktor yang mempengaruhi nilai gizi hijauan makanan ternak.

3. – S

B

Pola pertumbuhan tanaman merupakan grafik berbentuk sigmoid, dengan pola yang ada akan dapat diketahui waktu yang tepat dalam pemotongan, semakin tua umur tanaman maka produksi (kuantitas dan kualitas) akan semakin meningkat.

4. – S

B

Hijauan

banyak

mengandung

karbohidrat

dalam

bentuk

gula

sederhana,

pati

dan

fruktosa

yang

sangat

berperan

dalam

menghasilkan energi.

 

5. – S

B

Salah satu keuntungan dari penggunaan pasture maupun tanaman padangan adalah memperkecil biaya bangunan

6. – S

B

Sifat bulky pada hijauan berarti hijauan mempunyai berat tinggi per unit volume

7. – S

B

Pengeringan dan pembalikan, dapat menghindarkan kerusakan hay karena adanya jamur atau bakteri.

8. – S

B

Hay adalah yaitu hijauan yang dipotong pada periode pertumbuhan

 

(growing) dan diawetkan melalui pengeringan yang digunakan sebagai bahan makanan ternak.

9. – S

B

Karena disimpan dalam bentuk segar, maka silase yang dihasilkan tidak mengalami perubahan komposisi kimia yang besar dibandingkan kualitas hijauan asal.

10. – S

B

Keuntungan penggunaan silase adalah dapat diberikan kepada ternak semua umur dan semua status fisiologis

4.3.6. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Cocokkan jawaban anda dengan Kunci Jawaban Test Formatif 3 yang

terdapat di bagian belakang modul ini. Hitunglah jawaban anda yang benar dan

kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan anda

terhadap materi Kegiatan Belajar 3 ini.

Rumus :

Jumlah Jawaban Anda yang benar Tingkat Penguasaan = ----------------------------------------------- x 100%

10

Arti tingkat penguasaan yang Anda capai :

90% - 100%

=

baik sekali

80% -

89%

=

baik

70% -

79%

=

sedang

<69%

=

kurang

Bila tingkat penguasaan Anda mencapai 80% ke atas, Anda dapat

meneruskan dengan Kegiatan Belajar 4. Tetapi bila tingkat penguasaan Anda

masih di bawah 80%, maka Anda harus mengulangi Kegiatan Belajar 3, terutama

bagian yang belum Anda kuasai.

4.4

Kegiatan Belajar 4 BAHAN MAKANAN TERNAK SUMBER ENERGI DAN SUMBER PROTEIN

4.4.1 Uraian dan Contoh 4.4.1.1 Bahan Makanan Ternak Sumber Energi Bahan makanan ternak sumber energi adalah bahan makanan yang digunakan ternak sebagai sumber utama energi atau tenaga. Energi merupakan unsur Physiological Processes, meliputi untuk hidup pokok : metabolisme basal, aktifitas, mengatur panas tubuh, untuk reproduksi dan produksi : pertumbuhan, lemak, telur, bulu, dan kerja. Bahan makanan sumber energi sebagian besar merupakan hasil pertanian baik berupa biji-bijian maupun limbah penggilingan ataupun industri pertanian. Karakteristik umum yang dimiliki bahan makanan sumber energi adalah :

- Kandungan karbohidrat ± 80 % dari bahan kering yang terdiri dari pentosan, dekstrin, apti, gula, selulose dan hemiselulose.

- Serat kasar antara 0,5 – 20 % dan tinggi daya cernanya

- Lemak rendah sekitar 1 – 4 %

- Protein dalam endosperm hampir seluruhnya kecuali pada jagung kurang akan tritophan, metionin, dan lisin rendah.

- Mineral Ca rendah dan P tinggi sehingga dalam keadaan imbalanced.

- Vitamin : vitamin A rendah kecuali yellow corn demikian juga untuk tiamin, riboflavin, pantotenat, dan piridoksin.

A. Biji-bijian Bahan makanan sumber energi asal biji-bijian yang biasa digunakan sebagai makanan ternak antara lain : padi (gabah, menir, beras), jagung, sorghum. Masalah dalam penggunaan bahan makanan sumber energi pada ternak ruminansia, bila digunakan dalam jumlah tinggi sebagai makanan penguat(High Concentration Rations) akan menyebabkan terjadinya digestve disturbance, oleh karena itu rasio hijauan dan konsentrat perlu mendapatkan perhatian.

Jagung

- Bahan ini “diharuskan” untuk digunakan pada ransum unggas komersial pada umumnya.

- Merupakan biji-bijian sumber energi dengan kadar protein yang rendah (lisin dan tritophan), rendah serat kasar dan mengandung energi yang tinggi; juga merupakan sumber Xantophil, provit-A, asam lemak.

- Kandungan PK 9,8%; rendahnya kualitas protein karena adanya “zein” (50% dari seluruh protein jagung) yang bersifat larut dalam alkohol.

- Penggunaan jagung dalam ransum harus ditambahkan sumber protein atau asam amino sintetik.

- Kadar lemak yang relatif tinggi menyebabkan tidak tahan disimpan lama.

- Komposisi zat makanannya dipengaruhi oleh varietas dan lingkungan penanamannya. Shorgum

- Mempunyai komposisi kimia hampir menyerupai jagung

- Mengandung 70% BETN yang semuanya berupa pati, kadar serat kasar rendah.

- Kadar lemak rendah, Ca juga rendah, dan tidak mengandung vitamin D.

- Penggunaan shorgum dalam ransum harus ditambahkan sumber protein atau asam amino sintetik, asam amino pembatasnya adalah lisin dan diikuti treonin.

- Baik untuk semua ternak, namun kadangkala menimbulkan rasa yang kurang enak

- Jarang digunakan oleh peternak di Indonesia.

Gandum

- Dapat digunakan dalam jumlah besar untuk ternak unggas.

- Perlu dihindari dalam bentuk halaus, karena bersifat lengket sehingga akan mempengaruhi konsumsi.

- Merupakan sumber fosfor, tapi kalsiumnya rendah

- Tidak mengandung vitamin A dan D

- Kaya niasin, cukup tinggi kandungan tiamin, riboflavin rendah.

Padi

-

Karena merupakan makanan pokok di Indonesia, penggunaannya untuk ternak sangat terbatas

-

Gabah adalah butir padi yang belum digiling, kandungan protein lebih rendah daripada jagung serta miskin vitamin A.

- Menir, merupakan pecahan beras pada penumbukan padi. Sering digunakan pada unggas (ayam kampung). Ubi kayu

- sumber energi yang realtif murah dan mudah didapat

- kandungan PK < 3 % dan SK rendah

- mengandung racun asam sianida/HCN (termasuk daun)

- dengan pengolahan dapat mengurangi kadar HCN

B. Hasil Sampingan atau Ikutan Pengolahan Hasil Pertanian

Bahan ini banyak dipergunakan sebagai bahan makanan sumber energi karena mudah didapat dan harganya relatif murah. Dedak Padi

- Merupakan hasil ikutan industri penggilingan padi; di Indonesia terdapat 3 kualitas, yaitu : dedak kasar, dedak halus/lunteh, bekatul.

- Dedak kasar, dedak yang diperoleh dari hasil penumbukan atau penggilingan pertama; kualitas rendah; kandungan PK ± 6 %; SK >20 % ; lebih banyak digunakan pada ternak ruminansia dan kuda.

- Dedak halus, merupakan hasil ikutan penumbukan atau penggilingan untuk memperoleh beras asah; kandungan PK ± 11 % dengan SK ± 10%; kaya vitamin dan niasin; mudah tengik; kandungan serat kasar tergantung pada terikutnya kulit gabah; dapat digunakan untuk ternak non ruminansia.

- Bekatul, diperoleh dari penumbukan atau penggilingan terakhir; merupakan bagian endosperm; selaput dan lembaga; kandungan PK mencapai 12 % dengan serat kasar ± 5%; mudah tengik; tidak mengandung kulit gabah.

- Kualitas bervariasi, dipengaruhi banyaknya kulit gabah. Kulit gabah mengandung serat kasar dengan kadar silika 11 – 19 %, hal ini merupakan pembatas nutrisi yang menyebabkan dedak padi tidak dapat digunakan berlebihan.

- Kadar protein lebih tinggi daripada jagung, kualitas proteinnyapun lebih baik.

- Penggunaan yang terlalu tinggi akan melembekkan lemak karkas.

- Mempunyai masalah terhadap penyimpanan.

- Dapat menggantikan sebagian peran jagung.

Dedak Jagung/Empok

- Merupakan lapisan luar biji jagung, mencakup kulit dan ujung tudung dengan sedikit bagaian pati lembaganya.

- Kandungan protein tidak lebih banyak daripada jagungnya.

- Pemberian terlalu tinggi dapat menyebabkan ulkus lambung, karena kandungan kulit biji.

- Bila diberikan pada unggas, hasilnya kurang baik bila dibandingkan dengan biji jagung. Tetes atau Molases

- merupakan hasil ikutan pabrik gula

- kandungan protein rendah (3-4 %); kandungan energi tinggi dlaam bentuk mono dan disakarida

- banyak digunakan pada ternak ruminansia

- selain sumber energi juga bermanfaat sebagai : penambah rasa, mengurangi sifat berdebu pakan, pellet binder, stimulus aktivitas mikroba, carrier NPN dan vitamin dalam suplemen betuk cairan.

- penggunaan pada ruminansia sampai 15 %, pada unggas < 10 %.

- penggunaan berlebihan dapat memunculkan sifat laksatif (penyebab mencret)

- penggunaan berlebihan juga mempersulit proses mixing.

- Kualitas tergantung mutu tebu dan proses pengolahannya

Ampas tahu

- hasil ikutan pembuatan/industri tahu dengan bahan baku kedelai

- kandungan protein mencapai 30 % tapi kadar air sangat tinggi

- banyak digunakan ternak babi, saat sekarang juga dimanfaatkan oleh

peternak sapi dan domba.

Bostel bir/ampas bir

- hasil ikutan industri bir

- banyak digunakan sebagai campuran pakan sapi dan babi

- kandungan protein 5,8 % (basah), 28,3 % (kering)

Minyak Makan

- Sumber energi yang baik dan sering digunakan untuk ayarn broiler, karena

kebutuhan energinya yang tinggi

- Minyak kelapa mengandung energi: metabolis sebesar 8.600 Kcal/kg,

lebih dari 3 kali kandungan energi metabolis jagung kuning.

- Tetapi tidak boleh menggunakan minyak makan ini sebagai andalan

utarna, minyak kelapa dan minyak kelapa sawit hanya untuk pelengkap

sumber energi lainnya.

4.4.1.2 Bahan Makanan Ternak Sumber Protein

Bahan makanan ternak sumber protein dapat berasal dari tanaman dan

hewan. Pada tanaman protein terpusat pada bagian yang tumbuh, seperti : daun,

tangkai muda, dan biji. Bakteri yang terdapat dalam tanah dan di dalam akar

leguminosa tertentu dan beberapa tanaman dapat mengubah nitrogen atmosfir

menjadi persenyawaan nitogen untuk membentuk asam amino dan persenyawaan

nitrogen organik lain. Tanaman mensintesa protein dan disimpan dalam jumlah

yang berbeda-beda dan berbagai macam bagian tanaman.

Sebaliknya protein pada bahan makanan asal hewan, letaknya tersebar

mulai tulang, ligamentum, bulu, kulit, jaringan dan organ tubuh lain. Nilai hayati

protein hewani lebih tinggi bila dibandingkan dengan protein nabati, dalam hal ini

kualitas asam aminonya.

Ternak ruminansia dapat mensintesa protein melalui mikroba dalam rumen, sebaliknya ternak non ruminansia tidak dapat mensitensa asam amino. Oleh karena itu dalam penyediaan ransum non ruminansia sangat penting diperhatikan standar kebutuhan protein dan komposisi asam amino khususnya asam amino essensial.

A. Bahan Makanan Ternak Sumber Protein asal Tanaman Bahan makanan ini dapat berupa biji-bijian sebangsa leguminosa ataupun bungkil-bungkilan hasil ikutan industri minyak asal tanaman. Hampir semua sumber protein asal tanaman mempunyai faktor-faktor pembatas yang harus dihilangkan melalui proses pengolahan khusus untuk mendapatkan nilai gizi yang maksimum. Faktor pembatas tersebut memberikan pengaruh terhadap alat pencernaan dan penggunaan zat-zat maknan dalam tubuh ternak.

Sumber proteien asal tanaman berupa biji-bijian yang kaya minyak, dalam industri minyak akan memberikan hasil ikutan berupa bungki-bungkilan yang masih dapat dipergunakan sebagai bahan makanan sumber protein bagi ternak.

Kacang Kedelai

- merupakan leguminosa yang tinggi nilai gizinya

- kadar protein tinggi dengan susunan asam amino yang hampir menyerupai asam amino protein hewani; limiting amino acid (LAA) pada kandungan metionin bila dibandingkan dengan telur.

- Disebut sebagai casein tanaman , karena komposisi glisinin dan glutelin mendekati protein susu.

- Kandungan lemak tinggi; 80 % merupakan asam lemak tak jenuh sehingga penggunaannya harus diperhatikan agar lemak tidak lembek terutama pada babi.

- Keterbatasan disebabkan oleh kandungan anti nutrisi, yaitu : anti tripsin (berpengaruh pada kerja enzym tripsin); hemoglutinin (pengaruh pada

aglutinasi sel-sel darah merah; glukosida (berpengaruh pada hemolisis sel darah merah); isoflavon (pengaruh esterogenik)

- Anti nutrisi bersifat tidak stabil dan akan berkurang aktivitasnya dengan pemanasan pada kedelai mentah.

- Pembatas yang lain adalah persaingan pemanfaatan untuk manusia. Kacang Tanah

- Merupakan leguminosa yang tinggi kadar lemaknya.

- Mengandung anti tripsin dan racun aflatoksin yang berasal dari Aspergillus flavus

- Racun tersebut akan terkandung juga dalam daging ternak yang diberi pakan yang mengandung alflatoksin.

B. Bahan Makanan Ternak Sumber Protein asal Bungkil-bungkilan Bungkil-bungkilan merupakan hasil sampingan atau limbah industri minyak tanaman yang masih tinggi kandungan proteinnya. Kualitas bungkil dipengaruhi oleh bahan baku dan proses dalam pembuatan minyaknya, melalui cara mekanik (penekanan) atau menggunakan pelarut lemak (solvent).

Bungkil Kedele

- Merupakan bahan baku dengan kandungan protein yang tinggi (43–51 %).

- Mempunyai pembatas nutrisi berupa rendahnya kandungan lisin dan metionin.

- Bahan ini lebih banyak digunakan pada ternak unggas dan babi.

- Merupakan bahan favorit pada formulasi ransum; pada ternak babi dapat mencapai penggunaan 93 % dan pada ternak ayam maksimal 45 %. Bungkil Kelapa

- Merupakan bahan yang berasal dari hasil ikutan ekstraksi minyak daging kelapa kering (kopra).

- Dari segi nutrisi tidak memuaskan, tetapi merupakan bahan alternatif yang penting untuk menutup kekurangan kebutuhan protein pakan.

- Kekurangan lisin dan metionin (nutrisi pembatas) dapat ditutupi dengan penggunaan tepung ikan atau asam amino sintetik.

- Pada ternak babi, penggunaannya tidak boleh lebih dari 20 %.

Bungkil Kacang Tanah

- Merupakan hasil ikutan pabrik minyak kacang tanah.

- Kadar protein antara 45 – 55 % (tergantung proses).

- Komposisi asam amino terutama lisin sangat rendah.

- Media yang baik untuk jamur penghasil Aflatoksin.

- Penggunaan pada unggas mencapai 25 %.

- Pada babi perlu dibatasi pengunaan, karena bai bersifat rentan terhadap Aflatoksin. Bungkil Biji Kapuk

- Memupnayi kandungan protein cukup tinggi dengan sifat yang lebih baik dari pada bungkil biji kapas, kandungan protein mencapai 28 %.

- Tidak mengandung gossipol.

- Pemakaian tidak boleh melebihi 2 %.

Ampas Kecap

- Ampas kecap adalah buangan dari proses pembuatan kecap.

- Untuk dapat digunakan menjadi bahan baku pakan, ampas kecap harus dikeringkan terlebih dahulu dan digiling menjadi tepung.

- Nilai nutrisi yang terkandung di dalamnya, protein 24,9% dan lemak

24,3%.

Tepung Daun Lamtoro

- Bahan ini dapat digunakan sebagai sumber protein nabati yang cukup baik untuk campuran pakan ternak.

- kandungan xanthofilnya cukup baik, sekitar 660 ppm, nilai ini jauh di atas kandungan xanthofil jagung kuning, sekitar 20 ppm. Karena itu, tepung daun lamtoro dapat juga digunakan sebagai pewarna kuning di bagian kaki dan kulit ayam ras pedaging.

- Pengeringan daun lamtoro sekaligus untuk menghilangkan zat mimosin atau zat yang dapat menyebabkan kerontokan bulu unggas, lalu ditumbuk atau digiling menjadi tepung.

- Dalam industri pakan, umumnya bahan baku ini tidak digunakan karena kesulitan pengadaannya dan tidak ada jaminan kemurniannya (sering dipalsukan).

- Jika dibuat tepung, daun lamtoro akan menghasilkan rendemen 30% dari bobot daun basah.

C. Bahan Makanan Ternak Sumber Protein asal Hewan Bahan makanan ternak asal hewan ini dapat dikatakan sebagai sumber

utama protein bagi ternak, terutama ternak non ruminansia yang tidak dapat mensintesa asam amino, sehingga bahan makanan sumber protein terutama ditinjau dari kandungan asam aminonya harus tersedia dalm ransum. Kelebihan bahan makanan sumber protein asal hewan bila dibandingkan dengan asal tanaman adalah karena :

- asam amino lisin dan metionin lebih tinggi

- mineral Ca dan P lebih tinggi

- vitamin B kompleks lebih tinggi, terutama B 12 yang hanya terkandung dalam protein hewani

- mengandung unidentifiedgrowth factor

Tepung Ikan

- Merupakan bahan utama untu keseimbangan asam amino.

- Kandungan protein antara 60 – 70 % (impor) dan 45 – 55 % (lokal), tergantung pada : materi ikan, proses pengolahan, dan penyimpanan

- kandungan proteinnya sangat tergantung kepada jenis ikan yang digunakan, ikan laut akan lebih baik dibandingkan dengan ikan darat jika digunakan untuk membuat tepung ikan

- Dapat mendukung bahan baku asal nabati.

- Harga per satuan beratnya relatif mahal sehingga bahan baku ini hanya digunakan sebesar 5-12% terhadap total komposisi.

Tepung Daging

- Merupakan produk kering jaringan mamalia (non bulu, kuku, viseral,dan kulit).

- Kandungan protein cukup tinggi antara 50 – 60 %.

- Kombinasi jagung dan tepung daging dengan proporsi yang cukup tinggi dalam ransum akan berbahaya bagi monogastrik. Tepung Darah

- Merupakan hasil ikutan dari rumah potong hewan.

- Kadar protein 80 – 85 %.

- Ketersediaan protein dan asam amino rendah.

- Penggunaan pada unggas 4 – 5%; babi 2 – 3 % dari total ransum.

- Berfungsi sebagai suplemen protein dan asam amino.

Tepung Bulu Unggas

- dapat digunakan sebagai bahan baku pakan, namun, untuk membuat tepung bulu unggas ini diperlukan proses lebih lanjut.

- Bulu unggas dibersihkan kemudian dihidrolisis atau dimasak dengan suhu tinggi dan tekanan 3 atmosfir. Setelah itu, dikernbalikan ke tekanan nor- mal 1 atmosfir, ditiriskan, dan dikeringkan dengan suhu kurang dari 700 C, lalu digiling halus.

- Kandungan proteinnya memang sangat tinggi, sekitar 85%. Namun, unggas, termasuk ayam ras pedaging, mempunyai keterbatasan untuk menyerap protein tersebut, sehingga akan banyak bagian yang terbuang melalui kotoran

- kandungan asam aminonya relatif rendah, sehingga penggunaannya dalam pakan sebaiknya tidak lebih dari 2%, bahkan untuk pakan anak unggas atau. pakan starter tidak dianjurkan menggunakan bahan baku ini.

Hasil Ikutan/Limbah Usaha ternak Unggas

- Berupa sisa karkas pada rumah potong ayam, sisa penetasan, dan bulu unggas

- Merupakan bahan pendukung untuk pendukung protein, vitamin, dan mineral.

- Dapat mengurangi peggunaan tepung ikan.

- Kualitas tergantung pada bahan baku dan proses pembuatan.

Hasil ikutan produk susu

- Merupakan ikutan pengolahan produk susu seperti pembuatan keju atau kasein; bentuk produk dapat berupa tepung, cairan ataupun cairan kental.

- Contoh : skim milk, baia digunakan sebagai milk repalcer. Isi Rumen

- merupakan limbah rumah potong hewan

- masih terdapat sisa makanan yang belum tercerna dan mengandung mikroorganisme rumen; perlu diperhatikan pula faktor parasit

- penggunaan sebaiknya dalam bentuk kering

- kandungan PK pada isi rumen kambing mencapai 28 % sedangkan isi rumen sapi hanya 16,2 %; kandungan serat kasar keduanya cukup tinggi, mencapai 25 %.

- faktor pembatasnya adalah sifat bulky, terutama untuk ternak unggas.

Kotoran Hewan/Manure

- kotoran hewan berpotensi juga sebagai bahan makanan ternak, terutama pada ternak ruminansia

- sebainya digunakan dalam bentuk kering

- kualitas tergantung : komoditi ternak, tujuan pemeliharaan, bentuk pakan, dan kondisi ternak

- dalam bentuk kering kandungan PK kotoran ayam pedaging mencapai 30,6 %; pada ayam petelur sekitar 28 %; namun kandungan tersebut sangat berfluktuasi

4.4.2 Latihan 4

a. Apa yang dimaksud dengan bahan makanan ternak sumber energi ?

b. Bagaimana perbedaan kualitas protein asal tanaman dan hewan ?

c. Bagaimana proses yang dilakukan pada bahan sehingga didapatkan bahan makanan ternak yang disebut bungkil ?

4.4.3 Petunjuk Latihan 4

a. BMT sumber energi adalah bahan yang dapat dipergunakan sebagai sumber utama energi dalam ransum.

b. BMT sumber protein asal tanaman mengandung protein yang lebih rendah daripada asal hewan.

c. Memisahkan bagian protein dan lemak melalui proses pemanasan- penekanan atau menggunakan solvent.

4.4.4 Rangkuman

Bahan makanan ternak sumber energi adalah bahan makanan yang digunakan ternak sebagai sumber utama energi atau tenaga. Bahan makanan sumber energi sebagian besar merupakan hasil pertanian baik berupa biji-bijian maupun limbah penggilingan ataupun industri pertanian. Karakteristik umum yang dimiliki bahan makanan sumber energi adalah :

- Kandungan karbohidrat ± 80 % dari bahan keringf yang terdiri dari pentosan, dekstrin, apti, gula, selulose dan hemiselulose.

- Serat kasar antara 0,5 – 20 % dan tinggi daya cernanya

- Lemak rendah sekitar 1 – 4 %

- Protein dalam endosperm hampir seluruhnya kecuali pada jagung kurang akan tritophan, metionin, dan lisin rendah.

- Mineral Ca rendah dan P tinggi sehingga dalam keadaan imbalanced.

- Vitamin : vitamin A rendah kecuali yellow corn Bahan makanan ternak sumber protein dapat berasal dari tanaman dan hewan. Pada tanaman protein terpusat pada bagian yang tumbuh, seperti : daun, tangkai muda, dan biji. Sebaliknya protein pada bahan makanan asal hewan, letaknya tersebar mulai tulang, ligamentum, bulu, kulit, jaringan dan organ tubuh lain. Nilai hayati protein hewani lebih tinggi bila dibandingkan dengan protein nabati, dalam hal ini kualitas asam aminonya.

Ternak ruminansia dapat mensintesa protein melalui mikroba dalam

rumen, sebaliknya ternak non ruminansia tidak dapat mensitensa asam amino.

Oleh karena itu dalam penyediaan ransum non ruminansia sangat penting

diperhatikan standar kebutuhan protein dan komposisi asam amino khususnya

asam amino essensial.

4.4.5 Tes Formatif 4

Petunjuk : Lingkari B jika pernyataan benar dan S jika pernyataan salah.

1. – S

B

Bahan makanan sumber energi sebagian besar merupakan hasil pertanian baik berupa biji-bijian maupun limbah penggilingan ataupun industri pertanian.

2. – S

B

Rasio hijauan dan konsentrat pada pakan ternak ruminansia perlu mendapatkan perhatian untuk mencegah digestive disturbance.

3. – S

B

Bahan jagung merupakan bahan yang pasti digunakan pada ransum unggas komersial pada umumnya.

4. – S

B

Kacang kedele merupakan bahan dengan kualitas tinggi dan sedikit memiliki faktor pembatas.

5. – S

B

Bungkil kacang tanah merupakan bahan baku yang sudah terbebas dari aflatoksin.

6. – S

B

Bahan makanan ternak asal hewan dapat dikatakan sebagai sumber utama protein bagi ternak, terutama ternak non ruminansia yang tidak dapat mensintesa asam amino.

7. – S

B

Pada tepung ikan, harga per satuan beratnya relatif mahal sehingga bahan baku ini hanya digunakan sebesar 5-12% terhadap total komposisi.

8. – S

B

Kandungan protein tepung sangat tinggi, sekitar 85% dan unggas dapat memanfaatkan dalam jumlah besar dalam ransum.

9. – S

B

Dalam isi rumen masih terdapat sisa makanan yang belum tercerna dan mengandung mikroorganisme rumen; perlu diperhatikan pula faktor parasit yang merugikan.

10. – S

B

Salah satu keunggulan protein hewani adalah kandungan vitamin B 12 yang tidak terdapat dalam protein nabati.

4.4.6. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Cocokkan jawaban anda dengan Kunci Jawaban Test Formatif 4 yang

terdapat di bagian belakang modul ini. Hitunglah jawaban anda yang benar dan

kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan anda

terhadap materi Kegiatan Belajar 4 ini.

Rumus :

Jumlah Jawaban Anda yang benar

Tingkat Penguasaan = ----------------------------------------------- x 100%

10

Arti tingkat penguasaan yang Anda capai :

90% - 100%

=

baik sekali

80% -

89%

=

baik

70% -

79%

=

sedang

<69%

=

kurang

Bila tingkat penguasaan Anda mencapai 80% ke atas, Anda dapat

meneruskan dengan Kegiatan Belajar 5. Tetapi bila tingkat penguasaan Anda

masih di bawah 80%, maka Anda harus mengulangi Kegiatan Belajar 4, terutama

bagian yang belum Anda kuasai.

4.5 Kegiatan Belajar 5

BAHAN BAKU PAKAN SUMBER MINERAL DAN BAHAN PELENGKAP/TAMBAHAN

4.5.1 Uraian dan Contoh

A. Bahan Baku Sumber Mineral

Tepung Tulang

Salah satu sumber mineral makro pakan adalah tepung tulang. Tepung ini

mengandung yaitu kalsium 24% dan fosfor 12%. Namun, penggunaannya hanya

terbatas sebagai pelengkap jika nutrisi dalam komposisi bahan baku yang ada

tidak mencukupi. Pabrik pakan umumnya menggunakan meat and bone meal

(tepung daging dan tulang) sebagai sumber mineral dan protein sekaligus. Bahan

ini biasanya diimpor dari luar negeri. Penggunaan tepung tulang sudah jarang

dilakukan, apalagi sudah banyak sumber mineral sintetis yang diproduksi oleh

pabrik pembuat bahan baku pakan maupun farmasi.

Tepung Kerang

Tepung kerang merupakan sumber kalsium yang baik, kadarnya sekitar 38%.

Selain itu, di peternakan unggas petelur banyak digunakan sebagai grit atau

pembantu pencernaan di tembolok.

Kapur (Kalsium karbonat)

Kalsium karbonat dapat diperoleh di toko-toko bahan kimia, tersedia

dengan beragam kualitas. Kandungan kalsiumnya sebesar 38% dan harganya

relatif murah.

Dikalsium Fosfat (DCP)

Bahan baku ini diperlukan terutama untuk menambah kadar fosfor yang

terkandung dalam pakan ayam ras pedaging. Kandungan kalsiumnya sebesar 21%

dan fosfor 18,5%. Dikalsium fosfat bisa didapatkan di toko bahan kimia.

B. Bahan Baku Pakan Tambahan dan Pelengkop (Feed Additive Suplement)

Premix

Premix adalah sebutan untuk suatu suplementasi vitamin, mineral, asam. amino, dan antibiotik, atau penggabungannya. Penggunaan premix mutlak diperlukan jika nutrisi tersebut dalam pakan tidak lengkap. Premix bisa dibeli di poultry shop atau langsung dibeli ke salesman produsen

Garam Dapur Garam yang umum digunakan untuk bahan baku pakan adalah garam dapur berbentuk serbuk yang mengandung yodium sekitar 30-100 ppm. Garam dapur (NaCI) sering digunakan sebagai tambahan untuk mencukupi kebutuhan kedua mineral yang dikandungnya, yaitu natrium dan klor. Penggunaarmya dibatasi sampai 0,25% saja, karena jika berlebihan akan mengakibatkan proses ekskresi atau pengeluaran cairan kotoran meningkat. Keadaan ini akan menyebabkan alas litter menjadi sangat lembab dan basah. Akibatnya, akan timbul gangguan penyakit bagi unggas yang dipelihara.

Koksidiostat (Coccidiostat) Koksidiosis atau penyakit berak darah hampir pasti menyerang unggas, terutama unggas dewasa. Untuk itu, ke dalam pakan ayam perlu diberikan koksidiostat untuk mencegah penyakit tersebut. Cukup banyak obat yang dapat di- tambahkan ke dalam campuran pakan untuk mencegah penyakit ini. Bahan yang dapat dicampurkan adalah Bambermycine, Amprolium, Monensin, Nikarbazin, Neomisin, Salinomisin, dan Sulfakuinoksalin yang tersedia dalam berbagai merek paten. Dosis yang ditambahkan sekitar 500 ppm atau tergantung jenisnya. Perlu diperhatikan, dosis dan aturan pakai harus sesuai demian aturan vang tertera di kemasannva.

Anti jamur (Anti-Mold) Apabila kita menggunakan bahan baku pakan yang mudah berjamur, seperti bungkil kelapa, mutlak diperlukan penambahan bahan antijamur. Antijamur mengandung asam propionat, amonium. propionat, asarn asetat, asarn sorbat, atau

kombinasi dari beberapa preparat tersebut. Dosis yang ditambahkan sekitar 0,09-0,1%. Penggunaannya harus sesuai dengan aturan.

Anti Racun (Antitoxic) Bahan baku kelompok bungkil biasanya akan mudah berjamur. jamur ini kemudian akan mengeluarkan racun bagi ternak dan mengakibatkan pertumbuhan ternak menjadi terhambat. Untuk dapat menetralkan kandungan racun perlu ditambahkan bahan antiracun. Namun, antiracun ini tidak perlu digunakan apabila kita sudah memberikan antijamur ke dalam bahan baku pakan. Artinya, dengan tidak adanya jamur, tentu tidak muncul racun dari jamur tersebut.

Antioksidan (Antioxidant) Antioksidan digunakan sebagai bahan pengawet pakan dan melindunginya dari kerusakan akibat kelembapan dan suhu lingkungan yang tinggi, pengaruh cahaya matahari, dan reaksi-reaksi zat asam. Reaksi oksidasi akan menurunkan kualitas pakan, merusak dan menghalangi terserapnya kandungan nutrisi dalam pakan. Ada beberapa jenis antioksidan yang biasa digunakan untuk membuat pakan ayam ras pedaging, di antaranya BHT (Butylated Hydroxy Toluen), BHA (Butylated Hydroxv Anisol), EQ (Etoxyquin). dan PC (Prophyl Gallate). Di pasaran banyak tersedia antioksidan yang merupakan kombinasi dari bahan-bahan tersebut. Antioksidan ditambahkan ke dalam pakan sebanyak 125-250 ppm.

Perekat (Binder) Bahan perekat atau binder diperlukan dalam proses pencetakan pelet. Fungsinya sebagai pengikat antarkomponen bahan baku, sehingga tidak mudah terurai atau berubah kembali menjadi bentuk tepung. Dalam pakan ayam ras pedaging, binder tidak mutlak diperlukan, kecuali jika membuat pakan ikan. Dengan pemberian uap atau pengukusan akan terbentuk pati yang berasal dari bahan baku pakan ayam ras pedaging yang berfungsi sebagai perekat. Saat ini banyak perekat sintesis yang bisa diperoleh di distributor atau importir bahan kimia. Sebagai bahan perekat bisa juga digunakan bahan alami,

seperti tepung sagu, tepung tapioka, atau tepung terigu. Bahan perekat ditambahkan dengan jumlah sekitar 2%.

Zat Pemberi Pigmen Zat pemberi pigmen berfungsi untuk memberikan warna kuning di bagian kaki dan kulit ayam ras pedaging, sehingga penampilan fisiknya lebih menarik. Sebagai pemberi warna bisa digunakan beta-karoten atau apokarotenoat dalam bentuk murni (pure) atau sediaan prenVxseperti beta-karoten 10% dan apokarotenoat 10%. Penggunaan zat pemberi warna sedikit sekali, sekitar 20-30 ppin. Harganya per kilogram sangat mahal, sehingga pemakaian bahan ini sebenarnya tidak ekonomis. Jika akan digunakan, cukup ditambahkan ke dalam pakan ,fMis,her. Jika penggunaan jagung kuning di atas 50%, pakan tidak perlu ditambahkan pigmen ini lagi. Apabila masih kurang, bisa juga digunakan sumber hijauan yang mempunyai kandungan xanthofil, seperti khlorela, rumput laut, tepung alfalfa, dan tepung daun larntoro.

Pengharum (Flavour) Untuk menambah daya rangsang ayam terhadap pakan, bisa juga ditambahkan pengharum yang beraroma khusus, biasanya berasal dari ekstrak tumbuhan. Pengharum ini dapat diperoleh di importir obat temak atau. toko kimia. Bahan yang bisa dibeli di toko kimia seperti pengharum yang beraroma vanila. Periggunaan pengharum dalam pakan tidak mutlak. Tidak sernua pakan kornersial pabrik menggunakan pengharum. Dengan menggunakan bahan baku berkualitas baik akan dihasilkan pakan dengan aroma yang khas. Proses pencetakan pelet melalui tahapan penguapan (steam) akan memberikan aroma yang lebih merangsang ayam ras pedaging untuk meningkatkan konsumsi pakan.

Pewarna Pakan (Feed Colour) Secara naluri, ayam menyukai pakan berbentuk butiran dan berwarna kuning. Karena itu, beberapa pabrik pakan menambahkan pewarna ke dalam

pakan. Zat pewarna pakan berfungsi untuk meningkatkan keinginan ternak dalam mengonsumsi pakan. Pewarna pakan ini bisa diperoleh di toko-toko kimia. Penggunaannya harus disesuaikan dengan kebutuhan.

4.5.2 Latihan 5

a. Apa keunggulan bahan tepung tulang dan daging bila dibandingkan dengan tepung tulang ?

b. Bilamanakah premix digunakan dalam pembuatan ransum ?

c. Jenis bahan apakah yang dipergunakan untuk melekatkan berbagai bahan sehingga terbentuk pelet ?

4.5.3 Petunjuk Latihan 5

a. Tepung tulang hanya mengandung mineral dan tidak mengandung protein seperti pada tepung tulang dan daging.

b. Ransum yang disusun seringkali masih kekurangan unsur-unsur tertentu dalam jumlah kecil dan untuk memenuhinya dipergunakan pr emix.

c. Untuk melekatkan berbagai bahan baku dalam suatu ransum dapat digunakan bahan yang disebut binder.

4.5.4 Rangkuman

Sesuai dengan kategorinya, bahan-bahan yang termasuk dalam golongan ini hanya bersifat tambahan dan sering juga dikatakan pelengkap. Bahan makanan dalam kategori ini memang berfungsi menambah yang kurang dan melengkapi yang belum lengkap. Misalnya kandungan lysine belum cukup, ditambahkan lysine buatan pabrik obat. Jadi sesuai dengan kategorinya hanya bersifat tambahan atau pelengkap saja. Bila sudah lengkap dan sudah cukup tentu bahan-bahan dalam kategori ini tidak perlu, jadi tidak wajib. Dalam praktik hampir selalu bahan-bahan dalam kategori ini selalu diikutsertakan dalam formula ransum misalnya ransum ayam broiler, karena kebanyakan kualitas bahan makanan yang digunakan memang tidak lengkap dan masih tidak cukup sesuai pertumbuhan ayam broiler yang cepat itu.

Untuk mengatur kebutuhan energi dengan menekan kandungan serat kasar

di bawah 4% menyebabkan hampir 100% formula sudah tersita untuk bahan

makanan sumber protein dan energi, itupun masih kurang. Akhirnya ditambahkan

minyak kelapa, tepung tulang, vitamin-mineral buatan pabrik, lysine kristal,

methionine kristal dan tryptophan kristal. Itulah dilema dalam menyusun ransum

khususnya ransum unggas yang seringkali tidak dapat lepas dari bahan-bahan

tambahan dan pelengkap ini.

4.5.5 Tes Formatif 5

Petunjuk : Lingkari B jika pernyataan benar dan S jika pernyataan salah.

1. – S

B

Peternakan unggas petelur banyak menggunakan tepung kerang sebagai grit atau pembantu pencernaan di tembolok.

2. – S

B

Jika penggunaan jagung kuning di atas 50%, pakan masih memerlukan penambahan pigmen.

3. – S

B

Reaksi oksidasi akan menurunkan kualitas pakan, merusak dan menghalangi terserapnya kandungan nutrisi dalam pakan.

4. – S

B

Penggunaarmya garam dibatasi sampai 0,25% saja, karena jika berlebihan akan mengakibatkan proses ekskresi atau pengeluaran cairan kotoran meningkat.

5. – S

B

Fungsi pellet binder adalah sebagai pengikat antarkomponen bahan baku, sehingga terebntuk pellet.

6. – S

B

Proses pencetakan pelet melalui tahapan penguapan (steam) akan memberikan aroma yang lebih merangsang ayam ras pedaging untuk meningkatkan konsumsi pakan.

7. – S

B

Anti jamur dan anti racun lebih baik dipergunakan bersama-sama dalam pakan.

8. – S

B

Zat pewarna dalam pakan dibutuhkan untuk meningkatkan minat konsumsi pakan.

9. – S

B

Bahan baku kelompok bungkil biasanya akan mudah berjamur. jamur ini kemudian akan mengeluarkan racun bagi ternak dan mengakibatkan pertumbuhan ternak menjadi terhambat.

10. – S

B

Untuk mencegah serangan penyakit koksidiosis, pada ransum ayam ditambahkan bahan yang disebut antikoksi.

4.5.6. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Cocokkan jawaban anda dengan Kunci Jawaban Test Formatif 5 yang

terdapat di bagian belakang modul ini. Hitunglah jawaban anda yang benar dan

kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan anda

terhadap materi Kegiatan Belajar 5 ini.

Rumus :

Jumlah Jawaban Anda yang benar

Tingkat Penguasaan = ----------------------------------------------- x 100%

10

Arti tingkat penguasaan yang Anda capai :

90% - 100%

=

baik sekali

80%

-

89%

=

baik

70%

-

79%

=

sedang

< 69%

=

kurang

Bila tingkat penguasaan Anda mencapai 80% ke atas, maka Anda telah

menguasai materi Pengetahuan Bahan Makanan Ternak dan dapat melengkapinya

dengan materi tambahan tentang pemilihan bahan pakan yang murah dan prinsip

forulasi ransum. Tetapi bila tingkat penguasaan Anda masih di bawah 80%, maka

Anda harus mengulangi Kegiatan Belajar 5, terutama bagian yang belum Anda

kuasai.

CARA MEMILIH BAHAN PAKAN YANG MURAH DAN PRINSIP MENYUSUN RANSUM

A. Cara Memilih Bahan Pakan yang Murah

Didalam usaha peternakan , biaya pakan merupakan biaya produksi

terbesar , sehingga peternak harus mampu menggunakan pakan secara efisien.

Untuk mencapai efisien menggunakan pakan yang tinggi dibutuhkan pengetahuan

tentang :

1. Nilai gizi bahan pakan

2. Efek pakan terhadap penampilan produksi

3. Harga pakan pakan

Didalam memilih bahan pakan perlu dihubungkan antara faktor harga dan nilai

gizi, jadi harga bahan pakan harus dinilai berdasarkan kandungan energi dan

proteinnya dalam bahan kering, karena energi dan protein merupakan zat makanan

utama yang dibutuhkan ternak. Penilaian mahal dan murahnya harga pakan tidak

hanya didasarkan pada harga per-kilogramnya, tetapi harus juga didasarkan harga

energi dan protein yang dikandungnya atau pilihan atas dasar nilai gizinya.

Biaya tiap unit zat makanan dapat dihitung dengan cara sebagai berikut :

Harga pakan per unit berat Harga tiap unit zat makanan = --------------------------------- x Rp Unit berat x % zat makanan

Contoh :

Harga rumput lapangan segar = Rp 25 / kg

Kandungan zat-zat makanan rumput lapangan sebagai berikut

BK = 20 % ; PK = 12 % ; TDN = 60 % ( Dry Matter Basis )

Hitung harga : BK, PK dan TDN per-kg

Hitungan :

25

- Harga BK = ------- x Rp 1

0,20

=

Rp 125/ kg

125

- Harga PK =------- x Rp 1

0,12

125

- Harga TDN=------ x Rp 1

0,60

=

=

Rp 1041,67/ kg

Rp

208,33/kg

Jadi untuk menghitung harga zat-zat makanan , kita harus mengetahui

komposisi zat-zat makanan dari bahan tsb dan harga bahan makanan itu . Bahan

makanan dikelompokkan berdasarkan harga TDN dan proteinnya dengan

menggunakandiagram venn, yaitu suatu cara untuk mengelompokkan bahan

makanan berdasarkan harga per kg TDN dan proteinnya.

Bahan makanan dibagi menjadi 4 kelompok yaitu :

Kelompok 1 : Terdiri atas bahan-bahan makanan sumber energi murah dan

protein Murah

Kelompok 2 : Sumber energi mahal dan protein murah

Kelompok 3 : Sumber energi mahal dan protein mahal

Kelompok 4 : Sumber energi murah dan protein mahal

Didalam memilih bahan makanan, harus kita tekankan pada bahan

makanan di kelompok ( kuadran ) 1. Bila bahan makanan dari kelompok 1 tidak

dapat memenuhi kebutuhan ternak akan protein, maka bahan makanan

dikelompok 2 masih layak digunakan apabila kebutuhan energi tidak dapat

dipenuhi dari bahan makanan dikelompok 1, maka sebagai sumber energi murah

dapat digunakan bahan makanan dari kelompok 4. sedangkan bahan makanan

yang termasuk kedalam kelompok 3 sebaiknya jangan digunakan. Tabel berikut

ini adalah harga berbagai bahan makanan dan harga tiap kilogram bahan kering

(BK), TDN dan protein kasar (PK) dengan perhitungan seperti contoh diatas.

Tabel Harga tiap kilogram TDN dan protein dari berbagai makanan .

Bahan makanan

Harga

Kandungan zat makanan (%)

Harga ( Rp / Kg )

 

( Rp/Kg)

BK

TDN

PK

BK

DN

PK

Jagung

300

86,8

78,2

10,8

346

442

3204

Dedak halus

100

87,7

67,9

10,0

114

168

1140

Onggok

125

79,8

78,3

1,9

157

201

8263

Polard

125

88,5

69,2

10,5

141

204

1343

Bungkil kelapa

200

88,6

78,7

21,3

226

287

1061

Bungkil

kacang

500

90,2

80,9

45,1

554

685

228

tanah

Urea

200

100,0

-

287,5

200

-

 

(46%N)

Berdasarkan urutan harga TDN nya maka terdapat 4 bahan makanan yang termasuk kedalam kelompok sumber energi murah yaitu dedak halus, onggok, polard, dan bungkil kelapa , sedangkan jagung dan bungkil kacang tanah tergolong kedalam kelompok sumber energi mahal. Berdasarkan urutan harga proteinnya maka terdapat 4 bahan makanan sumber protein murah yaitu urea , bungkil kelapa, dedak halus, dan bungkil kacang tanah, sedangkan jagung,onggok dan polard tergolong kelompok sumber protein mahal. Dari tabel tersebut terkihat bahwa bahan yang tidak layak dipakai adalah jagung (energi mahal dan protein mahal). Sedangkan bahan yang ideal kita gunakan berdasarkan harga TDN dan proteinnya adalah dedak halus dan bungkil kelapa. Onggok dan polard layak kita pertimbangkan sebagai sumber energi murah, sedangkan sebagai sumber protein murah dapat dipergunakan urea dan bungkil kacang tanah. Demikian juga dengan hijauan dapat kita perhitungkan dan kita kelompokkan seperti cara diatas, sehingga kita bisa memilih sumber hijauan yang ideal dipakai sebagai bahan makanan yang murah ditinjau dari harga energi dan proteinnya. Yang penting disini adalah kita harus mengetahui komposisi zat-zat makanan yang terkandung dalam bahan yang akan kitÿÿÿÿtuÿÿ. batelabamemilih bahan maka kita dapat meram bahannya untuk mÿÿK)sun ransum yang seimbang.

B.

PRINSIP

MENYUSUN

RANSUM

SEIMBANG

(kasus

pada

ternak

ruminansia)

Penyusunan ransum ternak adalah cara meramu bahan-bahan pakan ternak Untuk memenuhi kebutuhan ternak sesuai dengan tingkat produksi yang diinginkan, pada bagian sebelumnya telah diterangkan bahwa zat-zat makanan utama yang dibutuhkan oleh ternak Ruminansia dan harus mendapat perhatian terlebih dahulu adalah bahan kering, protein, energi, kalsum dan posfor . cara terbaru dalam menyusun ransum adalah didasarkan pada 100 % bahan kering (dry matter basis), walaupun demikian masih memungkinkan untuk merubahnya kedalam bentuk yang tersedia (as-fed basis). Dalam menyusun ransum seimbang (balance ration) dibutuhkan data-

data :

1. Data kebutuhan ternak akan zat-zat makanan .

2. Data komposisi zat-zat makanan dari bahan pakan yang digunakan untuk menyusun ransum.

Tahapan-tahapan didalam menyusun ransum seimbang adalah sebagai berikut :

1. Harus megetahui kondisi ternak yang akan diberi pakan apakah ternak dalam keadaan pertumbuhan ,produksi atau kerja.

2. Siapkan data kebutuhan ternak akan zat-zat makanan .

3. Tentukan bahan-bahan pakan yang akan digunakan dalam menyusun ransum, dengan mengingat syarat-syaratnya.

4. Siapkan data komposisi zat-zat makanan dari bahan-bahan pakan yang akan digunakan.

5. Disusun daftar bahan –bahan pakan yang digunakan dan komposisi zat-zat makanannya ,dengan membuatnya kedalam bentuk tabel.

6. Diperhitungkan ransum seimbang .

7. Diteliti susunan zat-zat makanan ransum seimbang ,apakah sudah sesuai dengan kebutuhannya .

8. Apabila ransum telah seimbang ,cek kembali dengan menjawab pertanyaan – pertanyaan sebagai berikut :

a. Apakah ada kelebihan zat-zat makanan didalam ransum ,bila ada sampai seberapa jauh pengaruhnya terhadap ternak . bila kekurangan zat-zat makanan ,apa pengaruhnya terhadap ternak dan apa yang harus anda kerjakan .

b. Apakah ransum tersebut telah merupakan ransum yang murah, tetapi telah memenuhi syarat .

c. Perlukah ditahbah pakan tambahan pada ransum tersebut seperti garam,mineral,kapur dan sebagainya.

Rangkuman Didalam memilih bahan pakan perlu dihubungkan antara faktor harga dan nilai gizi, jadi harga bahan pakan harus dinilai berdasarkan kandungan energi dan proteinnya dalam bahan kering, karena energi dan protein merupakan zat makanan utama yang dibutuhkan ternak. Penilaian mahal dan murahnya harga pakan tidak hanya didasarkan pada harga per-kilogramnya, tetapi harus juga didasarkan harga energi dan protein yang dikandungnya atau pilihan atas dasar nilai gizinya. Penyusunan ransum ternak adalah cara meramu bahan-bahan pakan ternak Untuk memenuhi kebutuhan ternak sesuai dengan tingkat produksi yang diinginkan, pada bagian sebelumnya telah diterangkan bahwa zat-zat makanan utama yang dibutuhkan oleh ternak Ruminansia dan harus mendapat perhatian terlebih dahulu adalah bahan kering, protein, energi, kalsum dan posfor . cara terbaru dalam menyusun ransum adalah didasarkan pada 100 % bahan kering (dry matter basis), walaupun demikian masih memungkinkan untuk merubahnya kedalam bentuk yang tersedia (as-fed basis). Dalam menyusun ransum seimbang (balance ration) dibutuhkan data-

data :

1. Data kebutuhan ternak akan zat-zat makanan .

2. Data komposisi zat-zat makanan dari bahan pakan yang digunakan untuk menyusun ransum.

Kunci Jawaban Tes Formatif

a.

Kegatan 1

d.

Kegatan 4

No.

Jawaban

No.

Jawaban

1

S

1

B

2

B

2

B

3

B

3

S

4

B

4

S

5

B

5

B

6

B

6

B

7

B

7

B

8

S

8

S

9

B

9

B

10

S

10

B

b.

Kegatan 2

e.

Kegatan 5

No.

Jawaban

No.

Jawaban

1

S

1

B

2

S

2

S

3

B

3

B

4

B

4

B

5

S

5

S

6

B

6

B

7

B

7

S

8

B

8

B

9

B

9

B

10

B

10

S

c. Kegatan 3

No.

Jawaban

1

B

2

S

3

S

4

B

5

B

6

S

7

B

8

B

9

B

10

S