Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRATIKUM ORGANISME PENGGANGU TANAMAN (OPT) HAMA

Oleh MAIMUNAH (EIA210042) PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU 2011

PENDAHULUAN Hama adalah semua organisme atau agens biotik yang merusak tanaman dengan cara yang bertentangan dengan kepentingan manusia. Sedangkan dalam arti yang luas bahwa hama adalah makhluk hidup yang mengurangi kualitas dan kuantitas beberapa sumber daya manusia yang berupa tanaman atau binatang yang dipelihara yang hasil dan seratnya dapat diambil untuk kepentingan manusia. Dalam pengendalian hama terpadu,hama bukan hanya pada serangga tetapi bisa pada vertebrata, tungau, virus, bateri, gulma dan organisme pengganggu tanaman lainnya. Serangga dikatakan hama apabila serangga tersebut mengurangi kualitas dan kuantitas bahan makanan, pakan ternak, tanaman serat, hasil pertanian atau panen, pengolahan dan dalam penggunaannya serta dapat bertindak sebagai vektor penyakit pada tanaman, binatang dan manusia, dapat merusak tanaman hias, bunga serta merusak bahan bangunan dan milik pribadi lainnya. Menurut Rio (2009), dampak yang timbul akibat serangan hama menyebabkan kerugian baik terhadap nilai ekonomi produksi, pertumbuhan dan perkembangan tanaman, serta petani sebagai pelaku budiaya tanaman dengan kegagalan panen serta turunnya kwalitas dan kuantitas hasil panen. Hal ini disebabkan karena adanya persaingan perebutan unsur hara dan mineral, air, cahaya matahari, proses fisiologi tanaman, pertumbuahan dan perkembangan tanaman yang terhambat akibat hama dan penyakit. Adapun dampak kerugian akibat serangan hama tersebut adalah : 1. Gagal Panen

Akibat serangan hama yang paling ditakuti oleh para petani adalah terjadinya gagal panen. Kegagalan ini dikarenakan hama yang menyerang tanaman menjadikan tanaman sebagai bahan makanan, dan tempat tinggal bagi mereka. Hama merusak tanaman dengan cara :

a. b. c. d.

Menghisap cairan tanaman. Memotong batang tanaman baik yang muda maupun tua. Memakan daun muda dan tua serta tunas-tunas muda pada tanaman. Menghisap cairan dan memakan daging buah yang dapat menurunkan nilai ekonomis buah.

e. Membuat rumah atau sarang sebagai tempat tinggal dan berkembang biak baik pada batang, daun maupaun buah. 2. Menurunnya Jumlah Produksi Tanaman

Dengan serangan yang dilakukan oleh hama pada tanaman maka tanaman tidak akan mampu menghasilkan produksi secara maksimal karena terjadinya pembatasan pertumbuhan akibat hama yang berada pada tanaman budidaya. Hal ini disebabkan karena proses fisiologi tanaman yang terganggu. Dengan daun dan batang serta tunas-tunas muda yang habis dimakan oleh hama secara tidak langsung tanaman tidak dapat melaukan proses fotosintesis untuk menghasilkan produksi dengan baik bahkan tidak dapat melakukan fotosentesis. 3. Pertumbuhan Tanaman yang Terganggu

Serangan hama dapat meyebabkan pertumbuh tanaman menjadi terhambat dan bahkan tidak jarang mengalami stagnan pertumbuhan atau kerdil. Seperti serangan hama terhadap wereng pada tanaman padi yang dapat mengakibatkan tanaman padi menjadi kerdi dan tidak dapat berproduksi. 4. Menurunkan Nilai Ekonomis Hasil Produksi

Hama yang menyerang pada buah atau bagian tanaman yang memiliki nilai ekonomis akan menjadi menurun. Hal ini disebabkan, hama merusak bagian-bagian buah mupun daun tanaman. Dimana penurunan ini karena adanya bagian yang diseranga oleh hama mengalami cacat dan busuk serta mengandung ulat atau larva-larva hama. Sehingga produksi tidak dapat dikonsumsi. 5. Kerugian Bagi Para Petani

Dampak ini timbul karena tidak adanya produksi yang dihasilkan oleh tanaman atau gagal panen serta turunnya nilai ekonomis hasil produksi. Kerugian ini disebabkan tidak adanya pendapatan petani sedangkan biaya budidaya tanaman telah mereka keluarkan dalam jumlah yang sangat besar baik dari segi pengolahan lahan, benih, penanaman serta perawatan. Sedangkan hasilnya tidak meraka dapatkan. Hal ini semakain memperpuruk kondisi dan iklim pertanian di indonesia. 6. Terjadinya Alih Fungsi Lahan

Alih fungsi lahan dilakukan oleh para petani dikarenakan pendapatan yang mereka dapatkan tidak sesuai dengan pengeluaran yang dilakakan dalam usaha pertanian. Sehingga muncul pemikiran untuk mengalih fungsikan lahan pertanian yagn subur ke bidang usaha lain yang lebih menjanjikan keuntungan bagi mereka. Kondisi seperti ini semakin memperpuruk iklim

pertanian di Indonesia serta ketahan bahan pangan dalam negeri. 7. Degradasi Agroekosistem

Degradasi ekosistem terjadi karena adanya usaha yang dilakukan oleh para petani dalam penaggulangan serangan hama yang tidak memikirikan dampak negatif terhadap lingkungan serta komponen-komponen penyusun agroekosistem. Pencemaran lingkungan tersebut kerena adanya zat-zat yang berbahaya akibat digunakannya pestisida. Dengan adanya penanggulanag serangan hama yang tidak sesuai ini menyebabkan terjadinya degradasi ekosistem alami. 8. Munculnya Resistensi dan Returgensi Hama

Dengan penanggulangan serangan hama yang tidak sesuai akan menyebabkan resistensi atau kekebalan hama terhadap pestisida dan returgensi atau ledakan jumlah populasi hama yang berakibat pada dan apa kerugian yang lebih komplek dalam usaha budidaya tanaman itu sendiri.

TINJAUAN PUSTAKA A. Golongan Hama

Umumnya hama digolongkan menjadi beberapa kelompok, yaitu : 1. Arthropoda Arthropoda berasal dari kata arthron yang berarti ruas, dan podos yang berarti kaki. Jadi Arthropoda dapat diartikan hewan yang kakinya beruas - ruas. Tubuh beruas-ruas terdiri atas kepala (caput), dada (toraks) dan perut (abdomen) dimana bentuk tubuh bilateral simetris, triploblastik coelomata, terlindung oleh rangka luar dari kitin (Anonim3, 2011). Arthropoda yang hidup di air bernafas dengan insang, sedangkan yang hidup di darat bernafas dengan paru-paru buku atau permukaan kulit dan trakea. Memiliki alat indera seperti antena yang berfungsi sebagai alat peraba, mata tunggal (ocellus) dan mata majemuk (facet), organ pendengaran (pada insecta) merupakan hewan kelompok terbesar dalam arti jumlah species maupun penyebarannya.Alat ekskresi berupa coxal atau kelenjar hijau, saluran Malpigh hampir 90% dari seluruh jenis hewan yang diketahui orang adalah Arthropoda.Arthropoda diklasifikasikan menjadi 4 kelas, yaitu: Crustacea atau Udang-udangan, insecta atau serangga (Hexapoda), myriapoda atau lipan (kaki seribu), dan arachnida atau labah-labah (Anonim3, 2011). 2. Chordata Chordata berasal dari bahasa Yunani. Chordata berarti tali. Jadi, Chordata berarti hewan yang mempunyai chorda di bagian punggung. Ciri-ciri dari Chordata mempunyai chorda dorsalis, mempunyai celah insang dan batang saraf dorsal, bentuk tubuh simetri bilateral, mempunyai coelom. Mesoderm merupa kan dinding coelom berasal dari entoderm primer, sehingga Chordata termasuk enterodermata (Anonim4, 2011).

Anggota Filum Chordata yang umum dijumpai sebagai hama tanaman adalah dari klas Mammalia (Binatang menyusui). Namun, tidak semua binatang anggota klas Mammalia bertindak sebagai hama melainkan hanya beberapa jenis (spesies) saja yang benar - benar merupakan hama tanaman. Jenis jenis tersebut antara lain bangsa kera (Primates), babi (Ungulata), beruang (Carnivora), musang (Carnivora) serta bangsa binatang pengerat (ordo rodentina). Anggota ordo Rodentina ini memiliki peranan penting sebagai perusak tanaman, sehingga secara khusus perlu dibicarakan tersendiri, yang meliputi keluarga bajing dan tikus (Anonim4, 2011). 3. Platyhelminthes Menurut Suryadi (2011), Kata platyhelminthes berasal dari bahasa Yunani, kata plays (pipih) dan hemlines (cacing). Platyhelminthes adalah yang mempunyai pipih. Hewan golongan ini mempunyai tubuh simetris bilateral, (kedua sisi sama), tubuh lunak dan tidak bersegmen (ruas) tetapi tidak mempunyai peredaran darah. Platyhelminthes terbagi ke dalam tiga kelas yaitu: kelas turbellaria (cacing berambut getar), kelas trematoda (cacing isap), dan kelas cestroda (cacing pita). 4. Mollusca Mollusca dalam bahasa latin dapat diartika molluscus lunak merupakan hewan yang bertubuh lunak, Tubuhnya lunak dilindungi oleh cangkang namun ada juga yang tidak bercangkang hewan ini tergolong triploblastik selomata (Anonim8, 2010). Dari filum Mollusca ini yang anggotanya berperan sebagai hama adalah dari klas Gastropoda yang salah satu jenisnya adalahAchatina fulica Bowd atau bekicot, Pomacea ensularis canaliculata (keong emas). Binatang tersebut memiliki tubuh yang lunak dan dilindungi oleh cangkok (shell) yang keras. Pada bagian anterior dijumpai dua pasang antena yang masing-masing ujungnya terdapat mata. Pada ujung anterior sebelah bawah terdapat alat mulut yang dilengkapi dengan gigi parut (radula). Lubang genetalia terdapat pada bagian samping sebelah kanan, sedang anus dan lubang pernafasan terdapat di bagian tepi mantel tubuh dekat dengan cangkok/shell. Bekicot atau siput bersifat hermaprodit, sehingga setiap individu dapat menghasilkan sejumlah telur fertil. Bekicot aktif pada malam hari serta hidup baik pada kelembaban tinggi. Pada siang hari biasanya bersembunyi pada tempat-tempat terlindung atau pada dinding-dinding bangunan, pohon atau tempat lain yang tersembunyi (Anonim8, 2010). B. Tipe Mulut Serangga Menurut Nia (2011), tipe alat mulut bervariasi, tergantung sub ordonya, tetapi umumnya memiliki tipe penjilat-pengisap, pengisap, atau pencucuk pengisap. Secara umum alat-alat mulut serangga terdiri dari : 1. 2. 3. 4. 5. Labrum (bibir atas) Sepasang mandibel (geraham pertama) Sepasang maksila (geraham kedua) Labium (bibir bawah) Epifaring (lidah)

Bagianbagian mulut serangga dapat diklasifikasikan menjadi dua tipe umum seperti mandibulata (pengunyah) dan haustelata (penghisap): a. Tipe alat mulut pengunyah, mandibel bergerak secara transversal yaitu dari sisi ke sisi, dan serangga tersebut biasanya mampu menggigit dan mengunyah makanannya. b. Tipe mulut penghisap memiliki bagian-bagian dengan bentuk seperti probosis yang memanjang atau paruh dan melalui alat itu makanan cair dihisap. Mandibel pada bagian mulut penghisap mungkin memanjang dan berbentuk stilet atau tidak ada. Mulut serangga ada beberapa macam kegunaan yaitu : 1. Tipe alat mulut menggigit mengunyah

Sebagai alat untuk menggigit atau mengunyah hingga bagian tanaman yang telah dikunyah dapat ditelan, misalnya pada ulat, jengkrik, dan belalang. Serangga ini disebut serangga pengunyah atau pemamah. Alat mulut bertipe penggigipengunyah, umumnya mandibula berkembang dengan baik. Pada beberapa jenis, khususnya dari suku Curculionidae alat mulutnya terbentuk pada moncong yang terbentuk di depan kepala. Tipe alat mulut penggigit atau penggigit-pengisap yang dilengkapi flabellum sebagai alat pengisapnya. Ordo yang memiliki jenis mulut alat penggigit adalah ordo Hymenoptera (bangsa tawon, tabuhan, semut), Ordo Coleoptera, Ordo Orhoptera, Isoptera, dan Lepidoptera. Tanda serangan pada daun tanpak sobekan, gerakan, berlubang-lubang, daunnya hanya tinggal tulang daunnya saja, daun merekat/menggulung menjadi satu, atau daun habis dimakan sama sekali. Tanda serangan pada akar menyebabkan tanaman layu, akhirnya mati. 2. Tipe alat mulut menyerap (absorb)

Sebagai alat untuk menghisap misalnya pada lalat rumah. Sebagai alat untuk menusuk dan menghisap cairan tanaman, alat tersebut disebut stylet, misalnya pada aphis, lalat sapi, kupu-kupu penusuk buah dan thrips. Tipe alat mulut pencucuk pengisap yang terdiri atas moncong (rostum) dan dilengkapi dengan alat pencucuk dan pengisap berupa stylet. Pada ordo Hemiptera, rostum tersebut muncul pada bagian anterior kepala (bagian ujung). Rostum tersebut beruas - ruas memanjang yang membungkus stylet. Tanda serangan pada daun munculnya cendawan jelaga. Daun yang terserang berbentuk tidak normal, kerdil, menggulung/keriting ke dalam. Terdapat bercak-bercak klorosis (kuning) pada daun. 3. Tipe alat mulut menjilat mengisap

Sebagai alat pengisap, misalnya pada kupu-kupu pengisap madu dan pada alat mulut lalat (Diptera). Pada tipe penjilat pengisap alat mulutnya terdiri dari tiga bagian yaitu : Bagian pangkal yang berbentuk kerucut disebut rostum. Bagian tengah yang berbentuk silindris disebut haustellum.

Pada bagian bawah kepala terdapat labium yang bentuknya berubah menjadi tabung yang bercelah. 4. Ruas pangkal tabung disebut rostrum dan ruas bawahnya disebut haustelum. Bagian ujung yang berupa spon disebut labellum atau oraldisc. Sebagai alat mengunyah dan menjilat

Tipe alat mulut ini diwakili oleh tipe alat mulut lebah madu apis cerana (Hymenoptera, Apidae) merupakan tipe kombinasi yang struktur labrum dan mandobelnya serupa dengan tipe alat mulut menggigit mengunyah, tapi maksila dan labiumnya memanjang dan menyatu. Glosa merupakan bagian dari labium yang berbentuk bentuk memanjang sedangkan ujungnya menyerupai lidah yang berbulu disebut flabelum yang dapat bergerak menyusup dan menarik untuk mencapai cairan nektar yang ada di dalam bunga. 5. Tipe alat mulut menusuk mengisap

Kepik, mempunyai alat mulut menusuk mengisap, misalnya scotonophara (Heteroptera). Alat mulut yang paling menonjol adalah labium, yang berfungsi menjadi selongsong stilet. Ada empat stilet yang sangat runcing yang berfungsi sebagai alat penusuk dan mengisap cairan tanaman. Keempat stilet berasal dari sepasang maksila dan mandibel ini merupakan suatu perubahan bentuk dari alat mulut serangga pengunyah. Tanda serangan pada polong atau biji tampak noda hitam bekas tusukan. Daun yang terserangmenjadi layu dan kering. Buah padi matang susu yang diserang menjadi hampa dan perkembangannya kurang baik. 6. Tipe Alat Mulut Menusuk Mengisap

Kepik, mempunyai alat mulut menusuk mengisap, misalnya Scotinophara (Heteroptera). Alat mulut yang paling menonjol adalah labium, yang berfungsi menjadi selongsong stilet. Ada empat stilet yang sangat runcing yang berfungsi sebagai alat penusuk dan mengisap cairan tanaman. Keempat stilet berasal dari sepasang maksila dan mandibel ini merupakan suatu perubahan bentuk dari alat mulut serangga pengunyah.

BAHAN DAN METODE Bahan dan Alat Bahan Untuk pengenalan kerusakan tanaman, mengenal golongan hama, mengenal tipe mulut serangga hama, dan intensitas/persentase kerusakan hama bahan yang digunakan antara lain : daun yang bergejala, organisme kelompok Arthopoda, organisme kelompok Chordata (mencit putih), organisme kelompok plathelmintes (nematoda), organisme kelompok mollusca (siput atau keong emas), serangga hama yang berbeda ordo, dan tanaman.

Alat Untuk pengenalan kerusakan tanaman, mengenal golongan hama, mengenal tipe mulut serangga hama, dan intensitas/persentase kerusakan hama bahan yang digunakan antara lain : buku gambar, pensil, dan kaca pembesar.

Tempat dan Waktu Pratikum ini dilaksanakan di Lahan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru. Pada setiap hari Kamis pukul 16.30 wita dari bulan Februari sampai dengan bulan Mei 2011.

Prosedur Kerja 1. Pengenalan kerusakan tanaman oleh hama

Pada daun yang bergejala dipilih dari beberapa jenis tanaman untuk mengetahui bagaimana tanaman yang rusak akibat serangan hama tersebut. 2. Pengenalan golongan hama

Pada setiap organisme untuk setiap kelompok hama di pilih salah satu untuk mengetahui bagianbagian yang dapat menyebabkan kerusakan dan bagian dimana organisme tersebut menimbulkan kerusakan. 3. Pengenalan tipe mulut seranga

Pada setiap seranga yang berbeda dipilih dan digambar tipe mulut bagian atas maupun bagian bawah beserta bentuk serangga tersebut secara umun untuk dapat mengetahui tipe mulut pada hama tersebut. 4. Perhitungan intensitas persentasi kerusakan hama

Pada tanaman bagian tanaman yang sakit diamati untuk mengetahui perhitungan besarnya kerusakan akibat serangan hama. Untuk mengetahui perhitungan kerusakan yang mutlak dapat menggunakan rumus: a I= X 100% a+b

keterangan :

I a b

: Intensitas serangan : Jumlah daun/buah yang rusak : Jumlah daun/buah yang tidak rusak

Sedangkan untuk menghitung kerusakan tidak mutlak dapat menggunakan rumus: 4 (ni vi) I=0 I= ZN X 100%

Keterangan : I ni vi : Intensitas serangan : Jumlah daun yang berdasarkan kategori serangan : Kategori serangan

0 = Tidak ada kerusakan 1 = 25% 2 = 50% 3 = 50% - 75% 4 = 75% Z N : Kategori serangan tertinggi : Jumlah daun yang diamati

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

Tabel 2. Persentase kerusakan serangan hama

Tanaman ke1 2 3 4 5

Skala Jumlah 0 5 5 5 2 8 1 1 6 2 1 1 1 3 3 1 1 4 7 6 8 4 7 16 13 14 7 22 Rata-rata % Kerusakan 59 55 62 64 41 281 56,2

Kerusakan Tidak Mutlak 4 (ni vi) I=0 I= ZN X 100%

Perhitungan: (5x0) + (1x1) + (0x2) + (3x3) + (7x4) I1 = 16 x 4 X 100%

0 + 1 + 0 + 9 + 28 = 64 X 100%

= 59%

(5x0) + (0x1) + (1x2) + (1x3) + (6x4) I2 = 13 x 4 0 + 0 + 2 + 3 + 24 = 52 X 100% X 100%

= 55%

(5x0) + (0x1) + (0x2) + (1x3) + (8x4) I3 = 14 x 4 X 100%

0 + 0 + 0 + 3 + 32 = 56 X 100%

= 62%

(2x0) + (0x1) + (1x2) + (0x3) + (4x4) I4 = 7x4 X 100%

0 + 0 + 2 + 0 + 16

= 28

X 100%

= 64%

(8x0) + (6x1) + (1x2) + (0x3) + (7x4) I5 = 22 x 4 X 100%

0 + 6 + 2 + 0 + 28 = 88 X 100%

= 41%

= Jumlah keseluruhan persentase kerusakan = 59% + 55% + 62% + 64% + 41% = 281%

Jumlah keseluruhan persentase kerusakan Rata-rata kerusakan = Jumlah tanaman yang diamati

281 = 5

= 56,2

Pembahasan Dari hasil praktikum yang kami lakukan di lapangan yang tanpa perlakuan mengakibatkan hampir rata-rata 56,2% tanaman tumbuh kurang optimal karena tidak adanya perawatan pada tanaman. Pada sampel tanaman ke-1 kerusakan mencapai 59%, tanaman ke-2 kerusakannya 55%, tanaman ke3 kerusakannya 62%, tanaman ke-4 kerusakannya 64%, dan pada tanaman ke-5 kerusakannya 41%. Hama yang ditemukan dilahan pada waktu pengamatan antara lain mencit putih, siput, belalang, ngengat, dan tawon. Tikus merupakan hama yang sering kali membuat pusing. Hal ini disebabkan tikus sulit dikendalikan karena memiliki daya adaptasi, mobilitas, dan kemampuan untuk berkembang biak yang sangat tinggi. Masa reproduksi yang relative singkat menyebabkan tikus cepat bertambah banyak. Potensi perkembangbiakan tikus sangat tergantung dari makanan yang tersedia. Tikus sangat aktif di malam hari. Tikus menyerang berbagai tumbuhan. Bagian tumbuhan yang disarang tidak hanya bijibijian tetapi juga batang tumbuhan muda. gigi serinya yang kuat dan tajam, sehingga tikus mudah untuk memakan bijibijian. Tikus membuat lubanglubang pada pematang sawah dan sering berlindung di semaksemak. Apabila keadaan sawah itu rusak maka berarti sawah tersebut diserang tikus. Serangan tikus dapat dikendalikan dengan menggunakan musuh alami tikus, yaitu ular. Keong mas merusak tanaman dengan cara memarut jaringan tanaman dan memakannya, menyebabkan adanya bibit yang hilang di pertanaman. Bekas potongan daun dan batang yang diserangnya terlihat mengambang. Keong mas memakan tanaman jagung usia 30 hari atau ke bawah serta dapat menghancurkan tanaman pada saat pertumbuhan awal. Keong menyerang batang muda hingga ke akar pada musim hujan saat lahan digenangi air. Tingkat pertumbuhan tanaman biasanya lebih tinggi daripada tingkat kerusakan akibat keong. Untuk cara pengendaliannya keong emas dapat dipungut dan dihancurkan dengan kayu atau bambu atau dapat juga dilakukan pengaplikasian pestisida yang berbahan aktir niclos amida dan pestisida botani seperti lerak, deris dan saponin. Jagung yang terserang hama belalang umumnya menjadi bergerigi di bagian tepi daun. Belalang merupakan spesies polimorfik yang secara morfologis terdapat perbedaan-perbedaan yang jelas antara satu fase dengan lainnya. Belalang Acrididaemengalami 3 transformasi populasi yang antara lain dipicu oleh tingkat kepadatannya yaitu fase soliter (populasi rendah dan berperilaku individual), fase transisi (mulai berkelompok) dan fase gregarius (kelompok-kelompok belalang bergabung dan membentuk twarm yang menjadi sangat rakus dan merusak).

Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi sistem komunitas Organisme Pengganggu Tanaman antara lain fisiologi, perilaku, dan ciri-ciri biologis lainnya baik langsung maupun tidak langsung. Pengaruh suhu terhadap kehidupan tanaman banyak dipelajari di negara beriklim dingin/sedang, dimana suhu selalu berubah menurut musim. Di negara tropika seperti Indonesia keadaanya berbeda, iklimnya hampir sama sehingga variasi suhu relatif kecil. Cahaya mempunyai peranan penting dalam pertumbuhan, perkembangannya dan tahan kehidupannya tanaman baik secara langsung maupun tidak langsung. Pergerakan udara merupakan salah satu faktor yang penting dalam penyebaran kehidupan organisme penggangu tanaman.