Anda di halaman 1dari 17

MODUL 7 HAK ASASI MANUSIA

Kegiatan Belajar 1 Perkembangan Hak Asasi Manusia

Hak Asasi Manusia (HAM) bisa didefinisikan berbeda-beda, misalnya dalam UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikatnya dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia . Berdasar definisi ini terdapat empat hal yang penting terkait dengan HAM yaitu : 1. HAM bersifat melekat pada manusia 2. HAM merupakan anugerah Tuhan 3. HAM wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang 4. HAM bertujuan melindungi kehormatan dan menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia Sekitar tahun 1780 SM, Kerajaan Babilonia sudah mengenal Hukum Hammurabi. Dimana Raja Babilonia keenam, Hammurabi (1792-1750 SM), membuat kode, dan salinan parsial ada di batu seukuran manusia, prasasti dan berbagai tablet tanah liat. Pada tahun 1901 Egyptologist Gustave Jquier , seorang anggota ekspedisi yang dipimpin oleh Jacques de Morgan , menemukan prasasti yang berisi Kode Hammurabi di tempat yang sekarang Khuzestan, Iran (kuno Susa, Elam). Kode Hammurabi adalah kode hukum Babilonia. Dalam Huku m Hammurabi memuat

tindakan-tindakan yang dianggap masuk kategori kejahatan beserta bentuk-bentuk hukumnya, berisi ketentuan-ketentuan yang menyangkut mekanisme penyelesaian konflik serta petunjuk bagaimana berperilaku bagi masyarakat, dan juga

mencantumkan ketentuan-ketentuan HAM seperti hak-hak kaum perempuan, hak anak-anak, hak-hak kaum budak dan hak-hak perkawinan. Kitab perjanjian lama dan perjanjian baru adalah kitab suci bagi para pemeluk agama kristen dan katolik. Dalam kitab perjanjian lama, diungkapkan bahwa orangorang Israel pada Sedangkan dalam zaman kuno juga dianggap sudah mengenal HAM.

kitab perjanjian baru diungkapkan berbagai

ajaran Yesus

kepada muridnya maupun sesama manusia yang dinilai banyak berkaitan dengan persoalan HAM. Kitab Suci juga mengajarkan bahwa Allah membuat manusia menurut citra-Nya sendiri. Maksudnya, Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang berdaulat. Karenanya, semua hak manusia adalah hak mengembangkan diri sebagai citra Allah. 1. Confucius Confucius (atau lebih dikenal dengan nama Kong Hu Cu / KongCu) lahir pada tahun 551 SM 479 SM, merupakan seorang guru besar yang tersohor hingga saat ini. Pada masa hidupnya, Confucius hidup sebagai seorang guru yang mengajarkan moralitas, filsafat, kebijaksanaan, norma norma dan etika kehidupan, hingga ilmu ketata-negaraan. Salah satu ajaran penting yang diperkenalkan adalah Jen (kebajikan). Bahkan namanya diabadikan sebagai nama salah satu agama kepercayaan turun temurun di china, yaitu agama Kong Hu Cu. 2. Asoka Agung Ashoka adalah salah seorang raja yang pernah memerintah kerajaan Maurya pada masa India Kuno. Pada periode kekuasaannya, HAM sudah dikenal dan dihormati, hal ini dengan dicanangkannya kebijakan Ahimsa (tanpa

kekerasan/dilarang membunuh) oleh Ashoka. Kebijakan ini identik dengan jaminan hak untuk hidup. Hak-hak ini tertuang dalam Maklumat Ashoka. 3. Piagam Madinah Kehadiran konsekuensi positif dicanangkannya Islam, bagi terutama pada periode HAM. 610-661 Hal ini Masehi membawa dengan

perkembangan

ditandai

Piagam Madinah pada tahun 662 Masehi yang berisi ketentuan-

ketentuan penting tentang HAM. Adapun Piagam Madinah itu mempunyai arti tersendiri bagi semua penduduk Madinah dari masing-masing golongan yang berbeda. Madinah sendiri adalah sebuah kota kurang lebih berjarak 400 kilometer di sebelah utara kota Makkah. Penduduk kota Yatsrib terdiri dari beberapa suku Arab dan Yahudi. Suku Yahudi terdiri Bani Nadzir, Bani Qainuna, dan Bani Quraidzah yang mempunyai kitab suci sendiri, lebih terpelajar dibandingkan penduduk Yatsrib yang lain. Sedangkjan suku Arabnya terdiri dari suku Aus, dan Khazraj, di mana kedua suku itu selalu bertempur dengan sengitnya dan sukar untuk didamaikan. 4. Magna Charta Sistem konstitusional yang kita kenal dewasa ini banyak dipengaruhi oleh Magna Charta yang ditandatangani di Inggris tahun 1215. Magna Charta ditandatangani sebagai konsekuensi perundingan antara raja John, Paus, dan para

bangsawan. Magna Charta dibuat dengan maksud mengembangkan sistem hukum yang tidak lagi didasarkan pada sistem hukum individual (kepentingan penguasa). Magna Charta dicetuskan pada 15 Juni 1215 yang prinsip dasarnya memuat pembatasan kekuasaan raja dan hak asasi manusia lebih penting daripada kedaulatan raja. Pada awal abad XII Raja Richard yang dikenal adil dan bijaksana telah diganti oleh Raja John Lackland yang bertindak sewenangwenang terhadap rakyat dan para bangsawan. Tindakan sewenang-wenang Raja John tersebut mengakibatkan rasa tidak puas dari para bangsawan yang akhirnya berhasil mengajak Raja John untuk membuat suatu perjanjian yang disebut Magna Charta atau Piagam Agung. Meletusnya Perang Dunia II pada 1939 menjadi titik balik bagi HAM. Bebagai pengalaman Perang Dunia II mencapai titik klimaksnya berupa pembunuhan massal umat Yahudi oleh NAZI dan membiarkan pemenang perang menghilangkan jalan bagi jaminan HAM dan kebebasan. Hal ini memunculkan kesadaran akan pentingnya menciptakan struktur yang menegakkan perdamaian antar negara di garis akhir. Rentang sejarah HAM kemudian ditandai dengan terbentuknya Komisi HAM PBB pada 16 Februari 1946. Komisi ini mengajukan usulan kepada Dewan Umum PBB tentang pentingnya suatu Deklarasi Universal HAM, Konvensi tentang kebebasan sipil, status perempuan, kebebasan informasi, perlindungan warga minoritas dan pencegahan diskriminasi. Sebagai hasilnya, pada 1948, lahirlah Universal Declaration of Human Rights (UDHR) yang merupakan tonggak paling penting bagi pengakuan dan perlindungan HAM internasional. UDHR diyakini mampu memberikan definisi paling sahih mengenai kewajiban menghormati HAM bagi sebuah negara yang ingin bergabung dengan PBB. Menyusul disetujuinya UDHR, PBB kemudian mengundangkan International Covenan on Civil and Political Rights (ICCPR) dan International Covenan on Economic, Social and Cultural Rights (ICESCR) pada 1966, yang kemudian diikuti dengan dua Protokol Fakultatif pada Hak Sipil dan Politik. UDHR dan dua Kovenan ini kemudian lazim disebut sebagai International Bill of Rights (Undang-undang HAM Internasional). Ditinjau dari perspektif hukum, dengan adanya International Bill of Rights ini, maka HAM memiliki kekuatan hukum mengikat, khususnya bagi negaranegara penanda tangan.

Kegiatan Belajar 2 Hak Asasi Dalam Kontitusi Pandangan para ahli pikir barat mengenai hak Asasi Manusia, yakni: 1. Thomas Hobbes, berpendapat bahwa pada masa keadaan ilmiah (state of nature) yakni keadaan dimana masyarakat dan Negara belum terbentuk, individu sudah memiliki hak asasi namun demikian dalam menikmati hak-haknya tadi yaitu kebebasan, individu menikmatinya secara mutlak dan tentu saja berlebih-lebihan. 2. John Locke memiliki pandangan yang berlainan, individu tidak seburuk yang digambarkan Hobbes, individu bersifat rasional dan dalam menikmati hak haknya,individu tidaklah semena-mena. Kekacauan dalam hubungan individu yang digambarkan oleh Locke tidaklah seburuk hubungan antar individu yang digambarkan oleh Hobbes. Hak hak yang dimiliki individu menurut Locke adalah hak untuk hidup kebebasan dan memiliki harta benda. 3. Rousseau Hak yang bersifat individual dan alamiah seperti yang dikemukakan Locke yakni kebebasan dan memiliki harta benda memiliki posisi yang lemah dan sukar dipertahankan. Hanya hak hak yang ditentukan dan dimiliki secara bersama sama yang kemudian yang disebut dengan hak hak komunal atau kolektif seperti inilah yang dianggap kuat dan dapat dipertahankan. 4. Karl Marx mempunyai pikiran yang berbeda lagi, individu menurut Marx merupakan makhluk yang egois dan mementingkan kepentingannya sendiri. Hak asasi yang dimiliki individu adalah hak yang menyebabkan orang lain hidup dalam kesengsaraan dan kemiskinan, hak asasi yang dimiliki individu hanya membawa keuntungan bagi yang kuat saja. Ada tiga aliran pemikir dari masyarakat internasional mengenai HAM yaitu : 1. Aliran pertama merupakan pemikir dari negara negara maju atau sering disebut juga sebagai kelompok utara. Dalam pandangan kelompok ini hak asasi manusia dianggap bersifat universal dalam artian bahwa hak yang dimiliki oleh siapa saja, dimana saja, kapan saja adalah sama, Perbedaan kebangsaan, latar belakang sejarah, lokasi geografis maupun sistem politik tidak boleh dipakai sebagai alat untuk menjadikan hak hak mereka berbeda satu sama lain. Hak asasi muncul bukan karena pemberian dari negara ataupun sebagai konsekuensi adanya persaudaraan maupun cinta kasih diantara sesama manusia, untuk memiliki hak hak tadi tidak ada persyaratan lain kecuali terlahir sebagai manusia. 2. Aliran kedua merupakan pemikir dari negara negara sedang berkembang atau kelompok selatan seperti Asia dan Afrika. Pemikir aliran kedua ini banyak yang

berbeda bahkan bertentangan dengan aliran pertama, berikut pokok pikiran aliran kedua mengenai hak asasi manusia terlalu sulit bagi kelompok negara ini untuk menyepakati bahwa hak asasi manusia itu bersifat universal. Dalam pikiran mereka perbedaan status sosial-ekonomi, sistem politik dan ideologi, kebudayaan dan latar belakang sejarah akan memungkinkan terjadinya perbedaan perbedaan hak asasi dalam diri manusia. 3. Aliran ketiga yang esensinya menengahi perbedaan aliran lainnya, merupakan hasil pemikiran Perserikatan Bangsa-Bangsa, menganggap bahwa hak asasi manusia pada dasarnya bersifat universal, natural dan individual. Kewajiban untuk mewujudkan hak asasi manusia menurut aliran ini terutama terletak pada pihak negara walaupun setiap individu juga kena, sedangkan hak sipil dan politik memiliki kedudukan yang sama dan sederajat dengan hak ekonomi sosial dan budaya. Hak asasi Manusia bagi bangsa Indonesia bukanlah suatu yang asing, Hak asasi sudah dikenal oleh penduduk diberbagai tempat di nusantara. Masyarakat Jawa pada jaman dahulu sudah mengenal hak pepe (hak untuk menyampaikan protes kepada raja), dalam kitab lontara yang ditulis pada abad XV disebutkan bahwa masyarakat Bugis telah mengenal apa yang disebut dengan hak atas kebebasan, masyarakat Minangkabau juga sudah lama mengenal hak asasi. Pada masa kebangkitan nasional perkumpulan Boedi Oetomo pernah menuntut penguasa kolonial untuk disahkannya hak untuk berorganisasi dan hak atas kemerdekaan. Anggota Volksraad juga pernah menuntut pemerintah jajahan untuk mengakui adanya hak untuk memperoleh pendidikan dan hak berpartisipasi dalam pemerintah. Pembicaraan yang jauh lebih serius mengenai hak asasi manusia terjadi menjelang kemerdekaan nasional ketika menyusun UUD 1945 Panitia Penyidik Persiapan Kemerdekaan Indonesia membicarakan masalah pencantuman hal tersebut di dalamnya yang mempunyai pertimbangan antara lain bahwa hal ini akan mempermudah warga negara mengetahui hak hak apa sajalah yang mereka miliki. Karena adanya perdebatan dan perbedaan pendapat maka akhirnya dicapai kompromi pasal pasal mengenai hak asasi tidak begitu banyak dan digunakan istilah hak warga negara dan bukan hak asasi manusia. UUD 1945 mengalami perubahan (amandemen) yakni setelah mundurnya Soeharto dari jabatan pemerintahan tahun 1998 dan munculnya era reformasi, amandemen UUD 1945 yang disahkan tanggal 18 Agustus 2000 membawa konsekuensi pada perubahan menyangkut hak asasi manusia yang tercantum di dalamnya.

MODUL 8 SANKSI DAN ASPEK PERLINDUNGAN HUKUM

Kegiatan Belajar 1 Sanksi Dalam Hukum Tata Pemerintahan / Tata Usaha Negara

Dalam kehidupan bernegara dan pemerintahan, hukum menjadi instrumen kebijakan untuk menuntut kepatuhan terhadap warga negara dan masyarakat. Hukum yang baik adalah hukum yang dapat membumi dan mampu mencerminkan nilai-nilai masyarakat dimana hukum tersebut diterapkan. Oleh karena itulah, hukum harus bersifat dinamis dan tidak statis. Hukum bergerak sangat dinamis menyusup dalam berbagai aspek kehidupan manusia dan membawa konsekuensi konsekuensi yang sangat beragam dalam masing masing aspek kehidupan tersebut. Namun selalu ada kesamaan yang dikembangkan dalam hukum yaitu bahwa apapun itu haruslah mengandung nilai nilai keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum. Dalam praktek hukum di Indonesia hukum tata pemerintahan / hukum tata usaha negara memperoleh tempat yang khas semenjak diundangkannya UU No.5 tahun 1986, dengan UU tersebut lebih memberikan kepastian bagaimana melakukan penyelesaian sengketa yang terjadi antara warga dengan alat alat perlengkapan negara di bidang administrasi pemerintahan. Sanksi berperan penting di dalam hukum juga dalam hukum tata pemerintahan /tata usaha negara, yaitu pada pemberian sanksi dalam hukum administrasi memenuhi hukum pidana. Dalam kaitannya dengan pelaksanaan hukum tata pemerintahan /tata usaha negara bilamana terdapat suatu ikatan hukum antara alat perlengkapan hukum tata usaha negara / pemerintah dengan warga dimana warga terikat oleh suatu kewajiban untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Sanksi yang diberikan pemerintah terhadap warga negara sering terjadi dan dalam pemberian sanksi ini kadang kadang ada campur tangan pengadilan (khususnya hukum pidana Wewenang hakim pidana dalam hal ini adalah menentukan apakah ada pelanggaran terhadap suatu aturan hukum, dan ada sanksi mama yang akan dijatuhkan, sehingga dapat dikatakan bahwa hukum pidana menjadi hukum pembantu dalam hukum tata pemerintahan / tata usaha negara. Menurut Soehino disamping kemungkinan pemberian sanksi yang bersifat pidana melalui bantuan hukum pidana, dalam hukum tata pemerintahan /tata usaha negara terhadap pelanggaran dapat pula diberi ancaman dengan tindakan administrasi yang

menyerupai hukum yang dilakukan sendiri oleh alat perlengkapan tata usaha negara/pemerintah tersebut Adapun sanksi sanksi tersebut dapat berupa : 1. Denda Administrasi 2. Pencabutan hak hak tertentu 3. Perampasan barang barang tertentu 4. Diumumkannya putusan hakim ( biasanya melalui media masa) Sanksi yang bersifat administrasi tentu saja merupakan sanksi yang diutamakan dalam pelaksanaan hukum Tata usaha negara / tata pemerintahan. Adapun sanksi sanksi tersebut yang khas dalam hukum administrasi adalah : 1. Paksaan pemerintah ( bestuurdwang) Paksaan pemerintah ( bestuurdwang) dapat dijelaskan sebagai tindakan tindakan yang nyata dari penguasa guna mengakhiri suatu keadaan yang dilarang oleh suatu kaidah hukum administrasi atau bila masih melakukan apa yang seharusnya ditinggalkan oleh warga karena bertentangan dengan Undang undang. 2. Penarikan kembali keputusan (izin, pembayaran, subsidi) Penarikan kembali keputusan yang menguntungkan tidak perlu didasarkan pada perundang-undangan dan tidak dapat dilakukan bertentangan dengan asas umum. 3. Pengenaan denda administrasi Pengenaan denda administrasi sangat dikenal dalam hukum perpajakan. Dalam UndangUndang nomor 6 tahun 1983 tentang ketentuan umum dan tata cara perpajakan menyebutkan secara sederhana terhadap sanksi yang demikian sebagai sanksi administrasi, Sanksi administrasi dalam perpajakan dimuat dalam Surat ketetapan pajak, Surat tagihan pajak dan Surat ketetapan pajak tambahan. 4. Pengenaan uang paksa oleh pemerintah (dwangsom) Pengenaan uang paksa pada umumnya dilakukan apabila terhadap suatu tindakan yang dinilai melanggar ketentuan, ternyata secara praktis agak sulit untuk dilakukan tindakan yang bersifat paksaan pemerintah dan paksaan pemerintah tersebut akan dirasakan menjadi sanksi yang terlalu berat. Uang paksa ini adalah sebagai pengganti dari paksaan pemerintah, dan uang tersebut akan hilang untuk tiap kali suatu pelanggaran diulangi atau untuk tiap hari ia (sesudah waktu yang ditetapkan)masih berlanjut. berlaku surut karena akan

Kegiatan Belajar 2 Aspek Perlindungan Hukum

Sejalan dengan prinsip negara hukum maka setiap tindakan para penguasa maupun warga negara haruslah sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Hukum memiliki kedudukan yang penting dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat karena hukum diciptakan sebagai standar prilaku dan petunjuk prilaku baik bagi masyarakat maupun para penguasa negara. Sampai saat ini kita masih dapat menemukan begitu banyak pelanggaran pelanggaran hukum dilakukan oleh pemerintah atas nama pembangunan dan kepentingan umum, bahkan terjadi pelanggaran yang cukup berat karena menyangkut hak asasi manusia demi stabilitas dan mempertahankan kekuasaan. Keadaan yang demikian tentu menyalahi dari prinsip prinsip negara hukum yang mencakup keharusan adanya tiga pilar penting yaitu : 1. Pengakuan dan perlindungan atas hak hak asasi manusia. 2. Peradilan yang bebas dari pengaruh sesuatu kekuasaan atau kekuatan lain dan tidak memihak 3. Legalitas dalam arti hukum dan segala bentuk. Kedudukan hukum yang sama baik warga negara maupun pengasa mengandung arti lebih jauh bahwa para penguasa negara dalam tindakannya juga terikat oleh ketentuan hukum. Peraturan perundangan baik privat maupun publik hendaknya memperhatikan fungsi dan tujuan hukum yaitu : 1. Memberikan proteksi terhadap individu dan masyarakat dalam berbagai aspek kepentingan. 2. Sebagai peraturan normatif bagi penyelesaian konflik. Bung hatta juga menyatakan bahwa yang ingin dibangun dari negara yang bernama Indonesia ini adalah negara kesejahteraan bukan negara kekuasaan. Hukum dengan kekuasaan haruslah seiring dimana hukum harus ada untuk mengendalikan kekuasaan, bukan sebagai alat kekuasaan. Untuk melaksanakan hukum memang diperlukan otoritas yang mempunyai kekuasaan memaksa yaitu negara dengan alat alat perlengkapannya. Hukum dengan kekuasaan haruslah berjalan beriringan, dimana hukum sebagai pengendali kekuasaan, bukan kekuasaan yang mengendalikan hukum. Mochtar Kusumaatmaja menyebutkan bahwa ada enam faktor yang puasan masyarakat terhadap proses peradilan, yakni : melatarbelakangi ketidak-

1) Lambatnya penyelesaian perkara 2) Hakim yang kurang berusaha menyelesaikan perkara dengan sungguh-sungguh 3) Kasus penyuapan terhadap hakim 4) Perkara yang diperiksa diluar pengetahuan hakim 5) Pengacara yang tidak profesional 6) Pencari keadilan yang masih memiliki persepsi bahwa pengadilan bukan untuk mencari keadilan, tapi sarana memenangkan perkara. Setiap negara hukum tentu menghendaki adanya peradilan yang berkualitas baik, untuk mewujudkan hal tersebut salah satu hal pokok yang harus dipenuhi adalah adanya kedudukan hakim yang tidak tergantung pada suatu badan dengar lain manapun yang bisa mengarahkan hakim untuk memutuskan perkara sesuai keinginan badan tersebut .Kedudukan hakim yang bebas diartikan sebagai hakim yang mampu memutuskan sendiri atas dasar kewenangan dan hanya terikat oleh hukum. UUD 1945 tidak mengatur dan menjelaskan secara terperinci mengenai kemerdekaan kekuasaan kehakiman hanya memuat dalam dua pasal yaitu pasal 24 dan 25.Untuk melaksanakan lebih lanjut ketentuan pasal 24 dan 25 UUD 1945 tersebut maka dikeluarkan UU No. 14 tahun 1970 tentang ketentuan pokok kekuasaan kehakiman yang dijelaskan bahwa kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan peradilan berdasarkan Pancasila dan demi terselenggarakannya Negara hukum RI. Untuk melaksanakan peradilan lebih jauh UU No. 14 tahun 1970 mengatur tentang badan badan hukum untuk melaksanakan peradilan yang menurut pasal 10 ayat 1 kekuasaan kehakiman dilakukan oleh empat lingkungan peradilan yaitu : 1. 2. 3. 4. Peradilan umum Peradilan agama Peradilan militer Peradilan Tata Usaha Negara. Keempat peradilan ini mempunyai lingkungan wewenang mengadili tertentu dan meliputi badan peradilan tingkat pertama dan banding. Peradilan umum merupakan peradilan bagi rakyat pada umumnya yang menangani baik perkara perdata maupun pidana, sedangkan peradilan agama, militer dan tata usaha negara merupakan peradilan khusus karena menyelidiki perkara perkara tertentu dan menyelidiki golongan rakyat tertentu. Dalam praktiknya, terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan

ketidakmandirian lembaga peradilan, yakni :

a) Faktor struktur organisasi yang masih berada di bawah organisasi lain b) Faktor Hakim c) Faktor Peraturan Hukum d) Faktor Administrasi Peradilan e) Faktor Kekuasaan f) Faktor Politik g) Faktor Kesadaran Hukum Masyarakat Dalam negara hukum baik penguasa maupun warga negara terikat oleh hukum, keduanya terikat oleh norma norma hukum dalam melakukan tindakan tindakannya, masalahnya tidak mudah menentukan suatu perbuatan pemerintah adalah melanggar hukum karena untuk menjaga kewibawaan negara maka untuk membawa penguasa kehadapan pengadilan tidaklah sama dengan ketika kita menghadapkan warga negara biasa. Karena jabatannya penguasa negara memang mempunyai kedudukan yang istimewa dalam menjalankan tugas tugasnya. Oleh karena itu dalam melakukan tindakannya dibatasi berbagai peraturan agar tidak terjerumus pada perbuatan yang melanggar hukum dan menimbulkan kerugian bagi masyarakat. Perbuatan melanggar hukum oleh penguasa pada mulanya hanya dinilai dari perbuatannya tersebut apakah melanggar peraturan perundang undangan. Dalam praktik hukum tata usaha negara di Belanda, pengertian perbuatan melanggar hukum oleh penguasa mencakup : 1) Perbuatan melawan hukum undang-undang dengan mempedulikan peraturan yang dilanggar 2) Perbuatan yang bertentangan dengan kewajiban penguasa itu sendiri 3) Perbuatan yang bertentangan dengan sikap hati-hati seharusnya dilaksanakan oleh penguasa 4) Perbuatan yang bertentangan dengan kepatutan atau kelayakan dalam hidup bermasyarakat Di Indonesia hukum administrasi/tata pemerintahan mengikuti pengertian yang luas dalam menilai perbuatan melanggar hukum oleh penguasa sesuai dengan yurisprudensi putusan Mahkamah Agung No.838/K/SIP/70 yang menyatakan bahwa soal perbuatan melanggar hukum oleh penguasa harus diukur dengan undang undang dan peraturan peraturan formal yang berlaku dan kepatutan dalam masyarakat. Dengan demikian, asas mengenai kepatutan dapat dipergunakan atau kecermatan yang

untuk menilai tindakan pemerintah sebagai tindakan yang dapat dipersalahkan.

MODUL 9 PERADILAN TATA USAHA NEGARA

Kegiatan Belajar 1 Peradilan Tata Usaha Negara

Istilah Hukum TUN secara resmi ditemukan dalam UU No. 14 Tahun 1970 dan Tap MPR No. II/1983 serta UU No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Istilah TUN sesuai UU No. 5 Tahun 1986 adalah administrasi negara yang menyelenggarakan urusan pemerintah, baik di pusat maupun di daerah. Pada Pasal 144 dari UU o. 5 Tahun 1986 dapat disebut UU Peradilan Administrasi Negara. Terdapat dua pengertian TUN, yakni : A. Arti Luas : PTUN adalah peradilan yang menyangkut pejabat dan instansi TUN, baik yang bersifat perkara pidana, perdata, adat, maupun administrasi negara murni. B. Arti Sempit : PTUN adalah peradilan yang menyangkut perkara-perkara administrasi negara murni. Dalam ketentuan Umum Bagian Pertama pada UU No 5 Tahun 1986 terdiri dari 8 pengertian pengertian ,yaitu. 1. TUN adalah Administrasi Negara yang melaksanakan fungsi untuk

menyelenggarakan urusan pemerintah yang baik di pusat maupun daerah. 2. Badan dan Pejabat TUN adalah badan atau Pejabat yang melaksanakan urusan Pemerintahan berdasarkan peraturan perundang undangan yang berlaku. 3. Keputusan TUN adalah suatu penetapan tertulis dikeluarkan oleh Badan dan Pejabat TUN yang berisi tindakan hukum TUN yang berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku. 4. Sengketa TUN adalah sengketa yang timbul dalam bidang TUN antara atau orang badan hukum perdata dengan Badan atau Pejabat TUN, baik di pusat maupun di daerah sebagai akibat dikeluarkannya keputusan TUN. 5. Gugatan adalah permohonan yang berisi tuntutan- tuntutan terhadap pengadilan untuk mendapatkan keputusan. 6. Tergugat adalah Badan atau Pejabat Tata Usaha yang mengeluarkan keputusan berdasarkan wewenang yang ada padanya atau yang dilimpahkan kepadanya . 7. Pengadilan adalah pengadian TUN dan atau pengadilan tinggi TUN di lingkungan peradilan TUN

8. Hakim atau hakim pada pengadilan TUN dan atau hakim pada pengadilan tinggi TUN.
Asas Hukum Acara PTUN

1. Asas praduga rechtmatiq :

Menurut asas ini setiap tindakan pemerintahan selalu

dianggap rechtmatiq sampai ada pembatalan ( lihat pasal 67 ayat (1) UU PTUN 2. Asas gugatan: Pada dasarnya tidak dapat menunda pelaksanaan keputusan TUN

(TUN ) yang dipersengketakan ,kecuali ada kepentingan yang mendesak dari penggugat . ( pasal 67 ayat (1) dan ayat( 4) huruf a) 3. Asas pihak harus didengar : Para pihak mempunyai kedudukan yang sama dan harus diperlakukan dan diperhatikan secara adil. 4. Asas kesatuan beracara dalam perkara sejenis, baik dalam pemeriksaan di pengadilan , maupun kasasi dengan Mahkamah Agung sebagai puncak . 5. Asas penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yang merdeka dan bebas dari segala macam campur tangan kekuasaan yang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung bermaksud tidak untuk mempengaruhi keobjektifan putusan pengadilan ( pasal 24 UUD 1945 jo pasal 4UU No 14 tahun 1970 6. Asas peradilan dilakukan dengan sederhana cepat dan biaya ringan.( Pasal 4 UU No 14 Tahun 1970 7. asas hakim aktif 8. Asas sidang terbuka untuk umum 9. Asas peradilan berjenjang 10. Asas objektivitas Kompetensi dari suatu pengadilan untuk memeriksa, mengadili dan memutus suatu perkara berkaitan dengan jenis dan tingkatan pengadilan yang ada berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pembentukan PTUN dan pengadilan Tinggi TUN (PTTUN) dilakukan secara bertahap karena memerlukan perencanaan dan persiapan yang baik yakni yang menyangkut masalah teknis maupun nonteknik , PTUN dibentuk pertama kali berdasarkan keppres No 52 Tahun 1990 adapun untuk PTTUN berdasarkan keppres No 10 Tahun 1990.

Kegiatan Belajar 2 Urgensi Adanya Peradilan Tata Usaha Negara

Mengikuti alur pikiran kontrol sosial dan teori kedaulatan rakyat untuk mencegah

agar penguasa tidak bertindak sewenang wenang , rakyat tetap mempertahankan kedaulatan sebagai supreme power yang mampu mengatasi kekuasaan yang dimiliki pemerintah. Hukum acara menurut Sjachran Basaah merupakan hukum formal, demikian pula dengan materialnya. Pada umumnya cara pengaturan hukum formal dapat

digolongkan menjadi : 1) Ketentuan prosedur berperkara diatur bersama-sama dengan hukum materialnya atau dengan susunan, kompetensi dari badan yang melakukan peradilan dalam bentuk undang-undang atau peradilan lainnya. UU NO. 5 Tahun 1986

mengikuti penggolongan ini. 2) Ketentuan prosedur berperkara diatur sendiri masing-masing dalam bentuk

undang-undang atau peraturan lainnya. Secara teoritis menunjukkan dengan adanya PTUN maka masyarakat akan dapat menggugat setiap pejabat pemerintah yang dianggapnya telah merugikan masyarakat dengan menyalahgunakan kekuasaan yang dimilikinya .Gugatan ini jelas merupakan suatu bentuk kontrol sosial yang menjadi pernyataan , seberapa jauh kontrol sosial semacam ini efektif dalam mengatasi kekuasaan yang dijadikan dalam masyarakat . Untuk itu ada tiga (3 ) faktor yang perlu diperhatikan 1. Pendayagunaan kekuasaan legislatif sebagai alat kontrol yang paling efektif terhadap perilaku eksekutif. 2. Faktor yang berkaitan secara langsung dengan kehadiran PTUN dalam sistem politik Indonesia , di mana di dalamnya terdapat sejumlah tantangan yang cukup rawan, apa bilah ditinjau dari segi politik kepentingan kepentingan politik sudah tentu akan mewarnai proses peradilan , bilamana politisi mendapat kesempatan untuk itu

sementara aparat peradilan tidak terlindungi dari mereka. 3. Faktor keberadaan mekanisme control sosial dalam sistem politik ,di samping sarana kontrol sosial lain seperti media masa ,organisasi organisasi dan kelompok kelompok kepentingan.

Ada dua hal menyangkut persoalan PTUN Pertama : PTUN dapat berfungsi sebagai sarana kontrol sosial karena lembaga peradilan ini memang mencerminkan gugatan masyarakat terhadap aparat pemerintah. Kedua : Penataan-penataan yang diperlukan menuju arah itu, tidak hanya meliputi satu bidang melainkan ketiga aspek yaitu eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Menurut

Lidle terdapat dua pembelahan/pengkotakan utama, yaitu pembelahan

vertical dan pembelaha horizontal (Lidle, 1970) Pembelahan Vertikal, bertumpu pada tingkat kesenjangan yang ada, baik bersandar kepada kesenjangan ekonomi juga kesenjangan sosial, misalnya perbedaan tingkat pendidikan (desa-kota) menyangkut aspek-aspek politik yang disebabkan oleh tindakan aparatur pemerintah. Pembelahan Horizontal : disebabkan oleh sangat beranekanya ras, agama, suku/etnik maupun kelompok-kelompok masyarakat. Jika isu sentimen antar pengkotakan ini berkembang, hal ini akan menumbuhkan kecemburuan sosial dan ketidak puasan sosial serta anarkhi, yang dapat mengancam keberlangsungan proses demokrasi.

Konsep keadilan atas tindakan administratif aparatur pemerintah yang ada di masyarakat, umumnya dikonstruksi oleh oleh nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat. Persepsi keadilan berhubungan dengan kultur hukum yang ada di masyarakat. Apabila dikaitkan dengan Negara Indonesia maka yang tidak dapat dilepaskan adalah tentang pluralisme hukum yang berada pada masyarakat yang majemuk. Menurut Lev, konsep keadilan secara analisis dapat dibagi menjadi komponen prosodural dan komponen subtansial. Komponen itu berhubungan dengan gaya suatu sistem, misalnya rule of low, Negara hukum, sedangkan komponen subtansial menyangkut hak-hak sosia (Yahya Muhaimin dan Colin Mc. Andrew). Dalam kultur hukum Indonesia konsep petrernalistik yang melekat pada aparatur pemerintah tampak dari para pemimpin yang memiliki kualitas kebijakan yang memihak satu kepentingan.

Kegiatan Belajar 3 Peraturan dan Pelaksanaan Peradilan Tata Usaha Negara

Peradilan TUN sebagaimana ditegaskan dalam UU No.14 Tahun 1970. Dalam pelaksanaannya diberikan kemudahan-kemudahan kepada masyarakat yang dirugikan oleh tindakan alat perlengkapan Negara untuk mencari keadilan antara lain : 1. Bagi masyarakat yang tidak dapat membaca dan menulis Panitera Pengadilan TUN merumuskan materi gugatannya, dan khusus bagi warga yang tidak mampu diberi kesempatan mengajukan gugatan secara cuma-cuma. 2. Apabila terdapat kepentingan warga masyarakat kedudukannya sebagai penggugat dan diperkirakan kepentingannya cukup mendesak misalnya terkena gusuran tempat tinggal, setelah diajukan permohonan oleh penggugat maka Ketua Pengadilan Tingkat Pertama PTUN mengambil kebijaksanaan dan melakukan pemeriksaan dengan cepat.

Dasar Hukum Pembentukan Lembaga Peradilan TUN ini, yaitu : 1. Landasan Dasar Pembentukan PERATURAN ialah pasal 24 UUD 1945 dan UU No.14 Tahun 1970, dalam Undang-undang Kekuasaan Kehakiman Nomor 14 Tahun 1970 pasal 10 menentukan bahwa kekuasaan kehakiman dilakukan dengan : a. Peradilan Umum b. Peradilan Agama c. Peradilan Militer d. Peradilan Tata Usaha Negara

2. Berdasrkan ketentuan pasal 145 UU Nomor 5 Tahun 1986 yang berlaku sejak tanggal diundangkan dalam lembaran Negara, penerapannya, yaitu pada saat tanggal 14 Januari 1991 berdasarkan PP Nomor 7 Tahun 1991 Lembaran Negara No.8 Tahun 1991. 3. Semenjak itu pula telah terbentuk 5 (lima) buah Peradilan Tinggi Tata Usaha Negara, di Jakarta, Surabaya dan Ujung Pandang mulai menjalankan tugasnya, ada 3 (tiga) buah Peradilan TUN tersebut, meskipun akomodasinya dan sarana tidak, memadai karena anggaran yang masih terbatas telah dapat menjalankan tugasnya dengan baik. 4. Dengan telah terbentuknya Lembaga Peradilan TUN ini dengan UU No.5 Tahun 1986 dan diterapkan oleh PP No.7 Tahun 1991 makan Negara Indonesia merupakan Negara Hukum Modern. Hukum yang belaku yaitu dengan memberikan : a. Perlindungan terhadap HAM

b. Terpenuhinya pembagian kekuasaan dan pemisah kekuasaan dilingkungan Tata Hukum Kekuasaan Kehakiman c. Tindakan penguasa didasarkan pada ketentuan-ketentuan yang digariskan oleh Perundang-undangan yang berlaku d. Adanya Peradilan Kekuasaan Kehakiman yang menganut Dual System of Courts disamping terdapat peradilan agama, umum, militer telah terdapat satu peradilan TUN. Seperti Negara Perancis dan Jerman Berdasarkan pasal 8-11 UU No.5 Tahun 1986, maka bahwa kedudukan Peradilan TUN terdiri dari : 1. Peradilan TUN Tingkat Pertama 2. Peradilan TUN pada Tingkat Banding 3. Peradilan Kasasi dan Peninjauan Kembali pada tingkat Mahkaman Agung RI 4. Peradilan TUN dibentuk dengan Kepres 5. Peradilan TUN dibentuk dengan Undang-undang No.5 Tahun1986 6. Susunan Peradilan TUN ditentukan berdasarkan pasal 11 UU No.5 Tahun 1986 terdiri dari : a. Pimpinan terdiri dari Ketua dan Wakil Ketua Peradilan Hukum TUN b. Hakim-hakim anggota Peradilan TUN c. Panitera-panitera Peradilan Hukum TUN d. Sekretaris Peradilan Hukum TUN Penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh badan-badan atau pejabat TUN adalah merupakan Keputusan-keputusan Hukum TUN yang berdasarkan atas unsur : Peraturan perundang-undangan yang berlaku; 1. Bersifat konkret; 2. Individual; 3. Final; 4. Berisi tindakan hukum TUN; 5. Sesuai penetapan tertulis; 6. Dikeluarkan oleh badan/pejabat TUN Menimbulkan akibat hukum bagi seseorang/badan hukum perdata. Negara yang merupakan Keputusan Peradilan TUN, yakni berupa; 1. Keputusan TUN yang merupakan perbuatan hukum perdata; 2. Keputusan yang memerlukan merupakan pengaturan yang bersifat umum; 3. Keputusan yang masih memerlukan persetujuan;

4. Keputusan TUN berdasarkan ketentuan Kitab Undang-undang Hukum Pidana atau kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana atau peraturan-peraturan lain yang bersifat hukum pidana; 5. Keputusan TUN yang dikeluarkan atas dasar pemeriksaan badan peradilan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; 6. Keputusan TUN mengenai Tata Usaha ABRI 7. Keputusan Panitia Pemilihan, baik di pusat dan di daerah mengenai hasil pemilu. Keputusan TUN yang mana Pengadilan TUN tidak berwenang memeriksa dan memutus, yaitu yang dikeluarkan : 1. Dalam waktu perang, keadaan bahaya, keadaan bencana alam atau keadaan luar biasa yang membahayakan, berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku 2. Dalam keadaan mendesak untuk kepentingan umum berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku Pelaksanaan PTUN Di Indonesia 1. Kewenangan Peradilan TUN 2. Ketua, Wakil Ketua, Hakim, dan Panitera Pengadilan 3. Penyelesaian Sengketa TUN 4. Pembuktian 5. Pemeriksaan dengan Acara Cepat 6. Putusan Pengadilan 7. Banding 8. Pemeriksaan Kasasi 9. Pemeriksaan Peninjauan Kembali