Anda di halaman 1dari 51

1

BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
2.1 Teori Terkait
2.1.1 Stroke
1. Pengertian
Stroke adalah cedera vaskuler akut pada otak. Ini berarti stroke adalah suatu
cedera mendadak dan berat pada pembuluh-pembuluh darah otak. Cedera dapat
disebabkan oleh sumbatan bekuan darah, penyempitan pembuluh darah, atau
pecahnya pembuluh darah ( Feigin, 2007).
Gambar 2.1 proses terjadinya stroke
Secara sederhana stroke didefinisikan sebagai penyakit otak akibat
terhentinya suplai darah ke otak karena sumbatan atau perdarahan, dengan gejala
lemas atau lumpuh sesaat, atau gejala berat sampai hilang kesadaran, dan
kematian (Junaidi, 2008).
2. Jenis-jenis stroke
2
Gambar 2.2 hemoragik Stroke dan iskemik Stroke
a. Stroke hemoragik
Stroke hemoragik disebabkan oleh perdarahan ke dalam jaringan otak
(disebut hemoragia intraserebrum atau hematom intraserebrum) atau ke dalam
ruang subaraknoid, yaitu ruang sempit antara permukaan otak dan lapisan
jaringan yang menutupi otak (disebut hemoragia subaraknoid) Feigin (2007).
Hemoragia subaraknoid ini adalah jenis stroke yang paling mematikan.
Perdarahan dari sebuah arteri intrakranium biasanya disebabkan oleh
aneurisma (arteri yang melebar) yang pecah atau karena suatu penyakit,
misalnya hipertensi (peningkatan tekanan darah) atau angiopati amiloid (di
mana terjadi pengendapan protein di dinding arteri-arteri kecil di otak). Salah
satu gejala yang khas pada perdarahan subaraknoid adalah nyeri pada kepala
yang timbul mendadak, parah, dan tanpa sebab yang jelas. Nyeri kepala ini
sering disertai dengan muntah, kaku leher, atau kehilangan kesadaran
sementara. Beberapa jenis dari stroke hemoragik, yaitu:
1) Hemoragi ekstradural (hemoragi epidural) adalah kedaruratan bedah neuro
yang memerlukan perawatan segera. Stroke ini biasanya diikuti dengan
fraktur tengkorak dengan robekan arteri tengah atau arteri meningens
lainnya. Pasien harus diatasi dalam beberapa jam setelah mengalami
cedera untuk dapat mempertahankan hidup pasien tersebut.
3
2) Hemoragi subdural (termasuk hemoragi subdural akut) pada dasarnya
sama dengan hemoragi epidural, akan tetapi ada perbedaannya, yaitu pada
hematoma subdural yang robek adalah bagian vena sehingga pembentukan
hematomanya lebih lama dan menyebabkan tekanan pada otak.
3) Hemoragi subaraknoid (hemoragi yang terjadi di ruang subaraknoid) dapat
terjadi sebagai akibat dari trauma atau hipertensi, tetapi penyebab paling
sering adalah kebocoran aneurisme pada area sirkulus Willisi dan
malformasi arteri-vena konginetal pada otak.
4) Hemoragi intraserebral, yaitu hemoragi atau perdarahan di substansi dalam
otak yang paling umum terjadi pada pasien dengan hipertensi dan
aterosklerosis serebral karena perubahan degeneratif karena penyakit ini
biasanya menyebabkan ruptur pembuluh darah. Stroke ini sering terjadi
pada kelompok umur 40-70 tahun. Pada orang yang usianya di bawah 40
tahun, hemoragi intraserebral ini biasanya disebabkan oleh malformasi
arteri-vena, hemangioblastoma, dan trauma. Selain itu, hemoragi
intraserebral ini dapat pula disebabkan oleh adanya tumor otak, dan
penggunaan medikasi tertentu.
b. Stroke iskemik
Pada stroke iskemik, penyumbatan bisa terjadi di sepanjang jalur
pembuluh darah arteri yang menuju ke otak. Darah ke otak disuplai oleh dua
arteria karotis interna dan dua arteri vertebralis. Arteri-arteri ini merupakan
cabang dari lengkung aorta jantung. Sebagian besar stroke iskemik terjadi di
hemisfer otak, meskipun sebagian terjadi di serebelum (otak kecil) atau batang
otak. Stroke ini asimtomatik (tak bergejala) atau hanya menimbulkan
kecanggungan, kelemahan ringan (biasanya hanya satu lengan), atau masalah
4
pada daya ingat. Namun, stroke ringan yang berganda dan terjadi berulang-
ulang dapat menimbulkan cacat berat, penurunan kognitif, dan demensia.
Stroke iskemik ini dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
1) Stroke Trombotik: proses terbentuknya thrombus yang membuat
penggumpalan.
2) Stroke Embolik: Tertutupnya pembuluh arteri oleh bekuan darah.
3) Hipoperfusion Sistemik: Berkurangnya aliran darah ke seluruh bagian
tubuh karena adanya gangguan denyut jantung.
Menurut Feigin (2007), stroke iskemik biasanya disebabkan oleh :
1) Sumbatan oleh bekuan darah (ateroma)
2) Penyempitan sebuah arteri atau beberapa arteri yang mengarah ke otak.
3) Embolus (kotoran) yang terlepas dari jantung atau arteri ekstrakrani (arteri
yang berada di luar tengkorak) yang menyebabkan sumbatan di satu atau
beberapa arteri intrakrani (arteri yang ada di dalam tengkorak) ini disebut
infark otak atau stroke iskemik. Lalu Junaidi (2008), menambahan
penyebab stroke iskemik yaitu:
a) Infeksi Stroke bisa terjadi bila suatu peradangan atau infeksi
menyebabkan menyempitnya pembuluh darah yang menuju otak.
b) Obat-obatan juga dapat menyebabkan stroke, seperti kokain dan
amfetamin, dengan jalan mempersempit lumen pembuluh darah di
otak dan menyebabkan stroke.
c) Hipotensi Penurunan tekanan darah yang tiba-tiba bisa menyebabkan
berkurangnya aliran darah keotak, yang biasanya menyebabkan
seseorang pingsan. Stroke bisa terjadi jika tekanan darah rendahnya
parah dan menahun. Hal ini tejadi jika seseorang mengalami
5
kehilangan darah yang banyak karena cidera atau pembedahan,
serangan jantung atau irama jantung yang abnormal.
3. Etiologi
a. Trombus
1) Aterosklerosis dalam arteri intrakranial dan intrakranial.
2) Keadaan yang berkaitan dengan perdarahan intraserebral.
3) Artritis yang disebabkan oleh penyakit kolagen (autoimun) atau artritis
bakteri.
4) Hiperkoagulasi
5) Seperti policythemia.
6) Trombosis vena serebral.
b. Emboli
1) Kerusakan katub karena penyakit jantung rematik.
2) Infark miokardial.
3) Fibrilasi arteri.
4) Endokarditis bakteri dan endokarditis nonbakteri yang dapat menyebabkan
bekuan pada endokardium.
c. Perdarahan
1) Perdarahan intraserebral karena hipertensi.
2) Perdarahan subaraknoid.
3) Ruptur anurisma.
4) Arteri venous malformation
5) Hipokoagulasi (pada klien dengan blood dyscrasias).
6
Gambar 2.3 Akibat-akibat stroke pada daerah otak
4. Faktor resiko stroke
a. Faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi:
1) Usia
Dari berbagai penelitian, diketahui bahwa semakin tua usia, semakin besar
pula resiko terkena stroke. Hal ini berkaitan dengan adanya proses
degenerasi (penuan) yang terjadi secara alamiah dan pada umumnya pada
orang lanjut usia, pembuluh darahnya lebih kaku oleh karena adanya plak
(atherosklerosis).
2) Jenis kelamin
Laki-laki memiliki resiko lebih besar untuk terkena stroke dibandingkan
dengan perempuan. Hal ini mungkin disebabkan karena laki-laki
cenderung merokok dan rokok itu sendiri ternyata dapat merusak lapisan
dari pembuluh darah tubuh.
7
3) Herediter
Hal ini terkait dengan riwayat stroke pada keluarga. Orang dengan riwayat
stroke pada kelurga, memiliki resiko yang lebih besar untuk terkena stroke
dibandingkan dengan orang tanpa riwayat stroke pada keluarganya.
b. Faktor yang dapat dimodifikasi:
1) Hipertensi (darah tinggi)
Orang-orang yang tekanan darahnya tinggi memiliki peluang besar untuk
mengalami stroke. Bahkan hipertensi merupakan penyebab terbesar
(etiologi) dari kejadian stroke itu sendiri. Hal ini disebabkan karena pada
kasus hipertensi, dapat terjadi gangguan aliran darah tubuh dimana
diameter pembuluh darah pada nantinya akan mengecil (vasokontriksi)
sehingga darah yang mengalir ke otak pun akan berkurang. Dengan
pengurangan aliran darah otak (ADO) maka otak akan kekurangan suplai
oksigen dan juga glukosa (hipoksia), karena suplai berkurang secara terus
menerus, maka jaringan otak lama-lama akan mengalami kematian.
2) Penyakit jantung
Adanya penyakit jantung seperti penyakit jantung koroner, infak miokard
(kematian otot jantung) juga merupakan faktor terbesar terjadinya stroke.
Seperti kita ketahui, bahwa sentral dari aliran darah di tubuh terletak
dijantung. Bilamana pusat mengaturan aliran darahnya mengalami
kerusakan, maka aliran darah tubuh pun akan mengalami gangguan.
Termasuk aliran darah yang menuju ke otak. Karena adanya gangguan
aliran, jaringan otak pun dapat mengalami kematian secara mendadak
ataupun bertahap.
3) Diabetes mellitus
8
Diabetes melitus (DM) atau disebut juga sebagai kencing manis, memiliki
resiko untuk mengalami stroke. Hal ini terkait dengan pembuluh darah
penderita DM yang umumnya menjadi lebih kaku (tidak lentur). Adanya
peningkatan ataupun penurunan kadar glukosa darah secara tiba-tiba juga
dapat menyebabkan kematian jaringan otak. Terdapat dua jenis diabetes,
yaitu : Diabetes tipe I dan II. Tipe I biasanya dimulai pada usia muda dan
memerlukan penyuntikan insulin secara teratur. Tipe II biasanya
menyerang orang yang berusia 40 tahun ke atas dan pada tahap awal
biasanya dapat diatasi dengan tablet dan modifikasi makanan.
4) Hiperkolesterolemi
Hiperkolesterolemia merupakan keadaan dimana kadar kolesterol di dalam
darah berlebih. Kolesterol yang berlebih terutama jenis LDL akan
mengakibatkan terbentuknya plak/kerak pada pembuluh darah, yang lama-
kelama akan semakin banyak dan menumpuk sehingga lama-kelama akan
mengganggu aliran darah.
5) Obesitas
Kegemukan juga merupakan salah satu faktor resiko terjadinya stroke. Hal
tersebut terkait dengan tingginya kadar lemak dan kolesterol dalam darah
pada orang dengan obesitas, dimana biasanya kadar LDL (lemak jahat)
lebih tinggi dibandingkan dengan kadar HDLnya (lemak
baik/menguntungkan).
6) Merokok
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa orang-orang yang merokok
ternyata memiliki kadar fibrinogen darah yang lebih tinggi dibandingkan
dengan orang yang tidak merokok. Peningkatan kadar fibrinogen ini dapat
9
mempermudah terjadinya penebalan pembuluh darah sehingga pembuluh
darah menjadi sempit dan kaku dengan demikian dapat menyebabkan
gangguan aliran darah, dan terjadilah stroke.
5. Gejala dan tanda stroke
Menurut Junaidi (2008), berikut ini adalah gejala dan tanda-tanda stroke
yang lebih menditail :
a. Adanya serang defisit neurologist fokal, berupa kelemahan atau kelumpuhan
lengan atau tungkai, atau salah satu sisi tubuh.
b. Hilangnya rasa atau adanya sensasi abnormal pada lengan, tungkai, atau salah
satu sisi tubuh. Baal atau mati rasa sebelah, terasa kesemutan, terasa seperti
terkena cabai, rasa terbakar.
c. Mulut, lidah mencong bila diluruskan.
d. Gangguan menelan seperti sulit menelan, minum suka tersedak.
e. Bicara tidak jelas (rero), sulit berbahasa, kata yang diucapkan tidak sesuai
dengan keinginan, pelo, sengal, bicara ngaco, kata-katanya tidak dapat
difahami (afasia). Bicara tidak lancar, hanya sepatah-sepatah kata yang
terucap.
f. Sulit memikirkan atau mengucapkan kata-kata yang tepat
g. Tidak memahami pembicaraan orang lain
h. Tidak mampu membaca dan menulis, dan tidak memahami tulisan
i. Tidak dapat berhitung, kepadaian menurun
j. Tidak mampu mengenali bagian dari tubuh
k. Hilangnya kendali terhadap kandung kemih seperti kencing yang tidak
disadari
l. Berjalan menjadi sulit, langkahnya kecil-kecil
10
m. Menjadi pelupa (dimensia)
n. Vertigo (pusing, puyeng), atau perasan berputar yang menetap saat tidak
beraktivitas
o. Awal terjadinya penyakit (onset), mendadak, dan biasanya terjadi pada saat
beristirahat atau bagun tidur
p. Hilangnya penglihatan berupa penglihatan yang terganggu sebagian lapang
pandangan tidak terlihat, gangguan pandangan tanpa rasa nyeri, penglihatan
gelap atau ganda sesaat.
q. Kelopak mata sulit dibuka atau dalam keadaan terjatuh
r. Pendengaran hilang atau gangguan pendengaran berupa tuli satu telinga atau
pendengaran kurang.
s. Menjadi lebih sensitif seperti mudah menagis atau tertawa
t. Kebanyakan tidur atau selalu ingin tidur
u. Kehilangan keseimbangan, gerakan tubuh tidak terorganisasi dengan baik,
sempoyongan, atau terjatuh
v. Gangguan kesadaran, pingsan sampai tidak sadarkan diri (koma)
6. Patofisiologi Dari Stroke
Stroke merupakan penyakit peredaran darah otak yang diakibatkan oleh
tersumbatnya aliran darah ke otak atau pecahnya pembuluh darah di otak,
sehingga supplay darah ke otak berkurang. Secara umum gangguan pembuluh
darah otak atau stroke merupakan gangguan sirkulasi serebral dan merupakan
gangguan neurologik vokal yang dapat timbul sekunder dari suatu proses patologi
pada pembuluh darah serebral. Stroke bukan merupakan penyakit tunggal tetapi
merupakan kumpulan tanda dan gejala dari beberapa penyakit diantaranya
11
hipertensi, penyakit jantung, peningkatan lemak dalam darah, diabetes mellitus,
dan penyakit vaskuler perifer.
Penyebab utama stroke adalah Trombosis serebral (bekuan darah di dalam
pembuluh darah otak atau leher), aterosklerosis serebral dan perlambatan sirkulasi
serebral merupakan penyebab utama terjadinya thrombosis. Embolisme serebral
(bekuan darah atau material lain yang di bawa ke otak dari bagian tubuh yang
lain), abnormalitas patologik pada jantung kiri seperti endokarditis, jantung
reumatik, serta infeksi pulmonal adalah tempat berasalnya emboli. Hemoragik
serebral (pecahnya pembuluh darah serebral sehingga terjadi perdarahan ke dalam
jaringan otak atau area sekitar), hemoragik dapat terjadi di epidural, subdural, dan
intraserebral.
Peningkatan tekanan darah yang terus menerus akan mengakibatkan
pecahnya aneurisme, sehingga dapat terjadi perdarahan dalam parenkim otak yang
bisa mendorong struktur otak dan merembas kesekitarnya bahkan dapat masuk
kedalam ventrikel atau ke ruang intrakranial. Ekstravasasi darah terjadi di daerah
otak dan subaraknoid, sehingga jaringan yang ada disekitarnya akan tergeser dan
tertekan. Darah ini sangat mengiritasi jaringan otak, sehingga dapat
mengakibatkan vasospasme pada arteri di sekitar perdarahan. Spasme ini dapat
menyebar ke seluruh hemisfer otak dan sirkulus willis. Bekuan darah yang semula
lunak akhirnya akan larut dan mengecil. Daerah otak disekitar bekuan darah dapat
membengkak dan mengalami nekrosis, karena kerja enzim-enzim maka bekuan
darah akan mencair, sehingga terbentuk suatu rongga. Sesudah beberapa bulan
semua jaringan nekrotik akan diganti oleh astrosit dan kapiler-kapiler baru
sehingga terbentuk jalinan desekitar rongga tadi. Akhirnya rongga-rongga tersebut
terisi oleh astroglia yang mengalami proliferasi.
12
Gangguan neurologis tergantung letak dan beratnya perdarahan. Pembuluh
yang mengalami gangguan biasanya arteri yang menembus otak seperti cabang-
cabang lentikulostriata dari arteri serebri media yang memperdarahi sebagian dari
ganglia basalis dan sebagian besar kapsula interna. Timbulnya penyakit ini
mendadak dan evolusinya dapat secara cepat dan konstan, berlangsung beberapa
menit, beberapa jam, bahkan beberapa hari. Gambaran klinis yang sering terjadi
antara lain; sakit kepala berat, leher bagian belakang kaku, muntah, penurunan
kesadaran, dan kejang. Sembilan puluh persen menunjukkan adanya darah dalam
cairan serebrospinal (bila perdarahan besar dan atau letak dekat ventrikel), dari
semua pasien ini 70-75% akan meninggal dalam waktu 1-30 hari, biasanya
diakibatkan karena meluasnya perdarahan sampai ke sistem ventrikel, herniasi
lobus temporalis, dan penekanan mesensefalon, atau mungkin disebabkan karena
perembasan darah ke pusat-pusat yang vital. Penimbunan darah yang cukup
banyak (100 ml) di bagian hemisfer serebri masih dapat ditoleransi tanpa
memperlihatkan gejala-gejala klinis yang nyata. Sedangkan adanya bekuan darah
dalam batang otak sebanyak 5 ml saja sudah dapat mengakibatkan kematian. Bila
perdarahan serebri akibat aneurisma yang pecah biasanya pasien masih muda, dan
20 % mempunyai lebih dari satu aneurisma.
7. Komplikasi Dari Stroke
a. Hipoksia serebral
Fungsi otak bergantung pada ketersediaan oksigen yang dikirimkan ke
jaringan. Pemberiaan oksigen suplemen dan mempertahankan hemoglobin
serta hematokrit pada tingkat dapat diterima akan membantu dalam
mempertahankan oksigenasi jaringan. Diminimalkan dengan memberi
oksigenasi darah adekuat ke otak.
13
b. Aliran darah serebral
Bergantung pada tekanan darah, curah jantung, dan integritas pembuluh darah
serebral. Hidrasi adekuat (cairan intravena) harus menjamin penurunan
viskositas darah dan memperbaiki aliran darah serebral. Hipertensi dan
hipotensi ekstrem perlu dihindari untuk mencegah perubahan pada aliran
darah serebral dan potensi meluasnya area cedera.
c. Embolisme serebral
Dapat terjadi setelah infark miokard atau fibrilasi atrium atau dapat berasal
dari katub jantung prostetik. Embolisme akan menurunkan aliran darah ke
otak dan selanjutnya menurunkan aliran darah serebral. Disritmia dapat
mengakibatkan curah jantung tidak konsisten dan penghentian trombus lokal.
Selain itu, disritmia dapat menyebabkan embolus serebral dan harus
diperbaiki.
8. Akibat yang dapat ditimbulkan stroke
Sebagian stroke bersifat fatal, sementara yang lain menyebabkan cacaat
tetap atau sementara. Sekitar 2 dari 10 orang yang mengalami stroke akut akan
meningggal dalam 1 bulan pertama 3 dari 10 orang meninggal dalam 1 tahun, 5
dari 10 orang yang meninggal dalam 5 tahun, dan 7 dari 10 orang meninggal dalam
10 tahun. Tanpa pencegahan yang memadai 10-20% pasien mengalami dekubitus
(luka akibat terlalul lama tidur/berbaring) dengan atau tanpa disertai infeksi dalam
bulan pertama. Dekubitus adalah salah satu penyebab utama kematian setelah
stroke (Feigin, 2007).
Junaidi (2008), mengemukakan beberap kecacatan yang mungkin diderita
pasien pasca stroke :
14
a. Tidak mampu berbicara atau kemampuan kemampuan berkomunikasi menjadi
berkurang
b. Tidak mampu berjalan secara mandiri, perlu bantuan orang lain atau alat.
c. Gangguan buang air besar, ngompol
d. Gangguan menelan atau makan
e. Ketidak mampuan berpindah posisi, misal dari tempat tidur ke kursi
f. Perlu bantuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari misalnya berpakaian
mandi mencuci dan lain-lain.
9. Pemeriksaan yang dilakukan di Rumah Sakit
Menurut Feigin (2007), pemeriksaan yang dilakukan di Rumah sakit
meliputi :
a. CT (Computerized Tomography) dan MRI (Magnetic Resonance Imaging)
b. Ultrasonografi dan MRA (Magnetic Resonance Angiography)
c. Angiografi otak
d. Pungsi lumbal
e. EKG (Elektrokardiografi)
f. Ekokardiografi
g. Foto torak
h. Pemeriksaan darah dan urin
10. Penatalaksanaan stroke
Menurut Junaidi (2008), keadaan khusus yang perlu mendapat penanganan :
a. Hipertensi
b. Kelainan fungsi jantung
15
c. Hiperglikemia
d. Hemoglobin yang rendah
e. Penurunan kadar albumin
Penatalaksanaan pada stroke iskemik yang ideal adalah sesuai dengan
patofisiologinya, dan kemajuan dalam bidang biologi molekuler, seluler, dan
subseluler membuktikan bahwa sel neuron yang terancam mati dan terganggu
fungsinya pada serangan stroke bukan hanya di daerah lesi melainkan juga di
daerah sekitarnya yaitu di daerah penumbra. Jadi penanganan pertama yang ideal
untuk stroke adalah tindakan umum suportif yang dilakukan mulai pre-hospital
(dirumah penderita, selama transportasi, atau di klinik) sampai di ruang gawat
darurat rumah sakit sebelum dikonsultasikan kepada spesialis saraf untuk
penanganan yang lebih khusus. Biasanya diberikan oksigen dan dipasang infuse
untuk memasukkan cairan dan zat makanan, dan diberi terapi sesuai keadaan atau
proses tahapan strokenya. Obat terapi khusus stroke iskemik adalah obat
trombolitik (penghancur thrombus atau sumbatan pembuluh darah), obat anti
agregasi trombosit/antikoagulan (anti pembekuan darah), neuroprotektan
(pelindung saraf), dan antagonis kalsium seperti nimodipin (Junaidi, 2008).
2.1.2 Kulit
1. Pengertian
Kulit merupakan organ tubuh paling luar dan membatasi bagian dalam
tubuh dari lingkungan luar. Luas kulit pada orang dewasa sekitar 1.5 m
2
dan
beratnya sekitar 15% dari berat badan secara keseluruhan.
Kulit terdiri atas tiga bagian utama, yaitu epidermis, dermis, dan
hipodermis. Epidermis terdiri dari stratum korneum yang kaya akan keratin,
16
stratum lucidum, stratum granulosum yang kaya akan keratohialin, stratum
spinosum dan stratum basal yang mitotik. Dermis terdiri dari serabut-serabut
penunjang antara lain kolagen dan elastin. Sedangkan hipodermis terdiri dari sel-
sel lemak, ujung saraf tepi, pembuluh darah dan pembuluh getah bening.
2. Fisiologi Kulit
Kulit merupakan organ yang berfungsi sangat penting bagi tubuh
diantaranya adalah memungkinkan bertahan dalam berbagai kondisi lingkungan,
sebagai barier infeksi, mengontrol suhu tubuh (termoregulasi), sensasi, eskresi dan
metabolisme.
Fungsi proteksi kulit adalah melindungi dari kehilangan cairan dari
elektrolit, trauma mekanik, ultraviolet dan sebagai barier dari invasi
mikroorganisme patogen. Sensasi telah diketahui merupakan salah satu fungsi kulit
dalam merespon rangsang raba karena banyaknya akhiran saraf seperti pada daerah
bibir, puting dan ujung jari. Kulit berperan pada pengaturan suhu dan
keseimbangan cairan elektrolit.
Termoregulasi dikontrol oleh hipothalamus. Temperatur perifer mengalami
proses keseimbangan melalui keringat, insessible loss dari kulit, paru-paru dan
mukosa bukal. Temperatur kulit dikontrol dengan dilatasi atau kontriksi pembuluh
darah kulit. Bila temperatur meningkat terjadi vasodilatasi pembuluh darah,
kemudian tubuh akan mengurangi temperatur dengan melepas panas dari kulit
dengan cara mengirim sinyal kimia yang dapat meningkatkan aliran darah di kulit.
Pada temperatur yang menurun, pembuluh darah kulit akan vasokontriksi yang
kemudian akan mempertahankan panas.
3. Fungsi kulit
17
Kulit memiliki banyak fungsi, yang berguna dalam menjaga homeostasis
tubuh. Fungsi-fungsi tersebut dapat dibedakan menjadi fungsi proteksi, absorpsi,
ekskresi, persepsi, pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), dan pembentukan
vitamin D.
a. Fungsi proteksi
Kulit menyediakan proteksi terhadap tubuh dalam berbagai cara sebagai
yaitu berikut:
1) Keratin melindungi kulit dari mikroba, abrasi (gesekan), panas, dan zat
kimia. Keratin merupakan struktur yang keras, kaku, dan tersusun rapi dan
erat seperti batu bata di permukaan kulit.
2) Lipid yang dilepaskan mencegah evaporasi air dari permukaan kulit dan
dehidrasi; selain itu juga mencegah masuknya air dari lingkungan luar
tubuh melalui kulit.
3) Sebum yang berminyak dari kelenjar sebasea mencegah kulit dan rambut
dari kekeringan serta mengandung zat bakterisid yang berfungsi
membunuh bakteri di permukaan kulit. Adanya sebum ini, bersamaan
dengan ekskresi keringat, akan menghasilkan mantel asam dengan kadar
pH 5-6.5 yang mampu menghambat pertumbuhan mikroba.
4) Pigmen melanin melindungi dari efek dari sinar UV yang berbahaya. Pada
stratum basal, sel-sel melanosit melepaskan pigmen melanin ke sel-sel di
sekitarnya. Pigmen ini bertugas melindungi materi genetik dari sinar
matahari, sehingga materi genetik dapat tersimpan dengan baik. Apabila
terjadi gangguan pada proteksi oleh melanin, maka dapat timbul
keganasan.
18
5) Selain itu ada sel-sel yang berperan sebagai sel imun yang protektif. Yang
pertama adalah sel Langerhans, yang merepresentasikan antigen terhadap
mikroba. Kemudian ada sel fagosit yang bertugas memfagositosis mikroba
yang masuk melewati keratin dan sel Langerhans.
b. Fungsi absorpsi
Kulit tidak bisa menyerap air, tapi bisa menyerap material larut-lipid
seperti vitamin A, D, E, dan K, obat-obatan tertentu, oksigen dan karbon
dioksida. Permeabilitas kulit terhadap oksigen, karbondioksida dan uap air
memungkinkan kulit ikut mengambil bagian pada fungsi respirasi. Selain itu
beberapa material toksik dapat diserap seperti aseton, CCl
4
, dan merkuri.
Beberapa obat juga dirancang untuk larut lemak, seperti kortison, sehingga
mampu berpenetrasi ke kulit dan melepaskan antihistamin di tempat
peradangan.Kemampuan absorpsi kulit dipengaruhi oleh tebal tipisnya kulit,
hidrasi, kelembaban, metabolisme dan jenis vehikulum. Penyerapan dapat
berlangsung melalui celah antarsel atau melalui muara saluran kelenjar; tetapi
lebih banyak yang melalui sel-sel epidermis daripada yang melalui muara
kelenjar.
c. Fungsi ekskresi
Kulit juga berfungsi dalam ekskresi dengan perantaraan dua kelenjar
eksokrinnya, yaitu kelenjar sebasea dan kelenjar keringat:
1) Kelenjar sebasea
Kelenjar sebasea merupakan kelenjar yang melekat pada folikel rambut dan
melepaskan lipid yang dikenal sebagai sebum menuju lumen. Sebum
dikeluarkan ketika muskulus arektor pili berkontraksi menekan kelenjar
19
sebasea sehingga sebum dikeluarkan ke folikel rambut lalu ke permukaan
kulit. Sebum tersebut merupakan campuran dari trigliserida, kolesterol,
protein, dan elektrolig. Sebum berfungsi menghambat pertumbuhan bakteri,
melumasi dan memproteksi keratin.
2) Kelenjar keringat
Walaupun stratum korneum kedap air, namun sekitar 400 mL air dapat
keluar dengan cara menguap melalui kelenjar keringat tiap hari. Seorang
yang bekerja dalam ruangan mengekskresikan 200 mL keringat tambahan,
dan bagi orang yang aktif jumlahnya lebih banyak lagi. Selain
mengeluarkan air dan panas, keringat juga merupakan sarana untuk
mengekskresikan garam, karbondioksida, dan dua molekul organik hasil
pemecahan protein yaitu amoniak dan urea. Terdapat dua jenis kelenjar
keringat, yaitu kelenjar keringat apokrin dan kelenjar keringat merokrin.
3) Kelenjar keringat apokrin terdapat di daerah aksila, payudara dan pubis,
serta aktif pada usia pubertas dan menghasilkan sekret yang kental dan bau
yang khas. Kelenjar keringat apokrin bekerja ketika ada sinyal dari sistem
saraf dan hormon sehingga sel-sel mioepitel yang ada di sekeliling kelenjar
berkontraksi dan menekan kelenjar keringat apokrin. Akibatnya kelenjar
keringat apokrin melepaskan sekretnya ke folikel rambut lalu ke permukaan
luar.
4) Kelenjar keringat merokrin (ekrin) terdapat di daerah telapak tangan dan
kaki. Sekretnya mengandung air, elektrolit, nutrien organik, dan sampah
metabolisme. Kadar pH-nya berkisar 4.0 6.8. Fungsi dari kelenjar
keringat merokrin adalah mengatur temperatur permukaan,
mengekskresikan air dan elektrolit serta melindungi dari agen asing dengan
20
cara mempersulit perlekatan agen asing dan menghasilkan dermicidin,
sebuah peptida kecil dengan sifat antibiotik.
d. Fungsi persepsi
Kulit mengandung ujung-ujung saraf sensorik di dermis dan subkutis.
Terhadap rangsangan panas diperankan oleh badan-badan Ruffini di dermis dan
subkutis. Terhadap dingin diperankan oleh badan-badan Krause yang terletak di
dermis, badan taktil Meissner terletak di papila dermis berperan terhadap
rabaan, demikian pula badan Merkel Ranvier yang terletak di epidermis.
Sedangkan terhadap tekanan diperankan oleh badan Paccini di epidermis. Saraf-
saraf sensorik tersebut lebih banyak jumlahnya di daerah yang erotik.
e. Fungsi pengaturan suhu tubuh (termoregulasi)
Kulit berkontribusi terhadap pengaturan suhu tubuh (termoregulasi)
melalui dua cara: pengeluaran keringat dan menyesuaikan aliran darah di
pembuluh kapiler. Pada saat suhu tinggi, tubuh akan mengeluarkan keringat
dalam jumlah banyak serta memperlebar pembuluh darah (vasodilatasi)
sehingga panas akan terbawa keluar dari tubuh. Sebaliknya, pada saat suhu
rendah, tubuh akan mengeluarkan lebih sedikit keringat dan mempersempit
pembuluh darah (vasokonstriksi) sehingga mengurangi pengeluaran panas oleh
tubuh.
f. Fungsi pembentukan pigmen (melanogenesis)
Sel pembentuk pigmen kulit (melanosit) terletak di lapisan asal
epidermis. Sel ini berasal dari rigi saraf, jumlahnya 1:10 dari sel basal. Jumlah
melanosit serta jumlah dan besarnya melanin yang terbentuk menentukan warna
kulit. Melanin dibuat dari sejenis protein, tirosin, dengan bantuan enzim
tirosinase, ion Cu dan oksigen oleh sel melanosit di dalam melanosom dalam
21
badan sel melanosit. Pajanan sinar matahari mempengaruhi produksi melanin.
Bila pajanan bertambah, produksi melanin akan meningkat. Pigmen disebarkan
ke dalam lapisan atas sel epidermis melalui tangan-tangan yang mirip kaki
cumi-cumi pada melanosit. Ke arah dermis pigmen, disebar melalui melanofag.
Selain oleh pigmen, warna kulit dibentuk pula oleh tebal tipisnya kulit, Hb-
reduksi, Hb-oksidasi, dan karoten.
g. Fungsi keratinisasi
Lapisan epidermis kulit orang dewasa mempunyai tiga jenis sel utama:
keratinosit, melanosit dan sel Langerhans. Keratinisasi dimulai dari sel basal
yang kuboid, bermitosis ke atas berubah bentuk lebih poligonal yaitu sel
spinosum, terangkat lebih ke atas menjadi lebih gepeng, dan bergranula menjadi
sel granulosum. Kemudian sel tersebut terangkat ke atas lebih gepeng, dan
granula serta intinya hilang menjadi sel spinosum dan akhirnya sampai di
permukaan kulit menjadi sel yang mati, protoplasmanya mengering menjadi
keras, gepeng, tanpa inti yang disebut sel tanduksel tanduk secara kontinu lepas
dari permukaan kulit dan diganti oleh sel yang terletak di bawahnya. Proses
keratinisasi sel dari sel basal sampai sel tanduk berlangsung selama 14-21 hari.
Proses ini berlangsung terus-menerus dan berguna untuk fungsi rehabilitasi
kulit agar selalu dapat melaksanakan fungsinya secara baik. Pada beberapa
macam penyakit kulit proses ini terganggu, sehingga kulit akan terlihat bersisik,
tebal, dan kering.
h. Fungsi pembentukan vitamin D
22
Sintesis vitamin D dilakukan dengan mengaktivasi prekursor 7
dihidroksi kolesterol dengan bantuan sinar ultraviolet. Enzim di hati dan ginjal
lalu memodifikasi prekursor dan menghasilkan calcitriol, bentuk vitamin D
yang aktif. Calcitriol adalah hormon yang berperan dalam mengabsorpsi
kalsium makanan dari traktus gastrointestinal ke dalam pembuluh darah.
Walaupun tubuh mampu memproduksi vitamin D sendiri, namun belum
memenuhi kebutuhan tubuh secara keseluruhan sehingga pemberian vitamin D
sistemik masih tetap diperlukan. Pada manusia kulit dapat pula
mengekspresikan emosi karena adanya pembuluh darah, kelenjar keringat, dan
otot-otot di bawah kulit.
i. Fungsi ekspresi emosi
Hasil gabungan fungsi yang telah disebut di atas menyebabkan kulit
mampu berfungsi sebagai alat untuk mentakan emosi yang terdapat dalam jiwa
manusia. Kegembiraan dpat dinyatakan oleh otot kulit muka yang relaksasi dan
tersenyum, kesedihan diutarakan pleh kelenjar air mata yang meneteskan air
matanya, ketegangan dengan otot kulit dan kelenjar keringat, ketakutan oleh
kontraksi pembuluh darah kapiler kulit sehingga kulit menjadi pucat dan rasa
erotik oleh kelenjar minyak dan pembuluh darah kulit yang melebar sehingga
kulit tampak semakin merah, berminyak, dan menyebarkan bau khas. Semua
fungsi kulit pada manusia berguna untuk mempertahankan kehidupannya sama
seperti organ tubuh lain.
4. Efek penuaan pada kulit
Usia yang menginjak 40 tahun akan memberi gambaran penuaan berupa
perubahan-perubahan tertentu pada kulit. Kebanyakan perubahan tersebut terjadi di
lapisan dermis.
23
1) Fibroblas, yang memproduksi serat kolagen dan elastin, akan mengalami
penurunan jumlah dalam proses penuaan. Serat kolagen menjadi berkurang,
mengeras, dan terurai ke dalam bentuk yang tidak beraturan. Sedangkan serat
elastin menjadi kehilangan elastisitasnya, menebal dan robek. Sehingga kulit
pada penuaan akan menghasilkan gambaran celah yang disebut sebagai kerut.
2) Sel-sel Langerhans akan berkurang jumlahnya dan makrofag menjadi kurang
aktif sehingga menurunkan aktifitas imun pada kulit.
3) Produksi keringat berkurang dan kelenjar sebasea akan mengecil sehingga
produksi sebum akan berkurang menyebabkan kulit menjadi kering dan lebih
rentan terhadap infeksi (karena mantel asam tidak efektif).
4) Melanosit fungsional akan berkurang sehingga menyebabkan rambut berwarna
putih (uban) dan pigmentasi yang atipikal. Sedangkan beberapa melanosit lain
akan mengalami pembesaran dan menghasilkan ruam-ruam pigmen.
5) Dinding pembuluh darah dermis menjadi lebih tebal dan kurang permeabel.
6) Jaringan lemak adiposa menjadi longgar.
7) Proses migrasi sel basal menjadi sel permukaan berjalan lebih lambat, sehingga
penyembuhan apabila ada cedera juga menjadi lama.
5. Kelembaban Kulit
Kelembaban kulit langsung berkaitan dengan hidrasi klien dan kondisi
lapisan lemak luar permukaan kulit (DeWitt, 1990).Hidrasi kulit dan membran
mukosa membantu mengungkapkan keseimbangan cairan tubuh, perubahan
lingkungan integument, dan pengaturan suhu tubuh. Kelembaban adalah kebasahan
dan keminyakan. Kulit normalnya halus dan kering. Sedikit keringat dan minyak
harus ada (Seidel et al, 1995). Peningkatan keringat dapat berhubungan dengan
aktivitas, lingkungan yang hangat, obesitas, kecemasan, atau kegembiraan. Kulit
24
yang terlalu kering banyak terjadi pada lansia dan orang-orang yang terlalu banyak
menggunakan sabun di saat mandi.
Perawat menggunakan ujung jari tanpa sarung tangan untuk mempalpasi
permukaan kulit dan mengobservasi membrane mukosa untuk kepekaan,
kekeringan, krusta, dan pengelupasan.Pengelupasan adalah tampilan sepert
ketombe yang mengelupas pada saat permukaan kulit diusap sedikit. Sisik
berbentuk seperti sisik ikan yang mudah digosok dari permukaan kulit. Baik
pengelupasan maupun sisik merupakan indikator untuk kulit yang kering abnormal
(Hardy, 1990). Klien ditanyakan tanyakan tentang gatal. Winter itch merupakan
kondisi umum yang ditemukan pada saat iklim berkelembaban rendah selama
musim dingin (DeWitt, 1990). Kekeringan yang berlebihan dapat memperburuk
penyakit kulit yang sudah ada seperti eczema dan dermatitis.
6. Suhu Kulit
Suhu kulit bergantung pada jumlah darah yang bersirkulasi melewati
dermis. Peningkatan atau penurunan suhu kulit mengindikasikan peningkatan atau
penurunan aliran darah. Normalnya suhu kulit berada pada rentang dari dinginke
hangat bila disentuh. Suhu lebih akurat jika dikaji dengan mempalpasi kulit
menggunakan permukaan dorsal tangan atau jari. Suhu kulit dapat sama di seluruh
tubuh atau bervariasi dari satu area ke area lain, seperti hangat setempat pada
daerah luka yang terinfeksi atau dingin pada jari karena penurunan aliran darah.
Pengkajian suhu kulit merupakan pengkajian dasar jika klien beresiko mengalami
gangguan sirkulasi. Selain itu, perawat dapat mengidentifikasi dekubitus stadium I
secara dini ketika mencatat adanya rasa hangat dan eritema pada area kulit.
7. Tekstur Kulit
25
Karakter permukaan kulit dan bagian yang lebih dalam pada perabaan
adalah teksturnya. Perawat menentukan apakah kulit klien halus atau kasar, tipis
atau tebal, kencang atau lentur, dan indurasi (kekerasan) atau lunak dengan
mengusapnya dan sedikit mempalpasinya dengan ujung jari. Tekstur kulit
normalnya halus, lunak, rata dan fleksibel pada anak-anak dan dewasa. Tetapi,
tekstur biasanya tidak sama di seluruh tubuh. Telapak tangan dan kaki cenderung
lebih tebal. Pada lansia, kulit menjadi keriput karena penurunan kolagen, lemak
subkutan, dan kelenjar keringat.
8. Turgor Kulit
Turgor adalah elastisitas kulit, yang dapat hilang karena edema atau
dehidrasi. Normalnya kulit kehilangan elastisitas sejalan dengan penambahan usia.
Untuk mengkaji turgor kulit, lipatan kulit di bagian belakang lengan bawah atau
area sternum dijumput atau dicubit dengan ujung jari dan dilepaskan. Kulit normal
akan terangkat dengan mudah dan segera kembali ke posisi semula. Bagian
belakang tangan bukan tempat yang baik untuk menguji turgor kulit karena kulit di
daerah tersebut longgar dan tipis (Seidel et al, 1995). Kulit tetap tetap tercubit jika
turgor buruk. Perawat mencatat kemudahan kulit terangkat dan kecepatanya
kembali ke tempat semula. Kegagalan kulit kembali ke kontur atau ke bentuk
normal mengindikasikan adanya dehidrasi. Klien dengan turgor kulit buruk tidak
memiliki kekenyalan terhadap pemakaian dan robekan pada kulit. Kulit cenderung
tetap tercubit jika turgor buruk. Penurunan turgor menyebabkan klien mengalami
kerusakan kulit.
9. Sirkulasi Kulit
26
Sirkulasi kulit mempengaruhi warna area setempat dan tampilan pembuluh
darah superficial. Sejalan dengan penambahan usia, kapiler menjadi semakin
rapuh. Area tekan setempat, yang ditemukan setelah klien berbaring atau duduk
pada satu posisi, tampak kemerahan, merah muda, atau pucat. Petekie adalah
bercak kecil, seukuran ujung jarum, berwarna merah atau ungu yang disebabkan
oleh hemoragi kecil pada lapisan kulit.
10. Lesi Pada Kulit
Selama palpasi perawat dapat melokasi lesi kulit, yang merupakan
perubahan kulit patologis (Seidel et al, 1995). Kulit normalnya bebas dari lesi,
kecuali bintik-bintik (frackles) atau perubahan yang berkaitan dengan pertambahan
usia seperti skin tag, keratosis senile (penebalan kulit), angioma cherry (papula
merah delima), dan kulitl atrofik. Lesi dapat bersifat primer (terjadi sebagai
manifestasi spontan awal dari suatu proses penyakit), seperti lepuh karena gigitan
serangga, atau sekunder (terjadi karena pembentukan akhir atau trauma terhadap
lesi primer, seperti ulkus tekan.
2.1.3 Dekubitus
1. Pengertian
Luka tekan atau Dekubitus adalah kerusakan jaringan yang terlokalisir yang
disebabkan oleh adanya kompressi jaringan yang lunak diatas tulang yang
menonjol (Bony Prominence) dan adanya tekanan dari luar dalam jangka waktu
yang lama. Luka tekan (Pressure Ulcer) atau Dekubitus merupakan masalah serius
yang sering terjadi pada pasien yang mengalami ganggua mobilitas, seperti pasien
stroke, injuri tulang belakang atau penyakit degeneratif. Istilah Dekubitus
sebenarnya kurang tepat dipakai untuk menggambarkan luka tekan karena asal kata
27
Dekubitus adalah decubere yang artinya berbaring. Ini diartikan bahwa luka tekan
hanya berkembang pada pasien yang dalam keadaan berbaring. Padahal sebenarnya
luka tekan tidak hanya berkembang pada pasien yang berbaring, tapi juga dapat
terjadi pada pasien yang menggunakan kursi roda atau prostesi. Oleh karena itu
istilah Dekubitus sekarang ini jarang digunakan di literatur-literatur untuk
menggambarkan istilah luka tekan. (Wikipedia, 2004,
http://www.yahoo.com.Diperoleh tanggal 10 April 2010)
2. Gejala
Setiap bagian tubuh dapat terkena ulkus dekubitus, tetapi bagian tubuh yang
paling sering terjadi ulkus dekubitus adalah daerah tekanan dan penonjolan tulang.
Bagian tubuh yang sering terkena ulkus dekubitus adalah tuberositas ischi (30%),
trochanter mayor (20%), sacrum (15%), tumit (10%), lutut, maleolus, siku, jari
kaki, scapulae dan processus spinosus vertebrae. Tingginya frekuensi tersebut
tergantung pada posisi penderita.
Gejala klinik yang tampak oleh penderita, biasanya berupa kulit yang
kemerahan sampai terbentuknya suatu ulkus. Kerusakan yang terjadi dapat
meliputi dermis, epidermis, jaringan otot sampai tulang. Berdasarkan gejala klinis,
terdapat empat stadium luka, yaitu:
a. Stadium 1
Ulserasi terbatas pada epidermis dan dermis dengan eritema pada kulit.
Penderita dengan sensibilitas baik akan mengeluh nyeri. Stadium ini umumnya
reversibel dan dapat sembuh dalam 5-10 hari.
b. Stadium 2
Ulserasi mengenai epidermis, dermis dan meluas sampai ke jaringan adiposa.
Terlihat eritema dan indurasi. Stadium ini dapat sembuh dalam 10-15 hari.
28
c. Stadium 3
Ulserasi meluas sampai ke lapisan lemak subkutis, dan otot sudah mulai
terganggu dengan adanya edema, inflamasi, infeksi dan hilangnya struktur
fibril. Tepi ulkus tidak teratur dan terlihat hiper atau hipopigmentasi dengan
fibrosis. Kadang-kadang terdapat anemia dan infeksi sistemik. Biasanya
sembuh dalam 3-8 minggu.
d. Stadium 4
Ulserasi dan nekrosis meluas mengenai fasia, otot, tulang serta sendi. Dapat
terjadi artritis septik atau osteomielitis dan sering disertai anemia. Dapat
sembuh dalam 3-6 bulan.
Gambar 2.4 Stadium Luka Tekan
Menurut stadium luka tekan diatas, luka tekan berkembang dari permukaan
luar kulit ke lapisan dalam (top-down). Namun menurut hasil penelitian saat ini,
luka tekan juga dapat berkembang dari jaringan bagian dalam seperti fascia dan
otot walapun tanpa adanya adanya kerusakan pada permukaan kulit. Ini dikenal
dengan istilah injuri jaringan bagian dalam (Deep Tissue Injury). Hal ini
disebabkan karena jaringan otot dan jaringan subkutan lebih sensitif terhadap
29
iskemia daripada permukaan kulit. Kejadian DTI sering disebabkan karena
immobilisasi dalam jangka waktu yang lama, misalnya karena periode operasi yang
panjang. Penyebab lainnya adalah seringnya pasien mengalami tenaga yang
merobek (shear).
Jenis luka tekan ini lebih berbahaya karena berkembang dengan cepat dari
pada luka tekan yang dimulai dari permukaan kulit. Kebanyakan DTI juga lebih
sulit disembuhkan walaupun sudah diberikan perawatan yang adekuat. Stadium
dari DTI masih diperdebatkan karena stadium yang selama ini ada
merepresentasikan luka tekan yang dimulai dari permukaan menuju kedalam
jaringan (top-down), sedangkan DTI dimulai dari dalam jaringan menuju ke kulit
superficial (bottom-up).
Selama ini perawat sulit untuk mengidentifikasi adanya DTI karena
kerusakan pada bagian dalam jaringan sulit untuk dilihat dari luar. Yang selama ini
sering digunakan sebagai tanda terjadinya DTI pada pasien yaitu adanya tanda
trauma yang dalam atau tanda memar pada jaringan. Pada orang yang berkulit
putih, DTI sering nampak sebagai warna keunguan atau kebiruan pada kulit. Saat
ini terdapat metode yang reliabel untuk mengenali adanya DTI, yaitu dengan
menggunakan ultrasonografi. Bila hasil ultrasonografi menunjukan adanya daerah
hypoechoic, maka ini berarti terdapat kerusakan yang parah pada jaringan bagian
dalam, meskipun tidak ada kerusakan dipermukaan kulit atau hanya minimal.
Gambar 2.5 menunjukan adanya daerah hypoechoic (lingkaran merah) pada
pemeriksaan dengan menggunakan ultrasonografi.
30
Gambar 2.5 DTI dilihat dari permukaan kulit (kiri) dan DTI yang dikaji dengan
ultrasound (kanan)
(courtesy of prof. Hiromi Sanada, Japan)
3. Tujuan Pencegahan Dekubitus
Tujuan utama dalam pencegahan Dekubitus yaitu mengurangi masa
perawatan pasien dan mengurangi biaya perawatan Rumah Sakit.
4. Faktor Resiko
Braden & Bergstrom (2000) mengembangkan sebuah skema untuk
menggambarkan faktor-faktor resiko untuk terjadinya Dekubitus. Ada dua hal
utama yang berhubungan dengan resiko terjadinya luka tekan, yaitu faktor tekan
dan toleransi jaringan.
Faktor yang mempengaruhi durasi dan intensitas tekanan diatas tulang yang
menonjol adalah imobilitas, inaktifitas, dan penurunan sensori persepsi. Sedangkan
faktor yang mempengaruhi toleransi jaringan dibedakan menjadi dua yaitu faktor
yang berasal dari pasien. Sedangkan yang dimaksud dengan faktor ekstrinsik yaitu
faktor-faktor dari luar yang mempunyai efek deteriorasi pada lapisan eksternal dari
kulit.
Dibawah ini adalah penjelasan dari masing-masing faktor diatas:
a. Mobilitas dan aktivitas
Mobilitas adalah kemampuan untuk mengubah dan mengontrol posisi
tubuh, sedangkan aktivitas adalah kemampuan untuk berpindah. Pasien yang
berbaring terus-menerus ditempat tidur tanpa mampu untuk merubah posisi
beresiko tinggi untuk terkena Dekubitus. Imobilisasi adalah faktor yang paling
signifikan dalam kejadian luka tekan. Penelitian yang dilakukan Suradi (2003)
di salah satu rumah sakit di Pontianak juga menunjukkan bahwa mobilitas
merupakan faktor yang signifikan untuk perkembangan luka tekan.
b. Penurunan sensori persepsi
31
Pasien dengan penurunan sensori persepsi akan mengalami penurunan
untuk merasakan sensasi nyeri akibat tekanan diatas tulang yang menonjol, Bila
ini terjadi dalam durasi yang lama, pasien akan mudah terkena Dekubitus.
c. Kelembapan
Kelembapan yang disebabkan karena inkontinensia dapat
mengakibatkan terjadinya maserasi pada jaringan kulit. Jaringan yang
mengalami maserasi akan mudah mengalami erosi. Selain itu kelembapan juga
mengakibatkan kulit mudah terkena pergesekan (Friction) dan perobekan
jaringan (Shear). Inkntinensia lebih signifikan dalam perkembangan luka tekan
dari pada inkontinensia urin karena adanya bakteri dan enzim pada feses dan
dapat merusak permukaan kulit.
d. Tenaga yang merobek (Shear)
Merupakan kekuatan mekanis yang meregangkan dan merobek jaringan,
pembuluh darah serta struktur jaringan yang lebih dalam, yang berdekatan
dengan tulang yang menonjol. Contoh yang paling sering dari tenaga yang
merobek ini adalah ketika pasien diposisikan dalam posisi semi fowler yang
melebihi 30 derajat. Pada posisi ini pasien bisa merosot kebawah, sehingga
mengakibatkan tulangnya bergerak kebawah namun kulitnya masih tertinggal.
Ini dapat mengakibatkan oklusi dari pembuluh darah, serta kerusakan pada
jaringan bagian dalam seperti otot, namun hanya menimbulkan sedikit
kerusakan pada permukaan kulit.
e. Pergesekan (Friction)
Pergesekan terjadi ketika dua permukaan bergerak dengan arah yang
berlawanan. Pergesekan dapat mengakibatkan abrasi dan merusak permukaan
32
epidermis kulit. Pergesekan bisa terjadi pada saat penggantian sprei pasien yang
tidak berhati-hati.
f. Nutrisi
Hipoalbuminemia, kehilangan berat badan, dan malnutrisi umumnya
diidentifikasi sebagai faktor predisposisi untuk terjadinya luka tekan. Menurut
penelitian Guenter (2000) stadium tiga dan empat dari luka tekan pada orangtua
berhubungan dengan penurunan berat badan, rendahnya kadar albumin, dan
intake makanan yang tidak mencukupi.
g. Usia
Pasien yang sudah tua memiliki resiko yang tinggi untuk terkena luka
tekan karena kulit dan jaringan akan berubah seiring dengan penuaan. Penuaan
mengakibatkan kehilangan otot, penurunan kadar serum albumin, penurunan
respon inflamatori, penurunan elastisitas kulit, serta penurunan kohesi antara
epidermis dan dermis. Perubahan ini berkombinasi dengan faktor penuaan lain
akan membuat kulit menjadi berkurang toleransinya terhadap tekanan,
pergesekan, dan tenaga yang merobek.
h. Tekanan arteriolar yang rendah
Tekanan arteriolar yang rendah akan mengurangi toleransi kulit
terhadap tekanan sehingga dengan aplikasi tekanan yang rendah sudah mampu
mengakibatkan jaringan menjadi iskemia. Studi yang dilakukan oleh Nency
Bergstrom (1992) menemukan bahwa tekanan Sistolik dan tekanan Diastolik
yang rendah berkontribusi pada perkembangan luka tekan.
i. Stress emosional
Depresi dan stress emosional kronik misalnya pada pasien psikiatrik
juga merupakan faktor resiko untuk perkembangan dari luka tekan.
33
j. Merokok
Nikotin yang terdapat pada rokok dapat menurunkan aliran darah dan
memiliki efek toksik terhadap endotelium pembuluh darah. Menurut hasil
penelitian Suriadi (2002) ada hubungan yang signifikan antara merokok dengan
perkembangan terhadap luka tekan.
k. Temperatur kulit
Menurut hasil penelitian Sugama (1992) peningkatan temperatur
merupakan faktor yang signifikan dengan resiko terjadinya luka tekan. Menurut
hasil penelitian, faktor penting lainya yang juga berpengaruh terhadap resiko
terjadinya luka tekan adalah tekanan antara muka (Interface Pressure). Tekanan
antara muka adalah kekuatan per unit area antara tubuh dengan permukaan
matras. Apabila tekanan antar muka lebih besar dari pada tekanan kapiler rata-
rata, maka pembuluh darah kapiler akan mudah kolap, daerah tersebut menjadi
lebih mudah untuk terjadinya iskemia dan nekrotik.
5. Patogenesis dekubitus
Tiga elemen dasar yang menjadi dasar terjadi dekubitus, yaitu : intensitas
tekanan dan tekanan yang menutup kapiler, durasi dan besarnya tekanan, dan
toleransi jaringan. Menurut Meehan (1994), tempat yang paling sering terjadi
dekubitus adalah sacrum, tumit, siku, maleolus lateral, trokanter besar, dan
tuberositis iskial (Potter & Perry, 2005).
Dekubitus terjadi sebagai hasil hubungan antara waktu dengan tekanan.
Semakin besar tekanan dan durasinya, maka semakin besar pula insiden
terbentuknya luka. Kulit dan jaringan subkutan dapat mentoleransi beberapa
34
tekanan. Tapi, pada tekanan eksternal terbesar dari pada tekanan dasar kapiler akan
menurunkan atau menghilangkan aliran darah ke dalam jaringan sekitarnya. Jika
tekanan dihilangkan sebelum titik kritis maka sirkulasi pada jaringan tersebut akan
pulih kembali melalui mekanisme fisiologis hiperemia reaktif (Potter & Perry,
2005).
6. Pencegahan dekubitus
Tahap pertama pencegahan adalah mengkaji faktor-faktor resiko klien.
Kemudian perawat mengurangi faktor-faktor lingkungan yang mempercepat
terjadinya dekubitus, seperti suhu ruangan panas (penyebab diaporesis),
kelembaban, atau linen tempat tidur yang berkerut (Potter & Perry, 2005).
Identifikasi awal pada klien beresiko dan faktor-faktor resikonya membantu
perawat mencegah terjadinya dekubitus. Pencegahan meminimalkan akibat dari
faktor-faktor resiko atau faktor yang member kontribusi terjadinya dekubitus. Tiga
area intervensi keperawatan utama mencegah terjadinya dekubitus adalah
perawatan kulit, yang meliputi higienis, pemberian massage dan perawatan kulit
topical ; pencegahan mekanik dan pendukung untuk permukaan, yang meliputi
pemberian posisi, penggunaan tempat tidur dan kasur terapeutik ; dan pendidikan
(Potter & Perry, 2005).
Potter & Perry, 2005), menjelaskan tiga area intervensi keperawatan dalam
pencegahan dekubitus, yaitu :
a. Higiene dan perawatan kulit
35
Perawat harus menjaga kulit klien tetap bersih dan kering. Pada
perlindungan dasar untuk mencegah kerusakan kulit, maka kulit klien dikaji
terus-menerus oleh perawat, daripada delegasi ke tenaga kesehatan lainnya.
Jenis produk untuk perawatan kulit sangat banyak dan penggunaannya harus
disesuaikan dengan kebutuhan klien. Ketika kulit dibersihkan maka sabun dan
air panas harus dihindari pemakaiannya. Sabun dan lotion yang mengandung
alkohol menyebabkan kulit kering dan meninggalkan residu alkalin pada kulit.
Residu alkalin menghambat pertumbuhan bakteri normal pada kulit, dan
meningkatkan pertumbuhan bakteri oportunistik yang berlebihan, yang
kemudian dapat masuk pada luka terbuka
b. Pengaturan posisi
Intervensi pengaturan posisi diberikan untuk mengurangi takanan dan
gaya gesek pada kilit. Dengan menjaga bagian kepala tempat tidur setiggi 30
derajat atau kurang akan menurunkan perluang terjadinya dekubitus akibat gaya
gesek. Posisi klien immobilisasi harus diubah sesuai dengan tingkat aktivitas,
kemampuan persepsi, dan rutinitas sehari-hari. Oleh karena itu standar
perubahan posisi dengan interval 1 sampai 2 jam mungkin tidak dapat
mencegah terjadinya dekubitus pada beberapa klien. Telah direkomendasikan
penggunaan jadwal tertulis untuk mengubah dan menentukan posisi tubuh klien
minimal setiap 2 jam. Saat melakukan perubahan posisi, alat Bantu unuk posisi
harus digunakan untuk melindungi tonjolan tulang. Untuk mencegah cidera
akibat friksi, ketika mengubah posisi, lebih baik diangkat daripada diseret. Pada
klien yang mampu duduk di atas kursi tidak dianjurkan duduk lebih dari 2 jam.
c. Alas pendukung (kasur dan tempat tidur terapeutik)
36
Berbagai jenis alas pendukung, termasuk kasur dan tempat tidur khusus,
telah dibuat untuk mengurangi bahaya immobilisasi pada sistem kulit dan
muskuloskeletal. Tidak ada satu alatpun yang dapat menghilangkan efek
tekanan pada kulit. Pentingnya untuk memahami perbedaan antra alas atau alat
pendukung yang dapat mengurangi tekanan dan alat pendukung yang dapat
menghilangkan tekanan. Alat yang menghilangkan tekanan dapat mengurangi
tekanan antar permukaan (tekanan antara tubuh dengan alas pendukung)
dibawah 32 mmHg (tekanan yang menutupi kapiler. Alat untuk mengurangi
tekanan juga mengurangi tekanan antara permukaan tapi tidak di bawah besar
tekanan yang menutupi kapiler.
Potter & Perry (2005), mengidentifikasi 9 parameter yang digunakan
ketika mengevaluasi alat pendukung dan hubungannya dengan setiap tiga
tujuan yang telah dijelaskan tersebut :
1) Harapan hidup
2) Kontrol kelembaban kulit
3) Kontrol suhu kulit
4) Redistribusi tekanan
5) Perlunya servis produk
6) Perlindungan dari jatuh
7) Kontrol infeksi
8) Kemudahan terbakar api dan
9) Friksi klien atau produk
7. Penatalaksanaan dekubitus
37
Penatalaksanaan klien dekubitus memerlukan pendekatan holistik yang
menggunakan keahlian pelaksana yang berasal dari beberapa disiplin ilmu
kesehatan. Selain perawat, keahlian pelaksana termasuk dokter, ahli fisiotrapi, ahli
terapi okupasi, ahli gizi, dan ahli farmasi. Beberapa aspek dalam penatalaksanaan
dekubitus antara lain perawatan luka secara lokal dan tindakan pendukung seperti
gizi yang ade kuat dan cara penghilang tekanan (Potter & Perry, 2005).
Selama penyembuhan dekubitus, maka luka harus dikaji untuk lokasi,
tahap, ukuran, traktusinus, kerusakan luka, luka menembus, eksudat, jaringang
nekrotik, dan keberadaan atau tidak adanya jaringan granulasi maupun
epitelialisasi. Dekubitus harus dikaji ulang minimal 1 kali per hari. Pada perawatan
rumah banyak pengkajian dimodifikasi karena pengkajian mingguan tidak
mungkin dilakukan oleh pemberi perawatan. Dekubitus yang bersih harus
menunjukkan proses penyembuhan dalam waktu 2 sampai 4 minggu (Potter &
Perry, 2005).
2.1.4 Posturing
Salah satu tindakan keperawatan yang utama dalam mencegah terjadinya
Dekubitus yaitu dengan melakukan perubahan posisi secara teratur sehingga
mengurangi tekanan pada kulit. Posturing merupakan salah satu intervensi mandiri
perawat dalam mencegah kejadian Dekubitus.
1. Pengertian
Posturing atau mengatur dan merubah posisi adalah mengatur pasien
dalam posisi yang baik dan mengubah secara teratur dan sistematik, hal ini
merupakan salah satu aspek keperawatan yang penting. Posisi tubuh apapun, baik
38
atau tidak akan mengganggu apabila dilakukan dalam waktu yang lama (Potter &
Perry, 2005).
2. Tujuan merubah atau mengatur posisi
a. Mencegah nyeri otot
b. Mengurangi tekanan
c. Mencegah kerusakan saraf dan pembuluh darah superficial
d. Mencegah kontraktur otot
e. Mempertahankan tonus otot dan refleks
f. Memudahkan suatu tindakan baik medik maupun keperawatan
3. Macam-macam posisi pasien
a. Posisi Semi Fowler
Adalah posisi berbaring dengan menaikkan kepala dan badan 30
sampai 45 derajat.
b. Posisi Fowler
Adalah posisi berbaring dengan menaikkan kepala dan badan 80
sampai 90 derajat.
c. Posisi High Fowler
Adalah menaikkan kepala dan badan >90 derajat. Pada posisi ini lutut
bias ditekuk atau diluruskan. Posisi ini biasanya digunakan pada pasien
kesulitan bernafas dan gangguan jantung. Pada posisi ini gravitasi menarik
diafragma kebawah sehingga rongga dada bias lebih luas dan ventilasi paru
lebih baik.
d. Posisi Orthopneic
Merupakan adaptasi dari posisi high fowler. Pasien duduk pada tempat
tidur atau pinggir tempat tidur dengan meja samping tempat tidur atau diatas
39
tempat tidur. Posisi ini biasanya digunakan untuk memperbaiki respirasi
karena pelebaran rongga dada maksimal, terutama pada pasien yang
mengalami kesulitan mengeluarkan udara pernafasan.
e. Posisi Dorsal Rekumbent
Sikap pasien dengan posisi terlentang dengan kedua tungkai ditekuk,
sedikit direnggangkan dan kedua telapak kaki menapak pada kasur. Kegunaan
posisi ini adalah memudahkan untuk pemeriksaan, seperti palpasi daerah perut,
rectal touch dan vagina touch dan untuk memudahkan pelaksanaan prosedur
keperawatan, seperti pemasangan kateter, vulva hygiene dan lain-lain.
f. Posisi Prone
Sikap pasien dengan posisi berbaring tengkurap dengan kepala miring
pada salah satu sisi. Keuntungan posisi ini membuat lutut dan panggul ekstensi
penuh. Kegunaan posisi ini yaitu menghindari terjadinya kontraktur dan
memudahkan drainage mulut khususnya pada pasien tidak sadar yang telah
menjalani operasi mulut dan tenggorokan. Posisi ini tidak boleh dilakukan
pada pasien gangguan leher dan lumbal.
g. Posisi Lateral
Sikap pasien miring pada salah satu sisi tubuh. Semakin fleksi panggul
atas dan lutut maka semakin stabil dan seimbang. Kegunaan posisi ini adalah
untuk mengurangi lordosis, memperbaiki susunan tulang belakang, membantu
mengurangi tekanan pada sacrum dan bokong, nyaman bagi pasien yang
mengalami defisit sensori dan motorik.
2.1.5 Massage
40
1. Pengertian Massage
Perkataan massage berasal dari bahasa Arab Maas yang berarti
menyentuh atau meraba. Massage diambil dari bahasa Francis. Dalam bahasa
Indonesia disebut pijat atau mengurut (lutut). Massage dapat diartikan pijat yang
telah disempurnakan dengan ilmu-ilmu tentang tubuh manusia. Dapat pula
didefinisikan dengan gerakan-gerakan tangan yang mekanis terhadap tubuh
manusia dengan mempergunakan bermacam-macam bentuk pegangan atau
manipulasi.
2. Teknik massage
a. Mengusap (Effleurage)
Effleurage merupakan kata dari bahasa prancis yang dapat berarti
stroking (mengusap). Gerakan ini merupakan teknik paling sederhan dalam
proses pemijatan, dan dapat dilakukan di seluruh bagian tubuh. Selain itu,
mengusap (effleurage) juga merupakan gerakan berirama yang khususnya
dipakai untuk:
1) Mengawali dan mengakhiri kontak.
2) Memungkinkan partner untuk bersantai dibawah sentuhan kita.
3) Memungkinkan kita untuk merasakan daerah yang mengalami ketegangan.
4) Meratakan minyak pijat, lotion, krim, bedak bayi dengan lebih mudah.
5) Menghubungkan bagian tubuh yang berbeda.
6) Menghangatkan otot untuk persiapan pijat yang lebih dalam.
Mengusap (effleurage) juga membantu meningkatkan aliran darah dan
getah bening serta serta dapat mengendurkan otot (relaksasi). Pada
kenyataannya, gerakan ini merupakan pijat utama yang dapat memberikan
manfaat aromaterapi dari minyak murni.
41
b. Menekan (Petrissage)
Menekan (Petrissage) merupakan istilah umum yang diberika untuk
segala jenis pijatan dengan teknik menekan, meremas, dan menggulung otot
dibawah kulit. Ini juga mencakup teknik meremas. Gerakan ini merupakan
gerakan mengusap tingkat sedang yang dilakukan setelah mengusap
(effleurage) dan berperan untuk:
1) Meremas otot dari kotoran, mengurangi ketegangan, dan mengeluarkan
racun serta kelelahan dari dalam tubuh.
2) Mempersiapkan tubuh untuk pemijatan yang lebih mendalam, seperti pijat
dengan teknik menggesek (frection)
3) Melepaskan simpul ketegangan.
4) Meregangkan dan melonggarkan urat dan jaringan penghubung (fascia).
5) Merangsang sirkulasi pada suatu daerah tertentu.
Petrissage juga membantu mengembalikan darah dan oksigen serta
melonggarkan otot.
c. Menepuk (Percussion)
Istilah ini dipakai sesuai dengan suara yang ditimbulkannya. Teknik ini
dikenal dengan tapotement, kata dari bahasa prancis yang berarti ketukan
ringan, terdiri dari pukulan cepat dengan kedua tangan yang dilakukan secara
bergantian dalam gerakan berirama. Seperti pada bagian perkusi pada sebuah
orkestra, tepukan ini mula-mula dilakukan secara perlahan, kemudian semakin
cepat dan berakhir dengan tiba-tiba.Teknik ini digunakan untuk:
1) Meningkatkan sirkulasi lokal.
42
2) Menyelaraskan dan merangsang daerah jaringan lunak seperti pada bagian
luar paha dan pantat.
3) Merangsang ujung saraf.
d. Menggesek (Friction)
Ini merupakan pijatan terpusat yang dalam dan dilakukan setelah
mengusap (effleurage) dan menekan (Petrissage). Pijatan ini dilakukan
dengan menggunakan ujung jari, ibu jari, tumit tangan, serta sering dilakukan
hanya dengan menggunakan satu tangan. Selain itu, teknik ini dilakukan tanpa
atau hanya menggunakan sedikit gerakan peluncuran,sehingga minyak dan
krim sangat jarang diperlukan dalam teknik ini. Gerakan ini terarah pada
jaringan secara dalam yang menjadi pusat ketegangan. Menggesek (Friction)
digunakan untuk:
1) Mengurangi oedema (penimbunan air)
2) Meregangkan dan melepaskan simpul ketegangan.
3) Membebaskan pengapuran di sekitar daerah persendian, misalnya pada
encok.
4) Merangsang saluran pencernaan dan usus besar.
5) Mengobati rasa sakit yang sering terjadi dari cabang-cabang sistem saraf
utama.
e. Menyelesaikan pijatan
Pada akhir pemijatan, partner kita akan merasa melayang dan rileks, oleh
karena itu, sangat penting untuk mengakhiri pijat secara perlahan dengan tujuan
mengembalikan kesadarannya. Kita harus selalu mengakhiri pijat dengan pijatan
pengkandasan (grounding stroke) dan biarkan partner kita untuk tetap diam dan
beristirahat beberapa saat sebelum bangun.
43
3. Macam - Macam Massage.
a. Sport Massage.
Adalah pijat yang dipakai dalam lapangan sport. Ditujukan untuk
membentuk dan memelihara kondisi badan para olah ragawan agar konstan
baik.
b. Segment Massage.
Ialah pijat yang dilakukan untuk mengobati beberapa macam penyakit
tanpa memasukkan obat ke dalam tubuh. Ditujukan untuk meringankan atau
menyembuhkan beberapa macam penyakit yang boleh dipijat.
c. Cosmetic Massage.
lalah pijat yang dipakai dalam bidang pemeliharaan kecantikan.
Ditujukan untuk membersihkan dan menghaluskan kulit, juga untuk menjaga
agar kulit tidak lekas mengkerut (awet muda).
4. Tujuan Massage Pada Umumnya.
a. Melancarkan peredaran darah terutama peredaran darah vena (pembuluh balik)
dan peredaran getah bening (air limphe).
b. Menghancurkan pengumpulan sisa-sisa pembakaran di dalam sel-sel otot yang
telah mengeras yang disebut miyogelosis (asam susu).
c. Menyempurnakan pertukaran gas-gas dan zat-zat di dalam jaringan atau
memperbaiki proses metabolisme.
d. Menyempurnakan pembagian zat-zat makanan keseluruh tubuh.
e. Menyempurnakan proses pencemaan makanan.
f. Menyempurnakan proses pembuangan sisa-sisa pembakaran (sampah-sampah)
ke alat pengeluaran atau mengurangi kelelahan.
44
g. Merangsang otot-otot yang dipersiapkan untuk bekerja yang lebih berat,
menambah tonus otot (daya kerja otot), effisiensi otot (kemampuan guna otot)
dan elastisitet otot (kekenyalan otot).
h. Merangsangi jaringan-jaringan syaraf, mengaktifkan syaraf sadar dan kerja
syaraf otonomi (tak sadar).
i. Membantu penyerapan (absorsi) pada peradangan bekas luka.
j. Membantu pembentukan sel-sel baru atau menyuburkan pertumbuhan tubuh.
k. Membersihkan dan menghaluskan kulit.
l. Memberikan perasaan nyaman, segar dan kehangatan pada tubuh.
m. Menyembuhkan atau meringankan berbagai gangguan penyakit yang boleh
dipijat.
5. Prosedur massage
a. Persiapan alat-alat untuk memberika massage
b. Massage dilakukan 15 menit
c. Menjelaskan tujuan dari massage dengan minyak kelapa kepada pasien
d. Memandikan pasien di tempat tidur
e. Bantu klien untuk miring atau dalm keadaan prone.
f. Ekspose bagian punggung, bahu, lengan atas atau sakral. Tutup bagian yang
tidak dipijat dengan handuk untuk mencegah bagian tubuh keadaan atau udara
dingin
g. Cuci tangan dengan air hangat. Hangatkan minyak kelapa dengan
merendamnya dalam air yang hangat 40c 1 menit. Minyak yang hangat
akan membuat kulit klien lebih nyaman.
h. Tuangkan minyak ke telapak tangan, secukupnya 15cc untuk mencegah
terjadinya gosokan yang kasar terhadap kulit.
45
i. Mulai pijatan pada daerah sakral dengan gerakan yang memutar. Gerakan
tangan naik ke arah bahu, pijat memutar di skapula, lakukan perlahan dan
merata.
j. Ketika dilakukan pemijatan, kaji adanya daerah yang terlihat kepucatan atau
kemerahan.Untuk area yang terlihat kepucatan atau kemerahan tersebut,
lakukan pemijatan lebih intensif untuk merangsang agar aliran darah menjadi
lancar.
k. Jika tambahan stimulasi diperlukan, lakukan peremasan pada daerah bahu serta
turun naik pada area tulang belakang.
l. Pada tahap akhir, lakukan pukulan-pukulan yang ringan 10x pukulan selama
1 menit.
m. Setelah selesai pemijatan, keringkan lumbrik yang berlebihan dengan handuk.
Membantu pasien berpakaian dan berikan posisi yang nyaman
n. Perawat cuci tangan
o. Merapikan alat-alat
2.1.6 Minyak kelapa
Minyak kelapa adalah minyak yang mempunyai tekstur krim alami, susunan
molekulnya memudahkan untuk penyerapan, sehingga memberikan tekstur lembut,
halus pada kulit. Perbedaan minyak kelapa dengan krim, vaseline, dan lotion lainya
adalah krim, vaselin, dan lotion lain diproduksi untuk memberikan pemulihan
langsung. Krim komersial sangat banyak kandungan airnya, kelembabanya dengan
cepat diserap kedalam kulit yang kering, memperluas jaringannya, seperti pengisi
balon dengan air. Sehingga keriput menghilang, dan kulit terasa lembut, namun ini
hanyalah sementara segera setelah airnya menguap atau dibawa oleh aliran darah.
46
Kulit kering, keriput lagi. Sementara minyak kelapa tidak hanya memberikan
pemulihan langsung tetapi juga membantu dalam proses penyembuhan dan perbaikan.
Minyak kelapa murni merupakan lotion kulit alami yang tersedia. Mencegah
pembentukan radikal bebas perusak dan memberikan perlindungan terhadapnya. Bisa
membantu mencegah kulit dari perkembangan bercak-bercak kehitaman dan
kerusakan lain yang disebabkan oleh penuaan dan keterbukaan berlebihan terhadap
cahaya matahari. Membantu menjaga jaringan agar tetap kuat dan longgar sehingga
kulit tidak mengendur dan keriput. Sementara minyak kelapa tidak hanya memberikan
pemulihan langsung tetapi juga membantu dalam proses penyembuhan dan perbaikan.
Asam lemak antiseptik pada minyak kelapa membantu mencegah infeksi jamur dan
infeksi bakteri pada kulit ketika digunakan secara langsung pada kulit. Minyak kelapa
mengandung medium fatry chatin acid yang sama pada medium fatry acid yang
ditemukan pada sabun kulit. Asam lemak pada minyak kelapa seperti semua dieter
lainya digabungkan sebagai trigliserida dengan demikian trigliserida mempunyai aksi
mikrobial langsung. Namun bakteri yang ada di atas kulit merubah trigliserida ini
menjadi asam lemak bebas seperti yang terjadi pada sabun. Hasilnya adalah
penambahan asam lemak anti mikrobial pada kulit dan perlindungan dari infeksi
(Price, 2004).
2.2 Penelitian terkait
Telah banyak penelitian yang terkait dengan penelitian yang peneliti sedang
lakukan diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Silyvia (1999), kem,et al (1999),
Thompson, Bishop, dan Mottola (2000) yang melakukan penelitian mengenai kaitan
efek dari berbagai jenis matras dalam mengurangi tekanan.
47
1. Penelitian yang dilakukan oleh dilakukan oleh Nurwaningsih dengan judul
pengaruh penggunaan minyak kelapa terhadap pencegahan integritas kulit:
dekubitus pada pasien tirah baring total karena stroke. Dengan membandingkan
minyak kelapa dengan vaselin. Observasi treatment massage minyak kelapa
sejumlah 9 responden pada pasien stroke di rumah sakit islam Jakarta pusat dan
observasi treatment massage dengan vasseline sejumlah 11 responden pasien
stroke di rumah sakit pantai indah kapuk pluit .observasi dilakukan selama 3 hari.
Pengolahan data menggunakan prosedur analisis statistik uji Z beda 2 proporsi
dengan tingkat kepercayaan 95% pada alpha 5% .Hasil yang ditampilkan adalah
berupa integritas kulit dapat dipertahankan dan tidak terjadi penurunan integritas
kulit dengan hasil Z= 0,448 sehingga pada alpha 0,05 didapatkan nilai p value
0,1700 maka p value lebih besar dari alpha. Keputusanya: yaitu tidak ada
perbedaan penggunaan massage minyak kelapa dengan massage vasseline.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Novieastari (2001) tentang penelusuran hasil
penelitian yang berjudul intervensi keperawatan dalam pencegahan terjadinya
luka dekubitus pada orang dewasa. Pada kedua penelitian tersebut bahwa
penggunaan matras pereduksi tekanan dan perubahan posisi baring pada intervensi
kurang dari 2 jam dapat merupakan tindakan yang efektif untuk mencegah
terjadinya luka dekubitus pada populasi orang dewasa. Perawat yang berperan
dalam edukasi kesehatan pasien dapat berperan lebih besar untuk mencegah
terjadinya luka dekubitus.
3. Purwaningsih (2001) meneliti tentang Analisis Dekubitus pada Pasien Tirah
Baring di Ruang A1, B1, C1, D1, dan Ruang B3 IRNA I Rumah Sakit Dr. Sardjito
Yogyakarta. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian Deskriptif
explorative dengan model rancangan Cross sectional untuk mencari gambaran
48
tentang angka kejadian dekubitus pada pasien tirah baring di ruang A1 sebanyak 4
pasien (25%), di ruang B1 sebanyak 2 pasien (12,5%), di ruang C1 sebanyak 2
pasien (12,5%), di ruang D1 sebanyak 3 pasien (18,75%), dan di ruang B3
sebanyak 5 pasien (31,25%) IRNA I rumah sakit Dr. Sardjito, Yogyakarta.
Penelitian ini hanya menganalisa angka kejadian dekubitus, dengan hasil:
prevalensi dekubitus 40 %. Dominan pada kelompok usia 61-80 tahun, tingkat
pendidikan SD dan SLTP (27,5%), Diagnosa medis stroke infark, paraparese, dan
PPOK masing-masing (18,7%). Lokasi dekubitus di daerah sakrum (62,5%), tidak
dilakukan tindakan pencegahan dengan windring (35%) dan masase punggung
(20%). Tanda klinis eritema ditemukan pada hari ke-3 dan hari ke-7 perawatan
(28,57%).
4. Setyajati (2002) melakukan penelitian tentang Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Kejadian Dekubitus pada Pasien Tirah Baring di Rumah Sakit Dr.
Moewardi Surakarta. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian Deskriptif
explorative dengan model rancangan Prospektif atau cohort untuk mencari
gambaran kejadian dekubitus dan mengidentifikasi faktor-faktor yang
menyebabkan terjadinya dekubitus, dengan hasil: pada pasien tirah baring di
rumah sakit Dr. Moewardi Surakarta pada bulan Oktober 2002, menemukan
kejadian dekubitus sebesar 38,18% yang meliputi ruang Cendana 2 pasien
(9,52%), ruang Mawar 2 pasien (9,52%), ruang Melati 3 pasien (14,28%), ruang
IMC 3 pasien (14,28%), ruang ICCU 2 pasien (9,52%), disebabkan karena
imobilitas, penurunan kesadaran, penurunan sensorik, mobilisasi, dimandikan 2x
sehari, dan kadar Hemoglobin berpengaruh terhadap kejadian dekubitus.
5. Penelitian yang dilakukan oleh Buss (2004) yang berjudul Pressure
UlcerPrevention in Nursing Home: Views and Beliefs Of Enrolled Nurse and
49
Other Health Workers di Belanda menemukan bahwa pencegahan dekubitus
berjalan hanya sesuai tradisi bukan disesuaikan dengan perkembangan jaman.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif eksplorasi dengan menggunakan
metode pengumpulan data secara interview yang selanjutnya di kode dan di
analisis. Perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan adalah terletak pada
variabel bebasnya dan metode yang digunakan. Sedangkan persamaannya sama.
6. Moore dan Patricia (2004) meneliti tentang Nurse Attitude Behaviours and
Perceived Barriers Towards Pressure Ulcers Prevention. Penelitian ini
menggunakan design cross sectional dengan metode survey. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa perawat sebenarnya memiliki sikap positif terhadap
pencegahan dekubitus tapi karena adanya halangan yang berupa kekurangan
waktu dan staf maka sikap tersebut tidak bisa direfleksikan dalam praktek
pencegahan dekubitus di klinik. Perbedaan penelitian ini dengan yang akan
dilakukan oleh penulis terletak pada variabel bebasnya bukan hanya sikap, tetapi
juga tingkat pengetahuan dan metode yang digunakan. Persamaannya terletak
pada variabel sikap dan perilaku perawat dalam mencegah dekubitus. meneliti
tentang pencegahan dekubitus yang dilakukan oleh perawat.
7. Penelitian yang dilakukan Dwianti (2007), pada pengaruh pemberian perubahan
posisi tirah baring dengan angka kejadian dekubitus didapatkan angka kejadian
dekubitus sebanyak 13,3 % dari 15 pasien, dengan stadium 1 pada hari ke-7
perawatan. Sedangkan, pada penelitian yang dilakukan oleh Smith (1995), pada
pemberian perubahan posisi lateral inklin 30 didapatkan angka kejadian
dekubitus sebanyak 1,4 % dari 1000 pasien, dengan stadium 1 pada hari ke-14
perawatan.
50
8. Penelitian yang dilakukan oleh Melva Monika (2006) tentang sejauh mana
efektifitas penggunaan kasur dekubitus terhadap pencegahan luka dekubitus di
rumah sakit siloam karawaci Menunjukkan hasil penelitian tidak terjadinya
penurunan integritas kulit pada responden yang telah mendapatkan treatment
kasur dekubitus selama 6 hari, hal ini menunjukkan presentase angka kejadian
luka dekubitus yang terjadi selama observasi adalah 9 orang, dengan stadium 1
sebanyak 8 orang dan stadium 2 sebanyak 1 orang sehingga kasur dekubitus
dengan intervensi keperawatan yang standar dapat mempertahankan integritas
kulit pada pasien di rumah sakit.
2.3 Kerangka teori
1. Tekanan dalam jangka waktu
yang lama
2. Pergesekan dan pergeseran
3. Kelembaban, Usia
4. Temperatur, Nutrisi
5. Penurunan sensori persepsi
6. Imobilisasi
7. Keterbatasan fisik
8. Stress emosional
Pasien stroke
dengan tirah baring
total
51
Bagan 2.1 Kerangka Teori
Diberikan massage dengan kamfer
spirtus, baby oil, vasseline, ataupun
minyak kelapa pada punggung,
bokong, lutut, siku, jari kaki, dan
tumit pasien
Terjadi dekubitus