Anda di halaman 1dari 4

TUGAS KULTUR JARINGAN JURNAL METABOLIT SEKUNDER

Analisis Pendahuluan Metabolit Sekunder dari Kalus Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa)

TUGAS KULTUR JARINGAN JURNAL METABOLIT SEKUNDER Analisis Pendahuluan Metabolit Sekunder dari Kalus Mahkota Dewa ( Phaleria

Disusun Oleh :

DESTI WULANDARI

1201016

DOSEN

Ir. Fetmi Silvina, MP

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU YAYASAN UNIVERSITAS RIAU PROGRAM STUDI S-1 PEKANBARU

2014

PENDAHULUAN

Tanaman merupakan salah satu sumber alam yang dapat diracik menjadi sebuah obat yang dibutuhkan. Namun sebelum membuatnya menjadi obat perlu diperhatikan beberapa hal, yaitu: cara memperoleh tamanan, cara perkembangan dan petumbuhan tanaman, senyawa kimia apa yang terdapat didalamnya,dan lain-lain. Untuk menemukan itu semua perlu dilakukan beberapa tahap baik tahap biologi, maupun tahap analisis(kimia,fisika)

Sebelum memasuki tahap kimia, tahap biologi juga perlu diperhatikan. Tahap ini juga melibatkan cara pengambilan sampel agar tanaman yang akan dilakukan uji coba tidak punah dan tidak merusak ekosistem alam. Salah satu cara yang saat ini sering dilakukan oleh para peneliti adalah dengan metoda kultu jaringan. Kultur jaringan adalah usaha untuk memperbanyak varietas tanaman atau spesies tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan digunakan bertujuan agar tanaman yang akan dijadikan sampel dapat diambil walau hanya sedikit dan kemudian dapat diperbanyak sehingga tidak perlu menghabiskan tanaman induk.

Selain untuk memperbanyak tanaman kultur jaringan saat ini juga dapat diarahkan untuk tujuan lain yaitu untuk memproduksi matebolit sekunder.

Dalam bidang farmasi, metoda kultur jaringan sangat menguntungkan karena dapat menghasilakn metabolit sekunder yang berguna untuk perkembangan pengobatan dan menjaga kesehatan dalam jumlah besar serta tumbuh dalam waktu singkat pada lahan yang terbatas.

Awalnya, tanaman mahkota dewa dibudidayakan sebagai tanaman hias, tetapi saat ini tanaman tersebut memiliki guna dan manfaat yang lain sebagai salah satu tanaman obat tradisional yang dikenal sebagai obat asli Indonesia. Dalam tanaman ini terkandung senyawa kimia yang bermanfaat untuk penyembuhan beberapa macam penyakit seperti: pada bagian daun yang mengandung senyawa lignan(polifenol) dapat mengobati penyakit lemah syahwat, disentri, alergi dan tumor. Sedangkan daging dan kulit buah yang mengandung senyawa flavonoid dimanfaat untuk mengobati penyakit flu, reumatik, kanker rahim.

Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa metoda kultur jaringan tanaman mahkota dewa menghasilkan metabolit sekunder yang sama dengan metabolit sekunder yang dihasilkan dari tanaman asalnya.

BAHAN DAN METODE

BAHAN Biji mahkota dewa

◦ Alkohol

◦ Na-hipoklorit

◦ Amil alkohol

Media MS

Aquadest

◦ Ammonium

◦ Feri(III) klorida

Kloroform

◦ Metanol

◦ As.Klorida

◦ Formaldehid

Natrium asetat

n-heksan

As. Sufat

◦ Petroleumeter

Na- hidroksida

Etil asetat

Agar

◦ Mio-inositol

Eter

Anisaldehid

Gula

◦ Sitokinin

Hormon

Auksin

Pereaksi Liebermann Bouchard

Pereaksi Dragendorff

◦ Pereaksi Mayer

◦ Pereaksi Stiasny

METODE

Pada penelitian yang dilakukan untuk mendapatkan hasil metabolit sekunder dari tanaman, peneliti menggunakan metode penumbuhan steril tanaman, kultur kalus, analisis kualitatif secara KLT, analisis kualitatif secara KCKT. Dimana masing-masing metoda digunakan untuk tujuan yang berbeda namun tetap berkaitan.

Menumbuhkan tanaman steril

Penumbuhan steril tanaman digunakan untuk mensterilkan bahan tanaman yang akan dijadikan eksplan. Buah segar tanaman mahkota dewa dicuci bersih dibawah air mengalir di dalam Laminar Air Flow (LAF), kemudian permukaan buah disterilkan menggunakan alkohol 90% selama 1 menit, lalu biji dipisahkan dari daging buah. Kemudian biji itulah yang akan dipakai untuk menjadi eksplan untuk menumbuhkan tanaman steril dan kemudian planlet yang didapat dari eksplan biji mahkota dewa dijadikan eksplan kedua untuk melanjutkan ketahap selanjutnya.

Kultur kalus.

  • (a) Tahap inisiasi.

Inisiasi kultur kalus dilakukan menggunakan daun mahkota dewa sebagai sumber

eksplan yang diperoleh dari tanaman steril biji mahkota dewa yang ditumbuhkan pada media dasar MS dengan penambahan zat pengatur tumbuh untuk menginisiasi kultur kalus. Kultur disimpan di ruang gelap dan petumbuhan kalus diamati setiap minggu.

  • (b) Tahap perbanyakan kalus.

Perbanyakan kalus dilakukan dengan memindahkan /subkultur masa kalus kedalam

media baru berulang kali (media yang digunakan boleh sama) pada periode tertentu menggunakan media tumbuh yang paling optimal dan pemberiaan zat pengatur tumbuh yang paling sesuai untuk mempercepat dan memperbanyak tumbuhnya kalus.

  • (c) Uji penapisan fitokimia.

Kalus yang berasal dari daun tanaman steril dan daun tanaman liar mahkota dewa

dikumpulkan kemudian ditimbang, lalu dikeringkan dengan cara dianginanginkan, kemudian ditimbang kembali untuk memperoleh bobot kalus dan daun kering. Selanjutnya

dilakukan penapisan fitokimia terhadap kalus kering dan daun kering mahkota dewa (sebagai pembanding). Uji penapisan menggunakan metoda Farnsworth(9).

  • (d) Pembuatan ekstrak.

Serbuk daun dan kalus mahkota dewa ditimbang masingmasing 10 gram dimaserasi 4x dengan metanol, tiap kali 250 ml. Hasil maserasi dipekatkan dengan vakum rotavapor sampai diperoleh ekstrak kental kalus dan daun.

(e) Pembuatan media. Media yang digunakan adalah media yang diperkenalkan oleh Murashige dan Skoog (Media MS). Media ini umumnya sering digunakan sebagai media dasar dari metode kultur jaringan. Timbang bahan-bahan penyusun media se-jumlah tertentu sesuai kebutuhan. pH larutan/ media diatur sekitar 5,8. Media kemudian dimasukkan ke dalam wadah/tabung kultur steril yang telah dipersiapkan lalu sterilkan dalam autoklaf dengan suhu 121 0 C selama 20 menit. Selanjutnya media disimpan dalam ruang kultur sebelum digunakan.

Analisa kualitatif secara KLT (kromatografi lapis tipis).

Terhadap ekstrak kental daun dan kalus mahkota dewa dilakukan uji analisis kualitatif menggunakan metode KLT dengan fase gerak cairan eluasi campuran antara n-heksan - etil asetat - isopropanol (1 : 2 : 17). Hasil KLT (kromatogram) dilihat dengan sinar UV l 254 nm dan 366 nm kemudian disemprot dengan penampak bercak yang terdiri dari campuran anisaldehid dan asam sulfat pekat .

Analisa kualitatif secara KCKT (kromatografi cair kinerja tinggi). KCKT adalah tehnik pemisahan berdasarkan fase diam padat (kolom nukleosil C18 dan fase gerak cair (metanol air dengan perbandingan 10 : 90) dengan tekanan tinggi, sehingga terjadi pemisahan secara partisi, adsorpsi ataupun penukar ion, tergantung fase diam yang digunakan. Pada ekstrak kental kalus dan daun dilakukan analisa kualitatif secara KCKT untuk mengetahui profil kromatogram senyawa metabolit sekunder yang terkandung

didalamnya. Pada panjang gelombang (λ) 230 nm dan 300 nm.Volume injeksi 20 μl.

KESIMPULAN Dari penelitian yang dilakukan maka didapatkan kesimpulan :

Hasil uji penapisan fitokimia dari daun dan kalus mahkota dewa menunjukkan bahwa keduanya mengandung metabolit sekunder yang sama yaitu golongan alkaloid,flavonoid, saponin, tannin, steroid /triterpenoid. Hasil KLT dan KCKT memberikan bercak dan puncak sedikit berbeda, tetapi tidak sepenuhnya berbeda karena masih menunjukkan beberapa persamaan. Sehingga diduga kalus dari mahkota dewa dapat menghasilkan senyawa metabolit sekunder yang sama dengan daun dari tanaman asalnya.

Sumber Jurnal : JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA, April 2007, hal. 17-22 Vol. 5, No. 1 ISSN 1693-1831