Anda di halaman 1dari 9

I. II. III. IV. V. VI.

Judul Percobaan : Penentuan Zat Organik Hari/Tanggal Percobaan : Jumat/25 Oktober 2013 Selesai Percobaan : Jumat/25 Oktober 2013 Jenis Sampel/Asalnya : Air daerah Monkasel Tujuan : Untuk Mengetahui Zat Organik Dalam Air Kajian Teori Setiap senyawa organik mengandung ikatan karbon yang dikombinasikan antara satu elemen dengan elemen lainnya. Bahan organik berasal dari tiga sumber utama sebagai berikut (Sawyer dan McCarty, 1978): Alam, misalnya fiber, minyak nabati dan hewani, lemak hewani, alkaloid, selulosa, kanji, gula, dan sebagainya. Sintesis, yang meliputi semua bahan organik yang diproses oleh manusia. Fermentasi, misalnya alkohol, aseton, gliserol, antibiotika, dan asam; yang semuanyan diperoleh melalui aktivitas mikroorganisme. Karakteristik bahan organik yang membedakannya dari bahan anorganik adalah sebagai berikut (Sawyer dan McCarty, 1978): Senyawa organik biasanya mudah terbakar. Senyawa organik mempunyai titik leleh dan titik didih yang lebih rendah. Senyawa organik kurang larut dalam air. Beberapa senyawa organik memiliki formula yang serupa (isomer). Reaksi dengan senyawa lain berlangsung lambat karena bukan terjadi dalam bentuk ion, melainkan dalam bentuk molekul. Berat molekul senyawa organik bisa menjadi sangat tinggi, seringkali lebih dari 1000. Kebanyakan senyawa organik berfungsi sebagai sumber makanan bakteri. Organik pada sistem air alami berasal dari sumber-sumber alami maupun aktivitas manusia. Organik yang terlarut dalam air biasa ditemukan dalam dua kategori, yaitu : Organik Biodegradable Materi biodegradable mengandung organik yang dapat digunakan sebagai makanan bagi mikroorganisme yang hidup di alam dalam waktu yang singkat.Dalam bentuk terlarut, materi ini mengandung zat tepung, lemak, protein, alkohol, asam, aldehid, dan ester.Materi ini dapat menyebabkan masalah warna, rasa, bau, serta merupakan efek kedua yang dihasilkan dari aktivitas mikroorganisme pada substansi-substansi tersebut. Penggunaan organik terlarut oleh mikroba dapat terjadi

melalui proses oksidasi dan reduksi. Kondisi aerob merupakan hasil akhir dekomposisi organik oleh mikroba yang bersifat stabil dan merupakan senyawa yang masih dapat diterima. Proses anaerob menghasilkan produk yang tidak stabil dan tidak dapat diterima. Zat organik (KMnO4) merupakan indikator umum bagi

pencemaran.Tingginya zat organik yang dapat dioksidasi menunjukkan adanya pencemaran.Zat organik mudah diuraikan oleh mikroorganisme.Oleh sebab itu, bila zat organik banyak terdapat di badan air, dapat menyebabkan jumlah oksigen di dalam air berkurang. Bila keadaan ini terus berlanjut, maka jumlah oksigen akan semakin menipis sehingga kondisi menjadi anaerob dan dapat menimbulkan bau. Adannya zat organik dalam air menunjukan bahwa air tersebut telah tercemar oleh kotoran manusian, hewan atau sumber lain. Zat organik merupakan bahan makanan bakteri atau mikroorganisme lainya.Makin tinggi kandungan zat organik didalam air, maka semakin jelas bahwa air tersebut telah tercemar.

Organik Non Biodegradable Pengukuran organik non biodegradable dapat dilakukan menggunakan tes COD (Chemical Oxygen Demand). Organik non biodegradable dapat ditentukan dari analisa TOC (Total Organic Compound).BOD dan TOC dapat mengukur fraksi biodegradable dari organik, dimana BOD harus disubstraksi dari COD dan TOC untuk menghitung organik non biodegradable. Secara umum, komponen penyusun materi organik terdiri dari 6 unsur, yaitu :

Unsur mikro

: Nitrogen (N), Phosfor (P), Sulfur (S)

Unsur makro : Karbon (C), Hidrogen (H), Oksigen (O) Adanya zat organik dalam air dapat ditentukan dengan mengukur angka permanganat (KMnO4) atau dengan metode titrasi permanganometri, Metode Permanganometri merupakan titrasi yang dilakukan berdasarkan reaksi oleh kalium permanganat (KMnO4). Reaksi ini difokuskan pada reaksi oksidasi dan reduksi yang terjadi antara KMnO4 dengan bahan baku tertentu. Manfaat dari percobaan

Permanganometri ini adalah untuk mengetahui kadar dari zat-zat yang bilangan oksidasinya masih dapat dioksidasi. Dalam bidang industri, metode ini dapat dimanfaatkan dalam pengolahan air, dimana secara Permanganometri dapat diketahui kadar suatu zat sesuai dengan sifat oksidasi-reduksi yang dimlikinya sehingga dapat dipisahkan apabila tidak diperlukan

Pengukuran angka permanganat adalah pengukuran zat organik dalam air, dimanazat organik di dalam air dioksidasi oleh oksidator kuat KMnO4 pada suhu mendidih (100oC) selama 10 menit. Semakin banyak zat organik di dalam air maka akan semakin banyak oksidator KMnO4 yang dibutuhkan untuk mengoksidasi senyawa organik. Prinsip pengukuran permanganat adalah mengoksidasikan zat organik dalam air dengan larutan baku, KMnO4 0,01 N berlebih dalam suasana asam dengan pemanasan, kemudian sisa/kelebihan dari KMnO4 0,01N ini akan direduksi oleh asam oksalat berlebih. Kelebihan asam oksalat ditritasi kembali dengan KMnO4 0,01 N sampai titik akhir berwarna merah muda.KMnO4 dalam hal ini dapat dipergunakan sebagai indikator (autoindikator) dan titran.Berikut ini merupakan reaksi oksidasi KMnO4dalam kondisi asam sebagai berikut : 2 KMnO4 + 3 H2SO4 2 MnSO4 + K2SO4 + 3 H2O + 5 On Oksidasi KMnO4 dalam kondisi basa sebagai berikut : 2 KMnO4+ H2O 2 MnO4 + 2KOH + 3On

Bila terdapat zat organik yang dapat dioksidasi (misalnya oksalat) dengan reaksi sebagai berikut: C2H2O4 + On 2 CO2 + H2O Hal ini dapat juga dilakukan menggunakan Hexane-Extractable pada air tesuspensi.Prinsipnya adalah adsorbsi dan flokulasi dengan hidroksida aluminium dari materi organik tersuspensi. Kandungan materi organik dalam air dapat dijadikan indikator pencemar bila konsentrasinya cukup tinggi, karena zat organik dapat diuraikan secara alami oleh bakteri sehingga kadar DO menurun. Metode asam untuk air yang mengandung ion Cl < 300 ppm Prinsip metode asam : Zat organik didalam sampel dioksidasi oleh KMnO4 berlebih dalam keadaan asam dan panas.Sisa KMnO4 direduksi dengan larutan asam oksalat berlebih.Kelebihan asam oksalat dititrasi kembali dengan KMnO4. Metode basa untuk air yang mengandung ion Cl > 300 ppm Prinsip metode basa : Sampel dididihkan terlebih dahulu dengan NAOH selanjutnya dioksidasi oleh KMnO4 berlebih. Sisa KMnO4 direduksi oleh asam oksalat

berlebih.Kelebihan asam oksalat dititrasi kembali dengan KMnO4.

VII.

ALAT DAN BAHAN A. Alat 1. Pipet tetes 2. Kompor Listrik 3. Erlenmeyer 4. Buret 5. Gelas kimia B. Bahan 1. Sampel air sungai Waru Gunung (dekat pabrik kertas minyak) 2. Larutan KMnO4 0,01 N 3. Larutan H2SO4 8 N 4. Asam oksalat 0,01 N

VIII. Alur Kerja 1. Standarisasi KMnO4 dengan asam Oksalat


50 ml aquades - dimasukan dalam Erlenmeyer 250 ml - ditambahkan 2,5 mL H2SO4 - beberapa butir batu didih dimasukkan dalam larutan dan dipanaskan - ditambah 5mL asam oksalat dititrasi dengan KMnO4 Volume

Penentuan Zat Organik


50 ml sampel - dimasukan dalam Erlenmeyer 250 ml - ditambahkan KMnO4 0,01N sampai timbul warna merah muda Larutan berwarna merah muda - ditambah 2,5 ml H2SO4 8 N dan batu didih. - dipanaskan di atas penangas air sampai mendidih. - ditambah 5 ml Larutan KMnO4 0,01 N - dididihkan selama 10 menit. - ditambah 5 ml asam oksalat 0,01 N - kelebihan asam oksalat dititrasi kembali dengan Larutan berwarna merah muda larutan standar KMnO4 sampai berwarna pink. - dihitung Kadar Zat Organik dengan rumus kadar zat organik

X.

Analisis dan Pembahasan Percobaan yang kami lakukan tanggal 01 November 2013 bertujuan untuk mengetahui kadar zat organik dalam air. Langkah pertama yang dilakukan adalah mencari normalitas rata-rata dari KMNO4 dengan cara 50mL aquades dimasukkan dalam Erlenmeyer, ditambahkan H2SO4 lalu didihkan. Ditambahkan H2SO4 karena untuk memberi suasana asam, larutan kemudian dipanaskan untuk mempercepat reaksi.Setelah dipanaskan ditambah dengan asam oksalat dengan tujuan mereduksi sisaKMnO4.Langkah selanjutnyaa adalah melakukan tititrasi dengan KMnO4. Fungsi larutan KMnO4 sebagai oksidator dan indikator.Percobaan ini dilakukan replikasi sebanyak 3 kali, agar didapatkan data yang valid. Sehingga akan diperoleh 3 volume KMnO4 yang dibutuhkan untuk mengubah larutan tidak berwarna menjadi merah muda jernih. Dengan rumus V1N1=V2N2, maka kan diketahui normalitas rata-rata KMnO4 yang digunakan untuk titrasi, yaitu normalitas KMnO4 rata-rata sebesar 0,01 N Sedangkan untuk mengetahui kadar zat organic ini dilakukan dengan metode titrasi permanganometri. Sampel air yang digunakan adalah aliran air yang diambil di daerah Monkasel dekat delta plaza. Langkah pertama yang dilakukan adalah 50mL sampel dimasukan ke dalam labu Erlenmeyer, kemudian ditambahkan Larutan KMnO4, sampai larutan menjadi berwarna merah muda jernih.Larutan KMnO4 berfungsi sebagai oksidator (zat yang bekerja untuk mengoksidasi zat organik dalam air).Larutan KMnO4 merupakan oksidator kuat sehingga juga sekaligus bertindak sebagai indikator yang dapat menunjukan adanya perubahan warna Selanjutnya larutan ditambah dengan 2,5 ml H2SO4 8 N yang berfungsi sebagai pemberi suasana asam, danmempermudah pengamatan titik akhir pada titrasi, sehingga terjadi proses reduksi ion permanganat menjadi mangan(II), reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut: 2 KMnO4 + 3 H2SO4 2MnSO4 + K2SO4 + 3 H2O + 5 On Berdasarkan teori, reaksi redoks di atas berlangsung secara lambat dalam suasana asam, maka larutan dipanaskan dalam penangas air sampai mendidih yang bertujuan mempercepat reaksi (reaksi oksidasi). Fungsi lain pemanasan

adalahmengukur jumlah KMnO4 yang telah digunakan untuk mengoksidasi zat organik dalam air, sehingga untuk mengetahui bahwa KMnO4 telah habis, ditandai dengan memudarnya warna merah muda pada larutansampai didapatkan larutan yang jernih tidak berwarna.

Langkah selanjutnya yang dilakukan adalah penambahan kembali 5 ml KMnO4kedalam larutan sehingga diperoleh larutan berwarna merah muda jernih.Fungsi larutan KMnO4 sebagai oksidator dan indikator.Selanjutnya larutan tersebut dipanaskan kembali selama 10 menit dengan tujuan mempercepat proses reaksi oksidasi KMnO4 terhadap zat organik dalam air. Setelah dipanaskan, larutan ditambah dengan 5 ml asam oksalat, dengan tujuan mereduksi sisa KMnO4. Langkah terakhir adalah melakukan titrasi kembali dengan larutan KMnO4atau kalium permanganat terhadap kelebihan asam oksalat,Titrasi dihentikan ketika larutan sudah berwarna merah muda jernih. Titrasi dilakukan dengan replikasi sebanyak 3 kali agar diperoleh ketelitian yang maksimal, Titrasi dihentikan sampai didapatkan larutan berwarna merah muda. Didapatkan data volume KMnO4 hasil titrasi sebagai berikut :

Titran

Warna sebelum titrasi

Volume yang dibutuhkan saat titrasi (ml)

Warna setelah titrasi

Merah keunguan Larutan KMnO4 Merah keunguan Merah keunguan

V1 = 5,0 ml V2= 4,9 ml V3= 4,9 ml

Merah muda Merah muda Merah muda

Dari volume yang didpatkan tersebut, maka dapat ditentukan kadar zat organik atau mg/L KMnO4 dalam air, dengan rumus [( ) ( ]

sehingga didapatkan nilai mg/L KMnO4 sebagai berikut : Volume titrasi (ml) Kadar zat organik KMnO4 (mg/L) V1 = 5,0 ml V2 = 4,9 ml V3 = 4,9 ml 18,32 17,69 17,69

(mg/L) rata-rata = 17,69 mg/L

Didapatkan kadar zat organik rata-rata dalam KMnO4 sebesar17,69mg/L, Artinya yang dihitung adalah banyaknya tiap nilai kandungan zat organik dalam mg/L KMnO4yang dibutuhkan untuk mengoksidasi senyawa organik dalam 1 liter air. Syarat mutu air

berdasarkan SNI 01-2553-1996 menyatakan bahwa untuk parameter zat organik (KMnO4) kadar maksimum yang diperbolehkan yaitu 1,0 mg/L.Sehingga aliran air sungaiyang terletak di daerah sekitar Monkasel tidak termasuk air bersih dan tidak layak konsumsi, karena kadar zat organiknya berada diatas ambang batas atau >1,0 mg/L.

XI.

Simpulan Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa kadar zat organik rata-rata dalam KMnO4 sebesar 17,69 mg/L atau 17,69 ppm. Yang artinya, aliran air didaerah Monkasel termasuk air yang kurang bersih dan tidak layak konsumsi, karena kadar zat organiknya >1,0 mg/L atau melebihi ambang batas yang diperbolehkan.

XII.

Daftar Pustaka Diah Aprilia,dkk. 2011. Laporan Pratikum Kimia Lingkungan Angka

Permanganat.Jakarta.Universitas Indonesia Hanum, Farida. 2012. Proses Keperluan Air Sungai Untuk Minum.

http://id.scribd.com/doc/104136627/Kimia-Farida. (diakses pada tanggal 5 November 013 ) Juju Bandung. 2012. Parameter Fisika Kimia Biologi Penentuan Kualitas Air (online). http://jujubandung.com/2012/06/08/parameter-fisika-kimia-biologi-penentu-kualitasair-2/ (diakses pada tanggal 5 November 2013 ) http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=8&cad=rja&v ed=0CGcQFjAH&url=http%3A%2F%2Flontar.ui.ac.id%2Ffile%3Ffile%3Ddigital%2 F122626-KIM.006-08 Pengembangan%2520sensor_Pendahuluan.pdf&ei=3ut6UvTIMYyGrQeEq4HoAw&u sg=AFQjCNGZAI12Noj-l3av1PMzWX8MBIsBzQ&bvm=bv.56146854,d.bmk (diakses pada tanggal 5 November 2013 ) Tim Dosen.2013. Panduan Pratikum Kimia Lingkungan. Surabaya: FMIPA UNESA

Lampiran Perhitungan Rata-rata volume KMnO4 = Normalitas KMnO4 yang sebenarnya Molaritas asam oksalat = molaritas KMnO4 M1 . V1 0,01 N . 5mL 0,05 N M2 = M2 . V2 = M2 . 4,9 mL = M2 . 4,9 = 0,01 N =

Perhitungan kadar zat organik dapat dihitung dengan rumus mg/L KMnO4 =
[( ) ( ]

Telah dilakukan replikasi 3 kali pada proses titrasi : 1. Titrasi pertama : Pada Volume 2,9 ml mg/L KMnO4 = = = 2. Titrasi kedua : Pada Volume 2,8 ml mg/L KMnO4 = = =
[ [( ) ( ] ] [ [( ) ( ] ]

3. Titrasi ketiga : Pada Volume 2,8 ml mg/L KMnO4 = = =


( ) [ [( ) ( ] ]

Sehingga mg/L KMnO4 rata-rata =

17,9 mg/L atau 17,9 ppm.