Anda di halaman 1dari 9

MATERI DISKUSI KELOMPOK A KEREK DENGAN PERKISARAN PLANIT, KEREK ULIR, DAN KEREK WESTON BERULIR

LAPORAN DISKUSI KELOMPOK Untuk memenuhi tugas matakuliah Pesawat Angkat yang dibina oleh Bapak Purnomo

Oleh Kelompok A Affan Ghafar A. 120513404279

Agustian Yohan E. 120513428462 Ahmad Arbi T. Ahmad Hadi C. Aji Ananta Akhmad Afif F. Akhmad Al Mufid 120513428475 120513428477 120513428488 120513404272 120513428491

Ana Sri Zunifasari 120513404286

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK MESIN Maret 2014

A. KEREK DENGAN PERKISARAN PLANIT

Gambar dibawah ini merupakan gambar kerek dengan perkisaran planit, atau yang biasa disebut dengan kerek planit.

Tali bebannya dibelitkan pada tabung E sedangkan titik A adalah roda penggerak yang bergigi . Roda gigi B dan roda gigi C dihubungkan dalam satu poros yang

berada dalam lubang tabung E, sehingga roda gigi B dan C dapat berputar dengan bebas. Untuk menentukan perputan antar roda gigi, maka tabung E dianggap tidak berputar dan yang berputar adalah roda gigi D. Dengan demikian jika roda A kita diputar sekali, maka roda B akan berputar banyaknya gigi yang dipindahkan adalah berputar sebanyak ke Z2. Pada keadaan sebenarnya yang berputar adalah tabung E sedangkan sarang gigi D tidak berputar, karena sarang gigi D dipasang pada rumah kerek. Oleh sebab itu kali, begitu juga dengan roda C,

x t

gigi. Maka dari itu roda D

putaran, sehingga titik Z pada roda D akan berpindah

jika seluruh roda diputar, titik pada titik

akan kembali pada kedudukan semula yaitu

, Sehingga roda E berputar sebanyak

putaran ke kanan dan

jumlah putaran roda gigi A = Maka didapat rumus :

1+ x

kali =

= =

Jadi

Atau

Kerek ini bisa juga disebut dengan kerek YALE, untuk lebih jelasnya perhatikan gambar dibawah ini.

Contoh Soal Misalkan tA=12, tB=27, tC=9, tD=48 RE=R2=20 cm dan RA=R1=14 cm tabung=80%,A=95% B dan C=90%, L=3000kg, K=? Jawab: tot = tabungABC =0,80,950,90,9 =0,6156

Konstruksi kerek yale yang sebenarnya adalah seperti gambar dibawah ini.

S P H

Keadaannya berbeda dengan gambar sebelumnya akan tetapi prinsip kerjanya sama. Rantai pengangkatnya dibelitkan pada roda K. Roda ini dapat bergerak pada ulir dari piringan H karena piringan H dipasak pada poros O, maka roda gigi

t yang dipasak pada poros tersebut akan bergerak bersama-sama dengan piringan H. Pada saat menaikkan beban Roda K diputar kekanan sehingga pada uliran roda H dapat bergerak kekiri. Piringan penghalang P yang dipasang tepat pada bibir roda H, tertekan kekiri, begitu pula cincin kulit S. Akhirnya K akan menekan P dan S begitu kerasnya pada H, sehingga H turut memutar bersama-sama dengan K, begitu pula poros O dan roda gigi t1. Putaran dari O itu oleh t1 ditularkan kepada roda-beban L, dengan perantaraan t2 yang disatukan dengan t3. Dengan demikian terbawalah pena A yang dipasang cicin B. Karena cincin B roda dan roda beban L dipasak pada bos E, yang dapat berputar bebas pada poros O, maka bebannya dapat terangkat. Pada waktu K tidak berputar, H, S, P dan K masih merupakan satu ikatan yang keras, oleh karena itu beban tidak akan dapat turun sendiri disebabkan penghalangnya sudah masuk dalam gigi dari roda penghalang P. Menurunkan beban. Apabila roda K diputar kekiri, roda ini bergerak ke kanan dan tekanan antara K, P, S dan H berkurang, sehingga H memutar ke kiri disebabkan adanya beban yang selalu menarik. Pada kejadian ini penghalang P tetap diam ditempat, sedangkan cicin S bergeser padanya. Untuk menghentikan turunnya beban, roda K cukup diputarkan ke kanan sedemikian rupa sehingga timbul gesekan yang cukup besarnya untuk menghentikan putarannya S dan H. B. KEREK ULIR Sebuah kerek yang berulir dan terdiri dari poros ulir A (worm) dan roda ulir B. rantai pengangkatanya dibelitkan pada piringan D. sudut ulirnya kebanyakan dibuat lebih besar daripada sudut geseknya, sehingga hasil gunanya dapat bertambah besar, akan tetapi sebaliknya kerapatan uliran tidak lagi terjamin.

Kerapatan tersebut pada kerek ini terjadi dari tekanan Q, yang bekerja menurut sumbu poros ulir (worm) A dan menekankan ujung poros pada bidang-geseknya.

Selama beban terangkat, roda penghambatnya berputar bersama-sama dengan poros ulir disebabkan adanya gesekan yang kekal itu. Pada ketika poros ulir tidak diputarkan, segera pula penghalangnya menyangkut pada roda penghambat, karena itu poros ulir tidak begerak. Jika kita ingin menurunkan bebannya, diperlukan gaya yang kuat untuk mengatasi gesekan tersebut diatas.

Dari kerek ulir seandainya diketahui: Jari-jari roda D = R Jari-jari roda C = r Gaya pengangkatnya = K Bebannya = L Roda B mempunyai = t gigi Uliran pada poros A berulir-rangkap. Jumlah hasil guna =

Maka jika. D diputar sekali, usaha K = K x 2 R.

Sementara itu poros A berputar sekali juga dan memindahkan 2 gigi dari roda B, sehingga B membuat: putaran begitu pula C, sebab C dipersatukan dengan B. disebabkan C membuat putaran, beban L akan naik. sehingga usaha L =

Jadi

Contoh soal
Misalkan RD=25cm, RC=12cm, tB=60 gigi, dan K=40kg Tentukan: L Jawab: % % % %

C. KEREK WESTON BERULIR

Misalnya ditentukan: Jari-jari roda R1 = R1 Jari-jari R2 = R2 Banyak gigi roda ulir = t poros ulirnya berulir tunggal jari-jari roda pengangkat = R hasil guna seluruhnya = Apabila K memutar sekali usaha K = K x 2r sedang usaha L = L x 2(R1 R2)
( )

Jadi

Contoh Soal Jika diketahui R=30cm, R1=25cm, R2=10cm, t=50, K=20kg, dan L=3000kg, tentukan berapa besarnya efisiensi total kerek weston berulir tersebut! Jawab:
( )