Anda di halaman 1dari 6

TUGAS EKOLOGI LANJUT TERM PAPER

Disusun oleh: Nama : Arista Setyaningrum NIM : 10/301160/BI/8446

FAKULTAS BIOLOGI UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012

Efek Gap Kanopi Terhadap Struktur Vegetasi di Hutan Tropika ABSTRAK Hutan tropika merupakan kawasan hutan yang memiliki karekteristik atau ciri vegetasi yang berstrata atau tersusun atas layer-layer. Layer-layer tersebut terbentuk akibat adanya susunan vegetasi yang heterogen di dalam hutan tropika. Dalam hutan tropika kerap terjadi ketidak stabilan akibat adanya gap kanopi. Gap ini terjadi di lapisan kanopi pada struktur vegetasi. Gap dapat terjadi akibat adanya pohon tumbang, pohon mati atau penebangan pohon. Dengan adanya gap ini maka cahaya matahari dapat masuk sampai pada lantai hutan. Vegetasi yang dominan hadir pada wilayah gap ini adalah growthform semak dan seedling. Efek dari gap ini juga menyebabkan perubahan massa seresah yang terdapat pada permukaan tanah sehingga menyebabkan tumbuhnya seedling tanaman pioner. Kata kunci : gap kanopi, hutan tropika, layer, cahaya matahari, vegetasi PENDAHULUAN Hutan hujan tropika merupakan kawasan yang memiliki ciri vegetasi dengan struktur vertical yang berstrata. Strata yang terbentuk ini merupakan efek dari vegetasi penyusunnya yang heterogen. Selain karena faktor penyusunnya yang heterogen faktor adanya gap kanopi juga mempengaruhi struktur vegetasi di hutan hujan tropika (Numata et al. 2004). Gap kanopi yang terbentuk dapat mengganggu kestabilan dalam struktur vegetasi karena gap yang terjadi menyebabkan adanya cahaya yang masuk pada lantai hutan (Montgomery dan Chazdon 2001) serta mempengaruhi ketersediaan seresah pada lantai hutan yang berpengaruh pada unsur hara yang terdapat pada permukaan tanah (Dupuy and Chazdon 2008). Dengan adanya gap kanopi yang terjadi pada hutan tropika maka terjadi perubahan struktur penyusun vegetasi. Sehingga memunculkan permasalahan tentang bagaimana struktur vegetasi penyusun ekosistem di hutan tropika dengan adanya gap kanopi. Dari permasalahan tersebut maka penulisan ini bertujuan untuk mempelajari efek gap kanopi terhadap struktur penyusun vegetasi di hutan hujan tropika. Penulisan ini

didasarkan pada penelitian yang telah dilakukan di hutan tropika mengenai efek interaksi antara gap kanopi, vegetasi Understorey dan seresah pada seedling dan komposisi pada hutan tropika oleh Dupuy and Chazdon (2008), gradien cahaya pada seedling pohon tropika pada gap kanopi oleh Montgomery dan Chazdon (2001), Respon vegetasi terhadap artificial gap oleh Tompson et al. (1998), Diversitas spesies berkayu di hutan, treefall gap dan edge oleh Zanne dan Chapman (2005) serta penelitian mengenai dinamika kanopi gap oleh Numata et al. (2004). PEMBAHASAN Hutan hujan tropika memiliki karekteristik yang unik yaitu memiliki struktur yang kompleks yang terbentuk secara spasial dan temporal. Struktur kompleks ini berupa strata atau layer atau lapisan vertical yang tersusun akibat adanya heterogenitas penyusunnya (Numata et al. 2004) dimana terdapat layer yang melingkupi suatu wilayah yang disebut dengan kanopi. Struktur penyusun vegetasi di hutan tropika meliputi pohon, semak, herba, rumput, sapling, seedling dan paku yang menempati layernya masing-masing. Pada hutan tropika kerap terjadi gap pada lapisan kanopi disebabkan oleh adanya banyak penyebab antara lain dengan adanya pohon tumbang atau patah, penebangan pohon dan kematian pohon (Zanne and Chapman 2005). Gap kanopi merupakan gangguan yang mengganggu stabilitas struktur pada wilayah hutan tropika. Pada lokasi gap kanopi cahaya dapat masuk hingga lantai hutan sehingga menyebabkan tumbuhnya spesies-spesies sun loving seperti rumput dan semak. Semak merupakan penyusun vegetasi yang mampu bertahan dalam keadaan yang intensitas cahayanya tinggi serta semak memiliki perakaran yang panjang dan sehingga mampu bertahan walaupun mineral yang tersedia di permukaan tanah berkurang akibat adanya gap kanopi (Thompson et al. 1998). Pada penelitian yang di lakukan Thompson et al. (1998) didapatkan bahwa grothform yang muncul atau menempati wilayah gap adalah semak dan herba. Kemungkinan adanya growthform herba pada wilayah ini disebabkan oleh adanya cahaya yang cukup di wilayah gap sehingga herba dapat tumbuh dengan baik.

Terjadinya gap pada lapisan kanopi menyebabkan terjadinya perubahan pada kondisi lingkungan yang ada. Cahaya matahari dapat masuk dan menembus sampai pada lantai hutan. Cahaya yang masuk menyebabkan spesies-spesies sun loving seperti rumput dan semak berkembang dengan baik. Selain spesies sun loving yang tumbuh pada lokasi gap tersebut terdapat juga seedling pohon yang dapat tumbuh berkat ketersediaan cahaya yang cukup (Montgomery and Chazdon 2001) beberapa jenis biji pada pohon memang membutuhkan cahaya dan nutrisi yang cukup untuk dapat berkecambah misalnya pada seedling tumbuhan pioner yang tumbuh dengan baik pada lokasi gap atau lokasi terbuka (Dupuy and Chazdon 2008). Pada lokasi yang mengalami kanopi gap terjadi penurunan massa seresah yang dihasilkan karena pada lokasi gap ini sebagian besar didominasi oleh rumput dan semak yang menghasilkan seresah yang lebih sedikit daripada yang dihasilkan oleh daun pohon yang gugur. Dengan berkurangnya massa sererah yang tersedia di lantai pohon menyebabkan unsur hara yang tersedia dalam tanah ikut berkurang, dengan demikian tigkat kematian pohon tegakan akan tinggi dan dapat menyebabkan perluasan wilayah gap yang terbentuk (Dupuy and Chazdon 2008) tetapi tumbuhan memiliki strategi untuk tetap mempertahankan jenisnya dengan menyebarkan benih atau biji sebelum dia mati. Dikarenakan unsur hara dari seresah tersebut berkurang dan tidak dapat mencukupi kebutuhan maka tumbuhan tegakan akan mati tetapi unsur hara tersebut masih mencukupi untuk kebutuhan seedling sehingga biji yang terdapat di dalam tanah kemungkinan akan berkecambah dan membentuk seedling. Adanya gap secara tidak langsung berpengaruh juga pada keanekaragaman spesies yang berad pada hutan tropika. Dengan adanya gap maka tumbuhan yang hidup merupakan tumbuhan yang sun loving dan akan mematikan tumbuhan yang tidak tahan akan intensitas cahaya yang tinggi. Pada lokasi yang memiliki gap densitas growthform seedling lebih tinggi daripada pohon tetapi seedling tanaman yang tumbuh merupakan seedling tanaman dari jenis-jenis tertentu yang tahan terhadap intensitas cahaya yang tinggi saja sehingga dengan adanya gap canopi ini menyebabkan kekayaan spesies di lokasi tersebut berkurang (Zanne and Chapman 2005).

Proses yang terjadi pada wilayah yang mengalami gap canopi merupakan fase regenerasi dari hutan tersebut setelah adanya gangguan akibat terbukanya kanopi atau yang disebut gap kanopi. Gap kanopi merupakan disturbance atau gangguan yang menyebabkan struktur vegetasi hutan tidak stabil, untuk menyetabilkan keadaan tersebut maka hutan melakukan regenerasi dengan cara tersebut. Sebagian besar vegetasi yang tumbuh pada wilayah gap kanopi merupakan growthform semak tetapi juga dengan densitas seedling yang tinggi menunjukkan bahwa kemungkinan hutan tersebut pada masa mendatang akan dipenuhi lagi dengan pohon yang akan membentuk lapisan kanopinya sendiri. Dengan demikian pada hutan hutan tropika yang didominasi oleh pohon. Jika mengalami gap kanopi akan didominasi oleh growthform semak dan densitas seedling yang tinggi tetapi dengan adanya gap kanopi kekayaan spesies suatu wilayah akan mengalami penurunan. Kemelimpahan growthform semak diwilayah gap dipengaruhi oleh banyak faktor salah satunya adalah intensitas cahaya yang tinggi masuk sampai pada lantai hutan. KESIMPULAN Dari penulisan ini dapat disimpulkan bahwa terjadinya gap kanopi mempengaruhi struktur penyusun vegetasi di hutan tropika yang semula didominasi oleh pohon kemudian didominasi oleh semak dan seedling. Adanya gap kanopi menyebabkan adanya kenaikan densitas seedling tetapi menurunkan kekayaan jenis spesiesnya. Adanya gap kanopi juga berpengaruh pada massa seresah yang terdapat di lantai hutan. Ketersediaan seresah ini berpengaruh pada kandungan hara yang terdapat di permukaan lantai hutan. Dengan adanya seresah ini mempengaruhi densitas seedling yang tumbuh pada wilayah gap. DAFTAR ACUAN Dupuy, J.M. and R.L. Chazdon. 2008. Interacting effects of canopy gap, understory vegetation and leaf litter on tree seedling recruitment and composition in tropical secondary forests. Forest ecology and management 255:3716-3725.

Montgomery ,R. A. and R. L. Chazdon. 2001. Light gradient partitioning by tropical tree seedlings in the absence of canopy gaps. Oecologia 131:165174. Numata,S. M. Yasuda, T. Okuda, N. Kachi and M. N. Nur Supardi. 2006. Canopy gap dynamics of two different forest stands in a malaysian lowland rain forest. Journal of tropical forest science 18:109116. Thompson ,J., J. Proctor, D.A. Scott, P.J. Fraser , R.H. Marrs, R.P. Miller and V. Viana. 1998. Rain forest on Maraca Island, Roraima, Brazil: artificial gaps and plant response to them. Forest ecology and management 102:305-321. Zanne,A.E and C.A Chapman. 2005. Diversity of woody species in forest, treefall gaps, and edge in Kibale National Park, Uganda. Plant Ecology 178: 121139.