Anda di halaman 1dari 8

EKUITAS

DEFINISI DAN KARAKTERISTIK Definisi Ekuitas SFAC No. 6 mendefinisikan equitas sebagai sisa kepemilikan. Bagaimanapun sisa kepemilikan yang diuraikan di dalamnya tidak sama dengan equitas sisa yang didefinisikan di atas. Pengertian ini lebih pada perbedaan antara aktiva dan kewajiban. Konsekuensinya, berdasarkan SFAC No. 6, definisi dan karakteristik ekuitas bergantung pada definisi dan karakteristik aktiva dan kewajiban. SFAC No. 6 mendefinisikan ekuitas secara keseluruhan tidak mendefinisikan sifat dari elemen-elemen ekuitas. Ini sejalan dengan catatatan bahwa perusahaan mungkin memiliki lebih dari satu kelompok ekuitas, seperti saham biasa dan saham preferren. Ekuitas didefinisikan sebagai perbedaan antara aktiva dan kewajiban, dan kewajiban didefinisikan sebagai kewajiban untuk menyerahkan aktiva atau menyediakan jasa kepada entitas lain di masa yang akan datang sebagai hasil dari transaksi atau kejadian di masa lalu. Konsekuensinya, berdasarkan definisi SFAC No. 6, perbedaan antara kewajiban dan ekuitas adalah ekuitas tidak mewajibkan entitas untuk menyerahkan sumber daya masa datang atau menyediakan jasa. Tidak ada kewajiban untuk membagi sumber daya kepada pemilik ekuitas sebelum diumumkan oleh dewan direktur kecuali jika entitas dilikuidasi. Berdasarkan SFAC No. 6, jika instrumen keuangan diterbitkan oleh perusahaan tidak sesuai dengan definisi kewajiban, selanjutnya instrumen tersebut harus diakui sebagai intrumen ekuitas. Tahun 1990 FASB mendiskusikan memorandum pertanyaan apakah definisi dari ekuitas harus dilanjutkan tergantung pada definisi kewajiban atau harus dipisahkan. Jika ekuitas didefinisikan secara terpisah, kemudian kewajiban mungkin menjadi sisa identifikasi antara aktiva dan ekuitas. Dalam kasus ini, persamaan definisi hubungan antara elemen laporan keuangan menjadi: Assets Equity = Liabilities Secara alternatif, ekuitas mungkin didefinisikan sebagai sisa yang mutlak, sebagaimana berdasarkan teori residual equity dan tiga kategoti yang ditambahkan ke dalam neraca quasi-equity. Kategori quasi-equity yang mungkin termasuk adalah seperti saham preferren atau kepemilikan minoritas. Kategori ini akan mengizinkan akuntan untuk mempertahankan definisi kewajiban dan memperlakukan kategori quasi-equity sebagai sisa. Jika bentuk ini dalam penyajian laporan keuangan ada, kemudian isu lainya harus ditujukan, seperti definisi dari pendapatana. Sebagai contoh, sebagaimana disebutkan sebelumnya, ekuitas sisa didefinisikan dari ekuitas akan mentiratkan bahwa dividen preferren akan mengurangi laba bersih yang ditetapkan.

SFAS No. 150 mengharuskan bahwa kewajiban tertentu yang ada pada sekuritas ekuitas yang diterbitkan entitas diklasifikasikan sebagai kewajiban. Karena kewajiban ini tidak ditemukan dalam definisi kewajiban dalam SFAC No. 6, kewajiban tersebut akan didasarkan pada kerangka kerja konseptual sekarang mengenai ekuitas. Sebagai hasilnya, FASB expects to amend Concepts Statement 6 to eliminate that inconsistency. Dampaknya, FASB merencanakan bahwa definisi kewajiban diperluas untuk memasukkan instrumen keuangan yang lain dianggap ekuitas karena instrumen tersebut bukan kewajiban untuk menyerahkan aktiva atau menyediakan jasa.

Teori-Teori tentang Ekuitas

1. Proprietary Theory (Teori Pemilikan)


Menurut proprietary theory, perusahaan dimiliki oleh beberapa orang atau kelompok tertentu. Kepentingan kepemilikan mungkin diwakili oleh pemilik tunggal, persekutuan, atau beberapa pemegang saham.Assets dari perusahaan dimiliki oleh pemilik ini, dan liabilities perusahaan juga dimiliki oleh pemilik. Pendapatan yang diterima oleh perusahaan langsung meningkatkan kepentingan kepemilikan bersih dalam perusahaan. Begitu juga, semua beban yang terjadi pada perusahaan secara langsung menurunkan kepentingan kepemilikan bersih dalam perusahaan. Teori ini bergantung pada semua keuntungan dan kerugian yang secara langsung menjadi kekayaan dari pemilik, bukan perusahaan, baik dibagikan maupun tidak. Karena itu badan usaha berdiri semata-mata untuk menjadi alat melaksanakan transaksi bagi para pemilik dan kekayaan bersih atau bagian ekuitas dalam neraca harus dianggap sebagai: Assets Liabilities = Proprietorship Berdasarkan proprietary theory, pelaporan keuangan didasarkan pada anggapan dasar yaitu pemilik merupakan fokus utama laporan keuangan perusahaan. Proprietary theory dapat diterapkan khususnya untuk kepemilikan tunggal dimana pemilik merupakan pengambil keputusan. Ketika bentuk perusahaan menjadi lebih kompleks, kepemilikan dan manajemen dipisah, teori ini menjadi kurang dapat diterapkan.

2. Entity Theory (Teori Entitas)


Timbulnya organisasi bentuk korporasi, (1) diikuti oleh pemisahan antara kepemilikan dan manajemen, (2) membatasi kewajiban pemilik dan (3) dari definisi bahwa suatu korporasi adalah sebagai suatu pribadi, merupakan faktor pendorong evolusi

teori baru pemilikan, salah satunya entity theory. Entity theory dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut : Assets = Equities Inti dari teori ini adalah kreditor seperti pemegang saham menyumbangkan sumber daya pada perusahaan, dan perusahan yang berdiri sebagai entitas yang berbeda dan terpisah dari kreditor dan pemegang saham (penyumbang sumber daya). Assets dan liabilities adalah milik perusahaan, bukan milik pemilik. Pendapatan yang diterima menjadi kekayaan entitas, dan beban yang terjadi menjadi kewajiban entitas. Setiap laba merupakan milik entitas, dan menjadi milik pemegang saham hanya ketika dividend diumumkan.

3. Fund Theory
William J. Vatter berpendapat teori pemilikan terlalu sederhana untuk pelaporan perseroan modern. Dia melihat tidak ada dasar yang logika untuk memandang perusahaan sebagai orang pribadi dalam pengertian hukum, dan dia berpendapat bahwa perusahaan merupakan manusia yang diwakilinya. Sebagai suatu alternatif, Vatter menyarankan teori dana (fund theory). Teori dana berupaya meninggalkan hubungan pribadi yang dianjurkan oleh teori pemilikan dan personalisasi badan usaha yang dianjurkan teori entitas. Pada teori dana, pengukuran penghasilan bersih merupakan masalah kedua dibandingkan dengan pemenuhan kepentingan khusus manajemen, lembaga-lembaga pengawasan masyarakat (seperti instansi-instansi pemerintah), dan keseluruhan proses perluasan kredit dan investasi. Teori dana dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut : Aset = Pembatasan Terhadap Aset Teori ini menjelaskan pelaporan keuangan dari suatu organisasi dalam tiga term yang digarisbawahi, sebagai berikut :

1. Dana ( Fund ) - suatu daerah perhatian yang didefinisikan sebagai aktivitas dan
operasi yang dilingkupinya dari setiap seperangkat pencatatan akuntansi dan di mana seperangkat keseimbangan akuntansi dibuat. 2. Assets jasa-jasa dan potensi-potensi ekonomi. 3. Ristrictions pembatasan dalam penggunaan assets.

Teori dana tidak mendapatkan penerimaan dalam akuntansi keuangan, ini lebih cocok untuk akuntansi pemerintahan. Teori ini agak radikal berangkat dari praktik saat ini, dan penambahan volume pembukuan yang akan diminta mencegah adopsinya.

4. Commander Theory
Entity theory mengadopsi titik pandang dari entitas bisnis, padahal proprietary theory mengambil titik pandang pemilik bisnis. Tetapi, pertanyaan Goldberg, Apakah titik pandang dari manajer kekuatan aktivitas dalam..........perusahaan ?. Goldberg berpendapat bahwa pertanyaan ini sangat penting karena membedakan titik pandang kepentingan sendiri dari pemilik dan manajer dalam perusahaan besar. Faktanya, kaitan dengan pembedaan ini adalah seluruh........bidang kajian, berjalan di bawah akuntansi manajemen dan literatur yang mendasarinya terus berkembang, di mana penekanan diletakkan pada informasi akuntansi yang memungkinkan mereka (para manajer) untuk menjalankan fungsi dalam pengendalian kekayaan dan peningkatkannya. Teori commander, tidak seperti pendekatan proprietary,entity, dan fund, dapat diterapkan pada semua bentuk organisasi (perusahaan perseorangan, persekutuan, dan perusahaan). Bentuk organisasi tidak mengingkari penerapan pandangan commander karena commander dapat menangani lebih dari satu identitas dalam organisasi apapun. Dalam perusahaan perseorangan atau perseroan, pemilik kekayaan atau partner adalah pemilik dan pemimpin. Pada bentuk perusahaan, manajer dan pemegang saham adalah pemimpin dalam setiap pemeliharaan pengendalian terhadap sumber daya. (Manajer mengendalikan sumber daya perusahaan, dan pemegang saham mengendalikan pengembalian investasi yang dihasilkan oleh perusahaan.)

5. Enterprise Theory
Berdasarkan teori enterprise, unit bisnis, kebanyakan yang tercatat pada bursa nasional atau regional, dipandang sebagai institusi sosial, menciptakan sumbangan modal memiliki tujuan umum atau tujuan-tujuan dan, kepastian luasnya, peranan umum. Manajemen di dalam kerangka kerja ini pada dasarnya memperbaiki hubungan armslength dengan pemilik dan memiliki tanggung jawab utama (1) mendistribusikan dividend yang layak (2) mempertahankan keakraban dengan pekerja, konsumen, dan unit pemerintahan. Karena teori ini hanya dapat digunakan pada isu perdagangan nasional dan regional, biasanya dianggap hanya memiliki dampak minimum dalam teori akuntansi, atau pengembangan prinsip dan praktik akuntansi.

6. Residual Equity Theory


George J. Staubus mendefinisikan residual equity sebagai kepemilikan yang pantas dalam kekayaan organisasi yang dapat menyerap efek pada kekayaan tersebut dari setiap kejadian ekonomi yang tidak memiliki perjajian dengan pihak yang berkepentingan. Di sini, pemegang saham biasa mempertahankan ekuitas sisa dalam perusahaan dengan kebaikan yang memiliki klaim terakhir dari pendapatan, namun mereka adalah pihak yang pertama menanggung kerugian. Pemegang ekuitas sisa keberadaannya vital bagi perusahaan dalam menanngung risiko dan menyediakan jumlah modal yang substansial selama perusahaan berada pada level berkembang. Teori residual equity dirumuskan sebagai berikut: Assets specific equities = residual equities Berdasarkan pendekatan ini, aktiva sisa, klaim bersih dari pemegang dari equitas khusus (kreditor dan pemegang saham preferred), bertambah untuk pemilik sisa. Dalam kerangka ini, peranan laporan keuangan adalah untuk menyediakan prospektif dan pemilik sisa sekarang dengan informasi mengenai arus sumber daya perusahaan yang dapat mereka nilai klaim sisanya. Manajemen merupakan dampak tanggung jawab kepercayaan untuk memaksimalkan kekayaan pemegang equitas sisa. Pendapatan yang bertambah bagi pemilik sisa setelah klain pemegang ekuitas khusus dipertemukani. Selanjutnya, pendapatan pemegang ekuitas khusus, termasuk bunga dan utang serta dividen bagi pemegang saham preferred, akan dikurangkan pada laba bersih sisa. Teori ini konsisten dengan model yang dirumuskan dalam literatur keuangan, dengan penyajian laba per saham dalam laporan keuangan sekarang, dan dengan kerangka kerja konseptual yang menekankan pada kaitan dari proyeksi arus kas. Sama seperti teori fund, commander, dan enterprise, pendekatan residual equity memiliki sedikit perhatian dalam akuntansi keuangan. PENGAKUAN DAN PENGUKURAN Pada pokoknya, pengungkapan unsur ekuitas diharapkan secara jelas mengelompokkan modal disetor, saldo laba, selisih penilaian kembali aktiva tetap, dan modal sumbangan. Rincian tiap kelompok diperkenankan, selama tak bertentangan dengan Pernyataan ini.

Akuntansi Ekuitas Untuk Badan Usaha Bukan PT Akuntansi untuk ekuitas Badan Usaha bukan PT harus dilaporkan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku untuk badan usaha tersebut dan standar akuntansi keuangan yang berlaku khusus untuk industri yang bersangkutan, misalnya Koperasi.

Akuntansi Ekuitas Untuk Badan Usaha Berbentuk PT Modal saham meliputi saham preferen, saham biasa dan akun Tambahan Modal Disetor. Pos modal lainnya seperti modal yang berasal dari sumbangan dapat disaji-kan sebagai bagian dari tambahan modal disetor.

Unsur Penambahan Modal Disetor PT Akun Tambahan Modal Disetor terdiri dari berbagai macam unsur penambah modal, seperti; agio saham, tambahan modal dari perolehan kembali saham dengan harga yang lebih rendah dari pada jumlah yang diterima pada saat pengeluaran, tambahan modal dari penjualan saham yang diperoleh kembali dengan harga di atas jumlah yang dibayarkan pada saat perolehannya, tambahan modal dari perbedaan kurs modal disetor dan lain sebagainya. Akun Tambahan Modal Disetor tidak boleh didebit atau dikredit dengan pos laba/rugi usaha maupun laba/rugi luar biasa .

Pencatatan Penambahan Modal Dlsetor PT Penambahan modal disetor dicatat berdasarkan: a. Jumlah uang yang diterima. b. Setoran saham dalam bentuk uang, sesuai transaksi nyata. Untuk jenis saham yang diatur dalam bentuk Rupiah dalam akta pendirian, setoran saham tunai dalam bentuk mata uang asing dinilai dengan kurs berlaku tanggal setoran. c. Besarnya tagihan yang timbul atau hutang yang dikonversi menjadi modal. d. Setoran saham dalam dividen saham dilakukan dengan harga wajar saham, yaitu harga pasar tanggal transaksi untuk PT yang sahamnya terdaftar di Bursa Efek, atau nilai wajar yang disepakati Rapat Umum Pemegang Saham untuk saham yang tidak ada harga pasarnya. e. Nilai wajar aktiva bukan kas yang diterima. f. Setoran saham dalam bentuk barang (inbreng), menggunakan nilai wajar aktiva bukan kas yang diserahkan, yaitu nilai appraisal tanggal transaksi yang disetujui Dewan Komisaris untuk PT yang sahamnya terdaftar di Bursa Efek, atau nilai kesepakatan Dewan Komisaris dan penyetor bentuk barang.

Pencatatan Pengurangan Modal Disetor PT Pengurangan modal disetor lazimnya dicatat berdasarkan: a. jumlah uang yang dibayarkan; atau b. besarnya hutang yang timbul; atau c. nilai wajar aktiva bukan kas yang diserahkan.

Pengeluaran saham dicatat sebesar nilai nominal yang bersangkutan. Bila jumlah yang diterima dari pengeluaran saham tersebut lebih besar dari pada nilai nominalnya, selisih yang terjadi dibukukan pada akun Agio Saham.

Penyajian dan Pengungkapan

Penyajian Modal Penyajian modal dalam neraca harus dilakukan sesuai dengan ketentuan pada akta pendirian perusahaan dan peraturan yang berlaku serta menggambarkan hubungan keuangan yang ada. Modal dasar, modal yang ditempatkan dan modal yang disetor, nilai nominal dan banyaknya saham untuk setiap jenis saham harus dinyatakan dalam neraca. Bila terdapat lebih dari satu jenis saham, hak preferen dari suatu golongan saham atas dividen dan pelunasan modal pada saat likuidasi harus dicantumkan dalam laporan keuangan. Dalam hal terdapat tunggakan dividen atas saham preferen dengan hak dividen kumulatif, jumlah tunggakan tiap saham dan jumlah keseluruhan dividen periode sebelumnya harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Perubahan atas modal yang ditanam dalam tahun berjalan harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Modal disajikan dalam neraca setelah kewajiban. Bentuk penyajiannya sesuai Akta Pendirian Badan Usaha tersebut, misalnya: saham adalah penyertaan modal dalam kepemilikan Perseroan Terbatas. Pada perusahaan yang terdaftar pada bursa efek, saham dapat ditempatkan dengan dasar pesanan. Dengan dasar ini saham hanya akan dikeluarkan jika pemesan telah membayar penuh harga saham yang bersangkutan. Pesanan saham dicatat dengan mendebit akun Piutang Kepada Pemesan Saham dan mengkredit akun Modal Saham Yang Dipesan. Akun Modal Saham Yang Dipesan disajikan dalam kelompok modal di bawah akun MndaI Saham .

Penyajian dan Pengungkapan Saldo Laba Saldo laba menunjukkan akumulasi hasil usaha periodik setelah memperhitungkan pembagian dividen dan koreksi laba-rugi periode lalu. Akun ini harus dinyatakan terpisah dari akun Modal Saham. Seluruh saldo laba dianggap bebas untuk dibagikan sebagai dividen, kecuali jika diberikan indikasi mengenai pembatasan terhadap saldo laba, misalnya; dicadangkan untuk perluasan pabrik, atau untuk memenuhi ketentuan Undang-Undang maupun ikatan tertentu. Saldo laba yang tidak tersedia untuk dibagikan sebagai dividen karena pembatasanpembatasan tersebut, dilaporkan dalam akun tersendiri yang menggambarkan tujuan pencadangan termaksud; pembatasan-pembatasan yang ada harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Saldo laba tidak boleh dibebani atau dikredit dengan pos-pos yang seharusnya diperhitungkan pada laporan laba rugi tahun berjalan. Pengungkapan saldo laba harus meliputi: a. Pengungkapan penjatahan (apropriasi) dan pemisahan saldo laba, menjelaskan jenis penjatahan dan pemisahan, tujuan penjatahan dan pemisahan saldo laba, serta jumlahnya. Perubahan akun-akun penjatahan atau pemisahan saldo laba, harus pula diungkapkan. b. Peraturan, perikatan, batasan dan jumlah batasan di sekitar saldo laba, harus diungkapkan. Misalnya, selama perjanjian kredit berlangsung, perusahaan tak diizinkan membagi saldo laba tanpa seijin kreditor. c. Perubahan saldo laba karena penggabungan usaha dengan metode penyatuan kepentingan (pooling of interests). d. Koreksi masa lalu, baik bruto maupun neto setelah pajak.Pengungkapan harus dilakukan dengan penjelasan bentuk kesalahan laporan keuangan terdahulu, dampak koreksi terhadap laba usaha, laba bersih dan nilai saham per lembar. e. Pengungkapan jumlah dividen dan dividen per lembar saham, pengungkapan keterbatasan saldo laba tersedia bagi dividen. f. Tunggakan dividen, baik jumlah maupun tunggakan per lembar saham. g. Pengungkapan deklarasi dividen setelah tanggal neraca, sebelum tanggal penerbitan laporan keuangan. h. Pengungkapan dividen saham dan pecah saham, pengungkapan jumlah yang dikapitalisasi dan saji ulang laba persaham (EPS) agar laporan keuangan berdaya banding