Anda di halaman 1dari 12

TUGAS TERSTRUKTUR EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR

ASMA BRONKHIALE

Disusun oleh Kelompok 9 (Kelas A)

Anggota : Nini Banowati Dwi Annisa Fajria Rita Mei Nurahayu Riko Jati Prakasa (G1B011025) (G1B011066) (G1B011067) (G1B011077)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT

2013

BAB I PENDAHULUAN Asma bronkhiale adalah penyakit yang ditandai oleh obstruksi jalan napas atau (penyempitan saluran napas) yang reversible (tetapi tidak sepenuhnya begitu pada beberapa pasien) baik secara spontan maupun dengan pengobatan. Peradangan saluran napas dan hiperresponsifitas napas terhadap berbagai rangsangan (Behera, 2005). Asma bronkial merupakan kelainan saluran napas kronik yang merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di dunia dan merupakan penyakit genetik dengan penyebab belum diketahui secara pasti. Asma dapat bersifat ringan dan tidak mengganggu aktivitas tetapi dapat juga bersifat menetap dan mengganggu aktivitas bahkan kegiatan harian (Rozaliyani, 2011). Asma dapat menyerang semua tingkat umur terjadi pada laki-laki maupun perempuan dan paling banyak pada usia anak. Asma tersebar hampir diseluruh pelosok dunia baik di negara maju maupun negara berkembang. Peningkatan penyakit ini disetiap negara berbeda-beda dan terjadi peningkatan pada negara berkembang (Rosamarlina, 2010). Penyakit asma semula dianggap bukan masalah serius di Indonesia. Namun, angka morbiditas dan mortalitasnya terus meningkat baik di dunia maupun di Indonesia maka penanganan penyakit ini perlu mendapat perhatian serius (Sihombing, 2010) .Serangan asma masih merupakan penyebab utama tidak masuk sekolah pada anak, sehingga berakibat menurunnya prestasi belajar. Masa yang seharusnya masa bersuka ria dan bermain,namun sering tidak dapat dinikmati dengan baik,bahkan sebagian dari mereka harus tinggal di rumah sakit. Asma pada orang dewasa membawa masalah tersendiri, yaitu pada ibu rumah tangga menyebabkan tidak dapat melakukan tugas/perannya dengan baik, sedang pada pekerja dapat meningkatkan angka absensi sehingga berakibat menurunnya produktivitas. Hal tersebut berdampak pada gangguan pertumbuhan fisik atau gangguan tumbuh kembang terutama pada anak dan dapat menurunkan tingkat sosial ekonomi pada rumah tangga (Handari, 2007).

BAB II PERMASALAHAN A. Angka Kesakitan Asma yang didiagnosis dokter pada orang dewasa sebesar 2.7 4.0 % di sebagian besar negara negara di Eropa, 12.0% di Inggris dan 7.1% di Amerika Serikat. Di Australia, prevalensinya cukup tinggi (9.5 17.9%). Tristan da Cunha adalah contoh yang unik dimana lebih dari setengah populasi (56%) dilaporkan menderita asma, hal ini membuktikan kuatnya hubungan genetik pada asma. Prevalensi kejadian asma hampir serupa pada laki laki yaitu 3.8 % dan perempuan sebesar 3.4 % (Zamel N et al, dalam Anggarwal A.N et al, 2006). Asma menyebabkan kehilangan 16% hari sekolah pada anak-anak di Asia, 34% di Eropa, dan 40% di Amerika Serikat (Rosamarlina dkk, 2010). Penelitian International Study on Asthma and Allergies in Childhood menunjukkan bahwa di Indonesia prevalensi penyakit asma meningkat dari 4,2% pada tahun 1995 menjadi 5,4% pada tahun 2003. DKI Jakarta memiliki prevalensi asma yang lebih besar yaitu 7,5% pada tahun 2007. Penyakit asma berasal dari keturunan sebesar 30 % dan 70 % disebabkan oleh berbagai faktor lainnya. Diperkirakan 10% dari 25 juta penduduk Indonesia menderita asma. Angka kejadian asma pada anak dan bayi sekitar 10-85% dan lebih tinggi dibandingkan oleh orang dewasa (10-45%) (Oemiati, Sihombing & Qomariah, 2010). B. Angka Kematian Penyakit asma merupakan penyakit lima besar penyebab kematian di dunia yang bervariasi antara 5-30% (berkisar 17,4%) (Oemiati, Sihombing & Qomariah, 2010). Angka mortalitas penyakit asma di dunia mencapai 17,4% dan penyakit ini menduduki peringkat 5 besar sebagai penyebab kematian. Survei Kesehatan Rumah tangga (SKRT) Departemen Kesehatan RI tahun 2004 memperlihatkan asma masih menempati urutan ke 3 dari 10 penyebab kematian utama di Indonesia (Sihombing Marice dkk, 2010).

BAB III TINJAUAN PUSTAKA A. Keluhan dan Gejala Penyakit Untuk menghindari kesalahan diagnosis penting untuk diingat bahwa penderita asma dapat menderita berbagai gejala, gejala paling pasti terjadi pada asma adalah mengi, sesak nafas, dada sesak dan batuk. Mengi adalah tanda paling biasa dari asma dan harus dilakukan pencatatan selama anamnesis. Selain asma akut, tidak ada tanda khusus dari asma. Pasien dengan kronik asma memiliki gejala peningkatan udara yang terperangkap dalam paru dengan atau tanpa mengi (Behera, 2005). Ciri asma adalah gejala yang terjadi cenderung bersifat intermitten (gejala yang dialami oleh penderita asma bisa datang dan pergi kapan saja, bisa terjadi terus-menerus), variabel (berubah-ubah), lebih buruk di malam hari dan ditimbulkan oleh berbagai pemicu asma. Bila batuk merupakan gejala yang dominan tanpa mengi, ini sering disebut varian batuk asma. (Behera, 2005). Gejala yang berat adalah keadaan gawat darurat yang mengancam jiwa. Yang termasuk gejala yang berat adalah : a. Serangan batuk yang hebat b. Sesak napas yang berat dan tersengal-sengal c. Sianosis (kulit kebiruan, yang dimulai dari sekitar mulut) d. Sulit tidur dan posisi tidur yang nyaman adalah dalam keadaan duduk e. Kesadaran menurun (Departemen Kesehatan RI, 2007) B. Pemeriksaan Penunjang Diagnostik Penyakit asma bronkhial dapat didiagnosis dengan beberapa tes berikut, antara lain : 1) Spirometri Alat pengukur faal paru, selain penting untuk menegakkan diagnosis juga untuk menilai beratnya obstruksi dan efek pengobatan (Rengganis, 2008) 2) Peak Expiratory Flow Meter atau PFM Peak flow meter merupakan alat pengukur faal paru sederhana, alat tersebut digunakan untuk mengukur jumlah udara yang berasal dari paru. (Rengganis, 2008) serta alat yang baik untuk menilai variabilitas dalam

keterbatasan aliran udara yang terlihat pada penderita asma sehingga dapat memantau perkembangan penyakit tersebut (Hadeli, 2011). 3) Foto Thorax atau X-ray Pada penderita asma ditemukan dengan obstruksi jalan napas yang parah adalah hiperinflasi dada dan diafragma datar (Hadeli, 2011).

Gambar 1 Hiperinflasi dada 4) Uji Provokasi Bronkus

Gambar 2 Diafragma datar

Uji ini berfungsi untuk melihat adanya hipereaktivitas bronkus (Sundaru, 2009). Ada beberapa cara untuk melakukan uji provokasi bronkus seperti uji provokasi dengan latihan jasmani, inhalasi udara dingin atau kering, histamin, dan metakolin (Rengganis, 2008). 5) Pemeriksaan Eosinofil Total Jumlah eosiofil total dalam darah sering meningkat pada pasien asma dan hal ini dapat membantu dalam membedakan asma dari bronchitis kronik. Pemeriksaan ini juga dapat dipakai sebagai patokan untuk menentukan cukup tidaknya dosis kortikosteroid yang dibutuhkan pasien asma (Sundaru, 2009). 6) Uji Kulit / Uji Tusuk Kulit Uji kulit untuk menunjukkan adanya antibodi IgE spesifik pada kulit. Uji tersebut untuk menyokong anamnesis dan mencari faktor pencetus karena uji allergen yang positif tidak selalu merupakan penyebab asma, demikian pula sebaliknya (Rengganis, 2008). 7) Analisis gas darah arteri (ABG) Pemeriksaan ini hanya dilakukan pada asma yang berat dengan mengecek kadar PaCO2 (Sundaru, 2009).
5

C. Faktor Faktor Risiko Penyebab pasti dari asma bronkhiale belum diketahui. Risiko

berkembangnya asma merupakan interaksi antara lingkungan dan pejamu. Faktor pejamu tersebut adalah predisposisi genetik asma, alergi,

hipereaktifitas bronkus, jenis kelamin, aktivitas fisik dan ras/etnik. Makanan biasanya tidak memicu kecuali secara pada individu tertentu. Kebanyakan pasien dapat memiliki lebih dari satu pemicu. Paparan lingkungan lingkungan dibagi 2 : 1. Yang mempengaruhi individu dengan predisposisi asma untuk

berkembang menjadi asma, antara lain : alergen di dalam maupun di luar ruangan, seperti kutu, alergen binatang, alergen kecoa, jamur, tepung sari bunga sensitisasi bahan lingkungan kerja, asap rokok, polusi udara di luar maupun di dalam ruangan infeksi pernapasan (virus) status sosioekonomi dan besarnya keluarga obesitas (Hadeli, 2011). 2. Yang menyebabkan eksaserbasi (serangan) dan/atau menyebabkan gejala asma menetap : alergen dan polusi udara di luar maupun di dalam ruangan infeksi pernapasan olah raga dan perubahan cuaca makanan, additif (pengawet, penyedap, pewarna makanan) obat-obatan, seperti asetil salisilat, beta-blockers dan Obat antiinflamasi (anti radang) non steroid, atau yang lebih dikenal dengan sebutan NSAID (Non Steroidal Anti-inflammatory Drugs) ekspresi emosi yang berlebihan asap rokok, iritan antara lain parfum, bau-bauan yang memicu serangan asma (Hadeli, 2011). D. Cara Pencegahan Pencegahan terjadinya penyakit asma bronkhial dapat dilakukan sebagai berikut :

a) Mencegah Sensititasi Selain menghindari pajanan dengan asap rokok, baik in utero atau setelah lahir, tidak ada bukti intervensi yang dapat mencegah perkembangan asma. b) Menghindari Allergen Alergen indoor seperti tungau debu rumah, hewan berbulu, kecoa, dan jamur, alergen outdoor seperti polen, jamur, infeksi virus, polutan dan obat. Menghindari asap rokok, lingkungan kerja, makanan, dan obat. c) Mencegah Eksaserbasi (Serangan) Eksaserbasi asma (episode akut atau subakut dengan sesak yang memburuk secara progresif disertasi batuk, mengi, dan dada sakit, atau beberapa kombinasi gejala - gejala tersebut) dapat ditimbulkan berbagai faktor pencetus (Rengganis, 2008). E. Cara Pengobatan dan Perawatan Pengobatan asma bronkial bertujuan agar penderita dapat hidup normal, bebas dari serangan asma serta memiliki faal paru senormal mungkin, mengurangi reaktifasi saluran napas, sehingga menurunkan angka perawatan dan angka kematian akibat asma. Obat asma digunakan untuk menghilangkan dan mencegah timbulnya gejala dan obstruksi saluran pernafasan. Obat asma terbagi ke dalam dua kelompok besar yaitu obat pelega (reliever) dan obat pengendali (controller). Kelompok obat pelega digunakan untuk meredakan serangan atau gejala asma jika sedang timbul yaitu obstruksi saluran nafas. Kelompok obat pengendali digunakan untuk mengatasi masalah dasar asma yaitu inflamasi respiratory kronik dan atau untuk mengendalikan asma yang persisten (Meiyanti & Julius I. Mulia, 2000). Obat yang termasuk golongan reliever adalah agonis beta-2, antikolinergik, teofilin, dan kortikosteroid sistemik. Agonis beta-2 adalah bronkodilator yang paling kuat pada pengobatan asma. Obat agonis beta-2 seperti salbutamol, terbutalin, fenoterol, prokaterol dan isoprenalin, merupakan obat golongan simpatomimetik. Efek samping obat golongan agonis beta-2 dapat berupa gangguan kardiovaskuler, peningkatan tekanan darah, tremor, palpitasi, takikardi dan sakit kepala . Pemakaian agonis beta-2

secara reguler hanya diberikan pada penderita asma kronik berat yang tidak dapat lepas dari bronkodilator (Meiyanti & Julius I. Mulia, 2000). Obat yang termasuk dalam golongan controller adalah obat anti inflamasi seperti kortikosteroid, natrium kromoglikat, natrium nedokromil, dan antihistamin aksi lambat. Pemberian kortikosteroid sistemik lebih sering menimbulkan efek samping, maka sekarang dikembangkan pemberian obat secara inhalasi. Keuntungan pemberian obat inhalasi yaitu mula kerja yang cepat karena obat bekerja langsung pada target organ, diperlukan dosis yang kecil secara lokal, dan efek samping yang minimal. Dengan demikian untuk mengatasi asma kortikosteroid inhalasi merupakan pilihan yang lebih baik (Meiyanti & Julius I. Mulia, 2000). F. Rehabilitasi Penderita yang dimasukkan ke dalam program rehabilitasi adalah mereka yang telah mendapatkan pengobatan optimal yang disertai gejala pernapasan berat, beberapa kali masuk ruang gawat darurat dan kualitas hidup yang menurun. Tujuan program rehabilitasi untuk meningkatkan toleransi latihan dan memperbaiki kualitas hidup penderita. Program rehabilitiasi terdiri dari 3 komponen yaitu : latihan fisik, psikososial dan latihan pernapasan (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003). 1. Latihan Fisik Memperbaiki efisiensi dan kapasitas sistem transportasi oksigen. Latihan fisik dilakukan untuk meningkatkan kemampuan otot pernapasan terdiri dari latihan pernapasan dan endurance excercise. Latihan pernapasan akan mengakibatkan bertambahnya kemampuan ventilasi maksimum, memperbaiki kualitas hidup dan mengurangi sesak napas. Endurance exercise adalah pelatihan untuk daya tahan paru dan jantung. Apabila kedua latihan bisa dilaksanakan oleh penderita, hasilnya akan lebih baik. Ketika ditemukan kelelahan pada otot pernapasan, maka porsi latihan otot pernapasan diperbesar, sebaliknya apabila didapatkan CO2 darah tinggi dan peningkatan ventilasi pada waktu latihan maka latihan endurance yang diutamakan . Hal ini selain mengefektifkan kerja otot-otot pernapasan juga memberikan rasa percaya diri yang besar parapenderita.

2. Psikososial Status psikososial penderita perlu diamati dengan cermat dan apabila diperlukan dapat diberikan obat. Hal ini berguna untuk menstabilkan emosi penderita terutama pada penderita dengan emosi yang labil karena faktor emosi berperan dalam mencetuskan serangan. 3. Latihan Pernapasan Tujuan latihan ini adalah untuk mengurangi dan mengontrol sesak napas. Teknik latihan meliputi pernapasan diafragma guna memperbaiki ventilasi dan menyinkronkan kerja otot abdomen dan toraks. Berguna juga untuk melatih ekspektorasi dan memperkuat otot ekstrimitas (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003). G. Prognosis Meskipun kemungkinan kematian terkait asma ada pada setiap pasien dengan asma, beberapa penelitian menunjukkan faktor-faktor yang

berpengaruh dengan peningkatan resiko kematian dari beberapa kematian. Kematian terkait asma lebih tinggi pada pasien yang lebih tua daripada usia yang lainnya. Meskipun angka kematian pada pasien yang muda lebih rendah, peningkatan kejadian asma pada individu usia 5 sampai 34 tahun menjadi perhatian pada 10 tahun terakhir. Angka kematian pada ras Afrika-Amerika lebih tinggi daripada ras Kaukasia khususnya pada remaja. Individu dengan serangan asma akut yang mengakibatkan gagal nafas dan memerlukan intubasi (pemasangan pipa saluran nafas) memiliki resiko lebih tinggi. Mereka dengan asidosis respiratorik (keadaan dimana paru-paru tidak mampu mengeluarkan seluruh karbondioksida) yang tidak menggunakan intubasi juga beresiko tinggi. Pada sebagian pasien, kemerosotan kondisi tubuh selama serangan asma akut terjadi sangat cepat sehingga meningkatkan resiko kematian. Pasien yang depresi memiliki resiko kematian yang lebih tinggi, khususnya pada anak-anak. Keterlambatan dan kurangnya akses ke pelayanan kesehatan merupakan faktor lain yang menyebabkan peningkatan resiko penyakit asma (Behera, 2005).

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Asma bronkhiale adalah penyakit yang ditandai oleh obstruksi jalan napas yang reversibel (tetapi tidak sepenuhnya begitu pada beberapa pasien) baik secara spontan maupun dengan pengobatan. Gejala paling pasti terjadi pada asma adalah mengi, sesak nafas, dada sesak dan batuk. Diagnosis dapat dilakukan dengan Spirometri, PFM, Foto Thorax, Uji provokasi bonkus, Pemeriksaan eosinofil total, Uji tusuk kulit, Pemeriksaan IgE dan Analisis gas darah arteri. Faktor resiko penyakit asma bisa berupa allergen baik indoor maupun outdoor, aktivitas fisik, hipereaktifitas bronkus, jenis kelamin dan ras/etnik. Pencegahan asma dapat dilakukan dengan menghidari allergen, mencegah sensitisasi dan mencegah eksaserbasi. Obat penyakit asma terbagi menjadi reliever dan controller yaitu obet untuk meredakan serangan asma dan mengendalikan asma yang persisten. Rehabilitasi penyakit asma terdiri dari tiga komponen rehabilitasi yaitu latihan fisik, rehabilitasi psikososial dan latihan pernafasan. Prognosis asma memburuk pada usia yang lebih tua dan pasien dengan asidosis respiratorik yang tidak menggunakan intubasi.

10

BAB V DAFTAR PUSTAKA Anggarwal A.N et al. 2006. Prevalence and Risk Factors for Bronchial Asthma in Indian Adults: A Multicentre Study. Original ArticleVol : 48 Hal : 13 22 Behera, D. 2005. Bronchial Asthma. Jaypee Brothers Medical Publisher : New Delhi Departemen Kesehatan RI. 2007. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Asma. Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. Jakarta. Grootendorst, D. C. et all. 2004. Mechanisms of Bronchial Hyperreactivity in Asthma and Chronic Obstructive Pulmonary Disease. Leiden University Medical Centre : The Netherlands Hadeli, Khaled O. 2011. Bronchial Asthma. The Oea Review Medicine. Handari, M. 2007. Hubungan Antara Sebelum dan Setelah Mengikuti Senam Asma dengan Frekuensi Kekambuhan Penyakit Asma. Jurnal Kesehatan Surya Medika : Yogyakarta Meiyanti dan Julius I. Mulia. 2000. Perkembangan patogenesis dan pengobatan Asma Bronkial. J Kedokter Trisakti, Vol.19, No.3, Hal.125 132 Oemiati R., Sihombing M., & Qomariah. (2010). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Penyakit Asma di Indonesia. Dipetik November 21, 2013, dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia: http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/201104149_0853-9987.pdf Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2003. Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta Rengganis, Iris. 2008. Diagnosis dan Tatalaksana Asma Bronkial. Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia / Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Jakarta Rosamarlina, dkk. 2010. Prevalens Asma Bronkial Berdasarkan Kuesioner ISAAC dan Perilaku Merokok pada Siswa SLTP di Daerah Industri Jakarta Timur. J Respir Indo Vol. 30, No. 2, Hal. 75 84 Rozaliyani A., dkk. 2011. Mekanisme Resistens Kortikosteroid Pada Asma. FKUI : Jakarta Sihombing, Marice, dkk. 2010. Faktor Faktor Yang Berhubungan Dengan Penyakit Asma Pada Usia 10 Tahun Di Indonesia (Analisis Data Riskesdas 2007). J Respir Indo Vol. 30, No. 2, Hal. 85 91 Sundaru, Heru dk. 2009. Ilmu Penyakit Dalam. Interna Publishing. Jakarta.

11

LAMPIRAN

12