Anda di halaman 1dari 16

Reaksi silang perlu dilakukan sebelum melakukan transfusi darahuntuk melihat apakah darah penderita sesuai dengan darah

donor. Mayor crossmatch adalah serum penerima dicampur dengan sel donor dan Minor Crossmatch adalah serum donor dicampur dengan sel penerima. Jika golongan darah ABO penerima dan donor sama, baik mayor maupun minor test tidak bereaksi. Jika berlainan umpamanya donor golongan darah O dan penerima golongan darah A maka pada test minor akan terjadi aglutinasi. Mayor Crossmatch merupakan tindakan terakhir untuk melindungi keselamatan penerima darah dan sebaiknya dilakukan demikian sehingga Complete Antibodies maupun incomplete Antibodies dapat ditemukan dengan cara tabung saja. Cara dengan objek glass kurang menjaminkan hasil percobaan. Reaksi silang yang dilakukan hanya pada suhu kamar saja tidak dapat mengesampingkan aglutinin Rh yang hanya bereaksi pada suhu 37OC. Lagi pula untuk menentukan anti Rh sebaiknya digunakan cara Crossmatch dengan high protein methode. Ada beberapa cara untuk menentukan reaksi silang yaitu reaksi silang dalam larutan garam faal dan reaksi silang pada objek glass. V.2.1 Reaksi Silang dalam Tabung Prinsip : Sel donor dicampur dengan serum penerima (Mayor Crossmatch) dan sel penerima dicampur dengan serum donor dalam bovine albumin 20% akan terjadi aglutinasi atau gumpalan dan hemolisis bila golongan darah tidak cocok. Tujuan : untuk menentukan cocok tidaknya darah donor dengan darah penerima untuk persiapan transfusi darah. Alat dan Reagensia : 1. Tabung reaksi 5. Bovine albumin 20% 2. Pipet tetes 6. Mikroskop 3. Sentrifuge 7. NaCl 0,9 % 4. Tabung sentrifuge 8. Serum Coombs Bahan Pemeriksaan : Serum dan Eryhtrosit 5 % Teknik Kerja : a. Pembuatan suspensi Eryhtrosit 5 % 1. Kedalam tabung 12 x 75 mm diisi dengan larutan NaCl 0,9 % sebanyak 5 ml. 2. Tambahkan 5 tetes darah EDTA dan campur. 3. Putar pada sentrifuge pada 1500 rpm selama 5 menit. 4. Cairan dibuang dan pada endapan ditambahkan larutan NaCl 0,9 % sebanyak 5 ml. Campur dan putar lagi, ulangi langkah tadi sebanyak 3 kali. 5. Terakhir pada penambahan NaCl 0,9 % yang ke-4 kalinya sebanyak 5 ml merupakan suspensi eryhtrosit 5 %. b. Pemeriksaan reaksi silang fase I 1. Sediakan dua buah tabung reaksi kecil dalam rak, yang sebelah kiri untuk mayor test dan sebelah kanan untuk minor test.

2. Tabung kiri diisi dengan 2 tetes serum penerima dan 2 tetes suspensi erythrosit donor 5 % dalam larutan NaCl 0,9 % dan 2 tetes bovine albumin 20%. 3. Tabung kanan diisi dengan 2 tetes serum donor dan 2 tetes suspensi erythrosit penerima 5 % dalam larutan NaCl 0,9 % 2 tetes bovine albumin 20%. 4. Masing-masing tabung dicampur dan diputar disentrifuge pada 1000 rpm selama 1 menit. 5. Goyangkan hati-hati dan periksa adanya aglutinasi dan hemolisis. 6. Bila hasil Mayor dan minor negatif, pemeriksaan dilanjutkan ke fase II 7. Bila hasil Mayor dan minor positif, pemeriksaan tidak dilanjutkan (tidak cocok) c. Crossmatch Fase II 1. Tabung tadi diinkubasi pada suhu 370C selama 15 menit 2. Putar selama 1 menit pada 1000 rpm disentrifuge. 3. Baca adanya aglutinasi dan hemolisis dengan menggoyang perlahan-lahan sama dengan fase I, bila negatif dilanjutkan ke fase III d. Crossmatch Fase III 1. Sel darah merah dicuci dengan NaCl 0,9% 3-4 kali 2. Tambahkan 2 tetes serum Coombs pada kedua tabung mayor dan Minor test. 3. Putar pada sentrifuge 1000 rpm selama 1 menit. 4. Baca adanya aglutinasi dan hemolisis dengan menggoyang perlahan-lahan sama dengan fase I secara makroskopis. Penafsiran : Bila aglutinasi dan hemolisis negatif (-) maka darah dapat ditransfusikan Bila aglutinasi dan hemolisis positif (+) maka darah tidak dapat ditransfusikan (tidak cocok) Serum antiglobulin meningkatkan sensitivitas pengujian in vitro. Antibodi kelas IgM yang kuat biasanya menggumpalkan eritrosit yang mengandung antigen yang relevam secara nyata, tetapi antibodi yang lemah sulit dideteksi. Banyak antibodi kelas IgG yang tak mampu menggumpalkan eritrosit walaupun antibodi itu kuat. Semua pengujian antibodi termasuk uji silang tahap pertama menggunakan cara sentrifugasi serum dengan eritrosit. Sel dan serum kemudian diinkubasi selama 15-30 menit untuk memberi kesempatan antibodi melekat pada permukaan sel, lalu ditambahkan serum antiglobulin dan bila penderita mengandung antibodi dengan eritrosit donor maka terjadi gumpalan. Uji saring terhadap antibodi penting bukan hanya pada transfusi tetapi juga ibu hamil yang kemungkinan terkena penyakit hemolitik pada bayi baru lahir. Pemeriksaan Crossmatch di UTD dan BDRS saat ini menggunakan metode gel dalam cup kecil yang lebih mudah dan praktis, metode ini telah menggantikan metode tabung yang lebih sulit dan memerlukan banyak peralatan untuk pemeriksaan. Namun begitu metode tabung yang saat ini telah menggunakan teknik yang lebih ketat yaitu menggunakan beberapa fase pemeriksaan dan medium pemeriksaan yang lebih banyak, misal menggunakan bovine albumin, serum coombs dan inkubasi pada suhu 37C yang akan menambah sensitivitas pemeriksaan.

http://labku1rskd.wordpress.com/2012/02/13/crossmatch-reaksi-silang-serasi/

Crossmatch

PRAKTIKUM V PEMERIKSAAN UJI SILANG SERASI (CROSSMATCHING)

HARI/TANGGAL TEMPAT

: SENIN/ 15 APRIL 2013 : Unit Transfusi Darah , RSUP Sanglah

I. II.

TUJUAN Untuk mengetahui kecocokan darah pendonor dengan darah resipien. METODE

Metode yang digunakan dalam pemeriksaan ini adalah metode aglutinasi. III. PRINSIP

Antibodi yang terdapat dalam serum/plasma, bila direaksikan dengan antigen pada sel darah merah, melalui inkubasi pada suhu 370C dan dalam waktu tertentu, dan dengan penambahan anti monoglobulin akan terjadi reaksi aglutinasi. IV. DASAR TEORI

Darah selalu dihubungkan dengan kehidupan, baik berdasarkan kepercayaan saja maupun atas dasar bukti pengamatan. Penggunaan darah yang berasal dari individu lain dan diberikan secara langsung ke pembuluh darah juga sudah lama pula dilakakukan, paling tidak sejak abad pertengahan. Pada mulanya, pemberian darah seperti ini dan kini yang dikenal sebagai transfusi tidak dilakukan dengan landasan ilmiah, tidak mempunyai indikasi yang jelas dan dilakukan sembarang saja. Tindakan ini lebih banyak dilakukan atas dasar yang lebih bersifat kepercayaan, misalnya darah sebagai lambang kehidupan. Indikasi juga tidak jelas, bukan terutama untuk mengobati penyakit atau memperbaiki keaadaan karena perdarahan. Lebih sering hal ini dilakukan untuk tujuan seperti peremajaan jaringan (rejuvenilisasi).

Pelaksanaannya juga tidak didasarkan atas pengetahuan yang cukup. Oleh karena itu tidak heran bila pada masa itu banyak korban karena tindakan yang dilakukan secara sembarang ini, baik pada donor maupun pada penerima darah. Bahkan pernah ada suatu masa, tepatnya abad ke-17 dan 18 transfusi dilarang dilakukan di Eropa (Sadikin, 2002). Barulah pada akhir abad ke-19 dan di awal abad ke-20. Fenomena ini dapat dipahami dengan jelas dan tepat, sehingga tindakan transfusi dapat dilakukan dengan cara yang jauh lebih aman. Pada masa itu, seorang dokter berkebangsaan Austria dan bekerja di New York, Karl Landsteiner, menemukan melalui sejumlah besar pengamatan, bahwa darah manusia yang berasal dari dua orang yang berbeda tidaklaah selalu dapat dicampur begitu saja tanpa perubahan fisik apapun. Dalam kebanyakan pengamatan, pencampuran darah yang berasal akan menyebabkan timbulnya pegendapan sel-sel darah merah. Peristiwa mengendap sel tersebut dinamai sebagai aglutinasi. Pengamatan selanjutnya memperlihatkan, bahwa peristiwa ini melibatkan SDM dan bagian cair dari darah, yaitu serum atau plasma. Serum sesorang tidak dapat mengendapkan SDM orang itu sendiri atau SDM yang berasal dari orang lain, yang bila darahnya dicampur dengan darah orang yang pertama, tidak menyebabkan pengendapan. Akan tetapi, bila darah dari 2 orang berbeda dicampur dan aglutinasi terjadi, maka bila serum dari salah satu dari orang tersebut dicampur dengan SDM dari orang yang lainnya, akan terjadi aglutinasi (Sadikin, 2002). Hemolisis atau lebih dikenal dengan kejadian pecahnya sel darah merah secara normal didalam tubuh tidak dapat dihindari apabila sel darah merah atau eritrosit sudah mencapai usianya, dengan pecahnya sel darah merah atau eritrosit didalam tubuh secara normal tubuh direspon untuk membentuk sel darah merah yang baru. Haemoglobin yang keluar dari sel darah merah atau eritrosit akan diuraikan oleh organ tubuh yang bertanggung jawab dan bagian yang penting dari penguraian ini akan dimanfaatkan kembali untuk pembentukan sel darah merah yang baru. Pada kejadian yang tidak normal jumlah sel darah merah yang pecah lebih besar dari pada pembentukan sel darah merah yang baru dan mengakibatkan dari peruraian Hb akan membubung tinggi dan sangat mengganggu organ lain (organ tubuh) (Ismail, 2010). Kejadian hemolisis yang tidak normal (abnormal) bisa disebabkan oleh beberapa faktor dari dalam tubuh (invivo) sendiri, misalnya kondisi sel darah merah itu sendiri kurang baik, atau bisa disebabkan oleh faktor luar (invitro), dari faktor luar bisa dijumpai akibat dari faktor transfusi darah, karena disebabkan adanya reaksi antibodi terhadap antigen yang masuk kedalam tubuh atau pada sel darah merah dan risikonya akan lebih besar apabila sel darah merah donor yang ditransfusikan tidak cocok dengan antibodi yang berada dalam plasma donor dengan sel darah merah pasien. reaksi hemolisis in vivo karena transfusi ini disebut reaksi hemolitik transfusi. Reaksi hemolitik bisa terjadi secara langsung (direck or indirec) dan dapat berakibat fatal, dan bisa juga reaksinya baru muncul beberapa waktu kemudian setelah transfusi ( delay hemolitik tarnsfution reaction ). Akibat yang fatal dari reaksi transfusi dikarenakan ketidak cocokan golongan darah ABO ( antibodi-A,-B,AB ) yang dibuat secara teratur menurut golongan darah masing-masing. Disamping itu mungkin ada antibodi lain yang mungkin dibentuk secara alamiah tetapi tidak beratur ( antibodi -Lewis,-A1,-P1 dll ) atau antibodi immun (Ismail, 2010). Reaksi transfusi yang baru muncul beberapa waktu kemudian setelah transfusi ( delay hemolitik

tarnsfution reaction ) bisa disebabkan karena darah donor sesungguhnya tidak compatible denga darah pasien, namun dalam reaksi silang/uji silang serasi menhasilkan false-compatible (Ismail, 2010). Reaksi silang (Crossmatch = Compatibility-test) perlu dilakukan sebelum melakukan transfusi darah untuk melihat apakah darah penderita sesuai dengan darah donor. Pengartian Crossmatch adalah reaksi silang in vitro antara darah pasien dengan darah donornya yang akan di transfusikan. Reaksi ini dimaksudkan untuk mencari tahu atau apakah darah donor akan ditranfusikan itu nantinya akan dilawan oleh serum pasien didalam tubuhnya, atau adakah plasma donor yang turut ditransfusikan akan melawan sel pasien didalam tubuhnya hingga akan memperberat anemia, disamping kemungkinan adanya reaksi hemolytic transfusi yang biasanya membahayakan pasien. Maka dapat disimpulkan tujuan Crossmacth sendiri yaitu mencegah reaksi hemolitik tranfusi darah bila darah didonorkan dan supaya darah yang ditrafusikan itu benar-benar ada manfaatnya bagi kesembuhan pasien. Jika pada reaksi tersebut golongan darah A,B dan O penerima dan donor sama, baik mayor maupun minor test tidak bereaksi berarti cocok. Jika berlainan, misalnya donor golongan darah O dan penerima golongan darah A maka pada test minor akan terjadi aglutinasi atau juga bisa sebaliknya berarti tidak cocok(Anonim, 2010). Mayor Crossmatch merupakan tindakan terakhir untuk melindungi keselamatan penerima darah dan sebaiknya dilakukan demikian sehingga Complete Antibodies maupun incomplete Antibodies dapat ditemukan dengan cara tabung saja. Cara dengan objek glass kurang menjaminkan hasil percobaan. Reaksi silang yang dilakukan hanya pada suhu kamar saja tidak dapat mengesampingkan aglutinin Rh yang hanya bereaksi pada suhu 37 derajat Celcius. Lagi pula untuk menentukan anti Rh sebaiknya digunakan cara Crossmatch dengan high protein methode. Ada beberapa cara untuk menentukan reaksi silang yaitu reaksi silang dalam larutan garam faal dan reaksi silang pada objek glass (Anonim, 2010). Serum antiglobulin meningkatkan sensitivitas pengujian in vitro. Antibody kelas IgM yang kuat biasanya menggumpalkan erythrosit yang mengandung antigen yang relevam secara nyata, tetapi antibody yang lemah sulit dideteksi. Banyak antibodi kelas IgG yang tak mampu menggumpalkan eryhtrosit walaupun antibody itu kuat. Semua pengujian antibodi termasuk uji silang tahap pertama menggunakan cara sentrifugasi serum dengan eryhtrosit. Sel dan serum kemudian diinkubasi selama 15-30 menit untuk memberi kesempatan antibodi melekat pada permukaan sel, lalu ditambahkan serum antiglobulin dan bila pendertita mengandung antibodi dengan eryhtrosit donor maka terjadi gumpalan. Uji saring terhadap antibodi penting bukan hanya pada transfusi tetapi juga ibu hamil yang kemungkinan terkena penyakit hemolitik pada bayi baru lahir (Anonim, 2010).

V.

ALAT DAN BAHAN

A. ALAT

1. 2. 3. 4. 5.

Tabung reaksi ukuran 12x75 mm Rak tabung reaksi Inkubator Sentrifuge Botol semprot

B. BAHAN 1. 2. 3. 4. Sampel serum OS Sampel plasma donor Cell darah donor 5 % Cell darah resipien 5 %

C. REAGENSIA 1. 2. 3. 4. VI. A. 1. Tabung III Autocontrol Saline/ NaCl 0,9 Bovine albumin 22 % Coombs serum Coombs control cells CARA KERJA Phase I : Phase suhu kamar di dalam saline medium

Tabung II Minor

Tabung I Mayor

Diambil 3 buah tabung ukuran 12 X 75 mm, dimasukkan ke dalam masing-masing tabung

2 tetes serum OS 1 tetes sel 5 % donor

2 tetes plasma donor 1 tetes sel 5 % OS

2 tetes serum OS 1 tetes sel 5 % OS

2. 3. B. 1. 2. 3. C. 1. 2. 3.

Isi dicampurkan dikocok-kocok hingga homogen. Diputar 3000 rpm selama 15 detik. Reaksi dibaca terhadap hemolisis dan aglutinasi secara mikroskopis. Phase II : Phase inkubasi 370C dalam medium bovine albumin 22% Ke dalam masing-masing tabung ditambahkan bovine albumin 22 % sebanyak 2 tetes. Tabung dikocok-kocok Diinkubasi 370C selama 15 menit Phase III : (Indirect Coombs Test) Sel darah merah dalam tabung dicuci sebanyak 3 x dengan saline Ke dalam kedua tabung ditambahkan masing-masing 2 tetes Coombs serum Hasil reaksi dibaca secara makroskopis dan mikroskopis

D. Validitas 1. Kepada tabung yang hasil coombs testnya negatif ditambahakan 1 tetes CCC (Coombs Control Cell) 2. 3. Diputar 3000 rpm selama 15 detik Hasil dibaca : Positif : Reaksi silang valid Negatif : Reaksi silang tidak valid

VII.

HASIL PENGAMATAN Phase I Mayor Minor Autocontrol Phase II Phase III Validitas + + +

VIII. PEMBAHASAN Crossmatch adalah reaksi silang in vitro antara darah pasien dengan darah donornya yang akan di transfusikan. Pemeriksaan ini dilakukan sebelum pelaksanaan transfusi darah. Tindakan uji silang (crossmatch) diperlukan sebelum melakukan tranfusi darah untuk melihat apakah darah penderita sesuai dengan donor. Untuk tujuan tersebut, golongan darah penerima resipien harus sama dengan golongan darah pemberi donor dan uji aglutinasi antara serum resipien dengan SDM donor dan serum donor dengan SDM resipien. Uji crossmatch ini penting bukan hanya pada transfusi tetapi juga ibu hamil yang kemungkinan terkena penyakit hemolitik pada bayi baru lahir. Tujuan dilakukan periksaan uji silang adalah 1. 2. untuk melihat apakah darah dari pendonor cocok dengan penerima (resipien). untuk konfirmasi golongan darah.

3. untuk mencari tahu atau apakah darah donor akan ditranfusikan itu nantinya akan dilawan oleh serum pasien didalam tubuhnya, atau adakah plasma donor yang turut ditransfusikan akan melawan sel pasien didalam tubuhnya hingga akan memperberat anemia, disamping kemungkinan adanya reaksi hemolytic transfusi yang biasanya membahayakan pasien. Maka dapat disimpulkan tujuan Crossmacth sendiri yaitu mencegah reaksi hemolitik darah bila darah didonorkan dan supaya darah yang ditrafusikan itu benar-benar ada manfaatnya bagi kesembuhan pasien. Crossmatch mempunyai tiga fungsi, yaitu: 1. 2. Konfirmasi jenis ABO dan Rh (kurang dari 5 menit) Mendeteksi antibodi pada golongan darah lain.

3. Mendeteksi antibody dengan titer rendah atau tidak terjadi aglutinasi mudah. Yang dua terakhir memerlukan sedikitnya 45 menit.

Prinsip crossmatch ada dua yaitu Mayor dan Minor, yang penjelasnya sebagai berikut : Mayor crossmatch adalah serum penerima dicampur dengan sel donor. Maksudnya apakah sel donor itu akan dihancurkan oleh antibody dalam serum pasien. Minor crossmatch adalah plasma donor dicampur dengan sel penerima. Yang dengan maksud apakah sel pasien akan dihancurkan oleh plasma donor.

Jika golongan darah (system ABO) penerima dan donor sama, baik mayor maupun minor tidak bereaksi, jika berlainan misalnya, donor golongan O dan penerima golongan A, akan terjadi aglutinasi pada tes minor. Mayor Crossmatch merupakan tindakan terakhir untuk melindungi keselamatan penerima darah dan sebaiknya dilakukan demikian sehingga Complete Antibodies maupun incomplete Antibodies dapat ditemukan dengan cara tabung saja. Cara dengan objek glass kurang menjaminkan hasil percobaan. Reaksi silang yang dilakukan hanya pada suhu kamar saja tidak dapat mengesampingkan aglutinin Rh yang hanya bereaksi pada suhu 37OC. Pada pemeriksaan uji silang serasi ada tiga fase yaitu : 1) Fase I (fase suhu kamar, dalam medium salin)

Fase ini menilai kecocokan antibody alami dengan antigen eritrosit antara donor dan resipien, sehingga reaksi tranfusi hemolitik yang fatal bisa dihindari. Pada fase ini juga dapat menentukan golongan darah. 2) Fase II (fase inkubasi pada suhu 37OC)

Fase ini untuk mendeteksi antibody anti-Rh dan meningkatkan sensitivitas tes globulin dengan menggunakan media bovine albumin 22%. Dilakukan inkubasi selama 15 menit pada suhu 37OC sebagai suhu yang sama dengan suhu badan, sehingga member kesempatan antibody untuk melekat pada sel. Inkubasi tidak boleh lebih dari 15 menit karena ada kemungkinan terjadi aglutinasi nonspesifik. 3) Fase III (Indirect Coombs Test)

Fase ini merupakan uji antiglobulin. Untuk mendeteksi IgG yang dapat menimbulkan masalah dalam tranfusi yang tidak dapat terdeteksi pada kedua fase sebelumnya. Sebelum di tes, eritrosit dicuci terlebih dahulu dari globulin plasma yang tidak bersifat antizat spesifik dan kemudian dicampur dengan Coombs serum, yaitu serum hewan yang mengandung antizat spesifik terhadap globulin human. Adanya aglutinasi menunjukan adanya antizat yang melapisi eritrosit. Uji validitas berfungsi untuk mengetahui, apakah uji silang yang dilakukan sudah valid atau tidak. Hasil uji validitas pasti menunjukan hasil positif, namun positif lemah. Pada uji validitas, tabung yang menghasilkan hasil positif pada fase sebelumnya tidak di lakukan uji lagi, karena uji ini untuk mengetahui validitas dari uji silang. Jika pada reaksi tersebut golongan darah A,B dan O penerima donor sama, baik mayor maupun minor test tidak bereaksi, berarti hasil compatible/cocok. Jika berlainan misalnya donor golongan darah O dan penerima golongan darah A, maka berarti incompatible/tidak cocok. Pada praktikum ini, didapatkan hasil uji silang fase 1,2,3 dan uji validitas sebagai berikut Phase I Phase II Phase III Validitas

Mayor Minor Autocontrol

+ + +

Pada table dapat dilihat bahwa, hasil uji silang fase 1,2 dan 3 untuk tabung mayor, minor ataupun autocontorl selalu menunjukan hasil negatif (tidak terjadi aglutinasi). Hal ini berarti terjadi ketidak cocokan antara serum pasien dengan darah donor. Dengan demikian, hasil uji silang dapat dinyatakan compatible untuk resipien sehingga proses tranfusi dapat dilakukan. Karena keseluruh tabung menunjukan hasil negative, maka pada seluruh tabung dilakukan uji validitas untuk mengetahui apakah uji silang yang telah dilakukan valid. Tabung minor, mayor dan autocontrol seluruhnya menunjukan hasil uji yang valid. Hasil ini ditunjukan dari adanya aglutinasi pada tabung, namun aglutinasinya lemah. Namun pada tabung mayor, sempat terjadi kesalahan dalam pengamatan, karena pada uji validitas tampak tidak terjadi aglutinasi. Hal ini karena saat awal pengamatan, tampak aglutinasi lemah, dan pengocokan tabung dipercepat dengan maksud untuk mempertegas timbulnya aglutinasi. Hal ini justru membuat darah bercampur dan aglutinasi tidak tampak lagi. Oleh karena itu, teknik pengocokan tabung pada uji validitas berbeda dengan phase uji silang. Dimana aglutinasi yang terjadi adalah aglutinasi lemah dan akan jelas terlihat apabila di amati dengan mikroskop. IX. Simpulan

Hasil uji silang untuk sampel R3 sebagai resipien dan D4 sebagai donor adalah compatible/cocok, sehingga dapat dilakukan tranfusi darah dari donor ke resipien.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2010. Reaksi Silang Serasi. Diakses dihttp://www.sodiycxacun.web.id/2010/10/reaksi-silangcrossmatch.html. diakses tanggal 11 April 2013 Anonim. 2011. Crossmatch ( reaksi Silang Serasi. Diakses dihttp://labku1rskd.wordpress.com/tag/crossmatch-reaksi-silang-serasi/. Diakses tanggal 11 April 203 Ismail.2011. Pemeriksaan pre Transfusi Darah. Diakses di http://ismailpemeriksaandarahpretransfusi.blogspot.com/. Diakses tanggal 11 April 2013. Sadikin, Muhamad. 2002. Biokimia Darah. Jakarta : Widya Medika

http://odeyoni.blogspot.com/2013/04/crossmatch_23.html

Reaksi Silang (Crossmatch reaction) Posted on Agustus 31, 2010 by drdjebrut Tentu sebagian dari kita sudah mengetahui tentang apa itu reaksi silang atau crossmatch, dan saya yakin banyak di antara kita sudah lupa atau bahkan malah belum pernah mendengar tentangnya. Maka tidak ada salahnya kita sedikit membaca lagi tentang apa itu reaksi silang secara umum. Reaksi silang adalah suatu jenis pemeriksaan yang dilakukan sebelum pelaksanaan transfusi darah. Tujuannya adalah untuk melihat apakah darah dari pendonor cocok dengan penerima (resipien) sehingga dapat mencegah terjadinya reaksi transfusi hemolitik. Selain itu juga untuk konfirmasi golongan darah. Macam dari reaksi silang :

1. Reaksi silang mayor : eritrosit donor + serum resipien

Memeriksa ada tidaknya aglutinin resipien yang mungkin dapat merusak eritrosit donor yang masuk pada saat pelaksanaan transfusi 2. Reaksi silang minor : serum donor + eritrosit resipien Memeriksa ada tidaknya aglutinin donor yang mungkin dapat merusak eritrosit resipien. Reaksi ini dianggap kurang penting dibanding reaksi silang mayor, karena agglutinin donor akan sangat diencerkan oleh plasma di dalam sirkulasi darah resipien. Tahapan Reaksi Silang : 1. Reaksi silang salin Tes ini untuk menilai kecocokan antibody alami dengan antigen eritrosit antara donor dan resipien, sehingga reaksi transfusi hemolitik yang fatal bisa dihindari. Tes ini juga dapat menilai golongan darah.

2. Reaksi silang albumin Tes ini untuk mendeteksi antibody anti-Rh dan meningkatkan sensitivitas tes antiglobulin dengan menggunakan media albumin bovine.

3. Reaksi silang antiglobulin Untuk mendeteksi IgG yang dapatmenimbulkan masalah dalam transfusi yang tidak dapat terdeteksi pada kedua tes sebelumnya. Terutama dikerjakan pada resipien yang pernah menerima transfusi darah atau wanita yang pernah hamil.

http://drdjebrut.wordpress.com/2010/08/31/reaksi-silang-crossmatch-reaction/

CROSS-MATCHING BLOOD 00.21 Artikel Kesehatan No comments

Reaksi Golongan Darah Apa itu Cross-Match?

Crossmatching adalah proses pengujian darah pasien terhadap sampel donor potensial, menemukan kecocokan dari kompatibilitas.Pemeriksaan ini untuk mengetahui apakah sel darah merah donor bisa hidup didalam tubuh pasien, dan untuk mengetahui ada tidaknya antibodi IgM maupun IgG dalam serum pasien (mayor) maupun dalam serum donor yang melawan sel pasien (minor).

Pemeriksaan Cross match dilakukan bila pemeriksaan golongan darah dan rhesus telah dilakukan.

Berikut Keterangan apakah darah bisa dipakai atau tidak :

1. Crossmatch Mayor, Minor dan Auto Control = Negatif. Berarti Darah OS Kompatibel dengan darah donor. Darah Boleh dikeluarkan.

2. Crossmatch Mayor = Positif, Minor = Negatif, dan Autocontrol = Negatif.

Periksa sekali lagi Golongan Darah OS apakah sudah sama dengan donor, apabila Golongan darah OS memang sudah sesuai, maka pemeriksaan dilanjutkan. Lakukan DCT (Direct Coombs Test) pada sel donor untuk memastikan reaksi positif pada mayor bukan berasal dari donor, apabila DCT sel donor negatif, artinya ada irregular antibodi pada serum OS. a. Ganti darah donor, lakukan crossmatch lagi sampai didapat hasil Cross negatif pada mayor dan minor. b. Apabila tidak ditemukan hasil Crossmatch yang kompatibel meskipun darah donor telah diganti maka harus dilakukan skrining dan identifikasi antibodi pada serum OS dalam hal ini sampel darah dikirim ke UTD Pembina terdekat.

3. Crossmatch Mayor = negatif, Minor = Positif, dan Autocontrol = negatif. Artinya ada irregular antibodi pada serum / plasma Donor. Solusi : Ganti dengan darah donor yang lain lakukan Crossmatchlagi.

4. Crossmatch Mayor = negatif, Minor = positif, dan Autocontrol = positif. Lakukan Direct Coombs Test pada OS Apabila DCT positif, hasil positif pada Crossmatch Minor dan AC berasal dari Autoantibodi atau ada immune antibodi dari transfusi sebelumnya terhadap sel darah merah donor dari transfusi sebelumnya.

Apabila derajad posotif pada Minor sama atau lebih kecil dibandingkan derajad positif pada AC/DCT darah boleh dikeluarkan. Apabila derajad positif pada Minor lebih besar dibandingkan derajad positif pada AC/DCT, darah tidak boleh dikeluarkan. Ganti darah donor, akukan Crossmatch lagi sampai ditemukan positif pada Minor sama atau lebih kecil dibanding AC/DCT.

http://imadanalis.blogspot.com/2012/02/cross-matching-blodd.html

Anda mungkin juga menyukai