Anda di halaman 1dari 12

ANALISIS FILTRASI GINJAL

Oleh : Nama NIM Rombongan Kelompok Asisten : Reny Dwi Jayanti : B1J012027 : III :4 : Bunga Khalida Puri

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN II

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2014

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Sistem Urinaria (sistem perkemihan) terdiri dari organ yang memproduksi urin dan mengeluarkan urin dari tubuh. Sistem ini merupakan salah satu sistem utama untuk mempetahankan hemoistasis tubuh (kekonstanan lingkungan internal) (Baron, 1995). Ginjal mempertahankan komposisi cairan ekstraseluler yang menunjang fungsi semua sel tubuh. Ginjal mempertahankan komposisi cairan ekstraseluler yang menunjang fungsi semua sel tubuh.Kemampuan ginjal untuk mengatur komposisi cairan ekstraseluler merupakan fungsi per satuan waktu yang diatur oleh epitel tubulus, untuk zat yang tidak disekresi oleh tubulus, pengaturan volumenya berhubungan dengan laju filtrasi glomerulus (LFG).Seluruh zat yang larut dalam filtrasi glomerulus dapat direabsorpsi atau disekresi oleh tubulus.Laju filtrasi glomerulus telah diterima secara luas sebagai indeks terbaik untuk menilai fungsi ginjal.Pengukuran LFG merupakan hal yang penting dalam pengelolaan pasien dengan penyakit ginjal, selain untuk menilai fungsi ginjal secara umum, banyak kegunaan penting pengukuran LFG, seperti untuk mengetahui dosis obat yang tepat yang dapat dibersihkan oleh ginjal.Mendeteksi secara dini adanya gangguan ginjal dapat mencegah gangguan ginjal lebih lanjut, mengelola pasien dengan transplantasi ginjal dan dalam penggunaan kontras media radiografik yang berpotensi nefrotoksik, karena itu diperlukan pemeriksaan LFG yang mempunyai nilai akurasi yang tinggi (Rismawati dan Afrida, 2012). Organ ekskresi utama hewan vertebrata termasuk mamalia adalah ginjal.Ginjal mamalia umumnya adalah sepasang, terbungkus dalam lapisan pelindung yang tersusun dari lemak.Ginjal berfungsi untuk membuang sampah nitrogen dari darah dalam bentuk urea atau (NH2)2CO, mengatur keseimbangan air dan garam dalam darah, dan membuang substansi asing, obat, dan zat racun (Priadi, 2009). Setiap ginjal tersusun dari bagian-bagian sebagai berikut: a) Korteks, yaitu lapisan luar yang mengandung badan Malpighi, tubulus proksimal, dan tubulus distal. b) Medula, yaitu bagian dalam ginjal yang mengandung pembuluh pengumpul dan lengkung henle. Bagian tersebut bermuara pada tonjolan papilla di ruang ginjal (pelvis renalis). Nefron merupakan unit structural dan fungsional terkecil pada ginjal mamalia. Tiaptiap ginjal memiliki sekitar 1 juta nefron. Tiap-tiap nefron terdiri dari korpuskulum renalis,

tubulus kontortus proksimal, loop Henle tipis dan tebal (seperti pada mamalia), tubule kontortus distal, yang kemudian melanjut menjadi tubulus kolektivus yang bermuara ke ureter,.Tubulus kontortus proksimal terdiri dari epitel kolumner rendah, tercat merah, nukleus besar dan memiliki tepi sikat.Sedangkan tubulus kontortus distal berwama lebih pucat, tidak memiliki tepi sikat dengan epitel kuboid simpleks (Nutriana, 2010).

1.2 Tujuan Tujuan praktikum ini adalah menganalisis senyawa yang dapat melewai filter sebagai gambaran fungsi filtrasi ginjal mamalia.

II. MATERI DAN CARA KERJA

2.1 Materi Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah pipet ukur, pemanas air, labu erlenmeyer, pipet tetes, tabung rekasi, rak tabung reaksi, corong gelas, kertas filter GF/C dan pinset. Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah larutan biuret, larutan benedict, air mendidih, larutan protein 10%, larutan glukosa 10%, larutan amilum 10% dan akuades.

2.2 Cara Kerja 1. Larutan uji (protein, glukosa, amilum dan akuades) sebanyak 1 mL ditambahkan ke dalam empat tabung reaksi yang telah disiapkan. 2. Setiap tabung reaksi diberi label sesuai dengan isi larutan uji. 3. Larutan biuret 1 mL ditambahkan ke dalam tabung reaksi berisi larutan protein dan akuades, amati dan catatlah perubahan yang terjadi. 4. Larutan 1 tetes lugol ditambahkan ke dalam tabung reaksi berisi larutan amilum

kemudian amati dan catatlah perubahan yang terjadi. 5. Larutan benedict 1 mL ditambahkan ke dalam tabung reaksi yang berisi glukosa. Tabung reaksi ditempatkan dalam air mendidih (100C) selama 5 menit lalu dikocok, perubahan yang terjadi diamati kemudian dicatat. 6. Empat tabung reaksi disiapkan, lalu diisi dengan larutan uji (protein, glukosa, amilum dan akuades) masing-masing sebanyak 3 mL. 7. Kertas filter disiapkan dan ditempatkan di atas corong gelas dan tabung erlenmeyer. 8. Keempat tabung uji lalu difilter pada empat tabung erlenmeyer menggunakan corong yang telah dilengkapi dengan kertas filter. 9. Larutan uji yang sudah difilter kemudian ditambahkan dengan 1 mL biuret ke larutan akuades dan protein, 1 tetes lugol ke larutan amilum dan 1 mL benedict ke larutan glukosa kemudian dipanaskan di air mendidir. 10.Warna antara larutan yang tidak difilter dengan larutan yang sudah difilter dibandingkan.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Tabel 3.1 Data percobaan uji filtrasi menggunakan kertas saring No. Tabung Intensitas Warna Intensitas Warna (sebelum filtrasi-tabung (Setelah filtrasi-filtrat) reaksi) +++ +++ +++ +++ +++ ++ ++ ++

1. Glukosa + Benedict 2. Protein + Biuret 3. Amilum + Lugol 4. Akuades + Biuret Keterangan : + ++ +++

: tidak ada perubahan : intensitas warna lemah : intensitas warna sedang : intensita warna kuat

Gambar 1. Akuades + Biuret

Gambar 2. Amilum + Lugol

Gambar 3. Glukosa + Benedict

Gambar 4. Protein + Biuret

3.2 Pembahasan Berdasarkan percobaan analisis filtrasi ginjal kelompok 4 pada tabung berisi glukosa + benedict yang tidak difiltrasi intensitas warnanya kuat sedangkan pada tabung reaksi berisi glukosa + benedict yang telah dilakukan filtrasi intensitas warnanya tetap kuat. Tabung reaksi berisi protein + biuret yang tidak difiltrasi intensitas warnanya kuat sedangkan pada tabung reaksi berisi protein+biuret yang difiltrasi intensitas warnanya menjadi sedang. Tabung reaksi berisi akuades + biuret yang tidak difiltrasi intensitas warnanya kuat, sedangkan tabung reaksi berisi akuades + biuret yang difiltrasi intensitas warnanya sedang. Tabung reaksi berisi amilum + lugol yang tidak difiltrasi atau sebagai kontrol intensitas warnanya kuat, sedangkan tabung reaksi amilum + lugol setelah difiltrasi intensitas warnanya menjadi sedang. Menurut Gabbai and Blantz (2001) ginjal merupakan organ yang bertugas menyaring darah. Setiap jam, ginjal menyaring darah sebanyak 7 liter. Pada proses ini di hasilkan urine yang mengandung zat-zat yang beracun bagi tubuh dan harus di keluarkan dari dalam tubuh. Setiap glomerulus mendapat aliran darah dari arteri aferen. Dinding kapiler dari glomerulus memiliki pori-pori untuk filtrasi atau penyaringan. Darah dapat disaring melalui dinding epitelium tipis yang berpori dari glomerulus dan kapsula Bowman karena adanya tekanan dari darah yang mendorong plasma darah. Filtrat yang dihasilkan akan masuk ke dalan tubulus ginjal. Darah yang telah tersaring akan meninggalkan ginjal lewat arteri eferen. Apabila dibandingkan dengan hasil praktikum yang telah dilakukan maka hal ini sesuai yaitu pada larutan protein+biuret dan larutan akuades + biuret serta larutan amilum + lugol setelah di filtrasi intensitas warnanya sedikit pudar bila dibandingkan dengan larutan yang tidak difiltrasi atau yang sebagai kontrol. Hal ini menunjukan bahwa protein tidak ikut tersaring. Namun pada larutan glukosa +benedict yang telah disaring tidak terjadi perubahan warna, hal ini bisa saja disebabkan peletakan kertas fiter kurang tepat atau kertas saring yang sudah terpakai atau tabung reaksi yang tidak bersih sehingga larutan tidak tersaring tepat pada kertas filter. Ginjal merupakan alat ekskresi penting yang mempunyai beberapa fungsi, antara lain menyaring darah sehingga menghasilkan urine, mengekskresikan zat-zat yang membahayakan tubuh misalnya, protein-protein asing yang masuk ke dalam tubuh, urea, asam urat dan bermacam-macam garam, mengekskresikan zat-zat yang jumlahnya berlebihan, misalnya kadar gula darah yang melebihi normal, mempertahankan tekanan osmosis cairan ekstraseluler dan mempertahankan keseimbangan asam dan basa. Terdapat

sepasang ginjal pada manusia, masing-masing di sisi kiri dan kanan (lateral) tulang vertebra dan terletak retroperitoneal (di belakang peritoneum). Selain itu sepasang ginjal tersebut dilengkapi juga dengan sepasang ureter, sebuah vesika urinaria (buli-buli/kandungkemih) dan uretra yang membawa urine ke lingkungan luar tubuh (Netter, 2006). Sebuah pengetahuan menyeluruh dari arteri ginjal aksesori berkembang yang ditandai dengan meningkatnya jumlah transplantasi ginjal dan prosedur uroradiologi lainnya. Ginjal merupakan salah satu organ vital dalam manusia tubuh. Ini menerima suplai darah yang kaya, hampir 25% dari output kardiak melewati arteri ginjal untuk disaring oleh ginjal. Ada 3 macam arteri yang terdapat dalam ginjal, yaitu arteri aksesori yang merupakan arteri yang timbul dari aorta abdominal atau arteri ginjal, kemudian aberrant arteri atau arteri yang timbul dari selain aorta atau arteri ginjal dan perforating arteri atau arteri yang menusuk arteri atas atau bawah kutub tidak masuk melalui hilus (Saritha et al, 2013). Darah yang masuk ke dalam nefron melalui arteriol aferen dan selanjutnya menuju glomerulus akan mengalami filtrasi tekanan darah pada arteriol aferen relatif cukup tinggi sedangkan pada arteriol eferen relatif lebih rendah sehingga keadaan ini menimbulkan filtrasi pada glomerulus. Cairan filtrasi pada glomerulus akan masuk menuju tubulus, dari tubulus masuk menuju ansa henle, tubulus distal, duktus koligentes, pelvis ginjal, ureter, vesica urinaria, dan akhirnya keluar berupa urine. Membran glomerulus memiliki ciri khas yang berbeda dengan lapisan pembuluh darah lain, yaitu terdiri dari lapisan endotel kapiler, membrane basalis, lapisan epitel yang melapisi capsula bowman. Permiabilitas membran glomerulus 100-1000 kali lebih permiabel dibandingkan permiabilitas kapiler pada jaringan lain. Percobaan sederhana yang dilakukan menggunakan kertas GF/C ini mirip dengan mekanisme filtrasi ginjal pada glomerulus yang ada di ginjal. Kertas filter GF/C ini menyaring larutan protein+biuret, glukosa+benedict, amilum lugol dan akuades+biuret sehingga warna larutan dari hasil saringan lebih pudar bila dibandingkan dengan yang tidak disaring, ini menunjukan bahwa protein dan glukosa tidak ikut tersaring. Hal ini mirip dengan fungsi glomerulus sebagai tempat filtrasi yang memungkinkan senyawa-senyawa tertentu yang melewatinya dan mencegah senyawa lain meelwatinya (Stevens et al, 2006). Mekanisme ginjal dalam proses filtrasi menurut Dahelmi (1991) terdiri dari 3 proses utama yaitu, 1. Penyaringan (filtrasi). Filtrasi terjadi pada kapiler glomerulus pada kapsul Bowman. Pada glomerulus terdapat sel-sel endotelium kapiler yang berpori (podosit) sehingga mempermudah proses penyaringan. Beberapa faktor yang mempermudah proses penyaringan adalah tekanan hidrolik dan permeabilitias yang tinggi pada glomerulus. Selain penyaringan, di glomelurus terjadi pula pengikatan kembali sel-sel darah, keping

darah, dan sebagian besar protein plasma. Bahan-bahan kecil terlarut dalam plasma, seperti glukosa, asam amino, natrium, kalium, klorida, bikarbonat, garam lain, dan urea melewati saringan dan menjadi bagian dari endapan. Hasil penyaringan di glomerulus berupa filtrat glomerulus (urin primer) yang komposisinya serupa dengan darah tetapi tidak mengandung protein. Pada filtrat glomerulus masih dapat ditemukan asam amino, glukosa, natrium, kalium, dan garamgaram lainnya. 2. Penyerapan kembali (Reabsorbsi) volume urin manusia hanya 1% dari filtrat glomerulus. Oleh karena itu, 99% filtrat glomerulus akan direabsorbsi secara aktif pada tubulus kontortus proksimal dan terjadi penambahan zat-zat sisa serta urea pada tubulus kontortus distal.Substansi yang masih berguna seperti glukosa dan asam amino dikembalikan ke darah. Sisa sampah kelebihan garam, dan bahan lain pada filtrat dikeluarkan dalam urin. Tiap hari tabung ginjal mereabsorbsi lebih dari 178 liter air, 1200 g garam, dan 150 g glukosa. Sebagian besar dari zat-zat ini direabsorbsi beberapa kali. Setelah terjadi reabsorbsi maka tubulus akan menghasilkan urin sekunder yang komposisinya sangat berbeda dengan urin primer. Pada urin sekunder, zat-zat yang masih diperlukan tidak akan ditemukan lagi. Sebaliknya, konsentrasi zat-zat sisa metabolisme yang bersifat racun bertambah, misalnya ureum dari 0,03 dalam urin primer yang dapat mencapai 2% dalam urin sekunder. Meresapnya zat pada tubulus ini melalui dua cara. Gula dan asam mino meresap melalui peristiwa difusi, sedangkan air melalui peristiwa osmosis. Reabsorbsi air terjadi pada tubulus proksimal dan tubulus distal. 3. Augmentasi, augmentasi adalah proses penambahan zat sisa dan urea yang mulai terjadi di tubulus kontortus distal. Komposisi urin yang dikeluarkan lewat ureter adalah 96% air, 1,5% garam, 2,5% urea, dan sisa substansi lain, misalnya pigmen empedu yang berfungsi memberi warna dan bau pada urin. Sedangkan mekanisme penyerapan yang digunakan pada praktikum menggunakan kertas GFC. Ukuran pori yang sangat kecil menyebabkan kertas tersebut benar-benar selektif permeable untuk semua cairan yang dituangkan, namun kurang lebih mendekati proses atau mekanisme filtrasi yang terjadi pada ginjal. Larutan benedict adalah larutan kimia untuk mengetahui kandungan gula pereduksi. Gula pereduksi meliputi semua jenis monosakarida dan beberapa disakarida seperti laktosa dan maltosa. Uji benedict menggunakan larutan fehling ataupun benedict yang berfungsi memeriksa kehadiran gula pereduksi dalam suatu cairan.Larutan benedict yang mengandung tembaga alkalis akan direduksi oleh gula yang mempunyai gugus aldehida dengan membentuk kuprooksida yang berwarna hijau, kuning atau merah. Fehling yang terdiri dari campuran CuSO4 dan asam tartat dan basa, akan direduksi gula pereduksi

sehingga Cu akan menjadi Cu2O yang berwarna merah bata. Dalam hal ini ketika larutan benedict ditambahkan pada glukosa maka akan terbentuk warna merah bata sehingga pada saat larutan difiltrasi untuk mengetahui apakah senyawa glukosa tersaring atau tidak (Fessenden, 1982). Protein dapat diketahui dengan metode biuret. Prinsip dari metode ini adalah ikatan peptida dapat membentuk senyawa kompleks berwarna biru keunguan. Dalam hal ini ketika larutan biuret ditambahkan pada glukosa maka akan terbentuk warna merah bata sehingga pada saat larutan difiltrasi untuk mengetahui apakah senyawa protein tersaring atau tidak. Penambahan larutan biuret ke dalam larutan aquades berfungsi sebagai indikator perubahan warna untuk dibandingkan dengan tabung reaksi setelah difiltrasi. Warna yang dihasilkan memperlihatkan perbedaan larutan yang difiltrasi dan yang tidak difiltrasi. Hal itu sebagai gambaran ginjal sebagai alat filtrat (Fessenden, 1982). Menurut Gabbai and Blantz (2001) beberapa penyakit atau kelainan yang terjadi apabila proses filtrasi terganggu: 1. Nefritis Yaitu kerusakan pada glomerulus akibat alergi racun kuman, biasanya disebabkan oleh bakteri Steptococcus.Nefritis mengakibatkan seseorang menderita Uremia dan oedema. Uremia: masuknya kembali asam urin dan urea ke pembuluh darah. Oedema adalah penimbunan air di kaki karena reabsorpsi air terganggu. 2. Batu ginjal Terbentuk karena pengendapan garam kalsium di dalam rongga ginjal, saluran ginjal, atau kantong kemih. Batu ginjal berbentuk kristal yang tidak larut. Kandungan batu ginjal adalah kalsium oksalat, asam urat, dan kristal kalsium fosfat. Endapan garam ini terbentuk jika seseorang terlalu banyak mengonsumsi garam mineral dan terlalu sedikit mengonsumsi air. 3. Albuminuria Penyakit ini adalah dimana urine megandung albumin (protein) yang disebabkan oleh gagalnya glomerulus untuk melakukan penyaringan terhadap protein. Hal ini dapat terjadi karena karena masuknya substansi seperti racun bakteri, eter, atau logam berat. Albuminuria termasuk dalam chronic kidney disease (CKD)atau penyakit ginjal kronis. Untuk mendiagnosa CKD pada orang dewasa dan bayi yang mengidap diabetes, pengukuran kandungan albumin di urin akan menunjukkan jumlah kandungan protein. Jumlah kandungan protein ini lebih akurat untuk mengidentifikasi kedunya terkena albuminuria ataupun molekul berat rendah proteinuria (Eknoyan, 2003). 4. Glikosuria

Ditemukannya glukosa pada urin. Adanya glukosa dalam urin menunjukkan adanya kerusakan pada tabung ginjal. 5. Hematuria Ditemukannya sel darah merah dalam urin. Hematuria disebabkan peradangan pada organ urinaria atau iritasi akibat gesekan pada batu ginjal 6. Ketosis Ditemukannya senyawa keton di dalam darah. Hal ini dapat terjadi pada orang yang melakukan diet karbohidrat. 7. Diabetes Melitus Penyakit yang disebabkan karena pankreas tidak menghasilkan atau hanya menghasilkan sedikit insulin. Insulis adalah hormon yang mampu mengubah glukosa menjadi glikogen sehingga mengurangi kadar gula dalam darah. Selain itu, Insulis juga membantu jaringan tubuh menyerap glukosa sehingga dapat digunakan sebagai sumber energi.Diabetes militus juga dapat terjadi jika sel-sel di hati, otot, dan lemak memiliki respons rendah terhadap insulin.Kadar glukosa di urin penderita diabetes militus sangat tinggi.Ini menyebabkan sering buang air kecil, cepat haus dan lapar, serta menimbulkan masalah pada metabolisme lemak dan protein. 8. Diabetes Insipidus Penyakit yang menyebabkan penderita mengeluarkan urin terlalu banyak. Penyebabnya adalah kekurangan hormon ADH (dihasilkan oleh kelenjar hipofisis bagian belakang). Jika kekurangan ADH, jumlah urin dapat naik 20-30 kali lipat dari keadaan normal.

IV.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa: 1. Larutan protein + biuret, akuades +biuret dan amilum+lugol yang telah difiltrasi intensitas warnanya sedang bila dibandingkan dengan larutan yang tidak difiltrasi hal ini karena protein dan akuades dapat tersaring. Sedangkan pada larutan glukosa + benedict yang difiltrasi intensitas warnanya sama dengan larutan glukosa + benedict yang tidak difiltrasi. Hal ini menunjukan bahwa glukosa tidak ikut tersaring. 2. Bahan-bahan atau senyawa yang seharusnya mampu disaring oleh ginjal adalah darah, protein, glukosa, keton dan nitrat.

DAFTAR REFFERENSI

Baron. 1995. Klien gangguan ginjal. ECG, Jakarta. Dahelmi. 1991. Fisiologi Hewan. UNAND. Padang Fessenden, 1982. Kimia Organik. Jilid 2.Erlangga. Jakarta. Gabbai, F.B., & Blantz, R.C. (2001).Glomerular filtration. In S.G. Massry & R.J. Glassock (Eds.), Textbook of nephrology: Volume I (4th ed.) (pp. 56-60). Netter FH.Atlas of Human Anatomy. 4th ed. US: Saunders; 2006. Nutriana, Citra. 2010. Studi Anatom-Ginjal Burung Walet Sarang Putih (Colloca/iafuciphaga)dan Sriti(Colloca/ia /inchi). BagianAnatomi Fakultas Kedokteran Hewan, trniversitas Gadjah Mada, Yogyakarta Priadi, Arif. 2009. Biology 2. Yudhistira, Bogor Rismawati Yaswir dan Afrida Maiyesi. 2012. Pemeriksaan laboratorium cystatin C untuk uji fungsi ginjal. Jurnal Kesehatan Andalas 1(1). S., Saritha, Naga., J, M.P., Kumar, G., Supriya. 2013. Cadaveric study of accessory renal arteries and its surgical correlation. International Journal of Research in Medical Sciences 1(1):19-22. Stevens LA, Coresh J, Greene T, et al. 2006.Assessing kidneyfunction-measured and estimated glomerular filtration rate. N Engl J Med2006;354:2473-2483.