Anda di halaman 1dari 42

Bab I Pendahuluan

1.1

LatarBelakang Kesehatan merupakan salah satu hak asasi manusia dan menjadi salah satu

unsur kesejahteraan dalam kehidupan manusia. Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara social dan ekonomis. Setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu dan terjangkau. Pemerintah Indonesia dalam hal ini bertanggung jawab atas ketersediaan akses terhadap informasi, edukasi, dan fasilitas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi setiap warga negara1. Pelayanan kesehatan yang dimaksud adalah pelayan kesehatan paripurna, yaitu meliputi promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Salah satu target Standar Pelayanan Minimal (SPM) pemerintah Indonesia di bidang kesehatan adalah cakupan pelayanan kesehatan dasar masyarakat miskin 100% pada tahun 2015. Seiring dengan komitmen Pemerintah Pusat tentang peningkatan kesehatan yang dicanangkan pada Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-48 pada tahun 2012 dengan tema Indonesia Cinta Sehat, Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta) di bawah kepemimpinan Gubernur Joko Widodo meluncurkan program Kartu Jakarta Sehat (KJS) yang menggratiskan pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta) bagi masyarakat DKI Jakarta.

Fenomena di atas dan berubahnya paradigma kesehatan yang lebih bersifat patient oriented, turut meningkatkan kesadaran masyarakat untuk lebih memperhatikan kesehatannya. Dalam hal ini, puskesmas sebagai fasilitas

pelayanan kesehatan pemerintah yang paling dasar di tingkat masyarakat dituntut untuk mampu menjaga dan meningkatkan kualitas pelayanannya, termasuk di bagian farmasi (apotek). Salah satu upayanya adalah menjaga ketersediaan dan menjamin kualitas sumber daya manusianya, yaitu tenaga teknis kefarmasian. Menanggapi kebutuhan tenaga teknis kefarmasian khususnya ahli madya farmasi yang terus meningkat, pemerintah menyelenggarakan program pendidikan D3 farmasi melalui institusi pendidikan kesehatan Poltekkes Kemenkes Jakarta II guna mencetak ahli madya farmasi yang berkualitas, berdaya saing, dan berwawasan internasional. Salah satu proses untuk menghasilkan lulusan yang berkualifikasi seperti di atas adalah dengan mengikuti program Praktek Kerja Lapangan (PKL). PKL dilaksanakan pada semester VI di tiga tempat PKL, yaitu industri, rumah sakit, dan puskesmas. Mahasiswa dengan melaksanakan PKL ini diharapkan mampu belajar mempraktekkan ilmu yang telah dipelajari, mengembangkan keterampilan, menambah wawasan, dan memberikan gambaran agar siap terjun ke dunia kerja yang sesungguhnya. Laporan ini dibuat setelah mahasiswa menjalankan PKL di Puskesmas Kecamatan Johar Baru- Jakarta Pusat selama 10 hari kerja dan diharapkan dapat memberikan masukan bagi pihak akademik bagaimana kebutuhan dan tuntutan puskesmas sesungguhnya mengenai tenaga teknis kefarmasian (ahli madya farmasi) sehingga mutu pendidikan dapat ditingkatkan guna memenuhi tuntutan tersebut.

1.2

Tujuan PKL Tujuan PKL mahasiswa di Puskesmas Kecamatan Johar Baru-Jakarta Pusat

adalah sebagai berikut : 1. Dapat mempraktekkan ilmu dan teori yang telah dipelajari. 2. Mengembangkan keterampilan dalam melakukan pelayanan kefarmasian. 3. Menambah wawasan dan pengetahuan mengenai pelayanan kefarmasian di puskesmas. 4. Memberikan gambaran akan fungsi dan tugas ahli madya farmasi di puskesmas. 5. Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan D3 Farmasi Poltekkes Kemenkes Jakarta II. 6. Memberikan masukan bagi pihak akademik mengenai kebutuhan dan tuntutan puskesmas mengenai ahli madya farmasi sehingga mutu pendidikan dapat ditingkatkan.

Bab II Tinjauan Pustaka

2.1

Sejarah Puskesmas Di Indonesia puskesmas merupakan tulang punggung pelayanan kesehatan

masyarakat tingkat pertama. Konsep puskesmas dilahirkan tahun 1968 ketika dilangsungkan Rapat Kerja Nasional ( RAKERNAS ) di Jakarta. Dalam upaya mencapai tujuan pembangunan nasional di bidang kesehatan dan melalui program Indonesia Sehat 2010, yakni tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat secara optimal, maka sebagai salah satu unsur dalam mewujudkan tujuan nasional, pemerintah telah membangun pusat kesehatan masyarakat atau puskesmas di seluruh Indonesia yang bertujuan untuk memperluas pemerataan dan jangkauan kesehatan dasar bagi masyarakat.

2.2

Pengertian Puskesmas Puskesmas adalah Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja. Secara nasional standar wilayah kerja puskesmas adalah satu kecamatan. Apabila di satu kecamatan terdapat lebih dari satu puskesmas, maka tanggung jawab wilayah kerja dibagi antar puskesmas dengan memperhatikan keutuhan konsep wilayah yaitu desa/kelurahan atau dusun/rukun warga.

2.3

Visi dan Misi Puskesmas

2.3.1 Visi Puskesmas Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas adalah tercapainya kecamatan sehat menuju terwujudnya Indonesia Sehat 2010. Yang dimaksud kecamatan sehat adalah perilaku sehat yang memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang setingi-tingginya. 2.3.2 Misi Puskesmas Misi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan puskesmas, yaitu: 1. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah kerjanya. 2. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di wilayah kerjanya. 3. Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan, dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan. 4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga, dan masyarakat beserta lingkungannya.

2.3

Tujuan dan Fungsi Puskesmas Tujuan pembangunan kesehatan yang diselenggarakan puskesmas adalah

mendukung

tercapainya

tujuan

pembangunan

kesehatan

nasional,

yaitu

meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas agar terwujud derajat kesehatan yang setingi-tingginya.

Sesuai PERDA DKI Jakarta No. 1 tahun 1984, fungsi puskesmas adalah sebagai berikut : 1. Sebagai pusat pembangunan kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya. 2. Membina peran serta masyarakat di wilayah kerjanya dalam rangka meningkatkan kemampuan untuk hidup sehat. 3. Memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat wilayah kerjanya.

2.4

Wilayah Kerja Puskesmas Wilayah kerja puskesmas meliputi satu kecamatan atau sebagian dari

kecamatan. Faktor kepadatan penduduk, luas daerah, keadaan geografis, dan keadaan infrastruktur lainnya merupakan bahan pertimbangan dalam menentukan wilayah kerja puskesmas. Puskesmas merupakan perangkat pemerintah daerah tingkat II sehingga pembagian wilayah kerja puskesmas ditetapkan oleh walikota dengan sarana teknis dari Ka. Sudinkesmas yang telah disetujui oleh Ka. Dinas Provinsi, untuk perluasan jangkauan pelayanan kesehatan maka puskesmas perlu ditunjang dengan unit pelayanan kesehatan yang lebih sederhana yang disebut puskesmas pembantu dan puskesmas keliling. Khusus untuk kota besar dengan jumlah penduduk satu juta lebih, wilayah kerja puskesmas bisa meliputi satu kelurahan. Puskesmas kecamatan dengan jumlah penduduk 15 ribu jiwa atau lebih merupakan Puskesmas Pembina yang berfungsi sebagau pusat rujukan bagi puskesmas kelurahan dan juga mempunyai fungsi koordinasi.

Secara nasional standar wilayah kerja puskesmas adalah satu kecamatan. Jika ada lebih dari satu puskesmas dalam satu wilayah kecamatan, maka tanggung jawab wilayah kerja dibagi antar puskesmas dengan memperhatikan keutuhan konsep wilayah (desa atau kelurahan atau RW). Masing-masing puskesmas tersebut secara operasional bertanggung jawab kepada Dinas Kesehatan Kabupaten atau Kota.

2.5

Kedudukan Puskesmas Kedudukan puskesmas kecamatan berada satu tingkat di bawah Suku Dinas

Kesehatan. Jadi secara struktural puskesmas tidak mempunyai hubungan secara langsung dengan Kantor Wilayah (Kanwil) Depkes yang berada langsung di bawah Departemen Kesehatan. Kedudukan puskesmas dapat dibedakan menjadi: 1. Kedudukan puskesmas berdasarkan keterkaitannya dengan Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah sebagai sarana pelayanan kesehatan strata pertama yang bertanggung jawab menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan di wilayah kerjanya. 2. Kedudukan puskesmas berdasarkan keterkaitannya dengan Sistem Kesehatan Kabupaten atau Kota adalah sebagai unit pelaksanaan teknis Dinas Kesehatan Kabupaten atau Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan sebagian tugas pembangunan kesehatan kabupaten atau kota di wilayah kerjanya. 3. Kedudukan Puskesmas berdasarkan Keterkaitannya dengan Sistem

Pemerintahan Daerah adalah sebagai unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten atau Kota yang merupakan unit struktural Pemerintah Daerah Kabupaten atau Kota bidang kesehatan di tingkat kecamatan.

4.

Kedudukan puskesmas antarsarana Pelayanan Kesehatan Strata Pertama di wilayah kerja puskesmas seperti praktek dokter umum, praktek bidan, dan poliklinik. Di sinilah peran puskesmas dituntut sebagai pembina utama diantara berbagai sarana pelayanan kesehatan strata pertama.

2.6 2.7 2.8 2.9

Sarana dan fasilitas Puskesmas Upaya Kesehatan Puskesmas Unit Pelayanan Penunjang Puskesmas Azas Penyelenggaraan Puskesmas

Azas penyelenggaraan puskesmas menurut kemenkes nomor 128 tahun 2004: 1. Azas pertanggungjawaban wilayah. a. Puskesmas bertanggung jawab meningkatkan derajat kesehatan

masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah kerjanya b. Dilakukan kegiatan dalam gedung dan luar gedung c. Ditunjang dengan puskesmas pembantu, bidan di desa, puskesmas keliling 2. Azas pemberdayaan masyarakat. a. Puskesmas harus memberdayakan perorangan, keluarga dan masyarakat agar berperan aktif dalam menyelenggarakan setiap upaya puskesmas b. Potensi masyarakat perlu dihimpun 3. Azas keterpaduan. Setiap upaya diselenggarakan secara terpadu: a. Keterpaduan lintas program UKS : keterpaduan Promkes, pengobatan, kesehatan gigi, kespro, remaja, kesehatan jiwa

b. Keterpaduan lintas sektoral c. Upaya Perbaikan gizi : keterpaduan sektor kesehatan dengan camat, lurah/kades, pertanian, pendidikan, agama, dunia usaha, koperasi, PKK d. Upaya promosi kesehatan : keterpaduan sektor kesehatan dengan camat, lurah/kades, pertanian, pendidikan, agama 4. a. b. Azas rujukan Rujukan medis/upaya kesehatan perorangan Rujukan kasus Bahan pemeriksaan Ilmu pengetahuan Rujukan upaya kesehatan masyarakat Rujukan sarana dan logistik Rujukan tenaga Rujukan operasional

2.10 Kefarmasian di Puskesmas 2.11 Kegiatan Pokok Puskesmas Kegiatan pokok puskesmas dilaksanakan sesuai kemampuan tenaga maupun fasilitasnya, karenanya kegiatan pokok di setiap puskesmas dapat berbeda-beda. Namun demikian kegiatan pokok puskesmas yang lazim dan seharusnya dilaksanakan adalah sebagai berikut:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Kesejahteraan ibu dan Anak (KIA) Keluarga Berencana (KB) Usaha Peningkatan Gizi Kesehatan Lingkungan (KesLing) Pemberantasan Penyakit Menular Upaya Pengobatan termasuk Pelayanan Darurat Kecelakaan Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) Perawatan Kesehatan Masyarakat

10. Usaha Kesehatan Kerja 11. Usaha Kesehatan Gigi dan Mulut 12. Usaha Kesehatan Jiwa (UKJ) 13. Kesehatan Mata 14. Laboratorium (diupayakan tidak lagi sederhana) 15. Pencatatan dan Pelaporan Sistem Informasi Kesehatan 16. Kesehatan Usia Lanjut 17. Pembinaan Pengobatan Tradisional 18. Dan masih banyak lagi kegiatannya

Pelaksanaan kegiatan pokok puskesmas diarahkan kepada keluarga sebagai satuan masyarakat terkecil. Karenanya, kegiatan pokok puskesmas ditujukan untuk kepentingan kesehatan keluarga sebagai bagian dari masyarakat di wilayah kerjanya. Setiap kegiatan pokok puskesmas dilaksanakan dengan pendekatan Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD).

2.12 Struktur Organisasi Puskesmas Struktur organisasi puskesmas tergantung dari kegiatan dan beban tugas masing-masing puskesmas, namun secara umum struktur organisasi puskesmas terdiri dari : 1. Unsur pemimpin (Kepala puskesmas) Mempunyai tugas memimpin, mengawasi, dan mengkoordinasi kegiatan puskesmas yang dapat dilakukan dalam jabatan struktural dan jabatan fungsional. 2. Unsur pembantu pimpinan (Unit Tata Usaha) Mempunyai tanggung jawab dalam pengelolaan : Data dan informasi Perencanaan dan penilaian Keuangan Umum dan kepegawaian 3. Unit pelaksana teknis fungsional puskesmas Terdiri dari tenaga/pegawai dalam jabatan fungsional, dimana jumlah unit tergantung pada kegiatan, tenaga, dan fasilitas daerah masing-masing yang terdiri dari : Unit I yaitu mempunyai tugas melaksanakan kegiatan kesejahteraan ibu dan anak, keluarga berencana dan perbaikan gizi. Unit II yaitu mempunyai tugas melaksanakan kegiatan dalam pencegahan dan pemberantasan penyakit seperti imunisasi, kesehatan lingkungan dan laboratorium sederhana. Unit III yaitu melaksanakan tugas kesehatan gigi dan mulut secara kesehatan tenaga kerja dan manula.

Unit IV yaitu mempunyai

tugas melaksanakan perawatan masyarakat,

kesehatan sekolah dan olah raga, kesehatan jiwa, kesehatan mata dan kesehatan khusus lainnya. 4. Jaringan pelayanan puskesmas terdiri dari :

Unit puskesmas pembantu Unit puskesmas keliling Unit bidan desa

BAB III Tinjauan Tempat PKL

3.1

Profil Organisasi Puskesmas Kecamatan Johar Baru merupakan satu kesatuan unit kerja yang

menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara prima dan paripurna kepada seluruh lapisan masyarakat serta tersedianya sumber daya manusia yang kompenten di bidangnya dan didukung oleh sarana dan prasarana yang cukup memadai, Puskesmas Kecamatan Johar Baru berusaha untuk menjadi pilihan utama dalam mengatasi masalah kesehatan khususnya di wilayah Kecamatan Johar Baru dan umumnya Jakarta Pusat. Puskesmas sebagai Unit Pelaksanaan Teknis Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta mempunyai tugas pokok dan fungsi melaksanakan pelayanan, pembinaan, dan pengendalian, pengembangan upaya kesehatan, pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan di wilayah kerjanya. Puskesmas Kecamatan Johar Baru mempunyai tugas memberikan pembinaan dan pelayanan kesehatan kepada masyarakat khusus penduduk Kecamatan Johar baru serta seluruh lapisan masyarakat pada umumnya. Puskesmas Kecamatan Johar Baru yang terletak di Kecamatan Johar Baru adalah salah satu kecamatan di wilayah Kotamadya Jakarta Pusat, yang mempunyai batas wilayah sebagai berikut: - Sebelah Utara Kelurahan Cempaka Sari Kecamatan Kemayoran. - Sebelah Selatan Kelurahan Pramuka Sari Kecamatan Cempaka Putih. - Sebelah Barat Kelurahan Paseban Kecamatan Senen. - Sebelah Timur Kelurahan Cempaka Putih Barat Kecamatan Cempaka Putih.

3.2

Keadaan Umum dan Lingkungan Puskesmas Kecamatan Johar Baru terdiri dari 6 puskesmas kelurahan yang

termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Johar Baru, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Puskesmas Kelurahan Johar Baru I Puskesmas Kelurahan Johar Baru II Puskesmas Kelurahan Johar Baru III Puskesmas Kelurahan Tanah Tinggi Puskesmas Kelurahan Galur Puskesmas Kelurahan Kampung Rawa Penduduk Kecamatan Johar Baru pada tahun 2010 berjumlah 100.616 jiwa dengan kepadatan penduduk rata-rata 472,1 jiwa/km2. 3.3 Pelayanan Kesehatan Pelayanan kesehatan yang diberikan oleh Puskesmas Kecamatan Johar Baru meliputi Upaya Kesehatan Masyarakat dan Upaya Pelayanan kesehatan dasar antara lain dengan melakukan upaya promotif, preventif, kuratif (pengobatan). Pelayanan kesehatan Puskesmas Johar Baru yang dilakukan terdiri dari : 1. Penerimaan pasien rawat jalan 2. Pelayanan kesehatan dasar 2.1 BPUA/BPUD/ASKES/JAMSOSTEK/GAKIN 2.2 Poli Tindakan 2.3 BPG 2.4 KI/KB 2.5 Poli TB Paru 2.6 Apotek dan Unit Farmasi

2.7 MTBS 2.8 Imunisasi 3. Pelayanan Kesehatan Spesialis 3.1 Poli Spesialis Kandungan 4. Rumah Bersalin (RB) 5. Pelayanan Penunjang Medik 5.1 Laboratorium 5.2 Klinik Gizi 5.3 USG 5.4 Ambulance 6. Unit Gawat Darurat 6.1 UGD 7. Kesehatan Masyarakat 7.1 Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) 7.2 PTM dan Lansia 7.3 Gizi Komunitas 7.4 Penyehatan Lingkungan 7.5 Pembinaan Peran Serta Masyarakat (PPSM) 7.6 Promkes dan Keswa 8. Pelayanan Administrasi 8.1 Tata Usaha 8.1.1 Pemegang Khusus Barang (PKB)

8.1.1.1 Pemeliharaan 8.1.2 Pengadaan

8.1.3 8.1.4 8.1.5

Kepegawaian Administrasi Umum Perencanaan, Pendataan dan Program (Dapro)

8.2 Keuangan 8.2.1 8.2.2 Bendahara Penerimaan Bendahara Pengeluaran

Dengan semakin berkembangnya jumlah dan jenis pelayanan kesehatan dan semakin beragamnya tuntutan dari masyarakat saat ini dan di masa yang akan datang maka Puskesmas Kecamatan Johar Baru selalu berusaha untuk dapat memenuhi kriteria mutu pelayanan kesehatan yang baik dengan selalu meningkatkan sarana, prasarana dan kinerja sumber daya manusia serta mengembangkan fungsi sosial puskesmas. Dengan diterapkan sistem Manajemen Mutu berdasarkan persyaratan ISO 9001 : 2008 diharapkan Puskesmas Kecamatan Johar Baru dapat menjadi pusat pelayanan kesehatan yang prima dan dapat memenuhi kepuasan pelanggan.

3.4

Visi, Misi dan Kebijakan Mutu Puskesmas Kecamatan Johar Baru

3.4.1 Visi Terwujudnya Puskesmas Kecamatan Johar Baru yang memberikan pelayanan prima, berorientasi pada kepuasan pelanggan menuju masyarakat sehat dan mandiri. 3.4.2 Misi 1. Memberikan pelayanan kesehatan prima dan merata.

2. Meningkatkan profesionalisme tenaga kesehatan medis dan non medis puskesmas 3. Menggalang kemitraan pelayanan kesehatan di wilayah kerja puskesmas. 4. Mengembangkan upaya kemandirian masyarakat dalam bidang kesehatan. 3.4.3 Kebijakan mutu Puskesmas Kecamatan Johar Baru bertekad memberikan pelayanan prima, menuju masyarakat sehat yang mandiri secara berkesinambungan sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku, serta senantiasa melakukan perbaikan secara berkesinambungan untuk mencapai kepuasan pelanggan.

3.5

Motto dan Tata Kerja Puskesmas Kecamatan Johar Baru Motto Puskesmas Kecamatan Johar Baru adalah pelayanan utama bagi

masyarakat. Tata kerja Puskesmas Kecamatan Johar Baru adalah : 1. 2. 3. 4. 5. Profesional dalam memberikan pelayanan. Responsibility dalam melaksanakan tugas yang diberikan. Inovatif dalam kualitas pelayanan kesehatan. Measurable dalam kualitas pelayanan kesehatan. Aktif dalam melakukan perbaikan dan pengembangan.

3.6

Pengelolaan Perbekalan Farmasi Puskesmas Kecamatan Johar Baru Pengelolaan perbekalan farmasi merupakan suatu rangkaian kegiatan yang

mencakup perencanaan, pengadaan, pendistribusian, penggunaan obat serta pencatatan dan pelaporan. Dengan memanfaatkan sumber-sumber yang tersedia

mencakup pola atau tata laksana dan perangkat lunak lainnya, tenaga, sarana dalam rangka mencapai tujuan puskesmas. Tujuan dari pengelolaan itu sendiri di puskesmas, yaitu memelihara dan meningkatkan penggunaan obat secara rasional dan ekonomis di unit-unit pelayanan melalui penyediaan obat-obatan yang tepat jenis, waktu, jumlah, dan tempat. 3.6.1 Perencanaan Obat di Puskesmas Perencanaan adalah suatu proses kegiatan seleksi obat, perbekalan farmasi, alat kesehatan, menentukan dan melaksanakan kegiatan penyusunan dan jumlah jenis obat atau perbekalan farmasi dan alat kesehatan. Persiapan-persiapan yang diperlukan dalam memilih jenis dan menetapkan jumlah obat secara tepat, antara lain : a. b. c. Menetapkan tujuan dan sasaran serta metode atau prosedur pencapaian. Mengumpulkan dan menganalisa data. Evaluasi proses perencanaan. Perencanaan disusun berdasarkan : a. b. c. d. e. f. Pemakaian obat pada tahun sebelumnya Sisa stok obat pada akhir tahun Perkiraan kebutuhan obat pada tahun anggaran Alokasi dana Permintaan dari masing-masing puskesmas kelurahan Pola penyakit dan permintaan dari puskesmas kelurahan Tujuan perencanaan : a. Mendapatkan jenis dan jumlah obat sesuai dengan kebutuhan

b. c. d.

Menghindari terjadinya kekosongan stok obat Meningkatkan penggunaan obat secara rasional Meningkatkan efisiensi penggunaan obat Di samping itu terdapat pula proses perencanaan obat yang utama :

1.

Pemilihan obat Pemilihan obat dapat dilakukan setelah mengetahui pola penyakit,

karakteristik pasien di daerah yang dilayani puskesmas serta tenaga kesehatan yang ada. Puskesmas juga harus memperhatikan daftar obat yang tersedia, harga obat, pola penggunaan obat, dan mekanisme pendistribusiannya. Hal ini dilakukan oleh seorang petugas melalui komite atau panitia yang khusus dibentuk. Cara ini dimaksudkan untuk mencegah keputusan yang bersifat subjektif. 2. Menentukan jumlah obat Dalam menentukan jumlah obat diperlukan informasi dan data yang lengkap, akurat dan terpercaya. Perhitungan dan perencanaan kebutuhan mengarahkan pencatatan dan pelaporan serta kemampuan mengolah data dari puskesmas tersebut. Kebutuhan akan obat direncanakan dari tingkat bawah berdasarkan anggaran APBD yang selanjutnya akan diajukan sebagai daftar permintaan kebutuhan obat. Laporan Pemakaian Obat dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO) dibuat oleh puskesmas kecamatan dan puskesmas kelurahan, kemudian laporan tersebut direkapitulasi oleh puskesmas kecamatan dan dilaporkan kepada Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Jakarta Pusat. Suku Dinas Kesehatan Jakarta Pusat merekapitulasi LPLPO semua Puskesmas Kecamatan yang ada di wilayah Suku Dinas Kesehatan tersebut, kemudian disampaikan kepada dinas kesehatan DKI Jakarta. Dinas Kesehatan

DKI Jakarta merekapitulasi kebutuhan obat dari Suku Dinas Kesehatan yang ada di wilayahnya. 3.6.2 Pengadaan Obat di Puskesmas Pengadaan obat merupakan proses penyediaan obat dan alat kesehatan untuk memenuhi kebutuhan puskesmas dan berdasarkan hukum Perpres 80/2002 & perubahannya. Tujuan pengadaan obat di Puskesmas Kecamatan Johar Baru, yaitu : 1. Memperoleh obat dengan jenis dan jumlah yang tepat. 2. Memperoleh obat dengan mutu yang tinggi. 3. Menjamin penyampaian yang cepat dan tepat waktu. 4. Optimasi pengelolaan persediaan obat melalui prosedur pengadaan atau permintaan yang baik. Kegiatan pengadaan di Puskesmas Kecamatan Johar Baru, yaitu : 1. Menyusun daftar permintaan obat-obatan yang sesuai dengan kebutuhan kemudian mengajukan permintaan obat tersebut kepada Dinas Kesehatan Daerah Tingkat II atau gedung obat dengan menggunakan formulir Daftar Permintaan Obat. 2. Mengevaluasi dan memilih pemasok berdasarkan penyediaan yang sesuai dengan kriteria puskesmas. 3. Penetapan kriteria untuk pemilihan dan evaluasi kembali kepada Tim Evaluasi Pemasok. 4. Penentuan waktu pengadaan dan kedatangan obat. 5. Penerimaan dan pemeriksaan obat dan alat kesehatan pada waktu kedatangan obat dan alat kesehatan.

3.6.3 Pendistribusian Obat di Puskesmas Distribusi adalah serangkain kegiatan yang menyangkut aspek-aspek penerimaan dan pengecekan, pengendalian persediaan, penyimpanan, penyerahan termasuk penyerahan kepada pasien. 1. Penerimaan Penerimaan adalah suatu kegiatan dalam menerima obat atau perbekalan farmasi dari unit yang lebih tinggi ke unit pengolahan dibawahnya disertai dokumen yang lengkap. Tujuan penerimaan adalah: Agar obat atau perbekalan farmasi yang diterima sesuai dengan kebutuhan atau pesanan, berdasarkan permintaan yang diajukan oleh puskesmas. Terpenuhinya obat atau perbekalan farmasi dengan jumlah jenis yang tepat dengan mutu yang terjamin serta diperoleh pada waktu yang tepat. Kegiatan penerimaan meliputi: Penyusunan rencana pemasukan barang Pemeriksaan ditempatkan diruang khusus Pemeriksaan dengan teliti kelengkapan dokumen, jenis dan jumlah barang, sertifikat dan tanggal kadaluarsa. 2. Penyimpanan Penyimpanan adalah suatu kegiatan menyimpan dan memelihara dengan cara menempatkan obat-obatan, dan alat kesesehatan yang diterima pada tempat yang dinilai aman dari pencurian serta terhindar dari gangguan fisik maupun kimia yang dapat merusak mutu obat, dimana obat tersebut setelah dilakukan ke berbagai pemeriksaan mutu obat secara organoleptik sehingga mutunya tetap terjamin. Tujuan penyimpanan, yaitu :

Memelihara mutu obat agar tetap terjamin Menghindari penggunaan yang tidak bertanggung jawab Menjaga kelangsungan persediaan Mempemudah pengawasan Menghindari dari kerusakan baik fisik maupun kimia Aman Kegiatan penyimpanan, yaitu : Pengaturan tata ruang berdasarkan arah arus penerimaan dan pengeluaran obat berdasarkan sistem arus garis lurus, arus U atau arus L Penyusunan stok obat disusun menurut bentuk sediaan dan alfabetis. Beberapa langkah menyusun obat di Puskesmas Kecamatan Johar yaitu dengan menggunakan prinsip First in First Out (FIFO) atau First Expire First Out (FEFO), obat disusun berdasarkan golongan dan jenis obat yang disertai oleh kartu stok setiap item obat dengan pengamatan mutu. Mutu obat yang disimpan di gudang obat dapat mengalami perubahan baik fisik maupun kimiawi. Perubahan mutu obat diamati secara visual dan tanda tanda perubahan mutu obat. 3.6.4 Penggunaan Obat di Puskesmas Penggunaan obat di puskesmas mencakup pengeluaran dan pengiriman obatobatan yang bermutu serta terjamin keabsahannya secara tepat jenis dan jumlah dari obat untuk memenuhi pelayanan unit kesehatan. Alur penggunaan obat di Puskesmas Kecamatan Johar Baru yaitu mulai dari gudang obat kecamatan pengaturan sehingga memudahkan pencarian dan

(G.O.K) Puskesmas kelurahan & gudang atau kamar obat apotek puskesmas kecamatan ke ruang pelayanan. 3.6.5 Pencatatan dan Pelaporan di Puskesmas Sebelum dilaksanakannya pencatatan dan pelaporan di puskemas, diadakan evaluasi yang dilakukan oleh koordianator farmasi atau apoteker sebagai penanggung jawab atas keseluruhan pengelolaan obat atau perbekalan farmasi di puskesmas dan diketahui oleh kepala puskesmas. Evaluasi dilakukan dengan mengadakan supervisi ke unit pelayanan ruang lingkup dan langkah langkah : 1. Lakukan pemeriksaan dengan mencocokkan jumlah obat yang diterima dan dicatat pada kartu stok berdasarkan data LPLPO (Lembar Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat). 2. Memeriksa penyimpanan sesuai dengan persyaratan penyimpanan. 3. Mencocokkan obat atau perbekalan farmasi yang keluar pada kartu stok dengan buku pemakaian harian 4. Mencocokkan sisa stok pada kartu stok harian dengan barang yang ada. 5. Mengevaluasi tingkat kecukupan obat atau perbekalan farmasi dengan melihat data kekosongan obat dan lead time. 6. Mengevaluasi kepatuhan petugas sebagai pengelola dan melihat

kelengkapan dokumen pengelolaan. Pencatatan dan pelaporan merupakan salah satu kegiatan penting dari pengelolaan obat yang menentukan keberhasilan keseluruhan rangkaian

pengelolaan obat dan perbekalan farmasi puskesmas. Kegiatan pelaporan, yaitu : 1. 2. Pencatatan dalam kartu stok Buku catatan harian pemasukan obat

3. 4. 5.

Buku catatan harian pengeluaran obat LPLPO bulanan Jumlah kunjungan resep.

3.7

Struktur Organisasi Puskesmas Kecamatan Johar Puskesmas Kecamatan Johar Baru dipimpin oleh seorang kepala dengan

membawahi beberapa bagian yaitu : Sub bagian tata usaha dan keuangan Seksi pelayanan kesehatan Kegiatan seksi pelayanan kesehatan meliputi UGD (Unit Gawat Darurat), Unit KI dan KB, Unit Balai Pengobatan Umum, Unit Balai Pengobatan Gigi dan Unit Rumah Bersalin Seksi penunjang dan kesehatan masyarakat puskesmas Kegiatan Seksi penunjang dan kesehatan masyarakat puskesmas mencakup Unit Laboratorium, Unit Farmasi, Unit Gizi, Unit Penyakit Tidak Menular, Unit Kesehatan Lingkungan, Unit Promosi Kesehatan dan Unit Penyakit Menular.

BAB IV Kegiatan Praktek Kerja Lapangan

Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Puskesmas Kecamatan Johar Baru Jakarta Pusat dilaksanakan dalam satu periode dan kelompok. Kelompok mahasiswa yang melaksanakn kegiatan PKL di Kecamatan Johar Baru Jakarta Pusat terdiri dari sembilan orang mahasiswa yang dilaksanakan pada periode 18 Februari1 Maret 2013. Kegiatan PKL berlangsung setiap hari kerja, yaitu hari Senin hingga Jumat dari pukul 08.0015.00 WIB dengan penempatan di kamar obat (Apotek) puskesmas kecamatan maupun puskesmas kelurahan dan gudang obat puskesmas.

4.1 Kamar Obat (Apotek) Kamar obat merupakan tempat melakukan kegiatan kefarmasian berupa pelayanan obat, baik kepada pasien, dokter maupun balai pengobatan lain yang terdapat di puskesmas. Menurut KepMenKes No.1027/MENKES/SK/IX/2004, apotek adalah tempat tertentu tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan kefarmasian, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. Menurut definisi tersebut dapat diketahui bahwa apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan dalam membantu mewujudkan tercapainya derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat, selain itu juga sebagai salah satu tempat pengabdian dan praktek profesi apoteker dalam melakukan pekerjaan kefarmasian.

Kamar obat berada di bawah tanggung jawab seorang apoteker. Sumber daya manusia yang ada di kamar obat puskesmas kecamatan Johar Baru terdiri atas 5 orang, yaitu 2 orang apoteker dan 3 orang asisten apoteker, sedangkan untuk di puskesmas kelurahan hanya terdiri dari 1 orang yang mencakup seluruh kegiatan di apotek selama pelayanan berlangsung. Pelayanan obat adalah proses kegiatan yang meliputi aspek teknis dan nonteknis yang harus dikerjakan mulai dari menerima resep dokter dari pasien sampai penyerahan obat kepada pasien. Pelayanan obat meliputi penerimaan resep, peracikan, penyerahan dan pemberian informasi yang dibutuhkan pasien mengenai obat. Sistem penyusunan obat di apotek lebih mengutamakan obatobat fast

moving, dimana obatobat yang sering diresepkan diletakkan di dalam laci plastik yang telah dinamai dan disusun berdasarkan khasiat obat tersebut sehingga mempercepat dalam melakukan proses pelayanan, seperti vitamin B1, B6, B6, B12, C,dan B complek disusun satu deret atau GG, CTM, Prednisone, DMP , dan Dexa satu deret. Sedangkan untuk obatobat jenis lain yang jarang diresepkan disusun tidak beraturan di atas laci dan untuk obatobat sediaan sirup, krim, salep, tetes mata dan telinga, pembasuh luka, dan bedak tabur disusun di lemari kaca khusus obatobat tersebut. Obatobat golongan psikotropik dan narkotik disimpan di lemari khusus dan dikunci, sedangkan untuk puskesmas kelurahan obat psikotropik disusun bersama obatobat golongan lain karena lemari psikotropik hanya ada di gudang sehingga setelah pelayanan obatobat psikotropik akan dikembalikan kembali ke lemari penyimpanannya di gudang.

Kegiatan pelayanan farmasi yang dilakukan di kamar obat, yaitu : 1. Penerimaan resep Resep berasal dari dokter di seluruh poli yang ada di Puskesmas Kecamatan Johar Baru. Pasien mendaftarkan diri ke loket, kemudian dari loket pasien membawa buku status dan nomor urut, selanjutnya pasien menuju ruang poli sesuai dengan jenis penyakitnya, setelah melakukan pemeriksaan di poli pasien keluar membawa resep yang telah ditulisi nomor urut pasien dan nomor kartu berobat oleh perawat di lembar

resepnya, setelah itu pasien menyerahkan resep kepada bagian apotek puskesmas. Resep yang telah diletakkan pasien di keranjang resep diambil oleh petugas farmasi kemudian petugas melakukan pengecekan terhadap kelengkapan resep seperti tanggal resep, nama obat beserta kekuatan sediaannya, aturan pakai, cara pakai, nama pasien, umur pasien, dan berat badan. Apabila terdapat keraguan dengan penulisan resep atau ketidaksesuaian dosis obat dan sediaan obat pada pasien maka petugas farmasi harus menanyakan dan menkonfirmasikan kepada dokter yang bertanggung jawab atas resep tersebut.

2. Penyiapan obat dan peracikan Setiap obat yang diminta dalam resep baik dalam bentuk sediaan tablet, kapsul, puyer standar maupun puyer racikan dokter, bedak tabur, salep, tetes mata dan telinga, krim, sirup, pencuci luka, suppositaria atau vaginal, dan injeksi vitamin bagi ibu hamil disiapkan oleh petugas farmasi sesuai dengan permintaan jumlah obat di resep. Obat yang telah disiapkan

kemudian dimasukkan kedalam plastik pengemas obat dan ditulis aturan pakai obat pada masing-masing etiketnya, selanjutnya setiap obat masing masing akan distrapples menjadi satu. Resep obat yang berbentuk racikan dokter, diperiksa dahulu komposisinya dan dilakukan perhitungan dosis serta jumlah obat yang disediaakan kemudian setelah dianggap rasional antara dosis dengan efek terapi yang diharapkan, obat diracik dan dibungkus sesuai permintaan resep kemudian dimasukkan ke dalam plastik obat serta diberi etiket. Resep berbentuk racikan khusus untuk anak diperiksa terlebih dahulu umur pasien, berat badan, dan kekuatan sediaan dari obat tersebut kemudian petugas mengambil sediaan puyer racikan standar sesuai ketentuan dengan resep yang telah di stock sebelumnya kemudian diberi etiket. Resep standar tersebut hanya berlaku di seluruh naungan Puskesmas Kecamatan Johar Baru karena dibuat oleh gabungan dokter MTBS di puskesmas tersebut.

Resep tersebut adalah sebagai berikut ( setiap resep untuk puyer 1000 bungkus ) : PP ( BERAT BADAN DAN UMUR ) PPI ( 3 NO NAMA OBAT 6 kg dan tahun ) 1 2 3 4 CTM EPHEDRINE GG DMP 0,4 mg o,5 mg 6,25 mg 0,63 mg 9 kg dan tahun ) 0,6 mg 1,0 mg 12,5 mg 1,26 mg 12 kg dan tahun ) 0,9 mg 1,5 mg 25 mg 1,89 mg - 15 kg dan tahun ) 1,2 mg 2,0 mg 37,5 mg 2,52 mg 17 kg dan tahun ) 1,4 mg 2,5 mg 50 mg 3,15 mg PP II ( 6 PPIII ( 9 PP IV ( 12 PP V ( 15 -

3. Pemberian etiket Petugas menuliskan etiket obat yang telah disiapkan oleh petugas pada kantong plastik masingmasing obat. Etiket berisi nama pasien, aturan pakai dan keterangan lain sesuai dengan lembar resep obat. Obat yang telah diberi etiket kemudian disusun berdasarkan susunan obat di resep lalu di strapples menjadi satu dan setelah obat selesai dikemas diberikan kepada petugas penyerahan resep. 4. Pengecekan obat Sebelum obat diserahkan kepada pasien, obat terlebih dahulu diperiksa oleh petugas penyerahan terhadap kelengkapan obat, kesesuaian dan ketepatan obat, jumlah obat, etiket, dan nama pasien. 5. Penyerahan obat Obat yang telah diperiksa kemudian diserahkan kepada pasien dengan sistem:

a. Petugas memanggil nama pasien yang tertera di lembar resep b. Petugas meminta nomor urut dan kartu berobat pada pasien c. Petugas kemudian mencocokkan nomor yang tertulis dilembar resep, jika dilembar resep tidak tertera nomor daftar pasien maka petugas farmasi yang menuliskannya di lembar resep d. Petugas menanyakan umur pasien dan untuk anakanak ditanyakan berat badannya untuk memastikan kembali agar obat tidak tertukar e. Kemudian obat diserahkan kepada pasien disertai dengan informasi obat yang harus diperhatikan selama penggunaan obat maupun aturan dan cara pakai obat tertentu. 6. Pengadministrasi dan pembukuan obat Pembukuan dan pengadministrasi obat dilakukan setelah kegiatan pelayanan di apotek berakhir. Di akhir pelayanan petugas akan menghitung jumlah resep dan memisahkan resep berdasarkan

penggolongan obat, yaitu resep dari poli gigi, umum, KIA dan ibu hamil atau resep KJS, KS, GAKIN, JAMKESMAS, ASKES, asuransi kantor, dan bayar. Setelah dihitung kemudian ditulis jumlah resepnya di buku kunjungan resep PKM yang akan di laporkan dalam laporan perbulan. Selain itu untuk resep psikotropik dan narkotik, resepnya akan dipisahkan oleh petugas kemudian ditulis di buku laporan narkotika dan psikotropik harian (dengan format : No Tanggal Nama obat Jumlah obat keluar) yang akan dilaporkan satu bulan sekali dan di kartu stock obat tersebut (formatnya NoTanggalJumlah keluar obatSisa obatKet. Nama pasien yang menggunakan atau paket obat racikan yang menggunakan).

Petugas juga mendata obatobat pada resep yang digunakan pada hari tersebut, dimana petugas menuliskan pemakaian obat dan jumlahnya pada buku rekapan pengeluaran obat harian yang kemudian diakhir bulan akan di akumulasi jumlahnya dan di sesuaikan dengan jumlah fisik obatnya. Setelah semua penggunaan obat di rekap maka selanjutnya petugas akan mendata obatobat yang persediaannya hampir habis kemudian ditulis di kertas beserta jumlah obat kemudian setelah di rekap di bawa ke gudang untuk diambil persediaan obatobatnya besok pagi. 7. Penyetokan persediaan obat dan pemorsian obat Penyetokan persediaan obat dan pemorsian obat dilakukan oleh petugas farmasi baik sebelum maupun sesudah pelayanan di apotek atau di keadaan penting dilakukan bersamaan saat kegiatan pelayanan di apotek berlangsung. Petugas akan menyetok obatobat yang kosong atau hampir habis kedalam laci pemyimpanan obat, jika ditengah pelayanan obat habis maka petugas akan pergi ke gudang untuk mengambil obat dari gudang dengan menuliskan jumlah pengeluaran obat pada kartu stock obat dan buku pengeluaran obat perhari. Di akhir pelayanan petugas juga memorsi obatobat tablet yang sering diresepkan pada pasien seperti CTM, prednisone, DMP, GG, Vitamin B1, B6, B12, C, Komplek,

Dexamethasone, dan Antasid. Petugas akan memorsi obatobat tersebut sebanyak 10 tab kedalam plastik kemudian di straples dan diletakkan dalam laci obat masingmasing. Sedangkan untuk obatobat racikan standar, petugas akan menyiapkan sediaan jumlah obat yang diperlukan kemudian diracik lalu dibungkus dalam bentuk sediaan puyer dan

dimasukkan kedalam plastik sebanyak sembilan bungkus lalu di straples selanjutnya disusun kedalam laci obat standar berdasarkan golongannya, kemudian petugas akan menuliskan pemakaian jumlah obat pada buku puyer PKM, hal ini dilakukan untuk memantau jumlah persediaan obat di apotek.

4.2

Gudang obat Gudang farmasi adalah tempat penerimaan, pendistribusian dan

pemeliharaan barang persediaan berupa obat, alat kesehatan dan perbekalan kesehatan lainnya yang tujuannya digunakan untuk melaksanakan program kesehatan di kabupaten/kodya yang bersangkutan. Sumber daya manusia yang ada di gudang obat puskesmas kecamatan Johar Baru terdiri atas 2 orang, yaitu 1 orang apoteker dan 1 orang asisten apoteker, sedangkan untuk di puskesmas kelurahan hanya terdiri dari 1 orang asisten apoteker. Kunjungan ke gudang obat Puskesmas Kecamatan Johar baru berlangsung pada hari jumat tanggal 1 Maret 2013 dan untuk kelurahannya dilakukan pada hari mahasiswa ditugaskan disana. Selama di gudang kita diberitahukan mengenai sistem yang diterapkan di gudang: 1. Penyusunan obat Penyusunan obatobat sediaan tablet dan kapsul disusun berdasarkan alphabet, sedangkan untuk obatobat sediaan bedak tabur, salep, tetes mata dan telinga, krim, sirup, pencuci luka, suppositaria atau vaginal, dan injeksi vitamin bagi ibu hamil disusun pada satu lemari kaca dimana obatobat dan alkes untuk

ibu hamil disusun pada satu lemari. Pada pintu kaca di tempel daftar obat yang ada untuk memudahkan dalam pencarian dan obat disusun dari expiredenya yang tercepat hingga terlama. Sedangkan untuk alkes yang lain disusun pada lemari yang berbedabeda. 2. Penyimpanan obat Penyimpanan obat pada gudang lebih mengutamakan sistem FEFO (First Exp First Out) dibandingkan dengan FIFO (First Input First Out). Obat-obat disimpan pada suhu ruangan 1525 C . Dimana suhu ruangan selalu dipantau dan dicatat pada form pemantauan suhu ruangan. Kemudian untuk obatobat yang memerlukan penyimpanan pada suhu dingin maka obat akan disimpan pada lemari es. Sedangkan untuk obatobat narkotik dan psikotropik disimpan pada lemari khusus yang terpisah dari obatobat yang lain. Di lemari itu juga disimpan resep harian yang mengandung obatobat psikotropik dan narkotika, tetapi bentuk lemari penyimpanan obat narkotika dan psikotropik tidak sesuai dengan persyaratan yang ada , yaitu tidak double lock dan bentuk lemari tidak menempel didinding sehingga lemari dapat dipindahkan dengan mudah kapan saja, sedangkan untuk obatobat yang tidak mampu disimpan di dalam lemari lagi, obat disimpan di dalam kardus yang telah dituliskan namanama obat yang ada di dalamnya. 3. Monitoring kadaluarsa obat Kegiatan monitoring ED dilakukan oleh petugas farmasi setiap 6 bulan sekali, dimana obat akan digolongkan dalam 3 golongan, yaitu bendera merah untuk EDnya dibawah 6 bulan, bendera kuning untuk ED-nya di atas 6 bulan dan bendera hijau untuk obat yang ED-nya di atas 1 tahun. Benderabendera tersebut di tempel

di bagian depan obat sehingga memudahkan petugas dalam melakukan monitoring. Semua hasil monitoring tersebut ditulis pada buku monitoring obat untuk memudahkan petugas dalam mengetahui kadaluarsa obatobat yang disimpan dan mengetahui obatobat mana yang akan mendekati waktu kadaluarsa obat. 4. Pendistribusian obat Pendistribusian obat dilakukan dari PBF obat ke gudang maupun dari gudang ke apotek semuanya harus melalui proses yang cukup lama. Pendistribusian obat dari PBF ke gudang dimulai dari obat diterima oleh tim penerima kemudian dicek kembali antara obat yang diterima dengan daftar pemesanan dan mutu obat yang diterima lalu dikirim ke gudang dan di gudang petugas menuliskan stock awalnya di kartu stok dan buku rekap obat. Sedangkan untuk pendistribusian obat dari gudang ke apotek diawali dengan penerimaan daftar permintaan persediaan obat lalu petugas akan menyiapkan obatobat yang dibutuhkan lalu ditulis di kartu stok obat masingmasing kemudian ditulis pada buku rekap obat sehingga kita tahu jumlah pengeluaran dan sisa stock obat di gudang, lalu obat baru siap untuk di distribusikan ke apotik. Untuk alkes pedistribusiannya langsung di berikan pada polipoli yang membutuhkan, ditulis juga pada buku rekap obat sedangkan untuk obat injeksi vitamin ibu hamil hanya bisa diberikan jika disertai resep dokter atau bidan. 5. Perencanaan dan pengadaan obat di gudang Setiap bulan petugas puskesmas kelurahan akan membuat laporan pemakaian obat dan setiap tiga bulan sekali petugas gudang akan menuliskan daftar obatobat yang diperlukan kemudian diserahkan kepada puskesmas kecamatan, setelah itu

permintaan diproses, jika disetujui maka obat akan dikirim sesuai permintaan. Jika dalam persediaan obat telah kosong sebelum tiga bulan, maka petugas gudang akan melakukan permintaan cito kepada gudang besar kecamatan dengan menuliskan daftar obat yang diinginkan lalu diserahkan kepada kepala gudang farmasi kecamatan, kemudian permintaan diproses lalu petugas gudang akan mengirimkan daftar obat yang disetujui, setelah itu petugas gudang kelurahan akan membuat daftar obat yang telah disetujui sebanyak dua rangkap, satu untuk gudang kecamatan sedangkan satu lagi untuk puskesmas kelurahan. Begitu juga dengan puskesmas kecamatan, petugas akan membuat depo bon sebanyak dua rangkap, satu untuk gudang kecamatan sedangkan satu lagi untuk puskesmas kelurahan. Puskesmas kecamatan sendiri pengadaan obat di gudang besar dilakukan hanya satu tahun sekali dari PEMDA melalui tender, sehingga petugas farmasi gudang harus pintar dalam mengelolah persediaan obat jika sewaktuwaktu terjadi endemik besar. Perencanaan obat dilakukan berdasarkan resepresep obat tahun lalu dan permintaan dari puskesmas kelurahan yang disesuaikan dengan anggaran yang diberikan, kemudian disusun daftar obatnya lalu diberikan kepada tim perencanaan puskesmas kecamatan yang kemudian di proses dan diajukan kepada kepala puskesmas lalu dilakukan lelang tender dari PEMDA. Untuk gudang puskesmas kecamatan sendiri jika sewaktuwaktu mengalami kehabisan persediaan obat maka akan dilakukan pertukaran obat atau bon obat kepada puskesmas kelurahan lain atau puskesmas kecamatan lain, dengan menuliskan surat permintaan kepada kepala puskesmas yang dituju yang diketahui kepala

puskesmas yang bersangkutan kemudian jika disetujui maka permintaan obat akan diberikan oleh puskesmas yang diminta.

4.3

Metadon Program Terapi Rumatan Metadon di Indonesia adalah bagian dari upaya

nasional untuk pengendalian dan pencegahan infeksi penyakit berbahaya, seperti HIV/AIDS, hepatitis, yang dikenal sebagai strategi pengurangan dampak buruk atau Harm Reduction. Klinik Program Terapi Rumatan Methadon (PTRM) di Puskesmas Kecamatan Johar Baru dibuka tahun 2011. Program Terapi Rumatan Methadon di Puskesmas Johar Baru saat ini hanya mampu menyediakan methadon cair. Pasien ketergantungan obat yang dilayani di klinik PTRM ini sekitar 97 orang. Di klinik ini, pasien melakukan terapi rumatan methadon dan konsultasi dengan dokter terkait dosis penggunaan methadon cair. Penggunaan dosis methadone cair untuk pasien awal 15-40 mg selama 7 hari pertama. Pada 7 hari selanjutnya penggunaan dosis methadon cair boleh diatas 40 mg, namun peningkatan dosis methadon cair selama seminggu tidak boleh lebih dari 30 mg. Kegiatan mahasiswa saat melakukan PKL di tempat ini antara lain memasukkan data ke dalam status pasien (tanggal datang, dosis yang digunakan, waktu minum), menyiapkan dan menyerahkan methadon cair sesuai dosis terapi masing-masing pasien, memastikan pasien minum methadon cair sampai habis di tempat (tidak boleh dibawa pulang kecuali THD-Take Home Dose).

Bab V Pembahasan

Mahasiswa melaksanakan kegiatan PKL di Puskesmas Kecamatan Johar Baru selama sepuluh hari kerja. Jumlah mahasiswa PKL sebanyak sembilan orang sehingga tidak memungkinkan untuk ditempatkan dalam satu puskesmas karena keterbatasan tempat. Oleh karena itu, pihak Puskesmas Kecamatan Johar Baru menerapkan kebijakan dimana setiap mahasiswa PKL ditempatkan di seluruh Puskesmas Kelurahan secara rolling (satu mahasiswa PKL untuk masing-masing kelurahan selama satu hari) kecuali di Puskesmas Kecamatan Johar Baru ditempatkan dua orang mahasiswa PKL selama dua hari. Kegiatan PKL dilaksanakan mulai pukul 08.00 s.d 15.00 WIB. Mahasiswa PKL melakukan pelayanan di puskesmas kelurahan pukul 08.00 s.d 12.00 WIB, selanjutnya seluruh mahasiswa melakukan pelayanan di puskesmas kecamatan sampai pukul 15.00 WIB. Khusus untuk pelayanan PTRM kegiatan PKL dimulai pukul 09.00 s.d 12.00 WIB. Puskesmas Kecamatan Johar Baru membawahi enam puskesmas kelurahan dan satu pelayanan Program Terapi Rumatan Methadon (klinik methadon). Adapun enam puskesmas kelurahan tersebut adalah Puskesmas Kelurahan Johar Baru I, Johar Baru II, Johar Baru III, Galur, Tanah Tinggi, dan Kampung Rawa. Saat ini sudah ada empat puskesmas yang meraih sertifikat ISO, yaitu: Puskesmas Kecamatan Johar Baru, Puskesmas Kelurahan Johar Baru I, Puskesmas Kelurahan Johar Baru II, dan Puskesmas Kelurahan Tanah Tinggi.

Jumlah tenaga kefarmasian di Puskesmas Kecamatan Johar Baru ada empat orang yakni dua orang apoteker dan dua orang asisten apoteker. Asisten apoteker melakukan pelayanan di apotek sementara apoteker melakukan tugasnya di gudang farmasi dalam hal pengadaan dan penyimpanan barang seperti obat dan perbekalan farmasi lainnya. Seiring dengan meningkatnya animo masyarakat dalam berobat, setelah diberlakukan program KJS (Kartu Jakarta Sehat) maka pelayanan kefarmasiaan di Puskesmas Kecamatan Johar Baru dirasakan kurang prima. Hal ini disebabkan karena keterbatasan sumber daya manusia, sehingga jobdesk petugas farmasi bertambah (sering merangkap tugas yang lain seperti administrasi). Bahkan di beberapa puskesmas kelurahan tidak memiliki tenaga teknis kefarmasiaan. Sehingga pekerjaan kefarmasiaan harus dilakukan oleh tenaga kesehatan lainnya seperti perawat, bidan, dsb. Waktu kerja pegawai di puskesmas kecamatan dan kelurahan pada hari Senin-Kamis dimulai pukul 07.30 sampai pukul 16.00, pada hari Jumat dimulai pukul 07.30 sampai 16.30, sedangkan pada hari Sabtu di puskesmas kelurahan dimulai pukul 07.30 sampai pukul 12.00. Kegiatan di apotek puskesmas

kecamatan dan kelurahan yaitu menyiapkan sediaan racikan puyer sebelum pasien datang, skrinning resep, menyiapkan obat, menuliskan etiket, melakukan penyerahan dan pemberian informasi obat ke pasien. Pelayanan apotek selesai pada pukul 12.00, selanjutnya petugas farmasi di puskesmas kelurahan melakukan kegiatan administrasi seperti merekapitulasi penggunaan obat, penyusunan defekta, monitoring expired date, dsb sampai jam kerja berakhir. Sedangkan di puskesmas kecamatan, pelayanan apotek dilanjutkan kembali pada pukul 14.00 sampai pukul 16.00.

Pemantauan stok dan expired date seharusnya dilakukan secara berkala oleh petugas farmasi. Obat-obat yang hampir kadaluwarsa diberi tanda (penempelan bendera) di rak penyimpanan. Sistem distribusi obat di apotek maupun di gudang menganut sistem FEFO (First Expired First Out) dan FIFO (First In First Out) dimana obat yang mendekati tanggal kadaluwarsa dan datang lebih dahulu yang akan didistribusikan lebih cepat. Namun pada prakteknya, masih ditemukan beberapa penyimpanan obat yang tidak memenuhi sistem FEFO dan FIFO. Pemantauan stok dan expired date pun belum dapat dilakukan secara berkala karena keterbatasan waktu dan sumber daya manusia. Sarana dan prasarana di apotek kelurahan maupun kecamatan dirasakan belum memadai. Sebagai contoh, tidak tersedianya etiket kertas dan plastik klip obat sehingga signa harus ditulis dengan menggunakan spidol di plastik biasa bahkan ada yang harus menulis signa di strip obat karena tidak tersedia plastik yang berukuran besar. Tidak tersedianya kantong plastik obat beukuran besar sehingga pasien sering kesulitan bila mendapat beberapa macam obat. Pasien pun tidak mendapatkan sendok obat untuk sediaan cair seperti sirup, suspensi, dsb. Karena hampir semua puskesmas belum memiliki gedung sendiri maka sarananya pun belum memadai, seperti tidak disediakan ruang tunggu pasien yang nyaman di depan loket apotek, ruang apotek belum disediakan AC sehingga suhu ruangan tidak dapat dikontrol. Hal ini meningkatkan resiko kerusakan obat dalam penyimpanan di apotek. Selain itu, di ruang apotek puskesmas kecamatan dan beberapa puskesmas kelurahan tidak dilengkapi wastafel untuk mencuci peralatan racik habis pakai seperti lumpang, alu, blender, sudip, dll.

Peracikan di puskesmas relatif tidak memenuhi kaidah meracik yang benar karena frekuensi dan kuantitas permintaan yang besar sementara tenaga dan waktu yang terbatas. Beberapa masalah yang ditemukan terkait peracikan yang tidak memenuhi kaidah antara lain: serbuk masih kasar dan belum homogen, pembagian dosis per bungkus tidak rata karena membagi untuk 50 bungkus sekaligus. Hal ini dikhawatirkan dapat menimbulkan efek yang merugikan bagi pasien. Petugas tidak dilengkapi dengan APD (Alat Pelindung Diri) yang cukup memadai saat meracik obat sehingga resiko terpapar sangat besar. Penyiapan obat dimulai dari skrining resep sampai penyerahan obat tidak melakukan double checking karena terkadang hanya satu orang yang bertugas di ruang apotek sehingga resiko kesalahan pemberian obat (medication error) relatif besar. Pelayanan PIO (Pelayanan Informasi Obat) dirasakan pula belum maksimal bahkan ada beberapa pasien yang sama sekali tidak mendapatkan PIO. Ada beberapa pasien sering kali tidak mau diberikan PIO karena merasa sudah terbiasa minum obat tersebut. Dalam hal ini, petugas farmasi dituntut untuk tetap memberikan PIO namun disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Karena keterbatasan sumber daya manusia dan beban volume kerja yang meningkat, ada beberapa asisten apoteker yang dilibatkan dalam tim ISO puskesmas, di beberapa puskesmas kelurahan melibatkan petugas farmasi dalam membantu program kebidanan (kunjungan ke rumah ibu hamil dan menyusui, dsb). Hal ini dapat mengganggu pelayanan farmasi secara tidak langsung karena petugas farmasi tidak dapat fokus dibidangnya.

Secara keseluruhan, pelayanan kefarmasian di apotek sudah dilakukan secara maksimal meskipun masih terdapat banyak kekurangan seperti

keterbatasan sumber daya manusia, sarana dan prasarana yang memadai.

ssBAB VI

Penutup

6.1 Kesimpulan Setelah melaksanakan kegiatan PKL selama 10 hari kerja, mahasiswa dapat menyimpulkan beberapa hal, antara lain: 1. 6.2 Saran