Anda di halaman 1dari 15

Proposal Skripsi

Ketahanan Panas dari Mortar Geopolimer

Fadhlillah Hawari 1006704575

FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK METALURGI DAN MATERIAL UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK APRIL, 2014

1. Latar belakang Dalam ilmu bahan bangunan ada beberapa jenis bahan yang dikategorikan sebagai bahan ikat dalam adukan, di antaranya adalah semen, kapur, pozolan dan beberapa bahan ikat lainnya. Tiap-tiap bahan ikat tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing- masing, akan tetapi penggunaan bahan ikat semen Portland lainnya. Pada umumnya penggunaan bahan ikat untuk bangunan di Indonesia masih menggunakan semen Portland. Hal ini merupakan pemborosan baik dalam segi biaya dan teknis selain itu proses pembuatan semen Portland yang tidak ramah lingkungan pun menjadi alasan lain untuk dihindari pembuatannya. Selain dari segi biaya teknis dan keramahan lingkungan semen Portland, performa beton Portland pada lingkungan ber suhu tinggi pun kurang baik, Penurunan kekuatan mulai nampak jelas pada suhu 300oC. pada temperatur ini air yang terikat secara kimiawi akan menguap dan akan menyebabkan perubahan pada material penyusun beton
[1]

masih menjadi pilihan utama dibandingkan penggunaan bahan ikat

. Oleh karena itu dibutuhkan bahan ikat

alternative untuk menggantikan semen Portland. Fly ash atau abuterbang merupakan hasil limbah pembakaran batubara. Dimana dihasilkan sekitar 5% politan padat yang berupa abu (fly ash dan bottom ash), dan sekitar 10-20% adalah bottom ash dan sekitar 80-90% fly ash dari total abu yang dihasilkan[2]. Abu hasil pembakaran ini dapat bersifat racun dan digolongkan menjadi limbah B3 karena mampu mempengaruhi kesehatan orang yang menghirupnya. Dengan demikian, abu terbang harus ditahan dan ditampung dalam tempat agar tidak terbuang. Namun karena tidak bisa ditampung terus menerus maupun dibuang begitu saja maka harus dicarikan alternatif untuk memanfaatkannya. Abu terbang cukup baik untuk digunakan sebagai bahan ikat karena bahan penyusun utamanya adalah silicon dioksida (SiO2 ), aluminium (Al2O3) dan ferrum oksida

(Fe2O3). Oksida-oksida ini dapat bereaksi dengan kapur bebas yang dilepaskan semen ketika bereaksi dengan air [2]. Penggunaan Fly ash sendiri pada pembuatan beton mutu tinggi membuat beton lebih padat karena rongga antara butiran agregat diisi oleh fly ash sehingga mampu memperkecil pori pori yang ada dan selain itu dengan takaran tertentu terbukti meningkatkan kekuatan beton[3]. 2. Perumusan Masalah Seperti yang telah disebutkan di latar belakang bahwa masalah pada penggunaan semen Portland untuk bangunan ialah pada harga, teknis dan pembuatannya yang tidak ramah lingkungan. Dalam penelitian ini kita akan mensubstitusi semen Portland sebagai bahan ikat dengan campuran geopolimer pada mortar yang biasa disebut geopolimer dan berbagai suhu. Dimana Portland tidak bisa mempertahankan kekuatannya pada suhu diatas 300oC karena air yang terikat secara kimiawi akan menguap dan akan menyebabkan perubahan pada material penyusun beton. Pada suhu 400oC 450oC, Ca(OH)2 yang terbentuk pada proses hidrasi mulai terurai menjadi CaO, akibatnya setelah temperature normal kembali, tidak mungkin terjadi pemulihan mengandung kekuatan kwarsa beton. mulai Pada temperature 575oC agregat yang

berubah

strukturnya

dengan

disertai

pengembangan volume. Pada suhu 1000oC beton akan mengalami kehancuran total[1]. Oleh karena itu penelitian ini mencoba melihat pengaruh substitusi semen Portland dengan geopolimer pada berbagai suhu terhadap kekuatan tekannya.

3. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini : 1) Mengetahui pengaruh substitusi semen Portland dengan geopolimer terhadap kekuatan tekan mortar 2) Melihat perbedaan thermal analysis antara mortar dengan bahan ikat semen Portland dengan mortar dengan bahan ikat geopolimer. 3) Melihat perbedaan interaksi ikatan yang terjadi antara mortar dengan bahan ikat semen Portland dengan mortar dengan bahan ikat geopolimer.

4. Studi pustaka dan Hipotesis 4.1.Mortar dan Agregat Mortar adalah adukan yang terdiri dari agregat halus (pasir), bahan perekat (tanah liat, kapur, semen Portland, Fly ash, Dll) dan air. Fungsi mortar adalah sebagai matrik pengikat bagian penyusun suatu konstruksi yang bersifat struktural maupun non struktural. Penggunaan mortar untuk konstruksi yang bersifat struktural misalnya mortar pasangan batu belah untuk struktur pondasi, sedangkan yang bersifat non struktural misalnya mortar pasangan batu bata untuk dinding pengisi[4]. Agregat adalah sekumpulan butir butir batu pecah, kerikil, pasir, atau mineral lainnya baik berupa hasil alam maupun buatan yang berfungsi sebagai bahan pengisi dalam campuran mortar dan beton (SNI 17371989F). Walaupun fungsinya hanya sebagai pengisi, tetapi karena komposisinya yang cukup besar agregat menyebabkan sifat sifat beton yang dihasilkan dipengaruhi oleh karakteristik agregat penyusunnya[5].

Berdasarkan ukurannya, agregat dibedakan menjadi 2 yaitu: Agregat halus, Agregat halus adalah agregat dengan besar butir maksimal 4,75 mm (SNI 02-6820-2002). Agregat halus dalam beton berfungsi sebagai pengisi rongga-rongga antara agregat kasar Agregat halus yang bisa digunakan dalam pembuatan beton maupun mortar memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi. Menurut SK SNI S-04-1989-F syarat-syarat tersebut adalah: a) Agregat halus terdiri dari butir butir tajam dan keras. b) Butir agregat halus harus bersifat kekal artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh cuaca. c) Agregat halus tidak mengandung lumpur lebih dari 5%, apabila melebihi, agregat halus harus dicuci d) Agregat halus tidak banyak menganding zat organic e) Modulus halus butir antara 1,5-3,8 dengan variasi butir sesua standar gradasi berdasarkan Tabel 1 Tabel 1. Batas gradasi butiran pasir
Lubang Ayakan (mm) 10 4,8 2,4 1,2 0,6 0,3 0,15 Persen butir yang lewat ayakan Zone 1 Zone 2 Zone 3 Zone 4 100 100 100 100 90-100 90-100 90-100 95-100 60-95 75-100 85-100 95-100 30-70 55-90 75-100 90-100 15-34 35-59 60-79 80-100 5-20 8-30 12-40 15-50 0-10 0-10 0-10 1-15

Agregat kasar adalah batuan yang mempunyai ukuran butir antara 5 mm sampa 40 mm. menurut asalanya agregat kasar dibagi menjadi 2 macam yaitu kerikil (dari batuan alam) dan kricak (dari batuan alam yang dipecah. Menurut asalnya kerikil dibedakan atas kerikil galian, kerikil sungai dan kerikil pantai. Kerikil galian biasanya mengandung zat zat seperti tanah liat, debu pasir dan zat-zat organic.

Sedangkan kerikil sungai dan kerikil pantai biasanya bebas dari zat-zat tersebut, permukaannya licin dan bentuknya lebih bulat. Hal ini disebabkan karena pengaruh air. Agregat kasar yang digunakan untuk campuran beton memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi menurut SK SNI S-04-1989-F syarat-syarat tersebut adalah : a) Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir keras dan tidak berpori. b) Bersifat kekal, artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh cuaca. c) Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1%, apabila kadar lumpur melampaui 1% maka agregat kasar harus dicuci. d) Agregat kasar tidak boleh mengandung zat zat yang reaktif terhadap alkali. e) Modulus halus butir antara 6-7,1 dengan variasi butir sesuai standar gradasi berdasarkan tabel 1

4.2. Bahan Pengikat dan Air semen Portland adalah semen hidrolisis yang dihasilkan dengan cara menggiling terak (Clinker) portland terutama yang terdiri dari kalsium silikat (xCaO.SiO2) yang bersifat hidrolis dan digiling bersama sama dengan bahan tambahan berupa satu atau lebih bentuk kristal senyawa kalsium sulfat (CaSO4.xH2O) dan boleh ditambah dengan bahan tambahan lain (SNI 15-2049-2004). Fungsi utama semen adalah mengikat butir butir agregat hingga membentuk suatu massa padat yang akan mengisi rongga rongga diantara butir-butir agregat. Presentase kandungan semen

dalam beton yaitu 10%dari berat campuran, meskipun hanya 10% tapi semen sangat penting karena semen berfungsi untuk mengikat agregat halus dan kasar pada beton. Secara umum semen memiliki 4 unsur utama dalam senyawa penyusunannya, unsure tersebut adalah : a) Trikalsium silikat (C3S) atau 3CaOSiO2 senyawa ini bila terkena air akan langsung terhidrasi (proses reaksi semen dengan air), dan menghasilkan panas. Panas akan berpengaruh pada kecepatan pengerasan semen sebelum hari ke 14.

b) Dikalsium silikat (C2S) atau 2CaOSiO2 senyawa ini bila bereaksi dengan air lebih lambat sehingga hanya berpengaruh terhadap pengerasan semen setela berumur lebih dari 7 hari dan memberikan kekuatan akhir. C2S juga mengurangi besar susutan pengeringan.

c) Trikalsium aluminat (C3A) atau 3CaOAl2O3 senyawa ini memberikan kekuatan awal yang sangat cepat pada 24 jam pertama. Dalam semen kandungan senyawa ini tidak boleh lebih dari 10% karena dapat menyebabkan semen lemah terhadap serangan sulfat. d) Tetrakalsium aluminofert (C4AF) atau 4CaOAl2O3Fe2O3 senyawa ini kurang begitu berpengaruh terhadap kekerasan semen. Kandungan besi yang sedikit dalam semen putih akan memberikan kandungan C4AF yang sedikit dalam semen sehingga kualitas semen bertambah dari segi kekuatannya.

Berdasarkan tipenya semen terbagi atas beberapa tipe yaitu: a) Semen tipe 1 adalah semen Portland yang tidak memiliki persyaratan tertentu b) Semen tipe 2 adalah semen Portland yang memiliki ketahanan sulfat dan panas hidrasi sedang, biasanya semen ini digunakan untuk konstruksi besar. c) Semen tipe 3 adalah semen Portland tipe ini harus memiliki kekuatan awal yang tinggi pada awal pengikatannya, semen ini juga harus mampu mencapai kekuatan awal yang tinggi dalam waktu 3 hari d) Semen tipe 4 adalah semen yang membutuhkan panas hidrasi rendah, biasanya semen ini digunakan untuk bagunan dalam air e) Semen tipe 5 adalah semen yang membutuhkan ketahanan sulfat yang baik. Abu terbang adalah hasil residu dari PLTU. Material ini berupa butiran halus ringan, bundar, tidak porous, mempunyai kadar bahan semen yang tinggi dan mempunyai sifat pozzolanik, yaitu dapat bereaksi dengan kapur bebas yang dilepaskan semen saat proses hidrasi dan membentuk senyawa yang bersifat mengikat pada temperature normal dengan adanya air[3]. Abu terbang dapat dibedakan menjadi 3 jenis (ACI Manual of concrete practice 1993 part 1 226.3R-3), yaitu : a) Kelas C adalah abu terbang yang mengandung CaO diatas 10% yang dihasilkan dari pembakaran lignite atau sub-bitumen batubara (batubara muda). Dalam campuran beton digunakan sebanyak 15%-35% dari berat binder.

b) Kelas F adalah abu terbang yang mengandung CaO lebih kecil dari 10% dihasilkan dari pembakaran anthracite atau bitumen batubara. Dalam campuran beton digunakan sebanyak 15%25% c) Kelas N adalah Pozzolan alam atau hasil pembakaran yang dapat digolongkan antara lain tanah diatomic, opaline chertz, shales, tuff dan abu vulkanik, yang mana biasa di broses melalui pembakaran atau tidak melalu pembakaran dan memiliki sifat pozzolan yang baik. Air dalam pembuatan beton merupakan pemicu proses kimiawi dari semen, membasahi agregat dan memberikan pekerjaan yang mudah dalam pekerjaan beton. Dalam hal pekerjaan beton senyawa yang terkandung dalam air akan mempengaruhi kualitas beton. Air yang dapat digunakan dalam proses pencampuran beton menurut SK SNI 03-2847-2002 harus memenuhi beberapa syarat yaitu: a) Air yang digunakan pada campuran beton harus bersih dan bebas dari bahan-bahan merusak yang mengandung oli, asam, alkali, garam, bahan organik, atau bahan-bahan lainnya yang merugikan terhadap beton atau tulangan. b) Air pencampur yang digunakan pada beton prategang atau pada beton yang didalamnya tertanam logam aluminium, termasuk air bebas yang terkandung dalam agregat, tidak boleh mengandung ion klorida dalam jumlah yang membahayakan.

c) Air yang tidak dapat diminum tidak boleh digunakan pada


beton, kecuali Pemilihan proporsi campuran beton harus didasarkan pada campuran beton yang menggunakan air dari sumber yang sama. Dan hasil pengujian pada umur 7 dan 28

hari pada kubus uji mortar yang dibuat dari adukan dengan air yang tidak dapat diminum harus mempunyai kekuatan sekurang-kurangnya sama dengan 90% dari kekuatan benda uji yang dibuat dengan air yang dapat diminum. Perbandingan uji kekuatan tersebut harus dilakukan pada adukan serupa, terkecuali pada air pencampur, yang dibuat dan diuji sesuai dengan Metode uji kuat tekan untuk mortar semen hidrolis (Menggunakan spesimen kubus dengan ukuran sisi 50 mm) (ASTM C 109 ).

5. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini meliputi pengujian kekuatan sampel mortar berbahan ikat semen Portland dan geopolimer dengan bentuk kubik berdimensi 50mmx50mmx50mm yang terlebih dahulu diberikan perlakuan panas pada berbagai suhu di setiap sampelnya. Variabel yang akan dipakai dalam penelitian ini adalah perbedaan suhu ekspos yaitu: 200, 400, dan 600oC dan perbedaan bahan ikat yaitu semen Portland dan geopolimer. Pengerjaan penelitian serta pengujiannya yang dilakukan dan akan dilakukan di 2 tempat, yakni Departemen Teknik metalurgi dan Material Universitas Indonesia (DTMM-UI), dan Departemen Teknik Sipil Universitas Indonesia (DTS-UI) untuk melakukan uji tekan, XRD, dan Thermal Analysis.

6. Metodologi Penelitian 6.1.Flowchart penelitian

Start

Studi Literatur

Pembelian alat dan bahan Persiapan dan karakterisasi alat dan bahan Pembuatan Sampel Pemberian perlakuan panas selama 2 jam

Tidak diberi perlakuan panas

200oC

400oC

600oC

Uji tekan

Uji Visual

Uji XRD

Thermal analysis

Pengumpulan Data Analisa, pembahasan, penarikan kesimpulan Finish

Gambar 1. Diagram Alir Penelitian 6.2. Alat dan Bahan 6.2.1. Alat

Untuk alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah : Baskom Mixer Timbangan dijital Sendok semen Cetakan mortar Sarung tangan Perangkat uji tekan Perangkat uji XRD Differential scanning calorimetry Thermogravimetric analysis 6.2.2. Bahan Sedangkan untuk Bahan penelitian ini adalah: Waterglass NaOH Fly ash Akuades Semen Portland Pasir silica 6.3. Pengecoran

yang

digunakan

pada

Sesuai dengan diagram alir pada gambar, maka dalam penelitian akan dilakukan pengecoran dengan beberapa parameter dan langkah yaitu: Sebelum pengecoran terlebih dahulu dilakukan pencucian pasir, hal ini bertujuan untuk mengurangi jumlah kandungan organic yang terdapat di dalam pasir Setelah semua bahan disiapkan tambahkan NaOH sesuai dengan takaran, lalu ditambahkan air dan diaduk hingga air menjadi jernih kembali, setelah itu tambahkan waterglass sesuai takaran, aduk hingga tercampur seutuhnya ( untuk Fly ash) Tambahkan semen Portland atau fly ash kedalam air kemudian aduk dan ratakan menggunakan mixer.

Setelah diaduk dan rata, campurkan pasta tadi kedalam sejumlah pasir yang sudah ditakar sebelumnya Aduk hingga merata dan semua pasir terkena pasta, kemudian tuangkan ke cetakan dan tunggu 1 hari sebelum dipanaskan ke oven ber suhu 60o C selama 1 hari

6.4. Pengujian-Pengujian Beberapa pengujian akan dilakukan untuk melihat pengaruh substitusi bahan ikat dan perlakuan panas yang diberikan. Pengujian tekan dilakukan untuk melihat kekuatan dari setiap mortar yang digunakan dalam percobaan. Pengujian XRD dilakukan untuk melihat perbedaan interaksi semen dan fly ash pada pasir. Percobaan terakhir yaitu Thermal analysis merupakan percobaan yang dilakukan untuk melihat perbedaan reaksi yang dihasilkan antara mortar berbahan semen Portland dengan Fly ash. 7. Timeline Penelitian Berdasarkan tanggal-tanggal penting yang sudah diumumkan oleh Koordinator Seminar dan Tugas Akhir Departemen Metalurgi dan Material FTUI, yakni sebagai berikut : 17 April : Batas akhir penyerahan proposal seminar 24-30 April : Rentang siding seminar 18 Juni : Batas akhir penyerahan skripsi 24 juni- 4 juli : Rentang sidang skripsi maka timeline dari penelitian ini sebagai berikut :
Uraian Kegiatan Studi Literatur Persiapan bahan-bahan Pembuatan penggetar Proses pengelasan Pengujian - pengujian Olah data dan analisis Penulisan skripsi Januari Bulan pada tahun 2014 Februari Maret April Mei Juni Juli

8. Pengesahan Dosen Pembimbing

Demikian proposal penelitian ini dibuat dengan sebaik mungkin sehingga penelitian ini dapat dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan komitmen tinggi untuk dapat menyelesaikan penelitian ini tepat pada waktunya. Kami mengharapkan bantuan dan kontribusi dari semua pihak untuk memperlancar pelaksanaan penelitian ini. Atas perhatian, kerjasama dan bantuan yang diberikan oleh semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan penelitian ini kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi. Depok, April 2014 Menyetujui, Dosen Pembimbing:

Dr. Ir. Sotya Astutiningsih, M.Eng NIP: 196705101992032002

9. Referensi

[1] Suprayitno. 2005. Analisa Experimental Kuat Tarik Beton Paska Kebakaran dengan Metode Split Silinder. [2] Wardani P.R. 2008. Pemanfaatan Limbah Batubara Untuk Stabilisasi Tanah Maupun Keperluan Teknik Sipil Lainnya Dalam Mengurangi Pencemaran Lingkungan. [3] Mardiono. 2011. Pengaruh Pemanfaatan Abu Terbang dalam Beton Mutu Tinggi. [4] Putro A.U. 2012. Studi Eksperimental Pengaruh Waktu terhadap Kuat Tekan Pada Mortar Campuran 1 pc: 5 ps. [5] Mulyono T. 2004. Teknologi Beton. Andi Publisher : Jakarta, Indonesia.