Anda di halaman 1dari 10

Kromatografi Kolom

A. Latar Belakang
Kromatografi merupakan metode analisis campuran atau larutan senyawa kimia dengan absorpsi memilih pada zat penyerap, zat cair dibiarkan mengalir melalui kolom zat penyerap, misalnya kapur, alumina dan semacamnya sehingga penyusunnya terpisah menurut bobot molekulnya, mula-mula memang fraksi-fraksi dicirikan oleh warna-warnanya (Puspasari, 2010, hal: 159). Kromatografi kolom adalah kromatografi yang menggunakan kolom sebagai alat untuk memisahkan komponen-komponen dalam campuran. Alat tersebut berupa pipa gelas yang dilengkapi suatu kran di bagian bawah kolom untuk mengendalikan aliran zat cair (Yazid, 2005, hal: 198). Resin penukar ion adalah suatu senyawa polimer tinggi organik dimana terdapat gugusan fungsional yang mengandung ion-ion yang dapat ditukar. Bila ion-ion yang dapat ditukar adalah anion maka disebut resin penukar anion. Resin penukar ion tersebut biasanya dibuat berupa butir-butir bulat berupa ukuran (mesh) (Tim Dosen, 2012). Berdasarkan uraian di atas, maka pembahasan berikut akan membahas tentang cara pemisahan dengan metode kromatografi kolom.

B. Tinjauan Pustaka
Istilah kromatografi berasal dari kata latin chroma berarti warna dan graphien berarti menulis. Kromatografi pertama kali diperkenalkan oleh Michael Tsweet (1903) seorang ahli botani dari Rusia. Michael Tsweet dalam percobaannya ia berhasil memisahkan klorofil dan pigmen-pigmen warna lain dalam ekstrak tumbuhan dengan menggunakan serbuk kalsium karbonat yang diisikan ke dalam kolom kaca dan petroleum eter sebagai pelarut. Proses pemisahan itu diawali dengan menempatkan larutan cuplikan pada permukaan atas kalsium karbonat, kemudian dialirkan pelarut petroleum eter. Hasilnya berupa pita-pita berwarna yang terlihat sepanjang kolom sebagai hasil pemisahan komponen-komponen dalam ekstrak tumbuhan (Alimin, 2007, hal: 73). Kromatografi adalah proses melewatkan sampel melalui suatu kolom, perbedaan kemampuan adsorpsi terhadap zat-zat yang sangat mirip

mempengaruhi resolusi zat terlarut dan menghasilkan apa yang disebut kromatogram (Khopkar, 2008, hal: 137).

Pemisahan kromatografi kolom adsorpsi didasarkan pada adsorpsi komponen-komponen campuran dengan afinitas berbeda-beda terhadap

permukaan fase diam. Kromatografi kolom adsorpsi termasuk pada cara pemisahan cair-padat. Substrat padat (adsorben) bertindak sebagai fase diam yang sifatnya tidak larut dalam fase cair. Fase bergeraknya adalah cairan (pelarut) yang mengalir membawa komponen campuran sepanjang kolom. Pemisahan tergantung pada kesetimbangan yang terbentuk pada bidang antarmuka di antara butiranbutiran adsorben dan fase bergerak serta kelarutan relatif komponen pada fase bergeraknya. Antara molekul-molekul komponen dan pelarut terjadi kompetisi untuk teradsorpsi pada permukaan adsorben sehingga menimbulkan proses dinamis. Keduanya secara bergantian tertahan beberapa saat di permukaan adsorben dan masuk kembali pada fase bergerak. Pada saat teradsorpsi komponen dipaksa untuk berpindah oleh aliran fase bergerak yang ditambahkan secara kontinyu. Akibatnya hanya komponen yang mempunyai afinitas lebih besar terhadap adsorben akan secara selektif tertahan. Komponen dengan afinitas paling kecil akan bergerak lebih cepat mengikuti aliran pelarut (Yazid, 2005, hal: 199). Teknik pemisahan kromatografi kolom dalam memisahkan campuran, kolom yang telah dipilih sesuai ukuran diisi dengan bahan penyerap (adsorben) seperti alumina dalam keadaan kering atau dibuat seperti bubur dengan pelarut. Pengisian dilakukan dengan bantuan batang pemanpat (pengaduk) untuk memanpatkan adsorben dengan gelas wool pada dasar kolom. Pengisian harus dilakukan secara hati-hati dan sepadat mungkin agar rata sehingga terhindar dari gelembung-gelembung udara. Untuk membantu homogenitas pengepakan biasanya kolom setelah diisi divibrasi, diketok-ketok atau dijatuhkan lemah pada pelat kayu. Sejumlah cuplikan dilarutkan dalam sedikit pelarut, dituangkan melalui sebelah atas kolom dan dibiarkan mengalir ke dalam adsorben. Komponen-komponen dalam campuran diadsorpsi dari larutan secara kuantitatif

oleh bahan penyerap berupa pita sempit pada permukaan atas kolom, dengan penambahan pelarut (eluen) secara terus-menerus, masing-masing komponen akan bergerak turun melalui kolom dan pada bagian atas kolom akan terjadi kesetimbangan baru antara bahan penyerap, komponen campuran dan eluen. Kesetimbangan dikatakan tetap bila suatu komponen yang satu dengan lainnya bergerak ke bagian bawah kolom dengan waktu atau kecepatan berbeda-beda sehingga terjadi pemisahan. Jika kolom cukup panjang dan semua parameter pemisahan betul-betul terpilih seperti diameter kolom, adsorben, pelarut dan kecepatan alirannya, maka akan terbentuk pita-pita (zona-zona) yang setiap zona berisi satu macam komponen. Setiap zona yang keluar dari kolom dapat ditampung dengan sempurna sebelum zona yang lain keluar dari kolom. Komponen (eluat) yang diperoleh dapat diteruskan untuk ditetapkan kadarnya, misalnya dengan cara titrasi atau spektofotometri (Yazid, 2005, hal: 200 201). Teknik pemisahan kromatografi kolom partisi sangat mirip dengan kromatografi kolom adsorpsi. Perbedaan utamanya terletak pada sifat dari penyerap yang digunakan. Pada kromatografi kolom partisi penyerapnya berupa materi padat berpori seperti kieselguhr, selulosa atau silika gel yang permukaannya dilapisi zat cair (biasanya air). Dalam hal ini zat padat hanya berperan sebagai penyangga (penyokong) dan zat cair sebagai fase diamnya. Fase diam zat cair umumnya diadsorpsikan pada penyangga padat yang sejauh mungkin inert terhadap senyawa-senyawa yang akan dipisahkan. Zat padat yang penyokong harus penyerap dan menahan fase diam serta harus membuat permukaannya seluas mungkin untuk mengalirnya fase bergerak. Penyangga pada umumnya bersifat polar dan fase diam lebih polar dari pada fase bergerak. Dalam kromatografi partisi fase bergeraknya dapat berupa zat cair dan gas yang mengalir membawa komponen-komponen campuran sepanjang kolom. Jika fase

bergeraknya dari zat cair, akan diperoleh kromatografi partisi cair-cair. Teknik ini

banyak digunakan untuk pemisahan senyawa-senyawa organik maupun anorganik (Yazid, 2005, hal: 203 204). Resin penukar ion adalah suatu bahan padat yang memiliki bagian (ion positif atau negatif) tertentu yang bisa dilepas dan ditukar dengan bahan kimia lain dari luar. Berdasarkan jenis ion/muatan yang dipertukarkan, resin dapat dibagi menjadi 2 yaitu resin penukar kation adalah ion positif yang dipertukarkan dan resin penukar anion adalah ion negatif yang dipertukarkan. Ion Exchange adalah proses penyerapan ion ion oleh resin dengan cara Ion-ion dalam fasa cair (biasanya dengan pelarut air) diserap lewat ikatan kimiawi karena bereaksi dengan padatan resin. Resin sendiri melepaskan ion lain sebagai ganti ion yang diserap. Selama operasi berlangsung setiap ion akan dipertukarkan dengan ion penggantinya hingga seluruh resin jenuh dengan ion yang diserap (Clark, 2007). Besarnya nilai kapasitas penukar dari resin penukar ion tergantung pada jumlah gugus ion yang dapat ditukarkan yang terkandung dalam setiap gram bahan resin tersebut. Semakin besar jumlah gugus-gugus tersebut, maka semakin besar pula nilai kapasitas resinnya. Besarnya nilai kapasitas resin diketahui agar dapat memperkirakan berapa banyaknya resin yang diperlukan dalam analisa kimia dengan menggunakan metode kromatografi kolom. Apabila resin telah mengikat jumlah ion yang sama dengan kapasitas maksimumnya maka resin tersebut dikatakan telah exchausted. Dalam keadaan demikian resin dapat dikembalikan ke keadaan semula dengan jalan menuangkan larutan asam yang agak pekat ke dalamnya sehingga terjadi reaksi kebalikan dari reaksi penukaran ion. Resin penukar anion dapat berupa ko-polimer stiren dan divinil benzen tetapi tidak mengandung gugusan-gugusan amin yang bersifat basa dengan resin penukar anion terjadi pengubahan yang jumlahnya ekuivalen (Tim Dosen, 2012).

Ada dua metode pada kromatografi kolom, yaitu : Metode Kering Pada metode kering, kolom diisi dengan fase diam kering. Diikuti dengan penambahan fase gerak yang disiramkan pada kolom sampai benar-benar basah. Metode Basah Pada metode basah, bubur (slurry) disiapkan dengan

mencampurkan eluen pada serbuk fase diam dan dimasukkan secara hatihati pada kolom. Dalam langkah in harus benar-benar hati-hati agar tidak ada gelembung udara. Larutan senyawa organik dipipet dibagian atas fase diam, kemudian eluen dituangkan pelan-pelan melewati kolom.

C. Hasil Praktikum
Botol 1 : 5 ml, larutan warna hitam pekat pada bagian bawah dan hitam kecoklatan pada bagian atas Botol 2 Botol 3 : 5 ml, larutan hitam kecoklatan : 5 ml, larutan hitam kecoklatan

D. Pembahasan
Kromatografi kolom adalah kromatografi yang menggunakan kolom sebagai alat untuk memisahkan komponen-komponen dalam campuran. Alat tersebut berupa pipa gelas yang dilengkapi suatu kran dibagian bawah kolom untuk mengendalikan aliran zat cair, ukuran kolom tergantung dari banyaknya zat yang akan dipindahkan. Secara umum perbandingan panjang dan diameter kolom sekitar 8:1 sedangkan daya penyerapnya adlah 25-30 kali berat bahan yang akan dipisahkan. Teknik banyak digunakan dalam pemisahan senyawa-senyawa organic dan konstituen-konstituen yang sukar menguap sedangkan untuk pemisahan jenis logan-logam atau senyawa anorganik jarang dipakai (Yazid, 2005, hal: 98). Adapun kelebihan dan kekurangan Kromatografi Kolom adalah sebagai berikut : Kelebihan: - Dapat digunakan untuk analisis dan aplikasi preparative - Digunakan untuk menentukan jumlah komponen campuran - Digunakan untuk memisahkan dan purifikasi substansi Kekurangan: Untuk mempersiapkan kolom dibutuhkan kemampuan teknik dan manual Metode ini sangat membutuhkan waktu yang lama (time consuming)

Pada praktikum kali ini digunakan n-heksan dan etil asetat sebagai eluen dan silika gel atau selulosa sebagai fase diam. Dimana silika gel dimasukan ke dalam kolo dan dipadatkan dengan bantuan batang pengaduk untuk menghindari adanya gelembung udara kemudian masukan eluen ke dalam kolom melewati dinding kolom sebanyak 15 ml. Setelah eluen membasahi silika gel, masukkan sampel ke dalam kolom sebanyak 10 ml. Sampel dan eluen akan membentuk dua lapisan dimana eluen berada paling atas dalam kolom, putar keran kolom dan sampel akan merambat melewati silika gel dan keluar melewati kran. Tampung sampel kedalam vial hingga mencapai 5 ml dan setiap satu vial menampung 5 ml larutan sampel dan eluen. Larutan ditampung sampai tidak ada lagi larutan campuran yang menetes pada kolom. Pada vial pertama didapatkan dua lapisan, bagian atas berwarna hitam dan bagian bawah berwarna hitam kecoklatan. Pada vial kedua didapat larutan hitam kecoklatan begitu juga pada vial ketiga. Masing-masing vial menmpung 5 ml larutan kecuali ketiga hanya menampung 1 ml larutan saja.

E. Kesimpulan
1. Kromatografi adalah suatu cara pemisahan dimana komponenkomponen yang akan dipisahkan didistribusikan dalam dua fase, yaitu : fase gerak dan fase diam. 2. Kromatografi Kolom adalah kromatografi yang menggunakan kolom sebagai alat untuk memisahkan komponen-komponen campuram. 3. Fase gerak cenderung melarutkan komponen campuran, sedangkan fase diam cenderung menahan komponen campuran. 4. Pada praktikum kali ini fase

F. Daftar Pustaka
- Alimin, dkk. Kimia Analitik. Makassar: Alauddin Press, 2007. - Clark, Jim. Ion Exchange. http://chem-is-try.org/diakses pada tanggal 14 Desember 2013. - Khopkar, SM. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI-Press, 2008. - Puspasari, Dian. Kamus Lengkap Kimia. Jakarta: Dwi Media Press, 2010. - Yazid, Estien. Kimia Fisika untuk Paramedis. Yogyakarta: Andi, 2005. - Hendayana, Sumar. Kimia Pemisahan. Bandung : PT. Remaja Roedakarya, 2006.