Anda di halaman 1dari 7

2.3 Emriologi 2.3.

1 pembentukan gonad Meskipun jenis kelamin mudigah ditentukan secara genetis pada saat pembuahan, gonad belum memperole karateristik morfologis pria atau wanita sampai minggu ke 7 perkembangan. Gonad mula-mula tampak sebagai sepasang hubungan longitudinal, genital atau gonadal ridge. Kedunya terbentuk oleh proliferasi epitel dan pemadatan mesenkim dibawahnya. Sel germinativum belum muncul di genital ridge sampai minggke 6 perkembangan.

Gambar 1 : A. Hubungan genital ridge dan mesonefros yang memperlihatkan lokasi duktus mesonefrikus. B. Potongan melintang melalui mesonefros dan genital ridge setinggi garis di A.

Sel germinaltivum primordial mula-mula muncul pada tahap awal perkembangan diantara sel-sel endoderm di dinding yolk sac di dekat alantois. Sel-sel ini bermigrasi dengan gerakan amuboid disempanjang mesentrium dorsal usus belakang, sampai di gonad primitif pada awal minggu ke 5 dan menginfasi genital ridge pada minggu ke 6. Jika sel-sel ini gagal mencapai bubungan genital ini, gonad tidak akan terbentuk. Karena itu, sel germinativum primordial memiiki pengaruh induktif pada perkembangan gonad menjadi ovarium atau testis.

Gambar 2 : A. Mudigah 3 minggu yang memperlihatkan sel germinativum primodial di dinding yolk sac dekat dengan pelekatan alantois B. Jalur migrasi sel germinativum primodial di sepanjang dinding usus belakang dan mesenterium dorsal menuju genital ridge. Sesaat sebelum dan setibanya sel-sel germinativum primordial, epitel genital ridge berproliferasi, dan sel-sel epitel menembus mesenkim dibawahnya. Disini sel-sel itu membentuk sejumlah korda berbentuk iregular, korda seks primitif. Pada mudigah pria dan wanita, korda ini berhubungan dengan epitel permukaan, dan gonad pria dan wanita mustahil dibedakan. Karena itu, gonad ini dikenal sebagai gonad indiferen.

Gambar 3 : Potongan melintang melalui regio lumbal pada mudigah 6 minggu yang memperlihatkan gonad indiferent dengan korda seks primitif. Sebagian sel germinativum primodial dikelilingi oleh seks korda primitif.

2.3.2 pembentukan testis Jika mudigah secara genetic adalah pria, sel germinativum primordial membawa kompleks kromosom seks primordial membawa kompleks kromosom seks XY. Di bawah

pengaruh gen SRY di kromosom Y, yang mengode testis determining factor, korda seks primitive terus berpoliferasi dan menembus dalam medulla untuk membentuk testis atau korda medularis. Ke arah hilus kelenjar, korda terurai menjadi jalinan untai-untai halus sel yang kemudian membentuk tebulus rete testis. Pada perkembangan lebih lanjut, terbentuk suatu lapisan jaringan ikat fibrosa padat, tunika albuginea yang memisahkan korda testis dari epitel permukaan.

Gambar 4 : pengaruh sel germinativum primordial pada gonad indiferen.

Gambar 5: A. Potongan melintang melalui testis pada minggu ke delapan, yang memperlihatkan tunika albugunea, korda testis, rete testis, dan sel germinativum primordial. Glomerulus dan kapsula bowman tubulus mesonefrikus ekskretorik mengalami defenerasi. B. Testis dan duktus genitalis pada bulak keempat. Korda testis berbentuk tapal kuda bersambungan dengan korda rete testis. Perhatikan duktuli eferentes yang masuk ke duktus mesonefrikus.

Pada bulan ke empat, korda testis menjadi berbentuk tapal kuda, dan ujung-ujungnya bersambungan dengan ujung-ujung rete testis. Korda seks sekarang terdiri dari sel germinativum primitive dan sel sustentakular Sertoli yang berasal dari epitel permukaan kelenjar. Sel interstisial leydig yang berasal dari mesenkim asli gonadal ridge, terletak antara korda-korda testis. Sel-sel ini mulai berkembang segera setelah dimulainya diferensiasi kordakorda ini. Pada minggu ke delapan kehamilan, sel Leydig mulai menghasilkan testosterone, dan testis mampu memngaruhi diferensiasi seksual duktus genitalis dan genetalia eksterna. Korda testis tetap solid sampai pubertas, saat korda ini memperoleh sebuah lumen sehingga membentuk tubulus seminiferus. Jika telah mengalami rekanalisasi, tubulus seminiferus menyatu dengan tubulus rete testis yang selanjutnya akan masuk ke duktuli eferentes. Duktus eferentes ini adalah bagian dari tubulus-tubulus eksretorik system mesomefros yang tersisa. Saluran-saluran ini menghubungkan rete testis dan duktus mesonefrikus atau wolfii yang menjadi duktus deferens. 2.3.3 penurunan testis Menjelang akhir bulan kedua, mesenterium urogenital melekatkan testis dan mesonefros ke dinding abdomen posterior. Dengan bedegenerasinya mesonefros, pelekatan tersebut berfungsi sebagai mesenterium bagi gonad. Di arah kaudal, mesenterium tersebut menjadi ligamentum dan dikenal sebagai ligamentum genital kaudal. Dari kutub kaudal testis juga terventuk pemadatan mesenkin yang kaya matriks ekstrasel, gubernakulum. Sebelum testis turun, pita mesenkim obllikuus internus abdominis dan muskulus oblikuus eksternus abdominis yang sedang berdiferensiasi. Kemudian, sewaktu testis mulai turun kea rah cincin inguinal, terbentuk bagian ekstra-abdomen dari gubernakulum yang rumbuh dari region inguinal kea rah penebalan skrotum. Ketika testis melalui kanallis inguinalis, bagian ekstra-abdomen ini bersentuhan dengan dasar skrotum. Factor-faktor yang mengendalikan turunnya testis belum sepenuhnya diketahui. Namun, tampaknya bahwa pertumbuhan keluar bagian ekstra-abdomen dari gubernakulum menimbulkan migrasi intra-abdomen, bahwa peningkatan tekanan intra-abdomen akibat pertumbuhan organ

menyebabkan testis bergerak melalui kanalis inguinalis, dan bahwa regresi bagian ekstraabdomen dari gubernakulum menuntaskan pergerakan testis ke dalam rongga skrotum. Pada keadaan normal, testis mencapai daerah inguinal pada usia kehamilan sekitar 12 minggu, bermigrasi melalui kanalis inguinalis pada 28 minggu, dan mencapai skrotum pada usia 33 minggu. Proses ini dipengaruhi oleh hormon, termaksud androgen dan MIS. Selama penurunan tersebut, aliran darah ke testis dari aorta di pertahankan, dan pembuluh darah testis berjalan dari posisi awalnya di daerah lumbal ke testis di skrotum. Peritoneum rongga abdomen, tanpa dipengaruhi oleh penurunan testis, membentuk suatu evaginasi di kedua sisi garis tengah ke dalam dinding abdomen ventral. Evaginasi ini, prosesus vaginalis, mengikuti perjalanan gubernakulum testis ke dalam penebalan skrotum. Karena itu prosesus vaginalis, disertai oleh lapisan otot dan fasia dinding tubuh, membentuk evaginasi ke dalam penebalan skrotum, membentuk kanalis inguinalis. Testis turun melalui cincin inguinal dan melewati tepi os pubis dan terdapat di skrotum saat lahir. Testis kemudian dirurupi oleh lipatan refleksi prosesus vaginalis. Lapisan peritoneum yang menurupi testis adalah lapisan visceral tunika vaginalis; sisa dari kantong peritoneum membentuk lapisan parietal tunika vaginalis. Saluran sempit yang menghubungkan lumen prosesus vaginalis dengan rongga peritoneum mengalami obliterasi saat lahir atau segera sesudahnya. Selain ditutupi oleh lapisan peritoneum yang berasal dari prosesus vaginalis, testis juga diselubungi oleh lapisan-lapisan yang berasal dari dinding abdomen anterior yang dilewatinya. Karena itu, fasia transversalis membentuk fasia spermatika interna, muskulus oblikuus internus avdominis menghasilkan fasiakremasterika dan muskulus kremaster, dan muskulus oblikuus eksternus abdominis membentuk fasia spermatika ekterna. Muskulus transverses abdomini tidak ikut membentuk lapisan, karena otot ini melengkung di regio ini dan tidak menutupi jalur migrasi.

Gambar 6 : Penurunan testis, A. Selama bulan ke dua, B. Pada pertengahan bulan ketiga. Peritoneum yang melapisi rongga tubuh mengalami evaginasi ke dalam penebalan skrotum, tempat lapisan ini membentuk prosesu vaginalis (tunika vaginalis). C. Pada bulan ketujuh. D.segera setelah lahir.