Anda di halaman 1dari 6

GROUP THINK THEORY (Irving Janis) Sejarah Perkembangan Groupthink Theory Bermula dari karyanya yang sangat ilmiah

Irving L. Janis (1972), yang termuat dalam bukunya Victims of Groupthink : A psychological Study for foreign Decision and Fiascoes. Dia menggunakan istilah groupthink untuk menunjukkan suatu model berpikir sekelompok orang yang bersifat kohesif. Dia mendefinisikan groupthink sebagai suatu metode berpikir yang diterapkan oleh orang-orang apabila mereka terlibat secara mendalam di dalam suatu kelompok yang kohesif, apabila para anggota ingin mencapai unamity sehingga menghilangkan motivasi mereka untuk menilai secara realistis rangkaian tindakan alternatif lainnya. Teori yang dikemukakan oleh Janis ini berangkat dari pemikiran kelompok. Yaitu sebuah hasil langsung terhadap kepaduan kelompok yang telah dibahas beberapa bagian oleh Kurt Lewin pada tahun 1930-an dan dilihat sebagai sebuah variable penting dalam keefektifan kelompok.

Dasar Pemikiran Groupthink Groupthink menurut Irvings Janis (1972) adalah, Istilah untuk keadaan ketika sebuah kelompok membuat keputusan yang tidak masuk akal untuk menolak anggapan/opini publik yang sudah nyata buktinya, dan memiliki nilai moral. Keputusan kelompok ini datang dari beberapa individu berpengaruh dalam kelompok yang irrasional, tetapi berhasil mempengaruhi kelompok menjadi keputusan kelompok. Groupthink mempengaruhi kelompok dengan melakukan aksi-aksi yang tidak masuk akal dan tidak memperdulikan pendapat-pendapat yang bertentangan diluar kelompok. Kelompok yang terkena sindrom groupthink biasanya adalah kelompok yang anggota-anggotanya memiliki background yang sama, terasing (tidak menyatu, terisolir) dari pendapat-pendapat luar, dan tidak ada aturan yang jelas tentang proses pengambilan keputusan. Pengertian Groupthink Theory Groupthink adalah jenis pemikiran yang ditunjukkan oleh anggota kelompok yang berusaha untuk meminimalkan konflik dan mencapai konsensus tanpa pengujian secara kritis, analisis yang tepat, dan mengevaluasi ide-ide dari luar kelompok. Kreativitas individu, keunikan, dan cara berpikir yang independen menjadi hilang karena mengejar kekompakan kelompok. Dalam kasus groupthink, anggota kelompok menghindari untuk megutarakan sudut pandang pribadi di luar zona konsensus berpikir kelompoknya. Motif ini dilakukan anggota kelompok agar tidak terlihat bodoh, atau keinginan untuk menghindari konflik dengan anggota lain dalam kelompok. Groupthink dapat menyebabkan suatu kelompok membuat keputusan secara tergesa-gesa dan membuat keputusan yang tidak rasional. Dalam groupthink, pendapat individu disisihkan karena dikhawatirkan dapat mengganggu keseimbangan kelompok. Kohesivitas Kelompok Sebagai Dasar Pembentuk dari Groupthink Theory Kohesi kelompok didefinisikan sebagai kekuatan yang mendorong anggota kelompok untuk tetap tinggal dalam kelompok, dan mencegahnya meninggalkan kelompok (Collins dan Raven,1964). Pada kelompok kohesif para anggota terikat kuat dengan kelompoknya, maka mereka menjadi mudah melakukan konformitas. Semakin kohesif sebuah kelompok, semakin mudah anggotanya tunduk pada norma kelompok. Bettingushaus (1973) menunjukkan beberapa implikasi komunikasi dalam kelompok yang kohesif : 1. Karena pada kelompok kohesif, devian (orang yang menentang) akan ditentang dengan keras, komunikator akan dengan mudah berhasil memperoleh dukungan kelompok jika gagasannya sesuai dengan mayoritas anggota kelompok. Sebaliknya, ia akan gagal jika ia menjadi satu-satunya devian dalam kelompok. 2. Pada umumnya, kelompok yang lebih kohesif lebih mungkin dipengaruhi persuasi. Ada tekanan ke arah uniformitas dalam pendapat, keyakinan, dan tindakan. 3. Komunikasi dengan kelompok yang kohesif harus memperhitungkan distribusi komunikasi di antara anggotaanggota kelompok. Anggota biasanya bersedia berdiskusi dengan bebas sehingga saling pengertian akan mudah diperoleh. Saling pengertian membantu tercapainya perubahan sikap. 4. Di dalam pesan terkadang terdapat ancaman kepada kelompok. Kelompok yang lebih kohesif akan lebih cenderung menolak pesan dari pihak luar dibandingkan dengan kelompok yang tingkat kohesifitasnya rendah.

5. Dalam hubungannya dengan pernyataan di atas, komunikator dapat meningkatkan kohesifitas kelompok agar kelompok mampu menolak pesan yang bertentangan. Dalam kasus groupthink theory tingkat kohesivitas kelompok sudah sangat tinggi sehingga menganngap bahwa kelompoknya-lah yang paling benar dan mengacuhkan pendapat kelompok lain. Serta suara mayoritas tidak lagi menjadi pertimbangan untuk membuat keputusan kelompok. Kelompok yang kohesif jauh lebih mungkin untuk terlibat dalam groupthink. Groupthink akan terjadi apabila kohesivitas tinggi dan kecenderungan untuk mencari konsensus dalam kelompok-kelompok yang memiliki ikatan erat akan mengakibatkan mereka mengambil keputusankeputusan yang inferior. Kelompok-kelompok sering sekali tidak mendiskusikan semua pilihan yang sebenarnya dapat dipertimbangkan. Serta kelompok sangat selektif dalam menangani informasi. DESY Groupthink Sebagai Konesekuensi dari Kohesi Kelompok Anggota kelompok yang kohesif lebih siap untuk berpartisipasi dalam pertemuan-pertemuan kelompok. Mereka lebih setuju terhadap tujuan kelompok, lebih siap menerima tugas-tugas dan peranan serta lebih menaati norma-norma kelompok. Mereka juga memelihara dan mempertahankan norma-norma serta menolak orang lain yang merasa tidak sesuai dengan norma kelompok. Kelompok yang kohesif memiliki anggota yang loyal terhadap kelompok, mempunyai rasa tanggung jawab kelompok, mempunyai motivasi tinggi untuk melaksanakan tugas kelompok dan merasa puas atas pekerjaan kelompok. Ciri-ciri tersebut dapat menyebabkan meningkatnya keterikatan antara anggota kelompok. Selanjutnya anggota kelompok tersebut lebih sering berkomunikasi dan komunikasinya lebih efektif dibandingan kelompok yang kohesinya rendah. Kelompok yang kohesinya tingi pada tingkat lanjutan akan membentuk groupthink pada pengambilan keputusan kelompoknya. Asumsi Groupthink Theory Groupthink adalah sebuah teori yang terkait dengan komunikasi kelompok kecil. Kelompok-kelompok kecil merupakan bagian dari fenomena hampir setiap segmen masyarakat dunia dan khusunya Amerika Serikat. Bahkan, Marshall Scott Poole (1998) berpendapat bahwa kelompok kecil harus 'menjadi' unit dasar analisis. Janis memfokuskan karyanya pada pemecahan masalah yang berorientasi pada kelompok dan tugas kelompok, yang tujuan utamanya adalah untuk membuat keputusan dan memberikan rekomendasi kebijakan. Pengambilan keputusan adalah bagian penting dari kelompok-kelompok kecil ini. Kegiatan lain dari kelompok-kelompok kecil mencakup berbagi informasi, bersosialisasi, berhubungan dengan orang-orang dan kelompok-kelompok di luar kelompok, mendidik anggota baru, menentukan peran, dan bercerita (Frey & Sunwolf, 2005; Poole & Hirokawa. 1996). Dengan pikiran itu, kita dapat membagi tiga asumsi kritis yang membimbing teori ini, yaitu : 1. Kondisi dalam kelompok kohesivitas tinggi. Asumsi pertama groupthink berkaitan dengan karakteristik kehidupan kelompok kohesif. Suatu Kondisi di dalam kelompok yang memiliki kohesivitas tinggi. Ernest Bormann (1996) mengamati bahwa anggota kelompok sering memiliki sentimen atau emosional, dan sebagai akibatnya mereka cenderung mempertahankan identitas kelompok. Pemikiran kolektif ini biasanya jaminan bahwa suatu kelompok akan menjadi menyenangkan dan mungkin sangat kohesif. 2. Kelompok pemecahan masalah pada dasarnya merupakan suatu proses terpadu. Asumsi kedua diteliti pada proses pemecahan masalah dalam kelompok kecil: Ini biasanya merupakan usaha yang terpadu. Dengan ini, berarti bahwa orang tidak cenderung untuk mengganggu dalam pengambilan keputusan kelompok. Anggota kelompok pada dasarnya berusaha untuk menghindari konflik. Suatu kelompok yang terdapat gejala groupthink menghindar dari penyebab-penyebab konflik. Misalnya, anggota kelompok menghindari perbedaan pendirian dan perbedaan perasaan antara individu, anggota kelompok menghindari perbedaan kepribadian di antara mereka yang disebabkan oleh adanya perbedaan latar belakang kebudayaan, anggota kelompok menghindari perbedaan kepentingan individu atau kelompok, anggota kelompok mengindari perubahan-perubahan sosial yang cepat dalam masyarakat karena adanya perubahan nilai atau sistem yang berlaku. 3. Kelompok-kelompok dan pengambilan keputusan kelompok sering sekali kompleks. Asumsi ketiga menekankan pada sifat pemecahan masalah dalam kelompok yang kompleks. Marvin Shaw (1981) dan Janet Fulk dan Joseph Mc Grath (2005) mendiskusikan isu-isu tambahan yang berkaitan dengan kompleksitas suatu kelompok. Mereka mencatat bahwa berbagai pengaruh pada sebuah kelompok

kecil. Misalnya anggota kelompok usia, sifat kompetitif anggota kelompok, ukuran kelompok, kecerdasan anggota kelompok, komposisi jenis kelamin kelompok, dan gaya kepemimpinan yang muncul dalam kelompok. Selanjutnya, latar belakang budaya masing-masing anggota kelompok dapat mempengaruhi proses kelompok. Misalnya, karena banyak budaya tidak menempatkan premi pada komunikasi terbuka dan ekspresif, beberapa anggota kelompok dapat menahan diri dari perdebatan atau dialog. Perbedaan pengalaman dan perbedaan rujukan inilah yang mengakibatkan pengambilan keputusan dalam suatu kelompok sangat kompleks. Penyebab Groupthink Istilah groupthink, yang diciptakan oleh psikolog sosial Irving Janis (1972), dapat terjadi ketika sebuah kelompok membuat keputusan yang salah karena tekanan kelompok yang sangat kohesif mengarah ke penurunan "efisiensi mental, realitas pengujian, dan pertimbangan moral". Groupthink juga cenderung merendahkan pendapat kelompok lain. Kelompok-kelompok yang dipengaruhi oleh groupthink akan mengabaikan alternatif-alternatif lain dan cenderung mengambil tindakan yang men-dehumanisasi kelompok lain. Menurut Janis, kohesi kelompok hanya akan menimbulkan groupthink jika salah satu dari berikut dua kondisi anteseden hadir, yaitu : Structural errors in the organization: insulation of the group, lack of tradition of impartial leadership, lack of norms requiring methodological procedures, homogeneity of social background and ideology. Provocation situational context: high stress from external threats, failure recently, the excessive difficulty in decision-making task, moral dilemmas.

Dalam bahasa yang lebih mudah, suatu kelompok sangat rentan terhadap groupthink apabila : Anggota dari suatu kelompok memiliki latar belakang dan pengalaman yang berdekatan. Janis (1982) mencatat bahwa kurangnya ''perbedaan dalam latar belakang sosial dan ideologi di antara para anggota kelompok kohesif akan memudahkan bagi mereka untuk setuju pada apa pun proposal yang diajukan oleh pemimpin ". Suatu kelompok tersebut terisolasi dari opini-opini dunia luar. Apabila tidak ada aturan mengenai kejelasan dalam pengambilan keputusan kelompok. Jika dalam suatu kelompok tidak ada sistem yang mengatur perihal bagaimana keputusan dibuat, maka akibatnya keputusan yang akan diambil menjadi keputusan yang masih mentah tanpa mempertimbangkan dan mengevaluasi ide-ide lain.

Dalam konteks situasional : Stres tinggi dari faktor eksternal. Contohnya, dosen memberikan tugas pada kelompok A yang sangat sulit hanya dalam tempo satu minggu. Dan tugas tersebut berpengaruh 40% dari nilai akhir. Namun, dalam kenyataannya kelompok A menjadi bekerja di bawah tekanan karena tuntutan tugas tersebut. Walhasil apapun idenya asalkan dapat menyelesaikan tugas ini tepat waktu akan diambil tanpa menimbang metode pengerjaannya dan cara-cara yang benar. Kegagalan. Kesulitan yang berlebihan pada pengambilan keputusan. Dilemma moral.

Gejala Groupthink Janis (1982) mengamati tentang gejala-geajala dari groupthink. Tanda-tanda atau gejala bagi kelompok yang mengalami groupthink, diantaranya : a) Kelompok Overtimation Sebuah kelompok overtimation termasuk pada perilaku orang-orang yang menunjukkan kelompok percaya. Dua gejala spesifik ada dalam kategori ini Ilusi Kekebalan dan Percaya Pada Moralitas Yang Melekat Pada Kelompok. Illusion of invulnerability (Anggapan bahwa kelompok kebal)

Kelompok yakin bahwa pengambilan keputusannya tidak perlu dipertanyakan, yang menciptakan optimisme berlebihan dan dorongan untuk mengambil risiko yang ekstrim. Suatu sikap dimana segala sesuatu akan berlangsung baik karena merasa dalam kelompok yang khusus. Belief in inherent group (Percaya Pada Moralitas Yang Melekat) Percaya pada moralitas yang melekat dalam kelompok yang sedang terpengaruh groupthink, para anggota akan secara otomatis mengasumsikan bahwa pandangan mereka selalu benar. Hal ini membuat para angota cenderung mengabaikan konsekuensi-konsekuensi moral dan etika dari keputusan-keputusan yang mereka buat. b) Closed-minded Ketika sebuah kelompok close-minded atau tertutup, maka kelompok akan mengabaikan pengaruh luar pada kelompok. Kedua gejala dibahas oleh Janis dalam kategori ini adalah Stereotip Rasionalisasi Outgroups dan kolektif Outgroups Stereotype. Rasionalisasi Kolektif Suatu cara bepikir yang menolak setiap pandangan yang berbeda tanpa mengevaluasinya secara memadai dan menyeluruh. Usaha-usaha ini akan mendorong kelompok untuk mengabaikan peringatan-peringatan yang apabila tidak diabaikan kemungkinan akan mendorong mereka untuk mempertimbangkan kembali asumsi-asumsi mereka, sebelum mereka memutuskan untuk berkomitmen kembali ke keputusan-keputusan kebijaksanaan semula. Out-Group Stereotype Membuat asumsi-asumsi sederhana dan belum tentu benar mengena orang-orang yang bukan anggota kelompok. Sikap outgroup selalu ditandai dengan suatu kelainan yang berwujud antagonis atau antipati. c) Pressures Toward Uniformity Tekanan terhadap keseragaman pengaruhnya dapat sangat besar untuk beberapa kelompok. Janis percaya bahwa kelompok yang selalu bersama dapat menetapkan diri mereka menjadi kelompok yang menganut groupthink. Keempat gejala pada kategori ini adalah Self Cencorship, Ilusi Kebulatan Suara, Self Appointed Mindguards, dan Direct Pressure on Dissenters. Self Cencorship Individu-individu dalam kelompok menekan setiap keraguan-keraguan yang mereka rasakan mengenai pemikiran kelompok. Para anggota cenderung menghilangkan penyimpangan dari konsensus, dan berusaha meminimumkan signifikasi dari keraguan-keraguan mereka dan argumenargumen yang bertentangan. Illusion of Unanimity Para anggota kelompok memiliki pemahaman yang salah mengenai kelompok, yaitu mereka menganggap kelompok sebagai unanimous (semua anggota memiliki pandangan yang sama). Karena adanya self cencorship, para anggota membagi keyakinan bahwa ada unanimous dalam pertimbanganpertimbangan mereka; tidak memberikan suara dianggap konsensus. Direct Pressure on Dissenters (Tekanan Langsung Pada Anggota Yang Menolak) Para anggota kelompok dibujuk untuk tidak mnentang pemikiran kelompok. Kepada orang-orang yang membuat argumen-argumen kuat yang menentang stereotype, ilusi, atau komitmen kelompok akan disampaikan tantangan berupa sanksi; anggota yang loyal akan selalu sependapat dengan mayoritas kelompok. Self appointed Minguards Mindguards berarti melindungi pemimpin dari gagasan yang salah. Para anggota kelompok melindungi kelompok dari informasi yang buruk dan mengancam berlangsungnya dinamika kelompok. Penanggulangan Masalah dalam Groupthink Theory Janis yakin dapat menemukan jawaban dari masalah groupthink dengan mengikuti langkah-langkah ini : a) Mendorong semua orang untuk menjadi evaluator kritis dan menunjukkan diri mereka kapan pun mereka hadir. b) Tidak memiliki pemimpin yang menyatakan sebuah pilihan di muka umum. c) Menyusun pembuatan kebijakan kelompok yang independen dan terpisah. d) Membagi kelompok ke dalam kelompok-kelompok kecil.

e) f) g) h) i)

Membahas apa yang sedang terjadi di dunia luar dengan yang lainnya di luar kelompok. Mengundang orang luar kelompok ke dalam kelompok untuk memberikan ide-ide segar. Menilai individu setiap kali ada pertemuan kelompok. Melihat tanda-tanda peringatan pada persoalan yang menimpa kelompok. Memegang prinsip cek dan ricek untuk mempertimbangkan kembali keputusan sebelum mengakhirinya.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam penanggulangan masalah dari groupthink adalah menciptakan kelompok yang efektif dari segi pengambilan keputusan. Kelompok yang efektif dapat menghasilkan keputusan dengan kualitas baik. Keputusan yang dihasilkan merupakan produk kesepakatan anggota-anggota kelompok untuk melakukan sesuatu dan biasanya merupakan hasil pemilihan dari beberapa kemungkinan yang berbeda. Pencegahan pada Groupthink Adapun cara untuk mencegah groupthink, diantaranya: 1. Dibutuhkan adanya supervisi dan kontrol (membentuk komite parlementer) Mengembangkan sumber daya untuk memonitor proses pembuatan kebijakan. Memberi dukungan akan adanya intervensi. Mengaitkan kepentingan nasib dengan nasib anggota lain. 2. Mendukung adanya pelaporan kecurangan (suarakan keraguan) Hindari penekanan kekhawatiran pada keputusan kelompok. Terus tidak sepakat dan memperdebatkan ketika tidak ada jawaban yang memuaskan. Pertanyakan asumsi. 3. Mengizinkan adanya keberatan (lindungi conscientious objectors) Berikan jalan keluar bagi para anggota kelompok. Jangan menganggap remeh implikasi moral dari sebuah tindakan. Dengarkan kekhawatiran pribadi anggota akan isu-isu etis di kelompok. 4. Menyeimbangkan konsensus dan suara terbanyak (mengubah pilihan pengaturan peraturan) Kurangi tekanan kepada anggota kelompok yang berada pada posisi minoritas. Mencegah terjadinya sub-kelompok (peer group). 5. Memperkenalkan pendekatan yang mendukung banyak pendapat dalam pengambilan keputusan kelompok. RICAD Contoh kasus: Contoh kasus groupthink adalah keputusan presiden Soekarno untuk melakukan konfrontasi Ganyang Malaysia tahun 1964. Pada tanggal 29 Agustus 1964, Kuala Lumpur dan London menumumkan pembentukan Malaysia. Bung Karno langsung menanggapi nya dengan mengambil garis keras. Menurutnya, pembentukan negara Malaysia melanggar tiga hal: tidak demokratis, bertentangan dnegan KTT Manila, dan bertentangan dnegan resolusi dekolonisasi PBB. Bung Karno kemudian mengumumkan ganyang Malaysia dengan mencanangkan Dwikora (Dwi Komando Rakyat), yaitu: pertinggi pertahanan revolusi Indonesia dan bantu perjuangan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, Serawak, dan Sabah menghancurkan Malaysia. Maka, dimulailah aksi-aksi infiltrasi ABRI dan sukarelawansukarelawan ke semenanjung Malaya dan bagian utara Borneo. Pada waktu itu beberapa elemen dalam pemerintahan termasuk para petinggi Angkatan Darat tidak setuju dengan ide Soekarno itu. Beberapa perwira ABRI menilai konfrontasi dengan Malaysia hanya akan menghabiskan anggaran belanja ABRI. Sementara situasi perekonomian dalam negeri sangat sulit. Beni Moerdani, perwira penanggungjawab pengiriman infiltran, mengatakan bahwa program Ganyang Malaysia tidak begitu menguntungkan bagi Indonesia dilihat dari faktor kesiapan tempur dan keadaan ekonomi Indonesia; beberapa perwira tinggi ABRI tahu benar kenyataan itu. Tapi, siapa yang berani melawan keinginan Soekarno? Sosok yang begitu berpengaruh di pelosok negeri, yang setiap berpidato sanggup membangkitkan semangat juang seluruh rakyat. Seluruh petinggi negara saat itu begitu terpukau dengan kredibilitas Soekarno, sang pemimpin besar revolusi. Mengungkapkan sedikit ketidaksetujuannya terhadap pendapat Bung Karno sama saja dengan menghadapi sejuta pendukung setianya yang sangat loyal. Bisa-bisa dianggap sebagai penghianat revolusi. Di sinilah, lingkaran dekat Soekarno (para penasihat, petinggi militer, menteri dan para Waperdam-Wakil Perdana Menteri) termakan oleh groupthink. Diskusi-diskusi mereka yang langsung dipimpin oleh Soekarno dilandasi oleh suatu derajat kepaduan dan esprit de corps yang tinggi sehingga melumpuhkan pemikiran-pemikiran dan

perbedaan pendapat yang kritis. Kehadiran tentara Indonesia di Malaysia (dimulai dengan infiltrasi) diharapkan dapat menumbuhkan semangat juang penduduk Serawak, Singapura, dan Malaya untuk melawan Inggris sehingga dapat mencegah terbentuknya federasi Malaysia. Tapi nyatanya misi itu gagal.