Anda di halaman 1dari 5

KEBIJAKAN FISKAL

KEMAL AHMAD RIDLA MEGAWATI REZA ADYTIO PRATIWI PERMATA K ZEPHANIA NOVIA

1206254605 1206212962 1206246515 1206273876 1206273825

Kebijakan fiskal muncul dan berkembang karena instrumen kebijakan moneter tidak mampu lagi mengatasi berbagai masalah pengeluaran dan penerimaan negara yang mengalami kontraksi tajam, yang ditimbulkan oleh deflasi atau inflasi, kebijakan fiskal menekankan pada pendapatan dan pengeluaran belanja pemerintah. Kebijakan tersebut diwujudkan melalui (1) kebijakan pendapatan negara; (2) kebijakan belanja negara; dan (3) kebijakan defisit dan pembiayaan anggaran. Pengelolaan kebijakan fiskal yang sehat dan berkesinambungan diharapkan dapat menjaga sentimen positif para pelaku pasar dan mendorong peningkatan efisiensi dan efektivitas belanja negara sehingga memberikan dampak multiplier yang positif bagi perekonomian nasional. Kebijakan pendapatan negara pada tahun 2014 diarahkan dalam optimalisasi penerimaan pajak dan penerimaan negara bukan pajak. Selain itu juga dilakukan pengoptimalisasian dalam bidang penerimaan sumber daya alam (SDA) migas dan kebijakan dibidang deviden Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dalam pengoptimalan dari sisi kebijakan perpajakan ada langkah serta kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah yaitu 1. penyempurnaan peraturan perpajakan untuk lebih memberi kepastian hukum serta perlakuan yang adil dan wajar; 2. penyempurnaan kebijakan insentif perpajakan untuk mendukung iklim usaha dan investasi;

3. penyempurnaan sistem administrasi perpajakan untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak; 4. perluasan basis pajak dan penyesuaian tarif; serta 5. penguatan penegakan hukum bagi penyelundup pajak (tax evation). Pada saat ini peningkatan pendapatan negara tinggi pada sektor perpajakan. Penerimaan perpajakan pada tahun 2013 sebesar 1.497,5 triliun rupiah dan pada tahun 2014 meningkat menjadi 1.661,1 triliun rupiah. Dari segi perpajakan yang semakin ditingkatkan tiap tahunnya merupakan solusi dari menurunnya pendapatan migas yang mengalami penurunan dari 2012 sebesar 205,8 triliun rupiah menjadi 180,6 triliun rupiah pada tahun 2013. Hal demikian tentu dapat diprediksi, sebab penerimaan negara dari sektor migas tentu mendapat batasan dari segi kuantitas sumber daya alam yang dimiliki, yang dari tahun ke tahun mengalami penurunan kuantitas dengan pasti dan juga disebabkan oleh beberapa faktor lainnya yaitu, harga minyak mentah internasional,kurs atau nilai tukar rupiah terhadap dolar, cost recovery, lifing minyak bumi di Indonesia. Adapun kendala atau tantangan dalam pengoptimalisasi PNBP migas antara lain : adanya penurunan alamiah produksi migas (dice line) yang dapat mempengaruhi lifting minyak, masih tingginya biaya cost recovery, dan adanya gangguan pada fasilitas produksi yang berakibat pada aktivitas produksi. Sedangkan dari sektor pajak, penerimaan negara ditentukan oleh sistem perpajakan yang dianut suatu negara, meliputi basis pemajakan, tarif pajak, dan lain-lain. Dengan demikian, penerimaan dari sektor pajak masih dapat terus ditingkatkan dengan melakukan rekayasa sistem perpajakan, artinya sistem perpajakan yang ada harus dapat memungut pajak secara optimal. Tax ratio yang adadi Indonesia masih berkisar di angka 12% menandakan bahwa potensi penerimaan negara dari pajak masih sangat besar. Hal ini dikarenakan dengan tax ratio yang hanya 12% sudah hampir menutupi pengeluaran negara, bisa dibayangkan jika tax ratio sudah berada pada angka 20% saja, dapat diambil kesimpulan pengeluaran negara dapat tertutupi melalui penerimaan negara sektor pajak. Namun optimalisasi penerimaan dari sektor pajak bukanlah solusi yang steril dari timbulnya masalah-masalah baru. Salah satu langkah yang diambil pemerintah dalam rangka optimalisasi penerimaan pajak adalah perluasan basis pemajakan. Keputusan tersebut memberikan dampak pada semakin berkurangnya penghasilan warga negara yang dapat diinvestasikan (net save) dikarenakan semakin banyaknya bidang yang dipajaki. Dengan

demikian, ada kemungkinan terjadi distorsi pendapatan masyarakat karena bertambahnya basis pajak dan berkurangnya penghasilan yang dapat ditabung membuat berkurang pula daya beli masyarakat. Anggaran belanja pemerintah pada dasarnya selalu mengalami kenaikan tiap tahunnya, kenaikan ini merupakan kebijakan yang ditujukan untuk pertumbuhan ekonomi seperti yang dikatakan oleh Alvin Havsen bahwa untuk mencapai stabilitas ekonomi perlu dilakukannya peningkatan pengeluaran pemerintah. Ini sejalan dengan pokok-pokok kebijakan fiskal pada tahun 2014 yang salah satunya adalah kebijakan belanja Negara. Poin-poin dari kebijakan belanja Negara ini (1) mendukung terjaganya pertumbuhan ekonomi pada level yang cukup tinggi (pro growth); (2) meningkatkan produktivitas dalam kerangka perluasan kesempatan kerja (pro job); (3) meningkatkan dan memperluas program pengentasan kemiskinan (pro poor); dan (4) mendukung pembangunan yang berwawasan lingkungan (pro environment). Selain meningkatkan anggaran belanja pemerintah juga harus berkomitmen untuk meningkatkan kualitas belanja (quality of spending) dengan melakukan peningkatan efisiensi dan efektivitas belanja Negara melalui perbaikan struktur belanja negara agar menjadi lebih produktif serta efisien dalam mendukung pencapaian target secara optimal. Dalam anggaran belanja pemerintah tahun 2014, belanja pemerintah untuk fungsi ekonomi lebih banyak mengalami penurunan anggaran misalnya pada tahun 2013 anggaran untuk perdagangan, pengembangan usaha, koperasi dan UKM sebesar 3,7 triliun sedangkan pada tahun 2014 menurun menjadi 2,5 triliun. Anggaran untuk tenaga kerja juga megalami penurunan, tahun 2013 sebesar 2,3 triliun menjadi 1,6 triliun pada tahun 2014 dengan asumsi bahwa sector perekonomian di Indonesia sudah mulai stabil sehingga pemerintah tidak perlu menggarkan belanja terlalu besar untuk sector ekonomi. Sebaliknya anggaran belanja pemerintah untuk fungsi sosial meningkat dari tahun 2013 ke tahun 2014 anggaran untuk fungsi sosial meningkat terutama dalam bidang perlindungan anak-anak dan keluarga. Sebagian belanja untuk fungsi sosial memang ada yang menurun misalnya perlindungan untuk orang sakit dan lansia, hal ini berkaitan dengan dijalankannya program Sistem Jaminan Sosial Nasional. Beberapa kebijakan yang ditempuh untuk meningkatkan efisiensi di antaranya adalah (1) efisiensi subsidi BBM melalui pengendalian konsumsi BBM bersubsidi, peningkatan program konversi BBM, program pembangunan/pengembangan gas kota, dan pemakaian bahan bakar nabati (BBN); (2) efisiensi belanja perjalanan dinas, seminar, dan konsinyering; serta (3)

penerapan kebijakan flat policy belanja barang operasional. Sementara itu, peningkatan efektivitas dilakukan dengan memperbesar alokasi belanja yang produktif dan mengendalikan belanja yang bersifat konsumtif. Dalam rangka peningkatan efektivitas, Pemerintah terus berkomitmen meningkatkan alokasi belanja produktif untuk pembangunan infrastruktur dalam rangka meningkatkan daya saing dan kapasitas produksi. Melalui peningkatan produktivitas diharapkan dapat menciptakan nilai tambah (value added), meningkatkan kapasitas perekonomian, dan perluasan kesempatan kerja yang pada gilirannya dapat mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat. Kebijakan defisit lahir dengan tujuan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik melalui serangkaian program dan kegiatan Pemerintah. Penurunan rasio modal disebabkan oleh defisit yang bersumber dari tingginya biaya kebijakan moneter untuk mencapai kondisi ekonomi makro yang stabil.

Contoh kasus: terjadinya penurunan impor yang tidak secepat ekspor mengakibatkan terjadinya defisit neraca perdagangan, dan defisit neraca perdagangan disebabkan oleh adanya tekanan defisit pada neraca perdagangan komoditi minyak dan gas (migas). Pertumbuhan ekonomi yang berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan mendorong kenaikan konsumsi BBM domestik yang akhirnya berdampak pada kebutuhan impor BBM yang tinggi. Pada saat bersamaan, produksi migas tengah mengalami penurunan akibat sumur-sumur minyak yang kurang produktif. Rupiah kian melemah akibat situasi ini dan menjadi latar belakang kebijakan penyesuaian harga BBM bersubsidi.

Pengetahuan akan defisit negara sangatlah penting sebab Negara perlu menjaga rasio defisit guna mempertimbangkan penetuan anggaran terkait kegiatan prioritas Negara. Rasio defisit krusial bagi pembiayaan anggaran karena keterkaitannya dengan pembiayaan utang. Pembiayaan utang dimaksud secara umum memanfaatkan dua instrumen yaitu surat berharga negara (SBN) atau pinjaman, dan bisa bersumber baik dari dalam negara maupun luar negeri. Pemerintah menempuh kebijakan defisit anggaran dalam rangka menjaga momentum pertumbuhan ekonomi melalui pemberian stimulus fiskal secara terukur. Kesinambungan fiskal hanya dapat terjaga stabilitasnya jika mampu mencapai target defisit. Perubahan signifikan dalam kondisi perekonomian cenderung menimbulkan potensi defisit APBN yang sangat tinggi.

Dengan demikian, kebijakan untuk mengekspansi defisit diberlakukan guna menampung dampak perubahan asumsi dasar ekonomi makro, penurunan pendapatan negara, dan kebutuhan belanja negara. JIkalau realisasi defisit melebihi target defisit yang telah ditetapkan dalam APBN maka risiko fiskal meningkat drastis dan harus dicarikan sumber pembiayaannya. Risiko fiskal dapat diproyeksi dalam bentuk analisis sensitivitas parsial dan simultan terhadap angka baseline defisit dalam APBN. Analisis digunakan untuk melihat dampak perubahan atas satu variabel asumsi ekonomi makro, dengan mengasumsikan variabel asumsi ekonomi makro yang lain tidak berubah (ceteris paribus). Kebijakan defisit diambil pemerintah sebagai upaya menghindari terjadinya anggaran yang collapse akibat defisit Negara yang berlebihan.