Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Pencemaran terhadap air permukaan sering juga terjadi karena kelalaian industri sehingga limbah yang tidak terolah dan/atau bahan baku proses produksi terlepas dalam jumlah besar ke badan air. Kelalaian tersebut dapat saja terjadi dalam proses produksi atau dalam proses pengangkutan di luar lokasi industri. Sungai terkadang digunakan sebagai tempat pembuangan limbah, namun sering dimanfaatkan sebagai air irigasi bagi persawahan di bagian hilirnya. Seperti terjadi di Sub DAS itarik, pihak industri atau pabrik di wilayah Kabupaten Sumedang membuang limbahnya ke sungau ihideung dan sungau ikijing yang merupakan sumber air irigasi bagi persawahan di Kabupaten !andung. Para petani di kawasan tersebut melaporkan beberapa kali menanam padi dalam setahun tanpa mendapatkan hasil atau hasilnya sangat minim "Abdurachman et al., #$$$ dalam Suganda dkk, #$$#%. Kawasan industri tekstil di sepanjang jalan raya &ancaekek' icalengka, dikembangkan sejak tahun ()*+. Pengembangan kawasan industri di lahan sawah produktif ternyata kurang tepat. Selain mengurangi luas lahan sawah, limbahnya berdampak mencemari ekosistem sawah. Pembuangan limbah industri ke badan air sungai dapat menurunkan produkti,itas lahan sawah dan kualitas hasil tanaman karena air sungai yang tercemar tersebut digunakan sebagai sumber air pengairan "Suganda, #$$#%. -enurut .ahyunto dkk. "#$$(% dalam Pertiwi "#$($%, antara tahun ()/) sampai #$$$, lahan sawah di Sub DAS itarik menyusut dari )./*0 ha "1/,*2% menjadi ).#3$ ha "10,32%. 4ahan sawah ini telah dikon,ersi ke penggunaan non5 pertanian seperti perkotaan dan kawasan industri. Salah satu dampak negatif alih fungsi lahan sawah untuk kawasan industri adalah terjadinya pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh limbah industri.

Penentuan kapasitas asimilasi sangat penting sebagai bahan masukan pengambilan kebijakan pengendalian pencemaran air "4ee et al. #$$+ dalam kartika #$(#%. Kapasitas asimilasi didefinisikan sebagai kemampuan badan air dalam menerima beban pencemar, tanpa menyebabkan terjadinya penurunan kualitas air yang ditetapkan sesuai peruntukannya "6uano, ())1 dalam Kartika #$(#%

1.2 Rumusan Masalah Dengan berkembangnya kawasan industri tekstil di sepanjang jalan raya &ancaekek' icalengka sejak tahun ()*+ di lahan sawah produktif menyebabkan berbagai dampak negatif seperti mengurangi luas lahan sawah, limbahnya juga berdampak mencemari ekosistem sawah dan lahan5lahan pertanian khususnya di badan sungai itarik. Pembuangan limbah industri ke badan air sungai itarik tersebut menyebabkan penurunan produkti,itas lahan sawah dan kualitas hasil tanaman karena air sungai yang tercemar tersebut digunakan sebagai sumber air pengairan.

1.3 Tujuan Penul san Diharapkan pembaca dapat memahami menganalisis masalah5masalah pencemaran khususnya pencemaran air di sungai itarik, icalengka yang mengakibatkan pencemaran pada lahan sawah dan pertanian di daerah tersebut.

1.! Met"#e Penul san -etode penulisan yang digunakan dalam menulis makalah ini ialah metode studi kasus yang ditulis secara deskriptif berdasarkan berbagai sumber pustaka "studi pustaka%.

BAB II TIN$AUAN PU%TA&A

2.1 &a'as tas As m las Kapasitas asimilasi didefinisikan sebagai kemampuan badan air dalam menerima beban pencemar, tanpa menyebabkan terjadinya penurunan kualitas air yang ditetapkan sesuai peruntukannya "6uano, ())1 dalam kapasitas, #$(#%. Kapasitas asimilasi atau kapasitas homeostatis merupakan kemampuan badan air dalam menetralisir atau membersihkan sendiri "self purification% terhadap beban pencemar sampai kondisi tidak tercemar. Sungai dikatakan berada dalam kondisi tercemar, apabila mengalami perubahan karakteristik fisik, kimia dan biologi . Perubahan karakteristik disebabkan adanya tekanan ekologis yang berkaitan dengan fungsi sungai sebagai badan air penerima limbah. Pada awalnya limbah yang masuk ke sungai dapat secara alami dinetralisir sampai pada kondisi tidak tercemar . 7amun apabila konsentrasi limbah yang masuk lebih besar daripada kemampuan sungai dalam menetralisir lmbah, maka akan terjadi pencemaran. !ahan pencemar "polutan% dapat berupa gas, bahan5bahan terlarut, dan partikulat. Pencemar memasuki badan air dengan berbagai cara, misalnya melalui atmosfer, tanah, limpasan " run off% pertanian, limbah domestik dan perkotaan, pembuangan limbah industri, dan lain5 lain "8ffendi, #$$1 dalam kartika #$(#%. 2.2 Met"#e Penentuan N la &a'as tas As m las -etode yang digunakan untuk menentukan nilai kapasitas asimilasi dikemukakan oleh 6uano "())1% dalam kartika "#$(#%, sebagai berikut 9 Metode hubungan antara kualitas air dan beban pencemaran

Kapasitas asimilasi ditentukan dengan cara memplotkan nilai5nilai kualitas air suatu perairan pada kurun waktu tertentu dengan beban pencemaran dalam suatu grafik. Selanjutnya direferensikan dengan nilai baku mutu air kelas :: Peraturan Pemerintah no +# tahun #$$(. Metode arus bermuatan partikel Kapasitas asimilasi ditentukan dengan cara membandingkan konsentrasi limbah dengan konsentrasi air sungai yang menerima limbah, dengan memperhitungkan kecepatan aliran, perbedaan konsentrasi dan debit sungai. Metode penurunan oksigen dari streeter dan phelps Kapasitas asimilasi ditentukan dengan cara mengamati pengurangan nilai oksigen terlarut. ;aktor yang diperhitungkan dalam metode ini antara lain waktu perjalanan limbah di sungai. Kapasitas asimilasi juga merupakan kemampuan sungai dalam menerima bahan organik bersifat mudah terurai secara biologis "biodegradable% yang banyak membutuhkan oksigen untuk proses dekomposisi, sehingga menurunkan kadar oksigen dalam badan air. Sungai mampu melakukan asimilasi penambahan oksigen dari atmosfer melalui proses reaerasi sehingga kandungan oksigen terlarut dalam perairan mencukupi untuk kehidupan organisme.

BAB III PEMBAHA%AN 3.1 &"n# s (e"gra) s %unga * tar k Secara geografis sungai itarik terletak pada posisi / $ 3)< 4S 5 *$ (+< 4S

dan ($*$ 1$< != 5 ($*$ 0*< != dan secara hidrologis berada dalam satuan wilayah pengelolaan "S.P% DAS itarum >ulu. Sungai itarik termasuk dalam kawasan Sub DAS itarik yang bermuara ke sungai itarum.Anak5anak sungai yang mengalir ke sungai ini dari arah ?tara itarik >ulu, sungai sungai ikijing, sungai dan itaraju, sungai ibedah. sungai iburaleng, ibodas, sungai "Sumedang% yaitu9 sungau imande, Sungai ikijing, sungai

imande dan sungai

ibodas merupakan sungai5sungai ijalupang, sungai iburial. Sungai5sungai

utama saluran pembuanganlimbah cair pabrik. Dari arah =imur5Selatan, sungai5 sungai yang bermuara ke sungai iwirama, sungai ikopo, sungai itarik yaitu sungai igentur, dan sungai ijalupang.

yang mengalir dari arah ini umumnya sedikit digunakan sebagai saluran pembuangan limbah kecuali sungai 3.2 Peruntukan %unga * tar k Pemanfaatan lahan di DAS yang merupakan kawasan lindung. =abel penggunaan laha di DAS itarik itarik terbesar adalah sebagai kawasan

budidaya pertanian yaitu untuk sawah irigasi dan tegalan, hanya sebagian kecil

3.3 Permasalahan # %unga * tar k Permasalahan yang terdapat di sungai itarik adalah permasalahan limbah yang mencemari areal persawahan dan pertanian. !erdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Suganda dkk. "#$$#%, di Sub5DAS itarik, khususnya sentra produksi padi di Kabupaten !andung dan Kabupaten Sumedang, total area persawahan yang tercemar aliran limbah pabrik tekstil langsung seluas @ (.#(0 haA terkena limbah saat banjir lebih dari satu minggu seluas #03 haA terkena limbah saat banjir kurang dari satu minggu seluas 3*3 haA dan lahan tergenang banjir bulanan "Desember sampai -ei% seluas 0#$ ha. >al ini mengakibatkan hasil gabah pada lahan sawah yang terkena limbah pabrik tekstil berkurang antara ( sampai (,0 t/ha/panen dan kerugian di daerah ini dapat mencapai &p. #.31 sampai &p. 1./0 milyar/tahun 3.! Bahan Pen+emar %unga * tar k -enurut 7ursyamsi, dkk "#$$(%, bahan pencemar yang terdapat di sungai citarik adalah nitrat, sulfat dan ammonia. =abel Kadar nnitrat, ammonium dan sulfat air dari berbagai sumber Sub DAS itarik =ipe Penggunaan 4ahan Sub Das itarik9 Sumur sekitar persawahan Sumur sekitar tegalan Sumur sekitar kebun 7itrat "mg/4% 3,/( ($,1( *,*) Amonium "mg/4% 1,(+ $,#$ $,$# Sulfat "mg/4% (*,/ +,1* (,03

campuran Sumur sekitar hutan Sungai

$,)3 #,3/

$,(+ (,$/

$,)/ 3#,)

N trat Kadar nitrat dari sumber air di lahan sawah Sub DAS itarik hanya 3,/(

mg/4, lebih rendah daripada yang di lahan kering "tegalan dan kebun campuran masing5masing ($,/( dan *,*) mg/4%. Sawah mempunyai lapisan kedap air sehingga tingkat pencucian hara rendah atau bahkan nihil. Selain itu kondisi sawah yang tergenang air mengakibatkan nilai 8h turun sehingga nitrat berubah menjadi gas 7#B dan 7# melalui proses denitrifikasi. Sistem hutan mempunyai kadar nitrat dalam air paling rendah. Sumber pencemar 7 di hutan relatif rendah sehingga kadar nitrat pada sumber5sumber air di hutan juga rendah. Permenkes 7o.93(/ -87K8S/:C/())$ disebutkan bahwa kadar maksimum nitrat dan nitrit yang diperbolehkan dalam air bersih masing5masing adalah #$mg/l dan (mg/l. Dika kadar 7itrat di tanah berlebihan, akan mengakibatkan9 -enghasilkan tunas muda yang lembek / lemah dan ,egetatif Kurang menghasilkan biji dan biji5bijian -enperlambat pemasakan / penuaan buah dan biji5bijian -engasamkan reaksi tanah, menurunkan P> tanah, dan merugikan tanaman, sebab akan mengikat unsur hara lain, sehingga akan sulit diserap tanaman. Am"n um Kadar amonium dari sumber air di lahan sawah Sub DAS itarik yakni

1,(+ mg/4, lebih tinggi daripada di lahan kering "tegalan, kebun campuran, dan hutan masing5masing $,#$, $,$# dan $,(+ mg/4%. Kondisi sawah yang selalu tergenang air dan relatif statis mengakibatkan nilai 8h turun atau kondisi lingkungan reduktif. Pada kondisi ini amonium relatif stabil dan proses nitrifikasi yang menghasilkan nitrat juga tertekan karena ketersediaan oksigen yang rendah..

Sumber pencemar 7 di hutan relatif sedikit sehingga polusi amonium pada sumber5sumber air di hutan juga rendah. Kadar amonium dalam air sungai baik di Sub DAS itarik termasuk rendah. >al ini menunjukkan bahwa polusi amonium di sumber5sumber air baik di kedua DAS tergolong tidak serius. (,0 mg/4. Dika kadar Amonium berlebihan , sosok tanaman bongsor tetapi rentan terhadap serangan penyakit.

%ul)at Kadar sulfat dari sumber air di lahan sawah Sub DAS itarik "(*,/ mg/4% lebih tinggi daripada di lahan kering "tegalan, kebun campuran, dan hutan masing5 masing +,1*, (,03, dan $,)/ mg/4%. Data tersebut menunjukkan bahwa polusi sulfat lebih banyak terjadi di lahan sawah daripada di lahan kering. Sumber pencemar sulfat di lahan pertanian umumnya berasal dari pupuk EA. Dengan demikian maka dapat diduga bahwa penggunaan pupuk EA di lahan sawah lebih intensif daripada di lahan kering. 7amun demikian secara keseluruhan, polusi sulfat pada lahan pertanian tergolong tidak termasuk serius. Seperti halnya nitrat dan amonium sistem hutan di Sub DAS itarik

mempunyai kadar sulfat dalam air paling rendah. Sumber pencemar S di hutan relatif sedikit sehingga polusi sulfat pada sumber5sumber air di hutan juga rendah. Kadar sulfat dalam air sungai di Sub DAS itarik termasuk tinggi "sebesar 3#,) mg/4%. >al ini menunjukkan bahwa polusi sulfat dalam air sungai di Sub DAS itarik perlu mendapat perhatian. Sumber pencemar sulfat di sungai bukan hanya berasal dari lahan pertanian, melainkan juga berasal dari limbah industri. !atas kadar maksimum #0$ mg/4. Dika kadar sulfat berlebihan, akan menunjukkan gejala daun5daun berguguran lebih cepat, bahkan daun bisa kering dan tanaman layu 3., &a'as tas As m las %unga * tar k

Salah satu cara menentukan kapasitas asimilasi adalah dengan cara mengamati pengurangan nilai oksigen terlarut. Kehadiran oksigen terlarut "DBA Dissol,ed BFygen% di dalam badan air sungai, merupakan indikator kesehatan badan air sungai, semakin tingggi kandungan DB semakin sehat sungai tersebut. Kualitas air sungai itarik " itarum >ulu% telah ditetapkan baku mutu yang kandungan oksigen terlarutnya "DB% itarik sampai saat ini, masih kurang dari baku

peruntukannya, yaitu golongan demikian kondisi DB air Sungai ".angsaatmadja, #$$*%.

disyaratkan G 1,$ mg/l "S.K. Hubernur Dawa !arat 7o.1+ =ahun ())(%. 7amun mutu yang berlaku bahkan di beberapa ruas konsentrasi DB5nya $ mg/l

!elum berhasilnya perbaikan konsentrasi DB tersebut, karena hingga sampai saat ini belum diketahui kemampuan pulih5diri DB dalam mencukupi kebutuhan oksigen untuk oksidasi materil pencemar dari luar badan air sungai. Kemampuan pulih5sendiri DB air sungai dipengaruhi oleh adanya pengenceran DB air sungai dari anak5anak sungainya, kemampuan reaerasi sungai, kebutuhan DB untuk oksidasi karbon organik dan nitrogen an5organik di air sungai, laju peluruhan karbon organik dan nitrogen an5organik dan kebutuhan oksigen sedimen sungai. >asil penelitian >arsono "#$($% menunjukkan kemampuan pulih5diri DB air Sungai itarik pada kondisi beban karbon organik dan nitrogen anorganik seperti saat penelitian dilakukan tergolong rendah dan sulit ditingkatkan. -emperhatikan besarnya beban karbon organik dan nitrogen anorganik dari air limbah industri dan penduduk yang berakti,itas di Sub DAS itarik dan hasil dari pengambilan contoh air yang telah dilakukan dalam penelitian ini dengan kondisi lengkung DB alami air Sungai itarik hasil simulasi. -aka dapat dikatakan beban tersebut terlalu berat "over-load% bila dibandingkan dengan kemampuan pulih sendiri DB alami Sungai itarik. Demikian juga dengan hasil simulasi itarum peningkatan konsentrasi DB air dan penurunan konsentrasi nitrogen anorganik influen, penurunan laju nitrifikasi nitrogen anorganik pada air Sungai >ulu serta pembersihan sedimen dasar masih tidak dapat meningkatkan kemampuan pilih5diri sungai tersebut. Bksidasi aerobik dari material karbon

organik dan nitrogen anorganik yang hadir di dalam badan air sungai, merupakan pengguna utama DB yang ada di dalam air sungai. Sehingga dapat dikatakan, apabila material tersebut tidak hadir maka DB air sungai mendekati kondisi alaminya.

BAB IPENUTUP !.1 &es m'ulan Kapasitas asimilasi atau kapasitas homeostatis merupakan kemampuan badan air dalam menetralisir atau membersihkan sendiri "self purification% terhadap beban pencemar sampai kondisi tidak tercemar. Kapasitas asimilasi juga merupakan kemampuan sungai dalam menerima bahan organik bersifat mudah terurai secara biologis "biodegradable% yang banyak membutuhkan oksigen untuk proses dekomposisi, sehingga menurunkan kadar oksigen dalam badan air. Salah satu metode untuk menentukan kapasitas asimilasi adalah dengan cara mengamati pengurangan nilai oksigen terlarut. Kemampuan pulih5diri DB air Sungai itarik pada kondisi beban karbon

organik dan nitrogen anorganik seperti saat penelitian dilakukan tergolong rendah dan sulit ditingkatkan, sehingga dapat dikatakan kapasitas asimilasi Sungai itarik termasuk rendah. &endahnya nilai kapasitas asimilasi menyatakan bahwa tingkat pencemaran di Sungai itarik tinggi, sehingga diperlukan upaya untuk perbaikan badan sungai. Salah satu upaya untuk perbaikan DB air Sungai Prokasih "Program Kali !ersih% dan meningkatkan reaerasi sungai. itarik adalah

10

DA.TAR PU%TA&A

Kartika. #$(#. Pollution !urden Analysis and Assimilation http9//repository.ipb.ac.id/handle/(#130/*+)/0*++(

apacity of idurian

&i,er !anten Pro,ince. !ogor9 &epository :P!. Diakses melalui 9

Pertiwi, Andarani. #$($. P&B;:4 P87 8-A&A7 4BHA- !8&A= " u,

r,

DA7 En% PADA A:& P8&-?KAA7 DA7 S8D:-87 D: S8K:=A& :7D?S=&: =8KS=:4 P= C "S?7HA: :K:D:7H%. Program Studi =eknik 4ingkungan ;=S4 :=!. Suganda, >usein, dkk. #$$#. 8IA4?AS: P87 8-A&A7 4:-!A> :7D?S=&: =8KS=:4 ?7=?K K848S=A&:A7 4A>A7 SA.A>. !ogor9 !alai Penelitian =anah >arsono, 8ko. #$($. 8,aluasi Kemampuan Pulih Diri Bksigen =erlarut Sungai itarum >ulu. Durnal 4imnotek Perairan Darat =ropis di :ndonesia, Puslit 4imnologi54:P: (*"(%9 (*51/ .angsaatmadja, S., #$$*, 8,aluasi Kebijakan Pengendalian Pencemaran Sungai itarum >ulu -elalui Pendekatan Daerah Aliran Sungai =erpadu, D. :nfrastruktur dan 4ingkungan !inaan, 1"#%, /+ ' *).

11