Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR I KALORIMETER DAN KAPASITAS KALOR JENIS

Nama NIM Kelompok Dosen

: Putu Yuliantari : 1108105040 :V : Ida Bagus Alit Paramarta, S.Si., M.Si 0908205006 0908205008 0908205012 0908205019

Asisten Dosen : Ni made Indah Suwandewi I Gede Astina Declarossy Natalia Sinaga Gelys Annisa Nindri

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM 2011

I.

TUJUAN PERCOBAAN 1. Mempelajari cara kerja calorimeter 2. Menentukan alor lebur es 3. Menentukan kalor jenis berbagai logam

II.

DASAR TEORI Kalorimetri adalah ilmu dalam pengukuran panas dari reaksi kimia atau perubahan fisik. Kalorimetri termasuk penggunaan calorimeter. Kata kalorimetri berasal dari bahasa Latin yaitu calor, yang berarti panas. Kalorimetri tidak langsung (indirect calorimetry) menghitung panas pada makhluk hidup yang memproduksi karbondioksida dan buangan nitrogen (ammonia, untuk organisme perairan, urea, untuk organisme darat) atau konsumsi oksigen. Lavosier (1780) mengatakan bahwa produksi panas dapat diperkirakan dari konsumsi oksigen dengan menggunakan regresi acak. Hal itu membenarkan teori energi dinamik. Pengeluaran panas oleh makhluk hidup juga dapat dihitung oleh perhitungan kalorimetri langsung (direct calorymetry), dimana makhluk hidup ditempatkan didalam kalorimeter untuk dilakukan pengukuran Jika benda atau system diisolasi dari alam, maka temperatur harus tetap konstan. Jika energi masuk atau keluar, temperatur akan berubah. Energi akan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya yang disebut dengan panas dan kalorimetri mengukur perubahan suhu tersebut, bersamaan dengan kapasitas panasnya, untuk menghitung perpindahan panas. Kalorimetri adalah pengukuran panas secara kuantitatif yang masuk selama proses kimia. Kalorimeter adalah alat untuk mengukur panas dari reaksi yang dikeluarkan. Berikut adalah gambar calorimeter yang kompleks dan yang sederhana. Kalorimetri adalah pengukuran kuantitas perubahan panas. Sebagai contoh, jika energi dari reaksi kimia eksotermal diserap air, perubahan suhu dalam air akan mengukur jumlah panas yang ditambahkan. Kalorimeter digunakan untuk menghitung energi dari makanan

dengan membakar makanan dalam atmosfer dan mengukur jumlah energi yang meningkat dalam suhu kalorimeter. Bahan yang masuk kedalam kalorimetri digambarkan sebagai volume air, sumber panas yang dicirikan sebagai massa air dan wadah atau kalorimeter dengan massanya dan panas spesifik. Keseimbangan panas diasumsikan setelah percobaan perubahan suhu digunakan untuk menghitung energi tercapai. Kalor didefinisikan sebagai energi panas yang dimiliki oleh suatu zat. Secara umum untuk mendeteksi adanya kalor yang dimiliki oleh suatu benda yaitu dengan mengukur suhu benda tersebut. Jika suhunya tinggi maka kalor yang dikandung oleh benda sangat besar, begitu juga sebaliknya jika suhunya rendah maka kalor yang dikandung sedikit. Dari hasil percobaan yang sering dilakukan besar kecilnya kalor yang dibutuhkan suatu benda(zat) bergantung pada 3 faktor : massa zat, jenis zat (kalor jenis), perubahan suhu Sehingga secara matematis dapat dirumuskan : Q = m.c.(t2 t1) Kalor dapat dibagi menjadi 2 jenis

Kalor yang digunakan untuk menaikkan suhu Kalor yang digunakan untuk mengubah wujud (kalor laten), persamaan yang

digunakan dalam kalor laten ada dua macam Q = m.U dan Q = m.L. Dengan U adalah kalor uap (J/kg) dan L adalah kalor lebur (J/kg) Dalam pembahasan kalor ada dua kosep yang hampir sama tetapi berbeda yaitu kapasitas kalor (H) dan kalor jenis (c) Kapasitas kalor adalah banyaknya kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu benda sebesar 1 derajat celcius.

H = Q/(t2-t1) Kalor jenis adalah banyaknya kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu 1 kg zat sebesar 1 derajat celcius. Alat yang digunakan untuk menentukan besar kalor jenis adalah kalorimeter. c = Q/m.(t2-t1) Bila kedua persamaan tersebut dihubungkan maka terbentuk persamaan baru H = m.c Kalor merupakan bentuk energi maka dapat berubah dari satu bentuk kebentuk yang lain. Berdasarkan Hukum Kekekalan Energi maka energi listrik dapat berubah menjadi energi kalor dan juga sebaliknya energi kalor dapat berubah menjadi energi listrik. Dalam pembahasan ini hanya akan diulas tentang hubungan energi listrik dengan energi kalor. Alat yang digunakan mengubah energi listrik menjadi energi kalor adalah ketel listrik, pemanas listrik, dll. Besarnya energi listrik yang diubah atau diserap sama dengan besar kalor yang dihasilkan. Sehingga secara matematis dapat dirumuskan. W=Q Untuk menghitung energi listrik digunakan persamaan sebagai berikut : W = P.t Keterangan : W adalah energi listrik (J) P adalah daya listrik (W) t adalah waktu yang diperlukan (s)

Bila rumus kalor yang digunakan adalah Q = m.c.(t2 t1) maka diperoleh persamaan ; P.t = m.c.(t2 t1) Yang perlu diperhatikan adalah rumus Q disini dapat berubah-ubah sesuai dengan soal. Kalor jenis (c) = banyaknya kalor (Q) yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu (T) satu satuan massa (m) benda sebesar satu derajat. Secara matematis, kalor jenis dinyatakan melalui persamaan di bawah : Keterangan : c = kalor jenis Q = kalor (J) m = massa benda (Kg) delta T = perubahan suhu = suhu akhir (T2) suhu awal (T1). Satuannya K (J = Joule, K = Kelvin) Satuan kalor jenis benda (c) Kita bisa menurunkan satuan Kalor Jenis dengan mengoprek persamaan kalor jenis : Satuan Sistem Internasional untuk kalor jenis benda adalah J/Kg.K Kapasitas kalor (C) = banyaknya kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu seluruh benda sebesar satu derajat. Dengan demikian, benda yang mempunyai massa m dan kalor jenis c mempunyai kapasitas kalor sebesar: C = mc

Keterangan : C = kapasitas kalor m = massa benda (Kg) c = kalor jenis (J/Kg.K) Untuk menurunkan satuan kapasitas kalor (C), kita oprek saja persamaan kapasitas kalor (C) di atas : Satuan Sistem Internasional untuk kapasitas kalor benda = J/K (J = Joule, K = Kelvin) Catatan : Pertama, skala celcius dan skala Kelvin mempunyai interval yang sama. Karenanya selain menggunakan Co, kita juga bisa menggunakan K. Mengenai hal ini sudah gurumuda jelaskan pada pokok bahasan Termometer dan Skala suhu (bagian terakhir). Kedua, kkal bisa diubah menjadi Joule menggunakan tara kalor mekanik (tuh di atas) Setiap sistem atau zat mempunyai energi yang tersimpan didalamnya. Energi potensial berkaitan dengan wujud zat, volume, dan tekanan. Energi kinetik ditimbulkan karena atom atom dan molekul molekul dalam zat bergerak secara acak. Jumlah total dari semua bentuk energi itu disebut entalpi (H) . Entalpi akan tetap konstan selama tidak ada energi yang masuk atau keluar dari zat. .Misalnya entalpi untuk air dapat ditulis H H20 (l) dan untuk es ditulis H H20 (s). Entalpi (H) suatu zat ditentukan oleh jumlah energi dan semua bentuk energi yang dimiliki zat yang jumlahnya tidak dapat diukur. Perubahan kalor atau entalpi yang terjadi selama proses penerimaan atau pelepasan kalor dinyatakan dengan perubahan

entalpi (H) . Misalnya pada perubahan es menjadi air, maka dapat ditulis sebagai berikut: H = H H20 (l) -H H20 (s) Harga entalpi zat sebenarnya tidak dapat ditentukan atau diukur. Tetapi H dapat ditentukan dengan cara mengukur jumlah kalor yang diserap sistem. Misalnya pada perubahan es menjadi air, yaitu 89 kalori/gram. Pada perubahan es menjadi air, H adalah positif, karena entalpi hasil perubahan, entalpi air lebih besar dari pada entalpi es. Termokimia merupakan bagian dari ilmu kimia yang mempelajariyang menyertai suatu reaksi. Pada perubahan kimia selalu terjadi perubahan entalpi. Besarnya perubahan entalpi adalah sama besar dengan selisih antara entalpi hasil reaksi dam jumlah entalpi pereaksi. Pada reaksi endoterm, entalpi sesudah reaksi menjadi lebih besar, sehingga H positif. Sedangkan pada reaksi eksoterm, entalpi sesudah reaksi menjadi lebih kecil, sehingga H negatif. Perubahan entalpi pada suatu reaksi disebut kalor reaksi. Kalor reaksi untuk reaksi-reaksi yang khas disebut dengan nama yang khas pula, misalnya kalor pembentukan,kalor penguraian, kalor pembakaran, kalor pelarutan dan sebagainya. Suatu reaksi kimia dapat dipandang sebagai suatu sistem yang terdiri dari dua bagian yang berbeda, yaitu pereaksi dan hasil reaksi atau produk. Perhatikan suatu reaksi yang berlangsung pada sistem tertutup dengan volume tetap (V = 0), maka sistem tidak melakukan kerja, w = 0. Jika kalor reaksi pada volume tetap dinyatakan dengan qv , maka persamaan hukum termodinamika dapat ditulis: U = qv + 0 = qv = q reaksi q reaksi disebut sebagai kalor reaksi. Hal ini berarti bahwa semua perubahan energi yang menyertai reaksi akan muncul sebagai kalor. Misal: suatu reaksi eksoterm mempunyai perubahan energi dalam sebesar 100 kJ. Jika reaksi itu berlangsung dengan volume tetap, maka jumlah kalor yang dibebaskan adalah 100 kJ.

Kebanyakan reaksi kimia berlangsung dalam sistem terbuka dengan tekanan tetap (tekanan atmosfir). Maka sistem mungkin melakukan atau menerima kerja tekanan volume, w = 0). Oleh karena itu kalor reaksi pada tekanan tetap dinyatakan dengan qp , maka hukum I termodinamika dapat ditulis sebagai berikut:

U = qp + w atau qp = U w = q reaksi Untuk menyatakan kalor reaksi yang berlangsung pada tekanan tetap, para ahli mendefinisikan suatu besaran termodinamika yaitu entalpi (heat content) dengan lambang H. Entalpi didefinisikan sebagai jumlah energi dalam dengan perkalian tekanan dan volume sistem, yang dapat dinyatakan: H=U+PV Reaksi kimia termasuk proses isotermal, dan bila dilakukan di udara terbuka maka kalor reaksi dapat dinyatakan sebagai: qp = H Jadi, kalor reaksi yang berlangsung pada tekanan tetap sama dengan perubahan entalpi. Oleh karena sebagian besar reaksi berlangsung pada tekanan tetap, yaitu tekanan atmosfir, maka kalor reaksi selalu dinyatakan sebagai perubahan entalpi (H). Akibatnya, kalor dapat dihitung dari perubahan entalpi reaksi, dan perubahan entalpi reaksi yang menyertai suatu reaksi hanya ditentukan oleh keadaan awal (reaktan) dan keadaan akhir (produk). q = H reaksi = Hp-Hr Contoh: Suatu reaksi berlangsung pada volume tetap disertai penyerapan kalor sebanyak 200 kJ. Tentukan nilai U , H, q dan w reaksi itu Jawab: Sistem menyerap kalor sebanyak 200 kJ , berarti q = + 200 kJ Reaksi berlangsung pada volume tetap , maka w = 0 kJ. U = q + w = + 200 kJ + 0 kJ = 200 kJ H = q = + 200 kJ Entalpi = H = Kalor reaksi pada tekanan tetap = Qp Perubahan entalpi adalah perubahan energi yang menyertai peristiwa perubahan kimia pada tekanan tetap.

a. Pemutusan ikatan membutuhkan energi (= endoterm) Contoh: H2 2H - a kJ ; DH= +akJ b. Pembentukan ikatan memberikan energi (= eksoterm) Contoh: 2H H2 + a kJ ; DH = -a kJ Asas Black Menurut asas Black apabila ada dua benda yang suhunya berbeda kemudian disatukan atau dicampur maka akan terjadi aliran kalor dari benda yang bersuhu tinggi menuju benda yang bersuhu rendah. Aliran ini akan berhenti sampai terjadi keseimbangan termal (suhu kedua benda sama). Secara matematis dapat dirumuskan : Q lepas = Q terima Yang melepas kalor adalah benda yang suhunya tinggi dan yang menerima kalor adalah benda yang bersuhu rendah. Bila persamaan tersebut dijabarkan maka akan diperoleh : Q lepas = Q terima m1.c1.(t1 ta) = m2.c2.(ta-t2) Catatan yang harus selalu diingat jika menggunakan asasa Black adalah pada benda yang bersuhu tinggi digunakan (t1 ta) dan untuk benda yang bersuhu rendah digunakan (ta-t2). Dan rumus kalor yang digunakan tidak selalu yang ada diatas bergantung pada soal yang dikerjakan. Asas ini menjabarkan:

Jika dua buah benda yang berbeda yang suhunya dicampurkan, benda yang panas memberi kalor pada benda yang dingin sehingga suhu akhirnya sama

Jumlah kalor yang diserap benda dingin sama dengan jumlah kalor yang dilepas benda panas

Benda yang didinginkan melepas kalor yang sama besar dengan kalor yang diserap bila dipanaskan Bunyi Asas Black adalah sebagai berikut: "Pada pencampuran dua zat, banyaknya kalor yang dilepas zat yang suhunya lebih

tinggi sama dengan banyaknya kalor yang diterima zat yang suhunya lebih rendah" Secara umum rumus Asas Black adalah

Qlepas = Qterima

Keterangan: Qlepas adalah jumlah kalor yang dilepas oleh zat Qterima adalah jumlah kalor yang diterima oleh zat dan rumus berikut adalah penjabaran dari rumus diatas : (M1 X C1) (T1-Ta) = (M2 X C2) (Ta-T2)

Keterangan : M1 = Massa benda yang mempunyai tingkat temperatur lebih tinggi C1 = Kalor jenis benda yang mempunyai tingkat temperatur lebih tinggi T1 = Temperatur benda yang mempunyai tingkat temperatur lebih tinggi Ta = Temperatur akhir pencampuran kedua benda M2 = Massa benda yang mempunyai tingkat temperatur lebih rendah

C2 = Kalor jenis benda yang mempunyai tingkat temperatur lebih rendah T2 = Temperatur benda yang mempunyai tingkat temperatur lebih rendah

Catatan : Pada pencampuran antara dua zat, sesungguhnya terdapat kalor yang hilang ke lingkungan sekitar. Misalnya, wadah pencampuran akan menyerap kalor sebesar hasil kali antara massa, kalor jenis dan kenaikan suhu wadah. III. PERALATAN 1. 1 kalorimeter 2. 1 butiran tembaga 3. 2 termometer -10oC ~ 100oC 4. 1 steam generator 5. 1 pemanas 6. 1 beaker glass 7. 1 statif 8. 1 timbangan

IV.

PROSEDUR PERCOBAAN A. Pengukuran Harga Air Kalorimeter 1. 2. 3. 4. Kalorimeter kosong dan pengaduknya ditimbang. Massa air dicatat setelah kalorimeter diisi setengah bagian. Kalorimeter yang berisi dimasukkan ke dalam selubung luarnya. Ditambahkan air mendidih sampai kira-kira tiga per empat bagian (suhu air mendidih dicatat). 5. 6. Suhu kesetimbangan dicatat. Kalorimeter ditimbang kembali.

B. Pengukuran Kalor Lebur Es 1. 2. Kalorimeter kosong dan pengaduk ditimbang. Kalorimeter diisi dengan air setengah bagian, kemudian ditimbang lagi.

3.

Kalorimeter dimasukkan ke dalam selubung luarnya dan suhu kalorimeter mula-mula dicatat.

4.

Potongan es dimasukkan ke dalam kalorimeter kemudian ditutup serta diaduk.

5. 6.

Suhu kesetimbangan dicatat. Kalorimeter ditimbang kembali.

C. Pengukuran Kapasitas Kalor Jenis Logam 1. Keping-keping logam yang telah ditimbang dimasukkan ke dalam rongga Bunsen dan dipanaskan. 2. 3. Kalorimeter dan pengaduknya ditimbang. Kalorimeter dan pengaduknya ditimbang setelah diisi air kira-kira tiga per empat bagian. 4. 5. 6. Kalorimeter dimasukkan ke dalam selubung luarnya dan dicatat suhunya. Suhu keping logam dicatat. Keping-keping loogam tersebut dimasukkan ke dalam kalorimeter dan dicatat suhu setimbangnya. 7. Langkah 1 sampai 6 diulangi lagi untuk logam yang lain.

V.

HASIL PENGAMATAN 5.1 Pengukuran harga air kalorimeter No. Massa yang ditimbang 1 185 Pengukuran ke (gram) 2 184 3 183 4 185 5 185,5

Kalorimeter kosong + pengaduknya

Air bagian kalorimeter

144,5

143,5

144,6

144,1

144,8

Air pada bagian kalorimeter

197

197

198,1

197,1

197,3

5.2 Pengukuran kalor lebur es No. Massa yang ditimbang 1 185 Pengukuran ke (gram) 2 184 3 183 4 185 5 185,5

Kalorimeter kosong + pengaduknya

Air bagian kalorimeter

144,5

143,5

144,6

144,1

144,8

Air setelah ditambah es

398

398,5

398,2

398,3

399

5.3 Pengukuran kapasitas kalor jenis logam No. Massa yang ditimbang 1 185 Pengukuran ke (gram) 2 184 3 183 4 185 5 185,5

Kalorimeter kosong + pengaduknya

Kepingan-kepingan logam

32,5

33

32,8

33

32,7

Air bagian kalorimeter + pengaduknya

382

382,5

383,5

385,1

383

Air + kalorimeter + pengaduk + logam

414,5

415,5

416,3

418,1

415,7

VI.

HASIL DAN ANALISI a. Perhitungan i. Pengukuran Harga Air Kalorimeter 1.Massa kalorimeter kosong + pengaduknya ( )

2.Massa air bagian kalorimeter ( )

3.Air mendidih pada bagian calorimeter ( )

4.Temperatur a. Suhu air mula-mula = 29oC b.Suhu air mendidih = 73oC

c. Suhu kesetimbangan = 39oC 5.Kalor jenis kalorimeter ; Q1 = Q2 Qair + Qk = Qair mendidih m1.c1.t1 + mk.ck.t1 = m2.c2.t2 144,3.1.(39-29) + 184,5.ck.(39-29) = 197,3.1.(73-39) 1443 + 1845 ck = 6708,2

3288 ck = 6708,2 ck = 2,04 kal/groC Harga air kalorimeter ; NA = ck x mk = 2,04 x 184,5 = 376,38 kal/groC ii. Pengukuran kalor lebur es 1.Massa kalorimeter kosong + pengaduknya ( )

2.Massa air bagian kalorimeter ( )

3.Massa air setelah ditambah es ( )

4. Temperatur a. Suhu air mula-mula = 29oC b.Suhu es = 1o C

c. Suhu kesetimbangan = 7oC 5.Massa es batu (m2)

= 398,4 -184,5 144,3 mes = 69,6 gram ces = 0,5 kal/groC Qes = m.c.t = 69,6 . 0,5 . (29-7)oC = 34,8 . 22oC = 765,6 kalori Qes = mes . Les

iii. Pengukuran Kapasitas Kalor Jenis Logam 1.Massa kalorimeter kosong + pengaduknya ( )

2. Massa kepingan-kepingan logam ( )

3. Massa air kalorimeter + pengaduknya (

4.Massa air + kalorimeter + pengaduknya + logam (

5.Massa air mula-mula (m2) ( ) gram 6. Temperatur a. Suhu air mula-mula = 29oC b.Suhu kepingan logam= 90oC c. Suhu kesetimbangan = 37oC 7.Kalor jenis logam (clogam) Q terima = Qlepas m1.c1.t1 = m2.c2.t2

Karena panas yang dilepas logam diserap oleh calorimeter, maka ; ck = c2.NA

sehingga
( )

( ( ( ( )( ) )

)( )

C 6.2.Ralat kebenaran Kalorimeter C 2,04 11 5,3

C
,16 6,1 6,1

C C
-4,06 4,9 -0,8
2

(C C ) 2

16,4 24,01 0,64 13,68

(C C )

(c c )
n(n 1)

13,68 1,50 6

C C 6,1 1,50

Ralat nisbi =

C 1,50 .100 % .100 % 0,2% 6,1 C

Ralat Kebenaran = 100% - 0,2 % = 99,98 %

VII.

PEMBAHASAN

Pada percobaan ini dicari harga air dalam calorimeter, kalor lebur es dan kapasitas jenis logam. Harga air dalam kalorimeter dapat dicari dengan mencari massa kalorimeter yang kosong terlebih dahulu, kemudian menghitung massa air bagian dari kalorimeter tersebut, kemudian ditambahkan dengan massa air mendidih bagian kalorimeter, sehingga suhu bisa diukur, setelah suhu diukur, kalor jenis di cari dengan menggunakan prinsip Asas Black, sehingga harga air dapat ditentukan, harga air dalam kalorimeter diperoleh sebesar 376,38 kal/groC. Dalam mengukur kalor lebur es pertama yang ditimbang yaitu calorimeter yang kosong dengan pengadunya, menambahkan air kedalam calorimeter dan diukur kembali. Air bagian calorimeter ditambahkan es dan diukur suhu dan massanya kembali. Kemudian kalor lebur dapat diperoleh sebesar 11 kal/gr Dengan menggunakan prinsip yang sama, maka kapasitas kalor jenis logam juga dapat ditentukan. Kalor yang dilepaskan oleh logam yang telah dipanaskan sama dengan kalor yang diterima oleh air. Tapi dalam hal ini kalorimeter juga ikut menyerap kalor yang dilepaskan oleh logam panas. Maka kapasitas kalor jenis logam dapat ditentukan yaitu 5,3 kal/groC.

Jawaban pertanyaan

1. Asas black mengatakan bahwa bila 2 sistem atau lebih yang memiliki perbedaan temperature dipertemukan maka kalor yang dilepaskan atau diberikan oleh 2 benda bersuhu tinggi sama banyaknya kalor yang diterima atau diserap benda bersuhu rendah. Qserah = Qterima Q = m.c. t Q= kalor

Ketika 2 benda yang suhunya berbeda disentuhkan satu sama lain, akhirnya kedua benda akan mencapai suhu yang sama, keadaan ini dapat disebut kesetimbangan termal.

2. Calorimeter ideal memiliki ciri-ciri sebagai berikut : Dapat menerima dan melepaskan kalor baik Permukaan luarnya diberi lapisan nikel untuk mengurangi kehilangan panas akibat radiasi.

3. Asas Black menyatakan bila dua benda dengan suhu perbeda dipertemukan, akan terjadi kesetimbangan kalor, dimana lebih membahas mengenai kekekalan energy (kalor). Sedangkan hukum ke-nol termodinamika menyatakan ada dua komponen yaitu system dan lingkungan, berada pada suhu yang berbeda, apabila dipertemukan akan terjadi kesetimbangan termal.

4. Kapasitas kalor jenis (c) adalah banyaknya kalor yang diperlukan untuk menaikkan 1 gram atau 1 kg zat sebesar 1oC. Maka rumusnya :
Q m.t

C=

dimana, C = kapasitas kalor jenis (kkal/kgoC) Q = Kalor (kkal) m = massa (kg)

t = perubahan suhu (oC)


Kapasitas kalor (H) adalah banyaknya kalor yang diperlukan oleh zat untuk menaikkan suhunya 1oC. dimana, H=
Q t

Q = kalor (kkal)

t = perubahan suhu (oC)


H = kapasitas kalor (kkal/oC)

Kalor lembur (L) adalah kalor yang dibutuhkan untuk merubah zat cair, dinyatakan dengan Lf .

dimana, Lf =
Q m

L = kalor lebur (kkal/kg0 m = massa (kg) Q = kalor (kkal)

Persamaanya, merupakan banyak kalor yang diperlukan oleh zat.

5. Ketika 2 zat/benda atau lebih dicampurkan atau disentuhkan atau disatukan satu sama lain, benda atau zat tersebut akan mencapai suhu yang sama.

VIII. KESIMPULAN 1. Suhu setimbang diperoleh saat kalor mengalir dari suhu yang tinggi ke suhu yang rendah. 2. Dalam percobaan ini menggunakan calorimeter atau alat untuk mengukur kalor. 3. Kalor jenis suatu benda tidak tergantung dari massa benda, tetapi tergantung pada sifat dan jenis benda tersebut. Jika kalor jenis suatu benda adalah kecil maka kenaikan suhu benda tersebut akan cepat bila dipanaskan. 4. Hukum Kekekalan Energi menyatakan bahwa banyaknya kalor yang diberikan atau dilepas sama dengan banyaknya kalor yang diterima ketika terjadi proses pertemuan dua buah benda yang memilki suhu dan temperatur yang berbeda (Qlepas = Qterima). Sehingga akan tercapai keseimbangan termal. Dengan menggunakan Asas Black.

DAFTAR PUSTAKA Alit Paramarta, S.Si., M.Si. Ida Bagus, Ni Luh Gede Desy Suryaningsih, Penuntun Praktikum Fisika Dasar 1. Universitas Udayana Zemansky, Sears, 1983. FISIKA Untuk UNIVERSITAS 1. BINACIPTA: Bandung kalorimeter. http://id.wikipedia.org/wiki/ kalorimeter