Anda di halaman 1dari 19

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Botani dan Taksonomi Tanaman Kamboja


Banyak orang mengira kamboja berasal dari negara Kamboja, ternyata
tanaman ini berasal dari daratan Amerika Tengah. Ia berasal dari kawasan Meksiko,
Kolombia, Ekuador, Venezuela, dan menyebar ke Asia, hingga ke Indonesia.
Kamboja (Plumeria Sp.) ditemukan Charles Plumier (1646-1706), botani asal
Perancis. Untuk mengingat sang penemu, nama belakang Charles Plumier diabadikan
menjadi nama latin bunga ini (Criley et al., 1991).
Kamboja atau Plumeria Sp., termasuk famili Apocynaceae yang berkerabat
dengan tanaman hias seperti Alamanda, Catharantus, Nerium, Kapsia, dan Adenium.
Adapun penamaan kamboja dalam sistematika tanaman sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas: Dicotyledoneae
Ordo; Apocynales
Famili: Apocynaceae
Genus : Plumeria
Spesies : Plumeria Sp.
(Edward dkk., 1994)

2.2. Morfologi Tanaman Kamboja


Kamboja merupakan pohon tegak dengan tinggi hingga 10 meter. Daun dan
bunganya tumbuh bergerombol di bagian pucuk batang atau cabang. Sebagai tanaman
hias bunga, kamboja dapat menghasilkan bunga berbentuk terompet dengan aneka
bentuk, warna, ukuran, serta beraroma harum. Selain bunganya yang menarik, batang
kamboja dengan percabangan yang banyak juga menawarkan keunikan tersendiri.

4
Oleh karena itu, Kamboja dapat menjadi elemen taman yang akan memperindah dan
mempercantik taman. Morfologi tanaman kamboja adalah sebagai berikut.

2.2.1. Batang
Kamboja mempunyai batang bulat dan berkayu keras. Batangnya cenderung
bengkok dengan percabangan yang banyak. Kulit batang mudanya berwarna hijau
dan akan berubah menjadi abu-abu seiring dengan penuaan batang. Meskipun
berkayu, tetapi batang dan cabang kamboja mudah patah.
Batang dan cabang yang mulai tua akan kehilangan daun-daunnya dan hanya
menyisakan sedikit daun di ujung percabangan. Pada waktu berbunga, cabangnya
juga kehilangan daun dan hanya terlihat seperti pohon mati dengan cabang yang
gundul. Hal inilah yang mengakibatkan orang Australia menyebutnya dead man’s
finger karena kondisinya yang meranggas mirip jari-jari yang mati seperti terlihat
pada Gambar 1.
Kulit batang kamboja bergetah. Getah tanaman ini mengandung senyawa
sejenis karet, triterpenoidamyrin, lupeol, dan kautscuk. Bila terkena kulit, getah
kamboja dapat menimbulkan rasa gatal di kulit (Lia M., 2005).

Gambar 1. Batang kamboja tanpa daun.

5
2.2.2. Daun
Daun kamboja tumbuh menggerombol di ujung cabang, berbentuk lanset
dengan ujung ujung dan pangkal daun meruncing, berwarna hijau dan tebal, serta
tulang daunnya menonjol. Panjang daun berukuran 20 cm, pada jenis tertentu
panjangnya bisa mencapai 35 cm. sementara lebar daunnya berkisar 6 - 12,5 cm.
selain bentuk lanset yang lebar, ada daun yang sempit dan ada pula yang ujung
daunnya tidak lancip, tetapi membulat. Ada pula kamboja yang memiliki daun yang
pada bagian pangkalnya menyempit, tetapi di bagian ujung melebar berbentuk seperti
kubah, morfologi daun kamboja seperti terlihat pada Gambar 2.
Pada saat berbunga lebat atau suhu yang sangat dingin, daun kamboja
biasanya akan rontok dan menyisakan cabang-cabang kurus tidak berdaun. Namun,
setelah fase suhu kritis terlewati, daun kamboja akan muncul dan bersemi kembali.

Gambar 2. Daun kamboja .

2.2.3. Bunga
Bunga kamboja merupakan daya tarik utama tanaman ini. Seperti kerabatnya,
bunga kamboja berbentuk terompet dan memiliki aroma wangi yang khas. Aroma
dari masing-masing jenis juga beragam. Aroma kamboja digambarkan sebagai

6
gabungan antara kesegaran melati, kemewahan mawar, aroma lembut jeruk, serta
rempah-rempah yang memikat.
Mahkota bunga umumnya berjumlah lima helai. Namun, kadang ada mahkota
bunga yang terdiri dari empat atau enam helai. Mahkota mempunyai corong dengan
lingkar yang sempit dan sisi bagian dalamnya berambut. Bunga kamboja mempunyai
ukuran mahkota yang beragam. Ada yang bermahkota kecil dan ada yang bermahkota
besar. Ukuran diameter bunga yang kecil berkisar 8 cm, sedangkan yang besar bisa
mencapai 12 cm.
Tangkai putik tanaman berukuran pendek dengan dasar bunga yang menonjol
sehingga menutupi tabung kelopak. Kepala putiknya berlekuk dua dan mempunyai
dua bakal buah yang lepas terpisah. Bagian dalam bunga berlilin dan berambut halus.
Sebagaimana daunnya, bunga kamboja muncul di ujung-ujung cabang.
Bunganya tumbuh menggerombol, bunga tua yang rontok akan tergantikan oleh
bunga yang muncul berikutnya. Bahkan, pada kondisi tropis di Indonesia, kamboja
dapat berbunga sepanjang tahun, bentuk bunga dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Bunga kamboja.

7
2.2.4. Buah
Buah akan terbentuk bila terjadi penyerbukan. Proses penyerbukan hingga
matangnya buah berlangsung kurang lebih 8 bulan. Buah kamboja tidak berdaging
(buah kering/follicle) dan berbentuk tabung dengan kedua ujungnya lancip. Buahnya
bisa berjumlah satu atau dua yang saling terpisah. Panjang buah berkisar 15-20 cm
dengan diameter 2 cm, seperti terlihat pada Gambar 4.
Buah yang muda akan berwarna hijau kemerahan atau merah kecoklatan.
Buah akan menjadi semakin merah dan gelap seiring dengan umur kematangannya.
Biji-biji kamboja akan berterbangan terbawa angin bila buahnya telah matang dan
pecah.

Gambar 4. buah kamboja.

2.2.5. Biji
Biji kamboja berbentuk elips dengan embrio tanaman berada di salah satu
ujung, sedangkan ujung lainnya berupa lembaran tipis yang berfungsi sebagai sayap
ketika terbang terbawa angin. Biji kamboja bersayap dan tidak berambut. Panjang biji

8
kamboja 4-5 cm dengan lebar 1 cm. Biji berwarna cokelat muda seperti lembar daun
yang kering, gambar biji terlihat seperti pada Gambar 5.

Gambar 5. Biji kamboja


2.2.6. Akar
Perakaran kamboja umumnya tidak dalam, hanya berkisar 1 m, berakar
serabut dan bersifat ramah pondasi. Oleh karena itu, kamboja cocok dijadikan
tanaman kota. Sekian banyak dari arsitek rupanya memperhatikan kondisi perakaran
kamboja dan memilihnya sebagai tanaman yang memungkinkan memberi nuansa
hijau dan warna-warni bunganya tanpa perlu khawatir dengan kekuatan bangunan
untuk dapat bertahan lama. Pada penanaman di pot pun kamboja relatif tidak
merusak, karena perakaran yang dimilikinya jarang menembus pot dan hanya
melingkar memenuhi pot (Khafidzin, 2006), terlihat seperti dalam Gambar 6.

9
Gambar 6. akar kamboja

2.3. Spesies Tanaman Kamboja


Ada empat spesies kamboja yang paling dikenal luas, yaitu Plumeria alba,
Plumeria rubra, Plumeria pudica, dan Plumeria obtusta.

2.3.1. Plumeria alba


Plumeria alba dikenal sebagai white frangipani atau kamboja putih. Daun
Plumeria alba sempit dan panjang. Cabang lebih kecil, memanjang, dan
percabangannya lebih sedikit dibandingkan dengan kamboja lain. Bunganya besar,
berwarna putih dengan bagian tengahnya berwarna kuning. Plumeria alba berasal
dari Asia tenggara dan sering disebut sebagai dwart plumeria (Edward dkk., 1994),
seperti dalam Gambar 7.

10
Gambar 7. Plumeria alba
2.3.2. Plumeria rubra
Tanaman ini berupa pohon dengan tinggi hingga 6-8 meter. Daun tanaman
tunggal dengan bentuk elips yang lebar dan kadang membulat. Panjang daun berkisar
14- 30 cm dan lebar 5-10 cm dengan pertulangan daun menyirip dan berwarna hijau.
Bunga Plumeria rubra beragam, seperti bunga kecil berwarna putih dengan warna
kuning di tengah atau sedikit pink, sedangkan bunga yang besar umumnya berwarna
pink dan kuning (Edward dkk., 1994), terlihat dalam Gambar 8 dan 9.

Gambar 8. Plumeria rubra pink Gambar 9. Plumeria rubra kuning

2.3.3. Plumeria pudica


Plumeria pudica dicirikan oleh daunnya yang glossy atau mengkilap berwarna
hijau tua. Bentuk daunnya sempit dengan bagian ujung daun melebar, berbentuk

11
seperti kubah. Daun dan bunganya tidak mudah rontok. Bunga plumeria pudica
berwarna putih dengan ukuran kecil dan bergerombol dalam malai yang kompak
(Edward dkk., 1994), terlihat dalam Gambar 10 dan 11.

Gambar 10. Plumeria pudica Gambar 11. Bunga Plumeria pudica

2.3.4. Plumeria obtusta


Kamboja ini mempunyai bunga berwarna putih dengan ukuran yang besar.
Daun tanaman tidak bersudut dan cenderung berbentuk elips. Plumeria obtusa sering
disebut dengan nama ’Singapore’ meskipun sebenarnya berasal dari kolombia
(Edward dkk., 1994), terlihat dalam Gambar 12.

Gambar 12. Plumeria obtusta

12
2.4. Sifat dan Karakter Kamboja
Kamboja merupakan tanaman tropis yang dapat tumbuh baik di Indonesia.
Tanaman ini membutuhkan cahaya matahari sekitar 8 jam per hari, terutama untuk
menginisiasi (merangsang) pembungaan. Kebutuhan air kamboja berkisar 25 mm3 per
minggu. kamboja tidak menyukai kondisi media yang basah. Oleh karena itu,
drainase air harus dipastikan berjalan dengan baik. Media yang sangat basah dapat
menyebabkan ujung-ujung cabang berair dan akhirnya mengakibatkan layu dan
busuk. Drainase berperan penting dalam menjaga pertumbuhan optimal tanaman. Jika
drainase buruk, efek yang paling besar adalah kamboja malas berbunga.
Kamboja akan merontokkan daunnya ketika kekurangan air. Kadang kamboja
akan tumbuh alami dengan kondisi lingkungan yang kering, kurang hara dan di
daerah berbatu. Kamboja relatif tahan terhadap hama dan penyakit tanaman yang
mungkin muncul, ulat dan belalang pengerat tidak menyukai daun dan batangnya
yang bergetah. Yang sering terjadi adalah daun layu akibat serangan kutu dan virus
daun. Untuk menghindari penyakit layu daun dilakukan dengan menjaga kebersihan
media, penyemprotan fungisida, dan insektisida secara berkala (Edward dkk., 1994)

2.5. Metode Pebanyakan Bibit Tanaman Kamboja


Kamboja dapat dikembangbiakkan secara generatif maupun vegetatif.
Perbanyakan generatif dilakukan dengan menggunakan biji, sedangkan pembiakan
vegetatif dilakukan dengan setek atau cangkok.

2.5.1. Perbanyakan Secara Generatif (Biji)


Setelah terjadi penyerbukan akan menghasilkan buah. Buah kamboja
termasuk buah kering yang disebut sebagai follicle. Dalam follicle inilah biji akan
berkembang hingga matang. Kematangan follicle kamboja akan ditandai dengan buah
yang membesar (menggelembung). Follicle akan pecah ketika sudah matang dan
bijinya akan terbang menyebar terbawa angin. Waktu yang dibutuhkan follicle untuk

13
matang sejak dari penyerbukan antara 6-9 bulan dan akan kering serta pecah setelah
11 bulan. Jumlah biji dalam satu folikel mencapai 100 buah
(http://en.wikipedia.org/wiki/Plumeria).
Penanaman biji tidak perlu terlalu dalam, cukup pada kedalaman 5-10 cm.
Setelah penanaman, siram media secukupnya dan jangan sampai tergenang.
Ketersediaan air akan menunjang tumbuhnya akar dan perkembangan biji menjadi
tanaman baru. Bila media penyemaian tergenang atau terlalu lembab, akan
menyebabkan tumbuhnya jamur dan meningkatkan risiko busuknya calon tanaman
(Edward dkk, 1994).
Biasanya dibutuhkan sekitar satu bulan bagi biji untuk berkecambah. Setelah
tumbuh minimal 2 daun, bibit tanaman dapat dipindahkan. Bibit kamboja
membutuhkan waktu 2-3 tahun untuk menjadi tanaman dewasa dan berbunga
(http://en.wikipedia.org/wiki/Plumeria).

2.5.2 Perbanyakan Vegetatif Metode Kultur Jaringan


Metode perbanyakan tanaman yang paling baik adalah secara vegetatif karena
sifat anakan yang dihasilkan akan sama dengan induknya. Karena itu tanaman induk
atau tanaman awal yang diperbanyak harus dipilih dari jenis yang benar-benar
berkualitas baik, salah satu metode perbanyakan vegetatif yang dapat digunakan
adalah kultur jaringan. Kultur jaringan secara luas dapat didefinisikan sebagai usaha
mengisolasi, menumbuhkan, memperbanyak dan meregenerasikan protoplas (bagian
hidup dari sel), sel utuh/agregat sel, atau bagian tanaman seperti: meristem, tunas,
daun muda, batang muda, ujung akar, kepala sari dan bakal buah dalam suatu
lingkungan aseptik yang terkendali.
Perbanyakan dengan kultur jaringan atau disebut juga dengan in vitro ini
hanya dapat dilakukan di laboratorium dengan beberapa ruangan khusus yaitu ruang
aseptis dan ruang bahan kimia. Peralatan yang digunakan meliputi pinset, pisau
scapel, gelas ukur, gelas piala, erlenmeyer, cawan petri, pipet, gunting, corong, panci,
kompor gas dan lain-lain. Alat-alat tersebut di atas digolongkan sebagai alat-alat

14
ringan. Sedangkan alat-alat berat adalah mesin penggoyang (shaker), laminar air
flow, timbangan listrik, destilator, oven, mikroskop, pH meter, autoklaf dan
pendingin ruangan.
Perbanyakan secara kultur jaringan mempunyai keuntungan dapat
menghasilkan produksi secara massal dan cepat dari induk hibrida unggul.
Keuntungan lainnya adalah diperolehnya bibit yang bebas penyakit, sifat-sifat
seragam dan serupa dengan induknya serta mudahnya pengangkutan. Secara teori,
setiap bagian tanaman dapat digunakan sebagai eksplan sepanjang tanaman tersebut
masih hidup, sehat, dan bebas penyakit. Namun bagian yang sering digunakan adalah
meristem atau bagian tanaman yang masih muda seperti pucuk muda.
Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk keberhasilan kultur jaringan,
diantaranya:
Pemilihan eksplan, eksplan berasal dari induk yang betul-betul sehat (bebas dari
virus).
Penggunaan media yang cocok
Keadaan yang aseptik dan pengaturan udara yang baik.
Teknik kultur jaringan kemudian berkembang sehingga dapat diaplikasikan
secara komersial maupun menjadi terspesialisasi sehingga dapat dipakai untuk
mempelajari genetika sel dasar dan biokimia. Beberapa contoh teknik kultur jaringan
secara komersial:
1. Kultur meristem
Teknik kultur jaringan dengan memanfaatkan jaringan meristem untuk
eksplan. Biasanya jaringan ini digunakan untuk mendapatkan tanaman yang bebas
virus. Perbanyakan mengunakan kultur meristem memungkinkan memproduksi
tanaman yang sama dengan induk, seragam dan dalam jumlah yang banyak.
2. Kultur embrio
Kultur dengan menggunakan embrio tanaman. Kultur ini biasanya dilakukan
untuk tanaman yang tidak dapat mengadakan pembuahan secara alami atau

15
digunakan untuk memperbanyak tanaman langka yang membutuhkan waktu lama
untuk berkembang.
3. Kultur sel/suspensi sel
Kultur menggunakan sel dari tanaman. Pada kultur ini digunakan media tanpa
pemadat dan biasanya digunakan untuk mengetahui metabolisme sel atau senyawa
metabolit sekunder yang dihasilkan oleh tanaman.
4. Kultur anther/polen
Kultur jaringan dengan menggunakan anther atau polen sebagai eksplan.
Kultur ini digunakan untuk mendapatkan tanaman yang hanya mempunyai satu
genom saja atau monohaploid.
5. Kultur protoplas
Kultur dengan memanfaatkan protoplas sel tanaman untuk eksplan.
Perkembangan selanjutnya dari kultur protoplas adalah adanya fusi protoplas yang
dapat menghasilkan hibrid atau tanaman unggul yang dihasilkan.

2.6. Sterilisasi Eksplan


Sterilisasi merupakan upaya untuk meminimalisir adanya kontaminan pada
jaringan tanaman. Proses sterilisasi dilakukan dengan beberapa agen sterilisasi seperti
detergen, klorok, alkohol,dan agen lainnya. Terkadang penggunaan agen sterilisasi ini
merusak jaringan tanaman yang disterilsasi, sehingga pemilihan dan penentuan
konsentrasi agen sterilisasi sangat diperlukan.

2.7. Media Kultur Jaringan Tanaman


Salah satu faktor keberhasilan dari kultur jaringan adalah penggunaan media
yang tepat dan sesuai untuk pertumbuhan eksplan. Banyak media yang telah terbukti
berhasil menumbuhkan kalus dari suatu ekplan. Menurut Dodds dan roberts (1995),
pemilihan media untuk kultur jaringan tergantung pada spesies tanaman, jaringan
atau organ yang akan digunakan dan tujuan dilakukan kultur jaringan tanaman.

16
Dibanding media-media lain, media MS (Murashige dan Skoog, 1962) paling banyak
digunakan untuk berbagai kultur jaringan tanaman (Gunawan, 1992). Keistimewaan
media MS adalah kandungan Nitrat, Kalium dan Amoniumnya yang tinggi
(Gamborg,1991).
Komponen yang diperlukan dalam media kultur jaringan hampir sama dengan
yang diperlukan oleh tumbuhan untuk tumbuh di alam. Komponen media tersebut
terdiri dari elemen makro, elemen mikro, vitamin dan zat pengatur tumbuh. Menurut
Wetherell (1982) media kultur yang memenuhi syarat adalah media yang
mengandung nutrisi makro dan mikro dalam kadar dan perbandingan tertentu, serta
sumber tenaga (umumnya digunakan sukrosa).
1. Elemen makro : Nitrogen (N), Posfor (P), Kalium (K), Sulfur (S), Calsium (Ca),
Magnesium (Mg). Unsur- unsur makro yang digunakan biasanya dalam bentuk
NH4NO3, KNO3, CaCl2H2O, H2O, MgSO4 dan KH2PO4
2. Elemen mikro : khlorida ( Cl), Mangan (Mn), Besi ( Fe), Tembaga (Cu), Seng
(Zn), Boron ( B), Molibdenum (Mo). Unsur- unsur mikro yang digunakan biasanya
dalam bentuk MnSO4 H2O, ZnSO4.7H2O, H3BO3, KI, Na2Mo4.2H2O, CuSO4.5H2O,
FeSO4.H2O, Na2EDTA dan CaCL2.6H2O
3. Vitamin yang sering digunakan : Niasin, Glisin, Piridoksin, HCl, Tiamin HCl,
Myonositol, asam folat, Sianokobalamin, Riboflavin, Biotin, Kholin florida, Kalsium
pantotenat, Piridoksin, Nikotinamida berperan dalam pembelahan sel. Vitamin C,E,
Tiamin, Asam amino
4. Zat pengatur tumbuh (ZPT) merupakan faktor penentu keberhasilan pertumbuhan
dan diferensiasi seluler. Pemilihan ZPT dalam kultur jaringan tanaman ditentukan
berdasarkan macam eksplan yang digunakan, tujuan dan fungsi dari kultur. Selain itu
pemilihan ZPT juga berdasarkan pada tingkat perkembangan kultur.
(Widyastuti,1999).
Beberapa jenis ZPT;
1. Kelompok Auksin

17
Dikenal dengan sebutan IAA (Indole 3 acetic acid)
Auksin sintetik : IAA, IBA, NAA dan herbisida ( 2,4D, 2,4,5T dan MCPA atau
MCP)
Efek auksin
1. pemanjangan sel, efek fisiologi awal dari auksin adalah mempengaruhi
pemanjangan sel-sel batang. Proses ini diduga disebabkan oleh: peningkatan
osmotik zat-zat terlarut sel, reduksi tekanan dinding sel, peningkatan
permeabilitas sel terhadap air, peningkatan sintesis dinding sel,
2. Inisiasi akar, berlawanan dengan batang, konsentrasi auksin yang tinggi akan
menghambat pertumbuhan akar, namun jumlah percabangan akar cenderung
meningkat
3. Mencegah absisi, beberapa organ dapat dicegah dari absisi, seperti buah, daaun,
dll
4. Partenokarpi, auksin mampu menginduksi pembentukan buah partenokarpik.
Hal ini terjadi apabila konsentrasi auksin di dalam ovari tinggi
5. Respirasi, terdapat korelasi antara laju pertumbuhan dengan peningkatan laju
respirasi. French & Beevers (1953) menyatakan bahwa auksin kemungkinan
meningkatkan laju respirasi dengan cara meningkatkan suplai ADP (tanaman
dalam proses fotosintesis mengubah ADP menjadi ATP sehingga dihasilkan
energi untuk dipakai dan disimpan dalam sel)
6. Pembentukan kalus, selain pemanjang sel, auksin juga aktif dalam pembelahan
sel

Distribusi auksin pada tanaman:


Dihasilkan pada apikal-apikal yang sedang tumbuh atau daerah merismatik
tanaman.

18
Ditransportasikan ke seluruh bagian tanaman dan ditemukan dalam konsentrasi
tinggi pada batang yang sedang tumbuh, ujung akar, daun muda dan batang
aksilar yang sedang tumbuh.
Auksin di dalam tumbuhan berada dalam 2 kondisi, bebas dan terikat

Biosintesis auksin:
Triptofan merupakan precursor dari sintesis IAA pada tanaman
2 jalur sintesis IAA dari triptofan: (1) deaminasi triptofan utk membentuk
Indole 3 piruvat diikuti dengan dekarboksilasi untuk membentuk indole 3
acetaldehyde; (2) dekarboksilasi triptofan membentuk triptamine diikuti
deaminasi utk membentuk indole 3 acetaldehyde.

Gambar 13. Jalur biosintesis IAA dari triptofan oleh mikroba (Nonhebel et al, 1993).

Inaktivasi auksin
inaktivasi dan destruksi auksin juga perlu dilakukan untuk mengatur
pertumbuhan tanaman.

19
Degradasi auksin di antaranya: oksidasi dengan O2 dengan bantuan enzim IAA
oksidase. Akan menghasilkan berbagai macam senyawa, namun 3 methylene
oxindole merupakan produk utama
Inaktivasi temporary auksin dilakukan dengan membuat auksin dalam bentuk
terikat (conjugated auxin). Dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai
macam senyawa seperti karbohidrat, asam amino, protein dan inositol
Inaktivasi auksin secara cepat dan bersifat permanen adalah dengan cara
menyinari menggunakan sinar X atau sinar gamma.

2. Kelompok Sitokinin
Alamiah : Zeatin
Sintetik : Zeatin, Bensil Adenin, 2-ip, BAP, Kinetin, senyawa-senyawa fenil urea,
Ademia sulfur, Benonil.
Beberapa bagian dari hasil degradasi DNA (senyawa purin) yang akhirnya
diidentifikasi sebagai 6-furfurylaminopurine, bekerja spesifik pada saat
sitokinesis pembelahan sel, maka disebut kinetin atau sitokinin

Efek fisiologi sitokinin:


Pembelahan sel, bekerja sama dengan auksin
Pembesaran sel
Inisiasi kambium interfaskuler
Morfogenesis

Kontraksi pada dominansi apikal


Dormasi biji
Mencegah kematian sel

3. Kelompok Giberelin
Alamiah : GA, GA1 sampai dengan GA72

20
Efek fisiologi : perkecambahan, dormansi kuncup, pertumbuhan akar, perpanjangan
internodus, perpanjangan batang, membantu sintesis enzim amylase pada lapisan
aleuron endosperm biji sereal. (Salisbury and Ross, 1995).

4. Kelompok ABA
Terdapat pada jaringan yang mengalami stres, terutama jaringan daun tua atau biji
yang sedang berkembang.
Efek fisiologi : mendorong dormansi tunas dan biji, penutupan stomata, pembentukan
protein cadangan, mendorong absisi daun, bunga atau buah, transport hasil
fotosintesa ke biji.

5. Etilen
Etilen dalam tanaman disintesa pada jaringan yang mengalami stress dan yang
mengalami penuaan, hormon yang bersifat gas sehingga bisa mempengaruhi
pertumbuhan didekatnya. Berperan mendorong perkecambahan biji dan tunas,
pembungaan tanaman, senescence bunga dan daun, pembentukan bunga pada
tanaman bertunas satu.

2.8. Aklimatisasi
Tanaman yang dibudidayakan dengan teknik kultur jaringan umumnya
mengalami abnormalitas anatomis dan fisiologis selama berada dalam kultur in vitro
(dalam tabung). Abnormalitas tersebut antara lain adalah: lapisan lilin epikutikular
yang tipis, stomata yang terus membuka, tingkat fotosintesis yang rendah, sel-sel
palisade yang kecil dan jarang dan rongga mesofil yang besar (Sutter dan Langhans,
1982; Hussey, 1980; Pierik, 1987). Ketidaknormalan tersebut menjadi faktor
pembatas bagi tanaman untuk dapat hidup di lingkungan tumbuhnya yang baru yaitu
di lapangan. Oleh karena itu, agar tidak terjadi kematian, tanaman harus melewati
masa transisi klimatis melalui proses aklimatisasi.

21
Aklimatisasi adalah kegiatan perlakuan adaptasi klimatis dari suatu organisme
hidup, termasuk tanaman, yang di pindahkan dari lingkungan yang lama ke
lingkungan yang baru (Conover dan Poole, 1984). Kegiatan aklimatisasi dilakukan
untuk menyesuaikan secara bertahap kesiapan bibit tanaman dalam menerima
perubahan dari kondisi lingkungan tumbuh pada media perbanyakan in vitro kepada
kondisi lingkungan tumbuh di lapang.
Aklimatisasi merupakan tahapan yang sangat penting untuk dilalui dalam
proses perbanyakan in vitro. Adanya perbedaan yang sangat tajam terutama
kelembaban dan intensitas cahaya antara lingkungan di dalam botol dan di luar botol
menyebabkan proses aklimatisasi ini merupakan tahap yang kritis. Dengan demikian
keberhasilan perbanyakan in vitro tanaman juga ditentukan oleh keberhasilan
tanaman dalam melalui tahap ini.
Secara keseluruhan perlakuan yang diberikan selama pelaksanaan aklimatisasi
meliputi perlakuan fisik langsung dan tidak lansung terhadap tanaman. Perlakuan
fisik langsung meliputi: penyiraman, pemupukan, serta pemberantasan hama dan
penyakit. Sedangkan perlakuan fisik tak langsung meliputi : pengolahan dan
pengelolaan tempat tumbuh yang terdiri atas pengolahan media tumbuh, penyiangan
atau pemberantasan gulma, serta perlakuan terhadap sarana pengkondisian
lingkungan buatan seperti bak semai, sungkup plastik dan green house/screen house.

22