Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH FRAKTUR ANTEBRACHI

KELOMPOK 4 Disusun Oleh : 1. Diyah Ismastuti (106112023) 2. Fitri Dwi .S (106112024) 3. Yuyud Andhika .P (106112025) 4. Fitri Amaliah (106112026) 5. Elis Fitriyani (106112027) 6. Fitria Ayu .S (106112028) 7. Yuanis Sulasih (106112029)

D-III KEPERAWATAN 2A

STIKES AL-ARSYAD AL-ISLAMIYYAH CILACAP

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala rahmat, inayah, taufik dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyususnan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang berjudul Tugas Makalah askep tentang Fraktur Antebrachi . Kami ucapankan terimakasih kepada dosen askep yaitu bapak Suko. yang telah membimbing kami dalam proses pembelajaran askep tentang materi konsep mobilitas, imobilitas, dan dampak dampaknya sehingga memberi kami banyak wawasan tentang materi tersebut. Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna dan tidak luput dari kekurangan, untuk itu kami mengharap kritik dan saran yang membangun dari pembaca. Dan kami berharap makalah ini dapat memberikan manfaat dan wawasan baru bagi pembaca.

BAB I PENDAHULUAN Pengertian Fraktur adalah Discontinuitas dari jaringan tulang (patah tulang) yang biasanya di sebabkan oleh adanya kekerasan yang timbul secara mendadak (Bernard Bloch, 1986) Fraktur adalah putusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai tipe dan luasnya (Harnowo, 2002) Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Arif, 2000) Klasifikasi fraktur secara umum : 1. Fraktur tertutup / closed atau disebut juga fraktur simplex : - Bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar, atau - Patahan tulang disini tidak mempunyai hubungan dengan udara terbuka 2. Fraktur terbuka / open (compound fracture) : - Bila tedapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan di kulit. - Kulit terobek : (a) dari dalam karena fragmen tulang yang menembus kulit (b) karena kekerasan yang berlangsung dari luar - Fraktur terbuka terbagi atas tiga derajat (menurut R. Gustillo), yaitu : Derajat I : - luka < 1 cm - kerusakan jaringan lunak sedikit, tak ada tanda lunak remuk - fraktur sederhana, transversal, oblik atau kominutif ringan - kontaminasi minimal Derajat II :

- laserasi > 1 cm - kerusakan jaringan lunak, tidak luas, flap/avulsi - fraktur kominutif sedang - kontaminasi sedang Derajat III : - Terjadi keusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot, dan neurovaskular serta kontaminasi derajat tinggi. Fraktur derajat ini terbagi atas : a. Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat, meskipun terdapat laserasi luas/flap/avulsi; atau fraktur segmental/sangat kominutif yang disebabkan oleh trauma berenergi tinggi tanpa melihat besanya ukuran luka b. Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulangyang terpapar atau kontamnasi masif c. Luka pada pembulu arteri/saraf perifer yang harus diperbaiki tanpa melihat kerusakan jaringan lunak. 3. Fraktur komplikata : disini persendian, syaraf, pembuluh darah atau organ viscera juga ikut terkena. Fraktur seperti ini dapat berbentuk fraktur tertutup atau fraktur terbuka. Contoh seperti : - Fraktur pelvis tertutup ruptura vesica urinaria - Fraktur costa luka pada paru-paru - Fraktur corpus humeri paralisis nervus radialis 4. Fraktur patologis : karena adanya penyakit lokal pada tulang, maka kekerasan yang ringan saja pada bagian tersebut sudah dapat menyebabkan fraktur. Contoh : tumor/sarcoma, osteoporosis dll.

BAB II PEMBAHASAN Radius-Ulna A. Pengertian Fraktur antebrachii adalah terputusnya kontinuitas tulang radius ulna, pada anak biasanya tampak angulasi anterior dan kedua ujung tulang yang patah masih berhubungan satu sama lain. Gambaran klinis fraktur antebrachii pada orang dewasa biasanya tampak jelas karena fraktur radius ulna sering berupa fraktur yang disertai dislokasi fragmen tulang.

B. Jenis dan Etiologi Menurut Mansjoer (2000), ada empat jenis fraktur antebrachii yang khas beserta penyebabnya yaitu : 1. Fraktur Colles

Deformitas pada fraktur ini berbentuk seperti sendok makan (dinner fork deformity). Pasien terjatuh dalam keadaan tangan terbuka dan pronasi, tubuh beserta lengan berputar ke ke dalam (endorotasi). Tangan terbuka yang terfiksasi di tanah berputar keluar (eksorotasi/supinasi). 2. Fraktur Smith

Fraktur Smith merupakan fraktur dislokasi ke arah anterior (volar), karena itu sering disebut reverse Colles fracture. Fraktur ini biasa terjadi pada orang muda. Pasien jatuh dengan tangan menahan badan sedang posisi tangan dalam keadaan volar fleksi pada pergelangan tangan dan pronasi. Garis patahan biasanya transversal, kadang-kadang intraartikular. 3. Fraktur Galeazzi

Fraktur Galeazzi merupakan fraktur radius distal disertai dislokasi sendi radius ulna distal. Saat pasien jatuh dengan tangan terbuka yang menahan badan, terjadi pula rotasi lengan bawah dalam posisi pronasi waktu menahan berat badan yang memberi gaya supinasi. 4. Fraktur Montegia

Fraktur Montegia merupakan fraktur sepertiga proksimal ulna disertai dislokasi sendi radius ulna proksimal. Terjadi karena trauma langsung.

C. Patofisiologi Apabila tulang hidup normal mendapat tekanan yang berlebihan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan tersebut mengakibatkan jaringan tidak mampu menahan kekuatan yang mengenainya. Maka tulang menjadi patah sehingga tulang yang mengalami fraktur akan terjadi perubahan posisi tulang, kerusakan hebat pada struktur jaringan lunak dan jaringan disekitarnya yaitu ligament, otot, tendon, pembuluh darah dan persyarafan yang mengelilinginya (Long, B.C, 1996). Periosteum akan terkelupas dari tulang dan robek dari sisi yang berlawanan pada tempat terjadinya trauma. Ruptur pembuluh darah didalam fraktur, maka akan timbul nyeri. Tulang pada permukaan fraktur yang tidak mendapat persediaan darah akan mati sepanjang satu atau dua millimeter. Setelah fraktur lengkap, fragmen-fragmen biasanya akan bergeser, sebagian oleha karena kekuatan cidera dan bias juga gaya berat dan tarikan otot yang melekat. Fraktur dapat tertarik dan terpisah atau dapat tumpang tindih akibat spasme otot, sehingga terjadi pemendekkan tulang

(Apley, 1995), dan akan menimbulkan derik atau krepitasi karena adanya gesekan antara fragmen tulang yang patah (Long, B.C, 1996).

D. Manisfestasi Klinis Berikut adalah manifestasi klinik dari fraktur antebrachii menurut Mansjoer (2000) : 1. Fraktur Colles Fraktur metafisis distal radius dengan jarak _+ 2,5 cm dari permukaan sendi distal radius Dislokasi fragmen distalnya ke arah posterior/dorsal Subluksasi sendi radioulnar distal Avulsi prosesus stiloideus ulna. 2. Fraktur Smith Penonjolan dorsal fragmen proksimal, fragmen distal di sisi volar pergelangan, dan deviasi ke radial (garden spade deformity). 3. Fraktur Galeazzi Tampak tangan bagian distal dalam posisi angulasi ke dorsal. Pada pergelangan tangan dapat diraba tonjolan ujung distal ulna. 4. Fraktur Montegia Terdapat 2 tipe yaitu tipe ekstensi (lebih sering) dan tipe fleksi. Pada tipe ekstensi gaya yang terjadi mendorong ulna ke arah hiperekstensi dan pronasi. Sedangkan pada tipe fleksi, gaya mendorong dari depan ke arah fleksi yang menyebabkan fragmen ulna mengadakan angulasi ke posterior.

E. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan radiologis dilakukan untuk menentukan ada/tidaknya dislokasi. Lihat kesegarisan antara kondilus medialis, kaput radius, dan pertengahan radius.

Pemeriksaan penunjang menurut Doenges (2000), adalah : 1. Pemeriksaan rontgen 2. Scan CT/MRI 3. Kreatinin 4. Hitung darah lengkap 5. Arteriogram

F. Penatalaksanaan

Berikut adalah penatalaksanaan fraktur antebrachii menurut Mansjoer (2000): 1. Fraktur Colles Pada fraktur Colles tanpa dislokasi hanya diperlukan imobilisasi dengan pemasangan gips sirkular di bawah siku selama 4 minggu. Bila disertai dislokasi diperlukan tindakan reposisi tertutup. Dilakukan dorsofleksi fragmen distal, traksi kemudian posisi tangan volar fleksi, deviasi ulna (untuk mengoreksi deviasi radial) dan diputar ke arah pronasio (untuk mengoreksi supinasi). Imobilisasi dilakukan selama 4 - 6 minggu. 2. Fraktur Smith Dilakukan reposisi dengan posisi tangan diletakkan dalam posisi dorsofleksi ringan, deviasi ulnar, dan supinasi maksimal (kebalikan posisi Colles). Lalu diimobilisasi dengan gips di atas siku selama 4 - 6 minggu. 3. Fraktur Galeazzi Dilakukan reposisi dan imobilisasi dengan gips di atas siku, posisi netral untuk dislokasi radius ulna distal, deviasi ulnar, dan fleksi. 4. Fraktur Montegia Dilakukan reposisi tertutup. Asisten memegang lengan atas, penolong melakukan tarikan lengan bawah ke distal, kemudian diputar ke arah supinasi penuh. Setelah itu, dengan jari kepala radius dicoba ditekan ke tempat semula. Imobilisasi gips sirkuler dilakukan di atas siku dengan posisi siku fleksi 90 dan posisi lengan bawah supinasi penuh. Bila gagal, dilakukan reposisi terbuka dengan pemasangan fiksasi interna (plate-screw).

G. Komplikasi Menurut Long (2000), komplikasi fraktur dibagi menjadi : 1. Immediate complication yaitu komplikasi awal dengan gejala Syok neurogenik Kerusakan organ syaraf 2. Early complication Kerusakan arteri Infeksi Sindrom kompartemen Nekrosa vaskule Syok hipovolemik 3. Late complication Mal union Non union

Delayed union

ASUHAN KEPERAWATAN 1. PENGKAJIAN 1) Pemeriksaan Fisik a. Nyeri pada lokasi fraktur terutama pada saat digerakkan b. Pembengkakan c. Pemendekan ekstremitas yang sakit d. Paralysis e. Angulasi ekstremitas yang sakit f. Krepitasi g. Spasme otot h. Parestesia i. Tidak ada denyut nadi pada bagian distal pada lokasi fraktur bila aliran darah arteri terganggu oleh fraktur j. Kulit terbuka atau utuh k. Perdarahan, hematoma 2) Pemeriksaan Diagnostik Foto sinar X dari ekstremitas yang sakit dan lokasi fraktur 3) Pengkajian kemampuan untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN

a. Nyeri berhubungan dengan fraktur tulang, spasme otot, edema, kerusakan jaringan lunak. b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidaknyamanan, imobilisasi. c. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan imobilisasi, penurunan sirkulasi, fraktur terbuka. d. Ansietas berhubungan dengan prosedur tindakan pembedahan dan hasil akhir pembedahan. e. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer, kerusakan kulit, trauma jaringan.

3.INTERVENSI KEPERAWATAN

Dx 1 -

Intervensi Kaji lokasi, intensitas dan tipe nyeri Imobilisasi bagian yang sakit Tingikan dan dukung ekstremitas -

Rasional Untuk menentukan tindakan keperawatan yang tepat Untuk mempertahankan posisi fungsional tulang

yang terkena Dorong menggunakan teknik manajemen relaksasi Berikan obat analgetik sesuai indikasi 2 Kaji derajat imobilisasi yang dihasilkan oleh cedera Dorong partisipasi pada aktivitas terapeutik Bantu dalam rentang gerak pasif/aktif yang sesuai Ubah posisi secara periodik Kolaborasi dengan ahli terapis/okupasi dan atau rehabilitasi medic 3 Kaji kulit untuk luka terbuka terhadap benda asing, kemerahan, perdarahan, perubahan warna Massage kulit, pertahankan tempat tidur kering dan bebas kerutan Ubah posisi dengan sering Bersihkan kulit dengan air hangat/NaCl Lakukan perawatan luka secara steril 4 Kaji tingkat kecemasan klien (ringan, sedang, berat, panik) Dampingi klien Beri support system dan motivasi klien Beri dorongan spiritual Jelaskan jenis prosedur dan tindakan pengobatan

Untuk memperlancar arus balik vena Agar klien rileks Untuk mengurangi nyeri

Untuk menentukan tindakan keperawatan yang tepat

Melatih kekuatan otot klien Melatih rentang gerak aktif/pasif klie secara bertahap

Untuk mencegah terjadinya dekubitus Melatih rentang gerak aktif/pasif klien secara bertahap

Memberikan informasi mengenai keadaan kulit klien saat ini

Menurunkan tekanan pada area yang peka dan berisiko rusak.

Untuk mencegah terjadinya dekubitus Mengurangi kontaminasi dengan agen luar

Untuk mengurangi resiko gangguan integritas kulit

Untuk mengetahui tingkat kecemasaan klien

Agar klien merasa aman dan nyaman Meningkatkan pola koping yang efektif

Agar klien dapat menerima kondisinya saat ini

Informasi dapat menurunkan ansietas

BAB III PENUTUP Kesimpulan Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Arif, 2000). Klasifikasi fraktur secara umum ada beberapa macam yaitu: fraktur terbuka, fraktur terbuka, fraktur komplikata, fraktur patologis, dll. Fraktur antebrachii adalah terputusnya kontinuitas tulang radius ulna, pada anak biasanya tampak angulasi anterior dan kedua ujung tulang yang patah masih berhubungan satu sama lain. Gambaran klinis fraktur antebrachii pada orang dewasa biasanya tampak jelas karena fraktur radius ulna sering berupa fraktur yang disertai dislokasi fragmen tulang.

DAFTAR PUSTAKA

http://bommaannha.blogspot.com/2012/03/asuhan-keperawatan-dengan-gangguan_22.html http://forbetterhealth.wordpress.com/2008/12/22/konsep-fraktur-patah-tulang/ http://www.scribd.com/doc/57428363/Laporan-Pendahuluan-Asuhan-Keperawatan-KlienDengan-Fraktur-Antebrachii