Anda di halaman 1dari 10

FILSAFAT PANCASILA

A. Pengertaan Filsafat Dalam wacana ilmu pengehahuan sebenarnya pengertian filsafat adalah sangat sederhana dan mudah difahami. Filsafat adalah salah satu bidang ilmu yang senantiasa ada dan menyertai kehidupan manusia. Dengan kata lain perkataan selama manusia hidup, maka sebenarnya ia tidak dapat ngelak dari filsafat, atau dalam kehidupan senantiasa berfilsafat. Jikalau seseorang hanya berpandangan bahwa materi merupakan sumber kebenaran dalam kehidupan, maka orang tersebut berfilsafat materialisme. Jika seseorang berpandangan bahwa kenikmatan adalah nilai terpenting dalam kehidupan maka seseorang tersebut berpandangan hedonisme, demikian dengan liberalisme berpandangan bahwa dalam kehidupan masyarakat dan negara adalah kebebasan individu dan masih banyak pandangan filsafat yang lain. Filsafat adalah suatu bidang ilmu yang senantiasa ada dan menyertai kehidupan manusia. Secara etimologis istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani philein yang artinya cinta dan sophos yang artinya hikmah atau kebijaksanaan atau wisdom. Jadi secara harfiah istilah filsafat adalah mengandung makna cinta kebijaksanaan. Jikalau ditinjau dari lingkup pembahasannya, maka filsafat meliputi banyak bidang bahasan antara lain tentang manusia, masyarakat, alam, pengetahuan etika, logika, agama, estetika dan bidang lainnya. Keseluruhan arti filsafat meliputi berbagai dikelompokan menjadi dua macam sebagai berikut : Pertama : filsafat sebagai produk mencakup pengertian a. Pengertian filsafat yang mencakup arti-arti filsafat debagai jenis pengetahuan, ilmu, konsep dari pada filsuf pada zaman dahulu teori, sistem atau pandangan tertentu, yang merupakan hasil dari proses berfilsafat dan yang mempunyai ciriciri tertentu. b. Filsafat sebagai suatu jenis problema yang dihadapi manusia sebagai hasil dari aktivitas berfilsafat. Filsafat dalam pengertian jenis ini memiliki ciri khas tertentu sebagai susatu hasil kegiatan berfilsafat dan pada umumnya proses pemecahan persoalan filsafat ini diselesaikan dengan kegiatan berfilsafat (dalam pengertian filsafat sebagai proses yang dinamis. masalah tersebut dapat

BAB II FILSAFAT PANCASILA

Kedua : filsafat sebagai suatu proses mencakup pengertian. Filsafat yang diartikan sebagai suatu aktivitas berfilsafat, dalam proses pemecahan suatu permasalahan dengan menggunakan suatu cara dan metode tertentu yang sesuai dengan objek permasalahannya. Dalam pengertian ini filsafat merupakan suatu sistem pengetahuan yang bersifat dinamis. Filsafat dalam pengertian ini tidak lagi sebagai sekumpulan dogma yang hanya diyakini ditekuni dan dihadapi sebagai suatu sistem nilai tertentu, tetapi lebih merupakan suatu aktivitas berfilsafat, suatu proses yang dinamis dengan menggunakan cara metode tersendiri. B. Pengertian Pancasila sebagai Suatu Sistem Pancasila yang terdiri atas lima sila kakikatnya merupakan sistem filsafat. Yang dimaksud dengan sistem adalah suatu kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan, saling bekerjasama untuk satu tujuan tertentu dan secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang utuh. Sistem lazimnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1). Suatu kesatuan bagian-bagian 2). Bagian-bagian tersebut mempunyai fungsi sendiri-sendiri 3). Saling berhubungan, saling ketergantungan 4). Kesemuannya dimaksudkan untuk mencapai suatu tujuan bersama (tujuan sistem) 5). Terjadi dalam suatu lingkungan yang kompleks (shore dan voich 1974:22).

Dasar filsafat negara pancasila adalah merupakan satu kesatuan yang bersifat majemuk tunggal. Kosekuensinya setiap sila tidak dapat berdiri sendiri terpisah dari sila yang lain. Dengan demikian Pancasila disebut dengan kenyataan objektif, yaitu bahwa kenyataan itu ada pada Pancasila sendiri terlepas dari suatu yang lain, atau terlepas dari pengetauan orang. Kenyataan objetif yang ada dan terletak pada Pancasila. Sehingga Pancasila sebagai suatu sistem filsafat bersifat khas dan berbeda dengan sistem-sistem filsafat lainnya. Oleh karena itu pancasila sebagai suatu sistem filsafat akan memberikan ciri-ciri yang khas, khusus yang tidak terdapat pada sistem filsafat lainnya. C. Kesatuan Sila - Sila Pancasila 1. Susunan Pancasila yang bersifat Hierarkhis dan Berbentuk Piramidal Susunan Pancasila adalah hierarkhis dan mempunyai bentuk piramidal. Pengertian matematika tentang piramidal digunakan untuk menggambarkan hubungan hierarkhi sila sila dari Pancasila dalam urutan - urutan luas (kwantitas) dan juga dalam hal sifat - sifatnya (kwalitas). Kalau dilihat dari intinya, urutan ke-5 sila menunjukkan suatu rangkaian tingkat dalam luasnya, dan isi sifatnya, merupakan pengkhususan dari sila - sila yang di mukanya. Apabila antara sila ke satu dan seterusnya saling berhubungan, dan mengikat antara satu
BAB II FILSAFAT PANCASILA 2

dengan yang lain, maka Pancasila merupakan satu kesatuan yang bulat. Sebliknya, antara sila ke satu dengan sila lainnya tidak ada sangkut paut atau hubungan, maka Pancasila pun menjadi terpecah - pecah dan tidak dapat digumakan sebagai suatu asas kerokhanian bagi Negara. Dalam susunan hierarkhis dan piramidal ini, maka "Ketuhanan yang Maha Esa" menjadi basis kemanusiaan, persatuan Indonesia, kerakyatan dan keadilan sosial. Sebaliknya Ketuhanan yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berkemanusiaan, yang membangun, memelihara, dan mengembangkan persatuan Indonesia, yang berkerakyatan dan berkeadilan sosial, demikian selanjutnya, sehingga tiap - tiap sila di dalamnya mengandung sila - sila lainnya. Secara ontologis, kesatuan sila - sila Pancasila sebagai suatu sistem bersifat hierarkhis dan berbentuk piramidal adalah sebagai berikut:
Sila 1: Hakikat adanya Tuhan adalah ada karena dirinya sendiri, tuhan sebagai Causa Prima. Oleh karena itu, segala sesuatu yang ada termasuk manusia ada karena diciptakan Tuhan. Sila 2: adapun manusia adalah subjek pendukungpokok negara, karena negara adalah lembaga kemanusiaan, negara adalah sebagai persekutuan hidup bersama yang anggotanya adalah manusia. Sila 3: Maka negara adalah sebagai akibat adanya manusia yang bersatu. Sila 4: Sehingga terbentuklah persekutuan hidup bersama yang disebut rakyat. Maka rakyat pada hakikatnya merupakan unsur negara disamping wilayah dan pemerintah. Rakyat adalah sebagai totalitas individu - individu dalam negara yang bersatu. Sila 5: Pada hakikatnya sebagai tujuan dari lembaga hidup bersama yang disebut negara.

2. Kesatuan Sila - Sila Pancasilayang saling mengisi dan saling mengkualifikasi Sila - sila Pancasila sebagai kesatuan dapat dirumuskan pula dalam hubungannya saling mengisi dan mengkualifikasi dalam rangka hubungan hierarkhis piramidal tadi. 1. Sila Pertama: Ketuhanan yang Maha Esa adalah ketuhanan yang berkemanusiaan yang adil, dan beradab, yang berpersatuan Indonesia, yang berkerakyatan, yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 2. Sila Kedua: Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah kemanusiaan yang Berketuhanan Yang Maha Esa, yang berpersatuan Indonesia, yang berpersatuan Indonesia, yang berkerakyatan, yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 3. Sila Ketiga: Persatuan Indonesia adalah persatuan yang Berketuhanan Yang Maha Esa, yang berpersatuan Indonesia, yang berpersatuan Indonesia, yang berkerakyatan, yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 4. Sila Keempat: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, adalah kerakyatan yang Berketuhanan Yang Maha Esa,
BAB II FILSAFAT PANCASILA 3

yang berpersatuan Indonesia, yang berpersatuan Indonesia, yang berkerakyatan, yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 5. Sila Kelima adalah Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah keadilan yang Berketuhanan Yang Maha Esa, yang berpersatuan Indonesia, yang berpersatuan Indonesia, yang berkerakyatan, yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. D. Kesatuan Sila-sila Pancasila sebagai Suatu Sistem Filsafat Kesatuan sila-sila Pancasila adalah bersifat hierarkhis dan mempunyai bentuk pyramidal, digunakan untuk menggambarkan hubungan hierarkhis sila-sila dalam Pancasila dalam urut-urutan luas (kuantitas) dan dalam pengertian inilah hubungan kesatuan sila-sila pancasila itu dalam arti formal logis. Selain kesatuan sila-sila Pancasila itu hierarkhis dalam hal kuantitas juga dalam hal isi sifatnya yaitu menyangkut makna serta hakikat sila-sila Pancasila. Kesatuan yang demikian ini meliputi kesatuan dalam hal dasar ontologism, dasar epistomologis serta dasar aksiologis dari sila-sila Pancasila 1. Dasar Ontologis Sila-sila Pancasila Pancasila yang terdiri atas lima sila, setiap sila bukanlah merupakan asas yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan memiliki satu kesatuan dasar ontologism. Dasar ontologism Pancasila pada hakikatnya adalah manusia, yang memiliki hakikat mutlak monopluralis, oleh karena itu hakikat dasar ini juga disebut sebagai dasar antropologis. Manusia sebagai pendukung pokok sila-sila Pancasila secara ontologism memiliki hal-hal yang mutlak, yaitu terdiri atas susunan kodrat, raga dan jiwa jasmani dan rokhani, sifat kodrat manusia adalah sebagai makhluk individu dan makhluk social, serta kedudukan kodrat manusia sebagai makhluk pribadi berdiri sendiri dan sebagai makhluk tuhan yang maha esa. HUbungan kesesuaian antara Negara dengan landasan sila-sila Pancasila adalah berupa hubungan sebab-akibat yaitu Negara sebagai pendukung hubungan dan tuhan, manusia, satu, rakyat, dan adila sebagai pokok pangkal hubungan. Landasan sila-sila Pancasila yaitu Tuhan, manusia, satu, rakyat, dan adil adalah sebagai sebab adapun Negara adalah sebagai akibat. 2. Dasar Epistomologis Pancasila Sebagai suatu ideology maka Pancasila memiliki tiga unsur pokok agar dapat menarik loyalitas dari pendukungnya yaitu : 1) logos yaitu rasionalitas atau penalarannya, 2) pathos yaitu penghayatannya, 3) ethos yaitu kesusilaannya. Dasara epistomologis Pancasila pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan dengan dasar ontologisnya. Pancasila sebagai suatu ideologi bersumber pada nilai nilai dasarnya yaitu filsafat pancasila. Oleh karena itu dasar epistomologis Pancasila tidak dapat dipisahkan dengan konsep dasarnya tentang hakikat manusia.

BAB II FILSAFAT PANCASILA

Terdapat tiga persoalan yang mendasar dalam epistomologi yaitu : pertama tentang sumber pengetahuan manusia, kedua tentang teori kebenaran pengetahuan manusia, ketiga tentang watak pengetahuan manusia Tentang sumber pengetahuan Pancasila, sebagaimana dipahami bersama bahwa sumber pengetahuan pancasila adalah nilai nilai yang ada pada bangsa Indonesia itu sendiri, bukan hasil renungan seseorang atau beberapa orang saja namun dirumuskan oleh wakil wakil bangsa Indonesia dalam mendirikan Negara. Dengan lain perkataan bahwa bangsa Indonesia adalah sebagai kausa materialis Pancasila. Berikutnya tentang susunan Pancasila sebagai suatu sistem pengetahuan. Sebagai suatu sistem pengetahuan maka Pancasila memiliki susunan yang bersifat formal logis baik dalam arti susunan sila-sila Pancasila maupun isi arti sila-sila Pancasila. Susunan isi arti Pancasila meliputi tiga hal yaitu : Pertama isi arti Pancasila yang umum universal yaitu hakikat sila-sila pancasila, merupakan inti sari atau esensi Pancasila sehingga merupakan pangkal tolak derivasi baik dalam pelaksanaan pada bidang bidang kenegaraan dan tertib hokum Indonesia serta dalam realisasi praksis dalam berbagai bidang kehidupan kongkrit. Kedua isi arti Pancasila yang umum kolektif, yaitu isi arti Pancasila sebagai pedoman kolektif Negara dan bangsa Indonesia terutama dalam tertib hokum Indonesia, Ketiga arti Pancasila yang bersifat khusus dan kongkrit yaitu isi Pancasila dalam realisasi praksis dalam berbagai bidang kehidupan sehingga memiliki sifat yang khusus kongkrit serta dinamis Pembahasan berikutnya adalah pandangan Pancasila tentang pengetahuan manusia. Sebagaimana dijelaskan di muka bahwa masalah epistomologi Pancasila diletakkan dalam kerangka bangunan filsafat manusia. Maka konsepsi dasar ontologis sila-sila Pancasila yaitu hakikat manusia monopluralis merupakan dasar pijak epistomologi Pancasila 3. Dasar Aksiologis Sila-sila Pancasila Sila-sila Pancasila sebagai suatu sistem filsafat juga memiliki satu kesatuandasar aksiologisnya, yaitu nilai nilai yang terkandung dalam Pancasila pada hakikatnya juga merupakan satu-kesatuan. Pada hakikatnya segala sesuatu itu bernilai, hanya nilai macam apa saja yang ada serta bagaimana hubungan nilai tersebut dengan manusia. Menurut Notonagoro bahwa nilai nilai Pancasila termasuk nilai kerokhanian yang mengakui nilai material dan nilai vital. a. Teori Nilai Menurut tinggi rendahnya, nilai-nilai dapat dikelompokkan dalam empat tingkatan sebagai berikut (Max Scheler) 1) Nilai-nilai kenikmatan : dalam tingkat ini terdapat deretan nilai-nilai yang mengenakkan dan tidak mengenakkan, yang menyebabkan orang senang atau menderita tidak enak 2) Nilai-nilai kehidupan : terdapat nilai-nilai penting bagi kehidupan 3) Nilai-nilai kejiwaan : nilai-nilai semacam ini ialah keindahan, kebenaran, dan pengetahuan murni yang dicapai dalam filsafat 4) Nilai-nilai kerokhanian : terdapatlah modalitas nilai dari yang suci dan tidak suci. Nilai-nilai semacam ini terutam terdiri dari nilai-nilai pribadi
BAB II FILSAFAT PANCASILA 5

Walter G.Everet menggolong-golongkan nilai-nilai manusiawi ke delapan kelompok yaitu: 1) Nilai-nilai ekonomis 6) Nilai-nilai estetis 2) Nilai-nilai 7) Nilai-nilai kejasmanian intelektual 3) Nilai-nilai hiburan 8) Nilai-nilai 4) Nilai-nilai sosial keagamaan 5) Nilai-nilai watak Notonagoro membagi nilai menjadi tiga yaitu: 1) Nilai material 2) Nilai vital 3) Nilai kerokhanian b. Nilai-nilai Pancasila sebagai suatu sistem Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila itu mempunyai tingkatan dan bobot yang berbeda, namun nilai nilai itu tidak saling bertentangan. Akan tetapi nilai nilai itu saling melengkapi. Hal ini disebabkan sebagai suatu substansi, pancasila merupakan kesatuan yang bulat dan utuh atau organic. Dari uraian mengenai nilai nilai yang terkandung dalam sila Pancasila itu pula, tampak dengan jelas bahwa nilai nilai yang termuat dalam pancasila termasuk dalam tinkatan nilai yang tinggi dengan urutan sila ketuhanan yang maha esa menduduki tingkatan dan bobot nilai yang tertinggi, karena secara jelas mengandung nilai religious. Pada tingkatan bawahnya adalah keempat nilai manusiawi dasar.

E. Pancasila Sebagai Nilai Dasar bagi Bangsa dan Negara Rebuplik Indonesia 1. Dasar Filosofi Pancasila sebagai dasar filsafat negara serta sebagai filsafat hidup bangsa Indonesia pada hakikatnya merupakan suatu nilai-nilai yang bersifat sistematis. Maka sila-sila pancasila merupakann suatu sistem filsafat. Pancasila sebagai filsafat bangsa dan negara RI, mengandung makna bahwa dalam setiap aspek kehidupan kebangsaan, kemasyarakatan, serta keneragaan harus berdasarkan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyataan dan keadilan. Pancasila yang merupakan nilai-nilai kerokhanian itu di dalamnya terkandung nilai-nilai lainnya secara lengkap dan harmonis, baik nilai material, vital, kebenaran (kenyataan), estetis, etis maupun nilai religious. Nilai-nilai pancasila adalah bersifat objektif dan subjektif. Artinya ensensi nilai-nilai pancasila bersifat universal yaitu ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadialan.
BAB II FILSAFAT PANCASILA 6

Nilai-nilai pancasila bersifat objektif yaitu : 1. Rumusan dari sila-sila pancasila itu sendiri menunjukkan adanya sifat-sifat yang universal dan abstrak. 2. Inti nilai-nilai pancasila akan tetap ada sepanjang masa dalam kehidupan bangsa Indonesia 3. Ilmu hokum memenuhi syarat sebagai pokok kaidah yang fundamental negara . Nilai-nilai bersifat subjektif yaitu : 1. Nilai-nilai pancasila timbul dari bangsa Indonesia sehingga bangsa Indonesia kausa materialis. 2. Nilai-nilai pancasila merupaka filsafat (pandangan hidup) bangsa Indonesia. 3. Nilai-nilai pancasila didalamnya terkandung ke 7 nilai kerokhanian.

2. Nilai-nilai Pancasila sebagai Dasar Filsafat Negara. Nilai-nilai pancasila terkandung dalam pembukaan UUD 1945 secara yuridis memiliki kedudukan sebagai pokok kaidah negara yang fundanmental. Didalamya memuat Nilai-nilai pancasila mengandung 4 pokok pikiran yaitu : - Pokok Pikiran Pertama, yaitu bahwa negara Indonesia adalah negara Persatuan, yang melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpa darah Indonesia. - Pokok Pikiran Kedua yaitu bahwa negara Indonesia mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. - Pokok Pikiran Ketiga yaitu bahwa negara berkedaulatan rakyat. Berdasarkan atas kerakyatan dan pemusyawaratan-perwakilan. - Pokok Pikiran Keempat yaitu bahwa negara berdasarkan atas ketuhanan yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Hal itu dapat disimpulkan bahwa keempat pokok pikiran tsb tidak lain merupakan perwujudan dari sila-sila pancasila. F. Pancasila sebagai ideologi Bangsa dan Negara Indonesia. Istilah ideology berasal dari kata idea yang berarti gagasan, konsep, pengertian dasar, cita-cita dan logos yang berarti ilmu. Demikian ideologi mencangkup pengertian tentang idea, pengertian dasar, gagasan dan cita-cita. Selain itu Pancasila berasal dari nilainilai yang memiliki oleh bangsa sehingga pancasila pada hakikatnya untuk seluruh lapisan serta unsure-unsur bangsa secara komperhensif. Oleh karena cirri khas pancasila itu maka memiliki kesesuaian dengan bangsa Indonesia. G. Makna Nilai - Nilai Setiap Pancasila Sebagai suatu dasar filsafat negara, maka sila - sila Pancasila merupakan suatu sistem nilai, oleh karena itu sila - sila Pancasila itu pada hakikatnya merupakan suatu kesatuan. Meskipun dalam setiap sila terkandung nilai - nilai yang memiliki perbedaan antara satu dan yang lainnya namun kesemuanya itu tidak lain merupakan kesatuan yang sistematis. Makna sila - sila Pancasila senantiasa sebagai sistem filsafat. Adapun nilai - nilai yang terkandung dalam setiap sila adalah sebagai berikut.

BAB II FILSAFAT PANCASILA

1. Ketuhanan Yang Maha Esa Dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa ini terkandung nilai bahwa negara yang didirikan adalah sebagai pengejawantahan tujuan manusia sebagai sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu segala hal yang berkaitan dengan pelaksanaan dan penyelenggaraan negara, harus dijiwai nilai - nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. 2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab Dalam sila Kemanusiaan terkandung nilai - nilai bahwa negara harus menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang beradab. Oleh karena itu dalam kehidupan kenegaraan terutama dalam peraturan perundang - undangan negara harus mewujudkan tercapainya tujuan ketinggian harkat dan martabat manusia. 3. Persatuan Indonesia Nilai yang terkandung dalam sila Persatuan Indonesia tidak dapat dipisahkan dengan keempat sila lainnyakarena seluruh sila merupakan suatu kesatuan yang bersifat sistematis. Sila Persatuan Indonesia didasari dan dijiwai oleh sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusiaan yang adil dan beradab serta mendasari dan dijiwai sila Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia 4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan Hakekat ini adalah demokrasi. dalam artian umum yaitu pemerintah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Permusyawaratan. artinya mengusahakan putusan bersama secara bulat, baru sesudah itu diadakan tindakan bersama dalam melaksanakan keputusan diperlukan kejujuran bersama 5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia Keadilan berarti adanya persamaan dan saling menghargai karya orang lain jadi orang itu bertindak adil apabila memberikan sesuatu sesuai dengan haknya.

H. Pancasila Sebagai Dasar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Setiap bangsa di dunia pasti memilikisuatu cita - cita serta pandangan hidup yang merupakan suatu basis nilai dalam setiap pemecahan masalah yang dihadapi oleh bangsa itu sendiri. Bangsa yang hidup dalam suatu kawasan negara bukan terjadi secara kebetulan melainkan melalui suatu proses perkembangan kausalitas. Hal ini menurut Ernest renan dan Hans Khons sebagai suatu proses sejarah terbentuknya suatu bangsa, sehingga unsur kesatuan atau nasionalisme suatu bangsa ditentukan juga oleh sejarah terbentuknya bangsa tersebut. Meskipun bangsa Indonesia terbentuk melalui suatu proses penjajahan dari bangsa asing, namun tatkala akan mendirikan suatu negara telah memiliki suatu landasan filosofis yang merrupakan suatu esensi kuktural religius dari bangsa Indonesia sendiri yaitu berketuhanan, berkemanusiaan, berpersatuan, berkerakyatan, dan berkeadilan. Hal inilah oleh Notonagoro bangsa Indonesia disebut sebagai Kausa Materialis Pancasila (Notonagoro, 1975). Tekad untuk menentukan filsafat Pancasila sebagai dasar filosofis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara inilah telah mendapatkan legitimasi yuridis, tatkala "The Founding Fathers" kita mengesahkan dalam konstitusi UUD 1945 18-8-1945.
BAB II FILSAFAT PANCASILA 8

Dewasa ini, nilai -nilai Pancasila merupakan suatu pangkal tolak derivasi baik dalam bidang politik, sosial, ekonomi, hukum serta kebijakan hubungan internasional. Hal inilah diistilahkan bahwa Pancasila sebagai paradigma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Istilah 'Paradigma' pada awalnya berkembang dalam dunia ilmu pengethuan, terutama dalam kaitannya dengan filsafat ilmu pengetahuan. Menurut Thomas S. Khun dalam bukunya yang berjudul Structure of Scientific Revolution (1970: 49) secara terminologis Inti sari pengertian 'Paradigma' adalah suatu asumsi - asumsi dasar dan asumsi - asumsi teoritis yang umum yang merupakan sumber nilai. Hal itu merupakan suatu sumber hukum - hukum, metode, serta penerapan, dalam ilmu pengetahuan sehingga sangat menentukan sifat, ciri, serta karakter ilmu pengetahuan itu sendiri. Istilah ilmiah tersebut kemudian berkembang dalam berbagai bidang kehidupan manusia serta ilmu pengetahuan lain, misalnya politik, hukum, ekonomi, budaya, serta bidang - bidang lainnya. Istilah 'Paradigma' berkembang menjadi suatu terminologi yang mengandung arti pengertian sumber nilai, kerangka pikir, orientasi dasar, sumber asas arah dan tujuan dari suatu perkembangan, perubahan serta proses dalam suatu bidang tertentu, termasuk dalam bidang kehidupan kebangsaan dan kenegaraan. Secara filosofis, kedudukan Pancasila sebagai paradigma kehidupan kebangsaan dan kenegaraan mengandung suatu konsekuensi bahwa dalam segala aspek kehidupan kebangsaan dan kenegaraan mendasarkan pada nilai - nilai yang terkandung dalam Pancasila. Secara ontologis, manusia adalah sebagai pendukung pokok negara dan manusia memiliki unsur fundamental "monopluralis", yang unsur - unsurnya meliputi susunan kodrat jasmani rokhani, sifat kodrat individu - individu makhluk sosial dan kedudukan kodrat makhluk pribadi-makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Negara adalah sebagai perwujudan sifat kodrat manusia individu-makhluk sosial (Notonagoro, 1975). Kenyataan objektif nilai - nilai filosofis Pancasila sebagai paradigma kehidupan kebangsaan dan kenegaraan sebenarnya bukanlah hanya pada tingkatan legitimasi yuridis dan politis saja melainkan pada tingkatan sosio-kultural-religius. Secara lebih rinci filsafat Pancasila sebagai dasar kehidupan kebangsaan dan kenegaraan adalah merupakan Identitas Nasional Indonesia. Hal ini didasarkan pada suatu realitas bahwa kausa materialis atau asal nilai - nilai Pancasila adalah Bangsa Indonesia itu sendiri. Alhasil, ciri khas, sifat, serta karakter bangsa Indonesia tercermin dalam suatu sistem nilai filsafat Pancasila.
BAB II FILSAFAT PANCASILA 9

Selain itu, filsafat Pancasila merupakan dasar dari Negara dan Konstitusi (Undang Undang dasar Negara) Indonesia. Sebagaimana diketahui bahwa filsafat Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia, memiliki konsekuesnsi segala peraturan perundang undangan dijabarkan dari nilai - nilai Pancasila. Dengan kata lain, Pancasila merupakan sumber hukum dasar Indonesia, sehingga seluruh peraturan hukum positif Indonesia diderivasikan atau dijabarkan dari nilai - nilai Pancasila. Filsafat Pancasila mendasarkan core phylosophynya, bahwa manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial, dan manusia adalah juga sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Sila kedua Pancasila 'Kemanusiaam yang adil dan beradan' secara filosofis menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia yang beradab. Oleh karena itu, dalam kehidupan negara perlindungan terhadap Hak - hak Asasi Manusia, menjadi suatu keharusan. Pancasila juga merupakan dasar dan basis geopolitik dan geostrategi Indonesia. Sebagaimana dipahami bahwa geopolitik diartikan sebagai politik atau kebijaksanaan dan strategi nasional Indonesia, yang didorong oleh aspirasi nasional geografik atau kepentingan yang titik beratnya terletak pada pertimbangan geografi, wilayah atau teritorial, dalam arti luas Negara Indonesia, yang apabila dilaksanakan akan berdampak langsung kepada sistem politik negara. Sebaliknya politik negara itu secara langsung akan berdampak kepada geografi negara yang bersangkutan (Suradinata 2005: 11). Wawasan Nusantara adalah merupakan geopolitik Indonesia, karena dalam wawasan nusantara terkandung konsepsi geopolitik yaitu unsur ruang, namun menyangkut seluruhnya (Sumiarno, 2006). Wawasan Nusantara dilandasi oleh kebangsaan Indonesia, dan hal itu dilambangkan secara literal pada lma sila garuda Pancasila, serta semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Sebagai konsekuensi dari konsep geopolitik Indonesia, maka Pancasila merupakan dasar filosofi geostrategi Indonesia. Hal ini berdasarkan analisis sistematis bahwa Pancasila merupakan core phylosophy dari Pembukaan UUD 1945, yang menurut ilmu hukum berkedudukan sebagai staatfundamentalform. Geostrategi diartikan sebagai metode untuk mewujudkan cita - cita proklamasi, sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, melalui proses pembangunan nasional dengan memanfaatkan geopolitik Indonesia. Dengan Pancasila sebagai dasarnya, maka pembangunan Indonesia akan memiliki visi yang jelas dan terarah.

BAB II FILSAFAT PANCASILA

10