Anda di halaman 1dari 9

B. Diagram Alir 1.

Uji Ninhidrin Sampel

Diambil 2 mL 2 mL larutan ninhidrid Dimasukan tabung reaksi pada air selama 15-20 detik Diamati warna larutannya Dicatat dan ditulis hasil pengamatan

Hasil

2. Uji Biuret

2 mL larutan sampel Dikocok 1 mL NaOH

10%
Ditambahkan 1-3 tetes larutan CuSO4 0,1% Diamati timbulnya warna

Hasil

C. Hasil Percobaan Dan Pengamatan : 1. Uji Ninhidrin a. Tuliskan data hasil uji Ninhidrin Sampel Skim Putih Putih Telur Gelatin Hasil Uji Sebelum Pemanasan Sesudah Pemanasan Keterangan Berwarna putih keruh, Putih keruh, terdapat terdapat endapan endapan berwarna putih Di atas keruh, dibawah Di atas berwarna berwarna kuning bening Berwarna putih bening Berwarna putih Aspartam bening, terdapat endapan warna putih MSG Berwarna ungu pekat ungu, terdapat endapan putih Berwarna putih bening Berwarna ungu bening, terdapat endapan berwarna putih Berwarna ungu pekat -) b. Bahas dan bandingkan data-data hasil uji Ninhidrin dari beberapa sampel dalam percobaan ini! 1. Analisa Prosedur Pada setiap sampel, perlakuan yang diberikan sama. Pertama, kita siapkan terlebih dahulu alat dan bahan yang dibutuhkan. Alat yang kita butuhkan adalah tabung reaksi, rak tabung reaksi, kertas label, bulb, pipet volume, pipet tetes, dan beaker glass. Sedangkan bahannya, kita membutuhkan reagen ninhidrin, susu skim, gelatin, putih telur, aspartanm dan MSG. Lalu yang kedua, kita masukkan sampel ke dalam tabung reaksi, masing-masing sebanyak 2 mL. Kemudian tambahkan 2 mL reagen ninhidrin ke dalam masing masing sampel. Setelah itu, amati apa yang terjadi. Catat dan dokumentasikan. Kemudian, panaskan sampel yang telah diberi reagen ninhidrin tersebut ke dalam beaker glass yang berisi air mendidih selama 20 detik. Fungsi pemanasan adalah untuk mempercepat reaksi karena dengan pemanasan energi kinetik dalam larutan dapat meningkat. Setelah dipanaskan, amati apa yang terjadi. Jika larutan menunjukkan warna ungu, larutan tersebut menunjukkan uji (+) ( -) Keterangan (+) / ( - ) ()

(+) (

positif. Jika terbentuk warna lain seperti merah, kuning, atau oranye, maka larutan tersebut menunjukkan uji negatif. 2. Analisa Hasil Pada sampel pertama, yaitu susu skim, hasil uji menunjukkan uji negatif. Hasil yang ditunjukkan sebelum pemanasan adalah putih keruh dan terdapat endapan. Setelah pemanasan, tak terjadi perubahan yang signifikan. Larutan susu skim tetap berwarna putih keruh dan terdapat endapan di bawahnya. Sedangkan pada sampel kedua, yaitu putih telur, sebelum dipanaskan, larutan ini keruh pada bagian atasnya. Sedangkan pada bagian bawah berwarna kuning bening. Namun setelah pemanasan, bagian atasnya berwarna ungu dan terdapat endapan putih di bawahnya. Hasil uji menunjukkan adanya uji positif yang ditandai munculnya warna ungu tersebut. Sampel berikutnya, yaitu gelatin, sebelum pemanasan larutannnya menunjukkan warna putih bening. Ternyata setelah dipanaskan, tidak terjadi perubahan apapun. Warnanya tetap berwarna putih bening. Hasil uji menunjukkan uji negatif. Selanjutnya, untuk sampel aspartam, sebelum dipanaskan larutannya menunjukkan warna putih bening dan terdapat endapan berwarna putih di bagian bawahnya. Namun setelah pemanasan, warnanya berubah menjadi ungu bening dan terdapat endapan berwarna putih di bawahnya. Dengan berubahnya warna larutan menjadi ungu, maka hasil uji yang ditunjukkan adalah uji positif. Hal yang sama juga terjadi pada sampel terakhir, yaitu MSG. Uji yang dihasilkan menunjukkan adanya uji positif pada larutan. Namun bedanya, larutan MSG sebelum dipanaskan pun telah menunjukkan hasil uji positif, yaitu dengan ditandai dengan adanya warna ungu. Bila dibandingkan dengan literatur, maka hasilnya adalah sebagai berikut. Susu skim tersusun atas asam asam amino yang membentuk ikatan peptida yang meskipun telah tidak begitu panjang. Maka pada hasil putih peptida yang telur, yang seharusnya ditunjukkan adalah hasil uji negatif. Hal ini sesuai dengan percobaan berdasarkan kita putih lakukan. telur Sedangkan memiliki literatur, ikatan

kompleks/kuat sehingga meskipun dilakukan pemanasan tidak akan memutuskan ikatan peptida didalamnya. Hal ini tidak sesuai dengan percobaan yang kita lakukan dimana sampel putih telur menunjukkan hasil uji positif. Kesalahan tersebut bisa terjadi karena kontaminasi dari

pipet yang digunakan atau waktu pemanasan yang tidak sesuai, dalam hal ini terlalu lama. Karena hal tersebut dapat meningkatkan energi pemutusan ikatan peptida pada telur, sehingga ikatan peptida yang kuat tersebut dapat terlepas sebagian karena warna ungu yang dihasilkan relatif sedikit bila dibandingkan dengan aspartam dan MSG. Selanjutnya pada sampel gelatin, berdasarkan literatur, sifat gelatin hampir sama dengan sifat putih telur. Yaitu memiliki ikan peptida yang kuat/kompleks. Sehingga sangat sulit untuk dilepaskan meskipun dengan pemanasan. Hal ini sesuai dengan percobaan yang telah kita lakukan karena gelatin tidak menunjukkan adanya hasil uji postif. Kemudian pada sampel aspartam, berdasarkan literatur, aspartam merupakan bentuk metil ester dari dipeptida dua asam amino yaitu asam amino asam aspartat dan asam amino essensial fenilalanina yang ketika dipanaskan ikatan peptidanya putus membentuk asam amino bebas. Hal ini sesuai dengan percobaan yang kita lakukan, dimana aspartam menunjukkan hasil uji positif dengan ditandai terbentuknya warna ungu pada larutan. Yang terakhir, pada sampel MSG, berdasarkan literatur, MSG merupakan garam natrium dari asam glutamat yang merupakan asam amino non essensial bebas yang berdiri tunggal sehingga MSG tidak memiliki ikatan peptida didalamnya. Hal ini sangat sesuai dengan percobaan yang dilakukan karena baik sebelum maupun setelah dipanaskan, MSG menunjukkan adanya warna ungu pada larutan yang menunjukkan hasil uji positif. Asam amino yang terkandung dalam MSG sangat banyak sehingga larutan yang dihasilkan berwarna ungu pekat (Waluyo, 2010). 3. Mekanisme Reaksi Reaksi uji positif yang terjadi pada uji ninhidrin adalah sebagai berikut.

Asam amino bebas akan mereduksi ninhidrin sehingga dihasilkan ninhidrin tereduksi dan asam amino bebas akan terpecah menjadi CO2 dan Amonia serta suatu aldehida. Selanjutnya, ninhidrin tereduksi, amonia, dan ninhidrin lain akan bereaksi menghasilkan senyawa kompleks berwarna ungu disertai dengan pelepasan 3 molekul H2O.

2. Uji Biuret a. Tuliskan data hasil uji Biuret Hasil Uji Sampel Sebelum ditambah Setelah ditambah reagen Keterangan reagen (CuSO4) Skim Putih keruh, terdapat endapan Di atas berwarna Putih Telur kuning keruh dan di bawah putih bening Berwarna putih bening Berwarna putih bening Berwarna putih bening b. Bahas dan bandingkan data-data hasil uji Biuret dari beberapa sampel dalam percobaan ini! 1. Analisa Prosedur Pertama-tama, siapkan bahan dan alat yang dibutuhkan. Alat yang kita butuhkan adalah tabung reaksi, rak tabung reaksi, kertas label, bulb, pipet volume, pipet tetes, dan beaker glass. Sedangkan bahannya, kita membutuhkan reagen biuret, susu skim, gelatin, putih telur, aspartanm dan MSG. Langkah selanjutnya, masukkan larutan sampel masing-masing 3 mL ke dalam tabung reaksi sesuai dengan label yang tertulis. Kemudian (CuSO4) Berwarna putih keruh, ada cincin berwarna Di atas warna ungu kuning keruh, ada cincin berwarna ungu dan di bawah putih bening Berwarna putih bening, terdapat cincin warna ungu Berwarna putih bening, ada warna biru Berwarna putih bening (+) (-) (+) Keteranga n (+) / ( - ) (+)

(+)

Gelatin

Aspartan MSG

tambahkan NaOH ke dalam masing-masing sampel sebanyak 1 mL dan dikocok. Fungsi penambahan NaOH adalah untuk memberikan suasana basa ke dalam larutan sehingga CuSO4 dapat bekerja dengan baik. Setelah itu diamati apa yang terjadi dan dicatat. Setelah itu, kita tambahkan 1-3 tetes larutan CuSO4 lalu amati apa yang terjadi dan dicatat. 2. Analisa Hasil Sampel pertama yaitu susu skim, menunjukkan adanya hasil uji positif. Sebelum ditambahkan reagen, sampel berwarna putih keruh dan terdapat endapan di bawahnya. Namun setelah ditambahkan reagen, sampel menunjukkan adanya cincin berwarna ungu dipermukaan dan berwarna putih keruh. Sedangkan pada sampel putih telur, menunjukkan hasil uji positif pula. Sebelum ditambahkan reagen, warnanya kuning keruh dan dibawahnya berwarna putih bening. Sedangkan setelah ditambahkan reagen, sampel menunjukkan warna kuning keruh di permukaan larutan dan menghasilkan cincin ungu. Dibawahnya, berwarna putih bening. Selanjutnya, pada sampel gelatin, sebelum diberi reagen warnanya putih bening, sama dengan sampel aspartam dan MSG yang berwarna putih bening juga sebelum diambahkan reagen. Namun setelah diberi reagen, gelatin menunjukkan terbentuknya cincin ungu pada permukaannya menunjukkan dan warna hasil uji larutannya tetap putih bening. Hal ini Sedangkan pada aspartam, setelah positif.

ditambahkan reagen, warnanya tetap putih bening, namun terbentuk warna biru di permukaan larutan. Hal ini juga menunjukkan hasil uji positif. Hal yang berbeda terjadi pada sampel MSG. Setelah diberi reagen, warnanya tidak berubah, tetap putih bening. Hal ini menunjukkan hasil uji negatif. Perbandingan penjabaran berikut dengan ini. literatur dapat kita yaitu jelaskan susu melalui bila

Sampel

pertama,

skim,

dibandingkan dengan literatur, percobaan yang kita lakukan sangat sesuai. Karena, susu skim memiliki ikatan peptida didalamnya meskipun susu skim tersusun dari asam asam amino yang membentuk ikatan peptida yang tidak begitu panjang. Hal tersebut sudah cukup untuk dapat diidentifikasi dengan menggunakan uji biuret. Hasilnya adalah uji positif yang ditandai dengan terbentuknya cincin ungu pada permukaan larutan. Selanjutnya pada sampel putih telur, menurut literatur, putih telur memiliki ikatan peptida yang banyak dan kuat/kompleks, sama seperti

gelatin. Maka hasil ujinya pasti menunjukkan hasil uji positif. Hal ini sesuai dengan percobaan, dimana pada sampel gelatin dan putih telur menunjukkan adanya cincin berwarna ungu pada permukaan larutan. Sampel berikutnya adalah aspartam. Menurut literatur, aspartam merupakan bentuk metil ester dari dipeptida dua asam amino yaitu asam amino asam aspartat dan asam amino essensial fenilalanina. Berarti, dalam aspartam hanya terdapat 1 ikatan peptida. Sedangkan uji biuret, hanya dapat mendeteksi 2 atau lebih ikatan peptida. Maka seharusnya, hasil yang ditunjukkan adalah hasil uji negatif. Hal ini tidak sesuai dengan percobaan yang telah dilakukan, dimana terdapat warna biru pada permukaan sampel yang menunjukkan hasil uji positif. Selanjutnya pada sampel terakhir, MSG, menurut literatur, MSG tidak memiliki ikatan peptida karena MSG merupakan garam natrium dari asam glutamat (hanya memiliki 1 senyawa asam amino) sehingga tidak terdapat ikatan peptida didalamnya karena tidak ada senyawa asam amino lain untuk berikatan. Hal ini sesuai dengan percobaan yang kita lakukan karena pada sampel MSG menunjukkan hasil uji negatif dimana sampel MSG tidak menunjukkan adanya perubahan warna, baik sebelum maupun sesudah ditambahkan reagen.

3. Mekanisme Reaksi Reaksi uji positif pada uji biuret adalah sebagai berikut.

Ion Cu2+ dari CuSO4 dalam suasana basa akan bereaksi dengan 2 atau lebih ikatan peptida membentuk senyawa kompleks berupa cincin berwarna ungu. Semakin ungu warna cincin, maka semakin banyak ikatan peptida yang ada pada larutan. Semakin pink warna cincin, maka semakin sedikit ikatan peptida dalam sampel.

PERTANYAAN
1. Bagaimana mengidentifikasi adanya gugus amino pada sampel dengan menggunakan uji Ninhidrin? Uji ninhidrin adalah uji kualitatif protein dimana reagen ninhidrin akan bereaksi dengan asam amino bebas dan membentuk senyawa kompleks. Apabila sampel yang telah ditambahkan dengan reagen ninhidrin berwarna ungu, baik setelah maupun sebelum dipanaskan, maka dapat dipastikan sampel tersebut mengandung asam amino bebas. Semakin pekat warna ungu yang dihasilkan, semakin banyak pula asam amino bebas dalam sampel tersebut. Namun uji ini hanya dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya asam amino bebas dalam suatu larutan, tidak dapat mengidentifikasi berapa banyaknya asam amino bebas yang terkandung dalam sampel (Winarno,2004).

2. Bagaimana reaksi yang terjadi antara sampel dengan reagen pada uji Biuret?

Reaksi yang terjadi kurang lebih seperti pada gambar diatas. Reaksi antara ion Cu2+ dari CuSO4 dalam suasana basa dengan 2 atau lebih ikatan peptida akan menghasilkan cincin dengan senyawa kompleks berwarna ungu. Semakin pekat warna ungu pada cincin, semakin banyak pula 2 atau lebih ikatan peptida dalam sampel (Sumardjo, 2008).

KESIMPULAN
Prinsip uji ninhidrin adalah uji kualitatif protein untuk mendeteksi ada atau tidaknya asam amino bebas dalam suatu sampel dengan cara menambahkan reagen ninhidrin pada sampel, dimana akan terjadi reaksi antara ninhidrin

dengan asam amino bebas yang akan menghasilkan molekul kompleks berwarna ungu. Prinsip uji biuret adalah uji kualitatif protein untuk mendeteksi ada atau tidaknya ikatan peptida sebanyak 2 atau lebih dengan menambahkan reagen biuret pada sampel dimana akan terjadi reaksi antara ion Cu2+ dari CuSO4 dalam suasana basa dengan 2 atau lebih ikatan peptida yang akan menghasilkan senyawa kompleks berupa cincin berwarna ungu. Tujuan praktikum uji kualitatif protein adalah untuk mengetahui prinsip dasar uji kualitatif protein dan mengetahui perbedaan prinsip dari masingmasing metode. Hasil yang kita dapatkan dari praktikum kali ini adalah pada uji ninhidrin, susu skim dan gelatin tidak memiliki asam amino bebas. Sedangkan putih telur, aspartam, dan MSG memiliki asam amino bebas. Pada uji ninhidrin, MSG tidak memiliki ikatan peptida sebanyak 2 atau lebih. Sedangkan susu skim, putih telur, gelatin, dan aspartam memiliki ikatan peptida sebanyak 2 atau lebih.

DAFTAR PUSTAKA TAMBAHAN


Waluyo, L. 2010. Kimia Organik. Malang : UMM Press.