Anda di halaman 1dari 2

Aplikasi Astrnomi Geodesi Dalam Penentuan WaktuWaktu Islam

30-12-2009 Astronomi geodesi merupakan pengaplikasian metode ilmu astronomi ke dalam jaringan dan teknik pada proyekproyek geodesi. Konsep astronomi geodesi ini pun dapat diapliakasikan dalam penentuan waktu-waktu Islam. Kerumitan suatu kalender terletak pada tidak bulatnya bilangan periode astronomis. Misalnya sistim kalender Masehi menggunakan peredaran bumi mengelilingi matahari yang rata-rata memerlukan waktu 365,242199 hari. Sedangkan sistim kalender Islam menggunakan peredaran bulan mengelilingi bumi yang memperhitungkan juga pengaruh peredaran bumi mengelilingi matahari, memakan waktu 29,530589 hari. Sebagai solusinya, pada umumnya diberlakukan konvensi berdasarkan pengalaman panjang penggunaan sistem kalender yang dimaksud dalam kehidupan sehari-hari. Penentuan kalender Islam bukan saja sekedar masalah konvensi, namun bagi umat Islam merupakan tuntutan dari ajaran Islam. Dalil umum yang mendasari penentuan kalender islam adalah Firman Allah swt: Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram Dalam (Qs. At-Taubah: 36). Oleh karena itu penggunaan hisab dalam

penentuan diharapkan berikut:

kalender memenuhi

Islam hal-hal

sedapat sebagai

1. Tetap mendasarkan pada dalil Al-Quran dan Hadits. 2. Secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan, 3. Seakurat mungkin, sehingga dapat diwujudkan kalender dengan perbedaan minimal dalam penggunaannya sebagai keperluan ibadah (puasa, haji) dan muamalah (perekonomian, perencanan, administrasi dll). Untuk memenuhi hal tersebut, tidaklah mudah. Hal ini karena berbagai faktor yang masih membutuhkan penyelesaian atau keputusan, antara permasalahan matla, kriteria dan metode (software/algoritm) yang dipakai. Pada akhirnya dibutuhkan konvensi yang tidak menyalai dalil syari dan kenyataan ilmiah untuk menyatukan berbagai metode dan cara penentuan yang berbeda-beda. Penentuan awal bulan sangat dipengaruhi pilihan matla (tempat terbitnya bulan). Meskipun hisab memberikan hasil hitungan (ketinggian, umur bulan, elongasi dll) yang sama, namun kesimpulan akhir Apakah sudah masuk tanggal atau belum bergantung juga pada matla. Perbedaan matla' bisa menjadi alasan untuk berbeda dalam berpuasa dan ber-Eidul Fitri, hal ini merupakan fakta dalam penerapan hukum yang telah dikaji oleh para ulama terdahulu, yang tentunya sesuai dengan jamannya. Kriteria wujudul hilal tidak hanya mensyaratkan terjadinya ijtima sebelum matahari terbenam, namun juga mensyaratkan bahwa hilal sudah di atas ufuk meski hanya nol koma sekian derajat. Keuntungan dari kriteria ini adalah relatif lebih mudah direalisasikan karena tidak

mensyaratkan hilal harus kelihatan dengan pengamatan lapangan. Namun mempunyai kelemahan yang tidak sepenuhnya mampu meyakinkan umat Islam secara umum bahwa metode ini sesuai dengan hadits yang mensyaratkan hilal kelihatan dalam pengamatan lapangan. kriteria wujudul hilal apabila diterapkan dengan pilihan matla global maka akan menghasilkan kesimpulan yang sama dengan kriteria Ijtima . Hal ini disebabkan garis ijtima, somewhere, pada umumnya akan beririsan dengan garis ketinggian hilal 0 derajat. Kriteria imkanur-rukyat adalah metode yang mencoba mempertemukan antara hisab dan rukyat, namun metode ini masih belum menemukan kriteria yang ideal. Sehingga perlu dicari kriteria yang mendasarkan pada data yang akurat. Seperti telah diketahui, bahawa sudah lama sejak lama umat Islam berusaha menyatukan kembali penentuan awal bulan Hijriyah melalui kriteria Imkanur Rukyah. Pada tahun 1978, dalam Persidangan Hilal negara-negara Islam sedunia di Istanbul, Turki dirumuskan kriteria Imkanur Rukyah, sebagai berikut : 1. Tinggi anak bulan tidak kurang dari 5 darjah dari ufuk barat. 2. Jarak lengkung anak bulan ke matahari tidak kurang dari 8 darjah. 3. Umur anak bulan tidak kurang dari 8 jam selepas ijtimak berlaku. Kriteria Imkanur Rukyah hasil keputusan MABIMS adalah sebagai berikut: 1. Tinggi hilal minimal 2 derajat, 2. Jarak lengkung hilal ke matahari minimal 3 derajat. 3. Umur hilal minimal 8 jam pada hari rukyah selepas terjadinya ijtimak Berdasarkan disimpulkan penjelasan di atas, bahwa dapat :

Perlu dipilih matla yang dapat direalisasikan secara konsisten. Dalam hal ini penulis mengusulkan matla yang diperlakukan adalah wilayah hukum di Indonesia, dan diaplikasikan secara benar sesuai dengan batas-batas wilayah hukum teritirial yang berlaku. Sehingga hisab tidak hanya dilakukan untuk markaz tertentu tetapi ke seluruh cakupan wilayah hukum tersebut. Perlu dilakukan kajian yang komprehensif tentang ketelitian, metode, definisi dll untuk memilih metode atau software yang terakurat. Perlu diaplikasikan kriteria mabims dengan lebih konsisten tidak hanya menerapkan ketinggian hilalnya saja. Dengan tetap membuka kemungkinan dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan kriteria yang lebih baik.