Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN KIMIA FISIK KI 2241 Percobaan E-3 DIAGRAM TERNER

Nama : Berlian Filda Y S NIM : 10511081

Kelompok

: 6

Tanggal Laporan

: 28 Februari 2013

Asisten : Nisrina Rizkia (10510002) Debora Nancy (10510012)

LAPORAN KIMIA FISIK KI 2241 Percobaan E-3 DIAGRAM TERNER Nama : Berlian Filda Y S NIM

LABORATORIUM KIMIA FISIKA PROGRAM STUDI KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

2013

DIAGRAM TERNER

  • I. Tujuan Percobaan

Menentukan kurva kelarutan suatu cairan yang terdapat dalam campuran 3

cairan tertentu

II.

Teori Dasar

Dengan menggunakan persamaan hukum fasa Gibbs, untuk system 3 komponen pada suhu dan tekanan tetap mempunyai jumlah derajat kebebasan maksimal = 2 (fasa minimum =1). Maka diagram fasa system ini dapat digambarkan dalam satu bidang datar berupa segitiga sama sisi yang disebut Diagram Terner. Tiap sudut segitiga tersebut menyatakan masing-masing komponen dalam keadaan murni. Jumlah fasa dalam system zat cair tiga komponen bergantung pada daya saling larut antara zat cair tersebut dan suhu percobaan. Titik-titik pada lengkungan menggambarkan komposisi system pada saat terjadi perubahan dari jernih menjadi keruh yang diakibatkan larutan 3 komponen yang homogeny pecah menjadi 2 larutan terner terkonjugasi. Terdapat dua kemungkinan jika ke dalam campuran 2 zat yang saling larut ditambahkan zat ketiga. Yakni; kelarutan kedua zat meningkat atau kelarutan antara keduanya menjadi turun.

III.

Zat dan Peralatan Zat:

  • - Aseton

- aqua DM

  • - metanol

- air

  • - Toluena

Peralatan

  • - Botol pikno

- Klem buret

  • - Labu Erlenmeyer - buret

  • - Pipet volume

- botol semprot

IV.

Cara Kerja

  • 9 campuran zat (aseton & metanol atau toluene & metanol) yang saling larut dibuat di dalam labu Erlenmeyer bersih, kering, dan bertutup dengan komposisi seperti dalam tabel pengamatan.

  • Setiap pengukuran volume dilakukan dengan menggunakan buret.

  • Campuran dalam labu 1 9 dititrasi dengan air hingga tepat timbul keruh, jumlah air yang digunakan dicatat.

  • Rapat massa masing-masing cairan murni air, methanol, aseton, dan toluene ditentukan.

  • V. Data Pengamatan

Labu

Volume Metanol (mL)

Volume toluene (mL)

Volume air (mL)

1

2

18

0.05

2

4

16

0.15

3

6

14

0.35

4

8

12

0.55

5

10

10

0.85

6

12

8

0.95

7

14

6

1.4

8

16

4

2.6

9

18

2

4.3

 

Labu

Volume Metanol (mL)

Volume Aseton (mL)

Volume air (mL)

1

2

18

0.1

2

4

16

0.4

3

6

14

0.4

4

8

12

0.5

5

  • 10 10

 

0.9

6

  • 12 8

 

2.6

7

  • 14 6

 

3.6

8

  • 16 4

 

5.3

9

  • 18 2

 

5.9

Data Piknometri:

Berat botol Pikno kosong

  • 18.76 gram

Berat botol pikno + air

  • 43.86 gram

Berat botol pikno + aseton

  • 39.49 gram

Berat botol pikno + metanol

  • 39.59 gram

Berat botol pikno + toluene

  • 41.30 gram

Suhu ruang pada saat percobaan dilakukan : 26. 5 °C

VI.

Pengolahan Data

  • 1. Penentuan Volume Piknometer

(

)

=

(

)

=

Dengan cara yang sama, diperoleh pada percobaan ini (tabel):

dari cairan-cairan lain yang digunakan

Zat

Massa jenis

Air

0.996649

Metanol

0.827

Aseton

0.823

Toluena

0.895

3. Penentuan fraksi mol zat dalam tiap labu

(

)

(

)

 

(

)

Sebagai contoh, digunakan data pada saat labu 1 untuk campuran toluene-metanol-air

Mol total = mol toluene + mol air + mol metanol = 0.229565

( ) = Dengan cara yang sama, diperoleh pada percobaan ini (tabel): dari cairan-cairan lain yang

Dengan cara yang sama, diperoleh nilai fraksi mol komponen dalam campuran pada setiap labu

 

1

2

3

4

5

6

 

8

  • 7 9

V

tol

 
  • 18 14

  • 16 12

 

10

8

 

4

  • 6 2

V

as

 
  • 18 14

  • 16 12

 

10

8

 

4

  • 6 2

V

me

2

4

6

8

10

12

14

16

18

V

air tol

0.05

0.15

0.35

0.55

0.85

0.95

1.4

 
  • 2.6 4.3

V

air as

5.9

5.3

3.6

2.6

0.9

0.5

0.4

 
  • 0.4 0.1

n tol

0.1751

0.1556

0.1362

0.1167

0.0973

0.0778

0.0584

0.0389

0.01946

n me

0.0517

0.1034

 

0.207

  • 0.15506 0.3618

0.25844

0.31013

 

0.4135

0.4652

n air tol

0.0028

0.0083

 

0.0305

  • 0.01938 0.0775

0.04706

0.0526

 

0.144

0.2381

n as

0.2554

0.227

 

0.1703

  • 0.19866 0.0851

0.1419

0.11352

 

0.0568

0.0284

n air as

0.3267

 
  • 0.2935 0.144

 
  • 0.19933 0.0221

  • 0.04983 0.00554

0.02768

 

0.022

 

n total

                 

tol

0.22956

  • 0.2673 0.354

  • 0.31064 0.4977

  • 0.40278 0.5964

0.44055

0.72273

n total

                 

as

0.6338

  • 0.6239 0.521

  • 0.55305 0.4691

  • 0.45017 0.4924

0.45133

0.4991

x

tol

0.76279

0.582

 

0.3298

  • 0.43844 0.1173

  • 0.24153 0.02692

0.17666

 

0.065

 

x

met

0.22515

0.3867

   
  • 0.49918 0.70395

    • 0.584 0.6934

  • 0.64163 0.64365

0.727

   

x

air tol

0.01206

0.0311

   
  • 0.06239 0.156

    • 0.086 0.2414

  • 0.11685 0.32943

0.1194

     

x

air as

0.51545

0.4704

   
  • 0.36042 0.06134

0.1107

  • 0.276 0.0472

   

0.045

0.01109

x

as

0.403

0.364

0.3592

 
  • 0.327 0.1815

0.31521

0.25152

 

0.1153

0.05686

4. Diagram Terner

VII.

Pembahasan

VIII.

Kesimpulan

IX.

Daftar Pustaka

X.

Lampiran