Anda di halaman 1dari 8

Penentuan Koefisien Disribusi 2014

PENENTUAN KOEFISIEN DISTRIBUSI


Selasa, 15 April 2014 Disusun oleh:
Raisa Soraya 1112016200038 Kelompok 5 : 1. M. Ikhwan Fillah (1112016200032) 2. Sitti Masitoh (1112016200006) PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2014

ABSTRAK
Dua pelarut yang tidak dapat bercampur ketika dilarutkan sesuai dengan hukum distribusi Nernst yaitu untuk dua pelarut yang tidak saling melarutkan, seperti air dan
karbontetraklorida, ketika dicampurkan akan terbentuk dua fasa yang terpisah. Apabila ditambahkan zat terlarut (I2) maka I2 akan terdistribusi ke dalam dua pelarut tersebut. Penentuan koefisien distribusi ini digunakan dua pelarut yaitu air dan kloroform. Air bersifat polar sedangkan kloroform bersifat non polar maka terbentuk dua fasa karena kedua pelarut tersebut tidak saling melarutkan. Jumlah zat terlarut dapat diketahui dari proses ekstraksi. Ekstraksi adalah proses pemisahan komponen dari suatu campuran berdasarkan proses distribusi terhadap dua pelarut yang tidak saling bercampur. Ekstraksi pelarut paling efektif digunakan karena prinsip metode ini didasarkan pada distribusi zat terlarut dengan perbandingan antara dua pelarut yang tidak bercampur. Pada percobaan ini kedua zat terlarut dipisahkan setelah dikocok dan mencapai keseimbangan lalu kedua lapisan pelarut yang terpisah tersebut dititrasi sampai mencapai titik ekivalen yaitu perubahan

Laporan Praktikum Kimia Fisika II

Page 1

Penentuan Koefisien Disribusi 2014


warna menjadi bening tak berwarna. Dari volume titran ini dapat diketahui koefisien I2 pada masingmasing pelarut. Kata kunci: hukum distribusi Nernst, ekstraksi, ekstraksi pelarut, koefisien distribusi.

INTRODUCTION
Ekstraksi pelarut atau disebut juga ekstraksi air merupakan metode yang paling baik dan paing populer. Alasan utamanya adalah pemisahan ini dapat dilakukan baik dalam tingkat makro maupun mikro. Prinsip metode ini didasarkan pada distribusi zat pelarut dengan perbandingan tertentu antara dua pelarut yang tidak saling bercampur. Seperti benzena, tetrakorida atau kloroform. Batasannya adalah zat terlarut dapat ditransfer pada jumlah yang berbeda dalam kedua fase pelarut. Ekstraksi merupakan proses pemisahan suatu komponen dari suatu campuran berdasarkan proses distribusi terhadap dua pelarut yang tidak saling bercampur. Eksraksi pelarut umumnya digunakan untuk memisahkan sejumlah gugus yang diinginkan dan merupakan gugus pengganggu dalam analisis secara keseluruhan. Kadang-kadang gugus pengganggu ini diekstraksi secara selektif. Teknik pengerjaan meliputi penambahan pelarut organik pada larutan organik yang mengandung gugus yang selanjutnya berasosiasi dengan masing-masing kation atau anion lain untuk menghasilkan kompleks tidak bermuatan yang dapat diekstraksi ke fase organik. Tahap berikutnya yang paling penting pada mekanisme ekstraksi adalah proses distribusi dari zat yang terekstraksi ke fase organik. Distribusi tergantung pada bermacam faktor, yaitu: kebasaan ligan, faktor stereokimia, dan adanya garam pada sistem ekstraksi, (Rukmana.2008).
Ekstraksi pelarut umumnya digunakan dalam analisis untuk memisahkan suatu zat terlarut (atau zat-zat terlarut) yang dianggap penting dari zat-zat pengganggu itu tidak diekstraksi secara selektif. Ekstraksi pelarut juga digunakan untuk memekatkan suatu spesi, yang dalam larutan-air adalah terlalu encer untuk dianalisis, (Baasset, J. 1994).

Garam-garam basa organik seperti garam sulfat dan hidroklorida sangat mudah larut dalam air dan basa bebas biasanya cukup larut dalam pelarut organik,terutama dalam pelarut yang relatif polar seperti kloroform dan etanol. Demikian pula, garam natrium dan kalsium asam organik mudah larut dalam air, sedangkan asam tak terionisasi biasanya cukup larut dalam pelarut organik. Sifat-sifat ini dapat dimanfaatkan dalam merancang suatu prosedur
ekstraksi, (David. G Watson. 2010).

Laporan Praktikum Kimia Fisika II

Page 2

Penentuan Koefisien Disribusi 2014


Laju pada mana dua konstituen memisah dalam kolom, ditetapkan oleh angka banding antara kedua koefisien distribusi bersangkutan, dimana koefisien itu dinyatakan oleh persamaan Kd =
banyaknya zat terlarut pada resin bobot resin ,g

banyaknya zat terlarut dalam larutan volume larutan ,cm 3

Koefisien distribusi ini dapat ditetapkan dengan eksperimen secara batch, dalam mana resin dalam jumah kecil yang diketahui, dikocok dengan larutan yang mengandung zat terlarut dengan konsentrasi yang diketahui, diikuti dengan menganalisis kedua faktor pemisah, , yang digunakan sebagai ukuran dari pemisahan kromatografi yang mungkin dinyatakn dengan persamaan, = Kd1 /Kd2, dimana Kd 1 dan Kd 2merupakan koefisien-koefisiendari kedua konstituen. Semakin besar deviasi (penyimpangan) dari satu, semakin mdahlah pemisahan akan terjadi. Ekstrasi-batch, metode yang paling sederhana dan paling banyak digunakan, dipakai bilamana, angka banding distribusi yang besar untuk pemisahan yang dikehendaki, mudah diperoleh. Hanya beberapa ekstraksi-batch akan dengan mudah memindahkan komponen yang diingini dengan lengkap. Ini dapat dilakukan dalam satu corong pemisah yang sederhana. Untuk pelarut-pelarut yang lebih ringan dari air dapat digunakan corong pemisah, yang dirancang untuk menyederhanakan penyingkiran fase yang lebih ringan. Setelah keadaan seimbang, lapisan yang lebih ringan (misal eter) dan lapisan air dengan memasukkan merkurium melalui kran pada dasar bulatan corong. Keran-keran harus terasa baik, sehingga tak diperlukan pelumas, jika toh diperlukan itu sebaiknya adalah dari gemuk jenis slikon. Kedua lapisan dikocok dalam satu corong pemisah sampai tercapai keseimbangan, setelah mana kedua lapian dibiarkan mencapai keadaan mapan benar-benar, sebelum mengambil contoh. Ekstraksi dan penarikan contoh (sampling) harus dilakukan pada temperatur konstan, karena angka banding distribusi maupun volume-volume pelarut dipengaruhi oleh perubahan-perubahan temperatur. Perlu dicamkan bahwa pengadukan campuran ekstraksi yang terlalu keras tidak ada manfaatnya: membolak-balik wadah secara biasa berulang-ulang sudah memadai untuk memberi kesetimbangan setelah beberapa pembolak-balikan yang relatif sedikit, (Basset .J . 1994). Ekstraksi akan ebih efektif dalam pemisahan zat terlarut di dalam air jika kloroform dibagai menjadi beberapa bagian daripada jika kloroform dengan volume yang sama digunakan pada proses yang sekaligus, (A.L Underwood.1999). Untuk dua pelarut yang tidak saling melarutkan, seperti air dan karbontetraklorida, ketika dicampurkan akan terbentuk dua fasa yang terpisah. Jika kedalamnya ditambahkan zat terlarut yang dapat larut di kedua fasa tersebut, seperti iodium yang dapat larut dalam air dan CCl4, maka zat terlarut akan terdistribusi di kedua pelarut (yang berbeda fasa) Laporan Praktikum Kimia Fisika II Page 3

Penentuan Koefisien Disribusi 2014


tersebut, sampai tercapai keadaan kesetimbangan. Jika zat terlarut terdistribusi diantara dua

pelarut yang tidak saling melarutkan dan zat terlarut tersebut tidak mengaami asosiasi, disosiasi atau reaksi dengan pelarut maka dimungkinkan untuk menghitung jumlah terlarut yang dapat diambil atau diekstraksi melalui sekian kali ekstraksi, dengan menggunakan rumus, K=
C2
C1

(Sri Mulyani).

MATERIAL AND METHOD

Alat dan bahan: Labu erlenmeyer Corong pisah Buret Statif, klem Gelas beker Gelas ukur Pipet tetes Larutan I2 Klorofom Akuades Na2S2O3 Indikator amilum

Prosedur kerja: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Mengukur 25 ml larutan jenuh I2 dalam CHCl3 dan memasukkannya dalam corong pisah Tambahkan 200 ml akuades dalam corong pisah Mengocok campuran tersebut selama 60 menit Diamkan larutan tersebu hingga terbentuk 2 lapisan Memisahkan kedua lapisan tersebut melalui corong pisah Memipet 5 ml larutan tiap lapisan. Masing-masing lapisan atas 2 kali dan lapisan bawah 2 kali 7. Menitrasi larutan tersebut dengan Na2S2O3 0,1 N hingga analit bening dengan menggunakan indikator amilum. Catat volume titran

Laporan Praktikum Kimia Fisika II

Page 4

Penentuan Koefisien Disribusi 2014

RESULT AND DISCUSSION


A. Hasil pengamatan Larutan jenuh I2 dalam CHCl3 (ungu) > H2O (tidak berwarna) terbentuk dua lapisan (lapisan atas: kuning, bawah: ungu) > terbentuk dua lapisan (atas: orange (air), bawah: ungu pekat (CHCl3) Untuk lapisan bawah (I): Titrasi I II V Na2S2O3 0,1 N 4,5 ml 5,8 ml

Vrata-rata = (4,5 + 5,8) mL / 2 = 5,15 mL Untuk lapisan atas (II): Titrasi I II III V Na2S2O3 0,1 N 2 ml 1 ml 0,5 ml

V rata-rata = (2+1+0,5) mL / 2 = 1,17 mL Perhitungan: Dik : N Na2S2O3 = 0,1 N VI 1 Na2S2O3 VI 2 Na2S2O3 VII 1 Na2S2O3 VII 2 Na2S2O3 VIII 2 Na2S2O3 = 4,5 mL = 5,8 mL = 2 mL = 1 mL = 0,5 mL

Dit : KD dari I2 . . . ?
Laporan Praktikum Kimia Fisika II Page 5

Penentuan Koefisien Disribusi 2014 a. Erlenmeyer I

Konsentrasi I2 pada lapisan air (Ca) Ca = ((VII 1 x N) Na2S2O3) / (V iod) = (2 mL x 0,1 N) / (25 mL) = 0,008 N

Konsentrasi I2 pada lapisan kloroform (Co) Co = ((VI 1 x N) Na2S2O3) / (V iod) = (4,5 mL x 0,1 N) / (25 mL) = 0,018 N KDI = Ca / Co = (0,008 N) / (0,018 N) = 0,444

b. Erlenmeyer II

Konsentrasi I2 pada lapisan air (Ca) Ca = ((VII 2 x N) Na2S2O3) / (V iod) = (1 mL x 0,1 N) / (25 mL) = 0,004 N

Konsentrasi I2 pada lapisan kloroform (Co) Co = ((VI 2 x N) Na2S2O3) / (V iod) = (5,8 mL x 0,1 N) / (25 mL)

Laporan Praktikum Kimia Fisika II

Page 6

Penentuan Koefisien Disribusi 2014 = 0,0232 N KDII = Ca / Co = (0,004 N) / (0,0232 N) = 0,1724 Komponen distribusi iod : KD rata-rata = (KD 1 + KD 2) / 2 = (0,444 + 0,1724 ) / 2 = 0,5302 B. Persamaan reaksi 2S2O32- + I2 S4O62_ + 2I2Na2S2O3 + 2I- .> Na2S2O6 + 2NaI C. Pembahasan Prinsip dasar percobaan ini yaitu distribusi zat terlarut I2 ke dalam dua pelarut yang tidak saling bercampur yaitu air dan kloroform, dimana menurut hukum distribusi Nerst, jika ke dalam sistem dua fasa cair yang tidak saling bercampur dimasukkan solut yang dapat larut dalam kedua pelarut tersebut maka akan terjadi pembagian kelarutan. Perbandingan konsentrasi solut di dalam kedua pelarut tersebut tetap dan merupakan suatu ketetapan pada suhu tetap. Tetapan tersebut adalah tetapan distribusi atau koefisien distribusi (KD). Pada percobaan, larutan jenuh I2 dalam CHCl3 ditambahkan dengan aquades yang merupakan pelarut yang tidak saling campur dengan CHCl3 dan diperoleh dua lapisan. Adanya perbedaan kepolaran antara air dan CHCl3 dimana air bersifat polar sedangkan CHCl3 bersifat nonpolar sehingga terbentuk dua lapisan, dimana lapisan atas merupakan air dan lapisan bawah adalah kloroform. Hal ini disebabkan karena massa jenis air yakni 1 g/mL lebih kecil dibandingkan massa jenis kloroform yakni 1,48 g/mL sehingga air berada pada lapisan atas dan lapisan bawahnya adalah kloroform. Kemudian dikocok agar I2 terdistribusi dengan maksimal ke kloroform dan air. Perlu dicamkan bahwa pengadukan campuran ekstraksi
Laporan Praktikum Kimia Fisika II Page 7

Penentuan Koefisien Disribusi 2014


yang terlalu keras tidak ada manfaatnya: membolak-balik wadah secara biasa berulang-ulang sudah memadai untuk memberi kesetimbangan setelah beberapa pembolak-balikan yang relatif sedikit,(J. Basset. 1985) lalu dipisahkan dan dititrasi dengan Na2S2O3 serta mencatat volume Na2S2O3

yang dipakai hingga tercapai titik akhir titrasi. Titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna. Pada lapisan air dari warna orange menjadi bening tak berwarna sedangkan pada lapisan kloroform dari warna ungu menjadi bening tak berwarna.

CONCLUSION
Berdasarkan percobaan dapat disimpukan: 1. Harga koefisien iod dalam air kloroform yaitu 0,5302 2. Prinsip dasar percobaan ini sesuai dengan hukum distribusi Nerst.

REFERENCE LIST
Bassett, J, dkk. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta. Buku Kedokteran EGC. Mulyani,Sri dan Hendrawan. Kimia Fisika II. Bandung. UPI PRESS Watson, David G. 2010. Analisis Farmasi Buku Ajar untuk Mahasiswa Farmasi dan Praktisi Kimia Farmasi Edisi 2. Jakarta. Buku Kedokteran EGC. Underwood. A.L, dkk. 1999. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam. Jakarta. Erlangga.
Rukmana. 2008. Penentuan Koefisien Distribusi. http://www.slideshare.net/Rukmana3reza/laporanpraktikum-pemisahan-kimia-penentuan-koefisien-distribus diakses pada tanggal 22 April 2014 pukul 22:10 WIB.

Laporan Praktikum Kimia Fisika II

Page 8