Anda di halaman 1dari 32

KARSINOMA PAYUDARA

Disusun Oleh:
Frincia Bunga Rante Allo
0861050052

Fakultas Kedokteran

Universitas Kristen Indonesia


2009

KARSINOMA PAYUDARA

Embriologi, Anatomi dan Fisiologi Payudara

Payudara terdapat pada kedua jenis kelamin, memiliki sifat yang sama dan
mencapai potensi penuh pada perempuan saat menarche; pada bayi, anak-anak, dan
pada laki-laki, glandula ini hanya berbentuk rudimenter. Pada wanita terjadi
pembesaran dan perkembangan kemampuan produksi air susu untuk nutrisi bayi.
Fungsi ini diperantai oleh hormon-hormon yang sama dengan yang mengatur fungsi
sistem reproduksi. Oleh karena itu, payudara (glandula mammae) dianggap sebagai
pelengkap sistem reproduksi.
Anlagen glandula mammae terdapat pada krista ektodermal yang membentuk
permukaan ventral embrio
dan memanjang ke lateral
dari tungkai depan sampai
tungkai belakang. Pasangan-
pasangan tunas tersebut
biasanya hilang dari embrio,
kecuali satu pasang di daerah
pektoral yang akhirnya
tumbuh menjadi dua glandula
mammae. Tetapi, kadang-
kadang tunas di tempat lain
tersebut tidak hilang
seluruhnya, melainkan ikut dalam pola pertumbuhan yang khas kedua glandula
mammae.
Pada pertengahan masa kehamilan, masing masing tunas glandula mamma
pada janin yang ditakdirkan membentuk payudara mulai tumbuh dan memisah. Hal
ini menghasilkan pembentukan 15 sampai 25 tunas sekunder yang menjadi dasar bagi
sistem dukuts pada payudara dewasa. Masing-masing tunas sekunder memanjang

2
menjadi sebuah korda, bercabang dan berdiferensiasi menjadi dua lapisan konsentrik
yang terdiri atas sel-sel kuboid dan sebuah lumen sentral. Lapisan sel bagian dalam
akhirnya membentuk epitel sekretorik, yang akan memproduksi ASI. Lapisan sel luar
akhirnya menjadi mioepitel, yang memfasilitasi mekanisme pengeluaran ASI.
Thelarchae, adalah saat mulai membesarnya ukuran payudara dengan cepat,
yang dimulai sekitar masa pubertas ketika produksi estrogen meningkat. Glandula
mammae yang sebelumnya infatil berespon terhadap estrogen dengan menumbuhkan
dan mengembangkan dukutus-duktus mammae dan deposit lemak. Melalui ovulasi,
progesteron akan merangsang berkembangnya alveoli untuk laktasi di masa yang
akan datang.
Secara anatomis, payudara merupakan kelenjar kulit khusus yang terdiri atas
lemak, kelenjar, dan jaringan ikat. Basis payudara terletak pada posisi konstan pada
dinding anterior dada. Jaringan ikat
memisahkan payudara dari otot-otot
dinding dada, otot pektoralis dan
seratus anterior. Payudara meluas dari
kosta kedua hingga keenam di anterior
dan dari sisi lateral sternum menuju
garis mid-aksilaris di lateral. Sebagian
payudara, yang disebut kauda
aksilaris, merentang ke arah lateral
melalui fasia profunda di bawah m.
pektoralis untuk memasuki aksila.
Sedikit di bawah pusat
payudara dewasa terdapat puting
(papilla mamaria) yang mempunyai
perforasi pada ujungnya dengan beberapa lobang kecil, yaitu apertura duktus
laktiferosa. Puting dikelilingi oleh areola (daerah gelap di sekitar puting susu);
permukaan biasanya ireguler akibat banyaknya tuberkel-tuberkel kecil –kelenjar
Montgomery. Tuberkel-tuberkel Montgomery adalah kelenjar sebasea pada
permukaan areola.

3
Masing-masing glandula mammae dewasa tersusun atas 15-25 dukto-lobular
yang muncul dari tunas-tunas mamae sekunder yang disebut diatas. Lobus-lobus
tersebut tersusun radial dan dipisahkan satu sama lain oleh lemak yang berbeda-beda
banyaknya, yang mengelilingi jaringan ikat/septa fibrosa (ligamentum suspensorium)
di antara lobus-lobus, yang berjalan dari fasia profunda menuju kulit diatasnya
sehingga memberikan struktur pada payudara. Setiap lobus terdiri atas beberapa
lobulus, yang masing-masing terdiri atas banyak sekali alveoli. Setiap lobus berbeda,
sehingga penyakit yang menyerang satu lobus tidak menyerang lobus lainnya Tiap
alveolus dilengkapai sebuah duktus kecil yang menyatu dengan duktus lain untuk
membentuk satu duktus yang lebih besar untuk setiap lobus. Pada bagian terminal
duktus melebar (sinus laktiferus). Duktus-duktus laktiferus ini masing-masing
bermuara ke puting susu, dan dapat dikenali sebagai sebuah lubang yang kecil namun
jelas. Epitel sekretorik alveolus mensitesis berbagai konstituen ASI.

4
• Pasokan darah: dari rami perforantes aa. torakila interna dan cabang-cabang
torakika lateral serta torako-akrominal a.aksilaris. Drainase vena sesuai dengan
aliran arteri.
• Drainase limfatik: dari setengah lateral payudara menuju kelenjar getah
bening aksilaris anterior. Limfe dari payudara bagian medial mengalir ke kelenjar
getah bening mamilaris interna (di sebelah pembuluh torakalis interna di bawah
dinding dada).

Perubahan Payudara Selama Siklus Kehidupan

Perkembangan payudara mengikuti rangkaian dan stadium pertumbuhan dapat


diperkirakan. Pada masa pubertas, pembesaran payudara terutama karena
bertambahnya jaringan kelenjar dan deposit jaringan lemak. Pada setiap siklus
menstruasi, terjadi perubahan-perubahan khusus dari pembesaran vaskular,
pembesaran kelenjar pada fase pramenstruasi yang diikuti dengan regresi kelenjar
pada fase pasca menstruasi. Selama kehamilan tua, dan setelah melahirkan, payudara
mensekresi kolostrum, cairan encer, kekuningan, sampai kira-kira 3 hingga 4 hari
pasca partum, ketika sekresi susu dimulai sebagai respon terhadap rangsangan
penyodotan dari bayi. Dengan penyedotan, oksitosin dilepaskan dari kelenjar
hipofisis posterior, yang kemudian merangsang refleks ”let-down” susu. Susu

5
kemudian keluar dari puting selama proses menyusui. Setelah menyapih kelenjar
lambat laun beregresi dengan hilangnya jaringan kelenjar. Pada menopause, jaringan
lemak beregresi lebih lambat bila dibandingkan dengan jaringan kelenjar, namun
akhirnya juga akan menghilang meninggalkan payudara yang kecil dan menggantung.

Keadaan-keadaan Jinak
Kelainan payudara perempuan jauh lebih sering daripada kelainan payudara
laki-laki. Kelainan ini biasanya mengambil bentuk massa atau nodus yang dapat
diraba dan kadang-kadang nyeri. Untungnya, sebagian besar lesi bersifat jinak, tetapi
seperti telah diketahui, kanker payudara adalah penyebab terpenting kematian akibat
kanker pada perempuan di Amerika Serikat sampai tahun 1986, saat posisinya diganti
oleh kanker paru. Pembahasan berikut terutama membiacaraka kelainan di payudara
perempuan. Kelainan yang akan dijelaskan berikut ini seyogianya dipertimbangkan
dalam kaitannya dengan kemungkinan kemiripan kelainan secara klinis dengan
keganasan. Masalah ini paling akut pada kelainan fibrokistik karena penyakit ini
merupakan penyebab tersering “berjolan” di payudara dan karena terus berlanjutnya

6
silang pendapat mengenai keterkaitan varian tertentu dengan karsinoma payudara.
Namun, sejumlah perempuan memiliki jaringan payudara “normal” yang cukup
iregular sehingga mereka berobat ke dokter (Gbr. 5).
Sebelum kita beralih ke
kelainan fibrokistik yang sangat sering
ditemukan, beberapa kelainan yang
relatif minor perlu dikemukakan.
Payudara atau putting yang berjumlah
banyak (supernumerary) mungkin
diemukan di sepanjang garis susu
(embryonic ridge). Selain sekadar
menimbulkan rasa ingin tahu, anomali
kongenital ini juga dapat terkena penyakit yang mengenai payudara normal. Inversio
putting kongenital merupakan kelainan penting karena hal serupa dapat disebabkan
oleh adanya kanker. Galaktokel adalah dilatasi kristik suatu duktus yang tersumbat
yang terbentuk selama masa laktasi. Selain menyebabkan “benjolan” yang nyeri, kista
mungkin pecah sehingga memicu reaksi peradangan lokal, yang dapat menyebabkan
terbentuknya fokus indurasi persisten yang menimbulkan kekhawatiran beberapa
tahun kemudian.

Penyakit fibrokistik Payudara

Ada sejumlah perubahan jaringan payudara yang berhubungan dengan


penyakit fibrokistik. Yang termasuk didalamnya adalah pembentukan kista,
proliferasi duktus epitalia, papilomatosis difusa, dan adenosis duktus dengan
pembentukan jaringan fibrosa. Secara klinis, perubahan-perubahan ini dapat
menimbulkan nodula yang teraba, massa, dan keluarnya cairan dari puting. Penyakit
fibrokistik payudara terjadi pada masa dewasa; penyebab kemungkinan besar
berhubungan dengan kelebihan estrogen dan defisiensi progesteron selama fase luteal
siklus menstruasi. Sekitar 50% perempuan mengalami penyakit fibrokistik payudara.
Keadaan ini biasanya terjadi bilateral.

7
Sekitar 30% perempuan dengan penyakit fibrokistik yang terbukti dengan
biopsi, mengalami hiperplasia proliferatif; hal ini penting karena jenis perubahan ini
berkaitan dengan peningkatan resiko berkembangnya karsinoma di masa yang akan
datang. Untuk pasien dengan hiperplasia epitelial sederhana (sekitar 25% dari semua
kasus penyakit fibrokistik) resiko berkembangnya karsinoma selanjutnya adalah dua
kali lebih besar. Pada kasus lain, terdapat beberapa abnormalitas dalam sitologi sel
dan arsitekturnya, namun tidak semua gambaran karsinoma in situ menggunakan
istilah atipikal hirperplasia. Pada perempuan dengan atipikal hiperplasia (sekitar 5%
dari kasus), resiko berkembangnya karsinoma selanjutnya adalah lima kali lebih
besar.
Gejala-gejalanya berupa pembengkakan dan nyeri tekan pada payudara
menjelang periode menstruasi. Tanda-tandanya adalah teraba massa yang bergerak
bebas pada payudara, terasa granularitas pada jaringan payudara, dan kadang-kadang
keluar cairan yang tidak berdarah dari puting. Banyak perempuan tidak mengeluhkan
gejala dan baru mencari pemeriksaan kesehatan setelah meraba adanya massa.
Penanganannya adalah
meredekan gejala nyeri tekan payudara
dengan analgetik ringan dan pemanasan
lokal. Perbaikan dapat dicapai dengan
menghindari kopi, teh, cola, dan coklat
(mengandung metilxantin); keju,
minuman anggur, kacang-kacangan,
jamur, dan pisang (mangandung

Gbr.7 Detail mikroskopik perubahan fibrokistik. tiramin); dan tembakau (mengandung


Payudara memperlihatkan dilatasi duktus yang
menyebabkan terbentuknya mikroskista dan, di nikotin). Kira-kira 30% perempuan
kanan, dinding sebuah kista besar dengan sel epitel
yang melapisinya. dengan penyakit fibrokistik yang
terbukti dengan biopsi mengalami
hiperplasia proliferatif, yang meningkatkan resiko kanker payudara hingga tiga kali
resiko pada umumnya. Masalah utama bagi ahli kesehatan adalah membedakan massa
yang disebabkan penyakit fibrokistik keganasan.

8
Hubungan Kelainan Fibrokistik dengan Karsinoma Payudara

Hubungan perubahan fibrokistik dengan karsinoma payudara merupakan


suatu masalah medis yang kontroversial. Di buku ini hanya dapat diajukan beberapa
pernyataan ringkasan yang cukup memiliki dasar. Secara klinis, meskipus beberapa
gambaran tertentu pada perubahan fibrokistik cenderung membedakannya dengan
kanker, satu-satunya cara pasti untuk membuat pembedaan ini adalah denan biopsi
dan pemeriksaan histologik. Dalam kaitannya dengan hubungan berbagai pola
perubahan fibrokistik dengan kanker, pernyataan berikut saat ini merupakan opini
yang paling memiliki dasar.
• Tidak ada atau sangat sedikit peningkatan risiko karsinoma payudara;
fibrosis, perubahan kistik (mikro atau makroskopik), metaplasia apokrin,
hiperplasia ringan.
• Sedikit peningkatan risiko (1,5 hingga 2 kali): hiperplasia sedang sampai
subur, papilomatosis duktus, adenosis sklerotikans, fibroadenoma, terutama jika
berkaiitan dengan perubahan fibrokistik, penyakit payudara proliferatif, atau
riwayat kanker payudara dala keluarga.
• Peningkatan risiko yang bermakna (5 kali): hiperplasia atipikal, duktulus atau
lobulus.
• Lesi proliferatif mungkin multifokal, dan risiko karsinoma berikutnya berlaku
untuk kedua payudara.
• Riwayat kanker payudaa dalam keluarga dapat meningkatkan risiko pada
semua kategori (misal, menjadi sekitar sepuluh kali lipat pada hiperplasia
atipikal).

Hanya sekitar 15% spesimen bipsi memperlihatkan hiperplasia epitel atipikal.


Oleh karena itu, sebagian besar perempuan yang memiliki benjolan terkait dengan

9
perubahan fibrokistik dapat diyakinkan bahwa hanya sedikit atau tidak ada
peningkatan kerentanan terhadap kanker. Jelas tampak bahwa berbagai varian perlu
dibedakan. Selain itu, terdapat ketidakpuasan dengan istilah perubahan fibrokistik
tanpa kualifikasi atau, yang lebih buruk, penyakit fibrokistik. Resiko inheren untuk

berbagai
Gbr.8 Upayapola
untuk diperlihatkan pada Gambar
menggambarkan, dengan 7. panah, resiko transformasi maligna pada
ketebalan tanda
berbagai pola perubahan fibrokistik.

Keadaan-keadaan Ganas
Karsinoma Payudara
Tidak ada kanker yang lebih ditakuti oleh perempuan selain karsinoma
payudara, dan hal ini bukan tanpa alasan. Di Amerika Serikat, diperkirakan oleh
American Cancer Society bahwa pada tahun 2001, akan ditemukan 192.200 kanker
payudara invasif baru pada perempuan, dan akan menyebabkan 40.860 kematian
sehingga penyakit ini hanya dikalhkan oleh kanker paru sebagai penyebab utama
kematian kanker. Data ini menegaskan bahwa walaupun terdapat kemajuan dalam
aspek diagnosis dan penatalaksanaan, hampir seperempat perempuan yang mengidap
neoplasma ini akan meninggal akibat penyakit tersebut.. namun, perlu juga
ditekankan bahwa meskipun risikko seumur hidup adalah satu per delapan untuk
perempuan di Amerika Serikat, 75 % perempuan dengan kanker payudara berusia

10
lebih dari 50 tahun. Hanya 5% yang lebih muda daripada 40 tahun. Karena sebab
yang tidak diketahui (mungkin sebagian berkaitan dengan membaiknya penemuan
kasus), terjadi peningkatan insidensi kanker payudara di seluruh dunia. Di amerika
Serikat, peningkatan tersebut dahulu menetap di sekitar 1% per tahun, kemudian
mulai meningkat pada tahun 1980 menjadi 3% hingga 4% setahun. Untungnya, angka
tersebut kini mendatar pada sekitar 111 kasur per 100.000 perempuan. Oleh karena
itu, dapat dimengerti bahwa banyak dilakukan penelitian intensif untuk mengetahui
penyebab kanker ini serta mencari cara untuk mendiagnosisnya secara lebih dini
sehingga dapat dicapai kesembuhan.
Epidemiologi dan Faktor Risiko. Banyak faktor risiko yang memodifikasi
kemungkinan seorang perempuan terjangkit kanker bentuk ini berhasil diidentifikasi.
Faktor tersebut diringkaskan pada Tabel 1, yang membagi faktor menjadi kelompok
yang sudah dipastikan dan kurang dipastikan dan menunjukkan (jika mungkin) risiko
relatif yang ditimbulkan masing-masing. Berikut ini disajikan komentar mengenai
sebagian dari faktor risiko yang penting.

Faktor Resiko relatif


Pengaruh yang sudah dipastikan
Faktor geografik Bervariasi di tempat yang berbeda
Usia ↑ setelah 30 tahun
Keluarga dekat mengidap kanker payudara 1.2 – 3.0
Usia menarche <12 tahun 1.3
Usia menopause >55 tahun 1.5 – 2.0
Kehamilan hidup pertama dari usia 25-29 1.5
tahun
Kehamilan hidup pertama dari usia 30 tahun 1.9
Kehamilan hidup pertama dari usia >35 2.0 – 3.0
tahun
Nulipara 3.0
Penyakit proliferatif 1.9
Penyakit proliferatif dengan hiperplasia 4.4
tipikal
Karsinoma lobularis in situ 6.9 – 12.0
Pengaruh yang belum dipastikan
Estrogen eksogen
Kontrasepsi oral
Kegemukan
Diet tinggi lemak
Konsumsi alkohol
11
Merokok
Variasi Geografik. Terdapat perbedaan yang mengejutkan di antara berbagai
negara dalam angka insidensi dan angka kematian akibat kanker payudara. Risiko
untuk neoplasia ini secara bermakna lebih tinggi di Amerika Utara dan Eropa barat
dibandingkan di Asia dan Afrika. Sebagai contoh, insidensi dan angka kematian lima
kali lebih tinggi di Amerika Serikat daripada di Jepang. Perbedaan ini tampaknya
lebih disebabkan oleh faktor lingkungan daripada faktor geografik karena kelompok
migran dari daerah dengan insidensi rendah ke daerah dengan insidensi tinggi
cenderung mencapai angka negara tujuan, dan demikian sebaliknya. Makanan, pola
produksi, dan kebiasaan menyusui diperkirakan berperan.

12
Usia. Kanker payudara jarang terjadi pada perempuan berusaia kurang dari
30 tahun. Setelah itu, risiko meningkat secara tetap sepanjang usia, tetapi setelah
menopause bagian menanjak dari kurva hampir mendatar.
Genetika dan Riwayat Keluarga. Sekitar 5 hingga 10 % kanker payudara
berkaitan dengan mutasi herediter spesifik. Perempuan lebih besar kemungkinannya
membawa gen kerentanan kanker payudara jika mereka mengidap kanker payudara
sebelum menopause, mengidap kanker payudara bilateral, mengidap kanker terkait
lain (misal, kanker ovarium), memiliki riwayat keluarga yang signifikan (yaitu
banyak anggota keluarga terjangkit sebelum menopause), atau berasal dari kelompok
etnik tertentu. Sekitar separuh perempuan dengan kanker payudara herediter
memperlihatkan mutasi di gen BRCA1 (pada kromosom 17q21.3) dan sepertiga
lainnya mengalami mutasi di BRCA2 (di kromosom 13q12-13). Gen ini berukuran
besar dan kompleks serta tidak memperlihatkan homologi yang erat di antara
keduanya, juga dengan gen lain yang diketahui. Meskipun peran pasti karsino genesis
dan spesifisitas relatifnya terhadap kanker payudara masih diteliti, kedua gen ini
diperkirakan berperan penting dalam perbaikan DNA. Keduanya bekerja sebagai gen
penekan tumor, karena kanker muncul jika kedua alel inaktif atau cacat pertama
disebabkan oleh mutasi sel germinativum dan kedua oleh mutasi somatik berikutnya.
Tersedia uji genetik, tetapi uji ini diperumit oleh terdeteksinya ratusan mutasi yang
berlainan, dan hanya sebagian yang berkaitan dengan kerentanan terhadap kanker.
Derajat penetrasi, usia saat onset kanker, dan keterkaitan dengan kerentanan terhadap
kanker tipe lain dapat berbeda-beda sesuai jenis mutasi. Namun, sebagian besar
pembawa sifat akan terjangkit kanker payudara pada usia 70 tahun, dibandingkan
dengan hanya 7% dari perempuan yang tidak memiliki mutasi. Peran gen ini pada
kanker payudara sporadik non herediter belum jelas karena pada tumor ini jarang
ditemukan mutasi. Pada kanker sporadik, mungkin yang berperan adalah mekanisme
lain, seperti metilasi regio regulatorik yang menyebabkan inaktivasi gen. penyakit
genetik yang lebih jarang yang berkaitan dengan kanker payudara adalah sindrom Li-
Fraumeni (disebabkan oleh mutasi sel germinativum di TP53; penyakit Cowden
(disebabkan oleh mutasi sel germinativum di PTEN; dan pembawa gen ataksia-
telangaiektasia.

13
Faktor Risiko Lain
• Pajanan lama ke estrogen eksogen pascamenopause, yang dikenal sebagai
terapi sulih estrogen (ERT, estrogen replacement therapy), diakui dapat
mencegah atau paling tidak menunda onset osteoporosis dan melindungi pemakai
dari penyakit jantung dan stroke. Namun, terapi ini juga menyebabkan
peningkatan moderat insidensi kanker payudara. Insidensi sedikit lebih tinggi
pada perempuan yang menggunakan kombinasi estrogen dan progestagen.
Namun, para perempuan ini umumnya datang dengan kanker yang stadium
klinisnya belum terlalu lanjut dan memperlihatkan angka mortalitas lebih rendah
dibandingkan dengan kanker yang timbul pada perempuan yang belum pernah
mendapat terapi sulih hormon. Jika semua pro dan kontra dipertimbangka,
manfaat TSE jauh lebih besar daripada kemungkinan efek simpangnya dalam
kaitannya dengan peningkatan keseluruhan usia harapan hidup bagi sebagain
besar perempuan.
• Kontrasepsi oral juga dicurigai meningkatkan risiko kanker payudara.
Walaupun buktinya juga saling bertentangan, formulasi yang baru berupa dosis
rendah seimbang estrogen dan progestin hanya sedikit meningkatkan risiko, yang
lenyap 10 tahun setelah penghentian pemakaiannya.
• Radiasi pengion ke dada meningkatkan risiko kanker payudara. Besar risiko
bergantung pada dosis radiasi, waktu sejak pajanan, dan usia. Hanya perempuan
yang diradiasi sebelum usia 30 tahun, saat perkembangan payudara, yang
tampaknya terkena. Sebagai contoh, 20 % sampai 30 % perempuan yang diradiasi
untuk penyakit Hodgkin saat remaja dan usia 20 tahunan akan terjangkita kanker
payudara, tetapi risiko untuk perempuan yang diterapi pada usia setelah itu tidak
meningkat. Dosis radiasi yang rendah pada penapisan mamografi hampir tidak
berefek pada insidensi kanker payudara. Setiap kemungkinan efek dikompensasi
oleh manfaat deteksi dini kanker payudara.
• Berdasarkan penelitian epidemiologi, banyak faktor risiko lain yang belum
dipastikan, misalnya kegemukan, konsumsi alkohol, dan diet tinggi lemak,

14
diperkirakan berperan dalam terbentuknya kanker payudara walaupun bukti
umumnya bersifat kesimpulan.
Patogenesis. Setiap kanker lainnya, penyebab kanker payudara masih belum
diketahui. Namun, tiga faktor tampaknya penting. (1) perubahan genetik (2) pengaruh
hormon, dan (3) faktor lingkungan.
Perubahan Genetik. Selain yang menyebabkan sindrom familial di atas,
perubahan genetik juga diduga berperan dalam timbulnya kanker payudara sporadik.
Seperti pada sebagian besar kanker lainnya, mutasi yang mempengaruhi
protoonkogen dan gen penekan tumor di epitel payudara ikut serta dalam proses
transformasi onkogenik. Di antara berbagai mutasi tersebut, yang paling banyak
dipelajari adalah ekspresi berlebihan protoonkogen ERBB2 (HER2/NEU), yang
diketahui mengalami amplifikasi pada hampir 30 % kanker payudara. Gen ini adalah
anggota dari famili reseptor faktor pertumbuhan epidermis, dan ekspresi
berlebihannya berkaitan dengan prognosis yang buruk. Secara analog, amplifikasi gen
RAS dan MYC juga dilaporkan terjadi pada sebagian kanker payudara manusia.
Mutasi gen penekan tumor RB1 dan TP53 juga ditemukan. Dalam transformasi
berangkai sel epitel normal menjadi sel kanker, kemungkinan besar terjadi banyak
mutas didapat.
Pengaruh Hormon. Kelebihan estrogen endogen, atau yang lebih tepat,
ketidakseimbangan hormon, jelas berperan penting. Banyak faktor risiko yang telah
disebutkan – usia subur yang lama, nuliparitas, dan usia lanjut saat memiliki anak
pertama – mengisyaratkan peningkatan pajanan ke kadar estrogen yang tinggi saat
daur haid (lihat Tabel 19-4). Tumor ovarium fungsional yang mengeluarkan estrogen
dilaporkan berkaitan dengan kanker payudara pada perempuan pasca menopause.
Estrogen merangsang pembentukan faktor pertumbuhan oleh sel epitel payudara
normal dan oleh sel kanker. Dihipotesiskan bahwa reseptor estrogen dan progesteron
yang secara normal terdapat di epitel payudara, mungkin berinteraksi dengan
promotor pertumbuhan, seperti transforming growth factor α (berkaitan dengan
faktor pertumbuhan epitel), platelet-derived growth-factor, dan faktor pertumbuhan
fibroblas yang dikeluarkan oleh sel kanker payudara, untuk menciptakan suatu
mekanisme autokrin perkembangan tumor.

15
Faktor Lingkungan. Pengaruh lingkungan diisyaratkan oleh insidensi kanker
payudara yang berbeda-beda dalam kelompok yang secara genetis homogen dan
perbedaan geografik dalam prevalensi, seperti telah dibicarakan. Faktor lingkugan
lain yang penting adalah iradiasi dan estrogen-estrogen (telah dijelaskan).

MORFOLOGI
Kanker payudara sedikit lebih sering mengenai payudara kiri daripada kanan.
Pada sekitar 4 % pasien ditemukan tumor bilateral atau tumor sekuensial di payudara
yang sama. Lokasi tumor di dalam payudara adalah sebagai berikut :
Kuadran luar atas 50%
Bagian sentral 20%
Kuadran luar bawah 10%
Kuadran dalam atas 10%
Kuadran dalam bawah 10%
Kanker payudara dibagi menjadi kanker yang belum menembus membran
basal (noninvasif) dan kanker yang sudah (invasif). Bentuk utama karsinoma
payudara dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
A. Noninvasif
1. Karsinoma duktus in situ (DCIS; karsinoma intraduktus)
2. Karsinoma lobulus in situ (LCIS)
B. Invasif (infiltratif)
1. Karsinoma duktus invasif (“not otherwise specified”; NOS; tidak
dirinci lebih lanjut)
2. Karsinoma lobulus invasif
3. Karsinoma medularis
4. Karsinoma koloid (karsinoma musinosa)
5. Karsinoma tubulus
6. Tipe lain
Dari tumor-tumor ini, karsinoma duktus invasif merupakan jenis tersering.
Karena biasanya memiliki banyak stroma, karsinoma ini juga disebut sebagai

16
Scirrhous carcinoma. Komentar mengenai tipe yang umum ditemukan adalah sebagai
berikut :

KARSINOMA NONINVASIF (IN SITU) (TERMASUK PENYAKIT

PAGET)

Terdapat dua tipe karsinoma payudara noninvasif: karsinoma duktur int situ (DCIS)
dan karsinoma lobulus in situ (LCIS). Penelitian morfologik memperlihatkan bahwa
kedua biasanya berasal dari unit lobulus duktur terminal. DCIS cenderung mengisi,
mendistrosi, dan membuka lobulus yang terkena sehingga tampaknya melibatkan
rongga mirip-duktus. Sebailiknya, LCIS biasanya meluas, tetapi tidak mengubah
arsitektur dasar lobulus. Keduanya dibatasi oleh membran basal dan tidak menginvasi
stroma atau saluran limfovaskular.
DCIS memperlihatkan gambaran histologik yang beragam. Pola
arsitekturnya, antara lain tipe solid, kribriformis, papilaris, mikropapilaris, dan
clingin. Di setiap tipe mungkin ditemukan nekrosis. Gambaran nucleus bervariasi dari
derajat rendah dan monomorfik hingga derajat tinggi dan heterogen. Subtype
komedo ditandai dengan sel dengan nucleus derajat tinggi dan nekrosis sentral yang
luas. Nama berasal dari jaringan nekrotik mirip pasta-gigi yang dapat dikeluarkan
dari duktus yang terpotong dengan tekanan lembut. DCIS sering disertai kalsifikasi
kaena bahan sekretorik atau debris nekrotik yang mengalami kalsifikasi. Insidensi
DCIS meningkat secara nyata pada kurang dari 5% kanker payudara dalam populasi
umum hingga 40% dari mereka yang disaring dengan mamografi, terutama karena
terdeteksinya kalsifikasi. Saat ini DCIS jarang bermanisfestasi sebagai massa yang
dapat dirabat atau terlihat secara radiografis. Apabila deteksi terlambat, mungkin
terbentuk massa yang dapat diraba atau discharge putting payudara. Sel di tumor yang
berdiferensiasi baik mengekspresikan resepton estrogen dan, yang lebih jarang,
progestagen. Prognosis DCIS sangat baik, dengan lebih dari 97% pasien bertahan
hidup lama. Sebagian pasien mengalami metastasis jauh tanpa rekurensi local; kasus
ini biasanya adalah DCIS derajat tinggi ekstensif dan mungkin memiliki daerah
invasive kecil yang tidak terdeteksi. Paling sedikit sepertiga perempuan dengan DCIS
derajat rendah yang kecil dan belum diobati akhirnya akan mengalami karsinoma

17
invasive. Jika memang terjadi, karsinoma invasive terdapat di payudara dan kuadran
yang sama dengan DCIS sebelumnya. Saat ini, supaya terapi untuk melenyapkan
DCIS adalah dengan pembedahan dan radiasi. Terapi dengan antiestrogen tamoksifen
juga dapat mengurangi risiko kekambuhan.
Penyakit Paget pada Puting
payudara disebabkan oleh perluasan
DCIS ke duktus laktiferosa dan ke
dalam kulit putting susu di dekatnya
(Gambar 9). Sel ganas merusak
sawar epidermis normal, sehingga
cairan ekstrasel dapat dikeluarkan ke
permukaan. Gambaran klinis
biasanya berupa eksudat
Gbr. 9. Penyakit Paget pada payudara. Sel Paget
berkeropeng unilateral di atas dengan sitoplasma jernih dalam jumlah besar dan
nucleus pleomorfik di epitel
putting dan kulit areola. Pada sekitar
separuh kasus, juga ditemukan karsinoma invasif penyebab. Prognosis didasarkan
pada karsinoma yang mendasari dan tidak diperparah oleh adanya penyakit Paget.
LCIS, tidak seperti DCIS, memperlihatkan gambaran uniform. Sel bersifat
monomorf dengan nucleus polos bundar dan terdapat dalam kelompok kohesif di
duktus dan lobulus. Vakuol musin intrasel (sel cincin stempel) sering ditemukan.
LCIS hamper selalu ditemukan secara tidak sengajar dan, tidak sepeerti DCIS, tumor
ini jarang membentuk metastasis serta, tidak seperti DCIS, tidak membentuk massa
sehingga jarang mengalami kalfikasi. Oleh karena tiu, insidensi LCIS hamper tidak
beruabah pada populasi yang menjalani pemeriksaan penyaring mamografi. Sekitar
sepertiga perempuan dengan LCIS akhirnya menderita karsinoma invasif. Tidak
seperti DCIS, karsinoma invasif sama seringnya muncul di kedua payudara
Sekitar sepertiga kanker ini akan berupa tipe lobular (dibandingkan dengan hanya
10% kanker pada perempuan yang mengalami karsinoma de novo), tetapi sebagian
besar tidak memiliki tipe khusus. Oleh karena itu, LCIS merupakan penanda
peningkatan risiko timbulnya kanker di kedua payudara dan prekursos
langsung bagi sejumlah kanker. Saat ini terapi adalah tindak lanjut klinis dan

18
radiologik yang cermat terhadap kedua payudara atau mastektomi profilaktik
bilateral.

KARSINOMA INVASIF (INFILTRATIF)

Mula-mula disajikan morfologi subtipe karsinoma invasive, kemudian gambaran


klinis semua subtype tersebut.
Karsinoma duktur invasif
adalah istilah yang digunakan untuk
semua karsinoma yang tidak dapat
disubklsifikasikan ke dalam salah satu
tipe khusus yang dijelaskan di bawah
dan tidak menunjukkan bahwa tumor
ini secara spesifik berasal dari sistem
duktur. Karsinoma “tanpa tipe
khusus” atau “tidak dirinci lebih Gbr. 10. Karsinoma Type Intraductal
lanjut” sinonim untuk karsinoma
duktus. Sebagian besar (70% hingga
80%) kanker masuk ke dalam kategori
ini. Kanker tipe ini biasanya berkaitan
dengan DCIS, tetapi kadang-kadang
ditemukan LCIS. Sebagian besar
karsinoma duktur menimbulkan
respons desmoplastik, yang
menggantikan lemak payudara normal
(menghasilkan densitas pada Gbr. 11. Karsinoma Intraduktal

mamografi) dan membentuk massa


yang teraba keras (Gbr.12). Gambaran mikroskopik cukup heterogen, berkisar dari
tumor dengan pembentukan tubulus yang sempurna serta nukleus derajat-rendah
hingga tumor yang terdiri atas lembaran-lembaran sel anaplastik. Tepi tumor biasanya
iregular (Gbr.13), tetapi kadang-kadang menekan dan sirkumskripta. Mungkin
ditemukan invasi ke rongga limfovaskular atau di sepanjang saraf. Kanker tahap

19
lanjut dapat menyebabkan kulit cekung (dimpling), retraksi puting payudara, atau
fiksasi ke dinding dada. Sekitar dua pertiga tumor mengekspresikan reseptor estrogen
atau progestagen, dan sekitar sepertiga mengekspresikan secara berlebihan ERBB2.
Karsinoma inflamasi
didefinisikan berdasarkan gambarn
klinis berupa payudara yang membesar,
bengkak, dan aritematosa, biasanya
tanpa teraba adanya massa. Karsinoma
penyebab umumnya bukan tipe khusus
dan menginvasi secara difus parenkim
payudara. Tersumbatnya saluran limf
dermis oleh karsinoma merupakan
Gbr. 12. Karsinoma Scirrhous payudara. Tampak
penyebab gambaran klinis. Peradangan latar belakang kolagen padat tempat tersebarnya
genjel dan sarang sel kanker
sejati sebenarnya tidak ada atau minimal.
Sebagian besar tumor ini telah bermetastasis jauh dan prognosis sangat buruk.
Karsinoma lobulus invasif terdiri atas sel yang secara morfologis identik
dengan sel pada LCIS. Pada dua pertiga
kasus ditemukan LCIS di sekitar tumor.
Sel-sel secara sendiri-sendiri menginvasi
stroma dan kering tersusun membentuk
rangkaian. Kadang-kadang sel tersebut
mengelilingi asinus atau duktur yang
tampak normal atau karsinomatosa,
Gbr. 13. Tepi kanker payudara yang memperlihatkan
menciptakan apa yang disebut sebagai infiltrasi tumor ke jaringan lemak di sekitarnya

mata sapi (bull’s eye). Meskipun sebagian besar tumor bermanifestasi sebagai massa
yang dapat diraba atau densitas pada mamografi, sebagian mungkin memiliki pola
invasi difus tanpa respons desmoplastik serta secara klinis tersamar. Karsinoma
lobulus lebih sering bermetastasis ke cairan serebrospinal, permukaan serosa,
ovarium dan uterus serta sumsum tulang dibandingkan dengan karsinoma duktus.
Karsinoma lobulus juga lebih sering bersifat multisentrik dan bilateral (10% hingga
20%). Hampir semua karsinoma ini mengekspresikan reseptor hormon, tetapi

20
ekspresi ERBB2 jarang atau tidak terjadi. Tumor ini membentuk kurang dari 20% dari
semua kanker payudara.
Karsinoma medular adalah subtipe karsinoma yang jarang dan membentuk
sekitar 2% kasus. Kanker ini terdiri atas lembaran sel besar anaplastik dengan tepi
berbatas tegas. Secara klinis, tumor ini mungkin disangka fibroadenoma. Selalu
terdapat infiltrat limfoplasmatik yang mencolok. DCIS biasanya minimal atau tidak
ada. Karsinoma medular, atau karsinoma mirip medular, meningkat frekuensinya
pada perempuan dengan mutasi BRCA1 meskipun sebagian besar perempuan dengan
karsinoma medular bukan pembawa sifat ini. Karsinoma ini tidak memiliki reseptor
hormon dan tidak mengekspresikan ERBB2 secara berlebihan.
Karsinoma koloid (musinosa) juga merupakan subtipe yang jarang. Sel
tumor menghasilkan banyak musin ekstrasel yang merembes ke dalam stroma
disekitarnya. Seperti karsinoma medularis, tumor ini sering bermanifestasi sebagai
massa sirkumskripta dan mungkin disangka fibroadenoma. Secara makroskopis,
tumor biasanya lunak dan gelatinosa. Sebagian besar mengekspresikan reseptor
hormon, dan beberapa mungkin mengekspresikan ERBB2 secara berlebihan.
Karsinoma tubulus jarang bermanifestasi sebagai massa yang dapat diraba
tetapi merupakan penyebab 10% karsinoma invasif yang berukuran kurang dari 1 cm
yang ditemukan pada pemeriksaan penapisan mamografik. Pada mamografi, tumor
biasanya tampak sebagai densitas iregular. Secara mikroskopis, karsinoma terdiri atas
tubulus yang berdiferensiasi baik dengan nukleus derajat-rendah. Jarang terjadi
metastasis ke kelenjar getah bening, dan prognosis baik. Hampir semua karsinoma
tubulus mengekspresikan reseptor hormon, dan sangat jarang mengeskpresikan
ERBB2 secara berlebihan.

GAMBARAN UMUM BAGI SEMUA KANKER INVASIF

Pada semua bentuk kanker payudara yang dibahas di atas, perkembangan


penyakit menyebabkan terbentuknya gambaran morfologik lokal tertentu. Gambaran
ini menckup kecenderungan untuk melekat ke otot pektoralis atau fasia dalam di
dinding dada sehingga terjadi fiksasi lesi, serta melekat ke kulit di atasnya, yang
menyebabkan retraksi dan cekungan kulit atau puting payudara. Yang terakhir

21
adalah tanda penting, karena mungkin merupakan indikasi awal adanya lesi, yang
dilihat sendiri. Keterlibatan jalur limfatik dapat menyebabkan limfedema lokal. Pada
kasus ini, kulit mengalami penebalan di sekitar folikel rambut, suatu keadaan yang
dikenal sebagai peau d’orange (“kulit jeruk”).
Penyebaran Kanker Payudara. Akhirnya, terjadi penyebaran melalui
saluran limf dan darah. Metastasis ke kelenjar getah bening ditemukan pada sekitar
40% kanker yang bermanifestasi sebagai massa yang dapat dipalpasi, tetapi pada
kurang dari 15% kasus yang ditemukan dengan mamografi. Lesi yang terletak di
tengah atau kuadran luar biasanya mula-mula menyebar ke kelenjar aksila. Tumor
yang terletak di kuadran dalm sering mengenai kelenjar getah bening di sepanjang
arteria mamaria interna. Kelernjar supraklavikula kadang-kadang menjadi tempat
utama penyebaran, tetapi kelenjar ini baru terkena hanya setelah kelenjar aksilaris dan
mamaria interna terkena. Akhirnya, terjadi penyebaran ke tempat yang lebih distal,
dengan kelainan metastatik di hampir semua organ atau jaringan di tubuh. Lokasi
yang disukai adalah paru, tulang, hati dan kelenjar serta (yang lebih jarang0 otak,
limpa, dan hipofsis. Namun, tidak ada tempat yang dapat lolos. Metastasis mungkin
timbul bertahun-tahun setelah lesi primer tampaknya telah terkontrol oleh terapi,
kadang-kaang 15 tahun kemudian.
Penentuan Stadium Kanker Payudara. Faktor prognostik terpenting untuk
kanker payudara adalah ukuran tumor primer, metastasis ke kelenjar getah bening,
dan adanya lesi di tempat jauh. Faktor prognostik lokal yang buruk adalah invasi ke
dinding dada, ulserasi kulit, dan gambaran klinis karsinoma peradangan. Gambaran
ini digunakan untuk mengklasifikasikan perempuan ke dalam kelompok prognostik
demi kepentingan pengobatan, konseling, dan uji klinis. Sistem penentuan stadium
yang tersering digunakan telah dirancang oleh American Joint Committee on Cancer
Staging dan International Union Against Cancer, seperti terlihat berikut ini. Harapan
hidup 5 tahun untuk perempuan berkisar dari 92% untuk penyakit stadium 0 hingga
13% untuk penyakit stadium IV.

American Joint Committee on Cancer Staging of Breast Carcinoma


Stadium 0 DCIS (termasuk penyakit Paget pada puting payudara) dan LCIS

22
Stadium I Karsinoma invasif dengan ukuran 2 cm atau kurang serta kelenjar getah
bening negatif.
Stadium IIA Karsinoma invasif dengan ukuran 2 cm atau kurang disertai metastasis
kelenjar(-kelenjar) getah bening atau karsinoma invasif lebih dari 2 cm,
tetapi kurang dari 5 cm dengan kelenjar getah bening negatif.
Stadium IIB Karsinoma invasif berukuran garis tengah lebih dari 2 cm, tetapi kurang
dari 5 cm dengan kelenjar (-kelenjar) getah bening positif atau
karsinoma invasif berukuran lebih dari 5 cm tanpa ketelibatan kelenjar
getah bening.
Stadium IIIA Karsinoma invasif ukuran berapa pun dengan kelenjar getah bening
terfiksasi (yaitu invasi ekstranodus yang meluas di antara kelenjar getah
bening atau menginvasi ke dalam struktur lain) atau karsinoma
berukuran garis tengah lebih dari 5 cm dengan metastasis kelenjar getah
bening nonfiksasi.
Stadium IIIB Karsinoma inflamasi, karsinoma yang menginvasi dinding dada,
karsinoma yang menginvasi kulit, karsinoma dengan nodus kulit satelit,
atau setiap karsinoma dengan metastasis ke kelenjar (-kelenjar) getah
bening mamaria interna ipsilateral
Stadium IV Metastasis ke tempat jauh

Perjalanan Penyakit. Kanker payudara sering ditemukan oleh pasien atau


dokternya sebagai massa yang tunggal, diskret, tidak nyeri, dan dapat digerakkan.
Pada tahap ini, karsinoma biasanya berukuran 2 hingga 3 cm, dan terkenanya kelenjar
getah bening regional (umumnya ketiak) sudah terdapat pada sekitar sseparuh pasien.
Dengan pemeriksaan penapisan mamografik, karsinoma sering terdeteksi sebelum
dapat diraba. Ukuran rerata karsinoma invasif, yang ditemukan pada pemeriksaan
penapisan adalah sekitar 1 cm, dan hanya 15% yang telah bermetastasis ke kelenjar
getah bening. Selain itu, pada banyak perempuan DCIS terdeteksi sebelum
berkembang menjadi karsinoma invasif. Seiring dengan pertambahan usia, jaringan
fibrosa payudara diganti oleh lemak, dan pemeriksaan penapisan menjadi lebih
sensitif karena meningkatnya derajat radiolusen payudara dan meningkatnya insidensi

23
keganasan. Silang pendapat yang terjadi saat ini mengenai kapan saat yang paling
tepat untuk memulai pemeriksaan penapisan mamografi harus mempertimbangkan
perbandingan antara manfaat bagi sebagian perempuan terhadap morbiditas pada
sebagian besar perempuan yang akan dibuktikan mengidap kelainan jinak.
Prognosis dipengaruhi oleh variabel berikut :
1. Ukuran karsinoma primer. Pasien dengan karsinoma invasif yang lebih kecil
daripada 1 cm memiliki harapan hidup yang sangat baik jika tidak terdapat
keterlibatan kelenjar getah bening dan mungkin tidak memerlukan terapi sistemik.
2. Keterlibatan kelenjar getah bening dan jumlah kelenjar getah bening yang
terkena metastasis. Jika tidak ada kelenjar ketiak yang terkena, angka harapan
hidup 5 tahun mendekati 90%. Angka harapan hidup menurun bersama setiap
kelenjar getah bening yang terkena dan menjadi kurang dari 50% jika kelenjar
yang terkena berjumlah 16 atau lebih. Biopsi kelenjar sentinel diperkenalkan
sebagai prosedur alternatif yang tidak terlalu menyakitkan untuk menggantikan
diseksi aksila total. Satu atau dua kelenjar getah bening pertama diidentifikasi
dengan menggunakan suatu zat warna, penjejak radioaktif, atau keduanya.
Kelenjar getah bening sentinel yang negatif merupakan isyarat kuat tidak adanya
metastasis karsinoma ke kelenjar getah bening sisanya. Kelenjar getah bening
sentinel dapat diperiksa dengan prosedur yang lebih ekstensif, misalnya
pemotongan serial atau pemeriksaan imunohistokimia untuk sel positif-
sitokeratin. Namun, makna klinis ditemukannya mikrometastasis (didefinisikan
sebagai deposit metastik yang ukurannya kurang dari 0,2 cm) tidak diketahui.
3. Derajat karsinoma. Sistem penentuan derajat yang paling umum untuk kanker
payudara mempertimbangkan pembentukan tubulus, derajat nukleus, dan angka
mitiotik untuk memilah karsinoma menjadi tiga kelompok. Karsinoma
bersiferensiasi baik memiliki prognosis yang secara bermakna lebih baik
dibandingkan dengan karsinoma yang berdiferensiasi buruk. Karsinoma
berdiferensiasi sedang pada awalnya memiliki prognosis baik, tetapi harapan
hidup pada 20 tahun mendekati angka untuk karsinoma yang berdiferensiasi
buruk.

24
4. Tipe histologic karsinoma. Semua tipe khusus karsinoma payudara (tubulus,
medular, lobulus, papilar, dan musinosa) memiliki prognosis yang sedikit banyak
lebih baik daripada karsinoma tanpa tipe khusus (”karsinoma duktus”).
5. Invasi limfovaskular. Adanya tumor di dalam rongga vaskular di sekitar tumor
primer merupakan faktor prognostik yang buruk, terutama jita tidak terdapat
metastasis ke kelenjar getah bening. Invasi limfovaskular dermis berkaitan
dengan gambaran klinis berupa karsinoma inflamasi dan memiliki prognosis
sangat buruk.
6. Ada tidaknya reseptor estrogen atau prgesteron. Adanya reseptor hormon
menyebabkan prognosis sedikit membaik. Namun, alasan untuk menentukan
keberadaan reseptor tersebut adalah untuk memperkirakan respons terhadap
terapi. Angka tertinggi respons (sekitar 80%) terhadap terapi antiestrogen
(ooforektomi atau tamoksifen) ditemukan pada pasien yang tumornya memiliki
reseptor estrogen dan progesteron. Angka respons yang lebih rendah 925%
hingga 45%) ditemukan jika hanya terdapat salah satu reseptor. Jika kedua
reseptor tidak ada, sangat sedikit (kurang dari 10%) paseien yang diperkirakan
berespons.
7. Laju proliferasi kanker. Proliferasi dapat diukur dai hitung mitotik, flow
cytometry, atau dengan penanda imunohistokimia untuk protein siklus sel. Hitung
mitiotik merupakan bagian dari sistem penentuan deraja. Metode optimal untuk
mengevalausi proliferasi belum diketahui pasti. Laju proliferasi yang tinggi
berkaitan dengan prognosis yang lebih buruk.
8. Aneuploidi. Karsinoma dengan kandungan DNA abnormal (aneuploid0
memiliki prognosis sedikit lebih buruk dibandingkan dengan karsinoma dengan
kandungan DNA serupa dengan sel normal.
9. Ekspresi berlebihan ERBB2. Ekspresi berlebihan protein terbungkus membran
ini hampir selalu disebabkan oleh amplifikasi gen. Oleh karena itu, ekspresi
berlebihan dapat ditentukan dengan imunohistokimia (yang mendeteksi protein di
potongan jaringan) atau dengan fluorescence in situ hybridization (yang
mendeteksi jumlah salinan gen). Ekspresi berlebihan berkaitan dengan prognosis
yang buruk. Namun, makna evaluasi ERBB2 adalah untuk memperkirakan

25
respons terhadap antibodi monoklonal terhadap gen ini (“Herceptin”). Ini adalah
salah satu contoh awal pengembangan kelainan gen spesifik yang terdapat di
tumor.

Hasil akhir pada kasus individu sulit diperkirakan walaupun semua indikator
prognostik tersebut telah dipertimbangkan. Yang menyedihkan, hanya waktu yang
akan menentukan. Angka harapan hidup 5 tahun keseluruhan untuk kanker stadium
adalah 87%; untuk stadium II, 75%; untuk stadium III, 46%; dan untuk stadium IV,
13%;. Perlu dicatat bahwa kekambuhan mungkin timbul belakangan, bahkan setelah
10 tahun, dan untuk setiap tahun yang berlaku tanpa penyakit menyebabkan
prognosis semakin baik.
Mengapa beberapa kanker berespons terhadap terapi sementara yang lain
gagal masih merupakan misteri. Yang jelas, tumor yang tampak serupa mungkin
memiliki sedikit perbedaan genetik yang saat ini belum dapat dideteksi. Namun, hal
ini tampaknya akan berubah, karena teknologi chip DNA (microarray analysis)
memungkinkan kita membandingkan ekspresi ribuan gen di setiap tumor. Microarray
analysis DNA semacam ini telah berhasil mengungkapkan adanya perbedaan pada
tumor payudara. Hal ini memungkinkan dikembangkannya terapi yang secara spesifik
ditunjukkan pada kelainan genetik di suatu tumor.

Drainase limfatik pada karsinoma payudara


Kelenjar getah bening aksilaris merupakan tempat awal metastasis dari keganasan
payudara primer dan pengangkatannya pada pembedahan serta pemeriksaan
lanjutan memberikan informasi prognostik yang penting selain menjadi dasar
pemilihan pengobatan ajuvan. Kerusakan jaringan limfatik aksilaris selama
pengangkatan kelenjar getah bening aksilaris pada pembedahan atau akibat
radioterapi pada aksila meningkatkan kemungkinan terjadinya limfedema
ekstremitas atas.

PAYUDARA LAKI-LAKI

26
Payudara laki-laki yang rudimenter relatif bebas terhadap proses patologik.
Hanya ada dua penyakit yang relatif banyak yang dibahas di sini; ginekomastia dan
karsinoma.

Ginekomastia

Seperti pada perempuan, payudara laki-laki dipengaruhi oleh hormon


walaupun jauh lebih tidak peka dibandingkan payudara perempuan. Bagaimanapun,
dapat terjadi pembesaran payudara laki-laki, atau ginekomastia, sebagai respons
terhadap kelebihan estrogen absolut atau ralatif. Oleh karena itu, ginekomastia adalah
analog laki-laki untuk perubahan fibrokistik pada perempuan. Penyebab terpenting
hiperestrinisme pada laki-laki ini adalah sirosis hati. Pada keadaan tersebut, hati tidak
mampu memetabolisasi estrogen. Penyebab lain adalah sindrom Klinefelter, tumor
penghasil estrogen, tetapi estrogen, dan, kadang-kadang, terapi digitalis.
Ginekomastia fisiologik sering terjadi pada pubertas dan usia yang sangat lanjut.
Gambaran morfologik ginekomastia serupa dengan yang terdapat pada
hiperplasia intraduktus. Secara makroskopis, terbentuk pembengkakan subareola
mirip tombol, biasanya di kedua payudara, tetapi kadang-kadang pada satu payudara.

Karsinoma

Ini adalah penyakit yang jarang ditemukan, dengan rasio frekuensi terhadap
kanker payudara perempuan 1:125. Karsinoma terjadi pada usia lanjut. Karena
jaringan payudara laki-laki sedikit jumlahnya, tumor dengan cepat menginfiltrasi
kulit di atasnya dan dinding toraks di bawahnya. Secara morfologis dan biologis,
tumor ini mirip dengan karsinoma invasif pada perempuan. Sayangnya, hampir
separuh telah menyebar ke kelenjar regional dan tempat jauh pada saat didiagnosis.

Galleri

Tn X, 55th, Sei Tabuk Simpang Empat, pekerjaan petani dan penyadap karet,
sejak 5-6 bln lalu timbul benjolan di dada kiri bagian puting susu, nyeri tekan (+),
mengeluarkan darah (+), kemudian timbul benjolan di sekelilingnya (satelit nodul)

27
dan di ketiak kiri, benjolan keras, lengket di kulit dan di dasar, nanah/pus (+), batuk
(-), sesak (-),Anemis (-).

Saat ini pasien kami rujuk ke


RSUD Ratu Zalecha, namun karena
keterbatasan dana dan kerjasama pasien
sulit untuk dirujuk secepatnya

28
Jaringan tumor yang berasal dari payudara seorang ibu, berusia 45 tahun.
Sebelumnya pasien ini telah dibiopsi-operasi dan didiagnosis Invasive Ductal
Carcinoma, Mammae.

Berukuran 17x 10x 8 cm yaitu hasil


operasi mastektomi radikal. Tampak puting
susu dengan posisi yang masih baik, tidak
tertarik kearah dalam,  dan juga  jaringan
kulit yang menutupi seluruh payudara masih
tampak normal, tidak seperti kulit jeruk (peau
d’orange).

Juga dikirim ke laboratorium PA, jaringan bertanda benang yaitu kelompok


kelenjar getah bening pada level I, berjumlah 6 buah.

DAFTAR PUSTAKA
i. Faiz, Omar, and Moffat, David. Drainase Vena dan Limfatik
Ekstremitas Atas dan Payudara: At a Glance ANATOMY. Jakarta: Erlangga
Medical Series, 2008.
ii. Price, Sylvia A., and Wilson, Lorraine M. Gangguan Sistem
Reproduksi: Reproduksi Wanita. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit Ed.6/Vol.2. Jakarta: EGC, 2006.
iii. Cunningham, F. Gary. ...[et al.]; Persalinan dan Pelahiran Normal:
Masa Nifas. Obstetri Williams Ed.25/Vol.1. Jakarta: EGC, 2005.
iv. Sherwood, Lauralee. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem:644-
689,2001.

29
v. Robbins S.L, and Kumar V. Sistem Genitalia Perempuan dan
Payudara. Buku Ajar Patologi Ed.7/ Vol.2 . Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC, 2007.
vi. Staf Pengajar Patologi Anatomi. Neoplasma Ganas: ATLAS
PATOLOGI ANATOMI BLOK VI. Jakarta: FK UKI, 2008.
vii. Also available at:
http://puskesmassimpangempat.files.wordpress.com/2009/04/foto073.jpg&im
grefurl=http://puskesmassimpangempat.wordpress.com/2009/04/12/kanker-
payudara-pada-laki-
laki/&usg=__c5quIygML0SnUvZmfBDhCe8ocM8=&h=1200&w=1600&sz=
370&hl=id&start=13&tbnid=EySUs3xfS3exvM:&tbnh=113&tbnw=150&pre
v=/images%3Fq%3Dcarcinoma%2Bmamae%26gbv%3D2%26ndsp
%3D18%26hl%3Did%26sa%3DN
viii. Also available at: http://images.google.co.id/imgres?
imgurl=http://www.sukmamerati.com/wp-content/uploads/2008/07/re-
exposure-of-resize-of-rotation-of-
dscn8936.JPG&imgrefurl=http://www.sukmamerati.com/%3Fp
%3D234%26cp
%3Dall&usg=__kbU0_uMLvG92FQoifgIl4Calnnk=&h=400&w=300&sz=33
&hl=id&start=8&tbnid=6DCa6aCVD4bcyM:&tbnh=124&tbnw=93&prev=/i
mages%3Fq%3Dcarcinoma%2Bmamae%26gbv%3D2%26hl%3Did%26sa
%3DG

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan
karuniaNya saya dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini dibuat dalam rangka
memenuhi tugas Dr. Sri Hertati khususnya untuk memperdalam pemahaman
mengenai Karsinoma Payudara.

30
Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu saya harapkan
demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Demikian
makalah ini saya buat semoga bermanfaat.

Jakarta, 15 Oktober 2009


Penyusun

Frincia Bunga Rante Allo


0861050052

DAFTAR ISI
i

KATA PENGANTAR ..................................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
KARSINOMA PAYUDARA .......................................................................... 1
Embriologi, Anatomi dan Fisiologi Payudara.................................................. 1

31
Perubahan Payudara Selama Siklus Kehidupan............................................... 4
Keadaan-keadaan Jinak.................................................................................... 5
Penyakit fibrokistik Payudara........................................................................... 6
Hubungan Kelainan Fibrokistik dengan Karsinoma Payudara......................... 8
KEADAAN-KEADAAN GANAS................................................................... 9
Karsinoma Payudara......................................................................................... 9
Faktor Risiko Lain............................................................................................ 12
MORFOLOGI................................................................................................... 14
KARSINOMA NONINVASIF (IN SITU) (TERMASUK PENYAKIT PAGET) 15
KARSINOMA INVASIF (INFILTRATIF)..................................................... 17
GAMBARAN UMUM BAGI SEMUA KANKER INVASIF......................... 20
Drainase limfatik pada karsinoma payudara..................................................... 24
PAYUDARA LAKI-LAKI............................................................................... 25
Ginekomastia.................................................................................................... 25
Karsinoma......................................................................................................... 25
Galleri............................................................................................................... 26
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 28

ii

32