Anda di halaman 1dari 6

TUGAS INDIVIDU BLOK 17 UNIT PEMBELAJARAN 5

MASTITIS METRITIS AGALACTIAE

ANABELLA PURNAMA FIRDAUSYIA 10/296818/KH/6476 KELOMPOK 15

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2013

MASTITIS-METRITIS-AGALACTIAE
I. LEARNING OBJECTIVE 1) Jelaskan tentang MMA (Mastitis-Metritis-Agalactiae) meliputi Etiologi, patogenesis, gejala klinis, diagnosa, differensial diagnosa, terapi, dan pencegahan!

II.

PEMBAHASAN 1) MMA a. Etiologi Mastitis, metritis dan agalactia, sering disebut sebagai MMA, adalah sindrom kompleks yang dapat dilihat segera (12 jam sampai tiga hari) setelah induk babi partus. Hal ini disebabkan oleh infeksi bakteri pada kelenjar susu (ambing) dan/atau saluran urogenital. MMA menyebabkan kematian babi meningkat dan berat penyapihan berkurang(Siegmund, 1973). Penyebabnya tidak diketahui meskipun berbagai jenis agen mikroba dapat menginisiasi. Bakteri koliform banyak ditemukan pada isolasi dari glandula mammary dan uteri tetapi tidak akan menyebabkan suatu penyakit. Bakteri yang seringkali menyerang kelenjar susu babi yang menyebabkan agalaktia diantaranya bakteri E. coli, Klebsiella, Aerobacter aerogene. Beberapa bakteri lain yang dapat menyebabkan lesi pada kelenjar susu antara lain Staphyloccus aureus dan Corinobacterium pyogenes. Bakter-bakteri tersebut dapat berasal dari produk limbah pemotongan kayu yang digunakan sebagai alas tidur babi. Endotoksin mikroba, Mycoplasma spp dan buruknya manajemen, seperti ketidak layakan perkandangan, pakan dan kurangnya sinar (pengaturan temperatur), semuanya itu dapat menjadi pendukung sebab terjadinya MMA (Siegmund, 1973). Kuman yang paling sering diisolasi dari air susu babi yang menderita agalactia adalah E. coli, sedang kuman Klebsiella juga telah diisolasi, dan berasal dari produk limbah pemotongan kayu, yang digunakan untuk alas tidur babi (Subronto, 2003).

b. Patogenesis Patogenesis karena faktor endotoxin: Endotoxin yang dihasilkan oleh bakteri gram negatif yang berada disaluran gastrointestinal akan mengalami absorbsi, sehingga toxin tersebut tersebar kedalam sirkulasi darah menyebabkan septicemia, karena adanya toxin dan bakteri dalam aliran darah mengakibatkan syaraf pusat terdepress dan impuls tidak berjalan dengan baik sehingga kerja dari hypofisis posterior terhambat dan tidak dapat melakukan sekresi hormon prolaktin yang berfungsi sebagai produksi susu dan oxytocin yang berfungsi untuk merangsang sekresi dari mioephitelium. Karena kedua hormon tersebut terhambat sekresinya maka akan menyebabkan terjadinya agalaktia (Taylor, 2004). Patogenesis karena faktor stress : Faktor dari stress sendiri pada induk babi yang mungkin disebabkan karena kandang babi yang memiliki suhu yang tidak sesuai dan disebabkan keadaan kandang yang tidak nyaman menyebabkan terjadinya keluarnya hormon cortisol dan epinephrin sehingga hormon tersbut akan memblokade kerja dari oxytocin. Terjadinya MMA sendiri dapat terjadi secara bersama sama dikarenakan adanya septicemia yang bisa dikarenakan dari mastitis atau mastitis sehingga terjadilah sindrom MMA ( Cowart,1995 ). Skema 1. Terjadinya Keradangan pada patogenesis MMA

c. Gejala klinis Gejala klinis yang terlihat dari penyakit ini adalah: A. Agalaktia (tidak keluarnya air susu) muncul saat partus atau dalam waktu 72 jam postpartus. B. Gejala klinis umum yang terlihat adalah peningkatan respirasi, denyut jantung, depresi, anoreksia, tidak mau menyusui genjik-genjiknya (sehingga genjik terlihat lemah) C. Perubahan pada kelenjar mamae yaitu adanya pembesaran kelenjar, tampak memerah, mengeras, teraba panas, ada rasa sakit yang sangat bila diraba. D. Terkadang terlihat adanya leleran purulen dari vagina (Anonim, 2011).) Biasanya tanda pertama diikuti oleh depresi, gelisah ketika sedang menyusui dan melemahnya kondisi anak babi. Terjadi demam pada induk babi 39,5-41 C jika mastitis hadir. Dalam banyak kasus, hanya satu kelenjar mastitic. Penyakit ini berlangsung selama minimal 3 hari dan kemudian sembuh secara spontan. Kondisi dapat didahului oleh penundaan dalam proses kelahiran (> 5 jam) dan dapat bervariasi dalam intensitasnya. (Sihombing2006). Anak babi kelaparan, kedinginnan dan hipoglisemia

d. Diagnosa Diagnosis dapat didasarkan pada anamnesa terhadap riwayat kebuntingan dan kondisi dari lingkungan sekitar kandang, melalui pengamatan gejala klinis juga dapat dilakukan untuk membantu menentukan diagnosis. Metode diagnosis yang utama adalah melalui pengambilan sampel bakteri baik dari susu maupun leleran vulva untuk di kultur. Diagnosis melalui secret kelenjar susu juga dapat dilakukan dengan menggunakan Californian Mastitis Test. Pada pemerikasaan sampel negative tidak dan terbentuk gel ketika susu dan reagen dicampur dan diaduk secara memutar. Pada sampel yang positif, akan tampak pembentukan gel dan presipitasi yang menandai adanya jumlah sel radang yang berlebih pada susu(Siegmund, 1973).

e. Pengobatan A. oxytocin 10 30 IU dapat diulang tiap 2-4 jam B. untuk mendorong produksi prolaktin dapat dilakukan suntikan estradiol benzoat. C. untuk menolong genjik dapat diberikan susu buatan pada induk babi yang lain D. untuk pengobatan radang dapat diberikan corticosteroid ( antiradang )

Tabel pengobatan MMA No 1 Obat Oxytocin Dosis 30 50 USP im atau sc 2 Penicillin 6.000 20.000 IU/kg BB/hari 3 Streptomycin 10 20 mg/kg

BB/hari 4 5 6 7 Oxytetracycline Erythromicin Corticosteroid Corticotropin 6 mg/kg BB/hari 6 mg/kg BB/hari 5 mg/150 kg BB 2000 IU im pd hari 110 kebuntingan 8 Estradiol 1-2 mg im dlm wkt 48 jam partus ( Sihombing, 2006 ).

f. Pencegahan Perawatan yang baik saat babi bunting. Menjaga kebersihan kandang babi. Mencegah terjadinya pencemaran/kontaminasi tinja terhadap tanah. Pemberian vaksin yang lengkap pada saat babi bunting. Pemberian ransum pakan yang tidak berlebihan agar bobot babi tidak overweight. Sanitasi yang baik disekitar kandang babi (Sihombing, 2006).

III. DAFTAR PUSTAKA Akoso, BT, 1996. Kesehatan Babi. Yogyakarta: Penerbit Kanisius Anonim. 2011. Diseases: MMA (Mastitis, Metritis, Agalactia). Diakses dari www.vetsweb.com pada tanggal 1 Mei 2013 Cowart. 1995. Outline Of Swine Disease. Lowa Stan University Press. Amerika Siegmund. 1973. The Merck Veterinary Manual. New Jersey: Merck & CO,. INC Sihombing, DTH. 2006. Ilmu Ternak Babi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Soebronto, 2003. Ilmu penyakit ternak. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.