Anda di halaman 1dari 14

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Infiltrasi air adalah pergerakan air dari permukaan tanah ke dalam profil tanah.

Tekstur tanah, struktur tanah, dan kemiringan memiliki dampak terbesar pada laju infiltrasi. Air bergerak oleh gravitasi ke dalam ruang pori terbuka dalam tanah, dan ukuran partikel tanah dan jarak, mereka menentukan berapa banyak air dapat mengalir masuk pori-pori lebar spasi di permukaan tanah meningkatkan laju infiltrasi air, tanah begitu kasar memiliki lebih tinggi tingkat infiltrasi dari tanah yang baik. Air yang jatuh sebagai hujan tidak semuanya dapat mencapai permukaan tanah; sebagian tanah oleh vegetasi dan bangunan, sebagian air yang mencapai permukaan tanah akan masuk kedalam tanah dan manjadi air tanah melalui proses infiltrasi; sebagian lagi mengalir kebadan air sebagai air permukaan. Masuknya air kedalam tanah dibantu dengan gravitasi dalam tanah, laju infiltrasi air ke dalam tanah, berhubungan dengan pengisian kembali tanah oleh air hujan atau oleh air irigasi, sangat penting khusus nya untuk tanaman pertanian. Karena tanaman sangat memerlukan air untuk memecahkan zat-zat yang terkandung di dalam tanah sarta untuk kelembapan tanah itu sendiri. Irigasi merupakan sumber daya yang penting dalam perencanaan usaha tani. Seperti halnya dengan sumber daya lainnya, ada dua aspek yang perlu diperhatikan dalam perencanaan irigasi yaitu kelayakan dan keuntungannya. Keuntungannya antara lain adalah dapat menyediakan air yang cukup untuk pertumbuhan tanaman selama periode tumbuh. Perencanaan irigasi disusun terutama berdasrakan kondisi-kondisi meteorologi di daerah bersangkutan dan kadar air yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Irigasi dimaksudkan untuk memberikan suplai air kepada tanaman dalam waktu, ruang, jumlah, dan mutu yang tepat. Pencapaian tujuan tersebut dapat dicapai melalui berbagai teknik pemberian air irigasi. Rancangan pemakaian berbagai teknik tersebut di sesuaikan dengan karakteristik tanaman dan kondisi setempat.

Kapasitas infiltrasi curah hujan dari permukaan tanah ke dalam tanah sangat berbeda-beda, karena bergantung pada kondisi tanah di tempat yang bersangkutan. Bilamana curah hujan mencapai permukaan tanah, maka seluruh atau sebagiannya akan diabsorbsi ke dalam tanah. Bagian yang tidak diabsorbsi akan menjadi limpasan permukaan (surface runoff). Curah hujan yang mencapai permukaan tanah akan bergerak sebagai limpasan permukaan atau infitrasi. Air yang menginfiltrasi ke dalam tanah meningkatkan klembaban tanah atau terus ke air tanah. Proses infiltrasi dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain tekstur dan struktur tanah, persediaan air awal, kegiatan biologi dan unsur organik. Tanah remah akan memberikan kapasitas infiltrasi lebih besar daripada tanah liat. Tanah dengan pori-pori jenuh airnya mempunyai kapasitas yang lebih kecil yang dibandingkan tanah kering (Arsyad, 2010). B. Tujuan dan Manfaat Tujuan dari penulisan makalah ini ialah untuk mengetahui proses terjadinya infiltrasi dan hubungan dengan air tanah. Adapun manfaatnya ialah dapat mengetahui proses terjadinya infiltrasi dan hubungan dengan air tanah.

II. PEMBAHASAN A. Infiltrasi Infiltrasi adalah peristiwa masuknya air ke dalam tanah, yang umumnya (tetapi tidak mesti) melalui permukaan dan secara vertikal (Arsyad, 2010). Jika cukup air, maka air infiltrasi akan bergerak terus kebawah yaitu kedalam profil tanah. Gerakan air kebawah di dalam profil tanah disebut perkolasi. Infiltrasi adalah proses meresapnya air atau proses meresapnya air dari permukaan tanah melalui pori-pori tanah. Dari siklus hidrologi, jelas bahwa air hujan yang jatuh di permukaan tanah sebagian akan meresap ke dalam tanah, sabagian akan mengisi cekungan permukaan dan sisanya merupakan overland flow. Sedangkan yang dimaksud dengan daya infiltrasi (Fp) adalah laju infiltrasi maksimum yang dimungkinkan, ditentukan oleh kondisi permukaan termasuk lapisan atas dari tanah. Besarnya daya infiltrasi dinyatakan dalam mm/jam atau mm/hari. Laju infiltrasi (Fa) adalah laju infiltrasi yang sesungguhnya terjadi yang dipengaruhi oleh intensitas hujan dan kapasitas infiltrasi. Laju infiltrasi adalah banyaknya air persatuan waktu yang masuk melalui permukaan tanah dinyatakan dalam mm jam-1 atau cm jam-1. Pada saat tanah masih kering, laju infiltrasi cenderung tinggi. Setelah tanah menjadi jenuh air, maka laju infiltrasi akan menurun dan menjadi konstan. Kondisi permukaan, seperti sifat pori dan kadar air tanah, sangat menentukan jumlah air hujan yang diinfiltrasikan dan jumlah runoff (Hakim, et al, 1986). 1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Infiltrasi Laju infiltrasi ditentukan oleh besarnya kapasitas infiltrasi dan laju penyediaan air. Selama intensitas hujan lebih kecil dari kapasitas infiltrasi, maka laju infiltrasi sma dengan intensitas hujan. Jika intensitas hujan melampaui kapasitas infiltrasi, maka terjadilah genangan air dipermukaan tanah atau aliran permukaan (Arsyad, 2010). Lebih lanjut Hakim, et al (1986), menyatakan bahwa pergerakan air kebawah sangat ditentukan oleh sifat pori, atabilitas agregat, terkstur, kedalaman
3

lapisan impermebel, serta ada tidaknya liat yang mengembang. Oleh karena itu, pada masing-masing jenis tanah laju infiltrasinya akan berbeda-beda. Misalnya saja tanah berpasir yang dalam umumnya menahan sedikit air dan sebaliknya memungkinkan banyak hilang melalui perkolasi. 2. Pentingnya Mengetahui Laju Infiltrasi Dengan mengetahui data dapat digunakan untuk menduga kapan terjadi runoff akan terjadi bila suatu jenis tanah telah menerima sejumlah air tertentu baik melalui curah hujan ataupun irigasi dari suatu tendon air di permukaan tanah (Siradz, et al, 2007). Selain itu dari hasil penelitian Siswanto dan Joleha (2001), disebutkan bahwasannya dengan mengetahui infiltrasi maka pada setiap rumah dengan sadar membuat sumur resapan. Seperti halnya daearah perkotaan yang sangat memerlukannya. Sehingga denganhal ini dapat dihindari air limpasan dan juga banjir. 3. Hubungan Hutan Dengan Infiltrasi Permukaan yang tertutup oleh vegetasi dapat menyerap energi tumbuk hujan dan karenanya mampu mempertahankan laju infiltrasi yang tinggi. Pengembalian sisa-sisa tanaman dan penambahan bahan organik lainnya sebagai mulsa dipermukaan tanah juga mampu meningkatkan laju infiltrasisebaik pengaruh vegetasi hidup (Hakim, et al, 1986). Sehingga dengan hal ini dengan adanya hutan tumbukan air hujan yang jatuh pada kawasan berhutan rentunya akan tertahan ole tajuk dan dengan adanya bahan organic pada lantai hutan infiltrasi yang terjadi dapat terjadi dengan baik.
Pengaruh Proses Penghujanan Terhadap Perubahan Parameter Sifat Fisik Tanah

a. Perubahan Kadar Air Benda Uji Akibat Infiltrasi Air Setelah mengalami proses penghujanan maka kadar air tanah mengalami perubahan dimana proses penghujanan benda uji mempunyai pola yang sama dengan pembasahan yaitu mengakibatkan kadar air tanah mengalami kenaikan. Contohnya seperti pada perubahan kadar air benda uji setelah dihujani dari 0.5 jam sampai 2 jam pada masing-masing kedalaman. Setelah di basahi dari 0.5 jam sampai 2 jam, kadar air tanah dikedalaman 15 meter yang berupa tanah lempung

yang lunak menpunyai kadar air tanah yang paling besar diantara tanah yang lainnya. Hal ini terkait dengan sifat lempung yang lebih mudah lagi mengikat air. b. Pengaruh Infiltrasi Air Terhadap Derajat Kejenuhan Adanya infiltrasi air hujan pada tanah, mengakibatkan perubahan kadar air benda uji. Bila kadar air berubah maka pada umumnya derajat kejenuhan tanah juga mengalami perubahan. Suatu massa tanah terdiri dari butiran tanah dan ruang pori diantara butiran tanah. Dimana ruang pori ini dapat terisi oleh air atau udara atau gabungan antara keduanya. Bila seluruh ruang pori terisi oleh air maka massa tanah berada pada kondisi jenuh. Sedangkan bila sebagian ruang pori ditempati oleh air dan sisanya terisi udara maka tanah dalam kondisi tidak jenuh. c. Pengaruh Infiltrasi Air Terhadap Angka Pori Apabila terjadi perubahan angka pori dengan bertambahnya kadar air akibat adanya infiltrasi air hujan. Ini menunjukkan bahwa, terjadi perubahan volume dimana tanah akan mengembang dengan bertambahnya kadar air, Perubahan angka pori yang terjadi pada tanah lempung yang banyak terdapat pada tanah dikedalaman 15 sampai 30 meter pada suatu lokasi menpunyai angka pori yang besar pada kondisi initialnya. Pada kondisi ini tanah sudah banyak mengandung air dalam pori-pori tanahnya, dimana dengan adanya air dalam pori tanah akan menyebabkan jarak antar butiran tanah akan menjadi lebih jauh, bidang geser antar partikel tanah lebih besar sehingga tanah akan mengembang. Sedangkan pada tanah pasir berlanau yang terdapat dalam tanah dikedalaman 5 meter dan 10 meter, kandungan air dalam tanah lebih kecil karena sifat pasir dan lanau yang kurang menyerapa air pada permukaan partikel tanahnya, sehingga angka pori juga kecil dan perubahan volume yang terjadi akibat adanya air tidak menyebabkan tanah mengembang. d. Pengaruh Infiltrasi Air Terhadap Tegangan Air Pori Negatif Pada saat proses penghujanan dilakukan, tegangan air pori negatif tanah mengalami penurunan. Tegangan air pori negatif atau suction ini hanya ada pada tanah yang kohesif yaitu tanah yang mengandung lempung. Pada tanah di kedalaman 15 meter sampai 30 meter yang menpunyai kadar lempung lebih besar terjadi penurunan tegangan air pori negatifnya yang lebih besar dibandingkan

pada tanah dikedalaman 5 dan 10 meter. Dengan adanya peningkatan kadar air pada tanah menyebabkan banyaknya air yang mengisi ruang pori, sedangkan volume pori tidak mengalami perubahan, sehingga tekanan air pada permukaan tanah akan berkurang. e. Pengaruh Infiltrasi Air Hujan Terhadap Kohesi Pada awal penghujan dimana tanah masih dalam kondisi tidak jenuh, nilai kohesi masih cukup besar, walaupun proses penghujanan sudah mulai diberikan. Dalam hal ini, ikatan antar butiran tanah masih kuat, karena air yang diberikan dalam proses penghujanan belum sepenuhnya mengisi seluruh ruang pori antar butiran. Namun, bila proses penghujanan berlanjut, maka jarak antar butiran tanah akan semakin menjauh seiring dengan peningkatan jumlah air yang mengisi rongga pori tanah, sampai tanah berada dalam kondisi jenuh. Pada kondisi hampir jenuh ini, air dapat merusak struktur butiran tanah, dimana susunan partikel tanah yang awalnya lebih terkunci menjadi pecah, adanya air juga menyebabkan antar butir partikel tanah menjadi mudah tergelincir. f. Pengaruh Infiltrasi Air Terhadap Sudut Geser Dalam Peningkatan kadar air yang mengisi ruang pori tanah yang mengakibatkan jarak antar butiran tanah semakin bertambah. Pada kedalaman 5 m, 10m, peningkatan kadar air akibat infiltrasi air hujan, belum sepenuhnya

menghilangkan kekuatan gesernya karena derajat kejenuhannya belum sampai pada kondisi jenuh. Sebaliknya pada tanah kedalaman 15 m , 20 m, 25 dan 30 m, sudut geser dalamnya nol (F=0), namun kuat geser tanah dengan kandungan lempung yang besar dimana kekuatan geser (qu) sangat kecil. Karena ruang pori hampir seluruhnya terisi air sehingga jarak antar butiran menjadi jauh dan mudah lepas. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju infiltrasi antara lain : a. Jenis permukaan tanah b Cara pengolahan lahan c. Kepadatan tanah d. Sifat dan jenis tanaman.

Teknik yang dapat diterapkan untuk mengetahui laju inlfitrasi Salah satu cara untuk menanggulangi masalah bahan organik tanah adalah dengan sistem budidaya lorong (alley cropping). Sistem ini dapat mengelola bahan organik dengan masukan rendah maupun tinggi. Dengan demikian sistem ini diharapkan dapat memperbaiki sifat fisik tanah disamping sifat kimia dan biologi tanah, serta dapat berperan dalam menekan erosi. Sistem budidaya lorong adalah salah satu alternatif yang dikembangkan dalam metode konservasi tanah, dimana sistem ini merupakan suatu cara meningkatkan produktivitas tanah dengan bahan hijauan yang diperoleh dari pemangkasan tanaman legum. Sistem ini dapat memberikan tambahan bahan organik kedalam tanah, disamping merupakan sumber nitrogen tanah, sumber kayu bakar bagi petani dan sumber makanan ternak. Berbagai tanaman dapat dipergunakan sebagai tanaman pagar pada sistem budidaya lorong, antara lain Flemingia congesta, Akar wangi (Vertivera zizainoides), dan Kaliandra (Calliandra callothyrsus). Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa sistem budidaya lorong meningkatkan laju infiltrasi. Karena sistem budidaya lorong akan memberikan hasil pangkasan yang berfungsi sebagai mulsa. Dengan adanya mulsa akan dapat menghambat aliran permukaan dan infiltrasi akan diperbesar. Lal and Green Land (1979) mengatakan bahwa kandungan lumpur dalam aliran air permukaan yang diberi mulsa menjadi lebih sedikit, adanya aktivitas akar tanaman pagar maupun tanaman pangan akan dapat menggemburkan tanah sehingga akan berpengaruh terhadap pori mikro dan makro tanah, pada akhirnya infiltrasi air kedalam tanah dapat ditingkatkan. Pengaruh lain adanya vegetasi dalam hal ini tanaman alley akan dapat mematahkan kekuatan aliran permukaan, yaitu kecepatan aliran air mengalir akan tertahan oleh adanya vegetasi dan kesempatan terjadinya infiltrasi semakin diperbesar (Baver et.al., 1972). Disamping itu sistem budidaya lorong dapat mengurangi laju erosi karena barisan legum tersebut setelah tumbuh rapat mampu menahan sebagian tanah yang hanyut oleh air hujan sehingga memperkecil erosi. Flemingia dapat membentuk teras setelah satu tahun penanaman setinggi kurang

lebih 25 cm sehingga Flemingia memberikan pengaruh yang terbaik dibanding dengan Akar wangi dan Kaliandra terhadap kandungan bahan organik, kadar air lapang, kadar air maksimum dan laju infiltrasi (Rachman et.al., 1990). B. Air Tanah Air yang berada di wilayah jenuh di bawah permukaan tanah disebut air tanah. Secara global, dari keseluruhan air tawar yang berada di bumi ini lebih dari 97 % terdiri atas air tanah. Tampak bahwa peranan air tanah di bumi adalah penting. Air tanah dapat dijumpai hampir semua tempat di bumi bahkan di gurun pasir yang paling kering sekalipun, demikian juga di bawah tanah yang membeku karena tertutup lapisan salju atau es (Siregar, 2010). Secara fisik air tanah (lengas tanah) dibagi menjadi air grafitasi, air kapiler dan air higroskopis. Air gravitasi adalah bagian dari air tanah yang tidak dapat ditahan oleh tanah dan mengalir secara bebas karena pengaruhgayagravitasi. Jumlah air yang ditahan oleh tanah setelah air gravitasi habis disebut air kapasitas lapang, dengan besarnya tekanan sekitar 1/3 atmosfer. Air kapiler adalah bagian air tanah yang ditahan oleh tanah, yang terletak diantara kapasitas lapang dan koefisien higroskopis. Sedangkan koefisien

higroskopis itu sendiri adalah suatu keadaan dimana air tanah mulai kehilangan sifat-sifat cairan, dan ditahan oleh tanah dengan tegangan sampai 31 atmosfer. Air kapiler ini mengisi pori-pori tanah. Air kapiler dapat berasal dari hasil infiltrasi air dari permukaan tanah kemudian meresap kedalam tanah dan tertahan diatara butir tanah karena pengaruhgayakapiler tanah atau bisa juga berasal dari air dalam tanah (dari zona jenuh) yang naik ke atas melalui pori-pori tanah akibat pengaruhgayakapiler tanah. Besarnya air kapiler dalam tanah akan sangat

tergantung pada sifat fisik tanah. Air higroskopis adalah bagian air yang ditahan oleh tanah setelah dicapai koefisien higroskopis. Air higroskopis ini terjadi karena adagayakohesi dan

adhesi pda lapisan tipis air yang menyelimuti partikel-partikel tanah dengan tegangan diatas 15 atmosfer.

Secara biologis, air tanah dibedakan berdasarkan pada ketersediaannya bagi tanaman. Atas dasar itu, maka air tanah dibedakan menjadi air tidak

berguna, air tersedia dan air tidak tersedia. Air tidak berguna adalah bagian dari air tanah, berupa air bebas atau air gravitasi. Air tersedia adalah air yang berada diantara kapasitas lapang dan titik layu. Sedangkan air tidak tersedia adalah bagian air tanah dibawah titik layu dimana air ditahan oleh tanah dengan tegangan yang sangat besar sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Kapasitas lapang adalah keadaan kelembaban tanah yang relative mantap dan biasanya dicapai beberapa hari setelah tanah mengalami pembasahan total atau keadaan jenuh air. Pada kondisi ini tegangan air biasanya sekitar 1/3

atmosfer atau setara dengan nilai pF 2,54. Titik layu dapat didefinisikan sebagai tingkat kelembaban tanah dimana akar tanaman tidak lagi mampu menyerap air, dengan tegangan rata-rata 15 atmosfer atau setara dengan nilai pF 4,2. C. Proses terjadinya infiltrasi dan pergerakan air tanah Ketika air hujan jatuh di atas permukaan tanah, tergantung pada kondisi biofisik permukaan tanah, atas sebagian atau seluruh air hujan tersebut akan mengalir masuk ke dalam tanah melalui pori-pori permukaan tanah permukaan tanah. Proses mengalirnya air hujan kedalam tanah disebabkan oleh tarikan gaya gravitasidan gaya kapiler tanah (Siregar, 2010). Tinggi kenaikan air yang disebabkan oleh tegangan kapiler adalah berbanding terbalik terhadap diameter pipa kapiler. Jadi makin banyak tanah itu mengandung butir-butir halus, makin tinggi kenaikan air makin besar butir-butir tanah makin kecil kenaikan airnya. Sebaliknya makin kecil butir-butir tanah, makin kecil kecepatan airnya, makin besar butir-butirnya makin cepat kecepatan airnya. Laju air yang di pengaruhi oleh gaya gravitasi dibatasi oleh besarnya diameter pori-pori tanah. Dibawah pengaruh gaya gravitasi, air hujan mengalir vertikal kedalam tanah melalui profil tanah. Pada sisi yang lain, gaya kapiler bersifat mengalirkan air tersebut tegak lurus ke atas, ke bawah, dan ke arah

horizontal (lateral). Gaya kapiler tanah ini bekerja nyata pada tanah dengan poripori yang relatif kecil. Pada tanah dengan pori-pori besar, gaya ini dapat diabaikan pengaruhnya dan air mengalir ke tanah yang lebih dalam oleh pengaruh gaya gravitasi. Dalam perjalanannya tersebut, air juga mengalami penyebaran ke arah lateral akibat tarikan gaya kapiler tanah, terutama kea rah tanah dengan pori-pori yang lebih sempit dan tanah lebih kering. Air adhesif tertahan di sebelah luar air higroskopis dengan tegangan kapilernya sendiri tidak berhubungan dengan air tanah. Pergerakan air adhesif itu terutama hanya terjadi pada permukaan butir-butir tanah untuk mengisi bagianbagian kosong antara butir-butir (ruang-ruang sudut). Air gravitasi bergerak dalam ruang tanah karena gravitasi. Jika ruangruang itu telah jenuh dengan air, maka air akan bergerak menurut hokum Darcy seperti pada air tanah. Jika antara air yang sedang terinfiltrasi dengan air tanah terdapat bagian yang jenuh dengan udara, maka air akan bergerak sesuai dengan besarnya selisih gaya gravitasi dan tegangan kapiler. Infiltrasi yang terpengaruh oleh tegangan kapiler disebut infiltrasi terbuka dan infiltrasi yang hanya dipengaruhi oleh gravitasi umumnya disebut infiltrasi tertutup. Peresapan air dari persawahan yang air tanahnya terletak jauh dari jauh di bawah termasuk infiltrasi terbuka. Pengaliran air melalui ruang-ruang yang besar seperti retakan-retakan lapisan tanah sampai ke air tanah termasuk infiltrasi tertutup. Mekanisme infiltrasi, dengan demikian , melibatkan tiga proses yang tidak saling mempengaruhi: 1) Proses masuknya ai hujan melalui pori-pori permukaan tanah. 2) Tertampungnya air hujan tersebut di dalam tanah. 3) Proses mengalirnya air tersebut ke tempat lain (bahwa, samping, dan atas). Meskipun tidak saling mempengaruhi secara langsung, ketiga proses tersebut di atas saling terkait. Faktor-faktor yang mempengaruhi infiltrasi Dalam beberapa hal tertentu, infiltrasi itu berubah-ubah sesuai dengan intensitas curah hujan, umumnya disebut dengan laju infiltrasi. Akan tetapi setelah

10

mencapai limitnya, banyaknya infiltrasi akan berlangsung terus sesuai dengan kecepatan absorbsi maksimum setiap tanah tersebut. Laju infiltrasi maksimum yang terjadi pada suatu kondisi tertentu disebut kapasitas infiltrasi (f). Kapasitas infiltrasi itu berbeda-beda tergantung dari kondisi permukaan tanah, struktur tanah, tumbuhtumbuhan, suhu dan lain-lain. Disamping itu, infiltrasi berubahubah karena dipengaruhi oleh kelembaban tanah dan udara yang terdapat dalam tanah. Keadaan vegetasi penutup yang rapat dapat mengurangi jumlah air hujan yang sampai ke permukaan tanah, dan dengan demikian, mengurangi besar air infiltrasi. Sementara sistem perakaran vegetasi dan setetes yang dihasilkannya dapat membantu menaikkan permeabilitas tanah, dan dengan demikian dapat meningkatkan laju infiltrasi. Secara teoritis, bila kapasitas infiltrasi tanah diketahui, volume air larian dari suatu curah hujan dapat dihitung dengan cara mengurangi besarnya curah hujan dengan infiltrasi ditambah genangan air oleh cekungan permukaan tanah (surface detention) dan air intersepsi. Laju infiltrasi ditentukan oleh: (1) Jumlah air yang tersedia di permukaan tanah. (2) Sifat permukaan tanah. (3) Kemampuan tanah untuk mengosongkan air di atas permukaan tanah. Dari ketiga unsur tersebut diatas, ketersediaan air (kelembapan tanah) adalah yang terpenting karena akan menentukan besarnya tekanan potensiaal pada permukaan tanah. Berkurangnya laju infiltrasi dapat terjadi karena dua alasan. Pertama, bertambahnya kelambapan tanah menyebabkan butiran tanah

berkembang, dan dengan demikian menutup ruangan pori-pori tanah. Kedua, aliran air ke tertahan oleh gaya tarik butir-butir tanah. Gaya tarik ini bertambah besar dengan kedalaman tanah, dan dengan demikian, laju kecepatan air di bagian tanah yang lebih dalam berkurang sehingga menghambat masuknya air berikutnya dari permukaan tanah. Faktor-faktor yang mempengaruhi infiltrasi yaitu, sebagai berikut: 1. Karakteristik hujan Infiltrasi itu berubah-ubah sesuai dengan intensitas curah hujan.

11

2. Kondisi permukaan tanah/ struktur tanah. a. Kemiringan tanah secara tidak langsung mempengaruhi laju infiltrasi b. Pembekuan permukaan tanah mengurangi kapasitas infiltrasi selama tahapan awal hujan berikutnya c. Kondisi penutup lahan, seperti halnya vegetasi (karena terhambatnya aliran permukaan dan berkurangnya pemadatan tetesan hujan) mingkatkan infiltrasi. Kerapatan dan jenis vegetasi berpengaruh penting pada infiltasi. 3. Karakteristik air yang terinfiltrasi a. Suhu air memiliki pengaruh terhadap infiltrasi, tetapi penyebaran dan sifatnya belum pasti. b. Kualitas air merupakan factor lain yang mempengaruhi infiltrasi. Liat halus pada partikel debu yang dibawa air ketika terinfiltrasi dapat menghambat ruang pori yang lebih kecil. 4. Pemampatan oleh hujan, manusia dan hewan Gaya pukulan-pukulan hujan mengurangi kapasitas infiltrasi, karena oleh pukulan-pukulan itu butir-butir halus di permukaan teratas akan terpencar dan masuk ke dalam rongga-rongga tanah, sehingga terjadi efek pemampatan. Permukan tanah yang terdiri dari lapisan bercampur lempung akan menjadi

sangat impermeabel. Pada bagian lalu lintas orang atau kendaraan, permeabilitas tanah berkurang karena stuktur butir-butir tanah dan ruang-ruang yang berbentuk pipa yang halus telah rusak.

12

III. PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Infiltrasi adalah peristiwa masuknya air ke dalam tanah, yang umumnya (tetapi tidak mesti) melalui permukaan dan secara vertikal. Jika cukup air, maka air infiltrasi akan bergerak terus kebawah yaitu kedalam profil tanah. 2. Air tanah adalah air yang menempati rongga-rongga dalam lapisan geologi atau air yang berada di wilayah jenuh di bawah permukaan tanah. 3. Infiltrasi mempunyai hubungan yang berkorelasi positif sebagai salah satu bagian dari siklus hidrologi dimana akan menunjang dari keberadaan atau ketersediaan air tanah. B. Saran Diperlukan sebuah studi kasus lebih lanjut mengenai hubungan proses terjadinya infiltrasi dan ketersediaan air tanah.

13

DAFTAR PUSTAKA Arsyad, Sitanala. 2010. Konservasi Tanah dan Air. Insitut Pertanian Bogor Press. Bogor Civilizer, 2012. Infiltrasi. http://yudhacivilizer.blogspot.com/2012/01/vbehaviorurldefaultvmlo.html. Diakses pada tanggal 18 April 2014 Dwi Putri, M. dkk., 2011. Hubungan Infiltrasi dan Irigasi. http://irigasidandraenase.blogspot.com/2011/03/hubungan-infiltrasidengan-irigasi.html. Diakses pada tanggal 18 April 2014 2012. Infiltrasi. http://refdanil.blogspot.com/2012/10/infiltrasi.html. Diakses pada tanggal 18 April 2014 2011. Hubungan Tanah, Air dan Tanaman. http://hasanagroteknos09.wordpress.com/2011/11/18/hubungan-air-tanahdan-tanaman/. Diakses pada tanggal 18 April 2014

Danil,

Hasan,

Hakim, Nurhajati, dkk. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Penerbit Universitas Lampung. Lampung Siradz, Syamsul., Bambang DK dan Suci Handayani. 2007. Peranan Uji In Situ Laju Infiltrasi dalam Pengelolaan DAS Grindulu-Pacitan. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol. 7 No. 2 : 122-126 Siswanto dan Joleha. 2001. System Drainase Untuk Meningkatkan Pengisisn (Recharge) Air Tanah. Jurnal Natur Indonesia III (2) : 129-137 Siregar, 2010. Siklus Hidrologi. referensi.dosen.narotama.ac.id. Diakses pada tanggal 18 April 2014 Supriculubstani, 2011. Hubungan Tanah dan Air. http://supriclubstani.blogspot.com/2011/08/hubungan-tanah-dan-air.html. Diakses pada tanggal 18 April 2014

14