Anda di halaman 1dari 152

ISSN......

ISSN,..............

DIDAKTIS
Jurnal Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan

diterbitkan oleh : YAYASAN PENDIDIKAN MITRA SEHATI SAMAWA SUMBAWA BESAR NTB DIDAKTIS VOL. 1 No 1 Hal..... Sumbawa Besar Desember 2013 ISSN........

ISSN,..............

DIDAKTIS
Ketua Penyunting Wk. Ketua Penyunting : :

Volume 1, Nomor 1, Desember 2013

Jurnal Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan


Drs. Mauluddin Ibrahim, M.Pd Pengawas Sekolah Kab. Sumbawa Fataruddin, S.Pd,M.Pd Pengawas Sekolah Kab. Sumbawa 1. Prof.Dr. H. Muslimin Ibrahim, M.Pd Universitas Negeri Surabaya 2. Prof. H. Dr. Yatim Rianto, M.Pd Universitas Negeri Surabaya 3. Dr. M. Ridlwan, M.Pd Univ. Muhammadiyah Surabaya 1. Johan Wahyudi, S.Ip.M.Si 2. Gunawan,SPd,M.Pd Pengawas Sekolah Kab.Dompu 3. Muhammad Sahalluddin, S.Pd Pengawas Sekolah Kab. Sumbawa 4. Suhardi, S.Pd,M.Pd Pengawas Kab.Lombok Barat 5. Drs. Abdul Malik Pengawas Sekolah Kab. Sumbawa 6. Hj. Kalsum J, S.Pd,M.Pd Pengawas Sekolah Kab.Sumbawa 7. Eko Meiyono,S.Pd,M.Pd Pengawas Sekolah Kab. Sumbawa 1. Endah Widyastuti, S.Pd 2. Evy Wardani, A. Md. Kom 3. Risa Ramdhani Alamat Redaksi : RT 02-RW 01 Gang Bukit Indah I/ 1 Uma Beringin Kec.Unter Iwes ( Depan Kompleks BTN Kerato ) Sumbawa Besar NTB Tilp. (0371) 625343 Fax (0371 ) 625343 HP. 085230016988 - Kode POS 84351- E-mail: mauluddinibrahim@yahoo.com DIDAKTIS adalah jurnal pendidikan yang diterbitkan setiap bulan.Redaksi menerima artikel dan hasil penelitian tentang pendidikan,bahasa dan satra,serta ilmu eksakta. Naskah dapat dikirim berupa print out disertai file dengan program MS Word atau Page Maker,huruf Time New Roman 12. Panjang. Naskah 10-15 halaman Kuwarto dengan jarak spasi,1,5 spasi. Setiap naskah yang masuk akan diseleksi dan diedit dengan tanpa mengubah makna dan isi

Penyunting Ahli

Penyunting Pelaksana

Tata Usaha

ISSN,..............

DIDAKTIS

Volume 1, Nomor 1, Desember 2013

Jurnal Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan

DAFTAR ISI
PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR PKN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING SISWA KELAS VII-3 SMP NEGERI 1 EMPANG TAHUN PELAJARAN 2011 - 2012 PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DENGAN MENGGUNAKAN METODE COOPERATIVE SCRIPT KELAS VII-3 SMP NEGERI 1 EMPANG TAHUN PELAJARAN 2013-2014 PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MENERAPKAN MODEL KONSIDERASI TERINTEGRASI MELALUI BIMBINGAN DAN KONSELING DI KELAS IX-2 SMP NEGERI 1 MOYO HILIR TAHUN PELAJARAN 2013-2014 PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PKN DENGAN MENGGUNAKAN METODE ROLE PLAYING KELAS I.A SDN 3 JAGARAGA KEC. KURIPAN TAHUN PELAJARAN 2011-2012 PENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN JASMANI DENGAN PENERAPAN METODE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT ) KELAS VI SDN 1 TANAK BEAK TAHUN PELAJARAN 2012-2013 PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF DENGAN TEKNIK DISKUSI KELAS THINK PAIR SHARE UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR PKN KELAS IV SDN NYURLEMBANG KEC. NARMADA TAHUN PELAJARAN 2012-2013 PENINGKATAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF DENGAN PENDEKATAN STRUKTUR DI KELAS V SDN KERU NARMA TAHUN PELAJARAN 2011-2012 PENERAPAN PENDEKATAN KONSTRUKTIVIS BERBANTUAN LEMBAR KERJA SISWA UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI KELAS V SDN 2 PERESAK TAHUN PELAJARAN 2012-2013
3

1 - 13

14 - 25

26-38

39 - 49

50 - 59

60 - 70

71 - 81

82 - 92

PENERAPAN PEMBELAJARAN DENGAN MODEL PBI (PROBLEM BASED INSTRUCTION) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PKN KELAS IV SDN 1 GUNTUR MACAN TAHUN PELAJARAN 2011-2012 PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DENGAN MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING KELAS IV SDN 3 SESAOT TAHUN PELAJARAN 2011-2012 PENINGKATAN AKTIVITAS DAN MOTIVASI BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN MELALUI PENERAPAN METODE PARTISIPATORI KELAS V SDN 3 LINGSAR KEC. LINGSAR KAB. LOMBOK BARAT TAHUN PELAJARAN 2011-2012 PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DENGAN MENERAPKAN GABUNGAN METODE EKSPOSITORI DAN METODE PEMBERIAN TUGAS TERPROGRAM KELAS V SDN 2 BATU MEKAR KEC. LINGSAR KAB. LOMBOK BARAT TAHUN PELAJARAN 2012-2013 PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM MELAKSANAKAN EVALUASI HASIL BELAJAR MELALUI SUPERVISI AKADEMIK KEPALA SEKOLAH DI SDN 1 GERIMAK INDAH TAHUN PELAJARAN 2013-2014

93 103

104 - 114

115 126

127 137

138 148

PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR PKN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING SISWA KELAS VII-3 SMP NEGERI 1 EMPANG TAHUN PELAJARAN 2011 - 2012 ABDUR RAHMAN PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Materi PKn meliputi nilai-nilai moral dan norma mencakup kehidupan kebangsaan, ideologi, politik, sosial budaya, pertahanan keamanan serta perilaku yang diharapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Penentuan konteks pada materi yang digunakan dalam proses pengembangan nilai moral dalam interaksi belajar mengajar didasarkan atas pertimbangan kebermanfaatan bagi siswa dalam kehidupan sehari-sehari, kedekatan dengan lingkungan siswa, harapan masyarakat, bangsa dan negara untuk masa mendatang. Dalam melaksanakan proses pembelajaran, guru bebas memilih strategi dan model yang tepat dan dapat digunakan sesuai materi yang diajarkan. Berdasarkan pengamatan di lapangan, pembelajaran PKn belum maksimal untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan KTSP. Keadaan ini tidak melibatkan lingkungan sebagai sumber belajar, tidak memanfaatkan pendekatan dan modelmodel pembelajaran pendidikan nilaimoral yang ada, sehingga kemampuan siswa tidak mampu beradaptasi secara sosial di masyarakat. Oleh karena itu kemampuan guru dalam menerapkan berbagi metode dan model pembelajaran harus ditingkatkan agar tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan oleh sekolah dapat tercapai. Guru PKn SMP Negeri 1 Empang , yang menunjukkan bahwa unjuk kerja guru dalam pembelajaran PKn masih kurang memadai untuk menciptakan pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan pengajaran nilai-moral. Dari hasil pengamatan di lapangan dan hasil ulngan harian dan Semester ganjil siswa tahun
5

2011-2012, belum mecapai KKM yang telah ditetapkan oleh 75. Rata-rata nilai siswa yang mencapai KKM baru 49,21%. Dengan demikian secara klasikal siswa belum tuntas dalam belajar PKn. Hal ini disebabkan pada saat aktivitas pembelajaran berlangsung, siswa lebih banyak pasif, guru belum memiliki kemampuan memanfaatkan pendekatan, strategi, dan model pengajaran pendidikan nilai. Oleh karena itu diperlukan suatu upaya peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa melalui strategi dan model pembelajaran yang tepat, salah satu model model pembelajaran yang sesuai dengan materi PKn adalah penerapan model pembelajaran Problem Based Learning. Model pembelajaran Problem Based Learning suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi masalah, termasuk didalamnya belajar bagaimana belajar. Penerapan model pembelajaran ini akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pelajaran PKn. Tujuan Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui sebagai berikut : 1. Peningkatan motivasi dan hasil belajar PKn melalui model pembelajaran Problem Based Learning siswa kelas VII-3 SMP Negeri 1 Empang Tahun pelajaran 2011-2012 . 2. Efetivitas model pembelajaran Problem Based Learning dalam

meningkatkan motivasi dan hasil belajar PKn siswa kelas VII-3 SMP Negeri 1 Empang Tahun pelajaran 2011-2012. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagi Siswa ; a) Menumbuhkan kemampuan bekerjasama, berkomunikasi, dan mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa. b) Meningkatkan sikap konstruktif siswa dalam belajar PKn yang pada gilirannya akan membawa pengaruh positif yaitu terjadinya peningkatkan prestasi belajar PKn dan penguasan konsep serta keterampilannya. 2. Bagi Guru a) Memperoleh pengetahuan untuk meningkatkan keterampilan memilih strategi pembelajaran yang bervariasi. b) Guru termotivasi melakukan penelitian sederhana yang bermanfaat bagi perbaikan dalam proses pembelajaran dan meningkatkan kemampuan guru itu sendiri. 3. Manfaat Bagi Peneliti Akan diperoleh pemecahan masalah dalam penelitian sehingga akan diperoleh suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan sikap konstruktif siswa terhadap PKn. KAJIAN TEORI A. Motivasi Belajar Siswa 1. Pengertian Motivasi Belajar Kata "motif" dapat diartikan sebagai daya upaya mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Banyak para ahli yang memberikan batasan tentang pengertian motivasi antara lain sebagai berikut: a. Menurut Mc. Donald,"motivasi adalah perubahan energi dalam
6

diri seseorang yang ditandai dengan munculnya "feeling" dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan". b. Menurut Tabrani Rusyan,"motivasi adalah kekuatan yang mendorong seseorang melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan". c. Menurut Gleitman dan Reiber,"motivasi ialah pemasok daya (energizer) untuk bertingkah laku secara terarah". Dari berbagai definisi yang dikemukakan oleh para ahli tersebut di atas, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa motivasi adalah sesuatu yang kompleks, karena motivasi dapat menyebabkan terjadinya perubahan energi dalam diri individu untuk melakukan sesuatu yang didorong karena adanya tujuan, kebutuhan atau keinginan. Dalam pembahasan yang penulis maksud di sini adalah motivasi dalam belajar, oleh karena itu sebelum menguraikan apa itu motivasi belajar maka terlebih dahulu diuraikan tentang belajar. Menurut Sumadi Soerya Brata,"belajar adalah membawa perubahan yang mana perubahan itu mendapatkan kecakapan baru yang dikarenakan dengan usaha atau disengaja". Menurut L,Crow dan A,Crow, Belajar adalah perubahan tingkah laku (seperti inovasi, eliminasi atau modifikasi respon, yang mengandung setara dengan ketetapan) yang sebagian atau seluruhnya disebabkan oleh pengalaman. Indikator motivasi belajar dapat diklasifikasikan sebagai berikut: (a) adanya hasrat dan keinginan berhasil; (b) adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar; (c) adanya harapan dan cita-

cita masa depan; (d) adanya penghargaan dalam belajar; (e) adanya kegiatan yang menarik dalam belajar; dan (f) adanya lingkungan belajar yang kondusif, sehingga memungkinkan siswa dapat belajar dengan baik. Besar kecilnya pengaruh motivasi belajar terhadap seseorang tergantung seberapa besar motivasi itu mampu membangkitkan motivasi seseorang akan melakukan suatu pekerjaan dengan lebih memusatkan pada tujuan dan akan lebih intensif pada proses pengerjaannya. 2. Macam-Macam Motivasi Berdasarkan pengertian di atas, motivasi belajar dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu: a) Motivasi instrintik adalah motivasi yang timbul sebagai akibat dari diri individu sendiri tanpa ada paksaan dan dorongan dari orang lain, tetapi atas kemauan sendiri. b) Motivasi ekstrintik adalah motivasi yang timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain yang akhirnya dapat melakukan sesuatu atau belajar. Untuk mendorong motivasi belajar terhadap siswa, maka diperlukan prinsip-prinsip motivasi belajar sebagai berikut: (1) pujian lebih efektif daripada hukuman, (2) semua siswa mempunyai kebutuhan-kebutuhan psikologis (yang bersifat dasar) tertentu yang harus mendapat kepuasan, (3) Motivasi instrintik lebih efektif daripada motivasi esktrintik, (4) jawaban yang serasi memerlukan usaha penguatan, (5) motivasi itu mudah menjalar terhadap orang lain, (6) pujian-pujian yang datangnya dari luar kadangkadang diperlukan dan cukup efektif untuk merangsang minat yang
7

sebenarnya, dan (7) teknik dan proses mengajar yang bervariasai adalah efektif untuk memelihara minat siswa. 3. Fungsi Motivasi Motivasi merupakan faktor yang sangat penting di dalam belajar sebab motivasi berfungsi sebagai: a. Motivasi memberi semangat terhadap seorang peserta didik dalam kegiatan-kegiatan belajarnya. b. Motivasi perbuatan merupakan Pemilih dari tipe-tipe kegiatankegiatan dimana seseorang berkeinginan untuk melakukannya. c. Motivasi memberi petunjuk pada tingkah laku Fungsi motivasi juga dipaparkan oleh Tabrani dalam bukunya "Pendekatan dalam proses belajar mengajar", yaitu: a. Mendorong timbulnya kelakuan atau perbuatan b. Mengarahkan aktivitas belajar peserta didik c. Menggerakan dan menentukan cepat atau lambatnya suatu perbuatan. Sama halnya dengan pendapat yang dikemukakan oleh Sardiman, bahwa ada tiga fungsi motivasi, antara lain: a. Mendorong manusia untuk berbuat. b. Menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai. c. Menentukan arah perbuatan, yakni menentukan perbutanperbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan. Setiap motivasi itu bertalian erat dengan tujuan atau suatu citacita, oleh karena itu semakin tinggi harapan terhadap suatu tujuan, maka semakin kuat motivasi

seseorang untuk mencapai tujuan itu. Purwanto mengatakan bahwa manfaat motivasi ada 3 yaitu: a. Motivasi itu mendorong manusia untuk berbuat atau bertindak. b. Motivasi itu menentukan arah, perbuatan, yakni kearah perwujudan suatu tujuan atau cita-cita. c. Motivasi itu menyeleksi perbuatan kita, artinya menentukan perbuatan mana yang dilakukan, yang serasi, guna mencapai tujuan itu dengan mengesampingkan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan itu. 4. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Motivasi dalam Belajar Menurut Dimyati bahwa proses belajar siswa, dapat dipengaruhi sebagai berikut: a. Faktor Intern meliputi: sikap terhadap belajar, motivasi, konsentrasi, mengolah bahan ajar, rasa percaya diri. Kemampuan berprestasi, menggali hasil belajar yang tersimpan. b. Faktor Ekstern meliputi: guru, sarana dan prasarana pembelajaran, kebijakan sekolah, lingkungan sekolah, dan kurikulum. Dari uraian di atas, maka jelaslah bahwa motivasi merupakan penyebab keberhasilan peserta didik dalam belajar. Motivasi merupakan factor inner (batin) yang berfungsi menimbulkan, mendasari, mengarahkan perbuatan belajar. Motivasi dapat menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan sehingga besarnya motivasi akan semakin besar kesuksesan belajarnya, seorang siswa yang besar motivasinya akan giat berusaha, tampak gigih dan
8

tidak mau menyerah, giat membaca buku-buku untuk meningkatkan prestasinya untuk memecahkan masalahnya, sebaliknya siswa yang motivasinya lemah tampak acuh tak acuh dan mudah putus asa, perhatian tidak tertuju pada pelajaran, suka menganggu kelas, dan sering meninggalkan kelas sehingga banyak mengalami kesulitan belajar. Menurut Dimyati hal-hal yang berepengaruh terhadap motivasi ada yaitu: a. Cita-cita atau aspirasi siswa b. Kemampuan siswa c. Kondisi siswa d. Kondisi lingkungan e. Unsur-unsur dinamis dala belajar dan pembelajaran f. Upaya guru dalam membelajarkan siswa B. Hasil Belajar Siswa 1. Pengertian Belajar Hasil belajar tidak dapat dipisahkan dari perbuatan belajar, karena belajar merupakan suatu proses, sedangkan hasil belajar adalah hasil dari proses pembelajaran tersebut (Slameto, 2003: 45). Menurut Logan, dkk (dalam Sujana, 1998) belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan latihan. Senada dengan hal tersebut, Winkel (1997: 231) berpendapat bahwa: belajar pada manusia dapat dirumuskan sebagai suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahanperubahan dalam pengetahuan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat relatif konstan dan berbekas.

Sudjana (1998) berpendapat bahwa: belajar merupakan proses perubahan dari belum mampu menjadi sudah mampu dan terjadi dalam jangka waktu tertentu Menurut Sardiman(2006: 56) belajar adalah: usaha atau kegiatan yang bertujuan mengadakan perubahan di dalam diri seseorang, mencakup perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan, keterampilan dan sebagainya. Belajar dapat dikatakan berhasil jika terjadi perubahan dalam diri siswa, namun tidak semua perubahan perilaku dapat dikatakan belajar karena perubahan tingkah laku akibat belajar memiliki ciri-ciri perwujudan yang khas (Sudjana, 2005: 198) antara lain : a. Perubahan Intensional Pada ciri ini siswa menyadari bahwa ada perubahan dalam dirinya, seperti penambahan pengetahuan, kebiasaan dan keterampilan. b. Perubahan Positif dan aktif Positif berarti perubahan tersebut baik dan bermanfaat bagi kehidupan serta sesuai dengan harapan karena memperoleh sesuatu yang baru, yang lebih baik dari sebelumnya. Sedangkan aktif artinya perubahan tersebut terjadi karena adanya usaha dari siswa yang bersangkutan. c. Perubahan efektif dan fungsional Perubahan dikatakan efektif apabila membawa pengaruh dan manfaat tertentu bagi siswa. Sedangkan perubahan yang fungsional artinya perubahan dalam diri siswa tersebut relatif menetap dan apabila dibutuhkan perubahan tersebut dapat direproduksi dan dimanfaatkan lagi.
9

Berdasarkan dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan siswa untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, secara sengaja, disadari dan perubahan tersebut relatif menetap serta membawa pengaruh dan manfaat yang positif bagi siswa dalam berinteraksi dengan lingkungannya. 2. Pengertian Hasil Belajar Siswa Menurut Chaplin, pengertian hasil belajar adalah : Hasil belajar merupakan suatu tingkatan khusus yang diperoleh sebagai hasil dari kecakapan kepandaian, keahlian dan kemampuan di dalam karya akademik yang dinilai oleh guru atau melalui tes prestasi (1992: 159). Pendapat Chaplin di atas mengandung pengertian bahwa prestasi itu hakikatnya berupa perubahan perilaku pada individu di sekolah, perubahan itu terjadi setelah individu yang bersangkutan mengalami proses belajar mengajar tertentu. Dari hasil evaluasi ini akan dapat diketahui hasil belajar siswa yang biasanya dinyatakan dalam bentuk nilai atau angka. Dengan demikian hasil belajar merupakan suatu nilai yang menunjukkan hasil belajar dari aktifitas yang berlangsung dalam interaksi aktif sebagai perubahan dalam pengetahuan, pemahaman keterampilan dan nilai sikap menurut kemampuan anak dalam perubahan baru. Dalam proses belajar mengajar anak didik merupakan masalah utama karena anak didiklah yang diharapkan dapat menyerap seluruh materi pelajaran yang diprogramkan didalam kurikulum.

C. Model Pembelajaran Problem Based Learning Pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Pembelajaran berbasis masalah digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi masalah, termasuk didalamnya belajar bagaimana belajar. Menurut Ibrahim dan Nur (2002:2 dalam Nurhadi dkk, 2004), Pembelajaran berbasis masalah dikenal dengan nama lain seperti Project-based Teaching (pembelajaran proyek), Experience-Based Education (pendidikan berdasarkan pengalaman), Authentic learning (Pembelajaran autentik), dan Anchored instructian (pembelajaran berakar pada kehidupan nyata). Peran guru dalam pembelajaran berbasis masalah adalah menyajikan masalah, mengajukan masalah tidak dapat dilaksanakan tanpa guru mengembangkan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide secara terbuka. Secara garis besar pembelajaran berbasis masalah terdiri dari penyajian kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri. 1. Ciri-ciri pengajaran berbasis masalah a. Pengajuan pertanyaan atau masalah b. Berfokus pada ketrampilan antar disiplin c. Penyelidikan autentik d. Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya

2. Tujuan pembelajaran dan hasil pembelajaran Pengajaran berbasis masalah dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyakbanyaknya kepada siswa. Pembelajaran berbasis masalah dikembangkan terutama untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual; belajar tentang berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi; dan menjadi pembelajar yang otonom dan mandiri. (Nurhadi, Burhan & Agus, 2004). 3. Tahapan pembelajaran berbasis masalah Pengajaran berbasis masalah terdiri dari lima tahapan utama yaitu: a. Tahap pertama adalah guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa agar terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih. b. Tahap kedua adalah guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut. c. Tahap ketiga adalah guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan penyelesaian masalahnya. d. Tahap keempat adalah guru membantu siswa merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai dengan laporan, video dan model serta membantu mereka berbagi tugas dengan temannya.
10

e. Tahap kelima adalah guru membantu siswa melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-peoses yang mereka gunakan. METODE PENELITIAN 1. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII-3 SMP Negeri 1 Empang. 2. Setting Penelitian a. PTK dilakukan pada SMP Negeri 1 Empang tahun Pelajaran 20112012. b. PTK dilakukan pada siswa kelas VII-3 dengan jumlah 39 orang ( P = 29 orang ; dan L = 10 orang ) 3. Rancangan Penelitian a. Tindakan dilaksanakan dalam 3 siklus b. Kegiatan dilaksanakan dalam semester genap tahun pelajaran 2011-2012. c. Lama penelitian 6 pekan efektif dilaksanakan mulai tanggal 09 Maret sampai dengan 13 April 2012 d. Dalam pelaksanaan tindakan, rancangan dilakukan dalam 3 siklus yang meliputi ; (a) perencanaan, (2) tindakan, (3) pengamatan, (4) refleksi. 4. Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini terdiri dari; Variabel Peningkatan motivasi dan Harapan: belajar siswa pada pelajaran PKn kelas VII-3 Variabel Penerapan model Tindakan: pembelajaran Problem Based Learning. Adapun indikator yang diteliti dalam variabel harapan terdiri dari : 1. Kemampuan siswa dalam pelajaran PKn

2. Kemampuan siswa dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajar PKn melalui penerapan model pembelajaran Problem Based Learning. 3. Keefektifan pembelajaran melalui model pembelajaran Problem Based Learning. Sedangkan variabel tindakan memiliki indikator sebagai berikut : 1. Tingkat kualitas perencanaan 2. Kualitas perangkat observasi 3. Kualitas operasional tindakan 4. Kesesuaian perencanaan dengan tindakan kelas 5. Kesesuaian teknik yang digunakan meningkatkan kemampuan siswa. 6. Tingkat efektifitas pelaksanaan model pembelajaran Problem Based Learning. 7. Kemampuan siswa dan guru dalam menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning. 5. Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data a. Sumber Data : Sumber data dalam penelitian ini berasal dari dua sumber yaitu : 1 Siswa: Diperoleh data tentang peningkatan motivasi dan hasil belajar PKn kelas VII-3 2 Guru : Diperoleh data tentang efektivitas penerapan model pembelajaran Problem Based Learning. b. Teknik Pengumpulan Data: Dalam Pengumpulan data menggunakan Observasi dan Tes. 6. Indikator Keberhasilan Penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam tiga siklus dianggap sudah berhasil apabila terjadi peningkatan hasil belajar siswa apabila 85 % siswa kelas VII-3 (kelas yang diteliti) telah mencapai ketuntasan dengan standar ideal 75. Jika peningkatan tersebut dapat dicapai
11

pada tahap siklus 1 dan 2, maka siklus selanjutnya tidak akan dilaksanakan karena tindakan kelas yang dilakukan sudah dinilai efektif sesuai dengan harapan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan ( KTSP ). 7. Teknik Analisis Data Dalam analisis data teknik yang digunakan adalah ; a. Kuantitatif Analisis ini digunakan untuk menghitung besarnya peningkatan hasil belajar PKn siswa dengan menerapkan Problem Based Learning dengan menggunakan prosentase ( % ). b. Kualitatif Teknik analisis ini digunakan untuk memberikan gambaran hasil penelitian secara ; reduksi data, sajian deskriptif, dan penarikan simpulan. 8. Jadwal Pelaksanaan Penelitian Jadwal kegiatan Penelitian dilaksanakan mulai tanggal tanggal 09 Maret 2012 13 April 2012 ( 6 Minggu efektif ). HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Paparan Data dan Temuan Penelitian 1. Perencanaan Tindakan Tindakan yang akan dilakukan oleh peneliti antara lain: a) Menyusun instrumen pembelajaran b) Menyusun Instrumen Monitoring c) Sosialisasi kepada siswa d) Melaksanakan tindakan dalam pembelajaran e) Melakukan refleksi f) Menyusun strategi pembelajaran pada siklus ke dua berdasar refleksi siklus pertama g) Melaksanakan pembelajaran pada siklus kedua
12

h) Melakukan Observasi i) Melakukan refleksi pada siklus kedua j) Menyusun strategi pembelajaran pada siklus ketiga berdasar refleksi siklus kedua k) Melaksanakan pembelajaran pada siklus ketiga l) Melakukan Observasi m) Melakukan refleksi pada siklus ketiga n) Menyusun laporan 2. Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan Pelaksanaan tindakan dalam penelitian dilakukan 3 siklus yang terdiri dari enam kali pertemuan. Waktu yang digunakan setiap kali pertemuan adalah 2 x 45 menit. Siklus pertama dilaksanakan pada tanggal 09 s.d 16 Maret 2012 dan siklus kedua pada tanggal 23 s.d 30 Maret 2012, dan siklus ke tiga pada tanggal 06 s.d 12 April 2012. SIKLUS 1 1. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, LKS 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi pengolaan pembelajaran. 2. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 09 s.d 16 Maret 2012 di SMP Negeri 1 Empang tahun pelajaran 2011-2012 dengan jumlah siswa 39 orang. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksaaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan

siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Dari hasil tes formatif yang telah dilakukan diperoleh nilai rata-rata siswa adalah 57,31 %. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai 65 hanya sebesar 33,33% atau baru ada 12 siswa dari 39 siswa yang tuntas, hasil ini tentu lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85 %. Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan menggunakan metode Problem Based Learning. 3. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut: a. Guru kurang baik dalam memotivasi siswa dan dalam menyampaikan tujuan pembelajaran b. Guru kurang baik dalam pengelolaan waktu c. Siswa kurang begitu antusias selama pembelajaran berlangsung. 4. Revisi Rancangan a. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada siklus I ini masih terdapat kekurangan, sehingga perlu adanya revisi untuk dilakukan pada siklus berikutnya. b. Guru perlu lebih terampil dalam memotivasi siswa dan lebih jelas dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Di mana siswa diajak untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan. c. Guru perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan menambahkan informasi-informasi yang dirasa perlu dan memberi catatan d. Guru harus lebih terampil dan bersemangat dalam memotivasi

siswa sehingga siswa bisa lebih antusias. SIKLUS II 1. Tahap perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2, soal tes formatif II dan alat-alat pengajaran yang mendukung. 2. Tahap kegiatan dan pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 23 s.d 30 Maret 2012 di SMP Negeri 1 Empang tahun pelajaran 2011-2012. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif II. Adapun nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 67,59 % dan peningkatan ketuntasan mencapai 79,48 % atau ada 31 siswa dari 39 siswa sudah tuntas belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami peningkatan cukup lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil belajar siswa ini karena setelah guru menginformasikan bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar. Selain itu siswa juga sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan diinginkan guru dalam menerapkan model

13

pembelajaran Problem Based Learning. 3. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut : 1) Memotivasi siswa 2) Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep 3) Pengelolaan waktu 4. Revisi Pelaksanaaan Pelaksanaan kegiatan belajar pada siklus II ini masih terdapat kekurangan-kekurangan. Maka perlu adanya revisi untuk dilaksanakan pada siklus III antara lain: 1) Guru dalam memotivasi siswa hendaknya dapat membuat siswa lebih termotivasi selama proses belajar mengajar berlangsung. 2) Guru harus lebih dekat dengan siswa sehingga tidak ada perasaan takut dalam diri siswa baik untuk mengemukakan pendapat atau bertanya. 3) Guru harus lebih sabar dalam membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep. 4) Guru harus mendistribusikan waktu secara baik sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. 5) Guru sebaiknya menambah lebih banyak contoh soal dan memberi soal-soal latihan pada siswa untuk dikerjakan pada setiap kegiatan belajar mengajar. SIKLUS III 1. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. 2. Tahap kegiatan dan pengamatan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus III dilaksanakan pada tanggal 06 s.d 12 April 2012 di SMP Negeri 1 Empang tahun pelajaran
14

2011-2012 dengan jumlah siswa 39 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif III. Adapun nilai rata-rata tes formatif sebesar 77,95 % dan dari 39 siswa secara keseluruhan sudah mencapai ketuntasan dalam meningkatkan hasil belajarnya. Maka secara klasikal ketuntasan telah mencapai 100 % ( termasuk kategori tuntas ). Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning, sehingga siswa menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam memahami materi yang telah diberikan. Di samping itu ketuntasan ini juga dipengaruhi oleh kerja sama dari siswa yang telah menguasai materi pelajaran untuk mengajari temannya yang belum menguasai. 3. Refleksi Pada tahap ini akan dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan model pembelajaran Problem Based Learning. Dari datadata yang telah diperoleh dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masingmasing aspek cukup besar. b. Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung. c. Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik. d. Hasil belajar siswa pada siklus III mencapai ketuntasan. 4. Revisi Pelaksanaan Pada siklus III guru telah menerapkan metode Problem Based Learning dengan baik, dan dilihat dari motivasi siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan model pembelajaran Problem Based Learning, dapat meningkatkan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. B. ANALISIS HASIL KEGIATAN Analisis Data Deskriptif Kuantitatif 1. Pencapaian hasil belajar PKn Kelas VII-3 sebelum diberi tindakan 2235x 100% = 57,31% 3900 2. Pencapaian hasil belajar PKn Kelas VII-3 setelah diberi tindakan pengelompokan siswa berdasarkan nomor panggilan (acak berdasarkan tempat duduk ) 2636 x 100% = 67,59 % 3900

3. Pencapaian hasil belajar PKn kelas VII-3 setelah diberi tindakan pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan akademik 3040x 100% = 77,95 % 3900 Dari hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa 1. Terjadi peningkatan prestasi setelah diberi tindakan yaitu 57,31% menjadi 67,59% ada kenaikan sebesar = 10,28%. 2. Dari sebelum tindakan ( siklus 1 ) dan setelah tindakan sampai dengan ( siklus 3 ) 57,71 % menjadi 67,59 %, dan dari ( siklus 2 ) ke ( siklus 3 ) juga ada peningkatan sebanyak 77,95 % - 67,59 % = 10,36 %. 3. Ketuntasan siswa sebelum diberi tindakan dari 33,33 % pada siklus I, 79,48% pada siklus II, dan siklus III menjadi 100 %. 4. Dari tindakan siklus 2 dan setelah tindakan ( siklus 3 ) 67,59 % menjadi 77,95 % berarti ada peningkatan prestasi sebanyak 77,95% - 67,59 % = 10,36 %. Refleksi dan Temuan Berdasarkan pelaksanaan tindakan maka hasil observasi nilai, hasil dapat dikatakan sebagai berikut : 1. Siklus pertama kegiatan belajarmengajar dengan menerapkan metode Problem Based Learning belum berhasil karena dalam pembelajaran masih terlihat siswa yang bermain, bercerita, dan mengganggu siswa lain; 2. Pembelajaran dengan menerapkan metode Problem Based Learning dalam hal peningkatan motivasi dan hasil belajar belum tampak, sehingga hasil yang dicapai tidak tuntas. 3. Mungkin karena proses belajar mengajar yang dilakukan adalah pembelajaran dengan metode Problem Based Learning yang baru mereka laksanakan sehingga siswa merasa kaku dalam menerapkannya.

15

4. Akan tetapi setelah dijelaskan, mereka bisa mengerti dan buktinya pada siklus kedua dan ketiga proses kegiatan belajar - mengajar berjalan baik, semua siswa aktif dan lebih-lebih setelah ada rubrik penilaian proses, seluruh siswa langsung aktif belajar. C. Pembahasan Hasil Penelitian 1. Ketuntasan Hasil belajar Siswa Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning memiliki dampak positif dalam meningkatkan hasil belajar siswa, hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru (hasil belajar meningkat dari siklus I, II, dan III ) yaitu; 57,31% ; 67,59% ; 77,95%. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai. 2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dengan model pembelajaran Problem Based Learning dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap motivasi belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus. 3. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran PKn dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning yang paling dominan adalah bekerja dengan menggunakan alat/media, mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa
16

aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif. Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah metode Problem Based Learning dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul diantaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan kegiatan pembelajaran, menjelaskan, memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab di mana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar. Dari analisis data di atas bahwa pembelajaran dengan metode Problem Based Learning dapat diterapkan pada pembelajaran PKn kelas VII-3, yang berarti proses kegiatan belajar mengajar lebih berhasil dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa khususnya pada siswa kelas VII-3 di SMP Negeri 1 Empang, oleh karena itu diharapkan kepada para guru SMP dapat melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning di kelas VII. Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) siswa dikatakan tuntas apabila siswa telah mencapai nilai standar ideal 75 mencapai 85 %. Sedangkan pada penilitian ini, pencapai nilai 75 pada ( siklus 3 ) mencapai melebihi target yang ditetapkan dalam KTSP yaitu mencapai 100 %. Dengan demikian maka hipotesis yang diajukan dapat diterima.

PENUTUP A. Simpulan Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang

telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Pembelajaran dengan metode Problem Based Learning dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas VII-3 di SMP Negeri 1 Empang mata pelajaran PKn yang ditandai dengan peningkatan hasil belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu; 57,31% ; 67,59 % ; 77,95%. 2. Penerapan metode Problem Based Learning pada pelajaran PKn mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. 3. Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan kembali materi ajar yang telah diterima siswa selama ini, sehingga mereka merasa siap untuk menghadapi pelajaran berikutnya. B. Saran Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka disampaikan saran sebagai berikut : 1. Untuk melaksanakan pembelajaran memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan pemberian model pembelajaran Problem Based Learning agar diperoleh hasil yang optimal. 2. Dalam rangka meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan kegiatan penemuan, walau dalam taraf yang sederhana, di mana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa

berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. 3. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya dilakukan di SMP Negeri 1 Empang tahun pelajaran 20112012. DAFTAR PUSTAKA Arikunto.Suharsimi.2007. Penelitian Tindakan Kelas.Jakarta : Rine Cipta. Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Depdiknas RI,2004.Undang Undang No 20 tentang sistem pendidikan nasional ( SISDIKNAS ) Jakarta : Depdiknas. ___________. 2006. Kurikulum 2006. Jakarta : Depdiknas Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Dimyati, dan Mudjiono. 1994. Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta : Proyek Pembinaan dan Peningkatan Mutu Tenaga Kependidikan Depdikbud. Hamalik, Oemar. 2005. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : PT Bumi Aksara. Kanginan, Marthen. 2004. Sains Fisika SMP untuk kelas VII semester 2. Jakarta:Erlangga. Mulyasa.2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep; Karakteristik dan Implementasi. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya. Nasution S., 2001. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Bina Aksara. Jakarta. Slameto.1995, "Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mepengaruhinya", Jakarta: PT. Rineka Cipta.

17

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DENGAN MENGGUNAKAN METODE COOPERATIVE SCRIPT KELAS VII-3 SMP NEGERI 1 EMPANG TAHUN PELAJARAN 2013-2014 Oleh: SITI ATIKA PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Dalam proses belajar mengajar, hal yang paling berperan adalah cara guru mengajar atau menyampaikan pelajaran yang bertujuan untuk menarik perhatian siswa. Dalam hal ini metode yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan dan juga alat peraga yang digunakan akan mempermudah siswa untuk memahami materi. Metode yang akan digunakan dapat memberikan kesan agar siswa lebih menyenangi pelajaran Pendidikan Agama Islam . Meskipun pelajaran Pendidikan Agama Islam jam pelajarannya lebih sedikit dibanding dengan mata pelajaran yang lain, tetapi materi yang diajarkannya cukup padat, dan umumnya banyak siswa yang beranggapan bahwa pelajaran Pendidikan Agama Islam itu membosankan. Hal ini menyebabkan siswa kurang memperhatikan dan kurang termotivasi untuk mempelajari Pendidikan Agama Islam lebih dalam. Kesulitan maupun kegagalan yang dialami siswa tidak hanya bersumber dari kemampuan siswa yang kurang tetapi ada faktor lain yang turut menentukan keberhasilan siswa dalam belajar Pendidikan Agama Islam yaitu faktor dari luar diri siswa, salah satunya adalah kurangnya perhatian siswa saat guru menerangkan, metode yang digunakan guru juga kurang menarik. Metode pembelajaran yang kurang efektif dan efisien, menyebabkan tidak seimbangnya kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik, misalnya pembelajaran yang monoton dari waktu kewaktu, guru yang bersifat otoriter dan kurang bersahabat dengan siswa sehingga siswa merasa bosan dan kurang minat belajar.
18

Untuk mengatasi hal tersebut maka guru sebagai tenaga pengajar dan pendidik harus selalu meningkatkan kualitas profesionalismenya yaitu dengan cara memberikan kesempatan belajar kepada siswa dengan melibatkan siswa secara efektif dalam proses belajar mengajar. Kesalahan menggunakan metode dapat menghambat tercapainya tujuan pendidikan yang diinginkan. Dampak yang lain adalah rendahnya motivasi dan minat belajar siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Faktor lain yang menunjang keberhasilan belajar siswa adalah minat siswa untuk belajar dan berusaha. Hal ini berarti kesempatan belajar makin banyak dan optimal jika siswa tersebut menunjukkan keseriuasannya dalam mempelajari Pendidikan Agama Islam sehingga dapat membangkitkan minat dan motivasi untuk belajar. Siswa yang telah termotivasi dalam belajar Pendidikan Agama Islam, ia akan lebih bersemangat dalam mempelajarinya sehingga menimbulkan minat belajarnya. Siswa mempunyai minat belajar yang tinggi akan selalu berusaha mencari, menggali dan mengembangkan potensi dasar (bakatnya), sehingga dapat menumbuhkan rasa percaya diri. Adapun metode pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang umumnya digunakan oleh guru Pendidikan Agama Islam pada saat ini adalah metode konvensional yang mengandalkan ceramah dan alat bantu utamanya adalah papan tulis. Sehingga metode konvensional yang digunakan pada saat mengajar menitik beratkan pada keaktifan guru, sedangkan siswa cenderung pasif. Salah satu metode pembelajaran yang digunakan untuk

mengantisipasi kelemahan metode konvensional adalah pembelajaran dengan menggunakan metode cooperative Script. Tujuan Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui sebagai berikut : 1. Peningkatan aktivitas dan hasil belajar Pendidikan Agama Islam dengan menggunakan metode cooperative script kelas VII-3 SMP Negeri 1 Empang tahun pelajaran 2013-2014. 2. Efektivitas metode cooperative Script dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Pendidikan Agama Islam kelas VII-3 SMP Negeri 1 Empang Tahun pelajaran 2013-2014. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini dapat memberikan sumbangan terhadap pembelajar Pendidikan Agama Islam terutama pada peningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa melalui metode cooperative Script. 2. Manfaat Praktis Secara praktis penelitian ini memberikan masukan a. Bagi Guru Dapat digunakan sebagai masukan untuk menyelenggarakan pembelajaran aktif b. Bagi Siswa Meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa c. Bagi Sekolah 1) Sebagai usaha dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam . 2) Sebagai informasi bagi semua tenaga pengajar mengenai model pembelajaran Pendidikan Agama Islam .

KAJIAN TEORI A. Aktivitas Belajar Siswa Kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa merupakan reaksi atas pelaksanaan interaksi berdasarkan metode cooperative scriptyang telah dipilih oleh guru dalam proses belajar mengajar. Reaksi yang dilakukan oleh siswa sebagai bentuk aktifitas belajar yang dilaksanakan oleh siswa. Aktifitas belajar sebagai bentuk reaksi yang dilakukan oleh siswa dalam kegiatan belajar mengajar dapat berupa: 1. Kehadiran. 2. Perhatian. 3. Semangat. 4. Persiapan. 5. Pertanyaan-pertanyaan, yaitu penyampaian pertanyaanpertanyaan dari siswa terhadap bahan ajar yang kurang jelas maupun yang belum diketahui. 6. Tanggapan. 7. Penyelesaian tugas-tugas. Aktifitas belajar yang dilakukan oleh siswa sangat dipengaruhi oleh kondisi perbuatan belajar. Menurut Robert M. Gagne (dalam Soetomo, 1993: 135) disebutkan bahwa kondisi perbuatan belajar dibagi menjadi dua, yaitu kondisi belajar intern dan kondisi belajar ekstern. 1. Kondisi Belajar Intern Kondisi beljar intern merupakan kegiatan belajar yang berasal dari dalam diri siswa. Ada beberapa aspek yang dapat dilihat dalam belajar intern, yaitu : a. Kematangan belajar, yaitu adanya proses pertumbuhan yang dapat menimbulkan perubahan-perubahan yang disempurnakan oleh proses belajar. b. Belajar untuk belajar, yaitu proses belajar yang dilakukan dengan belajar melakukan sesuatu atau berlatih.
19

c. Kemampuan belajar, yaitu adanya potensi yang dimiliki oleh siswa sehingga sanggup untuk menyelesaikan tugastugas yang diberikan. 2. Kondisi Belajar Ekstern Proses belajar ekstern merupakan unsur yang mempengaruhi perbuatan belajar yang berada di luar diri seseorang yang belajar. Kondisi belajar ekstern dapat dibagi dalam beberapa bagian, antara lain: a. Adanya latihan. b. Penguatan (reinforcement), yaitu dengan memberikan penghargaan. c. Guru membangun hubungan dengan murid, yaitu dengan jalan menciptakan suasana akrab dengan murid. d. Menggairahkan perhatian. e. Penjelasan yang relevan. B. Hasil Belajar Siswa 1. Pengertian Belajar Hasil belajar tidak dapat dipisahkan dari perbuatan belajar, karena belajar merupakan suatu proses, sedangkan hasil belajar adalah hasil dari proses pembelajaran tersebut (Slameto, 2003: 45). Menurut Logan, dkk (dalam Sujana, 1998) belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan latihan. Senada dengan hal tersebut, Winkel (1997: 231) berpendapat bahwa: belajar pada manusia dapat dirumuskan sebagai suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat relatif konstan dan berbekas. Sudjana (1998) berpendapat bahwa: belajar merupakan proses perubahan dari belum mampu menjadi
20

sudah mampu dan terjadi dalam jangka waktu tertentu Menurut Sardiman(2006: 56) belajar adalah: usaha atau kegiatan yang bertujuan mengadakan perubahan di dalam diri seseorang, mencakup perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan, keterampilan dan sebagainya. Belajar dapat dikatakan berhasil jika terjadi perubahan dalam diri siswa, namun tidak semua perubahan perilaku dapat dikatakan belajar karena perubahan tingkah laku akibat belajar memiliki ciri-ciri perwujudan yang khas (Sudjana, 2005: 198) antara lain : a. Perubahan Intensional Pada ciri ini siswa menyadari bahwa ada perubahan dalam dirinya, seperti penambahan pengetahuan, kebiasaan dan keterampilan. b. Perubahan Positif dan aktif Positif berarti perubahan tersebut baik dan bermanfaat bagi kehidupan serta sesuai dengan harapan karena memperoleh sesuatu yang baru, yang lebih baik dari sebelumnya. Sedangkan aktif artinya perubahan tersebut terjadi karena adanya usaha dari siswa yang bersangkutan. c. Perubahan efektif dan fungsional Perubahan dikatakan efektif apabila membawa pengaruh dan manfaat tertentu bagi siswa. Sedangkan perubahan yang fungsional artinya perubahan dalam diri siswa tersebut relatif menetap dan apabila dibutuhkan perubahan tersebut dapat direproduksi dan dimanfaatkan lagi. Berdasarkan dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan siswa untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, secara sengaja, disadari dan perubahan

tersebut relatif menetap serta membawa pengaruh dan manfaat yang positif bagi siswa dalam berinteraksi dengan lingkungannya. 2. Pengertian Hasil Belajar Siswa Menurut Chaplin, pengertian hasil belajar adalah : Hasil belajar merupakan suatu tingkatan khusus yang diperoleh sebagai hasil dari kecakapan kepandaian, keahlian dan kemampuan di dalam karya akademik yang dinilai oleh guru atau melalui tes prestasi (1992: 159). Pendapat Chaplin di atas mengandung pengertian bahwa prestasi itu hakikatnya berupa perubahan perilaku pada individu di sekolah, perubahan itu terjadi setelah individu yang bersangkutan mengalami proses belajar mengajar tertentu. Dari hasil evaluasi ini akan dapat diketahui hasil belajar siswa yang biasanya dinyatakan dalam bentuk nilai atau angka. Dengan demikian hasil belajar merupakan suatu nilai yang menunjukkan hasil belajar dari aktifitas yang berlangsung dalam interaksi aktif sebagai perubahan dalam pengetahuan, pemahaman keterampilan dan nilai sikap menurut kemampuan anak dalam perubahan baru. Dalam proses belajar mengajar anak didik merupakan masalah utama karena anak didiklah yang diharapkan dapat menyerap seluruh materi pelajaran yang diprogramkan didalam kurikulum. C. Hakekat Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP 1. Pengertian Pendidikan Agama Islam Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, mengimani, bertakwa, berakhlak mulia, mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al Quran dan hadits, melalui
21

kegiatan bimbingan, pengajaran latihan, serta penggunaan pengalaman.(Ramayulis 2005: 21). 2. Fungsi Pendidikan Agama Islam Pendidikan agama Islam di SMP berfungsi sebagai berikut: a) Pengembanan. b) Penyaluran. c) Perbaikan. d) Pencegahan. e) Penyesuaian. f) Sumber lain. 3. Tujuan Pendidikan Agama Islam Pendidikan agama Islam bertujuan meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT seta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat berbangsa dan bernegara serta untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. 4. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam Ruang lingkup pendidikan agama Islam meliputi keserasian, keselarasan dan keseimbangan antara: a) Hubungan manusia dengan Allah SWT. b) Hubungan manusia dengan sesama manusia. c) Hubungan manusia dengan dirinya sendiri. d) Hubungan manusia dengan makhluk lain dan lingkungannya. Adapun ruang lingkup bahan pelajaran pendidikan agama Islam meliputi lima unsur pokok: a) Al Quran b) Ibadah c) Aqidah d) Akhlak e) Syariah f) Tarikh

D. Metode Cooperative Script Metode cooperative script adalah metode belajar di mana siswa berkerja berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan, bagian-bagian dari materi yang dipelejari. Langkahlangkah dalam pembelajaran metode cooperative script ini adalah sebagai berikut : 1. Guru membagi siswa untuk berpasangan 2. Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan 3. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar. 4. Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. 5. Sementera pendengar : (1) menyimak/mengoreksi, menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap,(2) membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan memghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya. 6. Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. 7. Membuat kesimpulan siswa bersama-sama dengan guru 8. Penutup. METODE PENELITIAN 1. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII-3 SMP Negeri 1 Empang. 2. Setting Penelitian a. PTK dilakukan pada SMP Negeri 1 Empang tahun Pelajaran 20132014. b. PTK dilakukan pada siswa kelas VII-3 dengan jumlah 27 orang ( P = 15 orang ; dan L = 12 orang )

3. Rancangan Penelitian a. Tindakan dilaksanakan dalam 3 siklus b. Kegiatan dilaksanakan dalam semester ganjil tahun pelajaran 2013-2014. c. Lama penelitian 6 pekan efektif dilaksanakan mulai tanggal 12 Agustus 2013 sampai dengan 16 September 2013 d. Dalam pelaksanaan tindakan, rancangan dilakukan dalam 3 siklus yang meliputi ; (a) perencanaan, (2) tindakan, (3) pengamatan, (4) refleksi. 4. Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini terdiri dari; Variabel Peningkatan aktivitas dan Harapan: hasil belajar siswa pada pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas VII-3 Variabel Penerapan metode Tindakan: cooperative script. Adapun indikator yang diteliti dalam variabel harapan terdiri dari : 1. Kemampuan siswa dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam 2. Kemampuan siswa dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Pendidikan Agama Islam melalui penerapan metode cooperative script. 3. Keefektifan pembelajaran melalui metode cooperative script. Sedangkan variabel tindakan memiliki indikator sebagai berikut : 1. Tingkat kualitas perencanaan 2. Kualitas perangkat observasi 3. Kualitas operasional tindakan 4. Kesesuaian perencanaan dengan tindakan kelas 5. Kesesuaian teknik yang digunakan meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. 6. Tingkat efektifitas pelaksanaan metode cooperative script.

22

7. Kemampuan siswa dan guru dalam menerapkan metode cooperative script. 5. Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data a. Sumber Data : Sumber data dalam penelitian ini berasal dari dua sumber yaitu : 1 Siswa: Diperoleh data tentang peningkatan motivasi dan hasil belajar Pendidikan Agama Islam kelas VII-3 2 Guru : Diperoleh data tentang efektivitas penerapan metode cooperative script. b. Teknik Pengumpulan Data: Dalam Pengumpulan data menggunakan Observasi dan Tes. 6. Indikator Keberhasilan Penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam tiga siklus dianggap sudah berhasil apabila terjadi peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa apabila 85 % siswa kelas VII-3 (kelas yang diteliti) telah mencapai ketuntasan dengan standar ideal 75. Jika peningkatan tersebut dapat dicapai pada tahap siklus 1 dan 2, maka siklus selanjutnya tidak akan dilaksanakan karena tindakan kelas yang dilakukan sudah dinilai efektif sesuai dengan harapan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan ( KTSP ). 7. Teknik Analisis Data Dalam analisis data teknik yang digunakan adalah ; a. Kuantitatif Analisis ini digunakan untuk menghitung besarnya peningkatan hasil belajar Pendidikan Agama Islam siswa dengan menerapkan metode cooperative script dengan menggunakan prosentase ( % ). b. Kualitatif Teknik analisis ini digunakan untuk memberikan
23

gambaran hasil penelitian secara ; reduksi data, sajian deskriptif, dan penarikan simpulan. 8. Jadwal Pelaksanaan Penelitian Jadwal kegiatan Penelitian dilaksanakan mulai tanggal tanggal 12 Agustus 2013 16 September 2013 ( 6 Minggu efektif ). HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Paparan Data dan Temuan Penelitian 1. Perencanaan Tindakan Tindakan yang akan dilakukan oleh peneliti antara lain: a) Menyusun instrumen pembelajaran b) Menyusun Instrumen Monitoring c) Sosialisasi kepada siswa d) Melaksanakan tindakan dalam pembelajaran e) Melakukan refleksi f) Menyusun strategi pembelajaran pada siklus ke dua berdasar refleksi siklus pertama g) Melaksanakan pembelajaran pada siklus kedua h) Melakukan Observasi i) Melakukan refleksi pada siklus kedua j) Menyusun strategi pembelajaran pada siklus ketiga berdasar refleksi siklus kedua k) Melaksanakan pembelajaran pada siklus ketiga l) Melakukan Observasi m) Melakukan refleksi pada siklus ketiga n) Menyusun laporan 2. Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan Pelaksanaan tindakan dalam penelitian dilakukan 3 siklus yang terdiri dari enam kali pertemuan.

Waktu yang digunakan setiap kali pertemuan adalah 2 x 45 menit. Siklus pertama dilaksanakan pada tanggal 12 s.d 19 Agustus 2013 dan siklus kedua pada tanggal 26 Agustus s.d 02 September 2013, dan siklus ke tiga pada tanggal 09 s.d 16 September 2013. SIKLUS 1 1. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, LKS 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi pengolaan pembelajaran. 2. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 12 s.d 19 Agustus 2013 di SMP Negeri 1 Empang tahun pelajaran 2013-2014 dengan jumlah siswa 27 orang. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksaaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Dari hasil tes formatif yang telah dilakukan diperoleh nilai rata-rata siswa adalah 58,52 %. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai 65 hanya sebesar 44,44% atau baru ada 12 siswa dari 27 siswa yang tuntas, hasil ini tentu lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85 %. Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan menggunakan metode cooperative script.
24

3. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut: a. Guru kurang baik dalam memotivasi siswa dan dalam menyampaikan tujuan pembelajaran b. Guru kurang baik dalam pengelolaan waktu c. Siswa kurang begitu antusias selama pembelajaran berlangsung. 4. Revisi Rancangan a. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada siklus I ini masih terdapat kekurangan, sehingga perlu adanya revisi untuk dilakukan pada siklus berikutnya. b. Guru perlu lebih terampil dalam memotivasi siswa dan lebih jelas dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Di mana siswa diajak untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan. c. Guru perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan menambahkan informasi-informasi yang dirasa perlu dan memberi catatan d. Guru harus lebih terampil dan bersemangat dalam memotivasi siswa sehingga siswa bisa lebih antusias. SIKLUS II 1. Tahap perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2, soal tes formatif II dan alat-alat pengajaran yang mendukung. 2. Tahap kegiatan dan pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 26 Agustus s.d 02 September 2013 di SMP Negeri 1 Empang tahun pelajaran 2013-2014. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana

pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif II. Adapun nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 68,11 % dan peningkatan ketuntasan mencapai 77,78% atau ada 21 siswa dari 27 siswa sudah tuntas belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami peningkatan cukup lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil belajar siswa ini karena setelah guru menginformasikan bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar. Selain itu siswa juga sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan diinginkan guru dalam menerapkan metode cooperative script. 3. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut : 1) Memotivasi siswa 2) Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep 3) Pengelolaan waktu 4. Revisi Pelaksanaaan Pelaksanaan kegiatan belajar pada siklus II ini masih terdapat kekurangan-kekurangan. Maka perlu adanya revisi untuk dilaksanakan pada siklus III antara lain: 1) Guru dalam memotivasi siswa hendaknya dapat membuat siswa lebih termotivasi selama proses belajar mengajar berlangsung.
25

2) Guru harus lebih dekat dengan siswa sehingga tidak ada perasaan takut dalam diri siswa baik untuk mengemukakan pendapat atau bertanya. 3) Guru harus lebih sabar dalam membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep. 4) Guru harus mendistribusikan waktu secara baik sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. 5) Guru sebaiknya menambah lebih banyak contoh soal dan memberi soal-soal latihan pada siswa untuk dikerjakan pada setiap kegiatan belajar mengajar. SIKLUS III 1. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. 2. Tahap kegiatan dan pengamatan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus III dilaksanakan pada tanggal 09 s.d 16 September 2013 di SMP Negeri 1 Empang tahun pelajaran 2013-2014 dengan jumlah siswa 27 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif III. Adapun nilai rata-rata tes formatif sebesar 82,22 % dan dari 27 siswa secara keseluruhan sudah

mencapai ketuntasan dalam meningkatkan hasil belajarnya. Maka secara klasikal ketuntasan telah mencapai 100 % ( termasuk kategori tuntas ). Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan metode cooperative script, sehingga siswa menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam memahami materi yang telah diberikan. Di samping itu ketuntasan ini juga dipengaruhi oleh kerja sama dari siswa yang telah menguasai materi pelajaran untuk mengajari temannya yang belum menguasai. 3. Refleksi Pada tahap ini akan dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan metode cooperative script. Dari data-data yang telah diperoleh dapat diuraikan sebagai berikut: a. Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masingmasing aspek cukup besar. b. Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung. c. Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik. d. Hasil belajar siswa pada siklus III mencapai ketuntasan. 4. Revisi Pelaksanaan Pada siklus III guru telah menerapkan metode cooperative script dengan baik, dan dilihat dari aktivitas siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar
26

sudah berjalan dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan metode cooperative script, dapat meningkatkan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. B. ANALISIS HASIL KEGIATAN Analisis Data Deskriptif Kuantitatif 1. Pencapaian hasil belajar Pendidikan Agama Islam Kelas VII-3 sebelum diberi tindakan 1580x 100% = 58,52% 2700 2. Pencapaian hasil belajar Pendidikan Agama Islam Kelas VII-3 setelah diberi tindakan pengelompokan siswa berdasarkan nomor panggilan (acak berdasarkan tempat duduk ) 1839 x 100% = 68,11 % 2700 3. Pencapaian hasil belajar Pendidikan Agama Islam kelas VII-3 setelah diberi tindakan pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan akademik 2220x 100% = 82,22 % 2700 Dari hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa 1. Terjadi peningkatan prestasi setelah diberi tindakan yaitu 58,52% menjadi 68,11% ada kenaikan sebesar = 9,59 %. 2. Dari sebelum tindakan ( siklus 1 ) dan setelah tindakan sampai dengan ( siklus 3 ) 57,71 % menjadi 68,11 %, dan dari ( siklus 2 ) ke ( siklus 3 ) juga ada peningkatan sebanyak 82,22 % - 68,11 % = 14,11 %. 3. Ketuntasan siswa sebelum diberi tindakan dari 44,44 % pada siklus I,

77,78% pada siklus II, dan siklus III menjadi 100 %. Refleksi dan Temuan Berdasarkan pelaksanaan tindakan maka hasil observasi nilai, hasil dapat dikatakan sebagai berikut : 1. Siklus pertama kegiatan belajarmengajar dengan menerapkan metode cooperative script belum berhasil karena dalam pembelajaran masih terlihat siswa yang bermain, bercerita, dan mengganggu siswa lain; 2. Pembelajaran dengan menerapkan metode cooperative script dalam hal peningkatan aktivitas dan hasil belajar belum tampak, sehingga hasil yang dicapai tidak tuntas. 3. Mungkin karena proses belajar mengajar yang dilakukan adalah pembelajaran dengan metode cooperative script yang baru mereka laksanakan sehingga siswa merasa kaku dalam menerapkannya. 4. Akan tetapi setelah dijelaskan, mereka bisa mengerti dan buktinya pada siklus kedua dan ketiga proses kegiatan belajar - mengajar berjalan baik, semua siswa aktif dan lebih-lebih setelah ada rubrik penilaian proses, seluruh siswa langsung aktif belajar. C. Pembahasan Hasil Penelitian 1. Ketuntasan Hasil belajar Siswa Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode cooperative script memiliki dampak positif dalam meningkatkan hasil belajar siswa, hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru (hasil belajar meningkat dari siklus I, II, dan III ) yaitu; 58,52% ; 68,11% ; 82,22%. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai. 2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran

Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dengan metode cooperative script dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap motivasi belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai ratarata siswa pada setiap siklus. 3. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan menerapkan metode cooperative script yang paling dominan adalah bekerja dengan menggunakan alat/media, mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif. Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah metode cooperative script dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul diantaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan kegiatan pembelajaran, menjelaskan, memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab di mana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar. Dari analisis data di atas bahwa pembelajaran dengan metode cooperative script dapat diterapkan pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam kelas VII-3, yang berarti proses kegiatan belajar mengajar lebih berhasil dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada siswa kelas VII-3 di SMP Negeri 1 Empang, oleh karena itu diharapkan kepada para guru SMP dapat melaksanakan
27

pembelajaran dengan menggunakan metode cooperative script di kelas VII. Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) siswa dikatakan tuntas apabila siswa telah mencapai nilai standar ideal 75 mencapai 85 %. Sedangkan pada penilitian ini, pencapai nilai 75 pada ( siklus 3 ) mencapai melebihi target yang ditetapkan dalam KTSP yaitu mencapai 100 %. Dengan demikian maka hipotesis yang diajukan dapat diterima. PENUTUP A. Simpulan Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Pembelajaran dengan metode cooperative script dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VII-3 di SMP Negeri 1 Empang mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang ditandai dengan peningkatan hasil belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu; 58,52% ; 68,11 % ; 82,22%. 2. Penerapan metode cooperative script pada pelajaran Pendidikan Agama Islam mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. 3. Penerapan metode cooperative script dapat meningkatkan kembali materi ajar yang telah diterima siswa selama ini, sehingga mereka merasa siap untuk menghadapi pelajaran berikutnya. B. Saran Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang

optimal bagi siswa, maka disampaikan saran sebagai berikut : 1. Untuk melaksanakan pembelajaran memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan pemberian metode cooperative script agar diperoleh hasil yang optimal. 2. Dalam rangka meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan kegiatan penemuan, walau dalam taraf yang sederhana, di mana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. 3. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya dilakukan di SMP Negeri 1 Empang tahun pelajaran 20132014. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Yogyakarta: Rineka Cipta. ________________.2007. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung : Remaja Rosdakarya Dimyati dan Mudjiono, 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. _____________________.(1994). Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Usaha Nasional: Surabaya Nur,Muhammad,1977.Proses penyusunan instrumen.Bandung : Pascasarjana IKIP Bandung ( tidak dipublikasikan. _____________,1980.Proses penyusunan instrumen.Bandung:Pascasarjana IKIP Bandung ( tidak dipupublikasikan).

28

_____________,1996.Pola pendidikan dan sosok tenaga pendidikan yang sesuai dengan tantangan dan tuntutan kehidupan tahun 2020.Makalah yang disampaikan pada konvensi pendidikan Indoensia III di Ujung Pandang 4-7 maret 1996. Sardiman, AM. 2006. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Suyatno.2009. Menjelajah pembelajaran Inovatif.Sidoarjo : Masmedia Buana Pustaka. Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif berorientasi Konstruktif. Jakarta : Prestasi Pustaka.

29

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MENERAPKAN MODEL KONSIDERASI TERINTEGRASI MELALUI BIMBINGAN DAN KONSELING DI KELAS IX-2 SMP NEGERI 1 MOYO HILIR TAHUN PELAJARAN 2013-2014 Oleh; SUDIRMAN PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, anak kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran di dalam kelas diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi. Otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya anak didik kitu lulus dari sekolah, mereka pintar secara teoritis, akan tetapi mereka miskin aplikasi. Dalam implementasi standar proses pendidikan, guru merupakan komponen yang sangat penting, sebab keberhasilan pelaksanaan proses pendidikan sangat tergantung pada guru sebagai ujung tombak. Oleh karena itulah upaya peningkatan kualitas pendidikan seharusnya dimulai dari pembenahan kemampuan guru. Salah satu kemampuan yang harus dimiliki guru adalah bagaimana merancang suatu strategi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan atau kompetensi yang akan dicapai, karena kita yakin tidak semua tujuan bisa dicapai oleh hanya satu strategi tertentu. Salah satu strategi yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran adalah strategi model konsiderasi ( the consideration model ) yang dikembangkan oleh Mc.Paul, seorang humanis. Dalam strategi ini diintegrasikan dengan pemberian bimbingan dan konseling. Model ini menekankan kaepada strategi
30

pembelajaran yang dapat membentuk kepribadian. Tujuannya adalah memiliki kepedulian kepada orang lain, saling memberi dan menerima, sehingga dengan adanya kepedulian sesama maka tentunya kesulitas yang dihadapi terutama dalam proses pembelajaran dapat diatasi, sehingga hasil belajar tentunya akan meningkat. Model strategi ini yang diintegrasikan dengan bimbingan dan konseling perlu dilakukan karena kenyataan yang dihadapi saat ini oleh siswa di SMP Negeri 1 Moyo Hilir prestasi belajarnya masih rendah, dibandingkan dengan siswa dari sekolah lain. Dari hasil ujian yang dicapai oleh siswa setiap akhir semester tidak pernah secara keseluruhan mencapai ketuntasan, selalu berada dibawah 75 %, sementara menurut Diknas (2001) secara klasikal siswa dikatakan tuntas belajar bila ketuntasan telah mencapai 85% ke atas. Tujuan Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui sebagai berikut : 1. Peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dengan menerapkan model konsiderasi terintegrasi melalui bimbingan dan konseling di kelas IX-2 SMP Negeri 1 Moyo Hilir Tahun Pelajaran 2013-2014? 2. Efektivitas pemberian layanan bimbingan dan konseling dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dengan menerapkan konsiderasi terintegrasi kelas IX-2 SMP Negeri 1 Moyo Hilir tahun pelajaran 2013-2014.

Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagi Siswa a. Agar siswa dapat meningkatkan prestasi siswa dalam belajar. b. Sebagai sumbangan pemikiran dan diharapkan mampu memberikan ruangan dan wahana baru bagi siswa dengan adanya konsep dan teori untuk menghadapi pendidikan di masa yang akan datang. 2. Bagi Guru a. Untuk memperluas dan menambahkan wawasan serta kreativitas berpikir dalam mengembangkan potensinya sebagai pendidik. b. membantu dan mempermudah para guru dalam menyampaikan materi pelajaran melalui model konsiderasi terintegrasi dengan bimbingan dan konseling. c. Agar dapat menambah literatur guru dalam penggunaan metode, media dan strategi pembelajaran. 3. Bagi Sekolah a. Dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi sekolah dalam upaya meningkatkan kreativitas siswa. b. Sebagai informasi atau bahan pertimbangan lembaga dalam membuat dan menetapkan kebijakan dalam kegiatan pembelajaran. 4. Bagi Peneliti a. Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan peneliti dalam menerapkan ilmu dan teori yang didapat terutama yang berkaitan dengan model konsiderasi terintegrasi dengan bimbingan dan konseling. b. Untuk bahan kajian dalam mengadakan koreksi diri, sekaligus usaha untuk memperbaiki kualitas diri sebagai peneliti (guru) yang professional dalam upaya untuk meningkatkan mutu, proses dan
31

hasil belajar siswa sehingga mencapai hasil yang maksimal. KAJIAN TEORI A. Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa 1. Aktivitas Belajar Siswa Aktifitas belajar sebagai bentuk reaksi yang dilakukan oleh siswa dalam kegiatan belajar mengajar dapat berupa: a. Kehadiran b. Perhatian c. Semangat d. Persiapan e. Pertanyaan-pertanyaan f. Tanggapan g. Penyelesaian tugas-tugas Aktifitas belajar yang dilakukan oleh siswa sangat dipengaruhi oleh kondisi perbuatan belajar. Menurut Robert M. Gagne (dalam Soetomo, 1993: 135) disebutkan bahwa kondisi perbuatan belajar dibagi menjadi dua, yaitu kondisi belajar intern dan kondisi belajar ekstern. 2. Kondisi Belajar Intern Ada beberapa aspek yang dapat dilihat dalam belajar intern, yaitu : a. Kematangan belajar. b. Belajar untuk belajar, yaitu proses belajar yang dilakukan dengan belajar melakukan sesuatu atau berlatih. c. Kemampuan belajar. 3. Kondisi Belajar Ekstern Kondisi belajar ekstern dapat dibagi dalam beberapa bagian, antara lain: a. Adanya latihan. b. Penguatan (reinforcement). c. Guru membangun hubungan dengan murid. d. Menggairahkan perhatian. e. Penjelasan yang relevan.

4. Hasil Belajar Siswa a. Pengertian Belajar Hasil belajar tidak dapat dipisahkan dari perbuatan belajar, karena belajar merupakan suatu proses, sedangkan hasil belajar adalah hasil dari proses pembelajaran tersebut (Slameto, 2003: 45). Menurut Logan, dkk (dalam Sujana, 1998) belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan latihan. Senada dengan hal tersebut, Winkel (1997: 231) berpendapat bahwa: belajar pada manusia dapat dirumuskan sebagai suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahanperubahan dalam pengetahuan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat relatif konstan dan berbekas. Belajar dapat dikatakan berhasil jika terjadi perubahan dalam diri siswa, namun tidak semua perubahan perilaku dapat dikatakan belajar karena perubahan tingkah laku akibat belajar memiliki ciri-ciri perwujudan yang khas (Sudjana, 2005: 198) antara lain : d. Perubahan Intensional Perubahan karena pengalaman atau praktek yang dilakukan secara sengaja dan disadari. e. Perubahan Positif dan aktif f. Perubahan efektif dan fungsional Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan siswa untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, secara sengaja, disadari dan perubahan tersebut relatif menetap serta membawa pengaruh dan manfaat yang positif
32

bagi siswa dalam berinteraksi dengan lingkungannya. b. Pengertian Hasil Belajar Siswa Menurut Chaplin, Hasil belajar merupakan suatu tingkatan khusus yang diperoleh sebagai hasil dari kecakapan kepandaian, keahlian dan kemampuan di dalam karya akademik yang dinilai oleh guru atau melalui tes prestasi (1992: 159). Hasil belajar seperti yang dijelaskan oleh Poerwadarminta (1993: 768) adalah hasil yang telah dicapai (dilakukan). Pengertian hasil belajar menurut pendapat Mochtar Buchari (1986: 94) adalah hasil yang dicapai atau ditonjolkan oleh anak sebagai hasil belajarnya dalam periode tertentu. Nasution (1972: 45) berpendapat bahwa hasil belajar adalah kemampuan anak didik berdasarkan hasil dari pengalaman atau pelajaran setelah mengikuti program belajar secara periodik. Dengan selesainya proses belajar mengajar pada umumnya dilanjutkan dengan adanya suatu evaluasi. Dimana evaluasi ini mengandung maksud untuk mengetahui kemajuan belajar atau penguasaan siswa atau terhadap materi yang diberikan oleh guru. Dari hasil evaluasi ini akan dapat diketahui hasil belajar siswa yang biasanya dinyatakan dalam bentuk nilai atau angka. Dengan demikian hasil belajar merupakan suatu nilai yang menunjukkan hasil belajar dari aktifitas yang berlangsung dalam interaksi aktif sebagai perubahan dalam pengetahuan, pemahaman keterampilan dan nilai sikap menurut kemampuan anak dalam perubahan baru.

B. Model Konsiderasi Model konsiderasi (the consideration model) dikembangkan oleh MC Paul, seorang humanis. Paul menganggap bahwa pembentukan moral tidak sama dengan pengembangan kognitif yang rasional. Pembelajaran moral siswa menurutnya adalah pembentukan kepribadian bukan pengembangan intelektual. Oleh karena itu, model ini menekankan kepada strategi pembelajaran yang dapat membentuk kepribadian. Tujuannya adalah agar siswa menjadi manusia yang memiliki kepedulian terhadap orang lain. Implementasi model konsiderasi guru dapat mengikuti tahapan pembelajaran yang dikemukakan oleh Wina Sanjaya (2006; 280 ) seperti di bawah ini : 1. Menghadapkan siswa pada suatu masalah yang mengandung konflik. 2. Menyuruh siswa untuk menganalisis situasi masalah. 3. Menyuruh siswa untuk menuliskan tanggapannya terhadap permasalahan yang dihadapi. 4. Mengajak siswa untuk menganalisis respons orang lain. 5. Mendorong siswa untuk merumuskan akibat atau konsekuensi dari setiap tindakan yang diusulkan siswa. 6. Mengajak siswa untuk memandang permasalahan dari berbagai sudut pandang. 7. Mendorong siswa agar merumuskan sendiri tindakan yang harus dilakukan. C. Bimbingan dan Konseling 1. Pengertian Bimbingan dan Konseling Menurut Crow and Crow dalam Bimo Walgito, ( 2004 ) memberikan pengertian bimbingan sebagai berikut :
33

Reather guidance is aassistance made avallable by competent counselors to an individual of any age to help him direnct his own life, develop his own decicion and carry his burdons . Dari pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sekalipun bimbingan merupakan pertolongan, namun tidak semua pertolongan dapat disebut sebagai suatu bimbingan. Orang dapat memberikan pertolongan kepada orang yang jatuh agar bangkit, tetapi ini bukan merupakan bimbingan. Bimbingan dapat diberikan secara individual dan juga dapat secara kelompok. Bimbingan dapat diberikan kepada siapa saja yang membutuhkan, tanpa memandang umur (of any age) sehingga baik anak maupun orang dewasa dapat menjadi obyek bimbingan. Bimbingan konseling juga terdapat beberapa macam pengertian seperti yang dikemukakan oleh ahli antra lain: Wrenn dalam Bimo Walgito, (2004 ) sebagai berikut : Conseling is personal and dynamic relationship between two people who approacah a mutually defined probelm with mutual consideration for each other to the and that the younger, or less nature, or more trobled of the two is aided to a self determined resulution of his problem. Dari pengertian di atas tampak bahwa pengertian konseling terlihat adanya suatu masalah yang dialami konselor atau klien, yaitu orang yang mempunyai masalah dalam proses konseling. Konseling adalah bantuan yang diberikan pada

individu dalam memecahkan masalah kehidupannya dengan wawancara dan dengan cara yang sesuai dengan keadaan yang dihadapi individu untuk mencapai kesejahteraan hidupnya. 2. Pendekatan dalam Bimbingan dan Konseling Pendekatan yang dilakukan oleh seorang konselor adalah di samping dengan menggunakan cara kekeluargaan juga dengan pendekatan yang bersifat ilmiah, pendekatan yang scientific, karena berdasarkan atas hasil wawancara, hasil, penelitian prestasi belajar, hasil tes, dan sebagainya. Jadi pendekatannya berdasarkan atas halhal yang obyektif, tidak bersifat spekulatif, orang lain dapat mengeceknya, sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. 3. Prinsip Prinsip dalam Bimbingan dan Konseling di Sekolah Bimo Walgito ( 2004 ) mengemukakan prinsip prinsip bimbingan dan konseling di sekolah sebagai berikut : a. Tidak dapat terlepas dari dasar pendidikan pada umumnya dan pendidikan di sekolah pada khususnya. b. Tujuannya tidak dapat terlepas dari tujuan pendidikan nasional. c. Fungsinya ialah membantu pendidikan dan pengajaran. d. Diperuntukkan bagi semua individu baik anak-anak maupun orang dewasa. e. Bimbingan dan konseling dapat dilaksanakan dengan bermacam-macam sifat yaitu secara : (1) preventif, yaitu bimbingan dan konseling diberikan dengan tujuan untuk mencegah jangan sampai timbul kesulitan-kesulitan yang
34

f.

g.

h.

i.

j.

k.

l. m.

n.

o.

menimpa diri anak atau individu; (2) Korektif, yaitu memecahkan atau mengatasi kesulitankesulitan yang dihadapi oleh anak atau individu ; (3)preservatif, yaitu memelihara atau mempertahankan yang telah baik, jangan sampai menjadi keadaan yang tidak baik. Bimbingan dan konseling merupakan proses yang kontinue. Para guru perlu mempunyai pengetahuan mengenai bimbingan dan konseling. Individu yang dihadapi di samping mempunyai kesamaankesamaan, juga mempunyai perbedaan perbedaan. Tiaptiap aspek dari individu merupakan faktor penting yang menentukan sikap ataupun tingkah laku. Anak atau individu yang dihadapi adalah individu yang hidup dalam masyarakat. Anak atau individu yang dihadapi merupakan makhluk hidup, makhluk yang berkembang dan bersifat dinamis. Harus selalu diadakan evaluasi. Harus selalu mengikuti perkembangan situasi masyrakat dalam arti yang luas, yaitu perkembangan sosial, ekonomi, kebudayaan dan sebagainya. Harus selalu ingat untuk menuju kepada kesanggupan individu agar dapat membimbing diri sendiri. Harus dapat memegang teguh kode etik bimbingan dan konseling.

4. Fungsi Bimbingan dan Konseling Bimbingan dan konseling mempunyai beberapa fungsi, yaitu: a. Fungsi pemahaman individu b. Fungsi pencegahan dan pengembangan c. Fungsi membantu memperbaiki penyesuaian diri Beberapa ahli menyebutkan fungsi lain dari luar ketiga fungsi di atas yaitu fungsi distribusi dan adaptasi. Distribusi yang berarti penyebaran atau penyaluran sudah termasuk dalam fungsi pengembangan, sebab mengembangkan berarti memilih, menyalurkan, menempatkan dan memajukan. Fungsi adaptasi sudah tercakup dalam penyesuaian diri, sebab adaptasi berarti menyesuaikan diri dengan situasi fisik. Sedang menyesuaikan diri terkait di dalamnya bukan hanya dengan situasi fisik tapi juga psikis. 5. Kode Etik Bimbingan dan Konseling Beberapa kode etik dalam bimbingan dan konseling yang dikemukakan oleh Bimo Walgito (2004 ) diantaranya adalah sebagai berikut : a. Pembimbing atau pejabat lain yang memegang jabatan dalam bidang bimbingan dan konseling harus memegang teguh prinsipprinsip bimbingan dan konseling. b. Pembimbing harus berusaha semaksimal mungkin untuk dapat mencapai hasil yang sebaikbaiknya. c. Oleh karena pekerjaan pembimbing berhubungan langsung dengan kehidupan pribadi orang maka seseorang pembimbing harus :

(1) Dapat memegang dan menyimpan rahasia klien. (2) Menunjukkan sikap hormat kepada klien (3) Menghargai sama terhadap bermacammacam klien. d. Pembimbing tidak diperkenankan: (1) Menggunakan tenaga pembantu yang tidak ahli atau tidak terlatih. (2) Menggunakan alatalat yang kurang dapat dipertanggung jawabkan. (3) Mengambil tindakan tindakan yang mungkin akan menimbulkan halhal yang tidak baik bagi klien. (4) Mengalihkan klien kepada konselor lain tanpa persetujuan klien. (5) Meminta bantuan kepada ahli dalam bidang lain di luar kemampuannya ataupun di luar keahlian stafnya yang diperlukan dalam bimbingan dan konseling. e. Pembimbing haruslah selalu menyadari akan tanggungjawabnya yang berat yang memerlukan pengabdian sepenuhnya. METODE PENELITIAN 1. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IX-2 SMP Negeri 1 Moyo Hilir. 2. Setting Penelitian a. PTK dilakukan pada SMP Negeri 1 Moyo Hilir tahun Pelajaran 20132014. b. PTK dilakukan pada siswa kelas IX-2 dengan jumlah 28 orang ( P = 15 orang ; dan L = 13 orang ) 3. Rancangan Penelitian a. Tindakan dilaksanakan dalam 3 siklus
35

b. Kegiatan dilaksanakan dalam semester ganjil tahun pelajaran 2013-2014. c. Lama penelitian 6 pekan efektif dilaksanakan mulai tanggal 20 Agustus 2013 sampai dengan 24 September 2013 d. Dalam pelaksanaan tindakan, rancangan dilakukan dalam 3 siklus yang meliputi ; (a) perencanaan, (2) tindakan, (3) pengamatan, (4) refleksi. 4. Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini terdiri dari; Variabel Peningkatan aktivitas dan Harapan: hasil belajar siswa kelas IX2 Variabel Penerapan bimbingan dan Tindakan: konseling dengan model konsiderasi terintegrasi. Adapun indikator yang diteliti dalam variabel harapan terdiri dari : 1. Kemampuan siswa dalam proses pembelajaran 2. Kemampuan siswa dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar melalui penerapan bimbingan dan konseling dengan model konsiderasi terintegrasi. 3. Keefektifan bimbingan dan konseling dengan model konsiderasi terintegrasi. Sedangkan variabel tindakan memiliki indikator sebagai berikut : 1. Tingkat kualitas perencanaan 2. Kualitas perangkat observasi 3. Kualitas operasional tindakan 4. Kesesuaian perencanaan dengan tindakan kelas 5. Kesesuaian teknik yang digunakan meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. 6. Tingkat efektifitas pelaksanaan bimbingan dan konseling dengan model konsiderasi terintegrasi. 7. Kemampuan siswa dan guru dalam penerapan bimbingan dan
36

konseling dengan konsiderasi terintegrasi.

model

5. Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data a. Sumber Data : Sumber data dalam penelitian ini berasal dari dua sumber yaitu : 1 Siswa: Diperoleh data tentang peningkatan aktivitas dan hasil belajar kelas IX-2 2 Guru : Diperoleh data tentang efektivitas penerapan bimbingan dan konseling dengan model konsiderasi terintegrasi b. Teknik Pengumpulan Data: Dalam Pengumpulan data menggunakan Observasi dan Tes. 6. Indikator Keberhasilan Penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam tiga siklus dianggap sudah berhasil apabila terjadi peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa apabila 85 % siswa kelas IX-2 (kelas yang diteliti) telah mencapai ketuntasan dengan standar ideal 75. Jika peningkatan tersebut dapat dicapai pada tahap siklus 1 dan 2, maka siklus selanjutnya tidak akan dilaksanakan karena tindakan kelas yang dilakukan sudah dinilai efektif sesuai dengan harapan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan ( KTSP ). 7. Teknik Analisis Data Dalam analisis data teknik yang digunakan adalah ; a. Kuantitatif Analisis ini digunakan untuk menghitung besarnya peningkatan hasil belajar siswa dengan menerapkan bimbingan dan konseling dengan model konsiderasi terintegrasi dengan menggunakan prosentase ( % ). b. Kualitatif Teknik analisis ini digunakan untuk memberikan gambaran hasil penelitian secara ;

reduksi data, sajian deskriptif, dan penarikan simpulan. 8. Jadwal Pelaksanaan Penelitian Jadwal kegiatan Penelitian dilaksanakan mulai tanggal tanggal 20 Agustus 2013 24 September 2013 ( 6 Minggu efektif ). HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Paparan Data dan Temuan Penelitian 1. Perencanaan Tindakan Tindakan yang akan dilakukan oleh peneliti antara lain: a) Menyusun instrumen pembelajaran b) Menyusun Instrumen Monitoring c) Sosialisasi kepada siswa d) Melaksanakan tindakan dalam bimbingan dan konseling e) Melakukan refleksi f) Menyusun strategi bimbingan dan konseling pada siklus ke dua berdasar refleksi siklus pertama g) Melaksanakan bimbingan dan konseling pada siklus kedua h) Melakukan Observasi i) Melakukan refleksi pada siklus kedua j) Menyusun strategi bimbingan dan konseling pada siklus ketiga berdasar refleksi siklus kedua k) Melaksanakan bimbingan dan konseling pada siklus ketiga l) Melakukan Observasi m) Melakukan refleksi pada siklus ketiga n) Menyusun laporan 2. Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan Pelaksanaan tindakan dalam penelitian dilakukan 3 siklus yang terdiri dari enam kali pertemuan. Waktu yang digunakan setiap kali pertemuan adalah 2 x 45 menit.
37

Siklus pertama dilaksanakan pada tanggal 20 s.d 27 Agustus 2013 dan siklus kedua pada tanggal 03 s.d 10 September 2013, dan siklus ke tiga pada tanggal 17 s.d 24 September 2013. SIKLUS 1 1. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, LKS 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi pengolaan pembelajaran. 2. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 20 s.d 27 Agustus 2013 di SMP Negeri 1 Moyo Hilir tahun pelajaran 2013-2014 dengan jumlah siswa 28 orang. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksaaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Dari hasil tes formatif yang telah dilakukan diperoleh nilai rata-rata siswa adalah 60,18 %. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai 65 hanya sebesar 42,86% atau baru ada 12 siswa dari 28 siswa yang tuntas, hasil ini tentu lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85 %. Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru menerapkan bimbingan dan konseling dengan model konsiderasi terintegrasi.

3. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut: a. Guru kurang baik dalam memotivasi siswa dan dalam menyampaikan tujuan pembelajaran b. Guru kurang baik dalam pengelolaan waktu c. Siswa kurang begitu antusias selama pembelajaran berlangsung. 4. Revisi Rancangan a. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada siklus I ini masih terdapat kekurangan, sehingga perlu adanya revisi untuk dilakukan pada siklus berikutnya. b. Guru perlu lebih terampil dalam memotivasi siswa dan lebih jelas dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Di mana siswa diajak untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan. c. Guru perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan menambahkan informasi-informasi yang dirasa perlu dan memberi catatan d. Guru harus lebih terampil dan bersemangat dalam memotivasi siswa sehingga siswa bisa lebih antusias. SIKLUS II 1. Tahap perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2, soal tes formatif II dan alat-alat pengajaran yang mendukung. 2. Tahap kegiatan dan pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 03 s.d 10 September 2013 di SMP Negeri 1 Moyo Hilir tahun pelajaran 2013-2014. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses pembinaan mengacu pada rencana bimbingan dengan
38

memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif II. Adapun nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 69,75 % dan peningkatan ketuntasan mencapai 92,86% atau ada 26 siswa dari 28 siswa sudah tuntas belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami peningkatan cukup lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil belajar siswa ini karena setelah guru menginformasikan bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar. Selain itu siswa juga sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan diinginkan guru dalam menerapkan bimbingan dan konseling dengan model konsiderasi terintegrasi. 3. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut : 1) Memotivasi siswa 2) Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep 3) Pengelolaan waktu 4. Revisi Pelaksanaaan Pelaksanaan kegiatan belajar pada siklus II ini masih terdapat kekurangan-kekurangan. Maka perlu adanya revisi untuk dilaksanakan pada siklus III antara lain: 1) Guru dalam memotivasi siswa hendaknya dapat membuat siswa lebih termotivasi selama proses belajar mengajar berlangsung.

2) Guru harus lebih dekat dengan siswa sehingga tidak ada perasaan takut dalam diri siswa baik untuk mengemukakan pendapat atau bertanya. 3) Guru harus lebih sabar dalam membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep. 4) Guru harus mendistribusikan waktu secara baik sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. 5) Guru sebaiknya menambah lebih banyak contoh soal dan memberi soal-soal latihan pada siswa untuk dikerjakan pada setiap kegiatan belajar mengajar. SIKLUS III 1. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. 2. Tahap kegiatan dan pengamatan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus III dilaksanakan pada tanggal 17 s.d 24 September 2013 di SMP Negeri 1 Moyo Hilir tahun pelajaran 2013-2014 dengan jumlah siswa 28 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif III. Adapun nilai rata-rata tes formatif sebesar 81,79 % dan dari 28 siswa secara keseluruhan sudah
39

mencapai ketuntasan dalam meningkatkan hasil belajarnya. Maka secara klasikal ketuntasan telah mencapai 100 % ( termasuk kategori tuntas ). Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan bimbingan dan konseling dengan model konsiderasi terintegrasi, sehingga siswa menjadi lebih terbiasa dengan bimbingan seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam memahami materi yang telah diberikan. Di samping itu ketuntasan ini juga dipengaruhi oleh kerja sama dari siswa yang telah menguasai materi pelajaran untuk mengajari temannya yang belum menguasai. 3. Refleksi Pada tahap ini akan dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses bimbingan dan konseling dengan model konsiderasi terintegrasi. Dari data-data yang telah diperoleh dapat diuraikan sebagai berikut: a. Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masingmasing aspek cukup besar. b. Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung. c. Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik. d. Hasil belajar siswa pada siklus III mencapai ketuntasan. 4. Revisi Pelaksanaan Pada siklus III guru telah menerapkan bimbingan dan konseling dengan model konsiderasi terintegrasi dengan baik, dan dilihat dari aktivitas

siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan bimbingan dan konseling dengan model konsiderasi terintegrasi, dapat meningkatkan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. B. ANALISIS HASIL KEGIATAN Analisis Data Deskriptif Kuantitatif 1. Pencapaian hasil belajar kelas IX-2 sebelum diberi tindakan 1685x 100% = 60,18% 2800 2. Pencapaian hasil belajar Kelas IX-2 setelah diberi tindakan pengelompokan siswa berdasarkan nomor panggilan (acak berdasarkan tempat duduk ) 1953 x 100% = 69,75 % 2800 3. Pencapaian hasil belajar kelas IX-2 setelah diberi tindakan pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan akademik 2290x 100% = 81,79 % 2800 Dari hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa 1. Terjadi peningkatan prestasi setelah diberi tindakan yaitu 60,18% menjadi 69,75% ada kenaikan sebesar = 9,57 %. 2. Dari sebelum tindakan ( siklus 1 ) dan setelah tindakan sampai dengan ( siklus 3 ) 81,79 % menjadi 69,75 %, dan dari ( siklus 2 ) ke ( siklus 3 ) juga ada peningkatan sebanyak 81,79 % - 69,75 % = 12,04 %. 3. Ketuntasan siswa sebelum diberi tindakan dari 42,86 % pada siklus I,

92,86% pada siklus II, dan siklus III menjadi 100 %. Refleksi dan Temuan Berdasarkan pelaksanaan tindakan maka hasil observasi nilai, hasil dapat dikatakan sebagai berikut : 1. Siklus pertama kegiatan belajarmengajar dengan menerapkan bimbingan dan konseling dengan model konsiderasi terintegrasi belum berhasil karena dalam pembelajaran masih terlihat siswa yang bermain, bercerita, dan mengganggu siswa lain; 2. Bimbingan dan konseling dengan model konsiderasi terintegrasi dalam hal peningkatan aktivitas dan hasil belajar belum tampak, sehingga hasil yang dicapai tidak tuntas. 3. Mungkin karena proses bimbingan dan konseling yang dilakukan adalah dengan model konsiderasi terintegrasi yang baru mereka laksanakan sehingga siswa merasa kaku dalam menerapkannya. 4. Akan tetapi setelah dijelaskan, mereka bisa mengerti dan buktinya pada siklus kedua dan ketiga proses kegiatan belajar - mengajar berjalan baik, semua siswa aktif dan lebih-lebih setelah ada rubrik penilaian proses, seluruh siswa langsung aktif belajar. C. Pembahasan Hasil Penelitian 1. Ketuntasan Hasil belajar Siswa Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan bimbingan dan konseling dengan model konsiderasi terintegrasi memiliki dampak positif dalam meningkatkan hasil belajar siswa, hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru (hasil belajar meningkat dari siklus I, II, dan III ) yaitu; 60,18% ; 69,75% ; 81,79%. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai.

40

2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses bimbingan dan konseling dengan model konsiderasi terintegrasi dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap aktivitas belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus. 3. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dengan menerapkan bimbingan dan konseling dengan model konsiderasi terintegrasi yang paling dominan adalah bekerja dengan menggunakan alat/media, mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif. Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah bimbingan dan konseling dengan model konsiderasi terintegrasi dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul diantaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan kegiatan pembelajaran, menjelaskan, memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab di mana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar. Dari analisis data di atas bahwa bimbingan dan konseling dengan model konsiderasi terintegrasi dapat diterapkan pada proses pembelajaran kelas IX-2, yang berarti proses kegiatan belajar mengajar lebih
41

berhasil dan dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa khususnya pada siswa kelas IX-2 di SMP Negeri 1 Moyo Hilir, oleh karena itu diharapkan kepada para guru SMP dapat melaksanakan bimbingan dan konseling dengan model konsiderasi terintegrasi di kelas IX-2. Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) siswa dikatakan tuntas apabila siswa telah mencapai nilai standar ideal 75 mencapai 85 %. Sedangkan pada penilitian ini, pencapai nilai 75 pada (siklus 3 ) mencapai melebihi target yang ditetapkan dalam KTSP yaitu mencapai 100 %. Dengan demikian maka hipotesis yang diajukan dapat diterima. PENUTUP A. Simpulan Dari hasil kegiatan bimbingan dan konseling yang telah dilakukan selama tiga siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Pembelajaran dengan bimbingan dan konseling dengan model konsiderasi terintegrasi dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IX-2 di SMP Negeri 1 Moyo Hilir yang ditandai dengan peningkatan hasil belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu; 60,18% ; 69,75 % ; 81,79%. 2. Penerapan bimbingan dan konseling dengan model konsiderasi terintegrasi mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. 3. Penerapan bimbingan dan konseling dengan model konsiderasi terintegrasi dapat meningkatkan kembali materi ajar yang telah diterima siswa selama ini, sehingga mereka merasa siap

untuk menghadapi berikutnya.

pelajaran

DAFTAR PUSTAKA Arikunto,Suharsimi 2007.Penelitian Tindakan Kelas.Jakarta : PT.Bumi Aksara Bimo,Walgito.2004.Bimbingan dan Konseling di Sekolah.Yogyakarta.Andi Offset. Depdikbud.1994.Panduan Penyusunan Kurikulum Sekolah Menengah.Jakarta : Depdikbud Depdiknas RI,2003.Undang Undang No 20 tentang sistem pendidikan nasional (SISDIKNAS ) Jakarta : Depdiknas. ____________,2006.Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.Pengembangan Diri.Jakarta : Depdiknas. Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Mulyasa.2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep; Karakteristik dan Implementasi. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya. Nasution S., 2001. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Bina Aksara. Jakarta. Sanjaya,Wina,H.2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana

B. Saran Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses bimbingan dan konseling lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka disampaikan saran sebagai berikut : 4. Untuk melaksanakan bimbingan dan konseling memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan pemberian bimbingan dan konseling dengan model konsiderasi terintegrasi agar diperoleh hasil yang optimal. 5. Dalam rangka meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan kegiatan penemuan, walau dalam taraf yang sederhana, di mana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. 6. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya dilakukan di SMP Negeri 1 Moyo Hilir tahun pelajaran 20132014.

42

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PKN DENGAN MENGGUNAKAN METODE ROLE PLAYING KELAS I.A SDN 3 JAGARAGA KEC. KURIPAN TAHUN PELAJARAN 2011-2012 Oleh: NI NENGAH SUKRI PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Keberhasilan proses dan hasil pembelajaran di kelas dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain adalah guru dan siswa. Selain menguasai materi seorang guru juga dituntut untuk menguasai strategi-strategi penyampaian materi tersebut, cara guru menciptakan suasana kelas akan berpengaruh terhadap respon siswa dalam proses pembelajaran. Pendidikan di SD menuntut siswa menunjukkan sikap yang responsif, baik, kreatif, dan bertanggung jawab. Tapi kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa tujuan pembelajaran di SD seperti yang telah ditetapkan dalam Undang Undang No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem pendidikan Nasional belum tercapai sebagaimana yang diharapkan. Seringkali guru menemukan siswa tidak berani mengemukakan pendapat maupun bertanya. Apabila guru berhasil menciptakan suasana yang menyebabkan siswa termotivasi aktif dalam belajar akan memungkinkan terjadi peningkatan hasil belajar. Hambatan yang ditemui oleh guru dalam proses pembelajaran antara lain adalah kelas selalu pasif, motivasi siswa untuk belajar sangat rendah dan sangat sulit untuk menimbulkan interaksi baik antara siswa dengan siswa maupun antara siswa dengan guru, pelaksanaan pembelajaran yang monoton, tidak menggunakan metode yang variatif dalam pembelajaran, sehingga kelas selalu didominasi oleh guru. Sistem pembelajaran yang selama ini dilakukan yaitu sistem pembelajaran konvensional (faculty teaching), kental dengan suasana instruksional dan dirasa kurang sesuai dengan dinamika perkembangan ilmu pengetahuan dan
43

teknologi yang demikian pesat. Lebih dari itu kewajiban pendidikan dituntut untuk juga memasukkan nilai-nilai moral, budi pekerti luhur, kreatifitas, kemandirian dan kepemimpinan, yang sangat sulit dilakukan dalam sistem pembelajaran yang konvensional. Sistem pembelajaran konvensional kurang fleksibel dalam mengakomodasi perkembangan materi kompetensi karena guru harus intensif menyesuaikan materi pelajaran dengan perkembangan teknologi terbaru. Adalah Kurang bijaksana jika perkembangan teknologi jauh lebih cepat dibanding dengan kemampuan guru dalam menyesuaikan materi kompetensi dengan perkembangan tersebut, oleh karenanya dapat dipastikan lulusan akan kurang memiliki penguasaan pengetahuan yang terbaru. Dalam upaya memperbaiki proses pembelajaran agar efektif dan fungsional, maka penggunaan metode yang efektif sangat penting untuk diterapkan. Penerapan metode yang efektif dan variatif dalam proses pembelajaran dimaksudkan untuk mempertinggi daya cerna siswa terhadap informasi atau materi pembelajaran yang diberikan. Khususnya dalam proses pembelajaran PKn pada siswa kelas I SD dapat diterapkan metode Role Playing, karena siswa masih berada pada tingkat usia bermain. Tujuan Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui sebagai berikut : 1. Peningkatan prestasi belajar PKn dengan menggunakan metode role playing kelas I.A SDN 3 Jagaraga Kec. Kuripan tahun pelajaran 20112012.

2. Efektivitas penggunaan metode role playing dalam meningkatkan pretasi belajar PKn kelas I.A SDN 3 Jagaraga Kec. Kuripan tahun pelajaran 20112012. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagi siswa, untuk mempermudah siswa dalam berlatih dan belajar PKn ( PKn). 2. Bagi guru, sebagai upaya untuk memotivasi siswa dalam kegiatan pembelajaran, sebagai upaya peningkatan kualitas dan prestasi khususnya mata PKn, sebagai masukan agar dalam pembelajaran PKn yang akan datang guru dapat menerapkan strategi pembelajaran yang menunjang peningkatan kemampuan dalam pembelajaran PKn sehingga prestasi siswa dapat meningkat. 3. Bagi sekolah, yaitu dapat memberikan semangat bagi guru-guru di sekolah tersebut untuk melaksanakan penelitian-penelitian yang berkaitan dengan peningkatan prestasi belajar siswa. 4. Bagi peneliti, mendapatkan pengalaman langsung pelaksanaan pembelajaran PKn yang efektif dalam kualitas pembelajaran di SDN 3 Jagaraga Kec. Kuripan. KAJIAN TEORI A. Prestasi Belajar Siswa 1. Pengertian Prestasi Prestasi belajar adalah hasil atau akibat dari kegiatan belajar. Untuk mengetahui tentang prestasi belajar perlu dijelaskan tentang hakekat belajar. Belajar merupakan suatu proses yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman ( Slameto,1991). Di mana perubahan itu bersifat kontinyu dan fungsional, terjadi
44

secar sadar, bersifat positif dan aktif, bukan bersifat sementara, bertujuan atau terarah, dan mencakup seluruh aspek tingkah laku yang selanjutnya dinamakan hasil belajar. Dan hasil belajar tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk prestasi belajar. Menurut Abu Ahmadi (2001), belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Berdasarkan pengertian belajar di atas, maka dapat didefinisikan tentang prestasi belajar, yaitu tingkat keberhasilan yang dicapai siswa berupa ketrampilan dan pengetahuan berdasarkan hasil tes atau evaluasi setelah pelaksanaan proses belajar mengajar. 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar Nasution (2001: 344) pada penelitiannya menyimpulkan bahwa secara garis besar faktorfaktor yang mempengaruhi belajar dan prestasi belajar dapat digolongkan menjadi dua bagian, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. a. Faktor internal Merupakan faktor yang berasal dari dalam diri siswa yang dapat mempengaruhi prestasi. Faktor ini dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu: 1) Faktor fisiologis Dalam hal ini yang berhubungan dengan kesehatan dan pancaindera (a) Kesehatan badan (b) Pancaindera

2) Faktor psikologis Ada banyak faktor psikologis yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa, antara lain adalah : (a) Intelligensi (b) Sikap (c) Motivasi b. Faktor eksternal Selain faktor-faktor yang ada dalam diri siswa, ada hal lain di luar diri yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang akan diraih, antara lain adalah : 1) Faktor lingkungan keluarga (a) Sosial ekonomi keluarga (b) Pendidikan orang tua (c) Perhatian orang tua dan suasana hubungan antara anggota keluarga 2) Faktor lingkungan sekolah (a) Sarana dan prasarana (b) Kompetensi guru dan siswa (c) Kurikulum dan metode mengajar 3) Faktor lingkungan masyarakat (a) Sosial budaya (b) Partisipasi terhadap pendidikan B. Metode Pembelajaran Role Playing 1. Pengertian Metode Role Playing Peran (role) bisa diartikan sebagai cara seseorang berperilaku dalam posisi dan situasi tertentu. Dalam ilmu manajerial, ketidaksesuaian dalam pengenalan peran ditunjukkan sebagai "role conflict" (konflik peran), saran yang tidak konsisten, yang diberikan kepada seseorang oleh dirinya sendiri atau orang lain. Role play sebagai suatu metode mengajar merupakan tindakan yang dilakukan secara sadar dan diskusi tentang peran dalam kelompok(Djamarah dan Zein, 1990: 139). Di dalam kelas, suatu masalah
45

diperagakan secara singkat sehingga murid-murid bisa mengenali tokohnya. Dalam metode Role Playingpembelajaran bermain peran ini, dapat mendorong siswa mengekspresikan perasaannya dan bahkan melepaskannya serta proses pembelajaran siswa tidak lepas dari adanya kegembiraan dan keceriaan, maka metode Role Playingpembelajaran bermain peran merupakan suatu bentuk permainan yang dilatarbelakangi adanya interaksi sosial atau permainan yang bernuansa sosial. Dengan metode bermain peran siswa dapat menghayati dan berperan dalam berbagai figur sesungguhnya dalam berbagai situasi. Metode bermain peran yang terencana dengan baik dapat menanamkan kemampuan bertanggung jawab dalam bekerja sama dengan orang lain dan belajar mengambil keputusan dalam hubungan kerja kelompok. 2. Tujuan dan Manfaat Role Playing Metode bermain peran dapat mendorong siswa mengekspresikan perasaannya dan bahkan melepaskannya serta proses pembelajaran di kelas I tidak lepas dari adanya kegembiraan dan keceriaan, maka metode Role Playingpembelajaran bermain peran merupakan suatu bentuk permainan yang dilatarbelakangi adanya interaksi sosial atau permainan yang bernuansa sosial. Menurut Gredler, Margaret E. Bell (1986: 229-230), tujuan role playing adalah: a. Agar menghayati sesuatu kejadian atau hal yang sebenarnya dalam realita hidup b. Agar memahami apa yang menjadi sebab dari sesuatu serta bagaimana akibatnya c. Untuk mempertajam indera dan rasa siswa terhadap sesuatu

d. Sebagai penyaluran/pelepasan ketegangan dan perasaan-perasaan e. Sebagai alat mendiagnosa keadaan kemamapuan siswa f. Pembentukan konsep secara mandiri g. Menggali peranan-peranan dari seseorang dalam suatu kehidupan kejadian/keadaan h. Membina siswa dalam kemampuan memecahkan masalah i. Melatih anak ke arah mengendalikan dan membaharui perasaannya, cara berfikirnya, dan perbuatannya. 3. Langkah-langkah Role Playing Menciptakan suasana mengajar yang bisa membawa perubahan konsep diri membutuhkan pola pengaturan yang berbeda. Salah satu struktur permainan peran yang mungkin bisa sangat membantu adalah sebagai berikut a. Persiapan, meliputi: tentukan masalah, buat persiapan peran, bangun suasana, pilihlah tokohnya, jelaskan dan berikan pemanasan, dan pertimbangkan latihan. b. Memainkan, meliputi: memainkan, menghentikan, melibatkan penonton, menganalisa diskusi, dan mengevaluasi. c. Masalah masa lampau dan sekarang. Hal ini meliputi situasi yang kritis di waktu lampau dan sekarang, dimana para pejabat dan pemimpin politik menghadapi berbagai permasalahan dan harus mengambil keputusan. 4. Kelebihan dan kelemahan Metode Pembelajaran Role Playing a. Kelebihan metode role playing Menurut Rohani, Ahmad (2004: 34) metode role playing memiliki kelebihan seperti, (1) siswa terlatih untuk berkreaktif dan berinisiatif, (2) siswa terlatih untuk memahami sesuatu dan
46

mencoba melakukannya, (3) apabila siswa memiliki bibit seni maka bakat tersebut akan terpupuk dengan baik melalui sering melakukan sosio drama.(4) kerja sama antar teman jadi terpupuk dengan lebih baik pula, (5) siswa merasa senang, karena bisa terhibur oleh fragmen teman-temannya. b. Kekurangan metode role playing Kekurangan metode role playing antara lain adalah: (1) pada umumnya yang aktif hanya yang berperan saja (2) ini cenderung dominan unsur rekreasinya daripada kerjanya, karena untuk berlatih sosiodrama memerlukan banyak waktu dan tenaga, (3) membutuhkan ruang yang cukup luas, (4) sering mengganggu kelas di sebelahnya( Rohani, Ahmad, 2004: 34). METODE PENELITIAN 1. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah siswa kelas I.A SDN 3 Jagaraga Kec. Kuripan. 2. Setting Penelitian a. PTK dilakukan pada SDN 3 Jagaraga Kec. Kuripan tahun Pelajaran 2011-2012. b. PTK dilakukan pada siswa kelas I.A dengan jumlah 20 orang ( P = 9 orang ; dan L = 11 orang ) 3. Rancangan Penelitian a. Tindakan dilaksanakan dalam 3 siklus b. Kegiatan dilaksanakan dalam semester genap tahun pelajaran 2011-2012. c. Lama penelitian 6 pekan efektif dilaksanakan mulai tanggal 21

Februari 2012 sampai dengan 28 Maret 2012. d. Dalam pelaksanaan tindakan, rancangan dilakukan dalam 3 siklus yang meliputi ; (a) perencanaan, (2) tindakan, (3) pengamatan, (4) refleksi. 4. Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini terdiri dari; Variabel Peningkatan prestasi Harapan: belajar PKn siswa kelas I.A Variabel Penerapan metode Role Tindakan: Playing. Adapun indikator yang diteliti dalam variabel harapan terdiri dari : 1. Kemampuan siswa dalam pelajaran PKn 2. Kemampuan siswa dalam meningkatkan prestasi belajar PKn melalui penerapan metode Role Playing. 3. Keefektifan pembelajaran melalui metode Role Playing. Sedangkan variabel tindakan memiliki indikator sebagai berikut : 1. Tingkat kualitas perencanaan 2. Kualitas perangkat observasi 3. Kualitas operasional tindakan 4. Kesesuaian perencanaan dengan tindakan kelas 5. Kesesuaian teknik yang digunakan meningkatkan kemampuan siswa. 6. Tingkat efektifitas pelaksanaan metode Role Playing. 7. Kemampuan siswa dan guru dalam menerapkan metode Role Playing. 5. Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data a. Sumber Data : Sumber data dalam penelitian ini berasal dari dua sumber yaitu : 1 Siswa: Diperoleh data tentang peningkatan prestasi belajar PKn kelas I.A
47

2 Guru :

Diperoleh data tentang efektivitas penerapan metode Role Playing. b. Teknik Pengumpulan Data: Dalam Pengumpulan data menggunakan Observasi dan Tes.

6. Indikator Keberhasilan Penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam tiga siklus dianggap sudah berhasil apabila terjadi peningkatan hasil belajar siswa apabila 85 % siswa kelas I.A (kelas yang diteliti) telah mencapai ketuntasan dengan standar ideal 75. Jika peningkatan tersebut dapat dicapai pada tahap siklus 1 dan 2, maka siklus selanjutnya tidak akan dilaksanakan karena tindakan kelas yang dilakukan sudah dinilai efektif sesuai dengan harapan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan ( KTSP ). 7. Teknik Analisis Data Dalam analisis data teknik yang digunakan adalah ; a. Kuantitatif Analisis ini digunakan untuk menghitung besarnya peningkatan prestasi belajar PKn siswa dengan menerapkan metode Role Playing dengan menggunakan prosentase (%). b. Kualitatif Teknik analisis ini digunakan untuk memberikan gambaran hasil penelitian secara ; reduksi data, sajian deskriptif, dan penarikan simpulan. 8. Jadwal Pelaksanaan Penelitian Jadwal kegiatan Penelitian dilaksanakan mulai tanggal tanggal 21 Februari 2012 28 Maret 2012 ( 6 Minggu efektif ).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Paparan Data dan Temuan Penelitian 1. Perencanaan Tindakan Tindakan yang akan dilakukan oleh peneliti antara lain: a) Menyusun instrumen pembelajaran b) Menyusun Instrumen Monitoring c) Sosialisasi kepada siswa d) Melaksanakan tindakan dalam pembelajaran e) Melakukan refleksi f) Menyusun strategi pembelajaran pada siklus ke dua berdasar refleksi siklus pertama g) Melaksanakan pembelajaran pada siklus kedua h) Melakukan Observasi i) Melakukan refleksi pada siklus kedua j) Menyusun strategi pembelajaran pada siklus ketiga berdasar refleksi siklus kedua k) Melaksanakan pembelajaran pada siklus ketiga l) Melakukan Observasi m) Melakukan refleksi pada siklus ketiga n) Menyusun laporan 2. Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan Pelaksanaan tindakan dalam penelitian dilakukan 3 siklus yang terdiri dari enam kali pertemuan. Waktu yang digunakan setiap kali pertemuan adalah 2 x 35 menit. Siklus pertama dilaksanakan pada tanggal 21 s.d 28 Februari 2012 dan siklus kedua pada tanggal 07 s.d 14 Maret 2012, dan siklus ke tiga pada tanggal 21 s.d 28 Maret 2012.

SIKLUS 1 1. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, LKS 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi pengolaan pembelajaran. 2. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 21 s.d 28 Februari 2012 di SDN 3 Jagaraga Kec. Kuripan tahun pelajaran 2011-2012 dengan jumlah siswa 20 orang. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksaaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Dari hasil tes formatif yang telah dilakukan diperoleh nilai rata-rata siswa adalah 59,55 %. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai 65 hanya sebesar 35 % atau baru ada 7 siswa dari 20 siswa yang tuntas, hasil ini tentu lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85 %. Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan menggunakan metode Role Playing. 3. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut: a. Guru kurang baik dalam memotivasi siswa dan dalam menyampaikan tujuan pembelajaran

48

b. Guru kurang baik dalam pengelolaan waktu c. Siswa kurang begitu antusias selama pembelajaran berlangsung. 4. Revisi Rancangan a. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada siklus I ini masih terdapat kekurangan, sehingga perlu adanya revisi untuk dilakukan pada siklus berikutnya. b. Guru perlu lebih terampil dalam memotivasi siswa dan lebih jelas dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Di mana siswa diajak untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan. c. Guru perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan menambahkan informasi-informasi yang dirasa perlu dan memberi catatan d. Guru harus lebih terampil dan bersemangat dalam memotivasi siswa sehingga siswa bisa lebih antusias. SIKLUS II 1. Tahap perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2, soal tes formatif II dan alat-alat pengajaran yang mendukung. 2. Tahap kegiatan dan pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 07 s.d 14 Maret 2012 di SDN 3 Jagaraga Kec. Kuripan tahun pelajaran 2011-2012. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan
49

tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif II. Adapun nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 68,5 % dan peningkatan ketuntasan mencapai 85 % atau ada 17 siswa dari 20 siswa sudah tuntas belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami peningkatan cukup lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan prestasi belajar siswa ini karena setelah guru menginformasikan bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar. Selain itu siswa juga sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan diinginkan guru dalam menerapkan metode Role Playing. 3. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut : 1) Memotivasi siswa 2) Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep 3) Pengelolaan waktu 4. Revisi Pelaksanaaan Pelaksanaan kegiatan belajar pada siklus II ini masih terdapat kekurangan-kekurangan. Maka perlu adanya revisi untuk dilaksanakan pada siklus III antara lain: 1) Guru dalam memotivasi siswa hendaknya dapat membuat siswa lebih termotivasi selama proses belajar mengajar berlangsung. 2) Guru harus lebih dekat dengan siswa sehingga tidak ada perasaan takut dalam diri siswa baik untuk mengemukakan pendapat atau bertanya. 3) Guru harus lebih sabar dalam membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep.

4) Guru harus mendistribusikan waktu secara baik sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. 5) Guru sebaiknya menambah lebih banyak contoh soal dan memberi soal-soal latihan pada siswa untuk dikerjakan pada setiap kegiatan belajar mengajar. SIKLUS III 1. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. 2. Tahap kegiatan dan pengamatan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus III dilaksanakan pada tanggal 21 s.d 28 Maret 2012 di SDN 3 Jagaraga Kec. Kuripan tahun pelajaran 2011-2012 dengan jumlah siswa 20 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif III. Adapun nilai rata-rata tes formatif sebesar 77 % dan dari 20 siswa secara keseluruhan sudah mencapai ketuntasan dalam meningkatkan prestasi belajarnya. Maka secara klasikal ketuntasan telah mencapai 100 % ( termasuk kategori tuntas ). Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan prestasi belajar pada siklus III ini dipengaruhi
50

oleh adanya peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan metode Role Playing, sehingga siswa menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam memahami materi yang telah diberikan. Di samping itu ketuntasan ini juga dipengaruhi oleh kerja sama dari siswa yang telah menguasai materi pelajaran untuk mengajari temannya yang belum menguasai. 3. Refleksi Pada tahap ini akan dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan metode Role Playing. Dari data-data yang telah diperoleh dapat diuraikan sebagai berikut: a. Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masingmasing aspek cukup besar. b. Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung. c. Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik. d. Prestasi belajar siswa pada siklus III mencapai ketuntasan. 4. Revisi Pelaksanaan Pada siklus III guru telah menerapkan metode Role Playing dengan baik, dan dilihat dari aktivitas siswa serta prestasi belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan metode Role Playing, dapat

meningkatkan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. B. ANALISIS HASIL KEGIATAN Analisis Data Deskriptif Kuantitatif 1. Pencapaian prestasi belajar PKn Kelas I.A sebelum diberi tindakan 1191x 100% = 59,55% 2000 2. Pencapaian hasil belajar PKn Kelas I.A setelah diberi tindakan pengelompokan siswa berdasarkan nomor panggilan (acak berdasarkan tempat duduk ) 1370 x 100% = 68,5 % 2000 3. Pencapaian hasil belajar PKn kelas I.A setelah diberi tindakan pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan akademik 1540x 100% = 77 % 2000 Dari hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa 1. Terjadi peningkatan prestasi setelah diberi tindakan yaitu 59,55% menjadi 68,5% ada kenaikan sebesar = 8,95%. 2. Dari sebelum tindakan ( siklus 1 ) dan setelah tindakan sampai dengan ( siklus 3 ) 57,71 % menjadi 68,5 %, dan dari ( siklus 2 ) ke ( siklus 3 ) juga ada peningkatan sebanyak 77 % - 68,5 % = 8,5 %. 3. Ketuntasan siswa sebelum diberi tindakan dari 35 % pada siklus I, 85% pada siklus II, dan siklus III menjadi 100 %. 4. Dari tindakan siklus 2 dan setelah tindakan ( siklus 3 ) 68,5 % menjadi 77 % berarti ada peningkatan prestasi sebanyak 77% - 68,5 % = 8,5 %. Refleksi dan Temuan Berdasarkan pelaksanaan tindakan maka hasil observasi nilai, hasil dapat dikatakan sebagai berikut : 1. Siklus pertama kegiatan belajarmengajar dengan menerapkan metode Role Playing belum berhasil karena
51

dalam pembelajaran masih terlihat siswa yang bermain, bercerita, dan mengganggu siswa lain; 2. Pembelajaran dengan menerapkan metode Role Playing dalam hal peningkatan prestasi belajar belum tampak, sehingga hasil yang dicapai tidak tuntas. 3. Mungkin karena proses belajar mengajar yang dilakukan adalah pembelajaran dengan metode Role Playing yang baru mereka laksanakan sehingga siswa merasa kaku dalam menerapkannya. 4. Akan tetapi setelah dijelaskan, mereka bisa mengerti dan buktinya pada siklus kedua dan ketiga proses kegiatan belajar - mengajar berjalan baik, semua siswa aktif dan lebih-lebih setelah ada rubrik penilaian proses, seluruh siswa langsung aktif belajar. C. Pembahasan Hasil Penelitian 1. Ketuntasan Prestasi Belajar Siswa Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode Role Playing memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru (prestasi belajar meningkat dari siklus I, II, dan III ) yaitu; 59,55% ; 68,5% ; 77%. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai. 2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dengan metode Role Playing dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap motivasi belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus.

3. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran PKn dengan menerapkan metode Role Playing yang paling dominan adalah bekerja dengan menggunakan alat/media, mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif. Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah metode Role Playing dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul diantaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan kegiatan pembelajaran, menjelaskan, memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab di mana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar. Dari analisis data di atas bahwa pembelajaran dengan metode Role Playing dapat diterapkan pada pembelajaran PKn kelas I, yang berarti proses kegiatan belajar mengajar lebih berhasil dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa khususnya pada siswa kelas I.A di SDN 3 Jagaraga Kec. Kuripan, oleh karena itu diharapkan kepada para guru SD dapat melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode Role Playing di kelas I. Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) siswa dikatakan tuntas apabila siswa telah mencapai nilai standar ideal 75 mencapai 85 %. Sedangkan pada penilitian ini, pencapai nilai 75 pada (siklus 3 ) mencapai melebihi target yang ditetapkan dalam KTSP yaitu mencapai 100 %. Dengan
52

demikian maka hipotesis diajukan dapat diterima.

yang

PENUTUP A. Simpulan Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Pembelajaran dengan metode Role Playing dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas I.A di SDN 3 Jagaraga Kec. Kuripan mata pelajaran PKn yang ditandai dengan peningkatan prestasi belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu; 59,55% ; 68,5 % ; 77%. 2. Penerapan metode Role Playing pada pelajaran PKn mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. 3. Penerapan metode Role Playing dapat meningkatkan kembali materi ajar yang telah diterima siswa selama ini, sehingga mereka merasa siap untuk menghadapi pelajaran berikutnya. B. Saran Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka disampaikan saran sebagai berikut : 1. Untuk melaksanakan pembelajaran memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan pemberian metode Role Playing agar diperoleh hasil yang optimal. 2. Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan kegiatan penemuan,

walau dalam taraf yang sederhana, di mana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. 3. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya dilakukan di SDN 3 Jagaraga Kec. Kuripan tahun pelajaran 2011-2012. DAFTAR PUSTAKA Arifin,Mulyati,1995.Pengembangan Program Pengajaran Bidang Studi Pkn.Surabaya:Airlangga University Press Arikunto, Suharsimi. 2006. Evaluasi Pendidikan. Bumi Aksara. Jakarta ________________,1999.Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.Jakarta: Rineka Cipta. _______________.2007.Penelitian Tindakan Kelas.Jakarta : PT.Bumi Aksara Depdiknas RI,2003.Undang Undang No 20 tentang sistem pendidikan nasional (SISDIKNAS ) Jakarta : Depdiknas. Ibrahim 1982. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Jakarta. Rineka Cipta. Riyanto, Yatim. 2007. Metodelogi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. Unesa. Surabaya. Senjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.. Sudrajat, Akhmad. 2008. Beda Strategi, Model, Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembelajaran. Diakses dari http://smacepiring.wordpress.com/ Tanggal 10 November 2008. Sulistiyono, Andi. 2008. Jenis dan Karekter Metode Pembelajaran. Makalah Pustekom. Depdiknas. Jakarta.

Suparlan, Y.B. 1984. Aliran-Aliran Baru dalam Pendidikan. Andi Offset. Yogyakarta Supriawan, Dedi dan A. Benyamin Surasega, 1990. Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung. Slameto, 2003. Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya. Rineka Cipta. Jakarta. Syaiful Bahri Djamarah, 1995. Strategi Belajar Mengajar. Banjarmasin: Rineka Cipta. Winkel, W.S., Psikologi Pengajaran, Jakarta, PT Grasindo, 1987. Wuradji. 1987. Dasar-Dasar Pengukuran dan Penilaian Hasil Belajar. Penerbit Dina. Yogyakarta.

53

PENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN JASMANI DENGAN PENERAPAN METODE TEAMS GAMES TOURNAMENT ( TGT ) KELAS VI SDN 1 TANAK BEAK TAHUN PELAJARAN 2012-2013 Oleh: NAHRI PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Berbicara tentang olahraga di Indonesia, maka kita harus menyadari bahwa Indonesia masih jauh ketinggalan dalam bidang prestasi olahraga di forum internasional. Dalam mengejar ketertinggalan tersebut maka sudah sewajarnya kalau kita memiliki suatu landasan strategi pembinaan yang terpola dengan sasaran atau target prestasi olahraga di tingkat internasional karena prestasi olahraga suatu bangsa menunjukkan taraf kesehjahteraan kebesaran bangsa tersebut diantara bangsa lainnya (Mutohir, 1992:2). Dengan pembinaan yang terpola tentunya diarahkan pada pencapaian prestasi puncak pada suatu cabang olahraga yang harus diraih dengan usaha yang sistematik dan terencana. Untuk mengejar ketinggalan prestasi olahraga ditingkat internasional dan untuk meningkatkan layanan profesional guna peningkatan dan pengembangan olahraga di Indonesia maka penguasaan berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi serta yang menunjang dan penerapannya di bidang olahraga mutlak diperlukan. Berdasarkan pengamatan dan hasil wawancara peneliti dengan guru penjaskes, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa di SDN 1 Tanak Beak masih rendah, hal ini masih jauh dari apa yang diharapkan. Penulis berasumsi bahwa rendahnya tingkat penguasaan hasil belajar siswa tidak lepas dari faktor faktor berikut: (1) terbatas sarana dan prasarana, (2) alokasi waktu yang terbatas, (3) latar belakang pendidikan, (4) bakat yang dimiliki, (5) antromentrik, (6) tingkat kebugaran jasmani, dan (7) yang paling esensial penggunaan metode pembelajaran. Terlepas dari faktor faktor yang mempengaruhi, maka hal ini tidak dapat dibiarkan begitu saja. Untuk itu perlu kiranya dilakukan suatu penelitian tentang faktor faktor yang paling dominan yang menimbulkan permasalahan tersebut di atas. Agar menemukan alternatif pemecahan yang maksud, peneliti merasa tertarik dan ingin mencoba menerapkan metode pembelajaran yang yang inovatif, dikaitkan dengan hasil belajar yang dicapai siswa. Metode pembelajaran bukan sematamata menyangkut kegiatan pengajar dalam pembelajaran, akan tetapi menitikberatkan pada aktivitas belajar siswa. Sekalipun metode pembelajaran telah banyak dikembangkan di Indonesia, namun penerapannya masih terbatas. Dengan menerapkan beberapa beberapa metode pembelajaran ini sehingga pengajar akan dapat memilih metode yang paling tepat untuk topik tertentu. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa adalah metode pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT). Tujuan Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui sebagai berikut : 1. Penerapan metode Teams Games Tournament ( TGT ) dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran pendidikan jasmani kelas VI SDN 1 Tanak Beak tahun pelajaran 2012-2013. 2. Efektivitas metode Teams Games Tournament ( TGT ) dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran pendidikan jasmani kelas VI
54

SDN 1 Tanak Beak tahun pelajaran 2012-2013. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagi Siswa a) Siswa dapat meningkatkan prestasinya dalam pendidikan jasmani b) Siswa dapat meningkatkan motivasinya dalam pembelajaran c) Metode TGT, merupakan sebagai sarana dalam meningkatkan hasil belajar siswa. 2. Bagi Guru Pendidikan Jasmani a) Dapat dipertimbangkan dalam memilih metode yang tepat pada pendidikan jasmani terutama dalam meningkatkan hasil belajar siswa. b) Memberikan kemudahan bagi guru pendidikan jasmani dalam menerapkan metode pembelajaran. c) Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan strategi pelatihan bagi guru dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa. KAJIAN TEORI A. Hasil belajar Siswa 1. Pengertian Hasil Belajar Hasil belajar adalah hasil atau akibat dari kegiatan belajar. Untuk mengetahui tentang hasil belajar perlu dijelaskan tentang hakekat belajar. Belajar merupakan suatu proses yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman (Slameto,1991). Di mana perubahan itu bersifat kontinyu dan fungsional, terjadi secar sadar, bersifat positif dan aktif, bukan bersifat sementara, bertujuan atau terarah, dan mencakup seluruh aspek tingkah laku yang selanjutnya dinamakan hasil belajar. Dan hasil belajar
55

tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk hasil belajar. Menurut Abu Ahmadi (2001), belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Berdasarkan pengertian belajar di atas, maka dapat didefinisikan tentang hasil belajar, yaitu tingkat keberhasilan yang dicapai siswa berupa ketrampilan dan pengetahuan berdasarkan hasil tes atau evaluasi setelah pelaksanaan proses belajar mengajar. 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar Nasution (2001: 344) pada penelitiannya menyimpulkan bahwa secara garis besar faktorfaktor yang mempengaruhi belajar dan hasil belajar dapat digolongkan menjadi dua bagian, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. a. Faktor internal Merupakan faktor yang berasal dari dalam diri siswa yang dapat mempengaruhi prestasi. Faktor ini dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu: 1) Faktor fisiologis Dalam hal ini yang berhubungan dengan kesehatan dan pancaindera (a) Kesehatan badan (b) Pancaindera 2) Faktor psikologis Ada banyak faktor psikologis yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa, antara lain adalah : (a) Intelligensi (b) Sikap (c) Motivasi

b. Faktor eksternal Selain faktor-faktor yang ada dalam diri siswa, ada hal lain di luar diri yang dapat mempengaruhi hasil belajar yang akan diraih, antara lain adalah : 1) Faktor lingkungan keluarga (a) Sosial ekonomi keluarga (b) Pendidikan orang tua (c) Perhatian orang tua dan suasana hubungan antara anggota keluarga 2) Faktor lingkungan sekolah (a) Sarana dan prasarana (b) Kompetensi guru dan siswa (c) Kurikulum dan metode mengajar 3) Faktor lingkungan masyarakat (a) Sosial budaya (b) Partisipasi terhadap pendidikan B. Metode Teams-Games-Tournament (TGT) 1. Pengertian Teams Games Tournaments (TGT) Menurut Slavin (2008 : 13), Teams Games Tournaments (TGT) merupakan metode pembelajaran kooperatif pertama dari John Hopkins. Siswa memainkan game ini dengan tiga orang pada mejaturnamen, dimana ketiga peserta dalam satu meja turnamen ini adalah para siswa yang memiliki rekor nilai terakhir yang sama. Dalam Teams Games Tournaments (TGT), siswa yang mempunyai kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, etnis, dan latar belakang yang berbeda tergabung dalam sebuah tim yang terdiri dari empat sampai enam siswa. Masing masing anggota tim tersebut akan dipertandingkan dengan anggota tim lainnya yang berkemampuan homogen pada meja meja turnamen. Dengan demikian,
56

memungkinkan siswa untuk belajar lebih semangat dan menimbulkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat, dan keterlibatan belajar. 2. Tahapan Pembelajaran dalam TGT Menurut Slavin (2008 : 169), tahapan pembelajaran kooperatif Teams Games Tournaments (TGT) meliputi : a) Tahap persiapan pembelajaran 1) Materi pembelajaran 2) Menetapkan tim b) Kegiatan pembelajaran 1) Pemberian materi 2) Belajar tim 3) Games tournament 3. Keuntungan dan kelemahan pembelajaran TGT Menurut G. Cole (dalam Ely, 2007 : 164), TGT mempunyai keuntungan sebagai berikut : a. Siswa lebih rileks dalam pembelajaran dan menerima metode tersebut sebagai variasi pembelajaran b. Siswa berpeluang menunjukkan kemampuannya di hadapan teman sekelas ketika melawan tim lain dalam pertandingan (turnamen) tersebut c. Metode TGT dapat meningkatkan kepekaan sosial dan kerja sama siswa dalam memecahkan masalah Sedangkan Slavin (2008 : 179) menyatakan bahwa metode TGT mempunyai kelemahan yaitu TGT tidak secara otomatis menghasilkan skor yang dapat digunakan untuk menghitung nilai individual. Nilai para siswa haruslah didasarkan pada penilaian individual lainnya, bukan pada poin-poin turnamen atau skor tim. Akan tetapi poinpoin turnamen atau skor tim dapat dijadikan sebagian kecil dari nilai mereka.

METODE PENELITIAN 1. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VI SDN 1 Tanak Beak. 2. Setting Penelitian a. PTK dilakukan pada SDN 1 Tanak Beak tahun Pelajaran 2012-2013. b. PTK dilakukan pada siswa kelas VI dengan jumlah 30 orang ( P = 17 orang ; dan L = 13 orang ) 3. Rancangan Penelitian a. Tindakan dilaksanakan dalam 3 siklus b. Kegiatan dilaksanakan dalam semester genap tahun pelajaran 2012-2013. c. Lama penelitian 6 pekan efektif dilaksanakan mulai tanggal 09 Februari 2013 sampai dengan 16 Maret 2013. d. Dalam pelaksanaan tindakan, rancangan dilakukan dalam 3 siklus yang meliputi ; (a) perencanaan, (2) tindakan, (3) pengamatan, (4) refleksi. 4. Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini terdiri dari; Variabel Peningkatan hasil belajar Harapan: Penjaskes siswa kelas VI Variabel Penerapan metode TGT. Tindakan: Adapun indikator yang diteliti dalam variabel harapan terdiri dari : 1. Kemampuan siswa dalam pelajaran Penjaskes 2. Kemampuan siswa dalam meningkatkan hasil belajar Penjaskes melalui penerapan metode TGT. 3. Keefektifan pembelajaran melalui metode TGT. Sedangkan variabel tindakan memiliki indikator sebagai berikut : 1. Tingkat kualitas perencanaan
57

2. Kualitas perangkat observasi 3. Kualitas operasional tindakan 4. Kesesuaian perencanaan dengan tindakan kelas 5. Kesesuaian teknik yang digunakan meningkatkan hasil belajar siswa. 6. Tingkat efektifitas pelaksanaan metode TGT. 7. Kemampuan siswa dan guru dalam menerapkan metode TGT. 5. Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data a. Sumber Data : Sumber data dalam penelitian ini berasal dari dua sumber yaitu : 1 Siswa: Diperoleh data tentang peningkatan hasil belajar Penjaskes kelas VI 2 Guru : Diperoleh data tentang efektivitas penerapan metode TGT. b. Teknik Pengumpulan Data: Dalam Pengumpulan data menggunakan Observasi dan Tes. 6. Indikator Keberhasilan Penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam tiga siklus dianggap sudah berhasil apabila terjadi peningkatan hasil belajar siswa apabila 85 % siswa kelas VI (kelas yang diteliti) telah mencapai ketuntasan dengan standar ideal 75. Jika peningkatan tersebut dapat dicapai pada tahap siklus 1 dan 2, maka siklus selanjutnya tidak akan dilaksanakan karena tindakan kelas yang dilakukan sudah dinilai efektif sesuai dengan harapan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan ( KTSP ). 7. Teknik Analisis Data Dalam analisis data teknik yang digunakan adalah ; a. Kuantitatif Analisis ini digunakan untuk menghitung besarnya peningkatan hasil belajar Penjaskes siswa dengan menerapkan metode TGT

dengan menggunakan prosentase (%). b. Kualitatif Teknik analisis ini digunakan untuk memberikan gambaran hasil penelitian secara ; reduksi data, sajian deskriptif, dan penarikan simpulan. 8. Jadwal Pelaksanaan Penelitian Jadwal kegiatan Penelitian dilaksanakan mulai tanggal tanggal 09 Februari 2013 16 Maret 2013 ( 6 Minggu efektif ). HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Paparan Data dan Temuan Penelitian 1. Perencanaan Tindakan Tindakan yang akan dilakukan oleh peneliti antara lain: a) Menyusun instrumen pembelajaran b) Menyusun Instrumen Monitoring c) Sosialisasi kepada siswa d) Melaksanakan tindakan dalam pembelajaran e) Melakukan refleksi f) Menyusun strategi pembelajaran pada siklus ke dua berdasar refleksi siklus pertama g) Melaksanakan pembelajaran pada siklus kedua h) Melakukan Observasi i) Melakukan refleksi pada siklus kedua j) Menyusun strategi pembelajaran pada siklus ketiga berdasar refleksi siklus kedua k) Melaksanakan pembelajaran pada siklus ketiga l) Melakukan Observasi m) Melakukan refleksi pada siklus ketiga n) Menyusun laporan

2. Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan Pelaksanaan tindakan dalam penelitian dilakukan 3 siklus yang terdiri dari enam kali pertemuan. Waktu yang digunakan setiap kali pertemuan adalah 2 x 35 menit. Siklus pertama dilaksanakan pada tanggal 09 s.d 16 Februari 2013 dan siklus kedua pada tanggal 23 Februari s.d 02 Maret 2013, dan siklus ke tiga pada tanggal 09 s.d 16 Maret 2013. SIKLUS 1 1. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, LKS 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi pengolaan pembelajaran. 2. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 09 s.d 16 Februari 2013 di SDN 1 Tanak Beak tahun pelajaran 2012-2013 dengan jumlah siswa 30 orang. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksaaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Dari hasil tes formatif yang telah dilakukan diperoleh nilai rata-rata siswa adalah 59 %. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai 65 hanya sebesar 23,33 % atau baru ada 7 siswa dari 30 siswa yang tuntas, hasil ini tentu lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85 %. Hal ini disebabkan karena siswa masih
58

merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan menggunakan metode TGT. 3. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut: a. Guru kurang baik dalam memotivasi siswa dan dalam menyampaikan tujuan pembelajaran b. Guru kurang baik dalam pengelolaan waktu c. Siswa kurang begitu antusias selama pembelajaran berlangsung. 4. Revisi Rancangan a. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada siklus I ini masih terdapat kekurangan, sehingga perlu adanya revisi untuk dilakukan pada siklus berikutnya. b. Guru perlu lebih terampil dalam memotivasi siswa dan lebih jelas dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Di mana siswa diajak untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan. c. Guru perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan menambahkan informasi-informasi yang dirasa perlu dan memberi catatan d. Guru harus lebih terampil dan bersemangat dalam memotivasi siswa sehingga siswa bisa lebih antusias. SIKLUS II 1. Tahap perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2, soal tes formatif II dan alat-alat pengajaran yang mendukung. 2. Tahap kegiatan dan pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 23 Februari s.d 02 Maret 2013 di SDN 1 Tanak Beak tahun pelajaran 2012-2013. Dalam hal ini
59

peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif II. Adapun nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 68 % dan peningkatan ketuntasan mencapai 73,33 % atau ada 22 siswa dari 30 siswa sudah tuntas belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami peningkatan cukup lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil belajar siswa ini karena setelah guru menginformasikan bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar. Selain itu siswa juga sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan diinginkan guru dalam menerapkan metode TGT. 3. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut : 1) Memotivasi siswa 2) Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep 3) Pengelolaan waktu 4. Revisi Pelaksanaaan Pelaksanaan kegiatan belajar pada siklus II ini masih terdapat kekurangan-kekurangan. Maka perlu adanya revisi untuk dilaksanakan pada siklus III antara lain: 1) Guru dalam memotivasi siswa hendaknya dapat membuat siswa

2)

3)

4)

5)

lebih termotivasi selama proses belajar mengajar berlangsung. Guru harus lebih dekat dengan siswa sehingga tidak ada perasaan takut dalam diri siswa baik untuk mengemukakan pendapat atau bertanya. Guru harus lebih sabar dalam membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep. Guru harus mendistribusikan waktu secara baik sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Guru sebaiknya menambah lebih banyak contoh soal dan memberi soal-soal latihan pada siswa untuk dikerjakan pada setiap kegiatan belajar mengajar.

SIKLUS III 1. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. 2. Tahap kegiatan dan pengamatan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus III dilaksanakan pada tanggal 09 s.d 16 Maret 2013 di SDN 1 Tanak Beak tahun pelajaran 2012-2013 dengan jumlah siswa 30 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif III.

Adapun nilai rata-rata tes formatif sebesar 75,5 % dan dari 30 siswa secara keseluruhan sudah mencapai ketuntasan dalam meningkatkan hasil belajarnya. Maka secara klasikal ketuntasan telah mencapai 100 % ( termasuk kategori tuntas ). Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan metode TGT, sehingga siswa menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam memahami materi yang telah diberikan. Di samping itu ketuntasan ini juga dipengaruhi oleh kerja sama dari siswa yang telah menguasai materi pelajaran untuk mengajari temannya yang belum menguasai. 3. Refleksi Pada tahap ini akan dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan metode TGT. Dari datadata yang telah diperoleh dapat diuraikan sebagai berikut: a. Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masingmasing aspek cukup besar. b. Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung. c. Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik. d. Hasil belajar siswa pada siklus III mencapai ketuntasan. 4. Revisi Pelaksanaan Pada siklus III guru telah menerapkan metode TGT dengan baik, dan dilihat dari aktivitas siswa serta
60

hasil belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan metode TGT, dapat meningkatkan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. B. ANALISIS HASIL KEGIATAN Analisis Data Deskriptif Kuantitatif 1. Pencapaian hasil belajar Penjaskes Kelas VI sebelum diberi tindakan 1770x 100% = 59% 3000 2. Pencapaian hasil belajar Penjaskes Kelas VI setelah diberi tindakan pengelompokan siswa berdasarkan nomor panggilan (acak berdasarkan tempat duduk ) 2040 x 100% = 68 % 3000 3. Pencapaian hasil belajar Penjaskes kelas VI setelah diberi tindakan pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan akademik 2265 x 100% = 75,5 % 3000 Dari hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa 1. Terjadi peningkatan prestasi setelah diberi tindakan yaitu 59 % menjadi 68% ada kenaikan sebesar = 9 %. 2. Dari sebelum tindakan ( siklus 1 ) dan setelah tindakan sampai dengan ( siklus 3 ) 57,71 % menjadi 68 %, dan dari ( siklus 2 ) ke ( siklus 3 ) juga ada peningkatan sebanyak 75,5 % - 68 % = 7,5 %. 3. Ketuntasan siswa sebelum diberi tindakan dari 23,33 % pada siklus I, 73,33 % pada siklus II, dan siklus III menjadi 100 %.

Refleksi dan Temuan Berdasarkan pelaksanaan tindakan maka hasil observasi nilai, hasil dapat dikatakan sebagai berikut : 1. Siklus pertama kegiatan belajarmengajar dengan menerapkan metode TGT belum berhasil karena dalam pembelajaran masih terlihat siswa yang bermain, bercerita, dan mengganggu siswa lain; 2. Pembelajaran dengan menerapkan metode TGT dalam hal peningkatan hasil belajar belum tampak, sehingga hasil yang dicapai tidak tuntas. 3. Mungkin karena proses belajar mengajar yang dilakukan adalah pembelajaran dengan metode TGT yang baru mereka laksanakan sehingga siswa merasa kaku dalam menerapkannya. 4. Akan tetapi setelah dijelaskan, mereka bisa mengerti dan buktinya pada siklus kedua dan ketiga proses kegiatan belajar - mengajar berjalan baik, semua siswa aktif dan lebih-lebih setelah ada rubrik penilaian proses, seluruh siswa langsung aktif belajar. C. Pembahasan Hasil Penelitian 1. Ketuntasan Hasil belajar Siswa Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode TGT memiliki dampak positif dalam meningkatkan hasil belajar siswa, hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru (hasil belajar meningkat dari siklus I, II, dan III ) yaitu; 59% ; 68% ; 75,5%. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai. 2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dengan metode TGT dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap
61

motivasi belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus. 3. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran Penjaskes dengan menerapkan metode TGT yang paling dominan adalah bekerja dengan menggunakan alat/media, mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif. Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah metode TGT dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul diantaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan kegiatan pembelajaran, menjelaskan, memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab di mana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar. Dari analisis data di atas bahwa pembelajaran dengan metode TGT dapat diterapkan pada pembelajaran Penjaskes kelas VI, yang berarti proses kegiatan belajar mengajar lebih berhasil dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa khususnya pada siswa kelas VI di SDN 1 Tanak Beak, oleh karena itu diharapkan kepada para guru SD dapat melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode TGT di kelas VI. Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) siswa dikatakan tuntas apabila siswa telah mencapai nilai standar ideal 75 mencapai 85 %. Sedangkan pada penilitian ini, pencapai nilai 75
62

pada (siklus 3 ) mencapai melebihi target yang ditetapkan dalam KTSP yaitu mencapai 100 %. Dengan demikian maka hipotesis yang diajukan dapat diterima. PENUTUP A. Simpulan Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Pembelajaran dengan metode TGT dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI di SDN 1 Tanak Beak mata pelajaran Penjaskes yang ditandai dengan peningkatan hasil belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu; 59% ; 68 % ; 75,5%. 2. Penerapan metode TGT pada pelajaran Penjaskes mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. 3. Penerapan metode TGT dapat meningkatkan kembali materi ajar yang telah diterima siswa selama ini, sehingga mereka merasa siap untuk menghadapi pelajaran berikutnya. B. Saran Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka disampaikan saran sebagai berikut : 1. Untuk melaksanakan pembelajaran memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan pemberian metode TGT agar diperoleh hasil yang optimal. 2. Dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa, guru hendaknya

lebih sering melatih siswa dengan kegiatan penemuan, walau dalam taraf yang sederhana, di mana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. 3. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya dilakukan di SDN 1 Tanak Beak tahun pelajaran 2012-2013. DAFTAR PUSTAKA Aends, R.I. 1997. Classroom Instruction and Management. New York: Mc Graw Hill. Dagherti, Neil .J. and Bananno Diane, 1970. Contemporary Approaches The Teaching of Physical Education, New Jersey: Burgess Publishing Company. Dahar, R.W, 1988. Teori Teori Belajar, Jakarta: Poyek PLPTK. Gunarsa, Singgih. 1995. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Penerbit PT. BPK Gunung Mulia. Hadi, S. 1985. Metodologi Research. Yogyakarta: Yayasan Penerbit. Fakultas Psikologi Universitas gajah Mada. Harsuki, 2003. Perkembangan Olahraga Terkini. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Kardi, S. 2001. Pengantar Pengajaran dan Pengelolaan kelas. Surabaya: UNESA University Press. Kirkendal, Don R. et all 1980. Measurement and Education for Physical Education, Dubugue Lowa: Wm. C, brown Company Publisher. Lutan, Rusli. 1988. Belajar Keterampilan Motorik, Pengantar Teori dan Metode. Jakarta: Proyek PLPTK. Mochtar, R. 2001. Pembelajaran Pendidikan Jasmani di SD. Makalah disajikan pada seminar.

Lokakarya Pendidikan FIK Unimed, Medan. Mutohir dan Lutan. 1996. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Jakarta: Proyek Pengembangan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Noerbai, 1997. Pendidikan Jasmani dan Olahraga. Media Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan. No. 5/TH. XXIII/1996.PP.75. Purwanto, M. N. 2000. Prinsip Prinsip dan teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: Penerbit PT. Remaja Rosdakarya. Rahantoknam, B.E. 1998. Belajar Motorik Teori dan Aplikasinya dalam Pendidikan Jasmani dan Olahraga, Jakarta: Proyek PLPTK. Ratumanan, G. 2002. Belajar dan Pembelajaran, Surabaya: Penerbit Unesa University Press. Sajoto, Much. 1988. Pembinaan Kondisi Fisik dalam Olahraga. Jakarta: Proyek PLPTK Sujana, 2001. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru Algesindo. Suparno, P. 2001. Teori Perkembangan Kognitif. Jean Piaget. Yogyakarta: PT. Kanisus. Sulaiman, D. 1988. Teknologi/Metodologi Pengajaran. Jakarta: Proyek PLPTK. Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003. Tentang Sistem

63

PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF DENGAN TEKNIK DISKUSI KELAS THINK PAIR SHARE UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR PKn KELAS IV SDN NYURLEMBANG KEC. NARMADA TAHUN PELAJARAN 2012-2013 Oleh: ARYAH AMIRUDIN PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan di kelas IV SDN Nyurlembang Kec. Narmada ternyata proses pembelajaran masih bersifat tradisional dalam arti guru menyampaikan materi pelajaran hanya dengan berceramah (teacher Centered) sehingga peran guru sangat dominan dan siswa tidak pernah terlibat langsung di dalam proses pembelajaran. Kenyataan di lapangan tersebut menjadi suatu permasalahan karena bertentangan dengan karakterisitik dalam tingkat satuan pendidikan ( KTSP ), di mana proses pembelajaran berpusat pada siswa (Student Centered) tidak berpusat pada guru (Teacher centered) sehingga fungsi guru bukan sebagai pusat informasi melainkan sebagai fasilitator dalam pembelajaran. Adanya perubahan kurikulum yang berorientasi pada kompetensi untuk mengatasi permasalah di atas mengharuskan kesadaran guru untuk mengubah cara pembelajaran tradisional menjadi model pembelajaran yang inovatif. Dan salah satu model pembelajaran yang mungkin dapat mengatasi keadaan tersebut adalah model pembelajaran kooperatif. Untuk mendukung model pembelajaran kooperatif dan konsep yang diajarkan lebih bermakna bagi siswa diperlukan suatu pendekatan.Salah satu pendekatan yang mungkin dapat diterapkan di kelas tersebut adalah penerapan metode pembelajaran kooperatif dengan teknik diskusi kelas Think Pair Share karena dalam pendekatan tersebut dapat membantu guru untuk mengaitkan antara konsep yang diajarkan dengan situasi dunia nyata sehingga siswa
64

dapat belajar berdasarkan pengalaman dari lingkungan di sekitarnya (Depdiknas, 2001: 20). Perolehan pengalaman dari lingkungan sekitar bisa diperoleh dari interaksi dengan orang lain dalam arti siswa saling bekerja sama dalam suatu kelompok. Sehingga ada kesesuaian dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share. Tujuan Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui sebagai berikut : 1. Penerapan metode pembelajaran kooperatif dengan teknik diskusi kelas Think Pair Share dalam meningkatkan hasil belajar PKn kelas IV SDN Nyurlembang Kec. Narmada tahun pelajaran 2012-2013. 2. Efektifitas penerapan metode pembelajaran kooperatif dengan teknik diskusi kelas Think Pair Share dalam meningkatkan hasil belajar PKn kelas IV SDN Nyurlembang Kec. Narmada tahun pelajaran 2012-2013. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagi Guru a) Agar Guru dapat memperbaiki mutu kinerja atau meningkatkan proses pembelajaran secara berkesinambungan. b) Mengembangkan keterampilan guru untuk menghadapi permasalahan yang nyata dalam proses pembelajaran di kelas. c) Meningkatkan profesionalisme guru.

2. Bagi Siswa a) Dapat berlatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan. b) Dapat mengembangkan kemampuan memecahkan masalah. c) Mampu menyampaikan informasi atau mengomunikasikan gagasan melalui pembicaraan lisan, catatan, diagram dalam menjelaskan gagasan. 3. Bagi Sekolah a) Membantu tanggung jawab sekolah dalam memperlancar pelaksanaan kurikulum b) Membantu sekolah dalam meningkatkan mutu lulusan. KAJIAN TEORI A. Model Pembelajaran Diskusi 1. Pengertian Pendekatan konstruktivis dalam pengajaran khusus menerapkan pembelajaran diskusi, secara ekstensif, atas dasar teori bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila mereka dapat saling berdiskusi konsep-konsep itu dengan temannya (Slavin,1995). Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa diskusi merupakan bentuk komunikasi seseorang untuk saling membagi gagasan pendapat dalam pokok bahasan tertentu. Dalam PBM, diskusi mempunyai arti suatu situasi dimana guru dengan siswa atau dengan siswa lain saling bertukar pendapat secara lisan,saling berbagi gagasan. Pertanyaan yang diajukan untuk membangkitkan diskusi berada pada tingkat kognitif yang lebih tinggi.(Arends,1997:201). Pengertian model pembelajaran diskusi menurut Arifin (1995:116) adalah terlibatnya suatu kelompok belajar
65

yang saling berinteraksi secara verbal didalam kelas,dimana interaksi yang dimaksud dapat berlangsung antara siswa dengan siswa atau siswa dengan guru. Persoalan yang patut didiskusikan hendaknya memiliki syarat-syarat seperti: a. Menarik perhatian siswa. b. Sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. c. Memilik lebih dari saru kemungkinan pemecahan atau jawaban. 2. Tujuan diskusi a. Meningkatkan kemampuan berpikir siswa dan membantu siswa membangun sendiri pemahaman materi pelajaran. b. Mendorong keterlibatan siswa mengemukakan gagasan. c. Membantu siswa belajar ketrampilan komunikasi. d. Menghormati sesama siswa belajar keterampilan komunikasi. e. Meningkatkan kemampuan memecahkan masalah. 3. Memilih Starategi Diskusi Kelas. a) Think Pair Share (berpikir, berpasangan, dan berbagi), mempunyai langkah langkah sebagai berikut : pertama berpikir ( think ) yakni, guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran yang akan diberikan dan memberikan kesempatan berpikir sebelum siswa menjawab pertanyaan. Kedua, berpasangan ( pair ) yakni, meminta siswa untuk berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang dipikirkannya, interaksi pada tahap ini dapat menyatukan jawaban dari ide mereka. Ketiga berbagi ( share ) yakni, guru meminta salah satu kelompok siswa secara

berpasangan menyampaikan jawaban permasalahan pada seluruh kelas. b) Buzz Group ( Kelompok aktif ), adalah salah satu bentuk pembelajaran yang bertujuan mengefektifkan partisipasi siswa yang dimulai dengan memberi pertanyaan kepada siswa yang telah dikelompokkan 3 sampai 6 siswa untuk berdiskusi atau membahas topik tertentu pada materi pelajaran. c) Beach Ball ( bola pantai ), teknik ini sangat efektif untuk meningkatkan partisipasi siswa yang masih muda dan untuk mengenalkan pribadi. Guru memberikan bola kepada siswa dan yang memegang bola saja yang dapat berbicara jika ingin bertanya dengan cara mengangkat tangan dan guru akan memberikan bola. 4. Kelebihan dan Kekurangan Model Diskusi Kelas. a. Kelebihan Model Pembelajaran Diskusi Kelas Kelebihan dari penerapan model pembelajaran diskusi kelas antara lain: 1) Dapat meningkatkan rasa toleransi siswa. 2) Memperluas wawasan dengan saling tukar ide. 3) Meningkatkan ketrampilan proses secara aktif. 4) Mendorong siswa untuk menemukan dan mengemukakan sendiri pendapatnya. 5) Pemahaman konsep lebih baik daripada siswa yang membaca saja dari buku ajar. 6) Mendorong siswa untuk mengidentifikasikan masalah sendiri.

7) Meningkatkan kemampuan dalam kepemimpinan, organisasi dan inisiatif. 8) Meningkatkan pemahaman terhadap nilai-nilai dari berbagai suku dan kebudayaan yang berlatar belakang berbeda. b. Kekurangan Model Diskusi Kelas. Model pembelajaran diskusi yang digunakan oleh guru karena ditinjau dari aspek : 1) Posisi tempat duduk yang sukar diatur pada kelas dengan meja yang berat. 2) Dari segi waktu banyak menyita waktu pembelajaran sesuai kurikulum. B. Hasil belajar Siswa 1. Pengertian Hasil Belajar Hasil belajar adalah hasil atau akibat dari kegiatan belajar. Untuk mengetahui tentang hasil belajar perlu dijelaskan tentang hakekat belajar. Belajar merupakan suatu proses yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman (Slameto,1991). Di mana perubahan itu bersifat kontinyu dan fungsional, terjadi secar sadar, bersifat positif dan aktif, bukan bersifat sementara, bertujuan atau terarah, dan mencakup seluruh aspek tingkah laku yang selanjutnya dinamakan hasil belajar. Dan hasil belajar tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk hasil belajar. Menurut Abu Ahmadi (2001), belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri
66

dalam interaksinya dengan lingkungan. Berdasarkan pengertian belajar di atas, maka dapat didefinisikan tentang hasil belajar, yaitu tingkat keberhasilan yang dicapai siswa berupa ketrampilan dan pengetahuan berdasarkan hasil tes atau evaluasi setelah pelaksanaan proses belajar mengajar. 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar Nasution (2001: 344) pada penelitiannya menyimpulkan bahwa secara garis besar faktorfaktor yang mempengaruhi belajar dan hasil belajar dapat digolongkan menjadi dua bagian, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. a. Faktor internal Merupakan faktor yang berasal dari dalam diri siswa yang dapat mempengaruhi prestasi. Faktor ini dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu: 1) Faktor fisiologis Dalam hal ini yang berhubungan dengan kesehatan dan pancaindera (c) Kesehatan badan (d) Pancaindera 2) Faktor psikologis Ada banyak faktor psikologis yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa, antara lain adalah : (d) Intelligensi (e) Sikap (f) Motivasi b. Faktor eksternal Selain faktor-faktor yang ada dalam diri siswa, ada hal lain di luar diri yang dapat mempengaruhi hasil belajar yang akan diraih, antara lain adalah : 1) Faktor lingkungan keluarga (a) Sosial ekonomi keluarga (b) Pendidikan orang tua
67

(c) Perhatian orang tua dan suasana hubungan antara anggota keluarga 2) Faktor lingkungan sekolah (a) Sarana dan prasarana (b) Kompetensi guru dan siswa (c) Kurikulum dan metode mengajar 3) Faktor lingkungan masyarakat (a) Sosial budaya (b) Partisipasi terhadap pendidikan METODE PENELITIAN 1. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Nyurlembang Kec. Narmada. 2. Setting Penelitian a. PTK dilakukan pada SDN Nyurlembang Kec. Narmada tahun Pelajaran 2012-2013. b. PTK dilakukan pada siswa kelas IV dengan jumlah 27 orang ( P = 12 orang ; dan L = 15 orang ) 3. Rancangan Penelitian a. Tindakan dilaksanakan dalam 3 siklus b. Kegiatan dilaksanakan dalam semester genap tahun pelajaran 2012-2013. c. Lama penelitian 6 pekan efektif dilaksanakan mulai tanggal 20 Februari 2013 sampai dengan 27 Maret 2013. d. Dalam pelaksanaan tindakan, rancangan dilakukan dalam 3 siklus yang meliputi ; (a) perencanaan, (2) tindakan, (3) pengamatan, (4) refleksi. 4. Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini terdiri dari; Variabel Peningkatan hasil belajar Harapan: PKn siswa kelas IV

Variabel Penerapan metode Tindakan: pembelajaran kooperatif dengan teknik diskusi kelas Think Pair Share. Adapun indikator yang diteliti dalam variabel harapan terdiri dari : 1. Kemampuan siswa dalam pelajaran PKn 2. Kemampuan siswa dalam meningkatkan hasil belajar PKn melalui penerapan metode pembelajaran kooperatif dengan teknik diskusi kelas Think Pair Share. 3. Keefektifan pembelajaran melalui metode pembelajaran kooperatif dengan teknik diskusi kelas Think Pair Share. Sedangkan variabel tindakan memiliki indikator sebagai berikut : 1. Tingkat kualitas perencanaan 2. Kualitas perangkat observasi 3. Kualitas operasional tindakan 4. Kesesuaian perencanaan dengan tindakan kelas 5. Kesesuaian teknik yang digunakan meningkatkan hasil belajar siswa. 6. Tingkat efektifitas pelaksanaan metode pembelajaran kooperatif dengan teknik diskusi kelas Think Pair Share. 7. Kemampuan siswa dan guru dalam menerapkan metode pembelajaran kooperatif dengan teknik diskusi kelas Think Pair Share. 5. Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data a. Sumber Data : Sumber data dalam penelitian ini berasal dari dua sumber yaitu : 1 Siswa: Diperoleh data tentang peningkatan hasil belajar PKn kelas IV 2 Guru : Diperoleh data tentang efektivitas penerapan metode pembelajaran kooperatif dengan teknik diskusi kelas Think Pair Share.
68

b. Teknik Pengumpulan Data: Dalam Pengumpulan data menggunakan Observasi dan Tes. 6. Indikator Keberhasilan Penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam tiga siklus dianggap sudah berhasil apabila terjadi peningkatan hasil belajar siswa apabila 85 % siswa kelas IV (kelas yang diteliti) telah mencapai ketuntasan dengan standar ideal 75. Jika peningkatan tersebut dapat dicapai pada tahap siklus 1 dan 2, maka siklus selanjutnya tidak akan dilaksanakan karena tindakan kelas yang dilakukan sudah dinilai efektif sesuai dengan harapan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan ( KTSP ). 7. Teknik Analisis Data Dalam analisis data teknik yang digunakan adalah ; a. Kuantitatif Analisis ini digunakan untuk menghitung besarnya peningkatan hasil belajar PKn siswa dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif dengan teknik diskusi kelas Think Pair Share dengan menggunakan prosentase (%). b. Kualitatif Teknik analisis ini digunakan untuk memberikan gambaran hasil penelitian secara ; reduksi data, sajian deskriptif, dan penarikan simpulan. 8. Jadwal Pelaksanaan Penelitian Jadwal kegiatan Penelitian dilaksanakan mulai tanggal tanggal 20 Februari 2013 27 Maret 2013 ( 6 Minggu efektif ). HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Paparan Data dan Temuan Penelitian 1. Perencanaan Tindakan Tindakan yang akan dilakukan oleh peneliti antara lain:

a) Menyusun instrumen pembelajaran b) Menyusun Instrumen Monitoring c) Sosialisasi kepada siswa d) Melaksanakan tindakan dalam pembelajaran e) Melakukan refleksi f) Menyusun strategi pembelajaran pada siklus ke dua berdasar refleksi siklus pertama g) Melaksanakan pembelajaran pada siklus kedua h) Melakukan Observasi i) Melakukan refleksi pada siklus kedua j) Menyusun strategi pembelajaran pada siklus ketiga berdasar refleksi siklus kedua k) Melaksanakan pembelajaran pada siklus ketiga l) Melakukan Observasi m) Melakukan refleksi pada siklus ketiga n) Menyusun laporan 2. Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan Pelaksanaan tindakan dalam penelitian dilakukan 3 siklus yang terdiri dari enam kali pertemuan. Waktu yang digunakan setiap kali pertemuan adalah 2 x 35 menit. Siklus pertama dilaksanakan pada tanggal 20 s.d 27 Februari 2013 dan siklus kedua pada tanggal 06 s.d 13 Maret 2013, dan siklus ke tiga pada tanggal 20 s.d 27 Maret 2013. SIKLUS 1 1. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, LKS 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi pengolaan pembelajaran.
69

2. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 20 s.d 27 Februari 2013 di SDN Nyurlembang Kec. Narmada tahun pelajaran 2012-2013 dengan jumlah siswa 27 orang. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksaaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Dari hasil tes formatif yang telah dilakukan diperoleh nilai rata-rata siswa adalah 58,70 %. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai 65 hanya sebesar 25,93 % atau baru ada 7 siswa dari 27 siswa yang tuntas, hasil ini tentu lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85 %. Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif dengan teknik diskusi kelas Think Pair Share. 3. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut: a. Guru kurang baik dalam memotivasi siswa dan dalam menyampaikan tujuan pembelajaran b. Guru kurang baik dalam pengelolaan waktu c. Siswa kurang begitu antusias selama pembelajaran berlangsung. 4. Revisi Rancangan a. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada siklus I ini masih terdapat kekurangan, sehingga

perlu adanya revisi untuk dilakukan pada siklus berikutnya. b. Guru perlu lebih terampil dalam memotivasi siswa dan lebih jelas dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Di mana siswa diajak untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan. c. Guru perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan menambahkan informasi-informasi yang dirasa perlu dan memberi catatan d. Guru harus lebih terampil dan bersemangat dalam memotivasi siswa sehingga siswa bisa lebih antusias. SIKLUS II 1. Tahap perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2, soal tes formatif II dan alat-alat pengajaran yang mendukung. 2. Tahap kegiatan dan pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 06 s.d 13 Maret 2013 di SDN Nyurlembang Kec. Narmada tahun pelajaran 2012-2013. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif II. Adapun nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 68,52 % dan peningkatan ketuntasan mencapai
70

77,78 % atau ada 21 siswa dari 27 siswa sudah tuntas belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami peningkatan cukup lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil belajar siswa ini karena setelah guru menginformasikan bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar. Selain itu siswa juga sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan diinginkan guru dalam menerapkan metode pembelajaran kooperatif dengan teknik diskusi kelas Think Pair Share. 3. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut : 1) Memotivasi siswa 2) Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep 3) Pengelolaan waktu 4. Revisi Pelaksanaaan Pelaksanaan kegiatan belajar pada siklus II ini masih terdapat kekurangan-kekurangan. Maka perlu adanya revisi untuk dilaksanakan pada siklus III antara lain: 1) Guru dalam memotivasi siswa hendaknya dapat membuat siswa lebih termotivasi selama proses belajar mengajar berlangsung. 2) Guru harus lebih dekat dengan siswa sehingga tidak ada perasaan takut dalam diri siswa baik untuk mengemukakan pendapat atau bertanya. 3) Guru harus lebih sabar dalam membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep. 4) Guru harus mendistribusikan waktu secara baik sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. 5) Guru sebaiknya menambah lebih banyak contoh soal dan memberi soal-soal latihan pada siswa untuk

dikerjakan pada setiap kegiatan belajar mengajar. SIKLUS III 1. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. 2. Tahap kegiatan dan pengamatan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus III dilaksanakan pada tanggal 20 s.d 27 Maret 2013 di SDN Nyurlembang Kec. Narmada tahun pelajaran 2012-2013 dengan jumlah siswa 27 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif III. Adapun nilai rata-rata tes formatif sebesar 81,56 % dan dari 27 hanya ada 2 siswa yang belum tuntas dalam meningkatkan hasil belajarnya. Maka secara klasikal ketuntasan mencapai 92,59 % ( termasuk kategori tuntas ). Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan metode pembelajaran kooperatif dengan teknik diskusi kelas Think Pair Share, sehingga siswa menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam
71

memahami materi yang telah diberikan. Di samping itu ketuntasan ini juga dipengaruhi oleh kerja sama dari siswa yang telah menguasai materi pelajaran untuk mengajari temannya yang belum menguasai. 3. Refleksi Pada tahap ini akan dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan metode pembelajaran kooperatif dengan teknik diskusi kelas Think Pair Share. Dari data-data yang telah diperoleh dapat diuraikan sebagai berikut: a. Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masingmasing aspek cukup besar. b. Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung. c. Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik. d. Hasil belajar siswa pada siklus III mencapai ketuntasan. 4. Revisi Pelaksanaan Pada siklus III guru telah menerapkan metode pembelajaran kooperatif dengan teknik diskusi kelas Think Pair Share dengan baik, dan dilihat dari aktivitas siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan metode pembelajaran kooperatif dengan teknik diskusi kelas Think Pair Share, dapat

meningkatkan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. B. ANALISIS HASIL KEGIATAN Analisis Data Deskriptif Kuantitatif 1. Pencapaian hasil belajar PKn Kelas IV sebelum diberi tindakan 1585x 100% = 58,70% 2700 2. Pencapaian hasil belajar PKn Kelas IV setelah diberi tindakan pengelompokan siswa berdasarkan nomor panggilan (acak berdasarkan tempat duduk ) 2165 x 100% = 68,52 % 2700 3. Pencapaian hasil belajar PKn kelas IV setelah diberi tindakan pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan akademik 2202 x 100% = 81,56 % 2700 Dari hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa 1. Terjadi peningkatan prestasi setelah diberi tindakan yaitu 58,70 % menjadi 68,52% ada kenaikan sebesar = 9,82 %. 2. Dari sebelum tindakan ( siklus 1 ) dan setelah tindakan sampai dengan ( siklus 3 ) 57,71 % menjadi 68,52 %, dan dari ( siklus 2 ) ke ( siklus 3 ) juga ada peningkatan sebanyak 81,56 % - 68,52 % = 13,04 %. 3. Ketuntasan siswa sebelum diberi tindakan dari 25,93 % pada siklus I, 77,78 % pada siklus II, dan siklus III menjadi 92,59 %. Refleksi dan Temuan Berdasarkan pelaksanaan tindakan maka hasil observasi nilai, hasil dapat dikatakan sebagai berikut : 1. Siklus pertama kegiatan belajarmengajar dengan menerapkan metode Think Pair Share belum berhasil karena dalam pembelajaran masih terlihat siswa yang bermain, bercerita, dan mengganggu siswa lain;
72

2. Pembelajaran dengan menerapkan metode Think Pair Share dalam hal peningkatan hasil belajar belum tampak, sehingga hasil yang dicapai tidak tuntas. 3. Mungkin karena proses belajar mengajar yang dilakukan adalah pembelajaran dengan metode Think Pair Share yang baru mereka laksanakan sehingga siswa merasa kaku dalam menerapkannya. 4. Akan tetapi setelah dijelaskan, mereka bisa mengerti dan buktinya pada siklus kedua dan ketiga proses kegiatan belajar - mengajar berjalan baik, semua siswa aktif dan lebih-lebih setelah ada rubrik penilaian proses, seluruh siswa langsung aktif belajar. C. Pembahasan Hasil Penelitian 1. Ketuntasan Hasil belajar Siswa Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode Think Pair Share memiliki dampak positif dalam meningkatkan hasil belajar siswa, hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru (hasil belajar meningkat dari siklus I, II, dan III ) yaitu; 58,70% ; 68,52% ; 81,56%. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai. 2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dengan metode Think Pair Share dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap motivasi belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai ratarata siswa pada setiap siklus. 3. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam

proses pembelajaran PKn dengan menerapkan metode Think Pair Share yang paling dominan adalah bekerja dengan menggunakan alat/media,mendengarkan/memper hatikan penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif. Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah metode Think Pair Share dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul diantaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan kegiatan pembelajaran, menjelaskan, memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab di mana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar. Dari analisis data di atas bahwa pembelajaran dengan metode Think Pair Share dapat diterapkan pada pembelajaran PKn kelas IV, yang berarti proses kegiatan belajar mengajar lebih berhasil dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa khususnya pada siswa kelas IV di SDN Nyurlembang Kec. Narmada, oleh karena itu diharapkan kepada para guru SD dapat melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode Think Pair Share di kelas IV. Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) siswa dikatakan tuntas apabila siswa telah mencapai nilai standar ideal 75 mencapai 85 %. Sedangkan pada penilitian ini, pencapai nilai 75 pada (siklus 3 ) mencapai melebihi target yang ditetapkan dalam KTSP yaitu mencapai 100 %. Dengan demikian maka hipotesis yang diajukan dapat diterima.

PENUTUP A. Simpulan Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Pembelajaran dengan metode kooperatif dengan teknik diskusi kelas Think Pair Share dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV di SDN Nyurlembang Kec. Narmada mata pelajaran PKn yang ditandai dengan peningkatan hasil belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu; 58,70% ; 68,52 % ; 81,56%. 2. Penerapan metode pembelajaran kooperatif dengan teknik diskusi kelas Think Pair Share pada pelajaran PKn mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. 3. Penerapan metode pembelajaran kooperatif dengan teknik diskusi kelas Think Pair Share dapat meningkatkan kembali materi ajar yang telah diterima siswa selama ini, sehingga mereka merasa siap untuk menghadapi pelajaran berikutnya. B. Saran Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka disampaikan saran sebagai berikut : 1. Untuk melaksanakan pembelajaran memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan pemberian metode kooperatif teknik diskusi kelas Think Pair Share agar diperoleh hasil yang optimal.
73

2. Dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan kegiatan penemuan, walau dalam taraf yang sederhana, di mana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. 3. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya dilakukan di SDN Nyurlembang Kec. Narmada tahun pelajaran 2012-2013.

DAFTAR PUSTAKA Arikunto,Suharsimi dkk,2007.Penelitian Tindakan Kelas.Jakarta : PT.Bumi Aksara Depdiknas Dirjen Dikdasmen Direktorat Tenaga Kependidikan, 2001, Menganalisis Hasil Belajar / Bimbingan siswa, Guru, dan Sumber daya Pendidikan. Jakarta. Depdikdasmen Dirjen Dikdamen Direktorat Pendidikan lanjutan Pertama, 2004. Materi Pelatihan Terintegrasi PKn. Jakarta. Depdikdas, 2003. Kurikulum 2004 : Standar Kompetensi Mata Pelajaran PKn. Jakarta. Nurhadi & Agus Gerrard Senduk. 2003. Pembelajaran Konterkstual dan Penerapannya dalam KBK .Malang : Universitas Negeri Malang. Tim Pelatih LPMPK, 2006. Kumpulan Materi Pelatihan Tindakan Kelas (PTK) dan Penulisan Artikel untuk Jurnal Ilmiah bagi Guru. Jember LAKPESDAM, Vol. 2, No. 1, Februari 2007

74

PENINGKATAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF DENGAN PENDEKATAN STRUKTUR DI KELAS V SDN KERU NARMA TAHUN PELAJARAN 2011-2012 Oleh: H. M. HUSRIN PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Sekolah memiliki peranan dan tanggung jawab yang sangat penting dalam mempersiapkan warga negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Upaya yang dapat dilakukan adalah menyelenggarakan program pendidikan yang memberikan berbagai kemampuan sebagai seorang warga negara melalui berbagai mata pelajaran termasuk salah satunya Pendidikan Kewarganegaraan. Kemampuan dasar, materi pokok, dan indikator pencapaian hasil belajar yang dicantumkan dalam Standar Nasional merupakan bahan minimal yang harus dikuasai siswa. Oleh karena itu, daerah sekolah atau guru dapat mengembangkan, menggabungkan, atau menyesuaikan bahan yang disajikan dengan situasi dan kondisi setempat. Realitanya hasil belajar siswa dalam materi Pendidikan Kewarganegaraan belum menunjukkan hasil yang diinginkan. Kondisi rendahnya hasil belajar siswa dalam materi Pendidikan Kewarganegeraan tercermin dalam hasil belajar siswa pada siswa kelas V SDN Keru Narma. Hal itu dapat diketahui dari rata-rata nilai harian siswa. Pada tiga kali ulangan harian yang diadakan guru menunjukkan rata-rata kurang dari nilai 70. Dari ulangan harian yang pernah dilakukan, lebih dari 60 % siswa mendapatkan nilai di bawah 70,00. Angkaangka tersebut dapat diartikan, bahwa pemahaman siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan tersebut relatif masih rendah. Dengan kata lain, pemahaman siswa SDN Keru Narma
75

terhadap mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang diajarkan mencapai baru tercapai sekitar 40 persen. Berdasarkan kenyataan yang ada maka peneliti selaku guru Pendidikan Kewarganegaraan di SDN Keru Narma mengadakan Penelitian Tindakan Kelas untuk memperbaiki strategi pembelajaran yang dapat motivasi dan aktifitas belajar siswa, sehingga hasil belajar siswa akan meningkat. Salah satu model pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan aktivitas belajar siswa adalah melalui pembelajaran kooperatif dengan pendekatan struktur. Tujuan Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui sebagai berikut : 1. Peningkatan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan melalui pembelajaran kooperatif dengan pendekatan struktur di kelas V SDN Keru Narma tahun pelajaran 20112012. 2. Efektivitas pembelajaran kooperatif dengan pendekatan struktur dalam meningkatkan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan kelas V SDN Keru Narma Tahun Pelajaran 2011-2012. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Memberi bahan pertimbangan bagi guru mengenai metode pengajaran yang tepat untuk meningkatkan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan siswa. 2. Sebagai bahan pemikiran baru bagi lembaga pendidikan khususnya

Pendidikan Kewarganegaraan dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa. 3. Sebagai acuan bagi penelitian selanjutnya untuk materi Pendidikan Kewarganegaraan yang lain. KAJIAN TEORI A. Hasil belajar Siswa 1. Pengertian Hasil Belajar Hasil belajar adalah hasil atau akibat dari kegiatan belajar. Untuk mengetahui tentang hasil belajar perlu dijelaskan tentang hakekat belajar. Belajar merupakan suatu proses yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman (Slameto,1991). Di mana perubahan itu bersifat kontinyu dan fungsional, terjadi secar sadar, bersifat positif dan aktif, bukan bersifat sementara, bertujuan atau terarah, dan mencakup seluruh aspek tingkah laku yang selanjutnya dinamakan hasil belajar. Dan hasil belajar tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk hasil belajar. Menurut Abu Ahmadi (2001), belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Berdasarkan pengertian belajar di atas, maka dapat didefinisikan tentang hasil belajar, yaitu tingkat keberhasilan yang dicapai siswa berupa ketrampilan dan pengetahuan berdasarkan hasil tes atau evaluasi setelah pelaksanaan proses belajar mengajar.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar Nasution (2001: 344) pada penelitiannya menyimpulkan bahwa secara garis besar faktorfaktor yang mempengaruhi belajar dan hasil belajar dapat digolongkan menjadi dua bagian, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. a. Faktor internal Merupakan faktor yang berasal dari dalam diri siswa yang dapat mempengaruhi prestasi. Faktor ini dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu: 1) Faktor fisiologis Dalam hal ini yang berhubungan dengan kesehatan dan pancaindera (a) Kesehatan badan (b) Pancaindera 2) Faktor psikologis Ada banyak faktor psikologis yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa, antara lain adalah : (a) Intelligensi (b) Sikap (c) Motivasi b. Faktor eksternal Selain faktor-faktor yang ada dalam diri siswa, ada hal lain di luar diri yang dapat mempengaruhi hasil belajar yang akan diraih, antara lain adalah : 1) Faktor lingkungan keluarga (a) Sosial ekonomi keluarga (b) Pendidikan orang tua (c) Perhatian orang tua dan suasana hubungan antara anggota keluarga 2) Faktor lingkungan sekolah (a) Sarana dan prasarana (b) Kompetensi guru dan siswa (c) Kurikulum dan metode mengajar 3) Faktor lingkungan masyarakat (a) Sosial budaya
76

(b) Partisipasi pendidikan

terhadap

B. Hakekat Pendidikan Kewarganegaraan Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu mata pelajaran yang dapat membentuk diri yang beragam dari segi agama, sosiokultural, bahasa, usia, untuk menjadi warga negara yang cerdas, terampil dan berkarakter yang dilandasi oleh UUD 1945 (Sudjana, 2003: 4). Pendidikan Kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang secara umum bertujuan untuk mengembangkan potensi individu warga negara Indonesia, sehingga memiliki wawasan, sikap, dan keterampilan kewarganegaraan yang memadai dan memungkinkan untuk berpartisipasi secara cerdas dan bertanggung jawab dalam berbagai kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (Sudjatmiko, 2008: 12). Berdasarkan pendapat di atas jelas bagi kita bahwa Pendidikan Kewarganegaraan bertujuan mengembangkan potensi individu warga negara, dengan demikian maka seorang guru Pendidikan Kewarganegaraan haruslah menjadi guru yang berkualitas dan profesional, sebab jika guru tidak berkualitas tentu tujuan Pendidikan Kewarganegaraan itu sendiri tidak tercapai. Secara garis besar mata pelajaran Kewarganegaraan memiliki 3 dimensi yaitu : 1. Dimensi Pengetahuan Kewarganegaraan (Civics Knowledge) yang mencakup bidang politik, hukum dan moral 2. Dimensi Keterampilan Kewarganegaraan (Civics Skills) meliputi keterampilan partisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 3. Dimensi Nilai-nilai Kewarganegaraan (Civics Values)
77

mencakup antara lain percaya diri, penguasaan atas nilai religius, norma dan moral luhur. (Sudjana, 2003: 4) C. Pendekatan Struktur Struktur adalah suatu pendekatan belajar menurut teori belajar Piaget. Menurut Piaget, manusia memiliki struktur kognitif yang berupa skemata, yaitu kotak-kotak informasi (skema) yang berbeda-beda. Setiap pengalaman akan dihubungkan dengan kotak-kotak informasi ini. Struktur kognitif seseorang berkembang melalui dua cara, yaitu asimilasi dan akomodasi, sebagai hasil interaksinya dengan lingkungan. Asimilasi adalah proses memasukkan pengalaman baru secara langsung ke dalam kotak informasi yang sudah ada. Ini terjadi bila pengalaman baru itu sama dengan isi kotak informasi yang tersimpan dalam struktur kognitif seseorang. Akomodasi adalah proses memasukkan pengalaman baru secara tidak langsung ke dalam kotak informasi yang sudah ada. Ini terjadi bila pengalaman baru tidak sesuai dengan informasi yang sudah ada, dalam hal ini informasi yang sudah tersimpan dalam struktur kognitif seseorang akan mengalami modifikasi. Karakteristik utama belajar menurut pendekatan struktur adalah sebagai berikut (Mustaji dan Sugiarso, 2005). 1. Belajar adalah proses aktif dan terkontrol yang maknanya dikonstruksi oleh masing-masing individu; 2. Belajar adalah aktivitas sosial yang ditemukan dalam kegiatan bersama dan memiliki sudut pandang yang berbeda; dan 3. Belajar melekat dalam pembangunan suatu artifak yang dilakukan dengan saling berbagi dan dikritik oleh teman sebaya.

Berdasarkan karakteristik belajar di atas, beberapa prinsip pembelajaran menurut pendekatan struktur adalah sebagai berikut: 1. Menciptakan lingkungan dunia nyata dengan menggunakan konteks yang relevan; 2. Menekankan pendekatan realistik guna memecahkan masalah dunia nyata; 3. Analisis strategi yang dipakai untuk memecahkan masalah dilakukan oleh siswa; 4. Tujuan pembelajaran tidak dipaksakan tetapi dinegosiasikan bersama; 5. Menekankan antar hubungan konseptual dan menyediakan perspektif ganda mengenai isi; 6. Evaluasi harus merupakan alat analisis diri sendiri; 7. Menyediakan alat dan lingkungan yang membantu siswa menginterpretasikan perspektif ganda tentang dunia; dan 8. Belajar harus dikontrol secara internal oleh siswa sendiri dan dimediasi oleh guru. Adapun prinsip-prinsip struktur yang banyak digunakan dalam pembelajaran antara lain (Hadi, 2005): 1. Pengetahuan dibangun sendiri oleh siswa, baik secara personal maupun sosial; 2. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke siswa; 3. Pengetahuan diperoleh siswa hanya dengan keaktifan sendiri; 4. Siswa terus aktif mengkonstruksi pengetahuannya sehingga konsep yang dimilikinya menjadi semakin rinci, lengkap, dan ilmiah; 5. Guru hanya menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi berjalan mulus. METODE PENELITIAN 1. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Keru Narma.
78

2. Setting Penelitian a. PTK dilakukan pada SDN Keru Narma tahun Pelajaran 2011-2012. b. PTK dilakukan pada siswa kelas V dengan jumlah 34 orang ( P = 22 orang ; dan L = 12 orang ) 3. Rancangan Penelitian a. Tindakan dilaksanakan dalam 3 siklus b. Kegiatan dilaksanakan dalam semester genap tahun pelajaran 2011-2012. c. Lama penelitian 6 pekan efektif dilaksanakan mulai tanggal 20 Februari 2012 sampai dengan 27 Maret 2012. d. Dalam pelaksanaan tindakan, rancangan dilakukan dalam 3 siklus yang meliputi ; (a) perencanaan, (2) tindakan, (3) pengamatan, (4) refleksi. 4. Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini terdiri dari; Variabel Peningkatan hasil belajar Harapan: Pendidikan Kewarganegaraan siswa kelas V Variabel Penerapan metode Tindakan: kooperatif dengan pendekatan struktur. Adapun indikator yang diteliti dalam variabel harapan terdiri dari : 1. Kemampuan siswa dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan 2. Kemampuan siswa dalam meningkatkan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan melalui penerapan metode kooperatif dengan pendekatan struktur. 3. Keefektifan pembelajaran melalui metode kooperatif dengan pendekatan struktur.

Sedangkan variabel tindakan memiliki indikator sebagai berikut : 1. Tingkat kualitas perencanaan 2. Kualitas perangkat observasi 3. Kualitas operasional tindakan 4. Kesesuaian perencanaan dengan tindakan kelas 5. Kesesuaian teknik yang digunakan meningkatkan hasil belajar siswa. 6. Tingkat efektifitas pelaksanaan metode kooperatif dengan pendekatan struktur. 7. Kemampuan siswa dan guru dalam menerapkan metode kooperatif dengan pendekatan struktur. 5. Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data a. Sumber Data : Sumber data dalam penelitian ini berasal dari dua sumber yaitu : 1 Siswa: Diperoleh data tentang peningkatan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan kelas V 2 Guru : Diperoleh data tentang efektivitas penerapan metode kooperatif dengan pendekatan struktur b. Teknik Pengumpulan Data: Dalam Pengumpulan data menggunakan Observasi dan Tes. 6. Indikator Keberhasilan Penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam tiga siklus dianggap sudah berhasil apabila terjadi peningkatan hasil belajar siswa apabila 85 % siswa kelas V (kelas yang diteliti) telah mencapai ketuntasan dengan standar ideal 75. Jika peningkatan tersebut dapat dicapai pada tahap siklus 1 dan 2, maka siklus selanjutnya tidak akan dilaksanakan karena tindakan kelas yang dilakukan sudah dinilai efektif sesuai dengan harapan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan ( KTSP ).

7. Teknik Analisis Data Dalam analisis data teknik yang digunakan adalah ; a. Kuantitatif Analisis ini digunakan untuk menghitung besarnya peningkatan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan siswa dengan menerapkan pendekatan struktur dengan menggunakan prosentase (%). b. Kualitatif Teknik analisis ini digunakan untuk memberikan gambaran hasil penelitian secara ; reduksi data, sajian deskriptif, dan penarikan simpulan. 8. Jadwal Pelaksanaan Penelitian Jadwal kegiatan Penelitian dilaksanakan mulai tanggal tanggal 20 Februari 2012 27 Maret 2012 ( 6 Minggu efektif ). HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Paparan Data dan Temuan Penelitian 1. Perencanaan Tindakan Tindakan yang akan dilakukan oleh peneliti antara lain: a) Menyusun instrumen pembelajaran b) Menyusun Instrumen Monitoring c) Sosialisasi kepada siswa d) Melaksanakan tindakan dalam pembelajaran e) Melakukan refleksi f) Menyusun strategi pembelajaran pada siklus ke dua berdasar refleksi siklus pertama g) Melaksanakan pembelajaran pada siklus kedua h) Melakukan Observasi i) Melakukan refleksi pada siklus kedua j) Menyusun strategi pembelajaran pada siklus ketiga berdasar refleksi siklus kedua
79

k) Melaksanakan pembelajaran pada siklus ketiga l) Melakukan Observasi m) Melakukan refleksi pada siklus ketiga n) Menyusun laporan 2. Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan Pelaksanaan tindakan dalam penelitian dilakukan 3 siklus yang terdiri dari enam kali pertemuan. Waktu yang digunakan setiap kali pertemuan adalah 2 x 35 menit. Siklus pertama dilaksanakan pada tanggal 20 s.d 27 Februari 2012 dan siklus kedua pada tanggal 06 s.d 13 Maret 2012, dan siklus ke tiga pada tanggal 20 s.d 27 Maret 2012. SIKLUS 1 1. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, LKS 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi pengolaan pembelajaran. 2. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 20 s.d 27 Februari 2012 di SDN Keru Narma tahun pelajaran 2011-2012 dengan jumlah siswa 34 orang. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksaaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Dari hasil tes formatif yang telah dilakukan diperoleh nilai rata-rata siswa adalah 61,91 %. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum
80

tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai 65 hanya sebesar 47,06 % atau baru ada 16 siswa dari 34 siswa yang tuntas, hasil ini tentu lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85 %. Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan pendekatan struktur. 3. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut: a. Guru kurang baik dalam memotivasi siswa dan dalam menyampaikan tujuan pembelajaran b. Guru kurang baik dalam pengelolaan waktu c. Siswa kurang begitu antusias selama pembelajaran berlangsung. 4. Revisi Rancangan a. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada siklus I ini masih terdapat kekurangan, sehingga perlu adanya revisi untuk dilakukan pada siklus berikutnya. b. Guru perlu lebih terampil dalam memotivasi siswa dan lebih jelas dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Di mana siswa diajak untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan. c. Guru perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan menambahkan informasi-informasi yang dirasa perlu dan memberi catatan d. Guru harus lebih terampil dan bersemangat dalam memotivasi siswa sehingga siswa bisa lebih antusias. SIKLUS II 1. Tahap perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana

pelajaran 2, soal tes formatif II dan alat-alat pengajaran yang mendukung. 2. Tahap kegiatan dan pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 06 s.d 13 Maret 2012 di SDN Keru Narma tahun pelajaran 2011-2012. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif II. Adapun nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 68,53 % dan peningkatan ketuntasan mencapai 82,35% atau ada 28 siswa dari 34 siswa sudah tuntas belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami peningkatan cukup lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil belajar siswa ini karena setelah guru menginformasikan bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar. Selain itu siswa juga sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan diinginkan guru dalam menerapkan metode kooperatif dengan pendekatan struktur. 3. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut : 1) Memotivasi siswa 2) Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep 3) Pengelolaan waktu
81

4. Revisi Pelaksanaaan Pelaksanaan kegiatan belajar pada siklus II ini masih terdapat kekurangan-kekurangan. Maka perlu adanya revisi untuk dilaksanakan pada siklus III antara lain: 1) Guru dalam memotivasi siswa hendaknya dapat membuat siswa lebih termotivasi selama proses belajar mengajar berlangsung. 2) Guru harus lebih dekat dengan siswa sehingga tidak ada perasaan takut dalam diri siswa baik untuk mengemukakan pendapat atau bertanya. 3) Guru harus lebih sabar dalam membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep. 4) Guru harus mendistribusikan waktu secara baik sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. 5) Guru sebaiknya menambah lebih banyak contoh soal dan memberi soal-soal latihan pada siswa untuk dikerjakan pada setiap kegiatan belajar mengajar. SIKLUS III 1. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. 2. Tahap kegiatan dan pengamatan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus III dilaksanakan pada tanggal 20 s.d 27 Maret 2012 di SDN Keru Narma tahun pelajaran 2011-2012 dengan jumlah siswa 34 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar

mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif III. Adapun nilai rata-rata tes formatif sebesar 80,29 % dan dari 34 siswa semuanya telah mencapai ketuntasan. Maka secara klasikal ketuntasan mencapai 100 % ( termasuk kategori tuntas ). Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan metode kooperatif dengan pendekatan struktur, sehingga siswa menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam memahami materi yang telah diberikan. Di samping itu ketuntasan ini juga dipengaruhi oleh kerja sama dari siswa yang telah menguasai materi pelajaran untuk mengajari temannya yang belum menguasai. 3. Refleksi Pada tahap ini akan dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan pendekatan struktur. Dari data-data yang telah diperoleh dapat diuraikan sebagai berikut: a. Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masingmasing aspek cukup besar. b. Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung. c. Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik.
82

d. Hasil belajar siswa pada siklus III mencapai ketuntasan. 4. Revisi Pelaksanaan Pada siklus III guru telah menerapkan metode kooperatif dengan pendekatan struktur dengan baik, dan dilihat dari aktivitas siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan metode kooperatif dengan pendekatan struktur, dapat meningkatkan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. B. ANALISIS HASIL KEGIATAN Analisis Data Deskriptif Kuantitatif 1. Pencapaian hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan Kelas V sebelum diberi tindakan 2105x 100% = 61,91% 3400 2. Pencapaian hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan Kelas V setelah diberi tindakan pengelompokan siswa berdasarkan nomor panggilan (acak berdasarkan tempat duduk ) 2330 x 100% = 68,53 % 3400 3. Pencapaian hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan kelas V setelah diberi tindakan pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan akademik 2730 x 100% = 80,29 % 3400 Dari hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa 1. Terjadi peningkatan prestasi setelah diberi tindakan yaitu 61,91 % menjadi 68,53% ada kenaikan sebesar = 6,62%. 2. Dari sebelum tindakan ( siklus 1 ) dan setelah tindakan sampai dengan

( siklus 3 ) 57,71 % menjadi 68,53 %, dan dari ( siklus 2 ) ke ( siklus 3 ) juga ada peningkatan sebanyak 80,29 % - 68,53 % = 11,76 %. 3. Ketuntasan siswa sebelum diberi tindakan dari 47,06 % pada siklus I, 82,35 % pada siklus II, dan siklus III menjadi 100 %. Refleksi dan Temuan Berdasarkan pelaksanaan tindakan maka hasil observasi nilai, hasil dapat dikatakan sebagai berikut : 1. Siklus pertama kegiatan belajarmengajar dengan menerapkan metode kooperatif pendekatan struktur belum berhasil karena dalam pembelajaran masih terlihat siswa yang bermain, bercerita, dan mengganggu siswa lain; 2. Pembelajaran dengan menerapkan pendekatan struktur dalam hal peningkatan hasil belajar belum tampak, sehingga hasil yang dicapai tidak tuntas. 3. Mungkin karena proses belajar mengajar yang dilakukan adalah pembelajaran dengan pendekatan struktur yang baru mereka laksanakan sehingga siswa merasa kaku dalam menerapkannya. 4. Akan tetapi setelah dijelaskan, mereka bisa mengerti dan buktinya pada siklus kedua dan ketiga proses kegiatan belajar - mengajar berjalan baik, semua siswa aktif dan lebih-lebih setelah ada rubrik penilaian proses, seluruh siswa langsung aktif belajar. C. Pembahasan Hasil Penelitian 1. Ketuntasan Hasil belajar Siswa Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pendekatan struktur memiliki dampak positif dalam meningkatkan hasil belajar siswa, hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru (hasil belajar meningkat dari siklus I, II, dan III ) yaitu; 61,91% ;
83

68,53% ; 80,29%. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai. 2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dengan pendekatan struktur dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap motivasi belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus. 3. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dengan menerapkan pendekatan struktur yang paling dominan adalah bekerja dengan menggunakan alat/media,mendengarkan/memper hatikan penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif. Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah pendekatan struktur dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul diantaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan kegiatan pembelajaran, menjelaskan, memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab di mana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar. Dari analisis data di atas bahwa pembelajaran dengan pendekatan struktur dapat diterapkan pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan kelas V, yang berarti proses kegiatan belajar mengajar lebih berhasil dan dapat meningkatkan

motivasi belajar siswa khususnya pada siswa kelas V di SDN Keru Narma, oleh karena itu diharapkan kepada para guru SD dapat melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode kooperatif pendekatan struktur di kelas V. Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) siswa dikatakan tuntas apabila siswa telah mencapai nilai standar ideal 75 mencapai 85 %. Sedangkan pada penilitian ini, pencapai nilai 75 pada (siklus 3 ) mencapai melebihi target yang ditetapkan dalam KTSP yaitu mencapai 100 %. Dengan demikian maka hipotesis yang diajukan dapat diterima. PENUTUP A. Simpulan Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Pembelajaran metode kooperatif dengan pendekatan struktur dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V di SDN Keru Narma mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang ditandai dengan peningkatan hasil belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu; 61,91% ; 68,53 % ; 80,29%. 2. Penerapan metode kooperatif dengan pendekatan struktur pada pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. 3. Penerapan metode kooperatif dengan pendekatan struktur dapat meningkatkan kembali materi ajar yang telah diterima siswa selama ini, sehingga mereka merasa siap untuk menghadapi pelajaran berikutnya.
84

B. Saran Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka disampaikan saran sebagai berikut : 1. Untuk melaksanakan pembelajaran memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan pemberian metode kooperatif pendekatan struktur agar diperoleh hasil yang optimal. 2. Dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan kegiatan penemuan, walau dalam taraf yang sederhana, di mana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. 3. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya dilakukan di SDN Keru Narma tahun pelajaran 2011-2012. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineksa Cipta ________________.2007. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung : remaja Rosdkaraya. Depdiknas RI,2004.Undang Undang No 20 tentang sistem pendidikan nasional ( SISDIKNAS ) Jakarta : Depdiknas. ___________. 2006. Kurikulum 2006. Jakarta : Depdiknas Dahar, Ratna Wilis. 1988. Teori-teori Belajar. Jakarta : Dirjen Dikti P2LPTK Depdikbud.

Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta Djamarah dan Zein, (1994). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Bumi Aksara, Jakarta. Djamarah, Syaiful Bahri dkk. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta. Muhammad,Nur dkk,1999.Teori Belajar.Surabaya : Unesa University Press. Muslimin, I. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Unesa. Surabaya. Suyatno.2009. Menjelajah pembelajaran Inovatif.Sidoarjo : Masmedia Buana Pustaka. Nasution S., 2001. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Bina Aksara. Jakarta. Sudjana, Nana. 1989. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru. Nurkancana, W. 1983. Evaluasi Pendidikan. Penerbit Usaha Nasional. Surabaya. Purwanto. 1991. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Mengakar. Rosda Karya. Bandung. Sudhana. 1987. Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar. Sinar Baru Algesindo. Jakarta. Suhermi. 2000. Model Pembelajaran Kooperatif. Departemen Pendidikan Nasional UNRI. Pekanbaru. Slavin, R.E. 1995. Cooperative Learning; Theori Research and Practice. Allyn Bacon. Boston.

85

PENERAPAN PENDEKATAN KONSTRUKTIVIS BERBANTUAN LEMBAR KERJA SISWA UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI KELAS V SDN 2 PERESAK TAHUN PELAJARAN 2012-2013 Oleh: H. LALU MUHAMMAD SAPARUDDIN PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Pendidikan Agama Islam merupakan bidang studi yang dipelajari oleh semua siswa pada semua jenjang pendidikan mulai dari SD hingga SMA bahkan perguruan tinggi. Seyogyanya Pendidikan Agama Islam merupakan salah satu pelajaran yang digemari oleh siswa terkait dengan kegunaannya. Kenyataannya keluhan dan kekecewaan terhadap hasil yang dicapai siswa dalam Pendidikan Agama Islam hingga kini masih sering diungkapkan. Umumnya siswa mengatakan Pendidikan Agama Islam merupakan pelajaran yang sulit dan membosankan, tidak menarik, dan bahkan penuh misteri. Ini disebabkan karena mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dirasakan sukar, gersang, dan tidak tampak kaitannya dengan kehidupan sehari hari (Mohamad Soleh, 1998 : 1). Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan khususnya Pendidikan Agama Islam. Namun sampai saat ini hasil belajar Pendidikan Agama Islam masih rendah. Rendahnya hasil belajar Pendidikan Agama Islam juga terjadi di sebagian besar siswa SDN 2 Peresak Kabupaten Lombok Barat. Ini dapat dilihat dari nilai rata rata Ulangan Harian pertama semester II tahun pelajaran 2011/2012 yaitu sebesar 45,3 dan ketuntasan belajar sebesar 42,4% (Dokumen Hasil Ulangan Semester ). Hal ini perlu mendapat kajian yang mendalam bagi peneliti pendidikan untuk mengetahui faktor faktor penyebabnya dan dicari solusinya. Peneliti yang sekaligus guru Pendidikan Agama Islam di sekolah tersebut melakukan berbagai upaya untuk
86

meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam di sekolah tersebut diantaranya adalah : memperbanyak tugas, mengadakan tes tanpa pemberitahuan telebih dahulu, dan lain lain. Namun dari usaha usaha yang telah dilakukan ternyata belum mampu memberi hasil yang optimal. Dalam hal ini, peneliti mencoba melaksanakan pembelajaran menggunakan LKS dengan pendekatan kostruktivis. Tujuan Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui sebagai berikut : 1. Penerapan pendekatan konstruktivis berbantuan Lembar Kerja Siswa dalam meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam kelas V SDN 2 Peresak tahun pelajaran 2012-2013. 2. Efektivitas pendekatan konstruktivis berbantuan Lembar Kerja Siswa dalam meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam kelas V SDN 2 Peresak tahun pelajaran 2012-2013. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagi Siswa dapat mengalami langsung belajar dengan suasana yang lebih kondusif dan menggairahkan yang dapat memacu semangatnya untuk aktif dan kreatif menuju pencapaian hasil belajar Pendidikan Agama Islam yang lebih baik. 2. Bagi Guru yang terlibat dalam penelitian ini akan memperoleh pengalamam baru terutama yang berkaitan dengan upaya peningkatan kamampuannya dalam merencanakan dan mengimplemtasikan pembelajaran

Pendidikan Agama Islam melalui pendekatan konstruktivis. 3. Bagi Sekolah dengan hasil penelitian ini juga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk peningkatan kemampuan guru dan hasil belajar siswa di sekolah binaannya, karena kualitas siswa, guru dan pembelajaran semakin meningkat. KAJIAN TEORI A. Pendekatan Konstruktivis Sogog (1999) menyatakan bahwa menurut model konstruktivis, pengetahuan dibangun di dalam pikiran siswa. Mula mula siswa menyusun pengetahuan secara sederhana, kemudian mencari makna dan mencoba untuk menemukan urutan dalam realita tentang informasi yang diterima tadi, sehingga terbentuklah bangunan pengetahuan didalam pikirannya. Menurut pandangan konstruktivis, belajar pada hakekatnya merupakan modifikasi gagasan gagasan yang telah ada pada diri pebelajar. Dalam pandangan belajar yang diungkapkan oleh para konstruktivis, belajar bukanlah penambahan informasi baru secara sederhana, tetapi melibatkan interaksi antara pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Melalui interaksi itu pengetahuan baru diharapkan dapat berkonsiliasi dengan pengetahuan sebelumnya. Proses rekonsiliasi ini melibatkan penolakan terhadap beberapa konsepsi pebelajar (Sadia, 1989). Kalau diteliti dengan lebih seksama maka ada tiga indikator utama dalam pengertian belajar dalam pengertian belajar menurut perspektif konstruktivisme yaitu pembentukan makna, data sensori baru dan pengetahuan sebelumnya. Berkaitan dengan hal tersebut di atas, maka menurut pandangan konstruktivisme bahwa terdapat suatu mekanisme atau tahapan tahapan dalam pikiran
87

seorang pebelajar yang sedang mengalami proses belajar, seperti yang dilukiskan oleh Tasker (dalam Sugiarta , 2001) sebagai berikut : 1). Pebelajar secara aktif memilih dan mengamati beberapa masukan sensori dan lingkungannya. 2). Makna makna masukan sensori yang telah disusunnya dan dirasakannya bertentangan dengan memori dan pengalamannya, mungkin akan diujinya 3). Makna makna atas masukan sensori yang diwujudkan sebagai pengetahuan baru akan dimasukkan ke dalam salah satu memori dengan jalan menghubungkannya dengan gagasan yang telah ada (asimilasi) atau dengan jalan merestrukturasi gagasan gagasan yang telah dimiliki sebelumnya (akomodasi). Dari ungkapan tersebut, nampak bahwa proses pembelajaran terfokus pada siswa itu sendiri. Jadi proses pembelajaran yang diungkapkan oleh para penganut konstruktivis menekankan bahwa siswa harus memperoleh pengalaman berhipotesis, memprediksi, memanipulasi obyek, mengajukan pertanyaan, mencari jawaban, berimanijasi dan menemukan dalam upaya mengembangan struktur kognitifnya atau mengembangkan konstruksi konstruksi baru B. Lembar Kerja Siswa ( LKS ) Lembar kerja siswa (LKS) adalah suatu lembaran yang berisikan sejumlah informasi serta intruksi yang ditujukan untuk mengarahkan siswa bertingkah laku sebagaimana diharapkan pembuatnya (pengajar). LKS yang baik adalah LKS yang mampu menjadikan siswa mempunyai keinginan untuk beraktifitas sesuai dengan instruksi. Pada dasarnya LKS sangat tepat digunakan untuk tujuan menjadikan pebelajar lambat laun

bekerja mandiri. Disamping itu dengan LKS siswa akan mampu mengingat suatu konsep lebih lama bahkan permanen, karena konsep tersebut diperolehnya melalui keterlibatan mental berpikir yang tinggi. Untuk melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran matematika perlu digunakan lembar kerja siswa (LKS). Selama ini di SMP sudah menggunakan LKS namun LKS hanya dijadikan sarana untuk bahan tugas tentang materi yang baru selesai dijelaskan. Jadi penggunaan LKS belum optimal. Lembar Kerja Siswa (LKS) dirancang untuk membimbing siswa dalam suatu program kerja atau pembelajaran dengan sedikit atau sama sekali tanpa bantuan guru untuk mencapai sasaran yang dituju dalam LKS. LKS tidak dapat menggantikan peran guru dalam kelas, guru tetap mengawasi kelas atau memberi semangat, dorongan belajar atau bimbingan secara indivual. Bagi guru LKS dapat berperan antara lain : 1) Merupakan alternatif bagi guru untuk mengarahkan pengajaran atau memperkenalkan suatu kegiatan tertentu. 2) Dapat mempercepat proses pembelajaran atau menghemat waktu belajar 3) Dapat disiapkan sewaktu jam bebas. 4) Dapat memudahkan penyelesaian tugas perorangan atau kelompok kecil. 5) Dapat meringankan kerja guru dalam memberi bantuan perorangan atau merimidi terutama untuk pengelolaan kelas besar. Bagi siswa dapat berperan antara lain : 1) Dapat meningkatkan minat siswa, jika LKS itu disusun menarik. 2) Sebagai pembimbing siswa Agar siswa menjadi terbimbing dan memperoleh hasil
88

berupa hasil belajar yang maksimal maka perlu diarahkan dengan menggunakan LKS. Menurut Ardana (200 : 16), adapun ciri ciri LKS berpendekatan konstruktivis adalah memuat hal hal sebagai berikut : 1) Materi/topik yang akan dibicarakan 2) Tujuan Pembelajaran semua topik yang akan dibicarakan 3) Beberapa pertanyaan dan langkah langkah yang mungkin dapat dilakukan 4) Beberapa pertanyaan yang mengaitkan prakonsepsi mereka dengan konsep yang akan dikaji 5) Beberapa pertanyaan yang dapat membantu siswa sehingga siswa mampu membuat hubungan antara pengetahuan konseptual dan prosedural 6) Beberapa soal latihan sebagai bahan dalam tahap aplikasi konsep LKS berpendekatan konstruktivis yang dibuat dalam penelitian ini memuat hal hal sebagai berikut : 1) Materi atau topik yang akan dibahas 2) Tujuan pembelajaran untuk topik yang akan dibahas 3) Beberapa pertanyaan dan langkah langkah yang mungkin dapat dilakukan untuk menggali pengetahuan awal siswa. 4) Beberapa pertanyaan yang mengaitkan prakonsepsi mereka dengan konsep yang akan dikaji. 5) Beberapa pertanyaan yang dapat membantu siswa. 6) Beberapa soal latihan sebagai bahan dalam tahap aplikasi konsep. C. Hasil belajar Siswa 1. Pengertian Hasil Belajar Hasil belajar adalah hasil atau akibat dari kegiatan belajar. Untuk mengetahui tentang hasil belajar perlu dijelaskan tentang hakekat

belajar. Belajar merupakan suatu proses yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman (Slameto,1991). Di mana perubahan itu bersifat kontinyu dan fungsional, terjadi secar sadar, bersifat positif dan aktif, bukan bersifat sementara, bertujuan atau terarah, dan mencakup seluruh aspek tingkah laku yang selanjutnya dinamakan hasil belajar. Dan hasil belajar tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk hasil belajar. Menurut Abu Ahmadi (2001), belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Berdasarkan pengertian belajar di atas, maka dapat didefinisikan tentang hasil belajar, yaitu tingkat keberhasilan yang dicapai siswa berupa ketrampilan dan pengetahuan berdasarkan hasil tes atau evaluasi setelah pelaksanaan proses belajar mengajar. 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar Nasution (2001: 344) pada penelitiannya menyimpulkan bahwa secara garis besar faktorfaktor yang mempengaruhi belajar dan hasil belajar dapat digolongkan menjadi dua bagian, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. a. Faktor internal Merupakan faktor yang berasal dari dalam diri siswa yang dapat mempengaruhi prestasi. Faktor ini dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu:

1) Faktor fisiologis Dalam hal ini yang berhubungan dengan kesehatan dan pancaindera (a) Kesehatan badan (b) Pancaindera 2) Faktor psikologis Ada banyak faktor psikologis yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa, antara lain adalah : (a) Intelligensi (b) Sikap (c) Motivasi b. Faktor eksternal Selain faktor-faktor yang ada dalam diri siswa, ada hal lain di luar diri yang dapat mempengaruhi hasil belajar yang akan diraih, antara lain adalah : 1) Faktor lingkungan keluarga (a) Sosial ekonomi keluarga (b) Pendidikan orang tua (c) Perhatian orang tua dan suasana hubungan antara anggota keluarga 2) Faktor lingkungan sekolah (a) Sarana dan prasarana (b) Kompetensi guru dan siswa (c) Kurikulum dan metode mengajar 3) Faktor lingkungan masyarakat (a) Sosial budaya (b) Partisipasi terhadap pendidikan METODE PENELITIAN 1. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN 2 Peresak. 2. Setting Penelitian a. PTK dilakukan pada SDN 2 Peresak tahun Pelajaran 20122013. b. PTK dilakukan pada siswa kelas V dengan jumlah 26 orang ( P = 16 orang ; dan L = 10 orang )
89

3. Rancangan Penelitian a. Tindakan dilaksanakan dalam 3 siklus b. Kegiatan dilaksanakan dalam semester ganjil tahun pelajaran 2012-2013. c. Lama penelitian 6 pekan efektif dilaksanakan mulai tanggal 13 September 2012 sampai dengan 18 Oktober 2012. d. Dalam pelaksanaan tindakan, rancangan dilakukan dalam 3 siklus yang meliputi ; (a) perencanaan, (2) tindakan, (3) pengamatan, (4) refleksi. 4. Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini terdiri dari; Variabel Peningkatan hasil belajar Harapan: Pendidikan Agama Islam siswa kelas V Variabel Penerapan pendekatan Tindakan: konstruktivis berbantuan LKS. Adapun indikator yang diteliti dalam variabel harapan terdiri dari : 1. Kemampuan siswa dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam 2. Kemampuan siswa dalam meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam melalui penerapan pendekatan konstruktivis berbantuan LKS. 3. Keefektifan pembelajaran melalui pendekatan konstruktivis berbantuan LKS. Sedangkan variabel tindakan memiliki indikator sebagai berikut : 1. Tingkat kualitas perencanaan 2. Kualitas perangkat observasi 3. Kualitas operasional tindakan 4. Kesesuaian perencanaan dengan tindakan kelas 5. Kesesuaian teknik yang digunakan meningkatkan hasil belajar siswa. 6. Tingkat efektifitas pelaksanaan pendekatan konstruktivis berbantuan LKS.
90

7. Kemampuan siswa dan guru dalam menerapkan pendekatan konstruktivis berbantuan LKS. 5. Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data a. Sumber Data : Sumber data dalam penelitian ini berasal dari dua sumber yaitu : 1 Siswa: Diperoleh data tentang peningkatan hasil belajar Pendidikan Agama Islam kelas V 2 Guru : Diperoleh data tentang efektivitas penerapan pendekatan konstruktivis berbantuan LKS b. Teknik Pengumpulan Data: Dalam Pengumpulan data menggunakan Observasi dan Tes. 6. Indikator Keberhasilan Penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam tiga siklus dianggap sudah berhasil apabila terjadi peningkatan hasil belajar siswa apabila 85 % siswa kelas V (kelas yang diteliti) telah mencapai ketuntasan dengan standar ideal 75. Jika peningkatan tersebut dapat dicapai pada tahap siklus 1 dan 2, maka siklus selanjutnya tidak akan dilaksanakan karena tindakan kelas yang dilakukan sudah dinilai efektif sesuai dengan harapan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan ( KTSP ). 7. Teknik Analisis Data Dalam analisis data teknik yang digunakan adalah ; a. Kuantitatif Analisis ini digunakan untuk menghitung besarnya peningkatan hasil belajar Pendidikan Agama Islam siswa dengan menerapkan pendekatan konstruktivis berbantuan LKS dengan menggunakan prosentase (%).

b. Kualitatif Teknik analisis ini digunakan untuk memberikan gambaran hasil penelitian secara ; reduksi data, sajian deskriptif, dan penarikan simpulan. 8. Jadwal Pelaksanaan Penelitian Jadwal kegiatan Penelitian dilaksanakan mulai tanggal tanggal 13 September 2012 18 Oktober 2012 ( 6 Minggu efektif ). HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Paparan Data dan Temuan Penelitian 1. Perencanaan Tindakan Tindakan yang akan dilakukan oleh peneliti antara lain: a) Menyusun instrumen pembelajaran b) Menyusun Instrumen Monitoring c) Sosialisasi kepada siswa d) Melaksanakan tindakan dalam pembelajaran e) Melakukan refleksi f) Menyusun strategi pembelajaran pada siklus ke dua berdasar refleksi siklus pertama g) Melaksanakan pembelajaran pada siklus kedua h) Melakukan Observasi i) Melakukan refleksi pada siklus kedua j) Menyusun strategi pembelajaran pada siklus ketiga berdasar refleksi siklus kedua k) Melaksanakan pembelajaran pada siklus ketiga l) Melakukan Observasi m) Melakukan refleksi pada siklus ketiga n) Menyusun laporan 2. Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan Pelaksanaan tindakan dalam penelitian dilakukan 3 siklus yang terdiri dari enam kali pertemuan.
91

Waktu yang digunakan setiap kali pertemuan adalah 2 x 35 menit. Siklus pertama dilaksanakan pada tanggal 13 s.d 20 September 2012 dan siklus kedua pada tanggal 27 September s.d 04 Oktober 2012, dan siklus ke tiga pada tanggal 11 s.d 08 Oktober 2012. SIKLUS 1 1. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, LKS 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi pengolaan pembelajaran. 2. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 13 s.d 20 September 2012 di SDN 2 Peresak tahun pelajaran 2012-2013 dengan jumlah siswa 26 orang. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksaaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Dari hasil tes formatif yang telah dilakukan diperoleh nilai rata-rata siswa adalah 58,08 %. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai 65 hanya sebesar 30,78 % atau baru ada 8 siswa dari 26 siswa yang tuntas, hasil ini tentu lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85 %. Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan pendekatan konstruktivis berbantuan LKS.

3. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut: a. Guru kurang baik dalam memotivasi siswa dan dalam menyampaikan tujuan pembelajaran b. Guru kurang baik dalam pengelolaan waktu c. Siswa kurang begitu antusias selama pembelajaran berlangsung. 4. Revisi Rancangan a. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada siklus I ini masih terdapat kekurangan, sehingga perlu adanya revisi untuk dilakukan pada siklus berikutnya. b. Guru perlu lebih terampil dalam memotivasi siswa dan lebih jelas dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Di mana siswa diajak untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan. c. Guru perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan menambahkan informasi-informasi yang dirasa perlu dan memberi catatan d. Guru harus lebih terampil dan bersemangat dalam memotivasi siswa sehingga siswa bisa lebih antusias. SIKLUS II 1. Tahap perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2, soal tes formatif II dan alat-alat pengajaran yang mendukung. 2. Tahap kegiatan dan pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 27 September s.d 04 Oktober 2012 di SDN 2 Peresak tahun pelajaran 2012-2013. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran
92

dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif II. Adapun nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 68,85 % dan peningkatan ketuntasan mencapai 84,62% atau ada 22 siswa dari 26 siswa sudah tuntas belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami peningkatan cukup lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil belajar siswa ini karena setelah guru menginformasikan bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar. Selain itu siswa juga sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan diinginkan guru dalam menerapkan pendekatan konstruktivis berbantuan LKS. 3. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut : 1) Memotivasi siswa 2) Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep 3) Pengelolaan waktu 4. Revisi Pelaksanaaan Pelaksanaan kegiatan belajar pada siklus II ini masih terdapat kekurangan-kekurangan. Maka perlu adanya revisi untuk dilaksanakan pada siklus III antara lain: 1) Guru dalam memotivasi siswa hendaknya dapat membuat siswa lebih termotivasi selama proses belajar mengajar berlangsung.

2) Guru harus lebih dekat dengan siswa sehingga tidak ada perasaan takut dalam diri siswa baik untuk mengemukakan pendapat atau bertanya. 3) Guru harus lebih sabar dalam membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep. 4) Guru harus mendistribusikan waktu secara baik sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. 5) Guru sebaiknya menambah lebih banyak contoh soal dan memberi soal-soal latihan pada siswa untuk dikerjakan pada setiap kegiatan belajar mengajar. SIKLUS III 1. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. 2. Tahap kegiatan dan pengamatan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus III dilaksanakan pada tanggal 11 s.d 18 Oktober 2012 di SDN 2 Peresak tahun pelajaran 20122013 dengan jumlah siswa 26 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif III. Adapun nilai rata-rata tes formatif sebesar 80 % dan dari 26 siswa semuanya telah mencapai
93

ketuntasan. Maka secara klasikal ketuntasan mencapai 100 % ( termasuk kategori tuntas ). Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan pendekatan konstruktivis berbantuan LKS, sehingga siswa menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam memahami materi yang telah diberikan. Di samping itu ketuntasan ini juga dipengaruhi oleh kerja sama dari siswa yang telah menguasai materi pelajaran untuk mengajari temannya yang belum menguasai. 3. Refleksi Pada tahap ini akan dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan pendekatan konstruktivis berbantuan LKS. Dari data-data yang telah diperoleh dapat diuraikan sebagai berikut: a. Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masingmasing aspek cukup besar. b. Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung. c. Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik. d. Hasil belajar siswa pada siklus III mencapai ketuntasan. 4. Revisi Pelaksanaan Pada siklus III guru telah menerapkan pendekatan konstruktivis berbantuan LKS dengan baik, dan dilihat dari aktivitas siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan

dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan pendekatan konstruktivis berbantuan LKS, dapat meningkatkan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. B. ANALISIS HASIL KEGIATAN Analisis Data Deskriptif Kuantitatif 1. Pencapaian hasil belajar Pendidikan Agama Islam Kelas V sebelum diberi tindakan 1510x 100% = 58,08% 2600 2. Pencapaian hasil belajar Pendidikan Agama Islam Kelas V setelah diberi tindakan pengelompokan siswa berdasarkan nomor panggilan (acak berdasarkan tempat duduk ) 1790 x 100% = 68,85 % 2600 3. Pencapaian hasil belajar Pendidikan Agama Islam kelas V setelah diberi tindakan pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan akademik 2080 x 100% = 80 % 2600 Dari hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa 1. Terjadi peningkatan prestasi setelah diberi tindakan yaitu 58,08 % menjadi 68,85% ada kenaikan sebesar = 10,77 %. 2. Dari sebelum tindakan ( siklus 1 ) dan setelah tindakan sampai dengan ( siklus 3 ) 57,71 % menjadi 68,85 %, dan dari ( siklus 2 ) ke ( siklus 3 ) juga ada peningkatan sebanyak 80 % 68,85 % = 11,15 %. 3. Ketuntasan siswa sebelum diberi tindakan dari 30,78 % pada siklus I, 84,62 % pada siklus II, dan siklus III menjadi 100 %.

Refleksi dan Temuan Berdasarkan pelaksanaan tindakan maka hasil observasi nilai, hasil dapat dikatakan sebagai berikut : 1. Siklus pertama kegiatan belajarmengajar dengan menerapkan metode kooperatif pendekatan konstruktivis berbantuan LKS belum berhasil karena dalam pembelajaran masih terlihat siswa yang bermain, bercerita, dan mengganggu siswa lain; 2. Pembelajaran dengan menerapkan pendekatan konstruktivis berbantuan LKS dalam hal peningkatan hasil belajar belum tampak, sehingga hasil yang dicapai tidak tuntas. 3. Mungkin karena proses belajar mengajar yang dilakukan adalah pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis berbantuan LKS yang baru mereka laksanakan sehingga siswa merasa kaku dalam menerapkannya. 4. Akan tetapi setelah dijelaskan, mereka bisa mengerti dan buktinya pada siklus kedua dan ketiga proses kegiatan belajar - mengajar berjalan baik, semua siswa aktif dan lebih-lebih setelah ada rubrik penilaian proses, seluruh siswa langsung aktif belajar. C. Pembahasan Hasil Penelitian 1. Ketuntasan Hasil belajar Siswa Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pendekatan konstruktivis berbantuan LKS memiliki dampak positif dalam meningkatkan hasil belajar siswa, hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru (hasil belajar meningkat dari siklus I, II, dan III ) yaitu; 58,08% ; 68,85% ; 80%. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai.

94

2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis berbantuan LKS dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap motivasi belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus. 3. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan menerapkan pendekatan konstruktivis berbantuan LKS yang paling dominan adalah bekerja dengan menggunakan alat/media,mendengarkan/memper hatikan penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif. Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah pendekatan konstruktivis berbantuan LKS dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul diantaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan kegiatan pembelajaran, menjelaskan, memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab di mana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar. Dari analisis data di atas bahwa pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis berbantuan LKS dapat diterapkan pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam kelas V, yang berarti proses kegiatan belajar mengajar lebih berhasil dan dapat
95

meningkatkan motivasi belajar siswa khususnya pada siswa kelas V di SDN 2 Peresak, oleh karena itu diharapkan kepada para guru SD dapat melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode kooperatif pendekatan konstruktivis berbantuan LKS di kelas V. Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) siswa dikatakan tuntas apabila siswa telah mencapai nilai standar ideal 75 mencapai 85 %. Sedangkan pada penilitian ini, pencapai nilai 75 pada (siklus 3 ) mencapai melebihi target yang ditetapkan dalam KTSP yaitu mencapai 100 %. Dengan demikian maka hipotesis yang diajukan dapat diterima. PENUTUP A. Simpulan Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis berbantuan LKS dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V di SDN 2 Peresak mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang ditandai dengan peningkatan hasil belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu; 58,08%; 68,85% ; 80%. 2. Penerapan pendekatan konstruktivis berbantuan LKS pada pelajaran Pendidikan Agama Islam mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. 3. Penerapan pendekatan konstruktivis berbantuan LKS dapat meningkatkan kembali materi ajar yang telah diterima siswa selama ini, sehingga mereka merasa siap untuk menghadapi pelajaran berikutnya.

B. Saran Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka disampaikan saran sebagai berikut : 1. Untuk melaksanakan pembelajaran memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan pemberian metode kooperatif pendekatan konstruktivis berbantuan LKS agar diperoleh hasil yang optimal. 2. Dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan kegiatan penemuan, walau dalam taraf yang sederhana, di mana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. 3. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya dilakukan di SDN 2 Peresak tahun pelajaran 2012-2013. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi.2007. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung : Remaja Rosdakarya. Brooks, JG & Brooks M. G, 1993. In Search of Understanding : The Case of Construktivis Classroom. Virginia : Association for Supervision and Curriculum development. Depdikbud,1993.Kurikulum sekolah menengah umum dan garis garis besar program pengajaran (GBPP) mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta:Depdikbud. Djamarah, Syaiful Bahri dkk. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
96

Oemar Hamalik. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara Nasution, S, 2001. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Bina Aksara. Jakarta. Dahar, Ratna Wilis. 1989. Konstruktivis Dalam Mengajar Belajar. Pidato Pengukuhan Guru besar pada FIP MIPA IKIP Bandung Sardiman, A. M. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : PT Rajagrasindo Persada. Slavin, S.E. 1997. Educational Psychology. Theory Into Practices. Fifth Edition. Boston : Allyn Bacon Publishers. Soedjadi, R. 2000. Kiat Pendidikan Pendidikan Agama Islam di Indonesia. Jakarta : Depdikbud. Suparno, P. 1997. Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan. Yogyakarta : Kanisius.

PENERAPAN PEMBELAJARAN DENGAN MODEL PBI (PROBLEM BASED INSTRUCTION) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PKN KELAS IV SDN 1 GUNTUR MACAM TAHUN PELAJARAN 2011-2012 Oleh: SAKIRIN PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan sudah dilakukan oleh pemerintah, antara lain melalui penataran guru, revisi kurikulum, perbaikan sistem pelajaran, perbaikan sarana maupun prasarana dan sebagainya. Namun kenyataannya menunjukkan hasil belajar PKn, khususnya di kelas IV SDN 1 Guntur Macan masih kurang memuaskan atau masih rendah disebabkan karena system pembelajaran yang digunakan belum efektif. Dalam mendidik siswa, selain satu faktor yang perlu diperhatikan oleh guru adalah kemampuan dasar siswa. Dimana seorang guru hendaknya mampu menanamkan konsep-konsep dasar dari materi yang diajarkan kepada siswa atau materi-materi yang mendukung bahan yang sedang dipelajari. Dalam penyampaian suatu materi guru hendaknya memilih media pembelajaran yang mampu memotivasi diri siswa untuk belajar dan terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Usaha meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar maka perlu dikembangkan melalui pengajaran yang tidak monoton seperti penerapan model pembelajaran, khususnya model pembelajaran PBI (Problem Based Instruction). Model pembelajaran PBI merupakan kegiatan menyajikan kepada siswa situasi dan masalah yang autentik dan bermakna serta dapat memberikan kemudahan kepada siswa untuk melakukan penyelidikan dan inquiri (Ibrahim, 2005). Pembelajar yang berlangsung di SDN 1 Guntur Macan, khususnya pada guru bidang studi PKn bahwa dalam proses belajar mengajar masih menggunakan metode ceramah dan guru
97

lebih mendominasi, sedangkan siswa masih pasif. Kegiatan seperti ini tidak mendorong siswa untuk berfikir atau beraktifitas. Berdasarkan hasil observasi pada pembelajaran PKn di SDN 1 Guntur Macan , khususnya pada kelas IV prestasi belajar siswa masih belum bisa dikatakan memuaskan karena perolehan nilai masih kurang memuaskan. Hal ini bila dilihat dari perolehan nilai ulangan harian dan ulangan semester, belum mencapai ketuntasan seperti yang telah ditetapkan oleh sekolah dengan KKM 75. Dari 20 orang siswa di kelas IV baru 45% yang telah tuntas dalam belajar. Jika hal ini dibiarkan secara terus menerus maka akan berdampak pada redahnya capaian mutu sekolah. Rendahnya perolehan nilai yang dicapai siswa klas IV ini, disebabkan oleh minat siswa terhadap pelajaran PKn masih rendah, bila dilihat dari aktivitas proses belajar mengajar siswa menunjukan sikap kurang perhatian dan tidak ada kesungguhan terhadap pembelajaran PKn, hal ini disebabkan guru dalam menyampaikan materi masih menggunakan metode konversional seperti ceramah. Oleh karena itu perlu dilakukan suatu upaya perbaikan agar siswa dapat memperoleh hasil yang maksimal melalui penelitian tindakan dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif yang sesuai dengan karakteristika materi yang diajarkan. Tujuan Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui sebagai berikut : 1. Penerapan pembelajaran dengan model PBI (Problem Based Instruction) dalam meningkatkan aktivitas dan

hasil belajar PKn siswa kelas IV SDN 1 Guntur Macan tahun pelajaran 20112012 . 2. Efektivitas model PBI (Problem Based Instruction) dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn siswa kelas IV SDN 1 Guntur Macan tahun pelajaran 2011-2012. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagi sekolah Sebagai landasan berpikir bagi sekolah sekolah pada umumnya sekolah SDN 1 Guntur Macan khususnya. 2. Bagi guru Hasil penilitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi guru dalam pelaksanaan pembelajaran PKn dengan menggunakan model PBI (Problem Based Instruction) 3. Bagi peneliti a. sebagai umpan balik bagi peneliti dalam proses belajar mengajar bidang studi PKn b. sebagai landasan berpikir yang lain dalam usaha pengembangan model PBI (Problem Based Instruction) KAJIAN TEORI A. PBI (Problem Based Instruction) 1. Tinjauan tentang PBI (Problem Based Instruction) Menurut Ibrahim (2005) secara garis besar PBI terdiri dari kegiatan menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inquiri. Lingkungan belajar PBI adalah berpusat pada siswa dan mendorong inquiri terbuka dan berpikir bebas. Seluruh proses belajar mengajar yang berorientasi PBI adalah membuat siswa untuk mandiri. Prinsip yang mendasari PBI adalah sebagai berikut : a. Pemahaman yang dibangun melalui pengalaman
98

b. Arti atau makna diciptakan dari usaha untuk menjawab pertanyaan dan masalah kita sendiri. c. Insting alami siswa untuk melakukan penyelidikan dan kreasi seharusnya dikembangkan. d. Strategi yang berpusat pada siswa mampu membangun keterampilan berpikir kritis dan bernalar, dan dalam perkembangan lebih lanjut akan mengembangkan kreativitas dan kemandirian. Dari uraian di atas, secara sederhana PBI didefinisikan sebagai suatu model pembeljaran yang menggunakan masalah sebagai titik awal untuk mengakui sisi pengetahuan baru. Siswa belajar menggunakan masalah autentik tertentu untuk belajar konten (isi) pelajaran dan sebaliknya siswa juga belajar keterampilan khusus untuk memecahkan masalah dengan menggunakan sarana konten pelajaran. (Muslim Ibrahim, 2005) 2. Ciri-ciri / karakteristik PBI (Problem Based Instruction) Sebagai model pembelajaran, PBI memiliki beberapa ciri utama yang membedakanya dari model pembelajaran yang lain. Ciri yang dimaksud adalah sebagai berikut: a. Mengorientasikan siswa kepada masalah autentik b. Berfokus pada keterkaitan antar disiplin c. Penyelidikan autentik d. Menghasilkan produk atau karya dan memamerkannya. 3. Kelebihan dan kelemahan PBI a. Kelebihan 1) Siswa dilibatkan pada kegiatan belajar sehingga pengetahuannya benarbenar diserapnya degan baik. 2) Dilatih untuk dapat bekerja sama dengan siswa lain.

memperoleh dari berbagai sumber. 4) Dapat membuat siswa berpikir lebih bermakna dalam menyelsaikan masalah. 5) Dapat membuat siswa berani dalam berkomunikasi dan mengemukakanh pendapat (Ibrahim, 2005). b. Kelemahan 1) Untuk siswa yang malas dan dari metode tersebut tidak dapat dicapai. 2) Membutuhkan banyak waktu dan dana. 3) Tidak semua mata pelajaran dapat diterapkan degan metode ini. 4. Sintaks PBI (Problem Based Instruction) PBI memiliki sintaks khusus yang membedakannya dengan model model pembelajaran lainnya. (Ibrahim, 2005): a. Tahap 1 Orientasi siswa kepada masalah b. Tahap 2 Mengorganisasi siswa untuk belajar c. Tahap 3 Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok d. Tahap 4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya e. Tahap 5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah 5. Tujuan PBI (Problem Based Instruction) Secara terperinci tujuan PBI adalah sebagai berikut: a. Mengembangkan keterampilan berpikir dan menyelesaikan masalah. b. Pemodelan peranan orang dewasa.

3) Dapat

c. Pembelajar mandiri.

otonom

dan

B. Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa 1. Aktivitas Belajar Siswa Aktifitas belajar sebagai bentuk reaksi yang dilakukan oleh siswa dalam kegiatan belajar mengajar dapat berupa: a. Kehadiran b. Perhatian c. Semangat d. Persiapan e. Pertanyaan-pertanyaan f. Tanggapan g. Penyelesaian tugas-tugas Aktifitas belajar yang dilakukan oleh siswa sangat dipengaruhi oleh kondisi perbuatan belajar. Menurut Robert M. Gagne (dalam Soetomo, 1993: 135) disebutkan bahwa kondisi perbuatan belajar dibagi menjadi dua, yaitu kondisi belajar intern dan kondisi belajar ekstern. 2. Kondisi Belajar Intern Ada beberapa aspek yang dapat dilihat dalam belajar intern, yaitu : a. Kematangan belajar. b. Belajar untuk belajar, yaitu proses belajar yang dilakukan dengan belajar melakukan sesuatu atau berlatih. c. Kemampuan belajar. 3. Kondisi Belajar Ekstern Kondisi belajar ekstern dapat dibagi dalam beberapa bagian, antara lain: a. Adanya latihan. b. Penguatan (reinforcement). c. Guru membangun hubungan dengan murid. d. Menggairahkan perhatian. e. Penjelasan yang relevan. 4. Hasil Belajar Siswa a. Pengertian Belajar Hasil belajar tidak dapat dipisahkan dari perbuatan belajar, karena belajar merupakan suatu proses, sedangkan hasil belajar adalah hasil dari proses
99

pembelajaran tersebut (Slameto, 2003: 45). Menurut Logan, dkk (dalam Sujana, 1998) belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan latihan. Senada dengan hal tersebut, Winkel (1997: 231) berpendapat bahwa: belajar pada manusia dapat dirumuskan sebagai suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahanperubahan dalam pengetahuan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat relatif konstan dan berbekas. b. Pengertian Hasil Belajar Siswa Menurut Chaplin, Hasil belajar merupakan suatu tingkatan khusus yang diperoleh sebagai hasil dari kecakapan kepandaian, keahlian dan kemampuan di dalam karya akademik yang dinilai oleh guru atau melalui tes prestasi (1992: 159). Hasil belajar seperti yang dijelaskan oleh Poerwadarminta (1993: 768) adalah hasil yang telah dicapai (dilakukan). Pengertian hasil belajar menurut pendapat Mochtar Buchari (1986: 94) adalah hasil yang dicapai atau ditonjolkan oleh anak sebagai hasil belajarnya dalam periode tertentu. Nasution (1972: 45) berpendapat bahwa hasil belajar adalah kemampuan anak didik berdasarkan hasil dari pengalaman atau pelajaran setelah mengikuti program belajar secara periodik. Dengan selesainya proses belajar mengajar pada umumnya dilanjutkan dengan adanya suatu evaluasi. Dimana evaluasi ini mengandung maksud untuk mengetahui kemajuan belajar atau penguasaan siswa atau terhadap materi yang diberikan oleh guru.
100

Dari hasil evaluasi ini akan dapat diketahui hasil belajar siswa yang biasanya dinyatakan dalam bentuk nilai atau angka. Dengan demikian hasil belajar merupakan suatu nilai yang menunjukkan hasil belajar dari aktifitas yang berlangsung dalam interaksi aktif sebagai perubahan dalam pengetahuan, pemahaman keterampilan dan nilai sikap menurut kemampuan anak dalam perubahan baru. METODE PENELITIAN 1. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN 1 Guntur Macan. 2. Setting Penelitian a. PTK dilakukan pada SDN 1 Guntur Macan tahun pelajaran 2011-2012. b. PTK dilakukan pada siswa kelas IV dengan jumlah 20 orang ( P = 9 orang ; dan L = 11 orang ) 3. Rancangan Penelitian a. Tindakan dilaksanakan dalam 3 siklus b. Kegiatan dilaksanakan dalam semester genap tahun pelajaran 2011-2012. c. Lama penelitian 6 pekan efektif dilaksanakan mulai tanggal 20 Maret 2012 sampai dengan 24 April 2012. d. Dalam pelaksanaan tindakan, rancangan dilakukan dalam 3 siklus yang meliputi ; (a) perencanaan, (2) tindakan, (3) pengamatan, (4) refleksi. 4. Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini terdiri dari; Variabel Peningkatan aktivitas dan Harapan: hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan siswa kelas IV

Variabel Penerapan model PBI Tindakan: (Problem Based Instruction). Adapun indikator yang diteliti dalam variabel harapan terdiri dari : 1. Kemampuan siswa dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan 2. Kemampuan siswa dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan melalui penerapan model PBI (Problem Based Instruction). 3. Keefektifan pembelajaran melalui model PBI (Problem Based Instruction). Sedangkan variabel tindakan memiliki indikator sebagai berikut : 1. Tingkat kualitas perencanaan 2. Kualitas perangkat observasi 3. Kualitas operasional tindakan 4. Kesesuaian perencanaan dengan tindakan kelas 5. Kesesuaian teknik yang digunakan meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. 6. Tingkat efektifitas pelaksanaan model PBI (Problem Based Instruction). 7. Kemampuan siswa dan guru dalam menerapkan model PBI (Problem Based Instruction). 5. Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data a. Sumber Data : Sumber data dalam penelitian ini berasal dari dua sumber yaitu : 1 Siswa: Diperoleh data tentang peningkatan aktivitas dan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan kelas IV 2 Guru : Diperoleh data tentang efektivitas penerapan model PBI b. Teknik Pengumpulan Data: Dalam Pengumpulan data menggunakan Observasi dan Tes.

6. Indikator Keberhasilan Penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam tiga siklus dianggap sudah berhasil apabila terjadi peningkatan hasil belajar siswa apabila 85 % siswa kelas IV (kelas yang diteliti) telah mencapai ketuntasan dengan standar ideal 75. Jika peningkatan tersebut dapat dicapai pada tahap siklus 1 dan 2, maka siklus selanjutnya tidak akan dilaksanakan karena tindakan kelas yang dilakukan sudah dinilai efektif sesuai dengan harapan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan ( KTSP ). 7. Teknik Analisis Data Dalam analisis data teknik yang digunakan adalah ; a. Kuantitatif Analisis ini digunakan untuk menghitung besarnya peningkatan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan siswa dengan menerapkan model PBI (Problem Based Instruction) dengan menggunakan prosentase (%). b. Kualitatif Teknik analisis ini digunakan untuk memberikan gambaran hasil penelitian secara ; reduksi data, sajian deskriptif, dan penarikan simpulan. 8. Jadwal Pelaksanaan Penelitian Jadwal kegiatan Penelitian dilaksanakan mulai tanggal tanggal 20 Maret 2012 24 April 2012 ( 6 Minggu efektif ). HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Paparan Data dan Temuan Penelitian 1. Perencanaan Tindakan Tindakan yang akan dilakukan oleh peneliti antara lain: a) Menyusun instrumen pembelajaran b) Menyusun Instrumen Monitoring

101

c) Sosialisasi kepada siswa d) Melaksanakan tindakan dalam pembelajaran e) Melakukan refleksi f) Menyusun strategi pembelajaran pada siklus ke dua berdasar refleksi siklus pertama g) Melaksanakan pembelajaran pada siklus kedua h) Melakukan Observasi i) Melakukan refleksi pada siklus kedua j) Menyusun strategi pembelajaran pada siklus ketiga berdasar refleksi siklus kedua k) Melaksanakan pembelajaran pada siklus ketiga l) Melakukan Observasi m) Melakukan refleksi pada siklus ketiga n) Menyusun laporan 2. Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan Pelaksanaan tindakan dalam penelitian dilakukan 3 siklus yang terdiri dari enam kali pertemuan. Waktu yang digunakan setiap kali pertemuan adalah 2 x 35 menit. Siklus pertama dilaksanakan pada tanggal 20 s.d 27 Maret 2012 dan siklus kedua pada tanggal 03 s.d 10 April 2012, dan siklus ke tiga pada tanggal 17 s.d 24 April 2012. SIKLUS 1 1. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, LKS 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi pengolaan pembelajaran. 2. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 20 s.d 27 Maret 2012 di
102

SDN 1 Guntur Macan tahun pelajaran 2011-2012 dengan jumlah siswa 20 orang. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksaaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Dari hasil tes formatif yang telah dilakukan diperoleh nilai rata-rata siswa adalah 63,70 %. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai 65 hanya sebesar 50 % atau baru ada 10 siswa dari 20 siswa yang tuntas, hasil ini tentu lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85 %. Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan model PBI. 3. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut: a. Guru kurang baik dalam memotivasi siswa dan dalam menyampaikan tujuan pembelajaran b. Guru kurang baik dalam pengelolaan waktu c. Siswa kurang begitu antusias selama pembelajaran berlangsung. 4. Revisi Rancangan a. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada siklus I ini masih terdapat kekurangan, sehingga perlu adanya revisi untuk dilakukan pada siklus berikutnya. b. Guru perlu lebih terampil dalam memotivasi siswa dan lebih jelas dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Di mana siswa diajak untuk terlibat langsung

dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan. c. Guru perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan menambahkan informasi-informasi yang dirasa perlu dan memberi catatan d. Guru harus lebih terampil dan bersemangat dalam memotivasi siswa sehingga siswa bisa lebih antusias. SIKLUS II 1. Tahap perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2, soal tes formatif II dan alat-alat pengajaran yang mendukung. 2. Tahap kegiatan dan pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 03 s.d 10 April 2012 di SDN 1 Guntur Macan tahun pelajaran 2011-2012. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif II. Adapun nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 67,25 % dan peningkatan ketuntasan mencapai 60 % atau ada 12 siswa dari 20 siswa sudah tuntas belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami peningkatan cukup lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil belajar siswa ini karena setelah guru menginformasikan bahwa setiap
103

akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar. Selain itu siswa juga sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan diinginkan guru dalam menerapkan model PBI (Problem Based Instruction). 3. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut : 1) Memotivasi siswa 2) Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep 3) Pengelolaan waktu 4. Revisi Pelaksanaaan Pelaksanaan kegiatan belajar pada siklus II ini masih terdapat kekurangan-kekurangan. Maka perlu adanya revisi untuk dilaksanakan pada siklus III antara lain: 1) Guru dalam memotivasi siswa hendaknya dapat membuat siswa lebih termotivasi selama proses belajar mengajar berlangsung. 2) Guru harus lebih dekat dengan siswa sehingga tidak ada perasaan takut dalam diri siswa baik untuk mengemukakan pendapat atau bertanya. 3) Guru harus lebih sabar dalam membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep. 4) Guru harus mendistribusikan waktu secara baik sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. 5) Guru sebaiknya menambah lebih banyak contoh soal dan memberi soal-soal latihan pada siswa untuk dikerjakan pada setiap kegiatan belajar mengajar. SIKLUS III 1. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana

pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. 2. Tahap kegiatan dan pengamatan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus III dilaksanakan pada tanggal 17 s.d 24 April 2012 di SDN 1 Guntur Macan tahun pelajaran 2011-2012 dengan jumlah siswa 20 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif III. Adapun nilai rata-rata tes formatif sebesar 79,25 % dan dari 20 siswa semuanya telah mencapai ketuntasan. Maka secara klasikal ketuntasan mencapai 100 % ( termasuk kategori tuntas ). Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan model PBI, sehingga siswa menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam memahami materi yang telah diberikan. Di samping itu ketuntasan ini juga dipengaruhi oleh kerja sama dari siswa yang telah menguasai materi pelajaran untuk mengajari temannya yang belum menguasai. 3. Refleksi Pada tahap ini akan dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan model PBI (Problem Based
104

Instruction). Dari data-data yang telah diperoleh dapat diuraikan sebagai berikut: a. Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masingmasing aspek cukup besar. b. Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung. c. Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik. d. Hasil belajar siswa pada siklus III mencapai ketuntasan. 4. Revisi Pelaksanaan Pada siklus III guru telah menerapkan model PBI dengan baik, dan dilihat dari aktivitas siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan model PBI (Problem Based Instruction), dapat meningkatkan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. B. ANALISIS HASIL KEGIATAN Analisis Data Deskriptif Kuantitatif 1. Pencapaian hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan Kelas IV sebelum diberi tindakan 1274x 100% = 63,70% 2000 2. Pencapaian hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan Kelas IV setelah diberi tindakan pengelompokan siswa berdasarkan nomor panggilan (acak berdasarkan tempat duduk )

1345 x 100% = 67,25 % 2000 3. Pencapaian hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan kelas IV setelah diberi tindakan pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan akademik 1585 x 100% = 79,25 % 2000 Dari hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa 1. Terjadi peningkatan prestasi setelah diberi tindakan yaitu 63,70 % menjadi 67,25% ada kenaikan sebesar = 3,55 %. 2. Dari sebelum tindakan ( siklus 1 ) dan setelah tindakan sampai dengan ( siklus 3 ) 57,71 % menjadi 67,25 %, dan dari ( siklus 2 ) ke ( siklus 3 ) juga ada peningkatan sebanyak 79,25 % - 67,25 % = 12 %. 3. Ketuntasan siswa sebelum diberi tindakan dari 50 % pada siklus I, 60 % pada siklus II, dan siklus III menjadi 100 %. Refleksi dan Temuan Berdasarkan pelaksanaan tindakan maka hasil observasi nilai, hasil dapat dikatakan sebagai berikut : 1. Siklus pertama kegiatan belajarmengajar dengan menerapkan model PBI (Problem Based Instruction) belum berhasil karena dalam pembelajaran masih terlihat siswa yang bermain, bercerita, dan mengganggu siswa lain; 2. Pembelajaran dengan menerapkan model PBI (Problem Based Instruction) dalam hal peningkatan aktivitas dan hasil belajar belum tampak, sehingga hasil yang dicapai tidak tuntas. 3. Mungkin karena proses belajar mengajar yang dilakukan adalah pembelajaran dengan model PBI yang baru mereka laksanakan sehingga siswa merasa kaku dalam menerapkannya.

4. Akan tetapi setelah dijelaskan, mereka bisa mengerti dan buktinya pada siklus kedua dan ketiga proses kegiatan belajar - mengajar berjalan baik, semua siswa aktif dan lebih-lebih setelah ada rubrik penilaian proses, seluruh siswa langsung aktif belajar. C. Pembahasan Hasil Penelitian 1. Ketuntasan Hasil belajar Siswa Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model PBI memiliki dampak positif dalam meningkatkan hasil belajar siswa, hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru (hasil belajar meningkat dari siklus I, II, dan III ) yaitu; 63,70% ; 67,25% ; 79,25%. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai. 2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dengan model PBI (Problem Based Instruction) dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap motivasi belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai ratarata siswa pada setiap siklus. 3. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dengan menerapkan model PBI (Problem Based Instruction) yang paling dominan adalah bekerja dengan menggunakan alat/media, mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa

105

aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif. Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah model PBI dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul diantaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan kegiatan pembelajaran, menjelaskan, memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab di mana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar. Dari analisis data di atas bahwa pembelajaran dengan model PBI (Problem Based Instruction) dapat diterapkan pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan kelas IV, yang berarti proses kegiatan belajar mengajar lebih berhasil dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa khususnya pada siswa kelas IV di SDN 1 Guntur Macan, oleh karena itu diharapkan kepada para guru SD dapat melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model PBI di kelas IV. Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) siswa dikatakan tuntas apabila siswa telah mencapai nilai standar ideal 75 mencapai 85 %. Sedangkan pada penilitian ini, pencapai nilai 75 pada (siklus 3 ) mencapai melebihi target yang ditetapkan dalam KTSP yaitu mencapai 100 %. Dengan demikian maka hipotesis yang diajukan dapat diterima. PENUTUP A. Simpulan Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Pembelajaran dengan model PBI (Problem Based Instruction) dapat
106

meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV di SDN 1 Guntur Macan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang ditandai dengan peningkatan hasil belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu; 63,70%; 67,25% ; 79,25%. 2. Penerapan model PBI (Problem Based Instruction) pada pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. 3. Penerapan model PBI (Problem Based Instruction) dapat meningkatkan kembali materi ajar yang telah diterima siswa selama ini, sehingga mereka merasa siap untuk menghadapi pelajaran berikutnya. B. Saran Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka disampaikan saran sebagai berikut : 1. Untuk melaksanakan pembelajaran memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan pemberian model PBI (Problem Based Instruction) agar diperoleh hasil yang optimal. 2. Dalam rangka meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan kegiatan penemuan, walau dalam taraf yang sederhana, di mana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.

3. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya dilakukan di SDN 1 Guntur Macan tahun pelajaran 2011-2012. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi.2007. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung : remaja Rosdakarya Djamara Bahri. (1994). Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya: Usaha Nasional. Hamzah. (2006). Perencanaan Pembelajaran, Gorontalo: Bumi Aksara. Ibrahim, Muslimin. (2005). Pembelajaran Berdasarkan Masalah. Surabaya: Mega University Pres. Ridwan. (2007). Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru, Karyawan Dan Peneliti Pemulah. Jawa barat: PT Reneka Cipta. Sugiyono. (2009). Metodologi Penelitian Kuantitatif Dan Kualitatif R&D. Bandung: Alpabeta. Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif Dan Kualitatif R&D. Bandung: Alpabeta. Tim Abdi Guru. (2007). IPA Terpadu SD Kelas IV Jakarta: Erlangga. http: //mathedu unila. blogspot. com/ 2009/10/ pengertian-minat. Html

107

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DENGAN MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING KELAS IV SDN 3 SESAOT TAHUN PELAJARAN 2011-2012 Oleh: H. IMRON PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Proses pembelajaran yang terjadi selama ini di Indonesia adalah guru bertindak sebagai satu-satunya sumber belajar, menyajikan pelajaran dengan metode ceramah, latihan soal atau drill, dengan sedikit sekali atau bahkan tanpa media pendukung. Guru cenderung bersikap otoriter, suasana belajar terkesan kaku, serius, dan mati. Hanya gurunya yang aktif (berbicara), siswanya pasif. Jika siswa tidak dapat menangkap materi pelajaran, kesalahan cenderung ditimpakan kepada siswa. Dinding kelas dibiarkan kosong atau jika ada hanya mading kebanyakan hanya berupa gambar pahlawan. 'I'idak ada ikon-ikon yang membangkitkan semangat dan rasa percaya diri siswa. Pendek kata, proses pembelajaran tidak memberdayakan dan membosankan. Dengan demikian proses pembelajaran menjadi tidak efektif, dan karenanya tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai secara optimal. Akibatnya mutu pendidikan sangat rendah. Bahkan untuk tingkat ASEAN saja mutu pendidikan di Indonesia berada di bawah Vietnam, suatu negara yang begitu lama dilanda kemelut dalam negeri (Depdiknas, 2002;1-2). Rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia memerlukan penanganan yang segera. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan inovasi di bidang pembelajaran. Pembelajaran dengan model pembelajaran Quantum Teaching seperti diuraikan secara singkat di atas diduga dapat mempercepat peningkatan mutu pendidikan melalui penyelenggaraan proses pembelajaran yang berkualitas. Oleh karena itu model pembelajaran tersebut perlu direspons secara positif,
108

dalam arti diterapkan. Hal ini agar produk pendidikan di Indonesia ke depan tidak terlalu jauh tertinggal dari produk pendidikan negara-negara yang sudah terlebih dahulu maju sebagaimana kita rasakan dewasa ini. Berdasarkan hasil pengamatan dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran khususnya mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas IV di SDN 3 Sesaot tidak kondusif, sehingga menyebabkan penurunan nilai mata pelajaran Pendidikan Agama Islam . Adapun nilai mata pelajaran yang diperoleh siswa SD tersebut pada tahun ajaran 2011-2012 di bawah KKM yaitu 6,1, sedangkan KKM yang telah ditetapkan yaitu 6,5 maka dapat dikatakan bahwa dalam pelaksanaan proses belajar mengajar kurang optimal. Berdasarkan alasan tersebut, penulis ingin memecahkan masalah dengan strategi pembelajaran Quantum Teaching, karena strategi tersebut bisa diterapkan di sekolah dasar. Seperti yang telah dikutip oleh Bobbi De Porter (dalam Ari Nilandri, 1994;4) menyatakan bahwa Quantum Teaching mencakup petunjuk spesifik, untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, merancang kurikulum, menyampaikan isi dan memudahkan proses belajar. Tujuan Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui sebagai berikut : 1. Peningkatan hasil belajar siswa pelajaran Pendidikan Agama Islam dengan menerapkan model pembelajaran Quantum Teaching kelas IV SDN 3 Sesaot tahun pelajaran 2011-2012 . 2. Efektivitas model pembelajaran Quantum Teaching dalam

meningkatkan hasil belajar siswa pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas IV SDN 3 Sesaot tahun pelajaran 2011-2012. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Manfaat Teoritis a. Hasil penelitian dapat memberikan masukan berharga berupa konsep konsep, sebagai upaya untuk peningkatan dan pengembangan ilmu. b. Hasil penelitian dapat dijadikan sumber bahan yang penting bagi para peneliti di bidang pendidikan. 2. Manfaat Praktis a. Bagi jajaran Dinas Pendidikan atau lembaga terkait, hasil penelitian dapat dipertimbangkan untuk menentukan kebijakan bidang pendidikan. b. Bagi Kepala Sekolah dan Pengawas, hasil penelitian dapat membantu meningkatkan pembinaan profesional dan supervisi kepada para guru secara lebih efektif dan efisien. c. Bagi para guru, hasil penelitian dapat menjadi tolok ukur dan bahan pertimbangan guna melakukan pembenahan serta koreksi diri bagi pengembangan profesionalisme dalam pelaksanaan tugas profesinya d. Bagi Sekolah, sebagai subjek penelitian, hasil penelitian ini dapat dijadikan alat evaluasi dan koreksi. KAJIAN TEORI A. Hasil belajar Siswa 1. Pengertian Hasil Belajar Hasil belajar adalah hasil atau akibat dari kegiatan belajar. Untuk mengetahui tentang hasil belajar perlu dijelaskan tentang hakekat belajar. Belajar merupakan suatu proses yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan
109

tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman (Slameto,1991). Di mana perubahan itu bersifat kontinyu dan fungsional, terjadi secar sadar, bersifat positif dan aktif, bukan bersifat sementara, bertujuan atau terarah, dan mencakup seluruh aspek tingkah laku yang selanjutnya dinamakan hasil belajar. Dan hasil belajar tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk hasil belajar. Menurut Abu Ahmadi (2001), belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Berdasarkan pengertian belajar di atas, maka dapat didefinisikan tentang hasil belajar, yaitu tingkat keberhasilan yang dicapai siswa berupa ketrampilan dan pengetahuan berdasarkan hasil tes atau evaluasi setelah pelaksanaan proses belajar mengajar. 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar Nasution (2001: 344) pada penelitiannya menyimpulkan bahwa secara garis besar faktorfaktor yang mempengaruhi belajar dan hasil belajar dapat digolongkan menjadi dua bagian, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. a. Faktor internal Merupakan faktor yang berasal dari dalam diri siswa yang dapat mempengaruhi prestasi. Faktor ini dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu: 1) Faktor fisiologis Dalam hal ini yang berhubungan dengan kesehatan dan pancaindera

(a) Kesehatan badan (b) Pancaindera 2) Faktor psikologis Ada banyak faktor psikologis yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa, antara lain adalah : (a) Intelligensi (b) Sikap (c) Motivasi b. Faktor eksternal Selain faktor-faktor yang ada dalam diri siswa, ada hal lain di luar diri yang dapat mempengaruhi hasil belajar yang akan diraih, antara lain adalah : 1) Faktor lingkungan keluarga (a) Sosial ekonomi keluarga (b) Pendidikan orang tua (c) Perhatian orang tua dan suasana hubungan antara anggota keluarga 2) Faktor lingkungan sekolah (a) Sarana dan prasarana (b) Kompetensi guru dan siswa (c) Kurikulum dan metode mengajar 3) Faktor lingkungan masyarakat (a) Sosial budaya (b) Partisipasi terhadap pendidikan B. Hakekat Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SD 1. Pengertian Pendidikan Agama Islam Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, mengimani, bertakwa, berakhlak mulia, mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al Quran dan hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran latihan, serta penggunaan pengalaman.(Ramayulis 2005: 21).

2. Fungsi Pendidikan Agama Islam Pendidikan agama Islam di SMP berfungsi sebagai berikut: a) Pengembanan. b) Penyaluran. c) Perbaikan. d) Pencegahan. e) Penyesuaian. f) Sumber lain. 3. Tujuan Pendidikan Agama Islam Pendidikan agama Islam bertujuan meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT seta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat berbangsa dan bernegara serta untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. 4. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam Ruang lingkup pendidikan agama Islam meliputi keserasian, keselarasan dan keseimbangan antara: a) Hubungan manusia dengan Allah SWT. b) Hubungan manusia dengan sesama manusia. c) Hubungan manusia dengan dirinya sendiri. d) Hubungan manusia dengan makhluk lain dan lingkungannya. Adapun ruang lingkup bahan pelajaran pendidikan agama Islam meliputi lima unsur pokok: a) Al Quran b) Ibadah c) Aqidah d) Akhlak e) Syariah f) Tarikh

110

C. Model Pembelajaran Quantum Teaching 1. Pengertian Quatum Teaching Quantum Teaching menurut pendapat Bobbi De Porter (dalam Ari Nilandri, 1999; 56) adalah: "Quantum Teaching adalah berbagai interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar. Interaksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa. Pembelajaran yang menyingkirkan hambatan yang menghalangi proses kegiatan belajar dengan cara sengaja mengggunakan musik/mewarnai lingkungan sekeliling, menyusun bahan pengajaran yang sesuai pengajaran yang efektif dan banyak mengaftifkan siswa. 2. Asas Quantum Teaching. Asas utama Quantum Teaching menurut pendapat Bobbi De Porter (dalam Ari Nilandri, 1999; 56) meliputi pikiran, perasaan, bahasa isyarat, pengetahuan, sikap dan keyakinan serta persepsi masa mendatang. Jadi belajar akan berhasil apabila dengan cara mengaitkan yang diajarkan dengan suatu peristiwa, pikiran atau perasan yang diperoleh dari kehidupan rumah. 3. Prinsip-prinsip Quantum Teaching. Menurut Bobbi De Porter (dalam Ari Nilandri, 1999;7) Quantum Teaching berprinsip pada : a. Segalanya berbicara b. Segalanya mempunyai tujuan. c. Pengalaman sebelum pemberian nama. d. Semua usaha siswa harus diakui. e. Jika pantas dipelajari maka pantas dirayakan. 4. Kerangka Rancangan Belajar Quantum Teaching. Kerangka rancangan belajar Quantum Teaching menurut Bobbi De Porter (dalam Ari Nilandri, 1999;10) ada enam yaitu meliputi :
111

a. Tumbuhkan, artinya seorang guru harus dapat menimbulkan minat siswa untuk mengikuti pelajaran. b. Alami, maksudnya seorang guru harus dapat menciptakan pengalaman umum yang dapat dimengerti oleh siswanya. c. Namai, maksudnya, seorang guru menggunakan kata yang mudah dimengerti, memberi konsep yang jelas, model yang mudah dimengerti, strategi yang mudah dilakukan. d. Demonstrasikan, maksudnya guru dalam mengajar memberi kesempatan pada siswa untuk menunjukkan bahwa mereka tahu. e. Ulangi, maksudnya guru dapat menunjukkan cara yang mudah untuk mengulang materi. f. Rayakan, maksudnya seorang guru dapat memberi pengakuan atas usaha siswa untuk menyelesaikan tugas dan pemerolehan keterampilan serta ilmu pengetahuan. 5. Langkah Pembelajaran Quantum Teaching Menurut Bobbi DePorter (dalam Ari Nilandri, 1999;14) konteks menata tempat/arena belajar sebagai berikut : a. Suasana kelas. b. Landasan adalah pedoman yang digunakan guru dalam memberikan materi pelajaran. c. Lingkungan. d. Rancangan. 6. Strategi Mengajar Quantum Teaching. Strategi mengajar Quantum Teaching menurut Bobbi DePorter (dalam Ari Nilandri, 1999 ;17) ada lima meliputi : a. Kekuatan terpendam/niat b. Peran Emosi dalam Belajar c. Segala Berperan Serta d. Jalinan Rasa Simpati dan Saling Pengertian e. Keriangan dan Ketakjuban

METODE PENELITIAN 1. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN 3 Sesaot. 2. Setting Penelitian a. PTK dilakukan pada SDN 3 Sesaot tahun Pelajaran 2011-2012. b. PTK dilakukan pada siswa kelas IV dengan jumlah 20 orang ( P = 15 orang ; dan L = 5 orang ) 3. Rancangan Penelitian a. Tindakan dilaksanakan dalam 3 siklus b. Kegiatan dilaksanakan dalam semester genap tahun pelajaran 2011-2012. c. Lama penelitian 6 pekan efektif dilaksanakan mulai tanggal 06 Februari 2012 sampai dengan 13 Maret 2012. d. Dalam pelaksanaan tindakan, rancangan dilakukan dalam 3 siklus yang meliputi ; (a) perencanaan, (2) tindakan, (3) pengamatan, (4) refleksi. 4. Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini terdiri dari; Variabel Peningkatan hasil belajar Harapan: Pendidikan Agama Islam siswa kelas IV Variabel Penerapan model Tindakan: pembelajaran Quantum Teaching. Adapun indikator yang diteliti dalam variabel harapan terdiri dari : 1. Kemampuan siswa dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam 2. Kemampuan siswa dalam meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam melalui penerapan model pembelajaran Quantum Teaching. 3. Keefektifan pembelajaran melalui model Quantum Teaching.

Sedangkan variabel tindakan memiliki indikator sebagai berikut : 1. Tingkat kualitas perencanaan 2. Kualitas perangkat observasi 3. Kualitas operasional tindakan 4. Kesesuaian perencanaan dengan tindakan kelas 5. Kesesuaian teknik yang digunakan meningkatkan hasil belajar siswa. 6. Tingkat efektifitas pelaksanaan model pembelajaran Quantum Teaching. 7. Kemampuan siswa dan guru dalam menerapkan model pembelajaran Quantum Teaching. 5. Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data a. Sumber Data : Sumber data dalam penelitian ini berasal dari dua sumber yaitu : 1 Siswa: Diperoleh data tentang peningkatan hasil belajar Pendidikan Agama Islam kelas IV 2 Guru : Diperoleh data tentang efektivitas penerapan model pembelajaran Quantum Teaching b. Teknik Pengumpulan Data: Dalam Pengumpulan data menggunakan Observasi dan Tes. 6. Indikator Keberhasilan Penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam tiga siklus dianggap sudah berhasil apabila terjadi peningkatan hasil belajar siswa apabila 85 % siswa kelas IV (kelas yang diteliti) telah mencapai ketuntasan dengan standar ideal 75. Jika peningkatan tersebut dapat dicapai pada tahap siklus 1 dan 2, maka siklus selanjutnya tidak akan dilaksanakan karena tindakan kelas yang dilakukan sudah dinilai efektif sesuai dengan harapan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan ( KTSP ).

112

7. Teknik Analisis Data Dalam analisis data teknik yang digunakan adalah ; a. Kuantitatif Analisis ini digunakan untuk menghitung besarnya peningkatan hasil belajar Pendidikan Agama Islam siswa dengan menerapkan model pembelajaran Quantum Teaching dengan menggunakan prosentase (%). b. Kualitatif Teknik analisis ini digunakan untuk memberikan gambaran hasil penelitian secara ; reduksi data, sajian deskriptif, dan penarikan simpulan. 8. Jadwal Pelaksanaan Penelitian Jadwal kegiatan Penelitian dilaksanakan mulai tanggal tanggal 06 Februari 2012 13 Maret 2012 ( 6 Minggu efektif ). HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Paparan Data dan Temuan Penelitian 1. Perencanaan Tindakan Tindakan yang akan dilakukan oleh peneliti antara lain: a) Menyusun instrumen pembelajaran b) Menyusun Instrumen Monitoring c) Sosialisasi kepada siswa d) Melaksanakan tindakan dalam pembelajaran e) Melakukan refleksi f) Menyusun strategi pembelajaran pada siklus ke dua berdasar refleksi siklus pertama g) Melaksanakan pembelajaran pada siklus kedua h) Melakukan Observasi i) Melakukan refleksi pada siklus kedua j) Menyusun strategi pembelajaran pada siklus ketiga berdasar refleksi siklus kedua
113

k) Melaksanakan pembelajaran pada siklus ketiga l) Melakukan Observasi m) Melakukan refleksi pada siklus ketiga n) Menyusun laporan 2. Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan Pelaksanaan tindakan dalam penelitian dilakukan 3 siklus yang terdiri dari enam kali pertemuan. Waktu yang digunakan setiap kali pertemuan adalah 2 x 35 menit. Siklus pertama dilaksanakan pada tanggal 06 s.d 13 Februari 2012 dan siklus kedua pada tanggal 20 s.d 27 Februari 2012, dan siklus ke tiga pada tanggal 06 s.d 13 Maret 2012. SIKLUS 1 1. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, LKS 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi pengolaan pembelajaran. 2. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 06 s.d 13 Februari 2012 di SDN 3 Sesaot tahun pelajaran 20112012 dengan jumlah siswa 20 orang. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksaaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Dari hasil tes formatif yang telah dilakukan diperoleh nilai rata-rata siswa adalah 69,05 %. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang

memperoleh nilai 65 hanya sebesar 70 % atau baru ada 14 siswa dari 20 siswa yang tuntas, hasil ini tentu lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85 %. Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan model pembelajaran Quantum Teaching. 3. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut: a. Guru kurang baik dalam memotivasi siswa dan dalam menyampaikan tujuan pembelajaran b. Guru kurang baik dalam pengelolaan waktu c. Siswa kurang begitu antusias selama pembelajaran berlangsung. 4. Revisi Rancangan a. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada siklus I ini masih terdapat kekurangan, sehingga perlu adanya revisi untuk dilakukan pada siklus berikutnya. b. Guru perlu lebih terampil dalam memotivasi siswa dan lebih jelas dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Di mana siswa diajak untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan. c. Guru perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan menambahkan informasi-informasi yang dirasa perlu dan memberi catatan d. Guru harus lebih terampil dan bersemangat dalam memotivasi siswa sehingga siswa bisa lebih antusias. SIKLUS II 1. Tahap perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana

pelajaran 2, soal tes formatif II dan alat-alat pengajaran yang mendukung. 2. Tahap kegiatan dan pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 20 s.d 27 Februari 2012 di SDN 3 Sesaot tahun pelajaran 20112012. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif II. Adapun nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 71 % dan peningkatan ketuntasan mencapai 75 % atau ada 15 siswa dari 20 siswa sudah tuntas belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami peningkatan cukup lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil belajar siswa ini karena setelah guru menginformasikan bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar. Selain itu siswa juga sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan diinginkan guru dalam menerapkan model pembelajaran Quantum Teaching. 3. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut : 1) Memotivasi siswa 2) Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep 3) Pengelolaan waktu
114

4. Revisi Pelaksanaaan Pelaksanaan kegiatan belajar pada siklus II ini masih terdapat kekurangan-kekurangan. Maka perlu adanya revisi untuk dilaksanakan pada siklus III antara lain: 1) Guru dalam memotivasi siswa hendaknya dapat membuat siswa lebih termotivasi selama proses belajar mengajar berlangsung. 2) Guru harus lebih dekat dengan siswa sehingga tidak ada perasaan takut dalam diri siswa baik untuk mengemukakan pendapat atau bertanya. 3) Guru harus lebih sabar dalam membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep. 4) Guru harus mendistribusikan waktu secara baik sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. 5) Guru sebaiknya menambah lebih banyak contoh soal dan memberi soal-soal latihan pada siswa untuk dikerjakan pada setiap kegiatan belajar mengajar. SIKLUS III 1. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. 2. Tahap kegiatan dan pengamatan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus III dilaksanakan pada tanggal 06 s.d 13 Maret 2012 di SDN 3 Sesaot tahun pelajaran 20112012 dengan jumlah siswa 20 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar
115

mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif III. Adapun nilai rata-rata tes formatif sebesar 81,50 % dan dari 20 siswa semuanya telah mencapai ketuntasan. Maka secara klasikal ketuntasan mencapai 100 % ( termasuk kategori tuntas ). Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran Quantum Teaching, sehingga siswa menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam memahami materi yang telah diberikan. Di samping itu ketuntasan ini juga dipengaruhi oleh kerja sama dari siswa yang telah menguasai materi pelajaran untuk mengajari temannya yang belum menguasai. 3. Refleksi Pada tahap ini akan dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan model pembelajaran Quantum Teaching. Dari data-data yang telah diperoleh dapat diuraikan sebagai berikut: a. Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masingmasing aspek cukup besar. b. Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung. c. Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami

perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik. d. Hasil belajar siswa pada siklus III mencapai ketuntasan. 4. Revisi Pelaksanaan Pada siklus III guru telah menerapkan model pembelajaran Quantum Teaching dengan baik, dan dilihat dari aktivitas siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan model pembelajaran Quantum Teaching, dapat meningkatkan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. B. ANALISIS HASIL KEGIATAN Analisis Data Deskriptif Kuantitatif 1. Pencapaian hasil belajar Pendidikan Agama Islam Kelas IV sebelum diberi tindakan 1381x 100% = 69,05% 2000 2. Pencapaian hasil belajar Pendidikan Agama Islam Kelas IV setelah diberi tindakan pengelompokan siswa berdasarkan nomor panggilan (acak berdasarkan tempat duduk ) 1420 x 100% = 71 % 2000 3. Pencapaian hasil belajar Pendidikan Agama Islam kelas IV setelah diberi tindakan pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan akademik 1630 x 100% = 81,50 % 2000 Dari hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa 1. Terjadi peningkatan prestasi setelah diberi tindakan yaitu 69,05 % menjadi 71% ada kenaikan sebesar = 1,95 %.

2. Dari sebelum tindakan ( siklus 1 ) dan setelah tindakan sampai dengan ( siklus 3 ) 57,71 % menjadi 71 %, dan dari ( siklus 2 ) ke ( siklus 3 ) juga ada peningkatan sebanyak 81,50 % - 71 % = 10,50 %. 3. Ketuntasan siswa sebelum diberi tindakan dari 70 % pada siklus I, 75 % pada siklus II, dan siklus III menjadi 100 %. Refleksi dan Temuan Berdasarkan pelaksanaan tindakan maka hasil observasi nilai, hasil dapat dikatakan sebagai berikut : 1. Siklus pertama kegiatan belajarmengajar dengan menerapkan model pembelajaran Quantum Teaching belum berhasil karena dalam pembelajaran masih terlihat siswa yang bermain, bercerita, dan mengganggu siswa lain; 2. Pembelajaran dengan menerapkan model Quantum Teaching dalam hal peningkatan hasil belajar belum tampak, sehingga hasil yang dicapai tidak tuntas. 3. Mungkin karena proses belajar mengajar yang dilakukan adalah pembelajaran dengan model Quantum Teaching yang baru mereka laksanakan sehingga siswa merasa kaku dalam menerapkannya. 4. Akan tetapi setelah dijelaskan, mereka bisa mengerti dan buktinya pada siklus kedua dan ketiga proses kegiatan belajar - mengajar berjalan baik, semua siswa aktif dan lebih-lebih setelah ada rubrik penilaian proses, seluruh siswa langsung aktif belajar. C. Pembahasan Hasil Penelitian 1. Ketuntasan Hasil belajar Siswa Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Quantum Teaching memiliki dampak positif dalam meningkatkan hasil belajar siswa, hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman
116

siswa terhadap materi yang disampaikan guru (hasil belajar meningkat dari siklus I, II, dan III ) yaitu; 69,05% ; 71% ; 81,50%. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai. 2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dengan model Quantum Teaching dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap motivasi belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus. 3. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan menerapkan model Quantum Teaching yang paling dominan adalah bekerja dengan menggunakan alat/media, mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif. Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah model pembelajaran Quantum Teaching dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul diantaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan kegiatan pembelajaran, menjelaskan, memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab di mana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar. Dari analisis data di atas bahwa pembelajaran dengan model Quantum Teaching dapat diterapkan pada
117

pembelajaran Pendidikan Agama Islam kelas IV, yang berarti proses kegiatan belajar mengajar lebih berhasil dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa khususnya pada siswa kelas IV di SDN 3 Sesaot, oleh karena itu diharapkan kepada para guru SD dapat melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Quantum Teaching di kelas IV. Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) siswa dikatakan tuntas apabila siswa telah mencapai nilai standar ideal 75 mencapai 85 %. Sedangkan pada penilitian ini, pencapai nilai 75 pada (siklus 3 ) mencapai melebihi target yang ditetapkan dalam KTSP yaitu mencapai 100 %. Dengan demikian maka hipotesis yang diajukan dapat diterima. PENUTUP A. Simpulan Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Pembelajaran dengan model Quantum Teaching dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV di SDN 3 Sesaot mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang ditandai dengan peningkatan hasil belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu; 69,05%; 71% ; 81,50%. 2. Penerapan model pembelajaran Quantum Teaching pada pelajaran Pendidikan Agama Islam mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. 3. Penerapan model pembelajaran Quantum Teaching dapat meningkatkan kembali materi ajar yang telah diterima siswa selama ini, sehingga mereka merasa siap

untuk menghadapi berikutnya.

pelajaran

Asri,

B. Saran Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka disampaikan saran sebagai berikut : 1. Untuk melaksanakan pembelajaran memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan pemberian model Quantum Teaching agar diperoleh hasil yang optimal. 2. Dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan kegiatan penemuan, walau dalam taraf yang sederhana, di mana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. 3. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya dilakukan di SDN 3 Sesaot tahun pelajaran 2011-2012. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi.1997. Prossedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Asdi Mahasatya. Anonim.(1994). Kurikulum Pendidikan Dasar GBPP Kelas IV SD. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Ari Nilandri (2001).Quantum Teaching :Orchestrating Student Succes (Bobbi DePoter, Mark Reardon, Sarah SingerNourie,Terjemahan),Boston :Allyn and Bacon. Buku asli diterbitkan tahun 1999.

Budiningsih. 2002. Teori-Teori Belajar. Bandung: Rosdakarya Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Gulo,W. (2002) Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Balai Pustaka. Nasution S., 2001. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Bina Aksara. Jakarta. Nasution,S (1998). Metode Penelitian Naturalistik Kualistif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Ngalim Purwanto. 1992. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya Winkel,WS.1986. Psikologi pendidkan dan evaluasi belajar. Jakarta: Gramedia

118

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN MOTIVASI BELAJAR SISWA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN MELALUI PENERAPAN METODE PARTISIPATORI KELAS V SDN 3 LINGSAR KEC. LINGSAR KAB. LOMBOK BARAT TAHUN PELAJARAN 2011-2012 Oleh: M. NUHIRMAN. S PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Berdasarkan observasi peneliti di kelas V SDN Lingsar Kec. Lingsar Kab. Lombok Barat yang dilakukan pada bulan Sseptember tahun 2011 dan wawancara dengan teman guru Pendidikan Kewarganegaraan, 18 dari 28 siswanya kurang memahami pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan hal ini dilihat dari nilai tes Pendidikan Kewarganegaraan yang kurang dari 60. Berdasarkan hasil pengamatan, bahwa motivasi dan minat belajar Pendidikan Kewarganegaraan siswa rendah. Rendahnya aktivitas dan motivasi belajar siswa dapat dilihat pada saat siswa menerima materi pelajaran. Hal ini ditunjukkan dengan sikap siswa yang cenderung ramai sendiri, mengobrol dengan teman, ada beberapa siswa yang mengerjakan PR pelajaran lain dan kurang memperhatikan pembelajaran yang sedang berlangsung. Bila siswa diberi latihan soal yang agak sulit, siswa tidak mengerjakan soal tersebut dan tidak termotivasi untuk mencari penyelesaian dari soal tersebut. Siswa lebih senang menunggu guru menyelesaikan soal tersebut. Hal ini disebabkan siswa kurang diberikan kesempatan untuk bertanya dan menyampaikan pendapat. Berdasarkan pada permasalahan tersebut perlu dilaksanakan penelitian tindakan pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan menggunakan metode partisipatori untuk meningkatkan aktivitas dan motivasi belajar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan siswa. Metode pembelajaran partisipatori lebih menekankan pada keterlibatan siswa cara penuh. Siswa dianggap sebagai penentu keberhasilan belajar. Siswa didudukkan
119

sebagai subyek belajar. Dengan berpartisipasi aktif, siswa dapat menemukan hasil belajar. Guru hanya bersifat sbagai pemandu atau fasilitator. Metode penerapan partisipatori ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi dalam mengatasi rendahnya motivasi belajar yang dialami oleh siswa. Tujuan Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui sebagai berikut : 1. Peningkatan aktivitas dan motivasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan melalui penerapan metode patisipatori kelas V SDN Lingsar Kec. Lingsar Kab. Lombok Barat tahun pelajaran 2011-2012. 2. Efektivitas penerapan metode patisipatori dalam peningkatan aktivitas dan motivasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan kelas V SDN Lingsar Kec. Lingsar Kab. Lombok Barat tahun pelajaran 20112012. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Memberdayakan guru dalam penyusunan latihan soal dan soal kuis yang mengaitkan materi dengan kehidupan nyata, membimbing siswa dalam memecahkan masalah, memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya, memantau siswa saat mengerjakan latihan soal dengan berdiskusi, dan pengelolaan kelas. 2. Memberdayakan siswa untuk berlatih kerja sama dan tanggung jawab dalam diskusi kelompok serta melatih siswa

3.

untuk bertanya dan menyampaikan pendapat. Dapat digunakan sebagai bekal peneliti untuk mengajar dikemudian hari.

KAJIAN TEORI A. Aktivitas Belajar Siswa Kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa merupakan reaksi atas pelaksanaan interaksi berdasarkan metode cooperative scriptyang telah dipilih oleh guru dalam proses belajar mengajar. Reaksi yang dilakukan oleh siswa sebagai bentuk aktifitas belajar yang dilaksanakan oleh siswa. Aktifitas belajar sebagai bentuk reaksi yang dilakukan oleh siswa dalam kegiatan belajar mengajar dapat berupa: 1. Kehadiran. 2. Perhatian. 3. Semangat. 4. Persiapan. 5. Pertanyaan-pertanyaan, yaitu penyampaian pertanyaanpertanyaan dari siswa terhadap bahan ajar yang kurang jelas maupun yang belum diketahui. 6. Tanggapan. 7. Penyelesaian tugas-tugas. Menurut Robert M. Gagne (dalam Soetomo, 1993: 135) disebutkan bahwa kondisi perbuatan belajar dibagi menjadi dua, yaitu kondisi belajar intern dan kondisi belajar ekstern. 1. Kondisi Belajar Intern Kondisi beljar intern merupakan kegiatan belajar yang berasal dari dalam diri siswa. Ada beberapa aspek yang dapat dilihat dalam belajar intern, yaitu : a. Kematangan belajar, yaitu adanya proses pertumbuhan yang dapat menimbulkan perubahan-perubahan yang disempurnakan oleh proses belajar.

b. Belajar untuk belajar, yaitu proses belajar yang dilakukan dengan belajar melakukan sesuatu atau berlatih. c. Kemampuan belajar, yaitu adanya potensi yang dimiliki oleh siswa sehingga sanggup untuk menyelesaikan tugastugas yang diberikan. 2. Kondisi Belajar Ekstern Proses belajar ekstern merupakan unsur yang mempengaruhi perbuatan belajar yang berada di luar diri seseorang yang belajar. Kondisi belajar ekstern dapat dibagi dalam beberapa bagian, antara lain: a. Adanya latihan. b. Penguatan (reinforcement), yaitu dengan memberikan penghargaan. c. Guru membangun hubungan dengan murid, yaitu dengan jalan menciptakan suasana akrab dengan murid. d. Menggairahkan perhatian. e. Penjelasan yang relevan. B. Motivasi Belajar Siswa 1. Pengertian Motivasi Belajar Banyak para ahli yang memberikan batasan tentang pengertian motivasi antara lain sebagai berikut: a. Menurut Mc. Donald,"motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya "feeling" dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan". b. Menurut Tabrani Rusyan,"motivasi adalah kekuatan yang mendorong seseorang melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan". c. Menurut Gleitman dan Reiber,"motivasi ialah pemasok daya (energizer) untuk bertingkah laku secara terarah".

120

Dari berbagai definisi yang dikemukakan oleh para ahli tersebut di atas, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa motivasi adalah sesuatu yang kompleks, karena motivasi dapat menyebabkan terjadinya perubahan energi dalam diri individu untuk melakukan sesuatu yang didorong karena adanya tujuan, kebutuhan atau keinginan. Dalam pembahasan yang penulis maksud di sini adalah motivasi dalam belajar, oleh karena itu sebelum menguraikan apa itu motivasi belajar maka terlebih dahulu diuraikan tentang belajar. Menurut Sumadi Soerya Brata,"belajar adalah membawa perubahan yang mana perubahan itu mendapatkan kecakapan baru yang dikarenakan dengan usaha atau disengaja". Menurut L,Crow dan A,Crow, Belajar adalah perubahan tingkah laku (seperti inovasi, eliminasi atau modifikasi respon, yang mengandung setara dengan ketetapan) yang sebagian atau seluruhnya disebabkan oleh pengalaman. Indikator motivasi belajar dapat diklasifikasikan sebagai berikut: (a) adanya hasrat dan keinginan berhasil; (b) adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar; (c) adanya harapan dan citacita masa depan; (d) adanya penghargaan dalam belajar; (e) adanya kegiatan yang menarik dalam belajar; dan (f) adanya lingkungan belajar yang kondusif, sehingga memungkinkan siswa dapat belajar dengan baik. Besar kecilnya pengaruh motivasi belajar terhadap seseorang tergantung seberapa besar motivasi itu mampu membangkitkan motivasi seseorang akan melakukan suatu pekerjaan dengan lebih memusatkan
121

pada tujuan dan akan lebih intensif pada proses pengerjaannya. 2. Macam-Macam Motivasi Berdasarkan pengertian di atas, motivasi belajar dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu: c) Motivasi instrintik adalah motivasi yang timbul sebagai akibat dari diri individu sendiri tanpa ada paksaan dan dorongan dari orang lain, tetapi atas kemauan sendiri. d) Motivasi ekstrintik adalah motivasi yang timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain yang akhirnya dapat melakukan sesuatu atau belajar. Untuk mendorong motivasi belajar terhadap siswa, maka diperlukan prinsip-prinsip motivasi belajar sebagai berikut: (1) pujian lebih efektif daripada hukuman, (2) semua siswa mempunyai kebutuhan-kebutuhan psikologis (yang bersifat dasar) tertentu yang harus mendapat kepuasan, (3) Motivasi instrintik lebih efektif daripada motivasi esktrintik, (4) jawaban yang serasi memerlukan usaha penguatan, (5) motivasi itu mudah menjalar terhadap orang lain, (6) pujian-pujian yang datangnya dari luar kadangkadang diperlukan dan cukup efektif untuk merangsang minat yang sebenarnya, dan (7) teknik dan proses mengajar yang bervariasai adalah efektif untuk memelihara minat siswa. 3. Fungsi Motivasi Motivasi merupakan faktor yang sangat penting di dalam belajar sebab motivasi berfungsi sebagai: a. Motivasi memberi semangat terhadap seorang peserta didik dalam kegiatan-kegiatan belajarnya.

b. Motivasi perbuatan merupakan Pemilih dari tipe-tipe kegiatankegiatan dimana seseorang berkeinginan untuk melakukannya. c. Motivasi memberi petunjuk pada tingkah laku Fungsi motivasi juga dipaparkan oleh Tabrani dalam bukunya "Pendekatan dalam proses belajar mengajar", yaitu: a. Mendorong timbulnya kelakuan atau perbuatan b. Mengarahkan aktivitas belajar peserta didik c. Menggerakan dan menentukan cepat atau lambatnya suatu perbuatan. Sama halnya dengan pendapat yang dikemukakan oleh Sardiman, bahwa ada tiga fungsi motivasi, antara lain: a. Mendorong manusia untuk berbuat. b. Menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai. c. Menentukan arah perbuatan, yakni menentukan perbutanperbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan. Setiap motivasi itu bertalian erat dengan tujuan atau suatu citacita, oleh karena itu semakin tinggi harapan terhadap suatu tujuan, maka semakin kuat motivasi seseorang untuk mencapai tujuan itu. Purwanto mengatakan bahwa manfaat motivasi ada 3 yaitu: a. Motivasi itu mendorong manusia untuk berbuat atau bertindak. b. Motivasi itu menentukan arah, perbuatan, yakni kearah perwujudan suatu tujuan atau cita-cita. c. Motivasi itu menyeleksi perbuatan kita, artinya menentukan perbuatan mana
122

yang dilakukan, yang serasi, guna mencapai tujuan itu dengan mengesampingkan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan itu. 4. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Motivasi dalam Belajar Menurut Dimyati bahwa proses belajar siswa, dapat dipengaruhi sebagai berikut: a. Faktor Intern meliputi: sikap terhadap belajar, motivasi, konsentrasi, mengolah bahan ajar, rasa percaya diri. Kemampuan berprestasi, menggali hasil belajar yang tersimpan. b. Faktor Ekstern meliputi: guru, sarana dan prasarana pembelajaran, kebijakan sekolah, lingkungan sekolah, dan kurikulum. Menurut Dimyati hal-hal yang berepengaruh terhadap motivasi ada yaitu: a. Cita-cita atau aspirasi siswa b. Kemampuan siswa c. Kondisi siswa d. Kondisi lingkungan e. Unsur-unsur dinamis dala belajar dan pembelajaran f. Upaya guru dalam membelajarkan siswa C. Tinjauan tentang Penerapan Metode Partisipatori Metode pembelajaran partisipatori lebih menekankan pada keterlibatan siswa cara penuh. Siswa dianggap sebagai penentu keberhasilan belajar. Siswa didudukkan sebagai subyek belajar. Dengan berpartisipasi aktif, siswa dapat menemukan hasil belajar. Guru hanya bersifat sbagai pemandu atau fasilitator. Berkaitan dengan penyikapan guru kepada siswa, partisipatori beranggapan bahwa;

1. Setiap siswa adalah unik. 2. Anak bukan orang dewasa dalam bentuk kecil. 3. Dunia anak adalah dunia bermain. 4. Usia anak merupakan usia yang paling kreatif dalam hidup manusia. Dalam metode partisipatori, siswa aktif, dinamis, dan berlaku sebagai subyek. Namun bukan berarti guru harus pasif, tetapi guru juga aktif dalam memfasilitasi belajar siswa dengan suara, gambar, tulisan dinding, dan sebagainya. Metode partisipatori mempunyai ciri-ciri pokok yaitu : (1) beljara dari realitas atau pengalaman, (2) tidak menggurui, dan (3) dialogis. Kemudian panduan prosesnya disusun dengan sistem daur belajar dari pengalaman yang terstruktur saat itu (struktural expriences learning cycle). Proses tersebut sudah teruji sebagai suatu proses yang memenuhi tuntutan pendidikan partisipatori. Berikut rincian proses berdasarkan tahapnnya. 1. Rangkai ulang 2. Ungkapan 3. Kaji urai 4. Kesimpulan 5. Tindakan Hal di atas sebagai metode pertama. Kemudian metode berikutnya adalah siswa sebagai subyek, pendekatan prosesnya menerapkan pola induktif kemudian tahapannya sebagai berikut : 1. Persepsi 2. Idenifikasi diri 3. Aplikasi diri 4. Penguasaan diri 5. Refleksi diri. METODE PENELITIAN 1. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN 3 Lingsar. 2. Setting Penelitian a. PTK dilakukan pada SDN 3 Lingsar tahun Pelajaran 20112012.
123

b. PTK dilakukan pada siswa kelas V dengan jumlah 28 orang ( P = 12 orang ; dan L = 16 orang ) 3. Rancangan Penelitian a. Tindakan dilaksanakan dalam 3 siklus b. Kegiatan dilaksanakan dalam semester ganjil tahun pelajaran 2011-2012. c. Lama penelitian 6 pekan efektif dilaksanakan mulai tanggal 09 September 2011 sampai dengan 14 Oktober 2011. d. Dalam pelaksanaan tindakan, rancangan dilakukan dalam 3 siklus yang meliputi ; (a) perencanaan, (2) tindakan, (3) pengamatan, (4) refleksi. 4. Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini terdiri dari; Variabel Peningkatan aktivitas dan Harapan: motivasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan siswa kelas V Variabel Penerapan metode Tindakan: partisipatori. Adapun indikator yang diteliti dalam variabel harapan terdiri dari : 1. Kemampuan siswa dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan 2. Kemampuan siswa dalam meningkatkan aktivitas dan motivasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan melalui penerapan metode partisipatori. 3. Keefektifan pembelajaran melalui metode partisipatori. Sedangkan variabel tindakan memiliki indikator sebagai berikut : 1. Tingkat kualitas perencanaan 2. Kualitas perangkat observasi 3. Kualitas operasional tindakan 4. Kesesuaian perencanaan dengan tindakan kelas

5. Kesesuaian teknik yang digunakan meningkatkan aktivitas dan motivasi belajar siswa. 6. Tingkat efektifitas pelaksanaan metode partisipatori. 7. Kemampuan siswa dan guru dalam menerapkan metode partisipatori. 5. Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data a. Sumber Data : Sumber data dalam penelitian ini berasal dari dua sumber yaitu : 1 Siswa: Diperoleh data tentang peningkatan aktivitas dan motivasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan kelas V 2 Guru : Diperoleh data tentang efektivitas penerapan metode partisipatori b. Teknik Pengumpulan Data: Dalam Pengumpulan data menggunakan Observasi dan Tes. 6. Indikator Keberhasilan Penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam tiga siklus dianggap sudah berhasil apabila terjadi peningkatan aktivitas dan motivasi belajar siswa apabila 85 % siswa kelas V (kelas yang diteliti) telah mencapai ketuntasan dengan standar ideal 75. Jika peningkatan tersebut dapat dicapai pada tahap siklus 1 dan 2, maka siklus selanjutnya tidak akan dilaksanakan karena tindakan kelas yang dilakukan sudah dinilai efektif sesuai dengan harapan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan ( KTSP ). 7. Teknik Analisis Data Dalam analisis data teknik yang digunakan adalah ; a. Kuantitatif Analisis ini digunakan untuk menghitung besarnya peningkatan aktivitas dan motivasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan siswa dengan
124

menerapkan metode partisipatori dengan menggunakan prosentase (%). b. Kualitatif Teknik analisis ini digunakan untuk memberikan gambaran hasil penelitian secara ; reduksi data, sajian deskriptif, dan penarikan simpulan. 8. Jadwal Pelaksanaan Penelitian Jadwal kegiatan Penelitian dilaksanakan mulai tanggal tanggal 09 September 2011 14 Oktober 2011 ( 6 Minggu efektif ). HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Paparan Data dan Temuan Penelitian 1. Perencanaan Tindakan Tindakan yang akan dilakukan oleh peneliti antara lain: a) Menyusun instrumen pembelajaran b) Menyusun Instrumen Monitoring c) Sosialisasi kepada siswa d) Melaksanakan tindakan dalam pembelajaran e) Melakukan refleksi f) Menyusun strategi pembelajaran pada siklus ke dua berdasar refleksi siklus pertama g) Melaksanakan pembelajaran pada siklus kedua h) Melakukan Observasi i) Melakukan refleksi pada siklus kedua j) Menyusun strategi pembelajaran pada siklus ketiga berdasar refleksi siklus kedua k) Melaksanakan pembelajaran pada siklus ketiga l) Melakukan Observasi m) Melakukan refleksi pada siklus ketiga n) Menyusun laporan

2. Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan Pelaksanaan tindakan dalam penelitian dilakukan 3 siklus yang terdiri dari enam kali pertemuan. Waktu yang digunakan setiap kali pertemuan adalah 2 x 35 menit. Siklus pertama dilaksanakan pada tanggal 09 s.d 16 September 2011 dan siklus kedua pada tanggal 23 s.d 30 September 2011, dan siklus ke tiga pada tanggal 07 s.d 14 Oktober 2011. SIKLUS 1 1. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, LKS 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi pengolaan pembelajaran. 2. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 09 s.d 16 September 2011 di SDN 3 Lingsar tahun pelajaran 2011-2012 dengan jumlah siswa 28 orang. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksaaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Dari hasil tes formatif yang telah dilakukan diperoleh nilai rata-rata siswa adalah 59,82 %. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai 65 hanya sebesar 32,14 % atau baru ada 9 siswa dari 28 siswa yang tuntas, hasil ini tentu lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85 %. Hal ini disebabkan karena siswa masih
125

merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan metode partisipatori. 3. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut: a. Guru kurang baik dalam memotivasi siswa dan dalam menyampaikan tujuan pembelajaran b. Guru kurang baik dalam pengelolaan waktu c. Siswa kurang begitu antusias selama pembelajaran berlangsung. 4. Revisi Rancangan a. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada siklus I ini masih terdapat kekurangan, sehingga perlu adanya revisi untuk dilakukan pada siklus berikutnya. b. Guru perlu lebih terampil dalam memotivasi siswa dan lebih jelas dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Di mana siswa diajak untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan. c. Guru perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan menambahkan informasi-informasi yang dirasa perlu dan memberi catatan d. Guru harus lebih terampil dan bersemangat dalam memotivasi siswa sehingga siswa bisa lebih antusias. SIKLUS II 1. Tahap perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2, soal tes formatif II dan alat-alat pengajaran yang mendukung. 2. Tahap kegiatan dan pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 23 s.d 30 September 2011 di SDN 3 Lingsar tahun pelajaran 2011-2012. Dalam hal ini peneliti

bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif II. Adapun nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 65,75 % dan peningkatan ketuntasan mencapai 80 % atau ada 20 siswa dari 28 siswa sudah tuntas belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami peningkatan cukup lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil belajar siswa ini karena setelah guru menginformasikan bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar. Selain itu siswa juga sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan diinginkan guru dalam menerapkan metode partisipatori. 3. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut : 1) Memotivasi siswa 2) Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep 3) Pengelolaan waktu 4. Revisi Pelaksanaaan Pelaksanaan kegiatan belajar pada siklus II ini masih terdapat kekurangan-kekurangan. Maka perlu adanya revisi untuk dilaksanakan pada siklus III antara lain: 1) Guru dalam memotivasi siswa hendaknya dapat membuat siswa
126

2)

3)

4)

5)

lebih termotivasi selama proses belajar mengajar berlangsung. Guru harus lebih dekat dengan siswa sehingga tidak ada perasaan takut dalam diri siswa baik untuk mengemukakan pendapat atau bertanya. Guru harus lebih sabar dalam membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep. Guru harus mendistribusikan waktu secara baik sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Guru sebaiknya menambah lebih banyak contoh soal dan memberi soal-soal latihan pada siswa untuk dikerjakan pada setiap kegiatan belajar mengajar.

SIKLUS III 1. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. 2. Tahap kegiatan dan pengamatan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus III dilaksanakan pada tanggal 07 s.d 14 Oktober 2011 di SDN 3 Lingsar tahun pelajaran 20112012 dengan jumlah siswa 28 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif III.

Adapun nilai rata-rata tes formatif sebesar 75,86 % dan dari 28 siswa semuanya telah mencapai ketuntasan. Maka secara klasikal ketuntasan mencapai 100 % ( termasuk kategori tuntas ). Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan metode partisipatori, sehingga siswa menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam memahami materi yang telah diberikan. Di samping itu ketuntasan ini juga dipengaruhi oleh kerja sama dari siswa yang telah menguasai materi pelajaran untuk mengajari temannya yang belum menguasai. 3. Refleksi Pada tahap ini akan dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan metode partisipatori. Dari data-data yang telah diperoleh dapat diuraikan sebagai berikut: a. Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masingmasing aspek cukup besar. b. Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung. c. Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik. d. Hasil belajar siswa pada siklus III mencapai ketuntasan. 4. Revisi Pelaksanaan Pada siklus III guru telah menerapkan metode partisipatori dengan baik, dan dilihat dari aktivitas siswa serta motivasi belajar siswa
127

pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan metode partisipatori, dapat meningkatkan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. B. ANALISIS HASIL KEGIATAN Analisis Data Deskriptif Kuantitatif 1. Pencapaian hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan Kelas V sebelum diberi tindakan 1010x 100% = 59,82% 2800 2. Pencapaian hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan Kelas V setelah diberi tindakan pengelompokan siswa berdasarkan nomor panggilan (acak berdasarkan tempat duduk ) 1841 x 100% = 65,75 % 2800 3. Pencapaian hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan kelas V setelah diberi tindakan pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan akademik 2124 x 100% = 75,86 % 2800 Dari hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa 1. Terjadi peningkatan prestasi setelah diberi tindakan yaitu 59,82 % menjadi 65,75% ada kenaikan sebesar = 29,28 %. 2. Dari sebelum tindakan ( siklus 1 ) dan setelah tindakan sampai dengan ( siklus 3 ) 57,65,75 % menjadi 65,75 %, dan dari ( siklus 2 ) ke ( siklus 3 ) juga ada peningkatan sebanyak 75,86 % - 65,75 % = 10,11 %. 3. Ketuntasan siswa sebelum diberi tindakan dari 32,14 % pada siklus I,

80% pada siklus II, dan siklus III menjadi 100 %. Refleksi dan Temuan Berdasarkan pelaksanaan tindakan maka hasil observasi nilai, hasil dapat dikatakan sebagai berikut : 1. Siklus pertama kegiatan belajarmengajar dengan menerapkan metode partisipatori belum berhasil karena dalam pembelajaran masih terlihat siswa yang bermain, bercerita, dan mengganggu siswa lain; 2. Pembelajaran dengan menerapkan metode partisipatori dalam hal peningkatan aktivitas dan motivasi belajar belum tampak, sehingga hasil yang dicapai tidak tuntas. 3. Mungkin karena proses belajar mengajar yang dilakukan adalah pembelajaran dengan metode partisipatori yang baru mereka laksanakan sehingga siswa merasa kaku dalam menerapkannya. 4. Akan tetapi setelah dijelaskan, mereka bisa mengerti dan buktinya pada siklus kedua dan ketiga proses kegiatan belajar - mengajar berjalan baik, semua siswa aktif dan lebih-lebih setelah ada rubrik penilaian proses, seluruh siswa langsung aktif belajar. C. Pembahasan Hasil Penelitian 1. Ketuntasan Hasil belajar Siswa Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode partisipatori memiliki dampak positif dalam meningkatkan aktivitas dan motivasi belajar siswa, hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru (hasil belajar meningkat dari siklus I, II, dan III ) yaitu; 59,82% ; 65,75% ; 75,86%. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai.

2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dengan metode partisipatori dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap hasil belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus. 3. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dengan menerapkan metode partisipatori yang paling dominan adalah bekerja dengan menggunakan alat/media, mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif. Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah metode partisipatori dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul diantaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan kegiatan pembelajaran, menjelaskan, memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab di mana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar. Dari analisis data di atas bahwa pembelajaran dengan metode partisipatori dapat diterapkan pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan kelas V, yang berarti proses kegiatan belajar mengajar lebih berhasil dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada siswa kelas V di SDN 3 Lingsar, oleh karena
128

itu diharapkan kepada para guru SD dapat melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode partisipatori di kelas V. Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) siswa dikatakan tuntas apabila siswa telah mencapai nilai standar ideal 75 mencapai 85 %. Sedangkan pada penilitian ini, pencapai nilai 75 pada (siklus 3 ) mencapai melebihi target yang ditetapkan dalam KTSP yaitu mencapai 100 %. Dengan demikian maka hipotesis yang diajukan dapat diterima. PENUTUP A. Simpulan Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Pembelajaran dengan metode partisipatori dapat meningkatkan aktivitas dan motivasi belajar siswa kelas V di SDN 3 Lingsar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang ditandai dengan peningkatan hasil belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu; 59,82%; 65,75% ; 75,86%. 2. Penerapan metode partisipatori pada pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan hasil belajar siswa. 3. Penerapan metode partisipatori dapat meningkatkan kembali materi ajar yang telah diterima siswa selama ini, sehingga mereka merasa siap untuk menghadapi pelajaran berikutnya. B. Saran Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang
129

optimal bagi siswa, maka disampaikan saran sebagai berikut : 1. Untuk melaksanakan pembelajaran memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan pemberian metode partisipatori agar diperoleh hasil yang optimal. 2. Dalam rangka meningkatkan aktivitas dan motivasi belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan kegiatan penemuan, walau dalam taraf yang sederhana, di mana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. 3. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya dilakukan di SDN 3 Lingsar tahun pelajaran 2011-2012. DAFTAR PUSTAKA Annonim. 2004. Model PKN SD. http://www.google.co.id/search?hl = en&cr=countryID&q=modelmodel+pembelajaran&start=10&sa =N. Diakses 2 April 2008 Annonim. 2005. Membangkitkan Motivasi Belajar Siswa. http://www.bruderfic.or.id/h129/peran-guru-dalammembangkitkan-motiVasi-belajarsiswa.html. Diakses 28 Juni 2008 Elida Prayitno. 1989. Motivasi dalam Belajar. Jakarta: Depdikbud. Endang Supartini. 2001. Diagnosis Kesulitan Belajar dan Pengajaran Remedial. Yogyakarta: FIP-UNY. Erman Suherman, Turmudi, Didi Suryadi, Tatang Herman, Suhendra, Sufyani Prabawanto, Nurjanah, Ade Rohayat. 2003. Strategi Pembelajaran PKN Kontemporer.

Bandung: Jurusan Pendidikan PKN FMPKN UPI. Moh. Uzer Usman. 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Bandung: Rosdakarya. Muhibbin Syah, M.Ed. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Rajawali Pers. Nana Sudjana dan Ibrahim. 2001. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru Bandung. Ratna Willis Dahar. 1996. Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga. Rochiati Wiriatmadja. 2006. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosdakarya. Saifuddin Azwar. 1996. Tes Prestasi Fungsi dan Pengembangan Pengukuran Prestasi Belajar. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Sardiman A. M. 1996. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Sartono Wirodikromo. 2004. PKN untuk SD Kelas V. Jakarta: Erlangga. Sri Rumini. 2003. Diagnosis Kesulitan Belajar. Yogyakarta: FIP-UNY Suharsimi Arikunto. 2003. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta Suryawahyuni Latief. 2008. Meningkatkan Motivasi Belajar. http://202.152.33.84/index.php?opt ion=com_content&task=View&id= 13377&Itemid=46. Diakses 26 Mei 2008 Susiyana. 2006. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar PKN Siswa melalui Metode Partisipatori di SD Muhammadiyah 4 Yogyakarta Kelas V. Skripsi. Yogyakarta: Jurdik PKN FMPKN UNY. Utami Munandar. 1992. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak sekolah. Jakarta: Gramedia. Winkel. 1991. Psikologi Pembelajaran. Jakarta: Grasindo.

130

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DENGAN MENERAPKAN GABUNGAN METODE EKSPOSITORI DAN METODE PEMBERIAN TUGAS TERPROGRAM KELAS V SDN 2 BATU MEKAR KEC. LINGSAR KAB. LOMBOK BARAT TAHUN PELAJARAN 2012-2013 Oleh: RAYUMIN PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Berdasarkan observasi di kelas kelemahan belajar pendidikan kewarganegaraan di kelas V SDN 2 Batu Mekar Kec. Lingsar adalah (1) siswa tidak mampu menguasai hubungan antar konsep, (2) siswa kurang memperhatikan materi yang diberikan guru, (3) siswa kurang dalam mengerjakan latihan-latihan soal, (4) siswa malu bertanya tentang materi yang belum dimengerti. Selain itu, rendahnya hasil belajar siswa dikarenakan guru dalam menerangkan materi pendidikan kewarganegaraan kurang jelas dan kurang menarik perhatian siswa dan pada umumnya guru terlalu cepat dalam menerangkan materi pelajaran. Di samping itu penggunaan metode pengajaran yang tidak sesuai dengan materi yang diajarkan. Sehingga siswa dalam memahami dan menguasai materi masih kurang dan nilai yang diperoleh siswa cenderung rendah. Masalah-masalah di atas merupakan masalah-masalah pendekatan pembelajaran, belum lagi masalah-masalah dari siswa itu sendiri, selain itu juga dikhawatirkan aktivitas belajar Pendidikan Kewarganegaraan terganggu, jika suasana pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan tidak menyenangkan. Salah satu cara untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan adalah melalui gabungan metode ekspositori dan pemberian tugas terprogaram. Tujuan Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui sebagai berikut : 1. Peningkatan prestasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan dengan
131

menerapkan gabungan metode ekspositori dan metode pemberian tugas terprogram kelas V SDN 2 Batu Mekar Kec. Lingsar tahun pelajaran 2012-2013. Efektivitas penerapan gabungan metode ekspositori dan metode pemberian tugas terprogram dalam meningkatkan prestasi belajar pendidikan kewarganegaraan kelas V SDN 2 Batu Mekar Kec. Lingsar tahun pelajaran 2012-2013. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Manfaat Teoritis Secara teoritis dapat memberikan sumbangan untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui gabungan metode ekspositori dan pemberian tugas terprogaram. 2. Secara Khusus Penelitian ini memberikan kontribusi pada strategi pembelajaran pendidikan kewarganegaraan berupa pergeseran dari pembelajaran yang hanya mementingkan hasil pembelajarannya saja tetapi juga mementingkan prosesnya karena dalam pembelajaran disarankan untuk menggunakan paradigma belajar yang menunjukkan kepada proses untuk meningkatkan hasil. 3. Manfaat Praktis a. Bagi guru, gabungan metode ekspositori dan pemberian tugas terprogaram dapat digunakan untuk menyelenggarakan pembelajaran yang inovatif dan kreatif. b. Bagi siswa, proses pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil

belajar siswa dalam bidang pendidikan kewarganegaraan KAJIAN TEORI A. Prestasi Belajar Siswa 1. Pengertian Prestasi Prestasi belajar adalah hasil atau akibat dari kegiatan belajar. Untuk mengetahui tentang prestasi belajar perlu dijelaskan tentang hakekat belajar. Belajar merupakan suatu proses yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman ( Slameto,1991). Di mana perubahan itu bersifat kontinyu dan fungsional, terjadi secar sadar, bersifat positif dan aktif, bukan bersifat sementara, bertujuan atau terarah, dan mencakup seluruh aspek tingkah laku yang selanjutnya dinamakan hasil belajar. Dan hasil belajar tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk prestasi belajar. Menurut Abu Ahmadi (2001), belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Berdasarkan pengertian belajar di atas, maka dapat didefinisikan tentang prestasi belajar, yaitu tingkat keberhasilan yang dicapai siswa berupa ketrampilan dan pengetahuan berdasarkan hasil tes atau evaluasi setelah pelaksanaan proses belajar mengajar. 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar Nasution (2001: 344) pada penelitiannya menyimpulkan bahwa secara garis besar faktorfaktor yang mempengaruhi belajar
132

dan prestasi belajar dapat digolongkan menjadi dua bagian, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. a. Faktor internal Merupakan faktor yang berasal dari dalam diri siswa yang dapat mempengaruhi prestasi. Faktor ini dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu: 1) Faktor fisiologis Dalam hal ini yang berhubungan dengan kesehatan dan pancaindera (a) Kesehatan badan (b) Pancaindera 2) Faktor psikologis Ada banyak faktor psikologis yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa, antara lain adalah : (a) Intelligensi (b) Sikap (c) Motivasi b. Faktor eksternal Selain faktor-faktor yang ada dalam diri siswa, ada hal lain di luar diri yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang akan diraih, antara lain adalah : 1) Faktor lingkungan keluarga (a) Sosial ekonomi keluarga (b) Pendidikan orang tua (c) Perhatian orang tua dan suasana hubungan antara anggota keluarga 2) Faktor lingkungan sekolah (a) Sarana dan prasarana (b) Kompetensi guru dan siswa (c) Kurikulum dan metode mengajar 3) Faktor lingkungan masyarakat (a) Sosial budaya (b) Partisipasi terhadap pendidikan

B. Metode Ekspositori Menurut Tim MKPBM (2001: 171) metode ekspositori sama seperti metode ceramah tetapi dominasi guru banyak berkurang, karena guru tidak terus-menerus berbicara. Guru berbicara pada awal pelajaran, menerangkan materi dan membimbing siswa dalam memahami materi serta memberi contoh soal. Dalam metode ekspositori siswa tidak hanya mendengar dan membuat catatan saja, tetapi juga membuat soal dan bisa bertanya kalau tidak mengerti. Guru dapat memeriksa pekerjaan siswa secara individual, atau menjelaskan kembali kepada siswa secara individual atau klasikal. Pada metode ekspositori siswa belajar lebih aktif dari metode ceramah, karena. Siswa dapat mengerjakan latihan soal sendiri atau juga dapat berdiskusi dengan temannya. Menurut David P. Ausubel yand dikutip oleh Tim MKPBM (2001: 171), belajar dibedakan menjadi: belajar dengan menerima (reception learning) dan belajar melalui penemuan (discovery learning). Menurut Muhibbin Syah (2002: 144) faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat dibedakan menjadi tiga macam. 1. Faktor internal (faktor dari dalam diri siswa). 2. Faktor eksternal (faktor dari luar siswa). 3. Faktor pendekatan belajar. C. Tinjauan Tentang Metode Pemberian Tugas Terstruktur 1. Pengertian Pemberian Tugas Biasanya guru memberikan tugas itu sebagai pekerjaan rumah. Akan tetapi sebenarnya ada perbedaan antara pekerjaan rumah dan pemberian tugas seperti halnya yang dikemukakan: Munandar (1985: 74) yang mengatakan: Untuk pekerjaan rumah, guru
133

menyuruh membaca dari buku di rumah, dua hari lagi memberikan pertanyaan di kelas. Tetapi dalam pemberian tugas guru menyuruh membaca. Juga juga menambah tugas (1),cari buku lain untuk membedakan, (2) pelajari keadaan orangnya. Dalam memberikan tugas keadaan siswa, guru harus memperhatikan hal-hal berikut ini: (1) memberikan penjelasan, (2) tujuan penugasan, (3) bentuk pelaksanaan tugas, (4) manfaat tugas, (5) bentuk pekerjaan, (6) tempat dan waktu penyelesaian tugas, (7) memberikan bimbingan dan dorongan, dan (8) memberikan penilaian (Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, 1995: 56). Adapun jenis-jenis tugas yang dapat diberikan kepada siswa yang dapat membantu berlangsungnya proses belajar mengajar: (1) tugas membuat rangkuman, (2) membuat makalah, (3) menyelesaikan soal, (4) tugas mengadakan observasi, (5) tugas mempraktekkan sesuatu, (6) tugas mendemonstrasikan observasi (Sudjana, 1998: 102). Adapun dalam penelitian ini tugas yang diberikan adalah pemberian tugas terstruktur yang berbentuk pertanyaan yang harus diselesaikan siswa mengenai materi pokok bahasan pertemuan berikutnya. 2. Kelebihan dan Kelemahan Pemberian Tugas terstruktur Adapun kelebihan metode pemberian tugas: (1) metode ini merupakan aplikasi pengajaran modern, (2) dapat memupuk rasa percaya diri sendiri, (3) dapat membina kebiasaan siswa untuk mencari, mengolah menginformasikan dan mengkomunikasikan sendiri, (4) dapat mendorong belajar, (5) dapat

membina tanggung jawab dan disiplin siswa, (6) dapat mengembangkan kreativitas siswa, dan (7) dapat mengembangkan pola berpikir dan ketrampilan anak(Slameto, 2003: 47) Adapun kelemahan metode pemberian tugas, adalah: (1) tugas tersebut sulit dikontrol guru, (2) sulit untuk dapat memenuhi pemberian tugas, (3) pemberian tugas terlalu sering dan banyak, akan dapat menimbulkan keluhan siswa, (4) dapat menurunkan minat belajar siswa kalau tugas terlalu sulit, (5) pemberian tugas yang monoton dapat menimbulkan kebosanan siswa apabila terlalu sering, (6) khusus tugas kelompok juga sulit untuk dinilai siapa yang aktif, dan (7) bahan pelajaran yang telah dikumpulkan dengan baik membuat setiap siswa melalui urutan kegiatan belajar yang sama. Hal ini membuat metode kurang fleksibel, (8) biaya pengembangan tinggi, (9) siswa kurang mendapat interaksi sosial(Slameto, 2003: 48). 3. Pemberian Tugas terstruktur Tugas terstruktur adalah tugas yang diberikan kepada siswa dalam bentuk tugas individu. Tugas itu diberikan kepada siswa dalam bentuk soal-soal essay yang harus dijawabnya, setelah mempelajari materi-materi pelajaran yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya. Dengan tugas pendahuluan ini diharapkan sebelum menerima pelajaran dari guru, dalam diri siswa telah terbentuk struktur kognitif yang diperoleh dari tugas pendahuluan tersebut. Pemberian tugas terstruktur ini sesuai dengan anjuran Ausubel yang mengatakan bahwa: yang paling penting yang mempengaruhi belajar adalah apa yang diketahui oleh siswa (Syaiful Bahri Djamarah, 1990: 117). Dengan tugas pendahuluan ini akan terbentuk struktur kognitif siswa.
134

Metode ini tepat diterapkan bila: (1) kurang mendapatkan interaksi sosial, (2) semua tahap belajar, dari permulaan sampai dengan proses akhir belajar siswa, dapat diprogram secara lengkap/utuh, (3) pelajaran formal, belajar jarak jauh, dan magang, (3) mengatasi kesulitan perbedaan individual, (4) mempermudah siswa belajar dalam waktu yang diinginkan (Syaiful Bahri Djamarah, 1994: 89). METODE PENELITIAN 1. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN 2 Batu Mekar Kec. Lingsar. 2. Setting Penelitian a. PTK dilakukan pada SDN 2 Batu Mekar Kec. Lingsar tahun Pelajaran 2012-2013. b. PTK dilakukan pada siswa kelas V dengan jumlah 35 orang ( P = 18 orang ; dan L = 17 orang ) 3. Rancangan Penelitian a. Tindakan dilaksanakan dalam 3 siklus b. Kegiatan dilaksanakan dalam semester genap tahun pelajaran 2012-2013. c. Lama penelitian 6 pekan efektif dilaksanakan mulai tanggal 13 Maret 2013 sampai dengan 17 April 2013. d. Dalam pelaksanaan tindakan, rancangan dilakukan dalam 3 siklus yang meliputi ; (a) perencanaan, (2) tindakan, (3) pengamatan, (4) refleksi. 4. Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini terdiri dari; Variabel Peningkatan prestasi belajar Harapan: Pendidikan Kewarganegaraan siswa kelas V

Variabel Penerapan gabungan Tindakan: metode ekspositori dan pemberian tugas terprogram. Adapun indikator yang diteliti dalam variabel harapan terdiri dari : 1. Kemampuan siswa dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan 2. Kemampuan siswa dalam meningkatkan prestasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan melalui penerapan gabungan metode ekspositori dan pemberian tugas terprogram. 3. Keefektifan pembelajaran melalui gabungan metode ekspositori dan pemberian tugas terprogram. Sedangkan variabel tindakan memiliki indikator sebagai berikut : 1. Tingkat kualitas perencanaan 2. Kualitas perangkat observasi 3. Kualitas operasional tindakan 4. Kesesuaian perencanaan dengan tindakan kelas 5. Kesesuaian teknik yang digunakan meningkatkan prestasi belajar siswa. 6. Tingkat efektifitas pelaksanaan gabungan metode ekspositori dan pemberian tugas terprogram. 7. Kemampuan siswa dan guru dalam menerapkan gabungan metode ekspositori dan pemberian tugas terprogram. 5. Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data a. Sumber Data : Sumber data dalam penelitian ini berasal dari dua sumber yaitu : 1 Siswa: Diperoleh data tentang peningkatan prestasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan kelas V 2 Guru : Diperoleh data tentang efektivitas penerapan gabungan metode ekspositori dan pemberian tugas terprogram

b. Teknik Pengumpulan Data: Dalam Pengumpulan data menggunakan Observasi dan Tes. 6. Indikator Keberhasilan Penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam tiga siklus dianggap sudah berhasil apabila terjadi peningkatan prestasi belajar siswa apabila 85 % siswa kelas V (kelas yang diteliti) telah mencapai ketuntasan dengan standar ideal 75. Jika peningkatan tersebut dapat dicapai pada tahap siklus 1 dan 2, maka siklus selanjutnya tidak akan dilaksanakan karena tindakan kelas yang dilakukan sudah dinilai efektif sesuai dengan harapan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan ( KTSP ). 7. Teknik Analisis Data Dalam analisis data teknik yang digunakan adalah ; a. Kuantitatif Analisis ini digunakan untuk menghitung besarnya peningkatan prestasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan siswa dengan menerapkan gabungan metode ekspositori dan pemberian tugas terprogram dengan menggunakan prosentase (%). b. Kualitatif Teknik analisis ini digunakan untuk memberikan gambaran hasil penelitian secara ; reduksi data, sajian deskriptif, dan penarikan simpulan. 8. Jadwal Pelaksanaan Penelitian Jadwal kegiatan Penelitian dilaksanakan mulai tanggal tanggal 13 Maret 2013 17 April 2013 ( 6 Minggu efektif ).

135

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Paparan Data dan Temuan Penelitian 1. Perencanaan Tindakan Tindakan yang akan dilakukan oleh peneliti antara lain: a) Menyusun instrumen pembelajaran b) Menyusun Instrumen Monitoring c) Sosialisasi kepada siswa d) Melaksanakan tindakan dalam pembelajaran e) Melakukan refleksi f) Menyusun strategi pembelajaran pada siklus ke dua berdasar refleksi siklus pertama g) Melaksanakan pembelajaran pada siklus kedua h) Melakukan Observasi i) Melakukan refleksi pada siklus kedua j) Menyusun strategi pembelajaran pada siklus ketiga berdasar refleksi siklus kedua k) Melaksanakan pembelajaran pada siklus ketiga l) Melakukan Observasi m) Melakukan refleksi pada siklus ketiga n) Menyusun laporan 2. Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan Pelaksanaan tindakan dalam penelitian dilakukan 3 siklus yang terdiri dari enam kali pertemuan. Waktu yang digunakan setiap kali pertemuan adalah 2 x 35 menit. Siklus pertama dilaksanakan pada tanggal 13 s.d 20 Maret 2013 dan siklus kedua pada tanggal 27 Maret s.d 03 April 2013, dan siklus ke tiga pada tanggal 10 s.d 17 April 2013.

SIKLUS 1 1. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, LKS 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi pengolaan pembelajaran. 2. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 13 s.d 20 Maret 2013 di SDN 2 Batu Mekar Kec. Lingsar tahun pelajaran 2012-2013 dengan jumlah siswa 35 orang. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksaaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Dari hasil tes formatif yang telah dilakukan diperoleh nilai rata-rata siswa adalah 40,43 %. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai 65 hanya sebesar 31,43 % atau baru ada 11 siswa dari 35 siswa yang tuntas, hasil ini tentu lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85 %. Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan gabungan metode ekspositori dan pemberian tugas terprogram. 3. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut: a. Guru kurang baik dalam memotivasi siswa dan dalam menyampaikan tujuan pembelajaran

136

b. Guru kurang baik dalam pengelolaan waktu c. Siswa kurang begitu antusias selama pembelajaran berlangsung. 4. Revisi Rancangan a. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada siklus I ini masih terdapat kekurangan, sehingga perlu adanya revisi untuk dilakukan pada siklus berikutnya. b. Guru perlu lebih terampil dalam memotivasi siswa dan lebih jelas dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Di mana siswa diajak untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan. c. Guru perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan menambahkan informasi-informasi yang dirasa perlu dan memberi catatan d. Guru harus lebih terampil dan bersemangat dalam memotivasi siswa sehingga siswa bisa lebih antusias. SIKLUS II 1. Tahap perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2, soal tes formatif II dan alat-alat pengajaran yang mendukung. 2. Tahap kegiatan dan pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 27 Maret s.d 03 April 2013 di SDN 2 Batu Mekar Kec. Lingsar tahun pelajaran 2012-2013. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan
137

tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif II. Adapun nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 65,89 % dan peningkatan ketuntasan mencapai 74,29% atau ada 26 siswa dari 35 siswa sudah tuntas belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami peningkatan cukup lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan prestasi belajar siswa ini karena setelah guru menginformasikan bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar. Selain itu siswa juga sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan diinginkan guru dalam menerapkan gabungan metode ekspositori dan pemberian tugas terprogram. 3. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut : 1) Memotivasi siswa 2) Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep 3) Pengelolaan waktu 4. Revisi Pelaksanaaan Pelaksanaan kegiatan belajar pada siklus II ini masih terdapat kekurangan-kekurangan. Maka perlu adanya revisi untuk dilaksanakan pada siklus III antara lain: 1) Guru dalam memotivasi siswa hendaknya dapat membuat siswa lebih termotivasi selama proses belajar mengajar berlangsung. 2) Guru harus lebih dekat dengan siswa sehingga tidak ada perasaan takut dalam diri siswa baik untuk mengemukakan pendapat atau bertanya.

3) Guru harus lebih sabar dalam membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep. 4) Guru harus mendistribusikan waktu secara baik sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. 5) Guru sebaiknya menambah lebih banyak contoh soal dan memberi soal-soal latihan pada siswa untuk dikerjakan pada setiap kegiatan belajar mengajar. SIKLUS III 1. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. 2. Tahap kegiatan dan pengamatan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus III dilaksanakan pada tanggal 10 s.d 17 April 2013 di SDN 2 Batu Mekar Kec. Lingsar tahun pelajaran 2012-2013 dengan jumlah siswa 35 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif III. Adapun nilai rata-rata tes formatif sebesar 75,97 % dan dari 35 siswa hanya 1 orang siswa yang belum tuntas. Maka secara klasikal ketuntasan mencapai 97,22 % ( termasuk kategori tuntas ). Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan prestasi
138

belajar pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan gabungan metode ekspositori dan pemberian tugas terprogram, sehingga siswa menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam memahami materi yang telah diberikan. Di samping itu ketuntasan ini juga dipengaruhi oleh kerja sama dari siswa yang telah menguasai materi pelajaran untuk mengajari temannya yang belum menguasai. 3. Refleksi Pada tahap ini akan dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan gabungan metode ekspositori dan pemberian tugas terprogram. Dari data-data yang telah diperoleh dapat diuraikan sebagai berikut: a. Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masingmasing aspek cukup besar. b. Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung. c. Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik. d. Prestasi belajar siswa pada siklus III mencapai ketuntasan. 4. Revisi Pelaksanaan Pada siklus III guru telah menerapkan gabungan metode ekspositori dan pemberian tugas terprogram dengan baik, dan dilihat dari aktivitas siswa serta prestasi belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu

diperhatikan untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan gabungan metode ekspositori dan pemberian tugas terprogram, dapat meningkatkan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. B. ANALISIS HASIL KEGIATAN Analisis Data Deskriptif Kuantitatif 1. Pencapaian prestasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan Kelas V sebelum diberi tindakan 1415x 100% = 40,43% 3500 2. Pencapaian hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan Kelas V setelah diberi tindakan pengelompokan siswa berdasarkan nomor panggilan (acak berdasarkan tempat duduk ) 2306 x 100% = 65,89 % 3500 3. Pencapaian hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan kelas V setelah diberi tindakan pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan akademik 2659 x 100% = 75,97 % 3500 Dari hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa 1. Terjadi peningkatan prestasi setelah diberi tindakan yaitu 40,43 % menjadi 65,89% ada kenaikan sebesar = 25,46 %. 2. Dari sebelum tindakan ( siklus 1 ) dan setelah tindakan sampai dengan ( siklus 3 ) 57,65,89 % menjadi 65,89%, dan dari ( siklus 2 ) ke (siklus 3 ) juga ada peningkatan sebanyak 75,97 % - 65,89 % = 10,08 %. 3. Ketuntasan siswa sebelum diberi tindakan dari 31,43 % pada siklus I, 74,29% pada siklus II, dan siklus III menjadi 97,22 %.

Refleksi dan Temuan Berdasarkan pelaksanaan tindakan maka hasil observasi nilai, hasil dapat dikatakan sebagai berikut : 1. Siklus pertama kegiatan belajarmengajar dengan menerapkan gabungan metode ekspositori dan pemberian tugas terprogram belum berhasil karena dalam pembelajaran masih terlihat siswa yang bermain, bercerita, dan mengganggu siswa lain; 2. Pembelajaran dengan menerapkan gabungan metode ekspositori dan pemberian tugas terprogram dalam hal peningkatan prestasi belajar belum tampak, sehingga hasil yang dicapai tidak tuntas. 3. Mungkin karena proses belajar mengajar yang dilakukan adalah pembelajaran dengan gabungan metode ekspositori dan pemberian tugas terprogram yang baru mereka laksanakan sehingga siswa merasa kaku dalam menerapkannya. 4. Akan tetapi setelah dijelaskan, mereka bisa mengerti dan buktinya pada siklus kedua dan ketiga proses kegiatan belajar - mengajar berjalan baik, semua siswa aktif dan lebih-lebih setelah ada rubrik penilaian proses, seluruh siswa langsung aktif belajar. C. Pembahasan Hasil Penelitian 1. Ketuntasan Prestasi belajar Siswa Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan gabungan metode ekspositori dan pemberian tugas terprogram memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru (prestasi belajar meningkat dari siklus I, II, dan III ) yaitu; 40,43% ; 65,89%; 75,97%. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai.

139

2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dengan gabungan metode ekspositori dan pemberian tugas terprogram dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap motivasi belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai ratarata siswa pada setiap siklus. 3. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dengan menerapkan gabungan metode ekspositori dan pemberian tugas terprogram yang paling dominan adalah bekerja dengan menggunakan alat/media,mendengarkan/memper hatikan penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif. Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah gabungan metode ekspositori dan pemberian tugas terprogram dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul diantaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan kegiatan pembelajaran, menjelaskan, memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab di mana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar. Dari analisis data di atas bahwa pembelajaran dengan gabungan metode ekspositori dan pemberian tugas terprogram dapat diterapkan pada pembelajaran Pendidikan
140

Kewarganegaraan kelas V, yang berarti proses kegiatan belajar mengajar lebih berhasil dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa khususnya pada siswa kelas V di SDN 2 Batu Mekar Kec. Lingsar, oleh karena itu diharapkan kepada para guru SD dapat melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan gabungan metode ekspositori dan pemberian tugas terprogram di kelas V. Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) siswa dikatakan tuntas apabila siswa telah mencapai nilai standar ideal 75 mencapai 85 %. Sedangkan pada penilitian ini, pencapai nilai 75 pada (siklus 3 ) mencapai melebihi target yang ditetapkan dalam KTSP yaitu mencapai 97,22 %. Dengan demikian maka hipotesis yang diajukan dapat diterima. PENUTUP A. Simpulan Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Pembelajaran dengan gabungan metode ekspositori dan pemberian tugas terprogram dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas V di SDN 2 Batu Mekar Kec. Lingsar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang ditandai dengan peningkatan prestasi belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu; 40,43%; 65,89% ; 75,97%. 2. Penerapan gabungan metode ekspositori dan pemberian tugas terprogram pada pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.

3. Penerapan gabungan metode ekspositori dan pemberian tugas terprogram dapat meningkatkan kembali materi ajar yang telah diterima siswa selama ini, sehingga mereka merasa siap untuk menghadapi pelajaran berikutnya. B. Saran Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka disampaikan saran sebagai berikut : 1. Untuk melaksanakan pembelajaran memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan pemberian gabungan metode ekspositori dan pemberian tugas terprogram agar diperoleh hasil yang optimal. 2. Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan kegiatan penemuan, walau dalam taraf yang sederhana, di mana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. 3. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya dilakukan di SDN 2 Batu Mekar Kec. Lingsar tahun pelajaran 2012-2013.

DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi. 2002 Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. ___________ 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara. Margono. 2004. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta Mudjiono, Dimyati. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta Suryosubroto. 2002. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta : Rineka Cipta. Sutama. 2000. Peningkatan Efektivitas Pembelajaran pendidikan kewarganegaraan Melalui Pembenahan Gaya Belajar Guru di SLTP Negeri 18 Surakarta. Tesis Magister PPS. UNY (tidak diterbitkan) Winkel. 1991. Psikologi Pembelajaran. Jakarta: Grasindo.

141

PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM MELAKSANAKAN EVALUASI HASIL BELAJAR MELALUI SUPERVISI AKADEMIK KEPALA SEKOLAH DI SDN 1 GERIMAK INDAH TAHUN PELAJARAN 2013-2014 Oleh: MUHASIM PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Proses pembelajaran di kelas diawali dengan merancang kegiatan pembelajaran. Salah satu aspek yang harus ada dalam perencanaan tersebut adalah tujuan pengajaran sebagai target yang diharapkan dari proses belajar mengajar dan cara bagaimana tujuan dan proses belajar mengajar tersebut dapat dicapai dengan efektif. Kemudian berdasarkan rencana dan tujuan yang telah ditetapkan dilaksanakan kegiatan pembelajaran. Dalam pelaksanaan pembelajaran selalu muncul pertanyaan, apakah kegiatan pengajaran telah sesuai dengan tujuan, apakah siswa telah dapat menguasai materi yang disampaikan, dan apakah proses pembelajaran telah mampu membelajarkan siswa secara efektif dan efisien. Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu dilakukan penilaian pembelajaran. Penilaian pembelajaran merupakan bagian integral dari keseluruhan proses pembelajaran, sehingga kegiatan penilaian harus dilakukan pengajar sepanjang rentang waktu berlangsungnya proses pembelajaran. Itulah sebabnya, kemampuan untuk melakukan penilaian merupakan kemampuan yang dipersyaratkan bagi setiap tenaga pengajar. Hal ini terbukti bahwa dalam semua referensi yang berkaitan dengan tugas pembelajaran, selalu ditekankan pentingnya kemampuan melakukan penilaian bagi guru dan kemampuan ini selalu menjadi salah satu indikator kualitas kompetensi guru. Dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas ternyata masih banyak guru yang tidak melaksanakan tugas dan fungsi penilaian sesuai dengan petunjuk yang ada
142

bahkan ada guru yang tidak melakukan penilaian hasil belajar, sehingga tujuan yang diharapkan tidak dapat tercapai, dan pembelajaran tidak tidak efektif dan tidak efisien.Hal ini disebabkan karena penilaian yang dilakukan oleh guru tidak memenuhi keriteria yang telah ditentukan dalam kaidah penulisan soal, misalnya guru membuat penilaian untuk satu indikator,soal yang dibuatnya ternyata penilaian lebih dari dua indikator dan sebagainya. Akibatnya soal yang dikerjakan terasa sulit bagai siswa untuk menjawab. Kondisi tersebut di atas sama seperti yang dialami oleh guru-guru di SDN 1 Gerimak Indah Kab. Lombok Barat. Hal inilah yang mendorong kepala sekolah (Peneliti) untuk mengkaji lebih jauh faktor faktor yang menyebabkan ketidakmampuan guru dalam melakukan penilaian hasil belajar. Oleh karena itu kepala sekolah perlu memberikan bimbingan dan pembinaan kepada guru agar dapat melakukan penilaian sesuai dengan ketentuan dan petunjuk agar mutu pendidikan dapat ditingkatkan tujuan pembelajran dapat dicapai,dalam penilaian itu juga dapat mengetahui kelemahan kelemahan yang dialami oleh siswa di kelas, maupun oleh guru dalam menilai hasil pembelajaran. Tujuan Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui sebagai berikut : 1. Peningkatan kemampuan guru dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar melalui supervisi akademik Kepala Sekolah di SDN 1 Gerimak Indah tahun pelajaran 2013-2014. 2. Efektifitas supervisi akademik Kepala Sekolah meningkatkan kemampuan

guru dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar di SDN 1 Gerimak Indah tahun pelajaran 2013-2014. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Sebagai bahan refleksi terhadap program pembinaan kepala sekolah melalui supervisi kepala sekolah. 2. Jika pelaksanaan bimbingan kepala sekolah melalui supervisi akademik kepala sekolah ini dapat meningkatkan capaian mutu sekolah, maka dapat dipertimbangkan sebagai bahan uji pelatihan bagi kepala sekolah di masa mendatang. 3. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan supervisi di sekolah pada umumnya, dan khususnya di SD 4. Hasil penelitian ini memberikan kesempatan kepada guru dan karyawan tata usaha di sekolah, untuk dapat aktif dalam kegiatan sekolah. 5. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi pada hasanah pengetahuan yang berkaitan dengan teori kepemimpinan/leadership. 6. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk referensi bagi penelitian berikutnya. KAJIAN TEORI A. Peningkatan Kemampuan Guru Istilah kemampuan mengajar guru merupakan kemampuan guru dalam meningkatkan kinerjanya melaksanakan pembelajaran di kelas. Kinerja dapat diterjemahkan dalam perfomance atau unjuk kerja, artinya kemampuan yang ditampilkan seseorang terhadap pekerjaannya pada tempat ia bekerja. Menurut Supriadi (1998) kinerja guru akan menjadi lebih baik, bila seorang guru memiliki lima hal yakni: 1. Mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya

2. Menguasai secara mendalam bahan mata pelajaran yang akan diajarkan serta cara mengajarnya kepada siswa 3. Bertanggungjawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai cara evaluasi dan 4. Guru mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar serta pengalamannya. Lebih lanjut Hamalik (2002) kemampuan dasar yang disebut juga kinerja dari seorang guru terdiri dari: (1) kemampuan merencanakan pembelajaran, (2) kemampuan mengelola program belajar mengajar, (3) kemampuan menglola kelas (4) kemampuan menggunakan media/sumber belajar, (5) kemampuan menglola interaksi belajar mengajar, (6) mampu melaksanakan evaluasi belajar siswa. Evaluasi kinerja guru mutlak dilakukan, karena masih terdapat banyak kinerja guru yang kurang memadai, di samping itu guru dituntut dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang terus berkembang pula dengan pesat. Widyastono (1999) berpendapat bahwa terdapat empat gugus yang erat kaitannya dengan kinerja guru, yaitu kemampuan (1) merencanakan KBM, (2) melaksanakan KBM, (3) melaksanakan hubungan antar pribadi, dan (4) mengadakan penilaian. Sedangkan Suyud (2005) mengembangkan kinerja guru profesional meliputi: (1) penguasaan bahan ajar, (2) pemahaman karakteristik siswa, (3) penguasaan pengelolaan kelas, (4) penguasaan metode dan strategi pembelajaran, (5) penguasaan evaluasi pembelajaran dan (6) kepribadian. Dari pendapat tersebut di atas, maka yang dimaksud dengan kinerja guru dalam penelitian ini ialah: (1) penguasaan bahan ajar, (2) pemahaman karakteristik, (3) penguasaan
143

pengeloaan kelas, (4) penguasaan metode dan strategi pembelajaran, (5) penguasaan evaluasi pembelajaran, dan (6) kepribadian. B. Penilaian ( Evaluasi ) Pembelajaran 1. Pengertian Penilaian Pembelajaran Secara umum, penilaian dapat diartikan sebagai proses untuk mendapatkan informasi dalam bentuk apapun yang dapat digunakan untuk dasar pengambilan keputusan tentang siswa baik yang menyangkut kurikulumnya, program pembelajarannya, iklim sekolah maupun kebijakan-kebijakan sekolah. Keputusan tentang siswa ini termasuk bagaimana guru mengelola pembelajaran di kelas, bagaimana guru menempatkan siswa pada programprogram pembelajaran yang berbeda, tingkatan tugas-tugas untuk siswa yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing, bimbingan dan penyuluhan, dan saran untuk studi lanjut. Keputusan tentang kurikulum dan program sekolah termasuk pengambilan keputusan tentang efektifitas program dan langkahlangkah untuk meningkatkan kemampuan siswa dengan pengajaran remidi (remidial teaching). Keputusan untuk kebijakan pendidikan meliputi; kebijakan di tingkat sekolah, kabupaten maupun nasional. Pembahasan tentang kompetensi untuk melakukan penilaian tentang siswa akan meliputi bagaimana guru mengkoleksi semua informasi untuk membantu siswa dalam mencapai target pembelajaran dengan berbagai teknik penilaian, baik teknik yang bersifat formal maupun nonformal, seperti teknik paper and pencil test, unjuk kerja siswa dalam menyelesaikan pekerjaan rumah, tugas-tugas di laboratorium maupun keaktifan diskusi selama proses pembelajaran. Semua informasi
144

tersebut dianalisis untuk kepentingan laporan kemajuan siswa. Penilaian secara sederhana dapat diartikan sebagai proses pengukuran dan non pengukuran untuk memperoleh data karakteristik peserta didik dengan aturan tertentu. 2. Pengukuran Secara sederhana pengukuran dapat diartikan sebagai kegiatan atau upaya yang dilakukan untuk memberikan angka-angka pada suatu gejala atau peristiwa, atau benda, sehingga hasil pengukuran akan selalu berupa angka. Alat untuk melakukan pengukuran ini dapat berupa alat ukur standar seperti meter, kilogram, liter dan sebagainya, termasuk ukuranukuran subyektif yang bersifat relatif, seperti depa, jengkal, sebentar lagi, dan lain-lain. Dalam proses pembelajaran guru juga melakukan pengukuran terhadap proses dan hasil belajar yang hasilnya berupa angkaangka yang mencerminkan capaian dan proses dan hasil belajar tersebut. 3. Evaluasi Evaluasi adalah proses pemberian makna atau penetapan kualitas hasil pengukuran dengan cara membandingkan angka hasil pengukuran tersebut dengan kriteria tertentu. Kriteria sebagai pembanding dari proses dan hasil pembelajaran tersebut dapat ditentukan sebelum proses pengukuran atau dapat pula ditetapkan sesudah pelaksanaan pengukuran. 4. Tes Adalah seperangkat tugas yang harus dikerjakan atau sejumlah pertanyaan yang harus dijawab oleh peserta didik untuk mengukur tingkat pemahaman dan penguasaannya terhadap cakupan materi yang dipersyaratkan dan sesuai dengan tujuan pengajaran tertentu. 5. Manfaat Evaluasi Hasil Belajar : Evaluasi hasil belajar bermanfaat untuk:

a) memberi penjelasan secara lengkap tentang target pembelajaran yang dapat dijelaskan. b) memilih teknik penilaian untuk kebutuhan masing-masing siswa. c) memilih teknik asesmen untuk setiap target pembelajaran. C. Supervisi Akademik Kepala Sekolah 1. Pengertian Supervisi Akademik Supervisi akademik adalah kemampuan kepala sekolah dalam melaksanakan pengawasan akademik yakni menilai dan membina guru dalam rangka mempertinggi kualitas proses pembelajaran yang dilaksanakannya, agar berdampak terhadap kualitas hasil belajar siswa. Supervisi akademik intinya adalah membina guru dalam meningkatkan mutu proses pembelajaran. Oleh karena itu sasaran supervisi akademik adalah guru dalam proses pembelajaran, yang terdiri dari materi pokok dalam proses pembelajaran, penyusunan silabus dan RPP, pemilihan strategi/metode/teknik pembelajaran, penggunaan media dan teknologi informasi dalam pembelajaran, menilai proses dan hasil pembelajaran serta penelitian tindakan kelas. Oleh karena itu tujuan umum pembinaan kepala sekolah melalui supervisi akademik ini adalah (1) menerapkan teknik dan metode supervisi akademik di sekolah, dan (2) Mengembangkan kemampuan dalam menilai dan membina guru untuk mempertinggi kualitas proses pembelajaran yang dilaksanakannya agar berdampak terhadap kualitas hasil belajar siswa. 2. Sifat Sifat Pengawas Akademik Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam pembinaan supervisi akademik maka sifat sebagai seorang kepala sekolah dalam melaksanakan supervisi akademik harus memiliki kualitas sebagai berikut:
145

a. Mendengarkan dengan sabar b. Menunjukkan ketrampilan dengan jelas c. Menawarkan insentif atau dorongan dengan tepat. d. Mempertimbangkan reaksi dan pemahaman dengan tepat e. Menjelaskan, merangsang (stimulating) dan memuji secara simpatik dan penuh perhatian f. Meningkatkan pengetahuan sendiri secara berkelanjutan. 3. Tujuan Supervisi Akademik Tujuan dari supervisi akademik adalah untuk meningkatkan: a. Interaksi tatap muka dan membangun hubungan antara guru dengan kepala sekolah (Acheson & Gall, 1997; Bellon & Bellon, 1982; Goldhammer, 1969; McGreal, 1983); b. Pembelajaran bagi guru dan kepala sekolah (Mosher & Purpel, 1972) c. Meningkatkan belajar siswa melalui peningkatan pembelajaran guru (Blumberg, 1980; Cogan, 1973; Harris, 1975) d. Basis data untuk pengambilan keputusan (Bellon & Bellon, 1982) e. Pengembangan kapasitas individual dan organisasi (Pajak, 1993) f. Membangun kepercayaan pada proses, satu sama lain, dan lingkungan(Costa & Garmston, 1994), dan g. Mengubah hasil dengan pengembangan kehidupan yang lebih baikuntuk guru dan siswa dan pembelajaran mereka (Sergiovanni & Starratt,1998). METODE PENELITIAN 1. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah guru SDN 1 Gerimak Indah. 2. Setting Penelitian a. PTS dilakukan pada SDN 1 Gerimak Indah tahun pelajaran 2013-2014.

b. PTS dilakukan pada guru dengan jumlah 12 orang. 3. Rancangan Penelitian a. Tindakan dilaksanakan dalam 3 siklus b. Kegiatan dilaksanakan dalam semester ganjil tahun pelajaran 2013-2014. c. Lama penelitian 6 pekan efektif dilaksanakan mulai tanggal 11 September 2013 sampai dengan 17 Oktober 2013. d. Dalam pelaksanaan tindakan, rancangan dilakukan dalam 3 siklus yang meliputi ; (a) perencanaan, (2) tindakan, (3) pengamatan, (4) refleksi. 4. Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini terdiri dari; Variabel Peningkatan kemampuan Harapan: guru dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar Variabel Pembinaan kepala sekolah Tindakan: melalui supervisi akademik. Adapun indikator yang diteliti dalam variabel harapan terdiri dari : 1. Kemampuan guru dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar 2. Kemampuan guru dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar melalui supervisi akademik Kepala Sekolah. 3. Keefektifan pembinaan melalui supervisi akademik Kepala Sekolah. Sedangkan variabel tindakan memiliki indikator sebagai berikut : 1. Tingkat kualitas perencanaan 2. Kualitas perangkat observasi 3. Kualitas operasional tindakan 4. Kesesuaian perencanaan dengan tindakan Kepala Sekolah 5. Kesesuaian teknik yang digunakan meningkatkan kemampuan guru.

6. Tingkat efektifitas pelaksanaan pembinaan dengan supervisi akademik Kepala Sekolah. 7. Kemampuan Kepala Sekolah meningkatkan kemampuan guru melaksanakan evaluasi hasil belajar. 5. Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data a. Sumber Data : Sumber data dalam penelitian ini berasal dari dua sumber yaitu : 1 Guru: Diperoleh data tentang peningkatan kemampuan guru melaksanakan evaluasi hasil belajar 2 Kepala Diperoleh data tentang Sekolah: efektivitas supervisi akademik Kepala Sekolah b. Teknik Pengumpulan Data: Dalam Pengumpulan data menggunakan Observasi dan Tes. 6. Indikator Keberhasilan Penelitian tindakan sekolah yang dilaksanakan dalam tiga siklus dianggap sudah berhasil apabila terjadi peningkatan kemampuan guru apabila 85% guru (sekolah yang diteliti) telah mencapai ketuntasan dengan standar ideal 75. Jika peningkatan tersebut dapat dicapai pada tahap siklus 1 dan 2, maka siklus selanjutnya tidak akan dilaksanakan karena tindakan yang dilakukan sudah dinilai efektif sesuai dengan harapan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan ( KTSP ). 7. Teknik Analisis Data Dalam analisis data teknik yang digunakan adalah ; a. Kuantitatif Analisis ini digunakan untuk menghitung besarnya peningkatan kemampuan guru melaksanakan evaluasi hasil belajar dengan menggunakan prosentase (%).

146

b. Kualitatif Teknik analisis ini digunakan untuk memberikan gambaran hasil penelitian secara ; reduksi data, sajian deskriptif, dan penarikan simpulan. 8. Jadwal Pelaksanaan Penelitian Jadwal kegiatan Penelitian dilaksanakan mulai tanggal tanggal 11 September 2013 17 Oktober 2013 ( 6 Minggu efektif ). HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Paparan Data dan Temuan Penelitian 1. Perencanaan Tindakan Tindakan yang akan dilakukan oleh peneliti antara lain: a) Menyusun instrumen pembinaan b) Menyusun Instrumen Monitoring c) Sosialisasi kepada guru d) Melaksanakan tindakan dalam pembinaan e) Melakukan refleksi f) Menyusun strategi pembinaan pada siklus ke dua berdasar refleksi siklus pertama g) Melaksanakan pembinaan pada siklus kedua h) Melakukan Observasi i) Melakukan refleksi pada siklus kedua j) Menyusun strategi pembinaan pada siklus ketiga berdasar refleksi siklus kedua k) Melaksanakan pembinaan pada siklus ketiga l) Melakukan Observasi m) Melakukan refleksi pada siklus ketiga n) Menyusun laporan 2. Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan Pelaksanaan tindakan dalam penelitian dilakukan 3 siklus yang terdiri dari enam kali pertemuan.
147

Waktu yang digunakan setiap kali pertemuan adalah 2 x 35 menit. Siklus pertama dilaksanakan pada tanggal 11 s.d 18 September 2013 dan siklus kedua pada tanggal 25 September s.d 02 Oktober 2013, dan siklus ke tiga pada tanggal 09 s.d 17 Oktober 2013. SIKLUS 1 1. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembinaan yang terdiri dari rencana pembinaan 1, LKS 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pembinaan yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi pengolaan pembinaan. 2. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan pembinaan untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 11 s.d 18 September 2013 di SDN 1 Gerimak Indah tahun pelajaran 2013-2014 dengan jumlah guru 12 orang. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai Kepala Sekolah. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksaaan belajar mengajar. Pada akhir proses pembinaan guru diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan guru dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar yang telah dilakukan. Dari hasil tes formatif yang telah dilakukan diperoleh nilai rata-rata guru adalah 57,92 %. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal guru belum tuntas dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar, karena guru yang memperoleh nilai 65 hanya sebesar 25 % atau baru ada 3 guru dari 12 guru yang tuntas, hasil ini tentu lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85 %. Hal ini disebabkan karena guru masih merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan Kepala Sekolah dengan melaksanakan

pembinaan melalui supervisi akademik. 3. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan pembinaan diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut: a. Kepala Sekolah kurang baik dalam memotivasi guru dan dalam menyampaikan tujuan pembinaan b. Kepala Sekolah kurang baik dalam pengelolaan waktu c. Guru kurang begitu antusias selama pembinaan berlangsung. 4. Revisi Rancangan a. Pelaksanaan kegiatan pembinaan pada siklus I ini masih terdapat kekurangan, sehingga perlu adanya revisi untuk dilakukan pada siklus berikutnya. b. Kepala Sekolah perlu lebih terampil dalam memotivasi guru dan lebih jelas dalam menyampaikan tujuan pembinaan. Di mana guru diajak untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan. c. Kepala Sekolah perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan menambahkan informasiinformasi yang dirasa perlu dan memberi catatan d. Kepala Sekolah harus lebih terampil dan bersemangat dalam memotivasi guru sehingga guru bisa lebih antusias. SIKLUS II 1. Tahap perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembinaan yang terdiri dari rencana pembinaan 2, soal tes formatif II dan alat-alat pembinaan yang mendukung. 2. Tahap kegiatan dan pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan pembinaan untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 25 September s.d 02 Oktober 2013 di SDN 1 Gerimak Indah tahun pelajaran 2013-2014. Dalam hal ini peneliti
148

bertindak sebagai Kepala Sekolah. Adapun proses pembinaan mengacu pada rencana pembinaan dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses pembinaan guru diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan guru dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif II. Adapun nilai rata-rata kemampuan guru adalah 68,25 % dan peningkatan ketuntasan mencapai 58,33% atau ada 7 guru dari 12 guru sudah tuntas. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan guru secara klasikal telah mengalami peningkatan cukup lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan kemampuan guru ini karena setelah Kepala Sekolah menginformasikan bahwa setiap akhir pembinaan akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya guru lebih termotivasi untuk meningkatkan kemampuannya. Selain itu guru juga sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan diinginkan Kepala Sekolah dalam melaksanakan pembinaan melalui supervisi akademik. 3. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan pembinaan diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut : 1) Memotivasi guru 2) Membimbing guru merumuskan kesimpulan/menemukan konsep 3) Pengelolaan waktu 4. Revisi Pelaksanaaan Pelaksanaan kegiatan pembinaan pada siklus II ini masih terdapat kekurangan-kekurangan. Maka perlu

adanya revisi untuk dilaksanakan pada siklus III antara lain: 1) Kepala Sekolah dalam memotivasi guru hendaknya dapat membuat guru lebih termotivasi selama proses pembinaan berlangsung. 2) Kepala Sekolah harus lebih dekat dengan guru sehingga tidak ada perasaan takut dalam diri guru baik untuk mengemukakan pendapat atau bertanya. 3) Kepala Sekolah harus lebih sabar dalam membimbing guru merumuskan kesimpulan/menemukan konsep. 4) Kepala Sekolah harus mendistribusikan waktu secara baik sehingga kegiatan pembinaan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. 5) Kepala sekolah sebaiknya menambah lebih banyak contoh soal dan memberi soal-soal latihan pembinaan pada guru untuk dipedomani pada setiap kegiatan pembinaan berlangsung. SIKLUS III 1. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembinaan yang terdiri dari rencana pembinaan 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pembinaan yang mendukung. 2. Tahap kegiatan dan pengamatan Pelaksanaan kegiatan pembinaan untuk siklus III dilaksanakan pada tanggal 09 s.d 17 Oktober 2013 di SDN 1 Gerimak Indah tahun pelajaran 2013-2014 dengan jumlah 12 guru. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai Kepala Sekolah. Adapun proses pembinaan mengacu pada rencana pembinaan dengan memperhatikan revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar
149

mengajar. Pada akhir proses pembinaan guru diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan guru dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif III. Adapun nilai rata-rata tes formatif sebesar 78 % dan dari 12 guru semuanya telah mencapai ketuntasan. Maka secara klasikal ketuntasan mencapai 100 % (termasuk kategori tuntas ). Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan kemampuan guru pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan Kepala Sekolah dalam melaksanakan supervisi akademik, sehingga guru menjadi lebih terbiasa dengan pembinaan seperti ini sehingga guru lebih mudah dalam memahami materi yang telah diberikan. Di samping itu ketuntasan ini juga dipengaruhi oleh kerja sama dari guru yang telah menguasai materi pembinaan untuk mengajari guru lainnya yang belum menguasai. 3. Refleksi Pada tahap ini akan dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses pembinaan melalui supervisi akademik Kepala Sekolah. Dari datadata yang telah diperoleh dapat diuraikan sebagai berikut: a. Selama proses pembinaan Kepala Sekolah telah melaksanakan supervisi akademik dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masingmasing aspek cukup besar. b. Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa guru aktif selama proses pembinaan berlangsung. c. Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik.

d. Kemampuan guru pada siklus III mencapai ketuntasan. 4. Revisi Pelaksanaan Pada siklus III Kepala Sekolah telah melaksanakan pembinaan melalui supervisi akademik dengan baik, dan dilihat dari aktivitas guru serta kemampuan guru pelaksanaan proses pembinaan sudah berjalan dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses pembinaan selanjutnya pelaksanaan supervisi akademik, dapat meningkatkan kemampuan guru melaksanakan evaluasi hasil belajar sehingga tujuan pembinaan dapat tercapai. B. ANALISIS HASIL KEGIATAN Analisis Data Deskriptif Kuantitatif 1. Pencapaian kemampuan guru melaksanakan evaluasi hasil belajar sebelum diberi tindakan 695x 100% = 57,92% 1200 2. Pencapaian kemampuan guru melaksanakan evaluasi hasil belajar setelah diberi tindakan melalui supervisi akademik 819 x 100% = 68,25 % 1200 3. Pencapaian kemampuan guru melaksanakan evaluasi hasil belajar setelah diberi tindakan melalui supervisi akademik 936 x 100% = 78 % 1200 Dari hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa 1. Terjadi peningkatan kemampuan guru setelah diberi tindakan yaitu 57,92 % menjadi 68,25% ada kenaikan sebesar = 10,33 %. 2. Dari sebelum tindakan ( siklus 1 ) dan setelah tindakan sampai dengan ( siklus 3 ) 57,71 % menjadi 68,25 %, dan dari ( siklus 2 ) ke ( siklus 3 ) juga
150

ada peningkatan sebanyak 78 % 68,25 % = 9,75 %. 3. Ketuntasan guru sebelum diberi tindakan dari 25 % pada siklus I, 58,33 % pada siklus II, dan siklus III menjadi 100 %. Refleksi dan Temuan Berdasarkan pelaksanaan tindakan maka hasil observasi nilai, dapat dikatakan sebagai berikut : 1. Siklus pertama kegiatan pembinaan melalui supervisi akademik Kepala Sekolah belum berhasil karena dalam pembinaan masih terlihat guru belum antusias, dan belum memahami apa yang dimaksudkan oleh kepala sekolah; 2. Pembinaan melalui supervisi akademik Kepala Sekolah dalam hal peningkatan kemampuan guru belum tampak, sehingga hasil yang dicapai tidak tuntas. 3. Mungkin karena proses pembinaan yang dilakukan adalah pembinaan melalui supervisi akademik Kepala Sekolah yang baru mereka laksanakan sehingga guru merasa kaku dalam menerapkannya. 4. Akan tetapi setelah dijelaskan, mereka bisa mengerti dan buktinya pada siklus kedua dan ketiga proses pembinaan berjalan baik, semua guru aktif dan lebih-lebih setelah ada rubrik penilaian proses, seluruh guru meningkat kemampuannya dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar. C. Pembahasan Hasil Penelitian 1. Ketuntasan Kemampuan guru Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembinaan melalui supervisi akademik Kepala Sekolah memiliki dampak positif dalam meningkatkan kemampuan guru, hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman guru terhadap materi yang disampaikan Kepala Sekolah (kemampuan guru meningkat dari

siklus I, II, dan III ) yaitu; 57,92% ; 68,25% ; 78%. Pada siklus III ketuntasan guru secara klasikal telah tercapai. 2. Kemampuan Kepala Sekolah Meningkatkan Kemampuan Guru Melaksanakan Evaluasi Hasil Belajar Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas guru dalam pembinaan dengan supervisi akademik Kepala Sekolah dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap capaian mutu sekolah yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai ratarata guru pada setiap siklus. 3. Aktivitas Kepala Sekolah dan Guru dalam Pembinaan Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas guru dalam proses pembinaan melalui supervisi akademik Kepala Sekolah yang paling dominan adalah bekerja dengan menggunakan alat/media,mendengarkan/memper hatikan penjelasan Kepala Sekolah, dan diskusi antar guru/antara guru dengan Kepala Sekolah. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas guru dapat dikategorikan aktif. Sedangkan untuk aktivitas Kepala Sekolah selama pembinaan telah melaksanakan langkahlangkah supervisi akademik dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas Kepala Sekolah yang muncul diantaranya aktivitas membimbing dan mengamati guru dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar, menjelaskan, memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab di mana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar. Dari analisis data di atas bahwa pembinaan guru oleh kepala sekolah melalui supervisi akademik efektif diterapkan dalam upaya meningkatkan kemampuan guru, yang berarti proses
151

pembinaan kepala sekolah lebih berhasil dan dapat meningkatkan capaian mutu sekolah khususnya di SDN 1 Gerimak Indah, oleh karena itu diharapkan kepada para kepala sekolah dapat melaksanakan pembinaan melalui supervisi akademik secara berkelanjutan. Berdasarkan manajemen berbasis sekolah ( MBS ) dikatakan tuntas apabila guru telah mencapai nilai standar ideal 75 mencapai 85 %. Sedangkan pada penelitian ini, pencapai nilai 75 pada ( siklus 3 ) mencapai melebihi target yang ditetapkan dalam MBS yaitu mencapai 100 %. Dengan demikian maka hipotesis yang diajukan dapat diterima. PENUTUP A. Simpulan Dari hasil kegiatan pembinaan yang telah dilakukan selama tiga siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Pembinaan kepala sekolah melalui supervisi akademik dapat meningkatkan kemampuan guru melaksanakan evaluasi hasil belajar di SDN 1 Gerimak Indah tahun pelajaran 2013-2014 yang ditandai dengan peningkatan kemampuan guru dalam setiap siklus, yaitu siklus I ( 57,92%), siklus II ( 68,25 % ), dan siklus III ( 78 % ). 2. Pembinaan kepala sekolah dalam meningkatkan kemampuan guru mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan capaian mutu sekolah. 3. Pembinaan kepala sekolah melalui supervsi akademik efektif untuk meningkatkan kemampuan guru, sehingga mereka merasa siap untuk melaksanakan pembinaan berikutnya.

B. Saran-Saran Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar kemampuan guru dapat meningkat, lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi peningkatan capaian mutu sekolah, maka disampaikan saran sebagai berikut: 1. Pembinaan kepala sekolah dalam meningkatkan kemampuan guru memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga kepala sekolah harus mampu menentukan atau memilih model pembinaan yang diberikan agar diperoleh hasil yang optimal. 2. Dalam rangka meningkatkan kemampuan guru, kepala sekolah hendaknya lebih sering melatih guru dengan kegiatan penemuan, walau dalam taraf yang sederhana, di mana guru nantinya dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga guru lebih berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. 3. Perlu adanya pembinaan yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya dilakukan pada guru di SDN 1 Gerimak Indah tahun pelajaran 2013-2014 . DAFTAR PUSTAKA Arends,Richard,1977.Classroom instruction and management.New York: Mc.Graw-Hill Companies,inc. Arifin, Mulyati, 1995. Pengembangan program pengajaran bidang studi.Surabaya: Airlangga University Press. Arikunto, Suharsimi, 2007. Penelitian Tindakan Sekolah. Jakarta: PT.Bumi Aksara. Barnett, A.R. 1980. Intermediate Algebra : Structure and Use. New York : Mc. Graw Hill Companies Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
152

Djamarah dan Zein, (1994). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Bumi Aksara, Jakarta. Oemar Hamalik. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara Slavin, S.E. 1997. Educational Psychology. Theory Into Practices. Fifth Edition. Boston : Allyn Bacon Publishers. Slameto, 2003. Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya. Rineka Cipta. Jakarta. Sudjana, 1998. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Sinar Barn Algesindo. Ban dung.

Anda mungkin juga menyukai