Anda di halaman 1dari 7

ALLAH TRITUNGGAL Kekristenan lahir dalam konteks agama Yahudi.

Orang Yahudi pada masa Yesus sangat menekankan monotheisme yang mutlak. Hanya ada satu Allah yang Esa, pencipta langit bumi, yang terus aktif dalam dunia dan sejarah. Penekanan ini sangat berpengaruh pada gereja Kristen mula-mula sehingga gereja mula-mula ini juga terus berpegang pada doktrin monotheisme. Tetapi, gereja Kristen yang masih muda ini mengalami pertumbuhan yang didasarkan pada pokok pengakuan iman yang baru dan berbeda dengan doktrin agama Yahudi, yaitu bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Penekanan dan pengakuan iman yang baru ini mengakibatkan banyak pergumulan. Di satu pihak gereja berusaha untuk mempertahankan keesaan Allah dengan melepaskan ketritunggalanNya. Akibatnya perbedaan-perbedanan oknum dan jumlahnya yang lebih dari satu pihak gereja berusaha untuk mempertahankan ketritunggalan Allah dengan melepaskan keesaanNya (minoritas). Istilah tritunggal tidak ditemukan di dalam Alkitab tetapi konsep Allah Tritunggal ada di dalamnya, secara khusus ini dapat ditemukan pada 1 Yoh.5:7 (Sebab ada tiga yang memberi kesaksian di dalam Sorga yaitu Bapa, Firman dan Roh Kudus, yang ketigaNya adalah satu). Orang yang pertama memakai istilah tritunggal adalah Tertullian dengan pengertian bahwa Allah Tritunggal berupa substansi atau essens yang satu (Allah yang satu) dalam tiga oknum atau pribadi (Allah Bapa, Anak Allah dan Roh Kudus) yang berhubungan bahkan tidak pernah terpisah satu dengan yang lain. Sampai disini pembahasan beliau masih amat baik tetapi berikutnya (karena ingin mempertahankan konsep kesatuan Allah) penjelasannya bertentangan dengan konsep Alkitab tentang Allah Tritunggal. Dalam penjelasannya itu Oknum atau Pribadi-pribadi itu dibedakan bukan dalam kondisi tetapi dalam derajat, bentuk dan aspek. Oleh karena itu beliau menegaskan bahwa Anak Allah lebih rendah dari Allah Bapa. Kemudian Origen bahkan mengatakan bahwa Anak Allah lebih rendah dari Allah Bapa dan Roh Allah lebih rendah dari Anak Allah. Dan Arians (yang dipengaruhi Origen) menyankal keilahian Anak Allah dan Roh Kudus. Alasan yang dikemukakan untuk hal ini adalah bahwa Yesus Kristus adalah ciptaan Allah Bapa sedangkan Roh Kudus adalah ciptaan Anak Allah. Alkitab tidak pernah mendukung ide ini. Alkitab menyatakan bahwa Anak Allah keluar dari Allah Bapa sedangkan Roh Allah dari Allah Bapa dan Anak Allah. Kaum Monarkhis berpendapat bahwa keberadaan dan keilahian Anak sekedar penjabaran. Anak hanyalah sekedar cara penampilan Allah Bapa. Khususnya, Dinamik Monarchianism beranggapan bahwa Yesus Kristus adalah manusia semata dan Roh Kudus adalah pengaruh ilahi bukan pribadi atau oknum. Modalistik Monarchianism beranggapan bahwa ketiga Oknum Allah Tritunggal itu semata 3 mode mangestasi dari Allah yang beebeda-beda. Dipihak lain ada juga yang melailaikan kesatuan Allah, tetapi penjelasannya berakhir pada konsep Tritheism (mis: Jhon Philoponus). Gereja mulai memformulasikan doktrin Allah Tritunggal pada abad ke-4. Sidang gereja di Nicea menyatakan bahwa hanya ada satu Allah dan bahwa Anak Allah dilahirkan dari substansi atau essens Bapa. Oleh karena itu, Anak sederajat dengan Allah Bapa (324 M). tetapi, konsili ini tidak mampu memberi penjelasan yang menyelesaikan persoalan kesatuan Allah dan keberadaan Pribadi-pribadi itu. Sedangkan sidang gereja di Konstantinopel (381

M), selain memberi penjelasan lebih lanjut tentang keputusan sidang Nicea, juga menegaskan keilahian Roh Kudus yang sederajat dengan keilahian Bapa dan Anak. Pada masa Refoemasi, kesalahan yang sama terulang dalam menformulasikan doktrin Allah Tritunggal. Armenians misalnya menegaskan kesatuan Allah lalu merendahkan Oknum ke-2 dan ke-3 Allah Tritunggal tersebut. Beberapa teolog Lutheran (Hegel, Scheleiermacher) mengikuti Modalism. Untuk beberapa saat perdebatan tentang doktrin ini berhenti sampai Barth memberi komentar. Menurut beliau, Allah yang memberi Pernyataan adalah Allah Bapa, Pernyataan itu sendiri adalah Anak Allah dan yang dinyatakan adalah Roh Allah. Barth tidak mengikuti Modalism karena ia mengakui ketiga Aknum Allah yang lain, tetapi penjelasan ini pun belum mencakup masalah keesaan dan ketigaan dalam Allah Tritunggal.

I Allah yang Tiga Oknum dalam Kesatuan (God as Trinity in Unity) I.1. Kepribadian Allah dalan Allah Tritunggal Allah itu berpridai, rasional dan bermoral, perhatikan bahwa manusia yang adalah gambar Allah (Kej.1:26-28) juga mahkluk yang berpribadi, rasional dan bermoral. Oleh karena itu, Allah Tritunggal adalah Allah yang Esa, yang terdiri dari 3 Oknum yang 'berpribadi, rasional dan bermoral' yang berhubungan satu dengan yang lain dalam Allah yang Esa itu (ulasan Tertulianus yang sangat mendasar tentang kesatuan dan ketigaan Allah Tritunggal). Allah yang Esa tetapi dari 3 Oknum yang berpribadi ini menghunjuk kepada kepenuhan hidup ilahi Allah (Ep.3:14-19 -seluruh kepenuhan Allah; Kol.1:9 -hikmat dan pengertian untuk mengerti kehendak Tuhan dengan sempurna), yang tidak harus sama tetapi bisa saja berbeda dengan hidup manusia. I.2. Bukti-Bukti Alkitab bagi Doktrin Allah Tritunggal a. Perjanjian Lama Ada yang beranggapan doktrin Allah Tritunggal itu jelas tertera dalam Perjanjian Lama sedangkan yang lain beranggapan tidak ada. Sebenarnya, Perjanjian Lama memberi penekanan utama kepada keesaan Allah., ia tidak memberi penjelasan penuh tentang Allah Tritunggal, tetapi indikasi tentangnya dapat ditemukan disana. Indikasi ini berupa perbedaan nama Yahwe dan Ellohim. Kata Ellohim adalah berbentuk jamak, Allah berbicara kepada DiriNya dalam kata ganti jamak (Kej.1:26; 11:7), Malaikat Tuhan malak Yahwe yang kadang kala diidentifikasikan dengan Allah sendiri. (Ia disebut Allah, berfirman atas namaNya sendiri, mau disembah orang) dan dalam kesempatan lain dibedakan denganNya-Ia dapat disuruh oleh Allah Bapa (Kej.16; 28; 31; 32; Yos.5; Hak.6; 13; Yes.63:9-10). Kadang kala disebutkan Oknum yang lebih dari satu (Maz.33:6; 45:6-8) -dikemukakan tentang Allah sebagai Yang Berbicara, disebutkan tentang Mesias dan Roh (Yes.48:16; 61:1; 63:9). Ketiga Oknum tersebut disebutkan dalam Yes.63:8-10. Tapi antisipasi yang jelas baru tampak dalam Perjanjian Baru. b. Perjanjian Baru Perjanjian Baru memberi pernyataan yang lebih jelas mengenai Allah Tritunggal. Bila dalam Perjanjian Lama nama Bapa menunjuk kepada Yahwe, segenap Trinitas maka dalam Perjanjian Baru Bapa dibedakan daari Oknum Anak dan Roh Kudus. Bila dalam Perjanjian Lama, Yahwe diperlihatkan sebagai Penebus dan Penyelamat umatNYa (Yes.41:14; 43:3, 11, 14; 49:7, 26; 60:16; Yer.4:3; Hos.13:3), dalam Perjanjian Baru Anak Allahlah yang berfungsi demikian (Mat.1:21; Yoh.14:3; Kis.5:3; Fil.3:30). Dan bila dalam Perjanjian Lama Yahwe diperlihatkan dian diantara orang Israel dan di hati orang-orang yang takut akan Dia

(Maz.74:2; 135:21; Yes.8:18; 57:15; Yoel.3:17-21; Zak.2:10-11), dalam Perjanjian Baru Roh Kuduslah yang tinggal dalam gereja (Kis.2:4; Rom.8:9-11; I Kor.3:16; Gal.4:6). Perjanjian Baru memberikan pernyataan yang jelas mengenai Allah yang memberikan AnakNya kedalam dunia (Yoh.3:16; Gal.4:4; Ibr,1:6; I Yoh.4:9): dan Allah Bapa serta AnakNya mengirimkan Roh Kudus (Yoh.14:26; 15:26; 16:7; Gal.4:6). Kita menemukan bahwa Allah Bapa berbicara kepada Anak (Mark.1:11; Luk.3:22) dan Anak Allah berkomunikasi dengan Bapa (Mat.11:25-26; 26:39; Yoh.11-41; 12:27-28). Peibadi-pribadi yang terpisah dalam Allah Tritunggal dalam Allah Tritunggal diperlihatkan dengan jelas. Dalam baptisan Anak, Allah Bapa berbicara dari Surga, Roh Kudus turun dalam bentuk merpati (Mat.3:16-7). Dalam amanat agung disebutkan 3 pribadi (Bapa, Anak dan roh Kudus, Mat.28:19), juga disebutkan sejajar dalam I Pet.1:2.

II. Pernyataan Tentang Doktrin Allah Tritunggal II.1. Dalam keberadaan Allah ada Satu Essens (subatansi) yang Tak dapat Dibagi Essens atau keberadaan dasar atau sifat dasar/alamiah Allah hanya satu (sumbangan pemikiran mendasar dari Origenes tentang kesatuan Allah Tritunggal, yang kemudian diberikan status dogmatis dalam Konsili Niceanpada tahun 325 M). Dalam konsili ini istilah yang digunakan adalah homo-usios (satu hakekat, keberadaan dasar, essense, substansi, bukan homoi-usios, artinya hakekat yang menyerupai). Keberadaan dasar Allah itu sempurna misalnyadalam hal hidup, terang kuasa, kasih, kebenaran, kemuliaanNya, dll (sumbangan pemikiran lain dari Origenes yang juga mendasar). Kebearadaan dasar yang satu ini menghunjuk kepada kesatuan Allah Tritunggal yang sangat ditekan dalam Perjanjian Lama dan berulang-ulang dikemukakan dalam Perjanjian Baru (Ul.6:4; Yoh.14:10; 17:21; Ef.4:46). Keberadaan dasar ini secara sempurna ada pada Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh. II.2. Dalam Keberadaan Allah ada 3 Oknum Keberadaan Allah terdiri dari 3 Oknum, yaitu Allah Bapa, Anak Allah dan Roh Kudus. Untuk menjelaskan keberadaan 3 Oknum ini, penulis Yunani mempergunakan istilah hupostasis (kharakteristik Allah yang dipersonifikasikan), penulis Latin memakai istilah persona. Banyaknya istilah yang dipergunakan memperlihatkan adanya ketidakpuasan atau ketidaktepatan istilah-istilah tersebut. Tetapi, pada umumnya istilah persona (oknum) dapat diterima walaupun tak memuaskan. Selain itu perlu diingat bahwa dalam pengalaman hidup manusia, bila seseorang merupakan satu oknum (pribadi), tentu Ia memiliki keberadaan dasar sendiri (seperti daya pikir dan kehidupan moral pribadi). Tetapi, ketiga oknum Allah tidak demikian. Ia bukan 3 essens atau keberdaan dasar, bukanlah 3 daya pikir dan 3 kehidupan moral yang terpisah secara sendiri-sendiri dengan yang lain. Tetapi, berupa pembedaan self dalam keberadaan dsar yang ilahi tersebut. Pembedaan pribadi dalam existensi tertentu (misalnya dalam aspek dan fungsi, the father of whom are all things -pribadi Bapa yang menjadi asal segala sesuatu, the Lord Jesus Christ by whom are all things -pribadi Tuhan Yesus yang melaluinya segala sesuatu menjadi ada, I Kor.8:6) tetapi bukan dalam keberadaan dasar dan derajat yang berbeda karena keberadaan dasar dan derajatnya sama.

Istilah persona (Oknum) dalam Allah Tritunggal tidak dapat disamakan dengan oknum mahkluk manusia., seperti Petrus, Andreas atau Yohannes (penjelasan Agustinus). Oleh karena itu tidak ada tiga Allah. Ketiga Oknum Allah tidak pernah menghilangkan keeseaan Allah. Oleh karena itu tidak ada satu kegiatan dimana hanya ada Allah Bapa saja, atau Anak saja atau hanya Roh Kudus saja yang terlibat.Allah itu tidak pernah Bapa saja, atau Anak saja, atau Roh Kudus saja. Ketiga pribadi Trinitas senantiasa bekerja dalam satu konser, demikian penjelasan Agustinus. Agustinus melanjutkan bahwa ketiga pribadi ini bukan masing-masing berbeda dalam diri mereka sendiri, tetapi mereka hanya berbeda dalam hubungan mereka sebagai pribadi diantara satu dengan lainnya dan terhadap dunia. Calvin menjelaskannya: Yang saya maksudkan dengan Oknum ialah suatu substansi dalam keberadaan Ilahi itu-suatu substansi yang bersifat pribadi (berdasarkan hal-hal yang tidak dapat dimiliki bersama) yang membuat Oknum ini berbeda dengan Oknum lainnya. Substansi yang bersifat pribadi itulah yang membuat adanya sebutan Aku, Engkau dan Dia dalam kebeadaan Ilahi tersebut. Mat.3:16; 4:1; Yoh.1:18; 3:16; 5:20 -22; 14:26; 16:1315. ini yang membuat Yesus menyebut Roh Kudus sebagai parakletos (Penolong) yang lain, Yoh.14:16 II.3. Essens (yang tak dapat dibagi-bagi) Ada dalam Ke-3 Oknum itu Essens (keberadaan dasar yang Ilahi) itu tanpa dibagi-bagi tetapi secara sempurna ada dalam masing-masing Oknum tersebut. Hal ini berbeda dengan keadaan manusia. Tiga pribadi diantara manusia hanya bisa memiliki suatu kesatuan atau kesamaan dalam keberadaan dasar yang spesial (sebagian saja), yaitu sama-sama memiliki keberadaan dasar yang umum dari spesies manusia (mislanya sama-sama terdiri dari bagian jasmani dan rohani), sedangkan keberadaan dasar yang Ilahi tersebut 100% identik dalam ketiga Oknum Allah Tritunggal. Oleh karena itu ide subordinasi tidak dikenal dalam Allah Tritunggal, yang ada adalah perbedaan dalam urutan. Allah Bapa mengirim Anak Allah sedangkan Roh Kudus diberikan oleh Allah Bapa dan Anak.

III. Allah Yang tiga Dipahami secara Terpisah III.1. Substansi Ke-3 Oknum Allah Tritunggal Menurut Urutan Substansi ketiga Oknum Allah Tritunggal dalam keberadaan Allah ditandai oleh urutan yang pasti. Dalam substansiNya yang pribadi Allah Bapa berada pada urutan yang pertama, Anak Allah yang kedua dan Roh Kudus yang ketiga. Jelas bahwa urutan tidak menghunjuj kepada urutan dalam waktu dan kemuliaan tetapi urutan yang logis dalam formasi. Allah Bapa tidak pernah dilahirkan atau berasal dari oknum lain, Anak Allah secara kekal dilahirkan oleh Allah Bapa dan Roh Kudus berasal dari Allah Bapa dan Anak Allah secara kekal. a. Allah Bapa: Oknum Pertama dalam Tritunggal Dalam PL nama Bapa dipergunakan untuk pemerintahan Allah Tritunggal yang theokratis atas bangsa Israel umatNya (Ul.32:6; Yes.63:16; 64:6). dalam PB nama Bapa dipegunakan sebagai panggilan untuk Allah. Nama ini dipergunakan tidak selalu dalam pengertian yang sama. Kadang-kadang nama ini bermakna kesatuan dari Allah Tritunggal sebagai asal mula (Bapa) dari segala ciptaan, dan dalam relasi khusus antara Allah dan manuisa dalam hal nama Allah dan Bapa dari seanak-anak rohaniNya (Mat.5:45, 6:6-15;

Rom.6:16; I Yoh.3:1). Tetapi dalam kasus ini, meskipun nama itu menghunjuk Ketiganya, tetapi yang lebih diyonjolkan adalah Oknum Pertama kepada siapa pekerjaan penciptaan lebih diutamakan. Yesus Kristus dan Roh Kudus tidak pernah dipanggil dengan nama Bapa. Nama ini juga dipergunakan bagi Oknum Pertama dalam Allah Tritunggal dalam hubungannya yang khusus dengan Oknum Kedua (Yoh.1:14, 18; 5:17-26; 8:54), Dia Bapa Tuhan kita Yesus Kristus. Secara khusus, Allah Bapa harus dibedakan dari Anak Allah dan Roh Allh karena Dia tidak dilahirkan dan Allah Anak serta Roh Allah berasal dari Dia (Maz.2:7-9), Dia yang merancangkan penebusan dan mengutus AnakNya untuk penebusan (Yes.53:10; Ef.1:3-6; Yoh,6:37-38) dan bekerja dalam penciptaan dan pemeliharaan, khususnya pada tahap permulaan tetapi dengan keaktifan Anak dan Roh Kudus (Yoh.1:1-3; I Kor.8:6; Ef.2:9; Maz.33:6), Allah Bapa adalah Dia yang dalam dan melalui Yesus Kristus menjalin hubungan dengan manusia percaya, yang mengakui Yesus sebgai Tuhan. b. Anak Allah: Oknum Kedua dalam Allah Tritunggal Nama Anak atau Anak Allah dipergunakan bagi Oknum Kedua dari Allah Tritunggal. Nama ini bukan semata-mata nama penghargaan (Socinians dan Unitarians). Nama ini dipergunakan tak berhubungan dengan posisi dan pekerjaanNya sebgai Pengantara atau Juruselamat, tetapi karena hubunganNya yang khusus dengan Oknum Pertama. Dia disebuat Anak Allah bahkan sebelum inkarnasi (Yoh.1:14, 18: Rom.8:32; Gal.4:4) Dia disebut yang dilahirkan Allah bukan hanya dalam pengertian etis dan formal (I Yoh.4:9; Luk.3:38) Dia disebut Anak yang dilahirkan dalam hubungannya yang sangat erat dengan Bapa, Ia berasal dari Bapa tetapi kekekalanNya sama dengan Bapa, essensnya juga sama (Yes.9:5; Yoh.1:12; Ibr.11:7; I Yoh.4:9). Ia adalah Allah yang dalam Trinitas berupa Pribadi yang berdampingan dengan Pribadi Bapa. Hubungan ini sangat unik, rohani dan ilahi (Kol.1:14; Ibr.1:6). Dia disebut Anak Allah dalam makna keilahian Kristus yang melampaui manusia dan segala mahkluk (Yoh.5:18-25; Ibr.1). Dia adalah Allah yang disembah sebagi Tuhan. Orang Yahudi, seperti Islam memahami istilah ini secara fisik. Nama ini juga digunakan dalam kaitannua dengan peranan Yesus sebagai Mesias (Mat.8:29; 26:63) dan dalam keadaanNya sebagai Anak Allah yang dilahirkan oelh pekerjaan Roh Kudus (Luk.1:32, 35). Pemakaian istilah Logos untuk Yesus mempunyai makna yan sama dengan istilah Anak (Yoh.1:1-14; Yoh.1:1-3). Dalam hal praada Yesus Kristus, Dia disebut sebagi Firman, bersama-sama dengan Allah, setara dengan Allah bahkan Dia adalah Allah dan Dia ikut melakukan pekerjaan penciptaan (Yoh.1:1-3; Fil.2:5-6). Melalui Dia, Allah melakukan pekerjaan penciptaan (I Kor.8:6). Anak menempati urutan kedua dalam Tritunggal. Segala sesutau secara mutlak berasal dari Allah Bapa, tetapi melalui Allah Anak yant berfungsi sebagai Perantara (Yoh.1:3, 10; I Kor.8:6; Ibr.1:2-3). Secara khusus Dia berperan di dalam pekerjaan Penebusan dengan

keaktifan Bapa dan Roh Kudus (Yoh.1:14; Ibr.10:5; Gal.4:4; Luk.1:35; Yoh.8:36; Yoh.3:16; Yoh.6:63), Dia pelaksana rencana Allah Bapa bagi penebusan. c. Oknum Ketiga: Roh Kudus Nama Roh Kudus menghunjuk kepada oknum ketiga Allah Tritunggal .istilah dasar yang di pergunakan dalam bahasa Ibrani dan Yunani adalah ruach dan preurna(arti dasarnya bernafassehungga istilah ini dapat berarti nafas dan angin). Pemakaian istilah ini bagi Roh Kudus sebagai oknum ketiga Allah Tritunggal tidak begitu jelas daalam Perjannjian Lama. Ia dipakai dengan pengertian Roh Allah. Hanya pada Maz 51: 11; Yes 63: 10,11. Istilah ini dipakai dengan pengertian Roh Kudus. Roh Kudus bukan kuasa atau semangat semata tetapi pribadi yang utuh. Karakteristik yang dimiliki pribadi ada padaNya. Lagi pula Perjanjian Baru mengungkapkan hubunganNya dengan pribadi lain bagaikan hubungan pribadi dengan pribadi (Kis 15:28; Yoh 16:14; Mat 28: 19. Keilahian Roh Kudus amat jelas. Dia memiliki nama ilahi (Kis 5:3,4; 1 Kor 3:16). Kesempunaan Ilahi ada padaNya ( Rom 11:34; 1 Kor 2:10,11). Ia melakukan pekerjaanpekerjaan ilahi (Kej 1:2; Yoh 3:5,6). Allah Roh berasal atau diutus oleh Allah Anak (Anthanasius). Roh Allah bekerja bersama-sama dengan Allah Bapa dan Allah Anak. Tetapi ada pekerjaan yang lebih dikhususkan kepada Roh Allah sebagai Oknum ke-3 Allah Tritunggal, yaitu asal dari kehidupan (Kej 1:3; Maz 104:30), Memberi Inspirasi dan Kwalifikasi kepada manusia untuk pekerjaan tertentu (Kel 28:3; 1 Sam 11:6), dalam pengilhaman Kitab Suci ( 1 Kor 2:13; 2 Pet 1:21), dalam pembentukan gereja ( Ep 1:22,23; 1 Kor 3:16), mengajar, memimpin gereja, member karunia-karunia kepada gereja Yoh 14:26; 1 Yoh 2:27; 1 Kor 13-14). Dalam hal ini Roh Kudus bekerja dengan keaktifan Bapa dan Anak (Bil 4:6; Yoh 14:26)

IV.Kesimpulan Keberadaan Allah sebagai Tritungal merupakan suatu rahasia. Manusia tak dapat memahaminya secara penuh dan membuatnya menjadi logis. Banyak usaha dilakukan untuk menjelaskan rahasian ini tetapi usaha ini cenderung bersifat spekulatif ketimbang teologis. Hasilnya menjadi Tritheisme atau 3 mode dari Allah yang satu. Beberapa analog digunakan untuk menjelaskan keberadaan Allah Tritunggal, Beberapa analog diambil dari benda alam yang tak bernyawa dan dari tanaman hidup, seperti mata air-anak air air-sungai, uap air-awan-hujan, hujan-salju-es, pohon dengan akar-batang-cabang. Analog ini dan yang lain yang bersamaan sangat detektif. Ide tentang pribadi tidak tampak dalam anak ini; keberadaan yang secara penuh tidak ada dalam tiap bagian. Analog yang lebih penting diusulkan dari hidup manusia, khususnya dari konstitusi dan proses pemikiran manusia. Analog ini lebih berharga karena manusia adalah Gambar Allah . Agustinus menyebutnya sebagai Intelek, kasih sayang, dan kehenndak. Analog ini menghunjuk kepada kesatuan yang tiga, tetapi tidak memperlihatkan 3 Oknum dama satu kesatuan. Analog lain yang diberikan adalah sifat dasar kasih, yang menghunjuk kepada subjek dan Objek, dibutuhkan kesatuan dari keduanya, sehingga jikalau kasih itu mencapai

tujuannya muncullah elemen yang ketiga. Tetapi jelas sekali analog ini salah karena hanya ada dua individu, lagi pula analog ini hanya menghunjuk kepada kwalitas bukan substansi.

Anda mungkin juga menyukai