Anda di halaman 1dari 14

MODUL 2 Pengembangan Jabatan Fungsional PNS Drs. Herman, M.Si.

PENDAHULUAN

Dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian yang merupakan perubahan dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974, dinyatakan bahwa Pegawai Negeri Sipil (PNS) diangkat dalam jabatan dan pangkat tertentu. Dalam penjelasan undang-undang tersebut dinyatakan bawah jabatan adalah kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggungjawab, wewenang, dan hak seseorang PNS dalam suatu satuan organisasi negara. Selanjutnya dinyatakan bahwa pengangkatan PNS dalam suatu jabatan dilaksanakan berdasarkan prinsip profesionalisme sesuai dengan kompetensi, prestasi kerja, dan jenjang pangkat yang ditetapkan untuk jabatan itu, serta syarat objektif lainnya tanpa membedakan jenis kelamin, suku, agama, ras, atau golongan. Penjelasan di atas menunjukkan bahwa seluruh PNS pada dasarnya diangkat dalam suatu jabatan, dan ini sekaligus menegaskan bahwa seluruh PNS menduduki suatu jabatan. Jabatan yang dimaksud adalah jabatan struktural maupun jabatan fungsional.

KEGIATAN BELAJAR 1 Jenis dan Rumpun Jabatan Fungsional


A. PENGERTIAN DAN JENIS JABATAN Jabatan adalah kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggungjawab, wewenang dan hak seorang PNS dalam suatu satuan organisasi negara. Jabatan dalam lingkungan birokrasi pemerintah adalah jabatan karier. Jabatan karier adalah jabatan dalam lingkungan birokrasi pemerintah yang hanya dapat diduduki oleh Pegawai Negeri Sipil atau Pegawai Negeri yang beralih status sebagai PNS. Jabatan karier dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu jabatan struktural dan jabatan fungsional. Jabatan struktural adalah kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggungjawab, wewenang dan hak seorang PNS dalam rangka memimpin suatu satuan organisasi negara. Jabatan fungsional adalah kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggungjawab, wewenang, dan hak seseorang Pegawai Negeri Sipil dalam suatu organisasi yang dalam pelaksanaan tugasnya didasarkan pada keahlian dan/atau keterampilan tertentu serta bersifat mandiri. Dengan kata lain, jabatan struktural adalah jabatan yang secara tegas ada dalam struktur organisasi. Jabatan fungsional adalah jabatan yang tidak secara tegas disebutkan dalam struktur organisasi, seperti peneliti, dokter, pustakawan, widyaiswara, dan jenis jabatan fungsional lainnya.
1

B. JENIS DAN KRITERIA JABATAN FUNGSIONAL Jabatan-jabatan fungsional dihimpun dalam rumpun jabatan fungsional. Jabatan fungsional terdiri atas: 1) Jabatan fungsional keahlian, dan 2) Jabatan fungsional keterampilan. Jabatan fungsional keahlian adalah kedudukan yang menunjukkan tugas yang dilandasi oleh pengetahuan, metodologi, dan teknik analisis yang didasarkan atas disiplin ilmu yang bersangkutan dan/atau berdasarkan sertifikasi yang setara dengan keahlian dan ditetapkan berdasarkan akreditasi tertentu. Sedangkan jabatan fungsional keterampilan adalah kedudukan yang menunjukkan tugas yang mempergunakan prosedur dan teknik kerja tertentu serta dilandasi kewenangan penanganan berdasarkan sertifikasi yang ditentukan. Jabatan fungsional keahlian dan keterampilan ditetapkan dengan kriteria sebagai berikut. a. Mempunyai metodologi, teknik analisis, teknik dan prosedur kerja yang didasarkan atas disiplin ilmu pengetahuan dan/atau pelatihan teknis tertentu dengan sertifikasi. b. Memiliki etika profesi yang ditetapkan oleh organisasi profesi. c. Dapat disusun dalam satuan jenjang jabatan berdasarkan: 1) tingkat keahlian bagi jabatan fungsional keahlian, dan 2) tingkat keterampilan bagi jabatan fungsional keterampilan. d. Pelaksanaan tugas bersifat mandiri. e. Jabatan fungsi tersebut diperlukan dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi organisasi (PP Nomor 16 Tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional PNS). Jabatan fungsional keterampilan adalah jabatan fungsional yang pelaksanaannya tugasnya: a. Mensyaratkan kualifikasi teknisi profesional dan/atau penunjang profesional dengan pendidikan serendah-rendahnya Sekolah Menengah Umum atau Sekolah Menengah Kejuruan dan setinggitingginya setingkat Diploma III (D-3). b. Meliputi kegiatan teknis operasional yang berkaitan dengan penerapan konsep atau metode operasional dari suatu bidang profesi. c. Terikat pada etika profesi tertentu yang ditetapkan oleh ikatan profesinya. Berdasarkan penilaian terhadap bobot jabatan fungsional, jabatan fungsional keterampilan dibagi dalam empat jenjang jabatan, yaitu: a. Jenjang Penyelia, adalah jenjang jabatan fungsional keterampilan yang tugas dan fungsi utamanya sebagai pembimbing, pengawas, dan penilai pelaksanaan pekerjaan pejabat fungsional tingkat di bawahnya yang mensyaratkan pengetahuan dan pengalaman teknis operasional penunjang beberapa cabang ilmu pengetahuan tertentu dengan kepangkatan mulai Penata golongan ruang III/c sampai dengan Penata Tingkat I, golongan ruang III/d.
2

b. Jenjang Pelaksana Lanjutan, adalah jenjang jabatan fungsional keterampilan yang tugas dan fungsi utamanya sebagai pelaksana tingkat lanjutan dan mensyaratkan pengetahuan dan pengalaman teknis operasional penunjang yang didasari oleh suatu cabang ilmu pengetahuan tertentu, dengan kepangkatan mulai Penata Muda golongan ruang III/a sampai dengan Penata Muda Tingkat I, golongan ruang III/b. c. Jenjang Pelaksana, adalah jenjang jabatan fungsional keterampilan yang tugas dan fungsi utamanya sebagai pelaksana dan mensyaratkan pengetahuan dan pengalaman teknis operasional penunjang yang didasari oleh suatu cabang ilmu pengetahuan tertentu, dengan kepangkatan mulai Pengatur Muda tingkat I golongan ruang II/d sampai dengan Pengatur Tingkat I, golongan ruang II/d. Jenjang Pelaksana Pemula, adalah jenjang jabatan fungsional keterampilan yang tugas dan fungsi utamanya sebagai pembantu pelaksana pengetahuan teknis operasional penunjang yang didasari oleh suatu cabang ilmu pengetahuan tertentu, dengan kepangkatan mulai Pengatur Muda tingkat I golongan ruang II/d sampai dengan Pengatur Muda I, golongan ruang II/a. Jabatan fungsional keahlian adalah jabatan fungsional yang pelaksanaannya tugasnya: a. Mensyaratkan kualifikasi profesional dengan pendidikan serendah-rendahnya berijazah sarjana (strata-1). b. Meliputi kegiatan yang berkaitan dengan penelitian dan pengembangan, peningkatan dan penerapan konsep dan teori serta metode operasional dan penerapan disiplin ilmu pengetahuan yang mendasari pelaksanaan tugas dan fungsi jabatan fungsional yang bersangkutan. c. Terikat pada etika profesi tertentu yang ditetapkan oleh ikatan profesinya. Berdasarkan penilaian terhadap bobot jabatan fungsional, jabatan fungsional keahlian dibagi dalam empat jenjang jabatan, yaitu: a. Jenjang Utama, yaitu jenjang jabatan fungsional keahlian yang tugas dan fungsi utamanya bersifat strategis nasional yang mensyaratkan kualifikasi profesional tingkat tertinggi dengan kepangkatan mulai Pembina Utama Madya, golongan ruang IV/d sampai dengan Pembina Utama, golongan IV/e. b. Jenjang Madya, yaitu jenjang jabatan fungsional keahlian yang tugas dan fungsi utamanya bersifat strategis sektoral yang mensyaratkan kualifikasi profesional tingkat tinggi dengan kepangkatan mulai Pembina golongan ruang IV/a sampai dengan Pembina Utama Muda golongan ruang IV/c. c. Jenjang Muda, yaitu jabatan fungsional keahlian yang tugas dan fungsi utamanya bersifat taktis operasional yang mensyaratkan kualifikasi profesional tingkat lanjutan dengan kepangkatan mulai Penata golongan ruang III/c sampai dengan Penata Tingkat I golongan ruang III/d.
3

d. Jenjang Pertama, yaitu jabatan fungsional keahlian yang tugas dan fungsi utamanya bersifat operasional yang mensyaratkan kualifikasi profesional tingkat dasar dengan kepangkatan mulai dari Penata Muda golongan ruang III/d sampai dengan Penata Muda Tingkat I golongan ruang III/b. PNS yang diangkat dalam jabatan fungsional keahlian/keterampilan diberikan tunjangan jabatan fungsional sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

C. RUMPUN JABATAN FUNGSIONAL Dasar hukum penetapan rumpun fungsional PNS adalah PP Nomor 87 tahun 1999. Rumpun jabatan fungsional adalah himpunan jabatan fungsional keahlian dan/atau jabatan fungsional keterampilan yang mempunyai fungsi dan tugas yang berkaitan erat satu sama lain dalam melaksanakan salah satu tugas umum pemerintahan. Tujuan penetapan rumpun jabatan fungsional adalah untuk mewadahi keberadaan dan sekaligus sebagai landasan bagi penetapan jabatan fungsional keahlian dan/atau jabatan fungsional keterampilan yang diperlukan oleh pemerintah dalam rangka terselenggaranya tugas umum pemerintahan. Jenis rumpun jabatan fungsional disusun dengan menggunakan perpaduan pendekatan yang digunakan sebagai dasar untuk melaksanakan tugas dan fungsi jabatan dalam rangka pelaksanaan tugas umum pemerintahan. Daftar rumpun jabatan fungsional sesuai dengan Keppres Nomor 87 tahun 1999 adalah sebagai berikut. 1. Rumpun Fisika, Kimia dan yang berkaitan 2. Rumpun Matematika, Statistika dan yang berkaitan 3. Rumpun ke Komputeran 4. Rumpun Arsitek, Insinyur dan yang berkaitan 5. Rumpun Penelitian dan Perekayasaan 6. Rumpun Ilmu Hayat 7. Rumpun Kesehatan 8. Rumpun Tingkat Pendidikan Tinggi 9. Rumpun Pendidikan Tingkat Taman Kanak-Kanak, Dasar, Lanjutan, dan sekolah Khusus. 10. Rumpun Pendidikan lainnya 11. Rumpun Operator Alat-alat Optik dan Elektronik 12. Rumpun Teknisi dan Pengontrol Kapal dan Pesawat
4

13. Rumpun Pengawas Kualitas dan Keamanan 14. Rumpun Akuntan Negara dan Anggaran 15. Rumpun Asisten Profesional yang berhubungan dengan keuangan dan penjualan 16. Rumpun Imigrasi, Pajak, dan Asisten Profesional yang berkaitan 17. Rumpun Manajemen 18. Rumpun Hukum dan Peradilan 19. Rumpun Hak Cipta, Paten dan Merek 20. Rumpun Penyidik dan Detektif 21. Rumpun Arsiparis, Pustakawan dan yang berkaitan 22. Rumpun Ilmu Sosial dan yang berkaitan 23. Rumpun Penerangan dan Seni Budaya 24. Rumpun Keagamaan 25. Politik dan Hubungan Luar Negeri. Jabatan-jabatan dalam suatu rumpun jabatan tidak bersifat statis, tetapi berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi, sehingga dapat terjadi pemerkayaan jabatan (job enrichment) dalam suatu rumpun jabatan (job family).

D. WEWENANG PENETAPAN JABATAN FUNGSIONAL DAN ANGKA KREDIT Presiden menetapkan rumpun jabatan fungsional atas usul Menteri yang bertanggungjawab di bidang pendayagunaan aparatur negara. Penetapan angka kredit jabatan fungsional dilakukan oleh menteri yang bertanggungjawab di bidang pendayagunaan aparatur negara dengan memperhatikan usul dari pimpinan instansi pemerintah yang bersangkutan setelah terlebih dahulu mendapat pertimbangan teknis secara tertulis dari Kepala BKN, dengan mengacu pada rumpun jabatan yang ditetapkan oleh Presiden. Angka kredit adalah satuan nilai dari tiap butir kegiatan dan atau akumulasi nilai butir-butir kegiatan yang harus dicapai oleh pejabat fungsional dalam rangka pembinaan karier yang bersangkutan. Secara garis besar butir kegiatan yang digunakan sebagai angka kredit untuk kenaikan jabatan dibagi menjadi dua, yaitu unsur utama (80%) dan unsur penunjang (20%).

E. PENGANGKATAN, PEMBINAAN DAN TUNJANGAN JABATAN FUNGSIONAL Pengangkatan PNS ke dalam jabatan fungsional pada instansi pemerintah ditetapkan oleh pejabat yang berwenang sesuai formasi yang ditetapkan. Pejabat yang berwenang adalah pejabat yang mempunyai 5

kewenangan mengangkat, memindahkan, dan memberhentikan Pegawai Negeri berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku (pasal 1 UU 43/1999). Penilaian prestasi kerja bagi pejabat fungsional ditetapkan dengan angka kredit oleh pejabat yang berwenang setelah mendengar pertimbangan Tim Penilai. Tim Penilai dibentuk oleh pimpinan instansi pembina jabatan fungsional atau pimpinan instansi pengguna jabatan fungsional. Kenaikan dalam jenjang jabatan fungsional yang lebih tinggi di samping diwajibkan memenuhi angka kredit yang telah ditetapkan harus pula memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Perpindahan PNS antarjabatan fungsional atau antarjabatan fungsional dengan jabatan struktural dimungkinkan sepanjang memenuhi persyaratan yang ditetapkan untuk masing-masing jabatan tersebut. Pembinaan jabatan fungsional dilakukan oleh instansi pembina jabatan fungsional. Pembinaan adalah penetapan dan pengendalian terhadap standar profesi yang meliputi kewenangan penanganan, prosedur pelaksanaan tugas dan metodologinya. Instansi pembina jabatan fungsional adalah instansi pemerintah yang bertugas membina suatu jabatan fungsional menurut perundang-undangan yang berlaku. Contoh instansi pembina jabatan fungsional antara lain adalah sebagai berikut: LIPI LAN Depnakertrans Dephub Peneliti Widyaiswara Pengawas Ketenagakerjaan, Instruktur Pengamat Metereologi dan Geofisika, Keselamatan Pelayaran, Teknisi Penerbangan Penyuluh Kehutanan, Polisi Kehutanan Pranata Humas Pekerja Sosial Penguji Mutu Barang Jaksa Pemeriksa Bea dan Cukai Pranata Komputer Litkayasa, Perekasa Arsiparis Dosen, Guru Analis Kepegawaian Pemeriksa Merek, Perancang UU Auditor Pengawas

Dephut LIN Depsos Depperindag Kejaksaan Agung Depkeu BPS Ristek Anri Depdiknas BKN Dephumkam BPK/BPKP

Bappenas Depkes

Perencana Dokter, Perawat Dan lain-lain

PNS yang menduduki jabatan fungsional dan telah ditetapkan angka kreditnya diberikan tunjangan fungsional.

F. KENAIKAN PANGKAT/JABATAN Pangkat dan jabatan pejabat fungsional tidak melekat, dalam arti bisa pangkat sama dengan jabatan, pangkat di bawah jabatan, atau pangkat di atas jabatan. PNS yang menduduki jabatan fungsional dapat dinaikkan pangkat/jabatan setingkat lebih tinggi apabila telah mencapai angka kredit kumulatif yang ditentukan. Pejabat fungsional dikecualikan dari ujian dinas untuk naik pangkat, dan pangkat boleh lebih tinggi dari pimpinan. Pejabat fungsional dapat dinaikkan pangkat setingkat lebih tinggi apabila telah memenuhi persyaratan yang ditentukan, yaitu: sekurang-kurangnya 2 tahun dalam pangkat, telah mencapai angka kredit kumulatif yang ditentukan, DP-3 bernilai baik, dan usul dari pimpinan unit kerja. Sedangkan, pejabat fungsional dapat dinaikkan jabatan setingkat lebih tinggi apabila telah memenuhi persyaratan yang ditentukan, yaitu: sekurang-kurangnya 1 tahun dalam jabatan, telah mencapai angka kredit kumulatif yang ditentukan, DP-3 bernilai baik, tersedianya formasi, dan usul dari pimpinan unit kerja.

G. PEMBEBASAN SEMENTARA DAN PEMBERHENTIAN Pejabat fungsional dibebaskan sementara dari jabatan apabila: 1. Tidak dapat mengumpulkan angka kredit yang ditentukan 2. Dijatuhi hukuman disiplin 3. Diberhentikan sementara sebagai PNS 4. Ditugaskan secara penuh di luar jabatan 5. Cuti di luar tanggungan negara (kecuali cuti hamil) 6. Tugas belajar lebih enam bulan. Pengangkatan kembali ke dalam jabatan fungsional, apabila 1. Telah mengumpulkan angka kredit yang ditentukan 2. Telah selesai menjalani hukuman disiplin 3. Setelah yang bersangkutan dinyatakan selesai melaksanakan tugasnya 4. Dinyatakan aktif bekerja kembali setelah cuti di luar tanggungan negara 7

5. Dinyatakan aktif kembali setelah menyelesaikan tugas belajar. Pejabat fungsional akan diberhentikan dari jabatan fungsional apabila: 1. Dijatuhi hukuman disiplin tingkat berat 2. Tidak dapat mengumpulkan angka kredit yang ditentukan. Mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil, ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi berkaitan dengan jabatan fungsional tersebut. 1. Jabatan fungsional pada dasarnya terbagi menjadi dua jenis, yaitu jabatan keahlian dan jabatan keterampilan. 2. Penilaian angka kredit berorientasi pada output (hasil) bukan pada effort. 3. Setiap jenjang jabatan terdiri atas lebih dari satu pangkat. 4. Setiap jenjang mempunyai butir kegiatan yang berbeda dari jenjang lainnya. 5. Pejabat fungsional semakin profesional. Beberapa keuntungan menjadi pejabat fungsional, antara lain: 1. Pengembangan karier sebagai pilihan di luar jabatan struktural. 2. Adanya jenjang karier yang jelas. 3. Mendapat tunjangan jabatan. 4. Tidak memerlukan ujian dinas untuk kenaikan golongan. 5. Kalau berprestasi, kenaikan pangkat bisa lebih cepat (dua tahun), dan tidak terbatas. 6. Setiap usaha pengembangan diri (Diklat, seminar, dsb) akan mendapat kredit. 7. Meningkatkan profesionalisme dan kemandirian.

KEGIATAN BELAJAR 2 Jabatan Fungsional Analis Kepegawaian A. PENGERTIAN DAN JENIS ANALIS KEPEGAWAIAN Jabatan fungsional pada dasarnya merupakan realisasi dari kebijakan pemerintah dalam mengoptimalkan pengembangan karier PNS di luar jalur jabatan struktural. Jalur jabatan fungsional diperuntukkan bagi PNS yang meniti karier pada jabatan yang sifatnya teknis fungsional berdasarkan jenjang keahlian dan keterampilan tertentu. Salah satu jabatan fungsional di bawah pembinaan BKN adalah Analis Kepegawaian. Analis Kepegawaian adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang diberi tanggungjawab, wewenang, dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan manajemen PNS dan pengembangan sistem manajemen PNS. Dari pengertian di atas menunjukkan dua hal yang menjadi tugas pokok seorang analis kepegawaian, yaitu melakukan kegiatan manajemen PNS dan pengembangan sistem manajemen PNS. Yang dimaksud dengan manajemen PNS adalah keseluruhan upaya untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas dan derajat profesionalisme penyelenggaraan tugas, fungsi, dan kewajiban kepegawaian yang terdiri atas formasi dan pengadaan, mutasi, pendidikan dan pelatihan, gaji, tunjangan dan kesejahteraan, ketatausahaan kepegawaian, disiplin dan pengendalian kepegawaian, pemberhentian dan pelaporan. Sedangkan yang dimaksud dengan pengembangan sistem manajemen PNS adalah kebijakan manajemen PNS yang mencakup norma, standar, prosedur mengenai sistem pengadaan kepegawaian, sistem mutasi, sistem ketatausahaan kepegawaian dan sistem gaji, tunjangan dan kesejahteraan. Jabatan fungsional analis kepegawaian terdiri atas Analis Kepegawaian Keterampilan (terampil) dan Analis Kepegawaian Keahlian (ahli). Analisis kepegawaian keterampilan adalah analis kepegawaian yang dalam pelaksanaan pekerjaannya menggunakan prosedur dan teknik kerja tertentu. Sementara Analis Kepegawaian keahlian adalah analis kepegawaian yang dalam pelaksanaan pekerjaannya didasarkan atas disiplin ilmu pengetahuan, metodologi, dan teknik analisis tertentu.

B. RUMPUN JABATAN, KEDUDUKAN, TUGAS POKOK DAN INSTANSI PEMBINA Jabatan fungsional analis kepegawaian termasuk dalam rumpun manajemen. Analis kepegawaian berkedudukan sebagai pelaksana teknis di bidang manajemen PNS dan pengembangan sistem manajemen PNS pada instansi pemerintah. Oleh karena itu, analis kepegawaian merupakan jabatan karier. Dari penjelasan di atas menunjukkan bahwa tugas pokok analis kepegawaian adalah melakukan kegiatan manajemen PNS dan pengembangan sistem manajemen PNS. Adapun instansi pembinanya adalah Badan Kepegawaian Negara (BKN).

C. JENJANG JABATAN DAN PANGKAT Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa jabatan fungsional analis kepegawaian terdiri atas jabatan analis kepegawaian keterampilan dan analis kepegawaian keahlian. Jabatan analis kepegawaian keterampilan dibedakan menjadi tiga tingkat, yaitu: 1. Analis Kepegawaian Pelaksana Jenjang pangkat analis kepegawaian pelaksana adalah a. Pengatur golongan ruang II/c b. Pengatur tingkat I golongan ruang II/d 2. Analis Kepegawaian Pelaksana Lanjutan Jenjang pangkat analis kepegawaian Pelaksana Lanjutan adalah a. Penata Muda golongan ruang III/a b. Penata Muda tingkat I golongan ruang III/b 3. Analis Kepegawaian Penyelia Jenjang pangkat analis kepegawaian Penyelia adalah a. Penata golongan ruang III/c b. Penata Tingkat I golongan ruang III/d Jabatan analis kepegawaian ahli dibedakan menjadi tiga tingkat, yaitu: 1. Analis Kepegawaian Pertama Jenjang pangkat analis kepegawaian pertama adalah: a. Penata muda golongan ruang III/a b. Penata muda Tingkat I golongan ruang III/b 2. Analis Kepegawaian Muda Jenjang pangkat analis kepegawaian muda adalah: a. Penata golongan ruang III/c b. Penata Tingkat I golongan ruang III/d 3. Analis Kepegawaian Madya Jenjang pangkat analis kepegawaian madya adalah: a. Pembina golongan ruang IV/a b. Pembina Tingkat I golongan ruang IV/b 10

c. Pembina Utama golongan ruang IV/c Jenjang pangkat untuk masing-masing jabatan analis kepegawaian di atas adalah jenjang pangkat dan jabatan berdasarkan jumlah angka kredit yang dimiliki untuk masing-masing jenjang jabatan.

D. UNSUR KEGIATAN YANG DINILAI DAN PENETAPAN ANGKA KREDIT Pada dasarnya ada dua unsur yang dinilai dalam memberikan angka kredit jabatan fungsional analis kepegawaian, yaitu unsur utama dan unsur penunjang. Unsur utama terdiri atas empat hal sebagai berikut: 1. Pendidikan 2. Manajemen PNS 3. Pengembangan sistem manajemen PNS 4. Pengembangan profesi Jumlah angka kredit kumulatif minimal yang harus dipenuhi oleh setiap PNS untuk dapat diangkat dalam jabatan dan kenaikan jabatan/pangkat analis kepegawaian adalah: 1. paling rendah 80% angka kredit berasal dari unsur utama 2. paling rendah 20% angka kredit berasal dari unsur penunjang. Seorang analis kepegawaian yang telah memiliki angka kredit melebihi angka kredit yang telah ditentukan untuk kenaikan jabatan/pangkat setingkat lebih tinggi, kelebihan angka kredit tersebut dapat diperhitungkan untuk kenaikan jabatan/pangkat berikutnya. Untuk kelancaran penilaian dan penatapan angka kredit, setiap analis kepegawaian diwajibkan mencatat dan menginventarisasi seluruh kegiatan yang dilakukan. Apabila hasil catatan/inventarisasi seluruh kegiatan tersebut dapat memenuhi jumlah angka kredit yang ditentukan untuk kenaikan jabatan/pangkat, secara hierarki analis kepegawaian dapat mengajukan usul penilaian dan penetapan angka kredit. Penilaian dan penetapan angka kredit dilakukan paling cepat dua kali dalam satu tahun, yaitu tiga bulan sebelum periode kenaikan pangkat PNS. Pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit adalah: 1. Kepala BKN atau pejabat eselon I yang ditunjuk bagi Analis Kepegawaian Madya di lingkungan BKN dan instansi lain di luar BKN. 2. Sekretaris Utama BKN atau pejabat lain yang ditunjuk paling rendah eselon II yang secara fungsional bertanggungjawab di bidang kepegawaian bagi analis kepegawaian pelaksana sampai analis kepegawaian penyelia dan analis kepegawaian pertama sampai dengan analis kepegawaian muda di lingkungan BKN. 3. Kepala Kantor Regional BKN bagi analis kepegawaian bagi analis kepegawaian pelaksana sampai analis kepegawaian penyelia dan analis kepegawaian pertama sampai dengan analis kepegawaian muda bagi PNS di lingkungan Kantor Regional BKN masing-masing. 11

4. Pimpinan instansi pusat atau pejabat lain yang ditunjuk paling rendah bagi analis kepegawaian pelaksana sampai analis kepegawaian penyelia dan analis kepegawaian pertama sampai dengan analis kepegawaian muda di lingkungan masing-masing. 5. Sekretaris Daerah Propinsi atau pejabat lain yang ditunjuk paling rendah eselon II yang secara fungsional bertanggungjawab di bidang kepegawaian bagi analis kepegawaian pelaksana sampai analis kepegawaian penyelia dan analis kepegawaian pertama sampai dengan analis kepegawaian muda di lingkungan Pemerintah Daerah Propinsi 6. Sekretaris Daerah kabupaten/kota atau pejabat lain yang ditunjuk paling rendah eselon II yang secara fungsional bertanggungjawab di bidang kepegawaian bagi analis kepegawaian pelaksana sampai analis kepegawaian penyelia dan analis kepegawaian pertama sampai dengan analis kepegawaian muda di lingkungan Pemerintah Daerah kabupaten/kota.

E. PENGANGKATAN JABATAN ANALIS KEPEGAWAIAN Yang berwenang untuk mengangkat seseorang dalam jabatan fungsional analis kepegawaian adalah pejabat yang berwenang. Pejabat yang berwenang adalah pejabat yang mempunyai kewenangan mengangkat, memindahkan, dan memberhentikan pegawai negeri berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengangkatan seseorang dalam jabatan fungsional analis kepegawaian dapat dijelaskan di bawah ini. 1. PNS yang diangkat untuk pertama kali dalam jabatan analis kepegawaian keterampilan harus memenuhi syarat, yaitu: a. berijazah paling rendah Diploma III Kepegawaian b. pangkat paling rendah Pengatur golongan ruang II/c c. Setiap unsur penilaian prestasi kerja dan pelaksanaan pekerjaan dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3) paling rendah bernilai baik dalam satu tahun terakhir. 2. PNS yang diangkat untuk pertama kali dalam jabatan analis kepegawaian keahlian harus memenuhi syarat, yaitu: a. berijazah paling rendah Sarjana (S1) sesuai dengan kualifikasi yang ditentukan/Diploma IV Kepegawaian b. pangkat paling rendah Penata Muda golongan ruang III/a c. Setiap unsur penilaian prestasi kerja dan pelaksanaan pekerjaan dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3) paling rendah bernilai baik dalam satu tahun terakhir. Pengangkatan pertama untuk kedua jenis jabatan fungsional analis kepegawaian tersebut adalah pengangkatan untuk mengisi lowongan formasi jabatan analis kepegawaian melalui pengangkatan Calon PNS. Khusus untuk PNS yang diangkat dalam jabatan analis kepegawaian ahli dengan ijazah S1 sesuai dengan kualifikasi yang ditentukan (kecuali D-IV Kepegawaian), maka paling lama dua tahun setelah diangkat harus mengikuti dan lulus Diklat fungsional analis kepegawaian yang ditentukan oleh BKN. Jika sampai batas yang 12

ditentukan PNS yang bersangkutan tidak lulus Diklat fungsional analis kepegawaian yang dipersyaratkan, maka PNS yang bersangkutan diberhentikan dari jabatan analis kepegawaian. Pengangkatan PNS dari jabatan lain ke dalam jabatan analis kepegawaian dapat dipertimbangkan dengan ketentuan sebagai berikut: a. memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam penjelasan 1 dan 2 di atas. b. memiliki pengalaman dalam kegiatan manajemen PNS/pengembangan sistem manajemen PNS paling sedikit dua tahun c. telah mengikuti dan lulus Diklat fungsional analis kepegawaian d. usia paling tinggi lima tahun sebelum mencapai usia pensiun dari jabatan terakhir yang didudukinya e. Setiap unsur penilaian prestasi kerja dan pelaksanaan pekerjaan dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3) paling rendah bernilai baik dalam satu tahun terakhir.

F. KENAIKAN JABATAN/PANGKAT Penetapan angka kredit digunakan sebagai dasar untuk mempertimbangkan kenaikan jabatan/pangkat analis kepegawaian sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Kenaikan jabatan dapat dipertimbangkan apabila: 1. paling singkat telah satu tahun dalam pangkat terakhir 2. memenuhi angka kredit kumulatif yang ditentukan untuk kenaikan jabatan setingkat lebih tinggi 3. telah mengikuti dan lulus Diklat fungsional analis kepegawaian sesuai dengan jenjang jabatannya 4. Setiap unsur penilaian prestasi kerja dan pelaksanaan pekerjaan dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3) paling rendah bernilai baik dalam satu tahun terakhir. Kenaikan pangkat sebagaimana dimaksud di atas dapat dipertimbangkan apabila: 1. paling singkat telah dua tahun dalam pangkat terakhir 2. memenuhi angka kredit kumulatif yang ditentukan untuk kenaikan jabatan setingkat lebih tinggi 3. Setiap unsur penilaian prestasi kerja dan pelaksanaan pekerjaan dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3) paling rendah bernilai baik dalam satu tahun terakhir.

G. PEMBEBASAN SEMENTARA, PENGANGKATAN KEMBALI, DAN PEMBERHENTIAN DARI JABATAN pembebasan sementara, pengangkatan kembali dan pemberhentian sementara bagi seorang analis kepegawaian di atur sebagai berikut:

13

1. Analis kepegawaian pelaksana pangkat pengatur golongan ruang II/c sampai dengan penyelia pangkat penata golongan ruang III/c, dibebaskan sementara dari jabatannya apabila dalam jangka waktu lima tahun sejak menduduki pangkat terakhir tidak dapat mengumpulkan angka kredit yang ditentukan untuk kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi. 2. Analis kepegawaian pertama pangkat penata muda golongan ruang III/a sampai dengan analis kepegawaian madya pangkat pembina tingkat I golongan ruang IV/b, dibebaskan sementara dari jabatannya apabila dalam jangka waktu lima tahun sejak menduduki pangkat terakhir tidak dapat mengumpulkan angka kredit yang ditentukan untuk kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi. 3. Analis kepegawaian penyelia pangkat penata tingkat I golongan ruang III/d, dibebaskan sementara dari jabatannya apabila setiap tahun sejak menduduki pangkat terakhir tidak dapat mengumpulkan angka kredit paling rendah 10 tahun dari kegiatan pokok. 4. Analis kepegawaian madya pangkat pembina utama muda golongan ruang IV/c dibebaskan sementara dari jabatannya apabila setiap tahun sejak menduduki pangkat terakhir tidak dapat mengumpulkan angka kredit paling rendah 20 dari kegiatan tugas pokok. Selain itu, analis kepegawaian dibebaskan sementara dari jabatannya apabila: 1. dijatuhi hukuman disiplin tingkat sedang atau berat berupa jenis hukuman disiplin penurunan pangkat 2. diberhentikan sementara dari PNS 3. ditugaskan secara penuh di luar jabatannya analis kepegawaian 4. menjalani cuti di luar tanggungan negara, kecuali untuk persalinan keempat dan seterusnya. 5. tugas belajar lebih dari enam bulan. Analis kepegawaian yang telah selesai menjalani pembebasan sementara sebagaimana dijelaskan di atas, dapat diangkat kembali dalam jabatan analis kepegawaian. Pengangkatan kembali dalam jabatan analis kepegawaian tersebut dapat menggunakan angka kredit terakhir yang dimiliki dan dari prestasi kerja di bidang manajemen PNS/pengembangan sistem manajemen PNS yang diperoleh selama tidak menduduki jabatan analis kepegawaian setelah ditetapkan oleh pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit. Begitu pula, seorang analis kepegawaian dapat diberhentikan sementara dari jabatannya apabila: 1. Dalam jangka waktu 1 tahun sejak dibebaskan sementara dari jabatannya tidak dapat mengumpulkan angka kredit yang ditentukan untuk kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi. 2. Dalam jangka waktu 1 tahun sejak dibebaskan sementara dari jabatannya tidak dapat mengumpulkan angka kredit yang ditentukan, atau 3. Dijatuhi hukuman disiplin tingkat berat dan telah mempunyai kekuatan hukum tetap, kecuali hukuman disiplin berat berupa penurunan pangkat.

14