Anda di halaman 1dari 10

PENGARUH GIBERELIN TERHADAP PERPANJANGAN BATANG

Oleh: Nama NIM Rombongan Kelompok Asisten : Hanifah Kholid Basalamah : B1J011156 :I :3 : Heti Sartika Sari

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN II

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2013

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Tanaman secara alamiah sudah mengandung hormon pertumbuhan seperti auksin, giberelin dan sitokinin yang dikenal dengan hormon endogen. Kebanyakan hormon endogen di tanaman berada pada jaringan meristem yaitu jaringan yang aktif tumbuh, seperti ujung-ujung tunas/tajuk dan akar, tetapi karena pola budidaya yang intensif yang disertai dengan pengelolaan tanah yang kurang tepat, maka kandungan hormon endogen menjadi rendah/kurang bagi proses pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman. Akibat dari kondisi tersebut sering dijumpai pertumbuhan tanaman yang lambat, kerontokan bunga/buah, ukuran buah/umbi kecil yang merupakan tanda bahwa tanaman tersebut kekurangan hormon, selain kekurangan zat lainnya seperti unsur hara. Oleh karena itu, penambahan hormon eksogen seperti auksin, giberelin dan sitokinin mutlak diperlukan untuk menghasilkan pertumbuhan vegetatif dan generatif yang optimal (Taiz and Zeiger, 1995). Hingga tahun 1990 telah ditemukan 84 jenis giberelin pada berbagai cendawan dan tumbuhan, dari jumlah tersebut 73 jenis berasal dari tumbuhan tingkat tinggi, 25 jenis berasal dari cendawan Giberella fujikuroi dan 14 jenis berasal dari keduanya (Salisbury dan Ross, 1995). Penelitian intensif yang dilakukan oleh para ahli dari ketiga negara yaitu Jepang, Amerika Serikat dan Inggris menunjukkan bahwa giberelin A sebenarnya adalah campuran dari sekurang-kurangnya 6 jenis giberelin yaitu GA1, GA2, GA3, GA4, GA7 dan GA9. Giberelin A3 (asam giberelik) merupakan jenis giberelin yang paling mudah didapat dan paling banyak digunakan dalam penelitian. (Pranawinata et al., 1989). Menurut Kusumawati (2009), giberelin atau GA adalah salah satu ZPT tanaman golongan terpenoid, yang berperan tidak hanya memacu pemanjangan batang, tetapi juga dalam proses pengaturan perkembangan tanaman. Menurut Salisbury dan Ross (1995), giberelin banyak terdapat pada angiosperma, gimnosperma, paku-pakuan, lumut, ganggang dan sekurangnya dua jenis cendawan. Giberelin terdapat dalam berbagai organ, yaitu akar, batang, tunas, daun, tunas-tunas bunga, bintil akar, buah dan jaringan kalus (Heddy, 1996).

B. Tujuan Tujuan praktikum acara giberelin yaitu untuk mengetahui konsentrasi Giberelin yang efektif dalam merangsang pertumbuhan tanaman, khususnya terhadap perpanjangan batang.

II. MATERI DAN METODE

A. Materi Alat yang digunakan adalah sprayer, penggaris, kertas label, kamera dan alat tulis. Bahan yang digunakan adalah tanaman kedelai (Glycine max), larutan giberelin dengan konsentrasi 0 ppm (kontrol), 10 ppm, 20 ppm dan 30 ppm.

B. Metode 1. 2. Tanaman kedelai berumur 2 minggu dan larutan giberelin disiapkan. Tanaman kedelai kemudian disemprot zat pengatur tumbuh giberelin dengan konsentrasi 10 ppm, 20 ppm dan 30 ppm. 3. 4. Penyemprotan dilakukan setiap 2 hari sekali sebanyak 3 kali. Tanaman kedelai diukur setiap seminggu sekali dan diamati selama 2 minggu.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Tabel 1. Pengamatan Pengaruh Giberelin pada Tanaman Kedelai (Glycine max) Ulangan Perlakuan Total Rataan 1 2 3 GA-0 1 3.5 5.9 10.400 3.467 GA-10 2.7 1.5 11.5 15.700 5.233 GA-20 2.7 1 6 9.700 3.233 GA-30 9.5 0 23.9 33.400 11.133 Total 69.2000 FK JK Total JK perlakuan JK Galat 399.0533333 496.5466667 122.38 374.1666667

Tabel 2. Anova Pengamatan Pengaruh Giberelin Terhadap Tanaman Kedelai (Glycine max) F Table SR dB JK KT Fhitung 0.05 0.01 122.38000 40.79 0.87219 n Perlakuan 3 0 3 6 s 3.59 6.22 374.16666 46.77 Galat 8 7 1 496.54666 Total 11 7

Gambar. 1 Tanaman setelah minggu ke- 1

Gambar. 2 Tanaman setelah minggu ke- 2

B. Pembahasan Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan bahwa pemberian giberelin terhadap tanaman kedelai (Glycine max) dengan berbagai konsentrasi yaitu 0 ppm (kontrol), 10 ppm, 20 ppm dan 30 ppm tidak memberikan pengaruh yang nyata (non signifikan) terhadap tinggi tanaman kedelai (Glycine max) karena Fhit < Ftab, dimana nilai Fhitung = 0.872196 sedangkan Ftabel = 3,59. Hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan pendapat Jacobsen et al. (1995) dalam Arpiwi (2007), giberelin mempercepat munculnya tunas di permukaan tanah. Pengaruh ini disebabkan karena GA3 memacu aktivitas enzimenzim hidrolitik khususnya -amilase yang menghidrolisis cadangan pati sehingga tersedia nutrisi yang cukup untuk tunas supaya bisa tumbuh lebih cepat. Menurut Kusumawati (2009), giberelin atau GA adalah salah satu ZPT tanaman golongan terpenoid, yang berperan tidak hanya memacu pemanjangan batang, tetapi juga dalam proses pengaturan perkembangan tanaman. Haryantini (2000) dan Budiarto (2007) dalam Kusumawati (2009), menyatakan bahwa salah satu jenis GA yang bersifat stabil dan mampu memacu pertumbuhan dan pembungaan tanaman (meningkatkan pembungaan dan memperkecil kerontokan bunga) adalah GA3. Menurut hasil penelitian Akter, et al. (2007) dalam Kusumawati (2009), GA3 mampu meningkatkan aktivitas pertumbuhan tanaman mustard dalam hal pemanjangan batang, peningkatan berat kering, dan jumlah biji. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Zuhriyah (2004) dalam Kusumawati (2009), GA3 pada konsentrasi 200 ppm mampu meningkatkan pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah daun, dan luas daun) dan perkembangan (masa primordia bunga, masapanen, diameter bunga, dan panjang tangkai bunga) tanaman krisan. Beberapa fungsi giberelin menurut Dwidjoseputro (1988), adalah sebagai berikut : 1. Menyebabkan tanaman menghasilkan bunga sebelum waktunya. 2. Menyebabkan terjadinya buah dengan tanpa perlu diserbuki. 3. Menyebabkan tanaman yang kerdil menjadi tanaman raksasa dalam waktu yang singkat. 4. Mempercepat pertumbuhan biji dan tunas.

5. Menyebabkan tinggi tanaman menjadi 3 sampai 5 kali dari tinggi sebelumnya. 6. Mempercepat tumbuhnya sayur-sayuran, dapat mempersingkat waktu pemanenan sampai 50%. Sayur-sayuran yang biasanya baru dapat dipetik setelah 4 atau 5 minggu, maka dengan penggunaan giberelin, sayur-sayuran tersebut sudah dapat dipetik setelah 2 atau 3 minggu penanaman. Menurut Taiz and Zeiger (1995), fungsi lain dari hormon giberelin adalah meningkatkan pemanjangan jaringan terutama pada bagian batang, sehingga jarak internodus lebih panjang daripada tanaman yang tidak diberi perlakuan giberelin. Menurut Heddy (1996), mekanisme yang terjadi adalah giberelin meningkatkan plasticity dinding sel yang diikuti hidrolisis karbohidrat menjadi gula yang kemudian akan mengurangi potensial sel. Hal tersebut membuat air masuk ke dalam sel dan menyebabkan pemanjangan sel. Mekanisme pemberian zat pengatur tumbuh giberelin juga akan meningkatkan kandungan auksin dalam tanaman, karena giberelin mampu mengurangi kerusakan IAA akibat adanya enzim IAA oksidase. Pengaruhnya terhadap perpanjangan sel yaitu karena adanya hidrolisa pati yang dihasilkan Giberelin akan mendukung terbentuknya alpha amylase (Salisbury, 1992). Menurut Arpiwi (2007), giberelin dapat mempercepat munculnya tunas di permukaan tanah. Hal ini disebabkan karena GA3 mampu memacu aktivitas enzimenzim hidrolitik khususnya -amilase yang menghidrolisis cadangan pati sehingga tersedia nutrisi yang cukup untuk tunas agar dapat tumbuh lebih cepat. Giberelin juga dapat meningkatkan jumlah batang per tanaman dan konsentrasi paling optimum adalah 15 mg/L dari 3.7 menjadi 5,7. Peningkatan jumlah batang oleh giberelin mungkin dilakukan melalui pengurangan dominansi apikal. Tunastunas apikal pada umbi kentang menghambat pertumbuhan tunas-tunas lateral. Pemberian giberelin mengurangi dominansi apikal yang menyebabkan tunas lateral dapat tumbuh lebih banyak, sehingga jumlah batang meningkat. Giberelin mampu memecahkan dormansi mata tunas pada kentang , pada penelitian ini digunakan bibit yang belum semua matanya bertunas. Hal ini karena pertunasan kentang dari tiap-tiap mata terjadi pada waktu yang tidak bersamaan. Giberelin mendorong pertunasan dari mata yang belum bertunas sehingga dihasilkan lebih banyak batang per tanaman.

Efek yang ditimbulkan oleh giberelin umumnya bertitik berat pada pola pertumbuhan normal. Giberelin alami ada lebih dari 30 macam, semuanya memiliki konfigurasi kimia yang khusus tetapi yang paling sering digunakan adalah Asam giberelat (GA3) dan efek fisiologi giberelin kebanyakan dianggap hanya dari senyawa ini. Giberelin bekerja pada gen dengan menyebabkan aktivasi gen-gen tertentu. Gen-gen yang diaktifkan akan membentuk enzim-enzim baru yang menyebabkan terjadinya perubahan morphogenetik

(penampilan/kenampakan tanaman) (Rukmana, 1997). Giberelin bekerja secara sinergis dengan auksin, sitokinin dan mungkin beberapa zat lainnya (sinergisme) untuk mempengaruhi dormansi puncak, pertumbuhan kambium, geotropisme, absisi dan partenokarpi (akibat aktivitas auxin dan giberelin), efektif meningkatkan set buah, perangsangan pertumbuhan antar buku sehingga tumbuhan tidak kerdil, pembebasan a-amilase untuk hidrolisis tepung dan perkecambahan (Gardner, et all., 1991). Giberelin bereaksi pada sel-sel yang mengelilingi endosperma yang menyebabkan pembentukan sejumlah enzim hidrolitik khusus (seperti amylase dan protease) yang mencerna zat pati dan protein endosperma dengam demikian membuat persediaan gula dan asam amino bagi sel yang bertumbuh (Kimball, 1983). Selanjutnya dijelaskan bahwa asam amino yang tersedia akibat aktivitas enzim protease merupakan precurson terbentuknya jenis hormon tumbuh yang lain, seperti triptopan yang merupakan bentuk awal dari auksin.

IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Giberelin atau GA adalah salah satu ZPT tanaman golongan terpenoid, yang berperan tidak hanya memacu pemanjangan batang, tetapi juga dalam proses pengaturan perkembangan tanaman. 2. Giberelin dapat menyebabkan tinggi tanaman menjadi 3 sampai 5 kali dari tinggi sebelumnya serta dapat mematahkan dormansi. 3. Pemberian giberelin pada tanaman kedelai (Glycine max) dengan berbagai konsentrasi yaitu 0 ppm (kontrol), 10 ppm, 20 ppm dan 30 ppm tidak memberikan pengaruh yang nyata (non signifikan) terhadap tinggi tanaman karena Fhit < Ftab, dimana nilai Fhitung = 0.872196 sedangkan Ftabel = 3,59.

DAFTAR PUSTAKA

Arpiwi, N. L. 2007. Pengaruh Konsentrasi Giberelin Terhadap Produksi Bibit Kentang (Solanum tuberosum L. cv. GRANOLA) Ukuran M (31-60 gram). Jurusan Biologi FMIPA Universitas Udayana, Kampus Bukit Jimbaran Bali. Diakses tanggal 18 April 2010. Dwidjoseputro. 1988. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT. Gramedia, Jakarta. Heddy, S. 1996. Hormon Tumbuhan. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Kusumawati, Arika, E. D.Hastuti, N. Setiari. 2009. Pertumbuhan dan Pembungaan Tanaman Jarak Pagar Setelah Penyemprotan Ga3 dengan Konsentrasi dan Frekuensi yang Berbeda. Jurnal Penelitian Sains & Teknologi,10(1): 18 29. Pranawiranata, W., Said H., dan Pin T. 1989. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan Jilid II. IPB, Bogor. Ramrez, A. Alonso, D. Rodrguez, D. Reyes, J.A. Jimenez, G. Nicola,M. L.Climent, A. G. Cadenas, dan C. Nicolas. 2009. Evidence for a Role of Gibberellins in Salicylic Acid-Modulated Early Plant Responses to Abiotic Stress in Arabidopsis Seeds. Plant Physiology_, July 2009, Vol. 150, pp. 13351344 Salisbury F. B dan Cleon W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 3. ITB, Bandung. Taiz, L. And Zeiger. 1995. Plant Physiology. The Benjamin/Cummings Publishing Company, Inc., Redwood City, California.