Anda di halaman 1dari 22

Gangguan Perilaku pada Anak

1. Normal pertumbuhan dan perkembangan anak ? Perkembangan anak (NORMAL) a) Penalaran/kognitif

b) Perilaku

c) Emosi

d) Komunikasi

Maramis, W. F. (1995). Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga Univesity Press.

Kaplan dan Saddock, Sinopsis Psikiatri edisi 7 jilid II

Anak Dengan Mental Terbelakang, FKUI, Prof.Dr.dr.S.M. Lumbantobing INDIKATOR PERKEMBANGAN YANG NORMAL KEMAMPUAN DAN PROSES BERPIKIR KOMUNIKASI GERAKAN

3 bln

/ Mengangat kaki Berespon terhadap Berceloteh bersuara suara baru dan tangan Mengikuti benda dg Tersenyum pada Melihat suara ibu mata pergerakan tangan sendiri Melihat objek & orang

3-6 bln

Mengenal ibu Mengapai objek

Memalingkan kepala pd suara Mulai meraban Meniru suara Menangis dgn suara berbeda

Mengangkat kepala Mengerakkan benda dalam bermain

6-9 bln

Meniru gerakan Membuat kata2 berulang yang sederhana tidak bermakna Berespon jika (gaga,dada,dst) dipanggil nama Menggunakan suara untuk menarik perhatian

9-12 bln

Merayap atau merangkak Brdiri bpegangan kemeja Bertepuk tangan Memindahkan objek dari satu tangan ke tangan lainnya Bermain permainan Melambaikan Berjalan sambil sederhana berpegangan tangan utk Bergerak menuju Menyatakan dada benda yang diminati Berhenti ketika ingin benda ttt Melihat gambar Mencoret dikatakan tidak pada buku dengan pensil Meniru kata2 warna baru

12-18bln Meniru suara dan Menggelengkan kepala gerakan yang baru mnyatakan tdk Menunjuk pd benda Meniru kata baru yg diinginkan Mengikuti

Berjalan sendiri Naik/turun tngga

instruksi sderhana

Anak Dengan Mental Terbelakang, FKUI, Prof.Dr.dr.S.M. Lumbantobing


2. Kenapa pada umur 7 th anak cenderung pasif ? Merkuri (Hg) adalah logam berat yang berbahaya, karena merkuri bersifat racun, meskipun dalam konsentrasi kecil. Methylmercury (MeHg) bisa menguap dan dapat menembus plasenta. Kandungan MeHg di dalam ikan sangat toksik terhadap otak, karena otak berkembang dan sangat rentan terhadap efek berbahaya dari MeHg. Akibatnya, akan terjadi kerusakan otak pada bayi tersebut, retardasi mental, kebutaan dan penurunan fungsi komunikasi sampai tidak mampu berbicara Kuntz, S. W., Ricco, J. A., Hill, W. G., & Anderko, L. (2010). Communicating methylmercury risks and fish consumption benefits to vulnerable childbearing populations. JOGNN: Journal of Obstetric, Gynecologic & Neonatal Nursing, 39 (1), 118126. doi: 10.1111/j.1552-6909.2009.01094.x Del Gobbo, L. C., Archbold, J. A., Vanderlinden, L. D., Eckley, C. S., Diamond, M. L., & Robson, M. (2010). Risks and benefits of fish consumption for childbearing women. Canadian Journal of Dietetic Practice & Research, 71(1), 41-45. doi: 10.3148/71.1.2010.41

3. Apa yangmenyebabkan kemampuan bicaranya terhambat terutama dalam menyebutkan huruf r,l, dan s ? Penyebab gangguan bicara dan bahasa sangat banyak dan luas, semua gangguan mulai dari proses pendengaran, penerus impuls ke otak, otak, otot atau organ pembuat suara. Gangguan bicara pada anak dapat disebabkan karena kelainan organik yang mengganggu beberapa sistem tubuh seperti otak, pendengaran dan fungsi motorik lainnya. Beberapa penelitian menunjukkan penyebab ganguan bicara adalah adanya gangguan hemisfer dominan. Penyimpangan ini biasanya merujuk ke otak kiri. Beberapa anak juga ditemukan penyimpangan belahan otak kanan, korpus kalosum dan lintasan pendengaran yang saling berhubungan. Hal lain dapat juga di sebabkan karena diluar organ tubuh seperti lingkungan yang kurang mendapatkan stimulasi yang cukup atau pemakaian 2 bahasa. Namun bila penyebabnya karena lingkungan biasanya keterlambatan yang terjadi tidak terlalu berat.
a. Gangguan pendengaran

b.

c.

d.

e.

f.

Anak yang mengalami gangguan pendengaran kurang mendengar pembicaraan disekitarnya. Gangguan pendengaran selalu harus difikirkan bila ada keterlambatan bicara. Terdapat beberapa penyebab gangguan pendengaran, bisa karena infeksi, trauma atau kelainan bawaan. Infeksi bisa terjadi bila mengalami infeksi yang berulang pada organ dalam sistem pendengaran Kelainan organ bicara Kelainan ini meliputi lidah pendek, kelainan bentuk gigi dan mandibula (rahang bawah), kelainan bibir sumbing (palatoschizis/cleft palate), deviasi septum nasi, adenoid atau kelainan laring. Pada lidah pendek terjadi kesulitan menjulurkan lidah sehingga kesulitan mengucapkan huruf t, n dan l. Kelainan bentuk gigi dan mandibula mengakibatkan suara desah seperti f, v, s, z dan th. Kelainan bibir sumbing bisa mengakibatkan penyimpangan resonansi berupa rinolaliaaperta, yaitu terjadi suara hidung pada huruf bertekanan tinggi seperti s, k, dan g Retardasi mental Redartasi mental adalah kurangnya kepandaian seorang anak dibandingkan anak lain seusianya. Redartasi mental merupakan penyebab terbanyak dari gangguan bahasa. Pada kasus redartasi mental, keterlambatan berbahasa selalu disertai keterlambatan dalam bidang pemecahan masalah visuo-motor. Genetik herediter dan kelainan kromosom Menurut Mery GL anak yang lahir dengan kromosom 47 XXX terdapat keterlambatan bicara sebelum usia 2 tahun dan membutuhkan terapi bicara sebelum usia prasekolah. Sedangkan Bruce Bender berpendapat bahwa kromosom 47 XXY (klinefelter) mengalami kelainan bicara ekpresif dan reseptif lebih berat dibandingkan kelainan kromosom 47 XXX (super woman). Kelainan central atau otak Gangguan berbahasa sentral adalah ketidak sanggupan untuk menggabungkan kemampuan pemecahan masalah dengan kemampuan berbahasa yang selalu lebih rendah. Ia sering menggunakan mimik untuk menyatakan kehendaknya seperti pada pantomim. Pada usia sekolah, terlihat dalam bentuk kesulitan belajar. Autism Gangguan bicara dan bahasa yang berat dapat disebabkan karena autism. Autisme adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Keterlambatan berbicara, Berbahaya atau tidak bahaya. Dr Widodo Judarwanto, SpA.

4. Apa hubungan masa kehamilan ibu dengan keluhan perkembangan anak ?

5. Apakah ada hubungan ibu suka makan seafood dengan keluhan ? Satu alasan bahwa ikan sangat penting dikonsumsi oleh ibu hamil adalah ikan mengandung omega-3, yang terdiri dari docosahexaenoic (DHA) dan eicosapentaeonic (EPA). Dimana omega-3 ini mempunyai manfaat yang sangat penting untuk perkembangan neurologic pada janin selama kehamilan yang berfungsi untuk meningkatkan perkembangan otak, kognitif, peningkatan penglihatan, prilaku sosial, kemampuan berbicara dan kemampuan motorik pada bayi. Ikan disatu sisi mengandung omega-3 yang banyak manfaatnya bagi ibu hamil, namun ikan juga mengandung metilmerkuri (MeHg). Merkuri yang dilepasken ke atmosfir melalui berbagai kegiatan, berasal dari pembakaran, sampah rumah tangga dan limbah industri. Asap yang mengandung merkuri tersebut ditransportasikan melalui udara dan mengendap di daratan serta air. Sebagian senyawa merkuri tersebut akan diubah menjadi MeHg oleh mikroorganisme dalam air dan tanah. Kemudian MeHg akan diakumulasikan dalam ikan (Kuntz, Ricco, Hill, & Anderko, 2010). Kandungan MeHg di dalam ikan sangat toksik terhadap otak, karena otak berkembang dan sangat rentan terhadap efek berbahaya dari MeHg. Akibatnya, akan terjadi kerusakan otak pada bayi tersebut, retardasi mental, kebutaan dan penurunan fungsi komunikasi sampai tidak mampu berbicara. Bahkan masalah pada pencernaan dan ginjal juga dapat terjadi, yang beresiko terpajan merkuri adalah Janin. Oleh sebab itu, bahaya mengkonsumsi ikan laut oleh ibu hamil adalah hal penting yang harus diperhatikan dan segera mendapat penanganan secara cepat, karena Hg pada ibu hamil dapat mengalir ke janin yang sedang dikandungnya dan terakumulasi. Sehingga dapat mengalir ke janin lewat sawar plasenta. Melihat bahaya merkuri terhadap janin dan ibu hamil diatas, rekomendasi dan nasehat terhadap ibu hamil untuk mengurangi konsumsi ikan yang mengandung MeHg sangatlah penting (Del Gobbo et al., 2010). Kuntz, S. W., Ricco, J. A., Hill, W. G., & Anderko, L. (2010). Communicating methylmercury risks and fish consumption benefits to vulnerable childbearing populations. JOGNN: Journal of Obstetric, Gynecologic & Neonatal Nursing, 39 (1), 118126. doi: 10.1111/j.1552-6909.2009.01094.x Del Gobbo, L. C., Archbold, J. A., Vanderlinden, L. D., Eckley, C. S., Diamond, M. L., & Robson, M. (2010). Risks and benefits of fish consumption for childbearing women. Canadian Journal of Dietetic Practice & Research, 71(1), 41-45. doi: 10.3148/71.1.2010.41

6. Mengapa secara fisik anak sering sakit-sakitan ? 7. Apa hubungan anak sering sakit-sakitan dengan keluhan perkembangan ?

8. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan kelainan kromosom ? PENYEBAB RETARDASI MENTAL Penyebab retardasi mental secara umum dapat terjadi karena factor genetic, biologis non keturunan, dan lingkungan 1. Faktor genetic Lebih dari 150 kerusakan gen yang diketahui dapat menyebabkan keterbelakangan mental, walaupun kebanyakan jarang terjadi. Dalam hal ini gen gagal memberikan perintah memproduksi enzim atau pembentukan enzim yang salah. Keadaan ini berlangsung sejak individu berada pada masa konsepsi. Terjadi kelainan kromosom karena penambahan atau pengurangan suatu kromosom, akibatnya terjadi kelainan fisik maupun fungsi-fungsi kecerdasannya 2. Biologis non-keturunan a. Radiasi sinar X, dapat menyebabkan cacat pada Ibu selama kehamilan, walaupun bahaya tidak diketahui dengan jelas radiasi dapat mengakibatkan bermacam-macam gangguan pada bayi yang belum lahir termasuk kematian, kelainan bentuk, kerusakan otak, kemudahan terkena kanker tertentu, umur pendek dan mutasi gen yang akibatnya baru terasa pada beberapa generasi berikutnya. b. Keadaan gizi Ibu yang buruk ketika kehamilan, hal ini cukup beralasan kalau mengingat bahwa janin yang sedang tumbuh memperoleh makanan dari aliran darah ibunya, melalui membrane yang semi permiabel dari plasenta dan tali pusar. Kekurangan gizi bagi Ibu hamil mengakibatkan pembentukan sel-sel otak yang terjadi selama kehamilan mengalami gangguan. Berdasarkan penelitian anak-anak yang cacat lahir dan keterbelakangan mental diakibatkan oleh kekurangan gizi pada saat di dalam kandungan. c. Obat-obatan, alasan penting kekhawatiran penggunaan obat-obatan ialah terjadi kerusakan anatomi pada anggota tubuh sekelompok bayi dan dicurigai mengakibatkan cacat lahir yang ibunya meminum obat thalidomid selama hamil. Termasuk di dalamnya beberapa antibiotic, hormon, steroid, antikoagulan, narkotika dan obat penenang serta beberapa obat halusinogenik seperti LSD dan PCP. d. Faktor Rhesus, menunjukkan adanya factor kimia yang terdapat dalam darah sekitar 85% manusia, walaupun terdapat variasi ras dan etnik. Selama kehamilan, anti bodi dalam darah ibu dapat menyerang darah Rh-positif bayi yang belum lahir. Penghancuran yang terjadi dapat dibatasi sehingga timbul sebagai anemia ringan atau ekstensif sehingga mengakibatkan celebral palsy, ketulian, keterbelakangan mental bahkan kematian.

Lingkungan Selain keadaan genetic dan biologis, factor lingkungan juga dapat berperan sebagai penyebeb retardasi mental terutama berkaitan dengan kesempatan stimulasi yang diberikan pada anak. Misalnya penolakan orangtua, anak yang tidak diterima oleh orang tuanya sangat mungkin telah mendapat stimulasi yang cukup untuk optimalisasi perkembangannya. Tomb, David A. Buku Saku Psikiatri Edisi 6. 2003. Jakarta: EGC.

9. Cara pemeriksaan integensia ?

Intelegent Quotient atau IQ merupakan angka yang menjelaskan tingkat kecerdasan seseorang yang dibandingkan dengan sesamanya dalam satu populasi. Untuk mengukur tingkat IQ seseorang, dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu Tes Verbal (Pengetahuan Umum) dan Non-Verbal (Pengorganisasian gambar dan angka secara abstrak).

Maramis, W. F. (1995). Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga Univesity Press.

II. Tes Psikometrik Simon Binet umur mental


I.Q. = umur kronologik I.Q. Performance I.Q. Verbal
7

X 100

Kulpak dr.H.Ismed Yusuf Sp.KJ


Link tes IQ: http://www.quickiqtest.net/indonesian/

10. Kategori dan normal IQ ?

A. Idiot IQ (0-29) Idiot merupakan kelompok individu terbelakang paling rendah. Tidak dapat berbicara atau hanya mengucapkan beberapa kata saja. Biasanya tidak dapat mengurus dirinya sendiri seperti mandi, berpakaian, makan dan sebagainya, dia harus diurus oleh orang lain. Anak idiot tinggal ditempat tidur seumur hidupnya. Rata-rata perkembangan intelegensinya sama dengan anak normal 2 tahun. Sering kali umurnya tidak panjang, sebab selain intelegensinya rendah, juga badannya kurang tahan terhadap penyakit. B. Imbecile IQ (30-40) Kelompok Anak imbecile setingkat lebih tinggi dari pada anak idiot. Ia dapat belajar berbahasa, dapat mengurus dirinya sendiri dengan pengawasan yang teliti. Pada imbecile dapat diberikan latihan-latihan ringan, tetapi dalam kehidupannya selalu bergantung kepada orang lain, tidak dapat mandiri. Kecerdasannya sama dengan anak normal berumur 3 sampai 7 tahun.Anak-anak imbecile tidak dapat dididik di sekolah biasa. C.Moron atau Debil IQ / Mentally retarted (50-69) Kelompok ini sampai tingkat tertentu masih dapat belajar membaca, menulis, dan membuat perhitungan sederhana, dapat diberikan pekerjaan rutin tertentu yang tidak memerlukan perencanaan dan dan pemecahan. Banyak anak-anak debil ini mendapat pendidikan di sekolah-sekolah luar biasa. D.Kelompok bodoh IQ dull/ bordeline (70-79) Kelompok ini berada diatas kelompok terbelakang dan dibawah kelompok normal (sebagai batas). Secara bersusah paya dengan beberapa hambatan, individu tersebut dapat melaksanakan sekolah lanjutan pertama tetapi sukar sekali untuk dapat menyelesaikan kelas-kelas terakhir di SLTP E. Normal rendah (below avarage), IQ 80-89 Kelompok ini termasuk kelompok normal,rata-rata atau sedang tapi pada tingakat terbawah, mereka agak lambat dalam belajarnya, mereka dapat menyelesaikan sekolah menengah tingkat pertama tapi agak kesulitan untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas pada jenjang SLTA. F. Normal sedang, IQ 90-109 Kelompok ini merupkan kelompok normal atau rata-rata, mereka merupkan kelompok terbesar presentasenya dalam populasi penduduk. G. Normal tinggi (above average) IQ 110-119

Kelompok ini merupakan kelompok individu yang normal tetapi berada pada tingkat yang tinggi. H. Cerdas (superior) ,IQ 120-129 Kelompok ini sangat berhasil dalam pekerjaan sekolah/akademik. Mereka seringkali terdapat pada kelas biasa. Pimpinan kelas biasanya berasal dari kelompok ini. I. Sangat cerdas (very superior/ gifted) IQ 130-139 Anak-anak very superior lebih cakap dalam membaca, mempunyai pengetahuan yang sangat baik tentang bilangan, perbendaharaan kata yang luas, dan cepat memahami pengertian yang abstrak. Pada umumnya, faktor kesehatan, ketangkasan, dan kekuatan lebih menonjol dibandingkan anak normal. J. Genius IQ 140> Kelompok ini kemampuannya sangat luar biasa. Mereka pada umumnya mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan masalah dan menemukan sesuatu yang baru meskipun dia tidak bersekolah. Kelompok ini berada pada seluruh ras dan bangsa, dalam semua tingkat ekonomi baik laki-laki maupun perempuan. Contoh orang-orang genius ini adalah Edison dan Einstein.

Taraf / Klasifikasi Intelligence Quotient (IQ) Klasifikasi Skala Weschler 128 ke-atas : Very Superior 120-127 : Superior 111-119 : Bright Normal (High Average) 91-110 : Average 80-90 : Dul Normal (Low Average) 66-79 : Borderline-Defective 65 ke-bawah : Mentally Defective Klasifikasi Skala Stanford-Binet 140-169 : Very Superior 120-139 : Superior 110-119 : Bright Normal (High Average) 90-1109 : Average (Rata-Rata) 80-89 : Dul Normal (Low Average) 70-79 : Borderline-Defective Sumber: David Weschler. The Measurement of Adult Intelligence, 3rd Ed. Baltimore: The Williams & Wilkins, 1944, p 190. Lewis M. Terman & Maud A. Merrill.

Stanford-Binet Intelligence-Scale. manual for The Third Revision Form L-M. Boston: Houghton-Mifflin, 1973, p 18. American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual (DSM). 2nd Ed. Washington, D.C. APA, 1968, p 14. Tingkat-tingkat retardasi mental dibagi menjadi: 1) Retardasi Mental Ringan Nilai IQ pada Retardasi Mental Ringan 52-69. ketrampilan sosial dan komunikasinya mungkin adekuat dalam tahun-tahun pra sekolah. Tetapi pada saan anak menjadi lebih besar, defisit kognitif tertentu seperti kemampuan yang buruk untuk berpikir abstrak dan egosentrik mungkin membedakan dirinya dari anak lain seusianya. Biasanya mengalami keterlambatan dalam mempelajari bahasa. Namun, masih dapat berbicara untuk keperluan sehari-hari dan mampu melakukan kegiatan sehari-hari serta terampil dalam perkerjaan rumah tangga. Dan akan mengalami kesulitan dalam pelajaran sekolah. 2) Retardasi Mental Sedang Nilai IQ pada Retardasi Mental Sedang adalah 36-51. ketrampilan komunikasi berkembang lebih lambat. Isolasi sosial dirinya mungkin dimulai pada usia sekolah dasar. Dapat dideteksi lebih dini jika dibandingkan dengan Retardasi Mental Ringan. Biasanya lambat dalam perkembangan pemahaman dan penggunaan bahasa. Ketrampilan merawat diri dan ketrampilan motoriknya pun terlambat. Penderita juga memerlukan pengawasan seumur hidup dan program pendidikan khusus demi mengembangkan potensi mereka yang terbatas agar memperoleh beberapa ketrampilan dasar. 3) Retardasi Mental Berat Nilai IQ pada Retardasi Mental Berat 20-35. bicara anak terbatas dan perkembangan motoriknya buruk. Pada usia pra sekolah sudah nyata ada gangguan. Pada masa usia sekolah kemampuan bahasanya berkembang. Kebanyakan dengan gangguan motorik yang berat akibat kerusakan perkembangan pada susunan saraf pusat. 4) Retardasi Mental Sangat Berat Nilai IQ Retardasi Mental Sangat Berat di bawah 10. ketrampilan komunikasi dan motoriknya sangat terbatas. Pada masa dewasa dapat terjadi perkembangan bicara dan mampu menolong diri sendiri secara sederhana. Tetapi juga masih membutuhkan perawatan orang lain. Maramis, W. F. (1995). Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga Univesity Press.

11. Apa saja DD dan apakah kondisi anak ini bisa disembuhkan ? AUTISME Definisi: Istilah autisme berasal dari kata Autos yang berarti diri sendiri dan isme yang berarti suatu aliran, sehingga dapat diartikan sebagai suatu paham tertarik pada dunianya sendiri (Suryana, 2004).

Ciri-ciri autisme: Menurut American Psychiatric Association dalam buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder Fourth Edition Text Revision (DSM IV-TR, 2004), kriteria diagnostik untuk dari gangguan autistik adalah sebagai berikut: A. Jumlah dari 6 (atau lebih) item dari (1), (2) dan (3), dengan setidaknya dua dari (1), dan satu dari masing-masing (2) dan (3): 1. Kerusakan kualitatif dalam interaksi sosial, yang dimanifestasikan dengan setidak-tidaknya dua dari hal berikut: a) Kerusakan yang dapat ditandai dari penggunaan beberapa perilaku non verbal seperti tatapan langsung, ekspresi wajah, postur tubuh dan gestur untuk mengatur interaksi sosial. b) Kegagalan untuk mengembangkan hubungan teman sebaya yang tepat menurut tahap perkembangan. c) Kekurangan dalam mencoba secara spontanitas untuk berbagi

kesenangan, ketertarikan atau pencapaian dengan orang lain (seperti dengan kurangnya menunjukkan atau membawa objek ketertarikan). d) Kekurangan dalam timbal balik sosial atau emosional. 2. Kerusakan kualitatif dalam komunikasi yang dimanifestasikan pada setidaktidaknya satu dari hal berikut: a) Penundaan dalam atau kekurangan penuh pada perkembangan bahasa (tidak disertai dengan usaha untuk menggantinya melalui beragam alternatif dari komunikasi, seperti gestur atau mimik).

b) Pada individu dengan bicara yang cukup, kerusakan ditandai dengan kemampuan untuk memulai atau mempertahankan percakapan dengan orang lain. c) Penggunaan bahasa yang berulang-ulang dan berbentuk tetap atau bahasa yang aneh. d) Kekurangan divariasikan, dengan permainan berpura-pura yang spontan atau permainan imitasi sosial yang sesuai dengan tahap perkembangan. 3. Dibatasinya pola-pola perilaku yang berulang-ulang dan berbentuk tetap, ketertarikan dan aktivitas, yang dimanifestasikan pada setidak-tidaknya satu dari hal berikut: a) Meliputi preokupasi dengan satu atau lebih pola ketertarikan yang berbentuk tetap dan terhalang, yang intensitas atau fokusnya abnormal. b) Ketidakfleksibilitasan pada rutinitas non fungsional atau ritual yang spesifik. c) Sikap motorik yang berbentuk tetap dan berulang (tepukan atau mengepakkan tangan dan jari, atau pergerakan yang kompleks dari keseluruhan tubuh). d) Preokupasi yang tetap dengan bagian dari objek B. Fungsi yang tertunda atau abnormal setidak-tidaknya dalam 1 dari area berikut, dengan permulaan terjadi pada usia 3 tahun: (1) interaksi sosial, (2) bahasa yang digunakan dalam komunikasi sosial atau (3) permainan simbolik atau imajinatif. C. Gangguan tidak lebih baik bila dimasukkan dalam Retts Disorder atau Childhood Disintegrative Disorder.

Tingkat kecerdasan anak autis: Pusponegoro dan Solek (2007) menyebutkan bahwa tingkat kecerdasan anak autis dibagi mejadi 3 (tiga) bagian, yaitu: a) Low Functioning (IQ rendah) Apabila penderitanya masuk ke dalam kategori low functioning (IQ rendah), maka dikemudian hari hampir dipastikan penderita ini tidak dapat diharapkan untuk hidup mandiri, sepanjang hidup penderita memerlukan bantuan orang lain. b) Medium Functioning (IQ sedang)

Apabila penderita masuk ke dalam kategori medium functioning (IQ sedang), maka dikemudian hari masih bisa hidup bermasyarakat dan penderita ini masih bisa masuk sekolah khusus yang memang dibuat untuk anak penderita autis. c) High Functioning (IQ tinggi) Apabila penderitanya masuk ke dalam kategori high functioning (IQ tinggi), maka dikemudian hari bisa hidup mandiri bahkan mungkin sukses dalam pekerjaannya, dapat juga hidup berkeluarga.

RETARDASI MENTAL Definisi: 1. Retardasi mental adalah kemampuan mental yang tidak mencukupi (WHO, MENKES 1990). 2. Retardasi mental adalah suatu kondisi yang ditandai oleh intelegensi yang rendah yang menyebabkan ketidakmampuan individu untuk belajar dan beradaptasi terhadap tuntutan masyarakat atas kemampuan yang dianggap normal (Carter CH, Toback C).

Etiologi: Adanya disfungsi otak merupakan dasar dari Retardasi Mental. Faktor-faktor yang potensial sebagai penyebab Retardasi Mental: Non organik: Kemiskinan dan keluarga yang tidak harmonis. Faktor sosiokultural. Interaksi anak-pengasuh yang tidak baik. Penelantaran anak.

Organik: Faktor Pra-konsepsi Abnormalitas single gene (penyakit-penyakit metabolik, kelainan

neurocutaneous). Kelainan kromosom.

Faktor Pre-natal

Gangguan pertumbuhan otak trimester I Kelainan kromosom Infeksi intra uterin, misal HIV Zat-zat teratogen (alkohol, radiasi) Disfungsi plasenta Kelainan konginetal dari otak Gangguan pertumbuhan otak trimester II dan III Infeksi intra uterin, misal HIV Zat-zat teratogen (alkohol, kokain, logam-logam berat) Ibu DM, PKU Toksemia gravidarum Disfungsi plasenta Ibu malnutrisi

Faktor Peri-natal Sangat prematur Asfeksia neotorum Trauma lahir Meningitis Kelainan metabolik

Faktor Post Natal Trauma berat pada kepala/susunan saraf pusat Neurotoksin CVA Anoksia, misalnya tenggelam Metabolik, misalnya gizi buruk, kelainan hormonal Infeksi, misalnya meningitis ensefalitis

Patofisiologi: Retardasi Mental termasuk kelemahan atau ketidakmampuan kognitif yang muncul pada masa kanak-kanak (sebelum usia 18 tahun) yang ditandai dengan fungsi kecerdasan di bawah normal (IQ 70-75 atau kurang) dan disertai keterbatasanketerbatasan sedikitnya dua area fungsi adaptif yaitu berbicara dan berbahasa,

ketrampilan merawat diri, kerumahtanggaan, ketrampilan sosial, penggunaan sarana prasarana komunitas, pengarahan diri kesehatan dan keamanan akademik fungsional bersantai dan bekerja. Pada Retardasi Mental terjadi kerusakan muskuloskeletal. Kerusakan neurologis itu meliputi: kerusakan otak, kelainan kongenital dan mikrosefal. Sedangkan kerusakan muskuloskeletal meliputi: anomali ekstremitas konganital, masukan kalori/nutrisi tidak mencukupi, distorsi muskular. Kerusakan neurologis dan kerusakan muskuloskeletal akan menyebabkan terjadinya kurang kesadaran tentang bahaya dan kerusakan fungsi motorik dari otot sehingga akan muncul berbagai masalah dalam keperawatan. Mansjoer, Arif. (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Jil. 1. Ed. 3. Jakarta: Media Aesculapius. Maramis, W. F. (1995). Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga Univesity Press. Pdiatri. Buku Kedokteran. Jakarta: EGC.

ADHD Definisi: ADHD merupkan kependekan dari attention deficit hyperactivity disorder, (Attention = perhatian, Deficit = berkurang, Hyperactivity = hiperaktif, dan Disorder = gangguan). Atau dalam bahasa Indonesia, ADHD berarti gangguan pemusatan perhatian disertai hiperaktif. Jadi, jika didefinisikan, secara umum ADHD menjelaskan kondisi anak-anak yang memperlihatkan simtom-simtom (ciri atau gejala) kurang konsentrasi,

hiperaktif,dan impulsif yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan sebagian besar aktivitas hidup mereka.

Etiologi: Bahan kajian lebih lanjut akan dikemukakan hasil penelitian Faron dkk, 2000, Kuntsi dkk, 2000, Barkley, 20003 (dalam MIF Baihaqi &Sugiarmin, 2006), yang mengatakan bahwa terdapat faktor yang berpengaruh terhadap munculnya ADHD, yaitu: Faktor genetika

Bukti penelitian menyatakan bahwa faktor genetika merupakan faktor penting dalam memunculkan tingkah laku ADHD. Satu pertiga dari anggota keluarga ADHD memiliki gangguan, yaitu jik orang tua mengalami ADHD, maka anaknya beresiko ADHD sebesar 60 %. Pada anak kembar, jika salah satu mengalami. ADHD, maka saudaranya 70-80 % juga beresiko mengalami ADHD. Pada studi gen khusus beberapa penemuan menunjukkan bahwa molekul genetika gen-gen tertentu dapat menyebabkan munculnya ADHD.Dengan demikian temuan-temun dari aspek keluarga, anak kembar, dan gen-gen tertentu menyatakan bahwa ADHD ada kaitannya dengan keturunan. Faktor neurobiologis Beberapa dugaan dari penemuan tentang neurobiologis diantaranya bahwa terdapat persamaan antara ciri-ciri yang muncul pada ADHD dengan yang muncul pada kerusakan fungsi lobus prefrontl. Demikian juga penurunan kemampuan pada anak ADHD pada tes neuropsikologis yang dihubungkan dengan fungsi lobus prefrontal. Temuan melalui MRI (pemeriksaan otak dengan teknologi tinggi)menunjukan ada ketidaknormalan pada bagian otak depan. Bagian ini meliputi korteks prefrontal yang saling berhubungan dengan bagian dalam bawah korteks serebral secara kolektif dikenal sebagai basal ganglia. Bagian otak ini berhubungan dengan atensi, fungsi eksekutif, penundaan respons, dan organisasi respons. Kerusakan-kerusakan daerah ini memunculkan ciri-ciri yang serupa dengan ciri-ciri pada ADHD. Informasi lain bahwa anak ADHD mempunyai korteks prefrontal lebih kecil dibanding anak yang tidak ADHD.

Ciri-ciri ADHD: a. Inatensi Yang dimaksud adalah bahwa sebagai individu penyandang gangguan ini tampak mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatiannya. Mereka sangat mudah teralihkan oleh rangsangan yang tiba-tiba diterima oleh alat inderanya atau oleh perasaan yang timbul pada saat itu. Dengan demikian mereka hanya mampu mempertahankan suatu aktivitas atau tugas dalam jangka waktu yang pendek, sehingga akan mempengaruhi proses penerimaan informasi dari lingkungannya. b. Impulsifitas

Yang dimaksud adalah suatu gangguan perilaku berupa tindakan yang tidak disertai dengan pemikiran. Mereka sangat dikuasai oleh perasaannya sehingga sangat cepat bereaksi. Mereka sulit untuk memberi prioritas kegiatan, sulit untuk mempertimbangkan atau memikirkan terlebih dahulu perilaku yang akan ditampilkannya. Perilaku ini biasanya menyulitkan yang bersangkutan maupun lingkungannya. c. Hiperaktivitas Yang dimaksud adalah suatu gerakan yang berlebuhan melebihi gerakan yang dilakukan secara umum anak seusianya. Biasanya sejak bayi mereka banyak bergerak dan sulit untuk ditenangkan. Jika dibandingkan dengan individu yang aktif tapi produktif, perilaku hiperaktif tampak tidak bertujuan. Mereka tidak mampu mengontrol dan melakukan koordinasi dalam aktivitas motoriknya, sehingga tidak dapat dibedakan gerakan yang penting dan tidak penting. Gerakannya dilakukan terus menerus tanpa lelah, sehingga kesulitan untuk memusatkan perhatian. American Psychiatric Assosiations (2005). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM IV). Washington, DC. American Psychiatric Associations. Alberto, P. A,. & Anne, C. A,. (1986). Applied Behavior Analysis for Teachers. Ohio: Merrill Publishing Company. Grad, L. Flick. (1998). ADD/ADHD Behavior-change Resource Kit. New York: The Center for Applied Research in Education.