Anda di halaman 1dari 38

Bizzare behavior and high fever 1. Apahubungannyakeluhandengankeluhandemam 2 mingguyglalu? Penyebab Delirium: Penyakit intrakranial: 1.

Epilepsi atau keadaan pasca kejang 2. Trauma otak (terutama gegar otak) 3. Infeksi (meningitis.ensetalitis). 4. Neoplasma. 5. Gangguan vaskular Penyebab ekstrakranial: 1. Obat-obatan (di telan atau putus), Obat antikolinergik, Antikonvulsan, Obat antihipertensi, Obat antiparkinson. Obat antipsikotik, Cimetidine, Klonidine. Disulfiram, Insulin, Opiat, Fensiklidine, Fenitoin, Ranitidin, Sedatif(termasuk alkohol) dan hipnotik, Steroid. 2. Racun Karbon monoksida, Logam berat dan racun industri lain. 3. Disfungsi endokrin (hipofungsi atau hiperfungsi) Hipofisis, Pankreas, Adrenal, Paratiroid, tiroid 4. Penyakit organ nonendokrin. Hati (ensefalopati hepatik), Ginjal dan saluran kemih (ensefalopati uremik), Paru-paru (narkosis karbon dioksida, hipoksia), Sistem kardiovaskular (gagal jantung, aritmia, hipotensi). 5. Penyakit defisiensi (defisiensi tiamin, asam nikotinik, B12 atau asam folat) 6. Infeksi sistemik dengan demam dan sepsis. 7. Ketidakseimbangan elektrolit dengan penyebab apapun 8. Keadaan pasca operatif 9. Trauma (kepala atau seluruh tubuh) 10. Karbohidrat: hipoglikemi. Infeksi salmonella typhimenyebarsepsisperadangan otakggn mental organik.

Kaplan.H.I, Sadock. B.J, Sinopsis Psikiatri : Ilmu Pengetahuan Perilak Psikiatri Klinis, Edisi ketujuh, Jilid satu. Binarupa Aksara, Jakarta 2010. hal 481-570. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi ketiga, Jilid 1. Penerbit Media Aesculapsius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta 2008. hal 189-192.

GANGGUAN MENTAL ORGANIK Definisi Gangguan mental yang berkaitan dengan penyakit/gangguan sistemik atau otak yang dapat didiagnosis tersendiri. Termasuk gangguan mental simtomatik, di mana pengaruh terhadap otak merupakan akibat sekunder dari

penyakit/gangguan sistemik di luar otak (ekstra cerebral).

Gambaran gangguan fungsi kognitif daya ingat, daya pikir, daya belajar gangguan sensorium gangguan kesadaran dan perhatian sindrom dengan manifestasi yang menonjol dalam bidang persepsi, isi pikiran, suasana, perasaan,dan emosi onset sangat berpengaruh dalam penentuan diagnosis.

klasifikasi MENURUT PPDGJ III F00 F09 GANGGUAN MENTAL ORGANIK` (TERMASUK GANGGUAN MENTAL SIMTOMATIK) o F00 DEMENSIA PADA PENYAKIT ALZHEIMER o F01 DEMENSIA VASKULAR o F02 DEMENSIA PADA PENYAKIT LAIN YDK o F03 DEMENSIA YTT

o F04 SINDROM AMNESIK ORGANIK BUKAN AKIBAT ALKOHOL dan ZAT PSIKOAKTIF LAINNYA o F05 DELIRIUM BUKAN AKIBAT ALKOHOL dan ZAT PSIKOAKTIF LAINNYA o F06 GANGGUAN MENTAL LAINNYA AKIBAT KERUSAKAN dan DISFUNGSI OTAK dan PENYAKIT FISIK o F07 GANGGUAN KEPRIBADIAN dan PERILAKU AKIBAT PENYAKIT,KERUSAKAN DAN DISFUNGSI OTAK o F09 GANGGUAN MENTAL ORGANIK ATAU SIMTOMATIK YTT PPDGJ Gangguan Psikotik Akibat Kondisi Medis Umum halusinasi visual a. Harus menyingkirkan sindrom yang menampakkan gejala psikotik yang disebabkan hendaya kognitif ( contoh : delirium dan demensia alzheimer) , biasanya tidak disertai perubahan sensorium. b. Diagnosis dan Gambaran Klinis : - Pasien tidak dalam keadaan delirium dengan tingkat kesadaran yang stabil. - Pemeriksaan status mental menyingkirkan hendaya kognitif seperti yang ditemukan pada demensia atau gangguan amnesik. - Mencari penyakit cerebral atau sistemik berhubungan dengan kausal psikosis. - Simptomatologi tidak bisa membedakan kausa sekunder dan primer (idiopatik), - Pemeriksaan fisik dan neurologis sitematis - Pemeriksaan MRI Deteksi abnormalitas sistemik atau serebral seperti tumor otak c. Perjalanan penyakit dan prognosis Tergantung pada etiologi : - Trauma kepala : membaik selama masa penyembuhan

- Penyakt degeneratif : waham dapat berkurang saat penyakit memburuk karena kapasitas membangun kognisi lebih kompleks hilang bertahap. - Epilepsi : prognosis baik dengan mengobati etiologi penyakit mendasar. - Gangguan psikotik sekunder terhadap penyakit infeksi : tidak dapat membaik meski organisme penginfeksi telah dibasmi karena kerusakan jaringan terjadi selama infeksi akut bersifat irreversible. Buku Ajar Psikiatiri Klinik halaman 72 Gangguan Mood akibat Kondisi Medis Umum Agitasi, berbicara kacau. Gangguan mood akibat kondisi medis umum dikenal sebagai gangguan mood sekunder. Ditandai perubahan mood akibat efek fisiologis langsung dari penyakit medis. Gambarannya mood depresif atau elevasi, ekspansif atau iritable secara fungsional menyebabkan hendaya.

Kausa gangguan mood sekunder : a. Intoksikasi obat b. Keadaan putus obat c. Tumor d. Trauma e. Infeksi demam tifoid f. Kardiak dan vaskular g. Fisiologis atau metabolik h. Endokrim i. Gizi j. Demielinisasi k. Neurodegeneratif
KARAKTERISTIK SALMONELA TYPI, PATOGENESIS PERJALANAN DEMAM TYPOID

Infeksi S.typhi terjadi pada saluran pencernaan. Basil diserap usushalus kemudian melalui pembuluh limfe masuk ke peredaran darah dan mencapai organ seperti hati dan limfe. Basil yang tidak di hancurkan berdiam diri di organ sehingga terjadi hepatosplenomegali yang menyebabkan nyeri. Kemudia basil masuk ke peredarah darah ( bakteremia) dan menyebar ke tubuh. Seperti halnya semua bakteri basil enterik, S. typhi juga menghasilkan endotoksin. Endotoksin merupakan senyawa lipopolisakarida (LPS) yang dihasilkan dari lisisnya sel bakteri. Di peradaran darah, endotoksin ini akan berikatan dengan protein tertentu kemudian berinteraksi dengan reseptor yang ada pada makrofag dan monosit serta sel-sel RES, maka akan

dihasilkan IL-1, TNF, dan sitokin lainnya. Selain itu, S. typhi juga menghasilkan sitotoksin, namun hanya sedikit sekali.
Buku Mucosal Imunology 2003

2. Apahubungannyaagitasidanbicarakacaudengankelu han?
Diagnosis yang mengacu : F 06 Gangguan Mental Lainnya Akibat Kerusakan dan Disfungsi Otak dan Penyakit Fisik Pedoman diagnostik : - Adanya penyakit kerusakan atau disfungsi otak atau penyakit fisik sistemik yang diketahui berhubungan dengan salah satu sindrom mental yang tercantum. - Ada hubungan waktu ( minggu atau bulan) antara perkembangan penyakit yang mendasari dengan timbulnya sindrom mental - Kesembuhan dari gangguan mental setelah perbaikan atau dihilangkannya penyebab yang mendasarinya. - Tida ada bukti mengarah pada penyebab alternatif sindrom mental ( riwayat keluarga atau pengaruh stress sebagai pencetus) .

F06.0 Halusinasi Organik Pedoman diagnostik : - Memenuhi kriteria umum F06 - Ada halusinasi segala bentuk ( visual atau auditori) menetap atau berulang; - Kesadaran jernih ( tidak berkabut ) - Tidak ada penurunan fungsi intelek bermakna ; - Tidak ada gangguan afektif menonjol

- Tidak jelas adanya waham ( insight masih utuh )

F 06.2 GangguanWaham Organik ( Lir-Skizofrenia ) Pedoman diagnostik : - Kriteria umum F 06 - Disertai : waham menetap atau berulang ( waham kejar, tubuh berubah, cemburu, penyakit atau kematian dirinya atau orang lain) - Halusinasi , gangguan proses pikir atau fenomena katatonik tersendiri mungkin adfa - Kesadaran dan daya ingat tidak terganggu.
Penyebab Agitasi dan halusinasi visual :

Agitasi : ansietas berat yang disertai kegelisahan motoriik, serupa dengan iritabilitas yang ditandai dengan eksitabilitas berlebih disertai kemarahan atau rasa terganggu yang mudah terpicu. gangguan emosi

Halusinasi visual : persepsi palsu yang melibatkan penglihatan baik suatu citra yang berbentuk ( misalnya orang) dan citra tak berbentuk ( contoh : kilatan cahaya) , paling sering di temui pada gangguan medis. Penyebab : Kerusakan pada : a. Lobus temporal ventromedial : sistem limbic dan pengaturan emosi. b. Cortex cerebri lobus occipitalis : - Cortex visual primer : BA 17 - Cortec visual sekunder dan tersier : BA 18 dan BA 19 BA 18 : binokular stereopsis ( 3 dimensi)

BA 19

: mengintegrasikansinyal visual dengan sinyal auditori dan sinyal taktil.

Kerusakan

halusinasi

visual,

gangguan

bentuk

geometri,

prosopagnosia, acromatopsia.

Guyton and Hall


3. Mengapapenderitamemilikihalusinasi visual dantakut?

4. Hub bingungdengankeluhan?

5. Apahubungannyausiadengankeluhannya?

6. Kenapaditemukanjumlahleukositmenurunpadahala dariwayatdemam?
Pemeriksaan Widal merupakan pemeriksaan yang banyak diminta oleh dokter untuk menegakkan diagnosa Tifus, meskipun tes ini banyak kelemahannya. Merupakan penentuan kadar aglutinasi antibodi terhadap antigen O dan H dalam darah (antigen O muncul pada hari ke 6-8, dan antibodi H muncul pada hari ke 10-12). Pemeriksaan Widal memberikan hasil negatif sampai 30% dari sampel biakan positif penyakit tifus, sehingga hasil tes Widal negatif bukan berarti dapat dipastikan tidak terjadi infeksi. Pemeriksaan tunggal tes Widal kurang baik karena akan memberikan hasil positif bila terjadi :

Infeksi berulang karena bakteri Salmonella lainnya Imunisasi penyakit tifus sebelumnya Infeksi lainnya seperti malaria dan lain-lain Hasil Tes Widal dipengaruhi oleh :

Stadium penyakit Antibiotika yang diminum Immunologis berbeda antara daerah endemis dan non endemis Reaksi silang dengan antibodi kuman gram negative lainnya

Kelemahan uji Widal yaitu rendahnya sensitivitas dan spesifisitas serta sulitnya melakukan interpretasi hasil membatasi penggunaannya dalam penatalaksanaan penderita demam tifoid, akan tetapi hasil uji Widal yang positif akan memperkuat dugaan pada tersangka penderita demam tifoid (penanda infeksi). Saat ini walaupun telah digunakan secara luas di seluruh dunia, manfaatnya masih diperdebatkan dan sulit dijadikan pegangan karena belum ada kesepakatan akan nilai standar aglutinasi (cut-off point). Untuk mencari standar titer uji Widal seharusnya ditentukan titer dasar (baseline titer) pada orang sehat di populasi dimana pada daerah endemis seperti Indonesia akan didapatkan peningkatan titer antibodi O dan H pada orang-orang sehat. Nilai Cut Off uji WIDAL secara nasional tidak ada. Di RSUD Dr Soetomo Surabaya memakai nilai : Antigen O titer > 1/160 dan Antigen H titer > 1/160 untuk menyatakan hasil pemeriksaan tersebut bermakna. Tes Widal tidak dapat dipakai untuk menentukan kesembuhan penderita, jadi tidak berguna kalau penderita itu sudah tidak ada keluhan masih melakukan pemeriksaan widal untuk melihat sembuh maupun kambuhnya penyakit tsb karena: * Agl O : hilang dalam 6-12 bulan * Agl H : hilang dalam 2 tahun Penurunan leukosit Sebagian orang pernah mengalami kekurangan sel darah putih atau disebut Leukopenia. Kondisi ini terjadi bila jumlah sel darah putih kurang dari 5.000 dalam setiap tetes darah. Manusia normalnya memiliki sel darah putih berjumlah 5.000 hingga 10.000 dalam setiap tetes darahnya. Leukopenia bisa disebabkan sumsum tulang mengalami gangguam. Sum-sum tulang merupakan produsen sel darah putih. Jika sum-sum tulang bermasalah, otomatis jumlah sel darah putih akan mengalami gangguan juga. Leukopenia bisa juga disebabkan oleh infeksi. Infeksi dari kuman atau bakteri bisa menyebabkan penurunan jumlah sel darah putih. Kurangnya sel darah putih juga bisa terjadi karena adanya penyakit autoimun seperti HIV/AIDS atau lupus. Pengaruh obat-obatan seperti efek dari kemoterapi pun bisa menyebabkan terjadinya

leukopenia. Beberapa jenis obat yang digunakan pada kemoterapi bisa merusak sum-sum tulang, sehingga produksi sel darah merah menurun. Meski demikian, kondisi ini tidak selalu terjadi pada setiap orang, bergantung kondisi masing-masing pasien. Namun, keadaan ini tidak berlangsung lama pada pasien yang menjalani kemoterapi. Biasanya jumlah sel darah putih akan menurun selama beberapa hari. Ini disebabkan oleh efek obat kemoterapi, tetapi kemudian leukosit akan kembali pada jumlah normal lagi. Sementara kadar sel darah putih bisa juga turun di bawah normal ( kurang dari 3.500 sel per mikroliter darah) karena : * Infeksi virus. * Kelainan kongenital yang terkait dengan fungsi sumsum tulang. * Kanker. * Gangguan autoimun. * Obat-obatan yang merusak sel darah putih. Pemicu spesifik yang menurunkan leukosit : * Alergi berat. * Anemia aplastis. * Kemoterapi. * Obat-obatan antibiotik, diuretik, dan prednison. * HIV/AIDS. * Hipertiroid. * Penyakit infeksi. * Penyakit lupus * Terapi radiasi. * Rematoid artritis. * Kekurangan vitamin.

7. Mengapadoktermencurigaipenyakit mental organic? Bagian yang disebut Gangguan Mental Organik dalam DSM III-R sekarang disebut sebagai Delirium, Demensia, Gangguan Amnestik Gangguan Kognitif lain, dan Gangguan Mental karena suatu kondisi medis umum yang tidak dapat diklasifikasikan di tempatlain.

Kaplan.H.I, Sadock. B.J, Sinopsis Psikiatri : Ilmu Pengetahuan Perilak Psikiatri Klinis, Edisi ketujuh, Jilid satu. Binarupa Aksara, Jakarta 2010. hal 481-570.

Menurut PPDGJ III gangguan mental organik meliputi berbagai gangguan jiwa yang dikelompokkan atas dasar penyebab yang lama dan dapat dibuktikan adanya penyakit, cedera atau ruda paksa otak, yang berakibat disfungsi otak, disfungsi ini dapat primer seperti pada penyakit, cedera, dan ruda paksa yang langsung atau diduga mengenai otak, atau sekunder, seperti pada gangguan dan penyakit sistemik yang menyerang otak sebagai salah satu dari beberapa organ atau sistem tubuh. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III, Editor Dr, Rusdi Maslim. Jakarta 2003. hal 3-43. 8. Dd? Perbedaan Delirium dan Demensia Delirium Terjadi secara tiba-tiba Berlangsung selama beberapa minggu Berhubungan dengan pemakaian obat atau gejala putus obat, penyakit berat, kelainan metabolisme Hampir selalu memburuk di malam hari Tidak mampu memusatkan perhatian Kesiagaan berfluktuasi dari letargi menjadi agitasi Orientasi terhadap lingkungan bervariasi Sering bertambah buruk di malam hari Perhatiannya 'mengembara' Kesiagaan seringkali berkurang Orientasi terhadap lingkungan Bisa tanpa penyakit Demensia Terjadi secara perlahan Bisa menetap

terganggu Bahasanya lambat, seringkali tidak dapat dimengerti & tidak tepat Kadang mengalami kesulitan dalam menemukan kata-kata yg tepat Ingatannya hilang, terutama Ingatannya bercampur baur, linglung untuk peristiwa yang baru saja terjadi

DELLIRIUM

A. DEFINISI Suatu gangguan kesadaran, biasanya terlihat bersamaan dengan gangguan fungsi kognitif secara global. Kelainan mood, persepsi dan perilaku adalah gejala psikiatrik yang umum Sinopsis Psikiatri Jilid I, Kaplan dan Sadock

B. ETIOLOGI Penyebab intracranial Epilepsi atau keadaan Racun Karbon monoksida Logam berat dan racun

pascakejang Trauma otak ( terutama gegar ) Infeksi Meningitis Ensefalitis Neoplasma Gangguan vaskular

industri lain Disfungsi endokrin ( hipofungsi atau hiperfungsi ) Hipofisis Pankreas Adrenal

Penyebab ekstrakranial Obatan dan racun Obat antikolinergik Antikonvulsan Obat antihipertensif Obat antiparkinson Obat antipsikotik Glikosida jantung Cimetidine Clonidine Dilsufiram Insulin Opiat Phencyclidine Phenytoin Ranitidine Salisilat Sedatif dan hipnotik Steroid

Paratiroid Tiroid Penyakit organ non endokrin Hati ( ensefalopati hepatik ) Ginjal dan saluran kemih ( ensefalopati uremik ) Paru ( narkosis karbon

dioksida & hipoksia ) Sistem kardiovaskular (

gagal jantung, aritmia, dan hipotensi ) Penyakit defisiensi ( defisiensi tiamin, asam nikotinik, B12 atau asam folat ) Infeksi sistemik dengan demam dan sepsis Ketidakseimbangan Keadaan pascaoperatif Trauma ( kepala atau seluruh tubuh ) elektroit

dengan penyebab apapun

Penyebab utama : panyakit sistem saraf pusat (contoh epilepsi), penyakit sistemik (contoh gagal jantung), dan intoksikasi maupun putus dari agen farmakologis atau toksik. Jika dokter memeriksa pasien delirium : kita harus menganggap bahwa semua obat yang digunakan oleh pasien mungkin BERHUBUNGAN dengan delirium.

Penyebab lain yang tersering : toksisitas dari banyak sekali medikasi yang diresepkan yang mempunyai aktivitas ANTIKOLINERGIK (amitriptyline, doxepim,thioridazine,dll). Padahal obat antikolinergik itu sendiri sering di gunakan dalam psikiatrik. Neurotransmiter utama yang berperan dalam delirium : ASETILKOLIN. Daerah neuroanatomis utama : FORMASI RETIKULARIS. Berbagai faktor yang menginduksi delirium : menyebabkan penurunan aktivitas asetilkolin di otak. Formasi retikularis batang otak : daerah utama yang mengatur PERHATIAN DAN KESADARAN, dan jalur utama yang berperan dalam delirium adalah jalur TEGMENTAL DORSALIS, yang keluar dari formasi retikularis mesensefalik ke tektum dan talamus. Neurotransmiter lain yang berhubungan dengan delirium adalah : serotonin dan glutamat. Penyebab lain : delirium yang diinduksi LITHIUM. Pasien dengan konsentrasi lithium 1,5 mEq/L resiko delirium. Onset pada pasien ini : letargi umum, kegagapan, dan fasikulasi otot yang berkembang selama perjalanan beberapa hari sampai minggu. Delirium ini membutuhkan waktu sampai 2 minggu untuk menghilang bahkan setelah pemberian lithium dihentikan. Dalam pemulihan : sering terjadi stupor dan kejang. Pengobatan : menghentikan elektrolit, lithium, pengobatan ekskresi suportif, pemeliharaan lithium. Cara terbaik

keseimbangan

mempermudah

menghilangkan lithium dari tubuh : HEMODIALISIS. Sinopsis Psikiatri Jilid I, Kaplan dan Sadock

C. KLASIFIKASI

Delirium karena kondisi medis umum Delirium akibat zat Delirium yang tidak ditentukan (YTT) (NOS)

Sinopsis Psikiatri Jilid I, Kaplan dan Sadock

D. PATOGENESIS Mekanisma tidak jelas, tetapi mungkin terkait dengan gangguan reversibilitas dan metabolisma oxidatif otak, abnormalitas neurotransmiter multipel, dan pembentukan sitokines (cytokines). Stress dari penyebab apapun bisa meningkatkan kerja saraf simpatikus sehingga mengganggu fungsi kolinergik dan menyebabkan delirium. Usia lanjut memang dasarnya rentan terhadap penurunan transmisi kolinergik sehingga lebih mudah terjadi delirium. Apapun sebabnya, yang jelas hemisfer otak dan mekanisma siaga (arousal mechanism) dari talamus dan sistem aktivasi retikular batang otak jadi terganggu. http://www.idijakbar.com/prosiding/pelayanan_kesehatan.htm

E. MANIFESTASI KLINIS Gambaran kunci dari delirium : GANGGUAN KESADARAN. Dalam DSM IV : penurunan kejernihan kesadaran terhadap lingkungan, dengaan penurunan kemampuan untuk memusatkan, mempertahankan, atau mengalihkan perhatian.

Keadaan delirium mungkin didahului selama beberapa hari oleh perkembangan kecemasan, mengantuk, insomnia, halusinasi transien, mimpi menakutkan di malam hari, kegelisahan. jika ada pasien yang mengalami gejala2 ini, dokter harus mengamatinya dengan cermat.

Pasien yan gpernah mengalami delirium, kemungkinan akan mengalami delirium kembali dalam keadaan yang sama (REKUREN). Kesadaran ( Arousal) Terdapat DUA pola kelainan kesadaran. 1. HIPERAKTIVITAS , berhubungan dengan peningkatan kesiagaan. Biasanya dialami oleh pasien yang delirium karena PUTUS ZAT, yang juga disertai oleh tanda otonomik, seperti kemerahan kulit, pucat, berkeringat, takikardi, pupil dilatasi, mual, muntah,dll. 2. PENURUNAN KESIAGAAN. Terdapat pula pasien dengan campuran dari dua pola di atas.

Orientasi Orientasi terhadap waktu, tempat, dan orang harus di uji. Orientasi terhadap waktu sering hilang (meskipun pada delirium ringan) Orientasi tempat dan orang (hilang pada delirium berat). Orientasi terhadap diri sendiri jarang hilang.

Bahasa dan Kognisi Sering terdapat kelainan bahasa. Berupa : bicara melantur, tidak relevan, membungungkan, gangguan mengerti pembicaraan. DSM IV ; dalam mendiagnosis tidak diperlukan adanya kelainan bahasa karena orang bisu tidak dapat didiagnosis. Fungsi kognisi dan ingatan terganggu. Kemampuan untuk menyusun, mempertahankan, dn mengingat kenangan mungkin terganggu, tetapi INGATAN JAUH masih dipertahankan. Fungki kognisi menurun drastis.

Mungkin memiliki WAHAM yang tidak sistematik dan kadang2 PARANOID.

Persepsi Pasien delirium tidak mampu membedakan STIMULI dan untuk MENYATUKAN persepsi sekarang dengan pengalaman masa lalu mereka. Dengan demikian pasien sering tertarik oleh stimuli yang tidak relevan atau menjadi teragitasi jika dihadapkan informasi baru. Sering mengalami HALUSINASI. Halusinasi tersering : visual/auditoris, jarang : taktil/olfaktoris. Sering juga mengalami ILUSI visualdan auditori.

Mood Kelainan PENGATURAN mood. Gejala tersering : kemarahan, kegusaran, rasa takut yang tidak beralasan. Gejala lain : apati, depresi, dan euforia. Beberapa pasien dengan cepat berpindah antara emosi-emosi di atas.

Gejala Penyerta Gangguan TIDUR-BANGUN. Tidur singkat danterputus-putus. Pasien sering mengalami eksaserbasi gejala delirium tepat sebelum tidur di kenal dengan SUNDOWNING. Gejala neurologis Disfasia, tremor, asteriksis, inkoordinasi dan inkontinensia urin, dan tanda neurologis fokal. Sinopsis Psikiatri Jilid I, Kaplan dan Sadock

F. DIAGNOSIS

Sinopsis Psikiatri Jilid I, Kaplan dan Sadock

a. Delirium karena kondisi medis umum SINOPSIS PSIKIATRI Gangguan kesadaran (yaitu, penurunan kejernihan kesadaran terhadap lingkungan) dengan penurunan kemampuan untuk memusatkan, mempertahankan, atau mengalihkan perhatian Perubahan kognisi (seperti defisit daya ingat, disorientasi, gangguan bahasa) atau perkembangan gangguan persepsi yang tidak lebih baik diterangkan demensia yang telah ada sebelumnya, yang telah ditegakkan, atau yang sedang timbul

Gangguan timbul setelah suatu periode waktu yang singkat (biasanya beberapa jam sampai hari) dan cenderung berfluktuasi selama perjalanan hari Terdapat bukti2 dari riwayat penyakit, pemeriksaan fisik atau temuan laboratorium bahwa gangguan adalah disebabkan oleh akibat fisiologis langsung dari kondisi medis umum

b. Delirium intoksikasi zat SINOPSIS PSIKIATRI Gangguan kesadaran ( yaitu, penurunan kejernihan kesadaran terhadap lingkungan ) dengan penurunan kemampuan untuk memusatkan, mempertahankan, atau mengalihkan perhatian Perubahan kognisi ( seperti defisit daya ingat, disorientasi, gangguan bahasa ) atau perkembangan gangguan persepsi yang tidak lebih baik diterangkan demensia yang telah ada sebelumnya, yang telah ditegakkan, atau yang sedang timbul Gangguan timbul setelah suatu periode waktu yang singkat ( biasanya beberapa jam sampai hari ) dan cenderung berfluktuasi selama perjalanan hari Terdapat bukti dari riwayat penyakit, pemeriksaan fisik atau temuan laboratorium (1) atau (2) 1) Gejala dalam kriteria A dan B berkembang selama intoksikasi zat 2) Pemakaian medikasi secara etiologi berhubungan dengan gangguan

c. Delirium putus zat

SINOPSIS PSIKIATRI Gangguan kesadaran ( yaitu, penurunan kejernihan kesadaran terhadap lingkungan ) dengan penurunan kemampuan untuk memusatkan, mempertahankan, atau mengalihkan perhatian Perubahan kognisi ( seperti defisit daya ingat, disorientasi, gangguan bahasa ) atau perkembangan gangguan persepsi yang tidak lebih baik diterangkan demensia yang telah ada sebelumnya, yang telah ditegakkan, atau yang sedang timbul Gangguan timbul setelah suatu periode waktu yang singkat ( biasanya beberapa jam sampai hari ) dan cenderung berfluktuasi selama perjalanan hari Terdapat bukti dari riwayat penyakit, pemeriksaan fisik atau temuan laboratorium bahwa gejala dalam kriteria A dan B berkembang selama, atau segera setelah, suatu sindroma putus

d. Delirium karena penyebab multipel SINOPSIS PSIKIATRI Gangguan kesadaran ( yaitu, penurunan kejernihan kesadaran terhadap lingkungan ) dengan penurunan kemampuan untuk memusatkan, mempertahankan, atau mengalihkan perhatian Perubahan kognisi ( seperti defisit daya ingat, disorientasi, gangguan bahasa ) atau perkembangan gangguan persepsi yang tidak lebih baik diterangkan demensia yang telah ada sebelumnya, yang telah ditegakkan, atau yang sedang timbul Gangguan timbul setelah suatu periode waktu yang singkat ( biasanya beberapa jam sampai hari ) dan cenderung

berfluktuasi selama perjalanan hari Terdapat bukti dari riwayat penyakit, pemeriksaan fisik atau temuan laboratorium bahwa delirium telah memiliki lebih dari satu penyebab ( misalnya, lebih dari satu penyebab kondisi medis umum, satu kondisi medis umum ditambah intoksikasi zat atau efek samping medikasi )

e. Delirium yang tidak ditentukan SINOPSIS PSIKIATRI Kategori ini harus digunakan untuk mendiagnosis suatu delirium yang tidak memenuhi kriteria salah satu tipe delirium yang dijelaskan dalam bagian ini. Contoh adalah 1) Suatu gambaran klinis delirium yang dicurigai karena kondisi medis umum atau pemakaian zat tetapi di mana tidak terdapat cukup bukti untuk menegakkan suatu penyebab spesifik 2) Delirium karena penyebab yang tidak dituliskan dalam bagian ini (misalnya, pemutusan sensorik) (Kaplan & Saddock.1997.Sinopsis Psikiatri, Jilid I.Jakarta:Binarupa Aksara)

DEMENTIA

Definisi

Ada sejumlah definisi tentang dementia, tetapi semuanya harus mengandung tiga hal pokok, yaitu: 1. Gangguan Kognitif 2. Gangguan tadi harus melibatkan berbagai aspek fungsi kognitif dan bukan sekedar penjelasan defisit neuropsikologik 3. Penderita tidak terdapat gangguan kesadaran, demikian pula delirium, yang merupakan gambaran yang menonjol

Definisi lain dari dementia adalah sebagai suatu kehilangan kemampuan kognitif secara multidimensional dan terus menerus, termasuk gangguan daya ingat, demikian pula dengan satu atau lebih hal berikut, yaitu afasia, apraksia, agnosia, atau gangguan dalam perencanaan, pengaturan, dan kemampuan pemikiran yang abstrak.

Dementia dapat progresif, statik, atau dapat pula mengalami remisi. Reversibilitas dementia merupakan fungsi patologi yang mendasarinya,serta bergantung pula pada ketersediaan dan kecepatan terapi yang efektif. Dementia sering dikaitkan dengan kaum lanjut usia, penyakit ini berhubungan dengan fungsi otak dan penyakit ini berisiko tinggi diderita oleh oleh golongan muda dan anak-anak (yang notabene nya adalah kelompok usia produktif). Fenomena pikun pada usia muda dan produktif merupakan hal yang sangat menakutkan bagi kita semua. Proses ini berawal dari hal-hal kecil yang terlupakan dari jadwal harian yang

berantakan, kondisi fisik yang menurun sampai akhirnya tidak sanggup lagi bekerja dan harus menghabiskan waktu dirumah.

Etiologi

Penyebab dementia meliputi sejumlah besar keadaan, beberapa bersifat reversibel, dan beberapa progresif, yang menyebabkan penyebaran yang luas dari kerusakan otak atau disfungsi. Disebutkan dalam sebuah literatur bahwa penyakit yang dapat menyebabkan timbulnya gejala dementia ada sejumlah tujuh puluh lima. Beberapa penyakit dapat disembuhkan sementara sebagian besar tidak dapat disembuhkan (Mace, N.L. & Rabins, P.V. 2006). Penyebab utama penyakit dementia adalah penyakit Alzheimer, lima puluh sampai enam puluh persen penyebab dementia adalah penyakit Alzheimer. Alzheimer adalah kondisi dimana sel syaraf pada otak mati sehingga membuat sinyal dari otak tidak dapat di transmisikan sebagaimana mestinya (Grayson, C. 2004). Penderita Alzheimer mengalami gangguan memori, kemampuan membuat keputusan dan juga penurunan proses berpikir. Selain itu, disebabkan juga oleh penyakit vaskular dan kemudian faktor etiologi multipleks. Penyebab lainnya adalah penyakit pick, hidrosefalus normotensif, penyakit parkinson, penyakit huntington, trauma kepala, tumor otak, anoksia, infeksi, penyakit endokrin, penyakit Creutzfeldt-Jakob, penyakit imunologik, penyakit hepar, gangguan metabolis, dan sklerosis multipleks. Pada anak-anak, dementia terjadi karena penyakit genetik yang salah satu gejala utamanya adalah kerusakan kognitif, contohnya sindrom down. Selain itu, kekurangan vitamin B12 dan hormon tiroid, dapat juga menyebabkan dementia.

2. PENYEBAB Dari segi etiologi dibedakan antara demensia reversibel dan irreversibel. Untuk demensia reversible penyebabnya adalah :1

1. Drugs
Antidepresi, antiansietas, sedatif, antiaritmia, antihipertensi, antikonvulsan, obat-obat jantung termasuk digitalis, obat-obat antikolmergik. 2. Emosi/depresi Depresi, shizofrenta, mania, psikosis. 3. Metabolik / endokrin Penyakit tiroid, hipoglikemi, hipernatremi dan hiponatremi, hiperklasemi, gagal ginjal, gagal hati, penyakit Cushing, penyakit wilson. 4. Eye/ear nutrisi Difensiasi tiamin, difensiasi vitamin B12 (anemia pernisiosa), Difensiasi asam fosfat, difensiasi vitamin B6 (pellagra). 5. Trauma Trauma kranioserebal, hematon subdural akut dan kronis. 6. Tumor Glioma, meningioma, tumor metastatis. 7. Infeksi Meningitis dan ensefalitis bakterialis, meningitis dan ensefalitis Akibat jamur, meningitis akibat kriptokokus, meningitis dan Ensefalitis viral, abses otak, neurosifilis, AIDS. 8. Autoimun

Lupus eritematosus diseminata, multiple sklerosis. Dan di samping itu ada juga arterioseklerosis dan alkohol. Untuk dementia yang irreversibel penyebabnya adalah:1 1. Penyakit degeneratif Penyakit Alzaimer, dementia Frontotemporal, penyakit Huntington, penyakit Parkinson, penyakit Lewy bodies, atrofi olivopontoserebelar, amiotropik lateral sklerosis/ dementia parkinsonism kompleks. 2. Penyakit vaskular Infrak multipel, emboli serebral, arteritis, anoksia skunder akibat henti jantung, gagal jantung atau keracunan karbon monoksida. 3. Trauma Trauma kranioserebral berat 4. Infeksi Sub akut spongiform ensefalopati (creutzfeldt-jacob disease), post ensefalitis, Leukoensefalopati multifokal progresif.

Klasifikasi dan Jenis Dementia


Dementia dapat dibagi dalam dementia reversibel dan irreversibel. Pembagian dalam dementia senilis dan presenilis menyesatkan, karena demensia dikaitkan dengan usia. Batas usia lanjut dan kurang lanjut tersebut sangat samar. Di samping itu, sebutan senilis dan presenilis bersifat deskriptif, sehingga diagnosisnya mudah dibuat tanpa mempertimbangkan patofisiologinya.

Jenis-jenis dementia yaitu: 1. Dementia jenis alzheimer a. Dengan awitan dini (usia 65 tahun) b. Dengan awitan lambat (usia di atas 65 tahun) c. Dengan delirium d. Dengan waham e. Dengan perasaan depresif f. Tanpa penyulit 2. Dementia Vaskular (dahulu multi-infarct dementia) a. Dengan delirium b. Dengan waham c. Dengan perasaan depresif d. Tanpa penyulit 3. Dementia karena kondisi medik umum lainnya a. Demensia karena infeksi b. Demensia karena trauma kepala c. Demensia karena penyakit parkinson d. Demensia karena penyakit huntington e. Demensia karena penyakit pick f. Demensia karena penyakit creutzfeldt-jakob 4. Dementia karena penggunaan substansi tertentu dalam angka lama 5. Demensia karena etiologi multipleks 6. Demensia yang tidak terspesifikasi

a. Demensia tipe alzheimer

SINOPSIS PSIKIATRI Perkembangan defisit kognitif yang dimanifestasikan oleh baik : 1) Gangguan daya ingat ( gangguan kemampuan dalam mempelajari informasi baru dan untuk mengingat informasi yang telah dipelajari sebelumnya ) 2) Satu ( atau lebih ) gangguan kognitif berikut : a) Afasia ( gangguan bahasa ) b) Apraksia ( gangguan kemampuan untuk aktivitas motorik walaupun fungsi motorik adalah utuh ) c) Agnosia ( kegagalan untuk mengenali atau mengidentifikasi benda walaupun fungsi sensorik adalah utuh ) d) Gangguan dalam fungsi eksekutif ( yaitu merencanakan, mengorganisasi, mengurutkan dan abstrak ) Defisit kognitif dalam kriteria A1 dan A2 masing menyebabkan

PPDGJ-III Terdapatnya gejala demensia Onset bertahap ( insidious onset ) dengan deteriorasi lambat. Onset biasanya sulit ditentukan waktunya yang persis, tiba orang lain sudah menyadari adanya kelainan tersebut. Dalam perjalanan penyakitnya dapat terjadi suatu taraf yang stabil ( plateau ) secara nyata Tidak adanya bukti klinis, atau temuan dari pemeriksaan khusus, yang menyatakan bahwa kondisi mental itu dapat disebabkan oleh penyakit otak atau sistemik lain yang dapat menimbulkan demensia ( misalnya hipotiroidisme, hiperkalsemia, defisiensi vitamin B12, defisiensi niasin, neurosifilis, hidrosefalus bertekanan normal, atau

gangguan yang bermakna dalam fungsi sosial atau pekerjaan dan menunjukkan suatu penurunan bermakna dari tingkat fungsi sebelumnya Perjalanan penyakit ditandai oleh onset yang bertahap dan penurunan kognitif yang terus-menerus Defisit kognitif dalam kriteria A1 dan A2 bukan salah satu dari berikut : 1) Kondisi sistem saraf pusat lain yang menyebabkan defisit progresif dalam daya ingat dan kognisi ( misalnya, penyakit serebrovaskular, penyakit Parkinson, penyakit Huntington, hematoma subdural, hidrosefalus tekanan normal, tumor otak ) 2) Kondisi sistemik yang diketahui menyebabkan demensia ( misalnya, hipotiroidisme, defisiensi vitamin B12 atau asam folat, defisiensi niasin, hiperkalsemia, neurosifilis, infeksi HIV )

hematoma subdural Tidak adanya serangan apoplektik mendadak, atau gejala neurologik kerusakan otak fokal seperti hemiparesis, hilangnya daya sensorik, defek lapangan pandang mata, dan inkoordinasi yang terjadi dalam masa dini dari gangguan itu ( walaupun fenomena ini dikemudian hari dapat bertumpang tindih )

3) Kondisi akibat zat Defisit tidak terjadi semata-mata selama perjalanan suatu delirium Gangguan tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan aksis I lainnya ( misalnya, gangguan depresif berat, skizofrenia )

b. Demensia vaskular SINOPSIS PSIKIATRI Perkembangan defisit kognitif yang dimanifestasikan oleh baik : 1) Gangguan daya ingat ( gangguan kemampuan dalam mempelajari informasi baru dan untuk mengingat informasi yang telah dipelajari sebelumnya ) 2) Satu ( atau lebih ) gangguan kognitif berikut : a) Afasia ( gangguan bahasa ) b) Apraksia ( gangguan kemampuan untuk aktivitas motorik walaupun fungsi motorik adalah utuh ) c) Agnosia ( kegagalan untuk PPDGJ-III Terdapatnya gejala demensia Hendaya fungsi kognitif biasanya tidak merata ( mungkin terdapat hilangnya daya ingat, gangguan daya pikir, gejala neurologis fokal ). Daya tilik dari ( insight ) dan daya nilai (judgment) secara relatif tetap baik Suatu onset yang mendadak atau deteriorasi yang bertahap, disertai adanya gejala neurologis fokal, meningkatkan kemungkinan diagnosis demensia vaskuler.

mengenali atau mengidentifikasi benda walaupun fungsi sensorik adalah utuh ) d) Gangguan dalam fungsi eksekutif ( yaitu merencanakan, mengorganisasi, mengurutkan dan abstrak ) Defisit kognitif dalam kriteria A1 dan A2 masing menyebabkan gangguan yang bermakna dalam fungsi sosial atau pekerjaan dan menunjukkan suatu penurunan bermakna dari tingkat fungsi sebelumnya Tanda dan gejala neurologis fokal ( misalnya, peninggian refleks tendon dalam, respon ekstensor plantar, palsi pseudobulbar, kelainan gaya berjalan, kelamahan pada satu ekstremitas ) atau tanda laboratorium adalah indikatif untuk penyakit serebrovaskular ( misalnya, infark multipel yang mengenai korteks dan substansia putih di bawahnya )yang dianggap

Pada beberapa kasus, penetapan hanya dapat dilakukan dengan pemeriksaan CT-Scan atau pemeriksaan neuropatologis

berhubungan secara etiologi dengan gangguan Defisit tidak terjadi semata selama perjalanan delirium

c. Demensia karena kondisi medis umum lain SINOPSIS PSIKIATRI Perkembangan defisit kognitif yang dimanifestasikan oleh baik : 1) Gangguan daya ingat ( gangguan kemampuan dalam mempelajari informasi baru dan untuk mengingat informasi yang telah dipelajari sebelumnya ) 2) Satu ( atau lebih ) gangguan kognitif berikut : a) Afasia ( gangguan bahasa ) b) Apraksia ( gangguan kemampuan untuk aktivitas motorik walaupun fungsi motorik adalah utuh ) c) Agnosia ( kegagalan untuk mengenali atau mengidentifikasi benda walaupun fungsi sensorik adalah utuh ) d) Gangguan dalam fungsi eksekutif ( yaitu merencanakan, mengorganisasi, mengurutkan dan abstrak ) Defisit kognitif dalam kriteria A1 dan A2 masing menyebabkan gangguan yang bermakna dalam fungsi sosial atau pekerjaan dan menunjukkan suatu penurunan bermakna dari tingkat fungsi sebelumnya Terdapat bukti dari riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium bahwa gangguan adalah akibat fisiologis langsung dari salah satu kondisi medis yang tertulis di bawah ini

Defisit tidak terjadi semata selama perjalanan delirium

d. Demensia menetap akibat zat SINOPSIS PSIKIATRI Perkembangan defisit kognitif yang dimanifestasikan oleh baik : 1) Gangguan daya ingat ( gangguan kemampuan dalam mempelajari informasi baru dan untuk mengingat informasi yang telah dipelajari sebelumnya ) 2) Satu ( atau lebih ) gangguan kognitif berikut : a) Afasia ( gangguan bahasa ) b) Apraksia ( gangguan kemampuan untuk aktivitas motorik walaupun fungsi motorik adalah utuh ) c) Agnosia ( kegagalan untuk mengenali atau mengidentifikasi benda walaupun fungsi sensorik adalah utuh ) d) Gangguan dalam fungsi eksekutif ( yaitu merencanakan, mengorganisasi, mengurutkan dan abstrak ) Defisit kognitif dalam kriteria A1 dan A2 masing menyebabkan gangguan yang bermakna dalam fungsi sosial atau pekerjaan dan menunjukkan suatu penurunan bermakna dari tingkat fungsi sebelumnya Defisit tidak terjadi semata hanya selama perjalanan suatu delirium dan menetap melebihi lama yang lazim dari intoksikasi atau putus zat Terdapat bukti dari riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium bahwa defisit secara etiologis berhubungan dengan efek menetap dari pemakaian zat ( misalnya, suatu obat yang disalahgunakan, medikasi )

e. Demensia karena penyebab multipel SINOPSIS PSIKIATRI Perkembangan defisit kognitif yang dimanifestasikan oleh baik : 3) Gangguan daya ingat ( gangguan kemampuan dalam mempelajari informasi baru dan untuk mengingat informasi yang telah dipelajari sebelumnya ) 4) Satu ( atau lebih ) gangguan kognitif berikut : e) Afasia ( gangguan bahasa ) f) Apraksia ( gangguan kemampuan untuk aktivitas motorik walaupun fungsi motorik adalah utuh ) g) Agnosia ( kegagalan untuk mengenali atau mengidentifikasi benda walaupun fungsi sensorik adalah utuh ) h) Gangguan dalam fungsi eksekutif ( yaitu merencanakan, mengorganisasi, mengurutkan dan abstrak ) Defisit kognitif dalam kriteria A1 dan A2 masing menyebabkan gangguan yang bermakna dalam fungsi sosial atau pekerjaan dan menunjukkan suatu penurunan bermakna dari tingkat fungsi sebelumnya Terdapat bukti dari riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium bahwa gangguan memiliki lebih dari satu penyebab ( misalnya, trauma kepala ditambah penggunaan alkohol kronis, demensia tipe Alzheimer dengan perkembagan demensia vaskular selanjutnya ) Defisit tidak terjadi semata selama perjalanan delirium

f. Demensia yang tidak ditentukan SINOPSIS PSIKIATRI Kategori ini digunakan untuk mendiagnosis demensia yang tidak memenuhi kriteria tipe spesifik yang dijelaskan dalam bagian ini. Contohnya adalah gambaran klinis demensia yang tidak terdapat bukti cukup untuk menegakkan etiologi spesifik

Patologi
Pada dementia yang reversibel, daya kognitif global dan fungsi luhur lainnya terganggu oleh karena metabolisme oleh karena neuron-neuron kedua belah hemisferium tertekan atau dilumpuhkan oleh berbagai sebab. Apabila sebab ini dapat dihilangkan, maka metabolisme kortikal akan berjalan sempurna kembali. Dengan demikian fungsi luhur dalam keseluruhannya akan pulih kembali. Apabila sebab ini sudah menimbulkan kerusakan infrastruktur neuron-neuron kortikal, tentu fungsi kortikal tidak akan pulih kembali, dan dementia akan menetap. Kerusakan yang merata pada neuron-neuron kortikal kedua belah hemisferium, yang mencakup daerah persepsi primer, korteks motorik, dan semua daerah asosiatif menimbulkan dementia. Sebab-sebab yang disebutkan diatas sebagai penyebab "subacute amnestic-confusional syndrome" merupakan penyebab juga bagi dementia reversibel dan tak reversibel. Karena daerah motorik, piramidal dan ekstrapiramidal ikut terlibat secara difus, maka hemiparesis atau monoparesis dan diplegia juga dapat melengkapkan sindrom dementia. Apabila manifestasi gangguan korteks piramidal dan ekstrapiramidal tidak nyata, tanda-tanda lesi organik masih dapat ditimbulkan. Pada umumnya, tanda-tanda tersebut mencerminkan gangguan

pada korteks premotorik atau prefrontal. Tanda tersebut diungkapkan dengan jalan membangkitkan refleks-refleks.

Manifestasi Klinis
Gambaran utama dementia adalah munculnya deficit kognitif multipleks, termasuk gangguan memori, setidak-tidaknya satu diantara gangguan kognitif berikut ini, yaitu afasia, apraksia, agnosia, atau gangguan dalam hal fungsi eksekutif. Definisi kognitif harus sedemikian rupa, sehingga mengganggu fungsi sosial atau okupasional serta harus menggambarkan menurunnya fungsi luhur sebelumnya. Penderita dementia memiliki beberapa gambaran klinis. Rincian gambaran klinis dementia adalah sebagai berikut: 1. Gangguan Memori Dalam bentuk ketidakmampuan untuk belajar tentang hal-hal baru, atau lupa akan hal-hal yang baru saja dikenal, dikerjakan, atau dipelajari. Pada dementia tingkat lanjut, gangguan memori menjdai sedemikian berat sehingga penderita lupa akan identitasnya sendiri 2. Afasia Dalam bentuk kesulitan menyebutkan nama orang atau benda. Berbicara samarsamar atau terkesan hampa, dengan ungkapan kata-kata yang panjang, dan menggunakan istilah-istilah yang tidak menentu. Bahasa lisan dan tulisan pun terganggu, pada dementia tahap lanjut, penderita dapat menjadi bisu atau mengalami gangguan pola bicara yang dicirikan oleh ekolalia (menirukan apa yang dia dengar) 3. Apraksia

Ketidakmampuan untuk melakukan gerakan meskipun gerakan motorik, fungsi sensorik, dan pengertian yang diperlukan tetap baik. Penderita dapat mengalami kesulitan dalam menggunakan benda tertentu atau melakukan gerakan yang telah dikenali 4. Agnosia Ketidakmampuan untuk mengenali atau mengidentifikasi benda meskipun fungsi sensoriknya utuh. Meskipun sensasi taktilnya utuh, penderita tidak mampu mengenali benda yang diletakkan diatas tangannya atau yang disentuhnya 5. Gangguan Fungsi Eksekutif Gejala yang sering dijumpai pada dementia. Gangguan ini mempunyai kaitan dengan gangguan di lobus frontalis atau jaras-jaras subkortikal yang berhubungan dengan lobus frontalis. Fungsi eksekutif melibatkan kemampuan berpikir abstrak, merencanakan, mengambil inisiatif, membuat urutan, memantau, dan menghentikan kegiatan yang kompleks. Diagnosis Untuk keperluan diagnosis, dalam DSM-IV telah tersedia kriteria diagnosis sebagai pedoman. Satu hal yang penting yang perlu diperhatikan adalah bahwa diagnosis dementia tidak boleh ditegakkan apabila defisit kognitif muncul secara eksklusif pada saat terjadi delirium. Untuk itu, diperlukan kehati-hatian dalam melakukan pemeriksaan. Penentuan faktor etiologi merupakan hal yang sangat esensial oleh karena mempunyai nilai prognostik

9. Penatalaksanaankasusdiskenario? Penatalaksanaan Delirium:

Prinsip terapi pada pasien dengan delirium yaitu mengobati gejala-gejala klinis yang timbul (medikasi) dan melakukan intervensi personal danlingkungan terhadap pasien agar timbul fungsi kognitif yang optimal.Medikasi yang dapat diberikan antara lain : 11. Neuroleptik (haloperidol,risperidone,olanzapine) Haloperidol (haldol) Suatu antipsikosis dengan potensi tinggi. Salah satu antipsikosis efektif untuk delirium. Risperidone (risperdal) Antipsikotik golongan terbaru dengan efek ekstrapiramidal lebih sedikitdibandingkan dengan haldol. Mengikat reseptor dopamine D2 dengan afinitas 20 kali lebih rendah daripada 5-ht2-reseptor. 2. Short acting sedative (lorazepam) Digunakan untuk delirium yang diakibatkan oleh gejala putus obat atau alcohol. Tidak digunakan benzodiazepine karena dapat mendepresi nafas, terutama pada pasien dengan usia tua, pasien dengan masalah paru. 3. Vitamin, thiamine (thiamilate) dancyanocobalamine (nascobal, cyomin, crystamine) Bahwadefisiensi vitamin B6 dan vitamin B12 dapat menyebabkan delirium maka untuk mencegahnya diberikan preparat vitamin B per oral. 4. Terapi Cairan dan Nutrisi Intervensi personal dan lingkungan terhadap pasien delirium jugasangat berguna untuk membina hubungan yang erat terhadap pasien dengan lingkungan sekitar untuk dapat berinteraksi serta dapat mempermudah pasien untuk melakukan ADL (activity of daily living) sendirinya tanpa tergantung orang lain.

Penatalaksanaan Demensia: Bantuan yang baik mereka yang membantu pasien berjuang dengan perasaan bersalah, berduka, marah, dan kelelahan sebagaimana mereka menyaksian anggota keluarga mereka sendiri menderita. Pasien yang mendapat dukungan dan psikoterapi edukasional dimana penyakitnya secara terang dijelaskan. Mereka juga mendapat keuntungan dari dukungan

yang diberikan oleh keluarganya dalam menghadapi penyakit yang membuat mereka memiliki disfungsi. Diktat PsikiatriGMO dari departemen Psikiatri FK Universitas Sumatera Utara oleh Syallmsir Bs, Psikiater