Anda di halaman 1dari 5

Laporan Praktikum KI2221 Pemisahan dan Elektrometri Percobaan 1 Kromatografi Penukar Ion

Nama NIM Kelompok Tanggal Percobaan Tanggal Pengumpulan Asisten, NIM

: Airlangga Diandra Putra : 10512038 : 4 : 08 April 2014 : 15 April 2014 : Lisna, 20512082

LABORATORIUM KIMIA ANALITIK PROGRAM STUDI KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2014

Modul 1 Kromatografi Penukar Ion

I.

Tujuan Percobaan Menghitung jumlah kalium yang dipertukarkan oleh resin.

II.

Teori Dasar Resin penukar ion merupakan suatu jaringan polimer yang mempunyai gugus fungsi ionik. Jika gugus fungsi ionik ini berupa gugus sulfonat, maka resin bersangkutan dapat bertindak sebagai resin penukar kation, sedangkan jika gugus fungsinya berupa amonium kuarterner maka akan bersifat sebagai penukar anion. Polimer yang banyak digunakan untuk keperluan ini adalah polystirene yang diikatsilangkan dengan divinilbenzen. Gugus fungsi ionik diikatkan secara kovalen pada jaringan polimer dan terasosiasi dengan suatu ion berlawanan muatan atau kontra ion. Kontra ion ini menetralkan muatan dari gugus fungsi resin tetapi dapat dipertukarkan dengan ion lain dari larutan yang terdapat pada lingkungan resin. Jika suatu kolom kromatografi diisi dengan resin penukar ion bergugus fungsi sulfonat, maka kontra ion H+ dapat dipertukarkan dengan kation lain (A+) yang terdapat dalam larutan. Efektif tidaknya pertukaran ini akan bergantung pada kesetimbangan pertukaran yang terjadi. Larutan elektrolit AX jika dialirkan ke kolom akan membentuk pita pertukaran, pada bagian awal dari kolom hanya terdapat A+ sedangkan pada bagian lainnya hanya akan ada H+

III.

Alat dan Bahan a. Bahan 1. Resin penukar kation 2. Larutan KCl 3. Larutan HCL 4. Larutan baku NaOH 5. Indikator fenolftalein b. Alat 1. Gelas kimia 2. Gelas ukur 3. Pipet tetes 4. Kolom resin 5. Labu erlenmeyer 6. Buret

IV.

Cara Kerja Dicuci kolom resin kromatografi penukar ion dengan 50 mL aqua DM, lalu dituangkan perlahan 25 mL larutan KCL 0.1 M ke dalam kolom. Dilakukan elusi dengan aqua DM dan ditampung eluat ke labu erlenmeyer. Dititrasi eluat dengan larutan baku NaOH.

V.

Data Pengamatan [NaOH] [KCl] Vtitrasi = 0.1025 M = 0.1 M = 18.5 mL

VI.

Pengolahan Data Teoritis mol K+


+

= 25 mL x 0.1 mol/L = 2.5 mmol = 2.5 mmol x 6.023x1023 partikel/mol = 1.5058x1021 partikel

Jumlah partikel K

Hasil percobaan mol K+ mol K+ mol K+ Jumlah partikel K+ = mol H+ = mol NaOH = [NaOH] x Vtitrasi = 0.1025 mol/L x 18.5 mL = 1.8963 mmol = 1.8963 mmol x 6.023x1023 partikel/mol = 1.1421x1021 partikel

Galat

= | = | = 24.15%

| x 100%

| x 100%

VII.

Pembahasan Dalam percobaan ini, dilakukan proses pemisahan dengan metoda kromatografi penukar ion. Kromatografi penukar ion adalah proses pemurnian ion atau senyawa ion spesifik di dalam suatu larutan campuran dengan ion lawannya (kontra-ion) pada fasa diamnya. Fasa diam di kromatografi penukar ion memiliki wujud resin yang permukaannya memiliki muatan, dapat bermuatan positif ataupun negatif, pemisahan disini terjadi karena adanya gaya tarik elektrostatik antar lawan muatan. Kromatografi penukar ion dapat dibedakan menjadi dua berdasarkan muatan molekul yang ingin disubstitusikan, yaitu kromatografi penukar kation dan kromatografi penukar anion. Pada kromatografi penukar kation digunakan fasa diam bermuatan negatif, contohnya adalah sulfonat, sedangkan pada kromatografi penukar anion, digunakan fasa diam bermuatan positif dengan amonium kuarterner sebagai contohnya. Dalam percobaan ini, digunakan resin penukar ion berupa sulfonat, karena molekul yang diinginkan adalah kation K+. Sebelum dilakukan percobaan, dilakukan regenerasi terhadap resin terlebih dahulu, regenerasi ini dilakukan dengan menambahkan HCl pekat ke dalam kolom. Regenerasi dilakukan untuk mendorong dan menggantikan ion-ion yang ada pada resin, dengan regenerasi ini, gugus fungsional dari resin penukar ion akan kembali aktif. Dengan penambahan HCl pekat, kation-kation yang tidak diinginkan pada resin juga akan dibersihkan karena tersubstitusi oleh H+ dari HCl. Digunakan HCl pekat dalam melakukan regenerasi diharapkan agar jumlah H+ yang ada pada resin berlebih sehingga dapat secara menyeluruh mensubstitusi kation-kation lain yang mungkin ada pada resin. Ukuran kation-kation lain yang lebih besar dibandingkan H+ juga mendukung mengapa diperlukan H+ dalam kondisi pekat (diperlukan H+ yang lebih banyak untuk mendorong kation lain yang mungkin ada pada resin). Pada saat dilakukan proses pemisahan kromatografi penukar ion, dilakukan pengelusian dengan menambah aqua DM ke dalam kolom, tidak dapat digunakan air biasa. Aqua DM digunakan karena pada aqua DM (demineralized), sudah tidak ada mineral-mineral dan ion-ion di dalamnya, jika digunakan air biasa, ada kemungkinan kandungan mineral kation dalam air akan tersubstitusi pada resin sehingga menyebabkan kesalahan positif, yaitu lebih banyaknya kation yang mensubstitusi H+ pada resin sehingga lebih banyak H+ yang diperoleh pada eluat.

Dalam percobaan ini, diperoleh jumlah partikel K+ yang lebih sedikit dibandingkan jumlah seharusnya (teoritis) dengan galat sebesar 24.15%. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh adanya kation lain pada resin walaupun sudah dilakukan regenerasi (regenerasi tidak berlangsung sempurna), sehingga jumlah H+ yang tersubstitusi oleh K+ lebih sedikit dari seharusnya dan menyebabkan volume titrasi yang lebih kecil dari seharusnya. Kesalahan yang mempengaruhi galat juga antara lain kesalahan dalam membaca titik akhir titrasi, proses elusi KCl oleh aqua DM yang tidak sempurna (masih ada KCl pada bagian atas kolom) sedangkan penetesan eluat dari kolom sudah dihentikan. Kesalahan acak tak terhindarkan juga mempengaruhi besarnya galat (proses penuangan yang tidak sempurna sehingga ada zat bersisa dan kesalahan tanda baca garis batas bawah meniskus dari skala pada alat). Aplikasi dari pemisahan dengan menggunakan metoda kromatografi penukar ion diantaranya pembuatan aqua DM, penghilangan kesadahan, desalinasi air laut, dan pemurnian logam-logam (termasuk emas).

VIII.

Kesimpulan Konsentrasi ion kalsium yang diperoleh dengan menggunakan metoda kalibrasi bernilai sebesar 5.8079 x 10-6 mol/L, dan dengan menggunakan metoda penambahan standar bernilai sebesar 4.4589 x 10-5 mol/L.

IX.

Daftar Pustaka Harvey, D. 2000. Modern Analytical Chemistry. New York: McGraw-Hill Companies. Hlm. 482-486 www.sciencelab.com/msdsList.php, diakses 05/04/2014 13:12 WIB www.chem-is-try.org/materi_kimia, diakses 05/04/2014 13:21 WIB www.scimedia.com/chem-ed/sep/lc/ion-chro.htm, diakses 08/04/2014 06:08 WIB

Anda mungkin juga menyukai