Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 LATAR BELAKANG Luka bakar dapat mengakibatkan masalah yang kompleks yang dapat meluas melebihi kerusakan fisik yang terlihat pada jaringan yang terluka secara langsung. Masalah kompleks ini mempengaruhi semua sistem tubuh dan beberapa keadaan yang mengancam kehidupan. Dua puluh tahun lalu, seorang dengan luka bakar 50% dari luas permukaan tubuh dan mengalami komplikasi dari luka dan pengobatan dapat terjadi gangguan fungsional, hal ini mempunyai harapan hidup kurang dari 50%. Sekarang, seorang de asa dengan luas luka bakar !5% mempunyai harapan hidup 50%, dan bukan merupakan hal yang luar biasa untuk memulangkan pasien dengan luka bakar "5% yang diselamatkan. #engurangan aktu penyembuhan, antisipasi dan penanganan secara dini untuk mencegah komplikasi, pemeliharaan fungsi tubuh dalam pera atan luka dan tehnik rehabilitasi yang lebih efektif semuanya dapat meningkatkan rata$rata harapan hidup pada sejumlah klien dengan luka bakar serius. %eberapa karakteristik luka bakar yang terjadi membutuhkan tindakan khusus yang berbeda. &arakteristik ini meliputi luasnya, penyebab 'etiologi( dan anatomi luka bakar. Luka bakar yang melibatkan permukaan tubuh yang besar atau yang meluas ke jaringan yang lebih dalam, memerlukan tindakan yang lebih intensif daripada luka bakar yang lebih kecil dan superfisial. I.2 RUMUSAN MASALAH %agaimana definisi, etiologi, patogenesis, diagnosis dan penatalaksanaan luka bakar ) I.3 TUJUAN Mengetahui definisi, etiologi, patogenesis, diagnosis dan penatalaksanaan luka bakar

I.4

MANFAAT *.+., *.+.Menambah a asan mengenai penyakit bedah khususnya luka bakar Sebagai proses pembelajaran bagi dokter muda yang sedang mengikuti kepaniteraan klinik bagian ilmu penyakit bedah.

BAB II STATUS PASIEN A. IDENTITAS PASIEN .ama 2mur 4enis kelamin #ekerjaan #endidikan Status perka inan Suku 5gama 5lamat 0anggal M7S 7egister B. ANAMNESA 1. Keluhan uta a Luka bakar terkena ledakan kompor pada tangan kanan, paha kanan$kiri sampai kaki. 2. R!"a#at $en#a%!t &e%a'an( 0anggal -5 april -0,, pukul ,8.80, pasien mengalami ledakan kompor minyak tanah saat akan membuat kopi, dirumah sendirian karena pada memakai kaos oblong dan celana pendek. Ledakan mengenai aktu itu keluarga ajah bagian kanan, pasien sedang menghadiri acara pernikahan kerabat di desa sebelah. Saat itu pasien punggung tangan kanan, dan paha kanan$kiri sampai kaki, selain itu bulu alis dan rambut hidung terbakar. #asien merasakan nyeri serta panas yang hebat pada sekujur area yang terbakar, oleh tetangga segera diba a ke rumah sakit untuk mendapat penanganan lebih lanjut. Ditemukan suara serak namun pasien tidak ada keluhan sulit menelan. #asien mengeluh kehausan. ajah bagian kanan, punggung / 0n. 1 / 53 tahun / Laki$Laki / #etani / SD / menikah / 4a a / *slam / 6ondang Legi / -5 april -0,, / -5,85+

3. R!"a#at $en#a%!t )ahulu Diabetes mellitus 5lergi / disangkal / disangkal

4. R!"a#at $en#a%!t %elua'(a Diabetes mellitus / disangkal

*. PEMERIKSAAN FISIK 1. Kea)aan u u 0ampak kesakitan, kesadaran compos mentis '69S :+;5M3(, status gi<i kesan cukup. 2. +!tal S!(n 0ensi .adi #ernafasan Suhu Kul!t &ulit regio manus dekstra eritema dan tampak bula, regio femur @ cruris $ pedis tampak eritema dan terdapat bula Ke$ala %entuk normocephal, ajah bagian kanan tampak eritema Mata 9onjunctiAa anemis '$=$(, sklera ikterik '$=$(, H!)un( sekret '$(, epistaksis '$(, deformitas hidung '$( Mulut %ibir pucat '$(, bibir kering 'B( / ,80=>0 / ,00?=menit / -8?=menit / 8>09

3. Statu& Gene'al!&

Tel!n(a sekret '$(, pendengaran berkurang '$(, cuping telinga dalam batas normal. Ten((,',%an 0onsil membesar '$(, pharing hiperemis '$(. Lehe' #embesaran &6% '$(. Th,'a%& %unyi jantung * C ** terdengar normal, reguler. A-), en #alpasi supel, nyeri tekan epigastrik '$( dan lien tidak teraba 5uskultasi bising usus 'B( normal E%t'e !ta& 5kral dingin '$(, oedema '$( 4. STATUS L.KALIS 7egion fasialis dektra tampak eritema, kulit intak, bula '$(, nyeri 'B( 7egio manus dekstra tampak eritema, kulit intak, nyeri 'B( 7egio femur dekstra et sinistra, tampak eritema, bula 'B(, dasar pucat keputihan, nyeri 'B( 7egio kruris dekstra et sinistra tampak eritema, bula 'B(, dasar pucat keputihan, nyeri 'B( 7egion pedis dekstra et sinistra tampak eritema, bula 'B(, dasar pucat keputihan, nyeri 'B( /. DIAGN.SA Luka bakar derajat ** dengan luas 83%

0. PENATALAKSANAAN Debridement Medikamentosa 0erapi cairan 5ntibiotik analgetik

BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.1 De1!n!&! Luka bakar adalah trauma yang disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa, dan jaringan yang lebih dalam 'DaAid, -003(. 3.2 Et!,l,(! %eberapa penyebab luka bakar menurut Syamsuhidayat '-00!( adalah sebagai berikut/ a. Luka bakar suhu tinggi (thermal burn) 6as 9airan %ahan padat 'solid(

b. Luka bakar bahan kimia (chemical burn) c. Luka bakar sengatan listrik (electrical burn) d. Luka bakar radiasi (radiasi injury) 3.3 Fa&e Lu%a Ba%a'
2ntuk mempermudah penanganan luka bakar maka dalam perjalanan penyakitnya dibedakan dalam 8 fase akut, subakut dan fase lanjut. .amun demikian pembagian fase menjadi tiga tersebut tidaklah berarti terdapat garis pembatas yang tegas diantara ketiga fase ini. Dengan demikian kerangka berpikir dalam penanganan penderita tidak dibatasi oleh kotak fase dan tetap harus terintegrasi. Langkah

penatalaksanaan fase sebelumnya akan berimplikasi klinis pada fase selanjutnya 'Sunarso, -00>(.

a. Dase akut Disebut sebagai fase a al atau fase syok. Dalam fase a al penderita akan mengalami ancaman gangguan air ay 'jalan nafas(, breathing 'mekanisme bernafas(, dan circulation 'sirkulasi(. 6angguan air ay tidak hanya dapat terjadi segera atau beberapa saat setelah terbakar, namun masih dapat terjadi obstruksi saluran pernafasan akibat cedera inhalasi dalam +>$!- jam pasca trauma. 9edera inhalasi adalah penyebab kematian utama penderita pada fase akut #ada fase akut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit akibat cedera termal yang berdampak sistemik. b. Dase sub akut %erlangsung setelah fase syok teratasi. Masalah yang terjadi adalah kerusakan atau kehilangan jaringan akibat kontak dengan sumber panas. Luka yang terjadi menyebabkan / #roses inflamasi dan infeksi #roblem penutupan luka dengan titik perhatian pada luka yang tidak berepitel luas atau pada struktur atau organ fungsional &eadaan hipermetabolisme Dase lanjut akan berlangsung hingga terjadinya maturasi parut akibat luka dan pemuluhan fungsional. #roblem yang muncul pada fase ini adalah penyakit berupa sikatrik yang hipertrofik, keloid, gangguan pigmentasi, deformitas dan kontraktur. 3.4 De'a2at Ke)ala an &edalaman kerusakan jaringan akibat luka bakar tergantung pada derajat panas, sumber, penyebab dan lamanya kontak dengan tubuh penderita. Dahulu

c. Dase lanjut

Dupuytren membagi atas 3 tingkat, sekarang lebih praktis hanya dibagi 8 tingkat=derajat, yait sebagai berikut/ a. Luka bakar derajat * / &erusakan terbatas pada lapisan epidermis 'surperfisial(, kulit hiperemik berupa eritem, tidak dijumpai bullae, terasa nyeri karena ujung$ujung saraf sensorik teriritasi. #enyembuhan terjadi secara spontan tanpa pengobatan khusus.

b. Luka bakar derajat ** &erusakan meliputi epidermis dan sebagian dermis, berupa reaksi inflamasi disertai proses eksudasi. 0erdapat bullae, nyeri karena ujung$ujung saraf sensorik teriritasi, dibedakan atas - 'dua( bagian / Derajat ** dangkal=superficial '**5( &erusakan mengenai bagian epidermis dan lapisan atas dari corium=dermis. Ergan @ organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar sebecea masih banyak. Semua ini merupakan benih$benih epitel. #enyembuhan terjadi secara spontan dalam aktu ,0$,+ hari tanpa terbentuk sikatrik. Derajat ** dalam = deep '**%( &erusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis dan sisa @ sisa jaringan

epitel tinggal sedikit. Ergan @ organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebacea tinggal sedikit. #enyembuhan terjadi lebih lama dan disertai parut hipertrofi. %iasanya penyembuhan terjadi dalam dari satu bulan. aktu lebih

c. Luka bakar derajat *** &erusakan meliputi seluruh tebal kulit dan lapisan yang lebih dalam sampai mencapai jaringan subkutan, otot dan tulang. Ergan kulit mengalami kerusakan, tidak ada lagi sisa elemen epitel. 0idak dijumpai bullae, kulit yang terbakar ber arna abu$abu dan lebih pucat sampai ber arna hitam kering. 0erjadi koagulasi protein pada epidermis dan dermis yang dikenal sebagai esker. 0idak dijumpai rasa nyeri dan hilang sensasi karena ujung @ ujung sensorik rusak. #enyembuhan terjadi lama karena tidak terjadi epitelisasi spontan.

3./ Lua& Lu%a Ba%a' 1allace membagi tubuh atas " % atau kelipatan " yang terkenal dengan nama rule of nine atau rule of 1allace/ a. &epala dan leher b. Lengan masing$masing "% c. %adan depan ,>% e. 6enetalia perineum 0otal / "% / ,>% / 83% / ,% / ,00 %

d. 0ungkai masing$masing ,>% / 83%

Dalam perhitungan agar lebih mempermudah dapat dipakai luas telapak tangan penderita adalah , % dari luas permukaan tubuhnya. #ada anak @anak dipakai modifikasi 7ule of .ine menurut Lund and %ro er, yaitu ditekankan pada umur ,5 tahun, 5 tahun dan , tahun.

2ntuk mengkaji beratnya luka bakar harus dipertimbangkan beberapa faktor antara lain/ a. #ersentasi area 'luasnya( luka bakar pada permukaan tubuh b. &edalaman luka bakar

c. 5natomi=lokasi luka bakar d. 2mur penderita e. 7i ayat pengobatan yang lalu f. 0rauma yang menyertai atau bersamaan 3./ K'!te'!a Be'at R!n(an lu%a -a%a' &riteria berat ringannya luka bakar menurut American Burn Association yakni / a. Luka %akar 7ingan. $ Luka bakar derajat ** F,5 % $ Luka bakar derajat ** F ,0 % pada anak @ anak $ Luka bakar derajat *** F - % b. Luka bakar sedang $ Luka bakar derajat ** ,5$-5 % pada orang de asa $ Luka bakar derajat ** ,0 @ -0% pada anak @ anak $ Luka bakar derajat *** F ,0 % c. Luka bakar berat $ Luka bakar derajat ** -5 % atau lebih pada orang de asa $ Luka bakar derajat ** -0 % atau lebih pada anak @ anak. $ Luka bakar derajat *** ,0 % atau lebih $ Luka bakar mengenai tangan, ajah, telinga, mata, kaki dan genitalia=perineum. $ Luka bakar dengan cedera inhalasi, listrik, disertai trauma lain. PENATALAKSANAAN Secara sistematik dapat dilakukan 3c / clothing, cooling, cleaning, chemoprophyla?is, coAering and comforting 'contoh pengurang nyeri(. 2ntuk pertolongan pertama dapat dilakukan langkah clothing dan cooling, baru selanjutnya dilakukan pada fasilitas kesehatan ,. 9lothing / singkirkan semua pakaian yang panas atau terbakar. %ahan pakaian yang menempel dan tak dapat dilepaskan maka dibiarkan untuk sampai pada fase cleaning.

-. 9ooling / Dinginkan daerah yang terkena luka bakar dengan menggunakan air mengalir selama -0 menit, hindari hipotermia 'penurunan suhu di ba ah normal, terutama pada anak dan orang tua(. 9ara ini efektif sampai dengan 8 jam setelah kejadian luka bakar @ &ompres dengan air dingin 'air sering diganti agar efektif tetap memberikan rasa dingin( sebagai analgesia 'penghilang rasa nyeri( untuk luka yang terlokalisasi @ 4angan pergunakan es karena es menyebabkan pembuluh darah mengkerut 'Aasokonstriksi( sehingga justru akan memperberat derajat luka dan risiko hipotermia @ 2ntuk luka bakar karena <at kimia dan luka bakar di daerah mata, siram dengan air mengalir yang banyak selama ,5 menit atau lebih. %ila penyebab luka bakar berupa bubuk, maka singkirkan terlebih dahulu dari kulit baru disiram air yang mengalir. 8. 9leaning / pembersihan dilakukan dengan <at anastesi untuk mengurangi rasa sakit. Dengan membuang jaringan yang sudah mati, proses penyembuhan akan lebih cepat dan risiko infeksi berkurang. +. 9hemoprophyla?is / pemberian anti tetanus, dapat diberikan pada luka yang lebih dalam dari superficial partial$ thickness 'dapat dilihat pada tabel + jad al pemberian antitetanus(. #emberian krim silAer sulAadia<in untuk penanganan infeksi, dapat diberikan kecuali pada luka bakar superfisial. 0idak boleh diberikan pada ajah, ri ayat alergi sulfa, perempuan hamil, bayi baru lahir, ibu menyususi dengan bayi kurang dari - bulan 5. 9oAering / penutupan luka bakar dengan kassa. Dilakukan sesuai dengan derajat luka bakar. Luka bakar superfisial tidak perlu ditutup dengan kasa atau bahan lainnya. #embalutan luka 'yang dilakukan setelah pendinginan( bertujuan untuk mengurangi pengeluaran panas yang terjadi akibat hilangnya lapisan kulit akibat luka bakar. 4angan berikan mentega, minyak, oli atau larutan lainnya, menghambat penyembuhan dan meningkatkan risiko infeksi. 3. 9omforting / dapat dilakukan pemberian pengurang rasa nyeri, berupa / #aracetamol dan codein '#E$per oral($ -0$80mg=kg Morphine '*;$intra Aena( 0,,mg=kg diberikan dengan dosis titrasi bolus Morphine '*.M$intramuskular( 0,-mg=kg

PENANGANAN PERNAPASAN 0rauma inhalasi merupakan faktor yang secara nyata memiliki kolerasi dengan angka kematian. &ematian akibat trauma inhalasi terjasi dalam bilamana luka bakar mengenai daerah muka = aktu singkat > sampai -+ jam pertama pasca operasi. #ada kebakaran dalam ruangan tertutup atau ajah dapat menimbulkan kerusakan mukosa jalan napas akibat gas, asap atau uap panas yang terhisap. :dema yang terjadi dapat menyebabkan gangguan berupa hambatan jalan napas karena edema laring. 0rauma panas langsung adalah terhirup sesuatu yang sangat panas, produk produk yang tidak sempurna dari bahan yang terbakar seperti bahan jelaga dan bahan khusus yang menyebabkan kerusakan dari mukosa lansung pada percabangan trakheobronkhial. &eracunan asap yang disebabkan oleh termodegradasi material alamiah dan materi yang diproduksi. 0ermodegradasi menyebabkan terbentuknya gas toksik seperti hydrogen sianida, nitrogen oksida, hydrogen klorida, akreolin dan partikel @ partikel tersuspensi. :fek akut dari bahan kimia ini menimbulkan iritasi dan bronkokonstriksi pada saluran napas. Ebstruksi jalan napas akan menjadi lebih hebat akibat adanya tracheal bronchitis dan edem. :fek intoksikasi karbon monoksida '9E( mengakibatkan terjadinya hipoksia jaringan. &arbon monoksida '9E( memiliki afinitas yang cukup kuat terhadap pengikatan hemoglobin dengan kemampuan -,0 @ -+0 kali lebih kuat disbanding kemampuan E-. 4adi 9E akan memisahkan E- dari Gb sehingga mengakibatkan hipoksia jaringan. &ecurigaan adanya trauma inhalasi bila pada penderita luka bakar mengalami hal sebagai berikut. a. 7i ayat terjebak dalam ruangan tertutup. b. Sputum tercampur arang. c. Luka bakar perioral, termasuk hidung, bibir, mulut atau tenggorokan. d. #enurunan kesadaran termasuk confusion. e. 0erdapat tanda distress napas, seperti rasa tercekik. 0ersedak, malas bernafas atau adanya wheezing atau rasa tidak nyaman pada mata atau tenggorokan, menandakan adanya iritasi mukosa.

f. 5danya takipnea atau kelainan pada auskultasi seperti krepitasi atau ronhi. g. 5danya sesak napas atau hilangnya suara. %ilamana ada 8 tanda = gejala diatas sudah cukup dicurigai adanya trauma inhalasi. #enanganan penderita trauma inhalasi bila terjadi distress pernapasan maka harus dilakukan trakheostomi. #enderita dira at diruang resusitasi instalasi ga at darurat sampai kondisi stabil. PENANGANAN SIRKULASI #ada luka bakar berat = mayor terjadi perubahan permeabilitas kapiler yang akan diikuti dengan ekstrapasi cairan 'plasma protein dan elektrolit( dari intraAaskuler ke jaringan interfisial mengakibatkan terjadinya hipoAolemik intra Aaskuler dan edema interstisial. &eseimbangan tekanan hidrostatik dan onkotik terganggu sehingga sirkulasi kebagian distal terhambat, menyebabkan gangguan perfusi=sel=jaringan=organ. #ada luka bakar yang berat dengan perubahan permeabilitas kapiler yang hamper menyeluruh, terjadi penimbunan cairan massif di jaringan interstisial menyebabkan kondisi hipoAolemik. ;olume cairan intraAaskuler mengalami deficit, timbul ketidakmampuan menyelenggaraan proses transportasi oksigen ke jaringan. &eadaan ini dikenal dengan sebutan syok. Syok yang timbul harus diatasi dalam aktu singkat, untuk mencegah kerusakan sel dan organ bertambah parah, sebab syok secara nyata bermakna memiliki korelasi dengan angka kematian. %eberapa penelitian membuktikan bah a penatalaksanaan syok dengan metode resusutasi cairan konAensional 'menggunakan regimen cairan yang ada( dengan penatalaksanaan syok dalam aktu singkat, menunjukkna perbaikkan prognosis, derajat kerusakan jaringan diperkecil 'pemantauan kadar asam laktat(, hipotermi dipersingkat dan koagulatif diperkecil kemungkinannya, ketiganya diketahui memiliki nilai prognostic terhadap angka mortalitas. RESUSTASI *AIRAN BA3TER 1,' ula Ha'! Pe'ta a 4

De asa / 7inger Laktat + cc ? berat badan ? % luas luka bakar per -+ jam 5nak / 7inger Laktat/ De?tran H ,! / 8 - cc ? berat badan ? % luas luka ditambah kebutuhan faali. &ebutuhan faali / F , 0ahun / berat badan ? ,00 cc , @ 8 0ahun / berat badan ? !5 cc 8 @ 5 0ahun / berat badan ? 50 cc I jumlah cairan diberikan dalam > jam pertama. I diberikan ,3 jam berikutnya. Gari kedua De asa / I hari * 5nak / diberi sesuai kebutuhan faali Menu'ut E5an& 6 *a!'an #an( )!-utuh%an / ,. 7L = .a9l H luas combustio JJ% K %%= &g K , cc -. #lasma H luas combustio JJ% K %% = &g K , cc 8. #engganti yang hilang karena penguapan D5 -000 cc Gari * > jam K I ,3 jam K I Gari ** I hari * Gari ke *** hari ke ** PENGGANTIAN DARAH Luka bakar pada kulit menyebabkan terjadinya kehilangan sejumlah sel darah merah sesuai dengan ukuran dan kedalaman luka bakar. Sebagai tambahan terhadap suatu kehancuran yang segera pada sel darah merah yang bersirkulasi melalui kapiler yang terluka, terdapat kehancuran sebagian sel yang mengurangi aktu paruh dari sel darah merah yang tersisa. &arena plasma predominan hilang pada +> jam pertama setelah terjadinya luka bakar, tetapi relatiAe polisitemia terjadi pertama kali. Eleh sebab itu, pemberian sel darah merah dalam +> jam pertama tidak dianjurkan, kecuali

terdapat kehilangan darah yang banyak dari tempat luka. Setelah proses eksisi luka bakar dimulai, pemberian darah biasanya diperlukan ! PERA7ATAN LUKA BAKAR Setelah keadaan umum membaik dan telah dilakukan resusitasi cairan dilakukan pera atan luka. #era atan tergantung pada karakteristik dan ukuran dari luka. 0ujuan dari semua pera atan luka bakar agar luka segera sembuh rasa sakit yang minimal. Setelah luka dibersihkan dan di debridement, luka ditutup. #enutupan luka ini memiliki beberapa fungsi/ pertama dengan penutupan luka akan melindungi luka dari kerusakan epitel dan meminimalkan timbulnya koloni bakteri atau jamur. &edua, luka harus benar$benar tertutup untuk mencegah eAaporasi pasien tidak hipotermi. &etiga, penutupan luka diusahakan semaksimal mungkin agar pasien merasa nyaman dan meminimalkan timbulnya rasa sakit #ilihan penutupan luka sesuai dengan derajat luka bakar. Luka bakar derajat *, merupakan luka ringan dengan sedikit hilangnya barier pertahanan kulit. Luka seperti ini tidak perlu di balut, cukup dengan pemberian salep antibiotik untuk mengurangi rasa sakit dan melembabkan kulit. %ila perlu dapat diberi .S5*D '*buprofen, 5cetaminophen( untuk mengatasi rasa sakit dan pembengkakan. Luka bakar derajat ** 'superfisial (, perlu pera atan luka setiap harinya, pertama$tama luka diolesi dengan salep antibiotik, kemudian dibalut dengan perban katun dan dibalut lagi dengan perban elastik. #ilihan lain luka dapat ditutup dengan penutup luka sementara yang terbuat dari bahan alami 'Kenograft 'pig skin( atau 5llograft 'homograft, cadaAer skin( ( atau bahan sintetis 'opsite, biobrane, transcyte, integra(. Luka derajat ** ' dalam ( dan luka derajat ***, perlu dilakukan eksisi a al dan cangkok kulit 'early e?icision and grafting (. NUTRISI #enderita luka bakar membutuhkan kuantitas dan kualitas yang berbeda dari orang normal karena umumnya penderita luka bakar mengalami keadaan

hipermetabolik. &ondisi yang berpengaruh dan dapat memperberat kondisi hipermetabolik yang ada adalah/

2mur, jenis kelamin, status gi<i penderita, luas permukaan tubuh, massa bebas lemak. 7i ayat penyakit sebelumnya seperti DM, penyakit hepar berat, penyakit ginjal dan lain$lain.

Luas dan derajat luka bakar Suhu dan kelembaban ruangan ' memepngaruhi kehilangan panas melalui eAaporasi(

5ktiAitas fisik dan fisioterapi #enggantian balutan 7asa sakit dan kecemasan #enggunaan obat$obat tertentu dan pembedahan. Dalam menentukan kebutuhan kalori basal pasien yang paling ideal adalah

dengan mengukur kebutuhan kalori secara langsung menggunakan indirek kalorimetri karena alat ini telah memperhitungkan beberapa faktor seperti %%, jenis kelamin, luas luka bakar, luas permukan tubuh dan adanya infeksi. 2ntuk menghitung kebutuhan kalori total harus ditambahkan faktor stress sebesar -0$80%. 0api alat ini jarang tersedia di rumah sakit. Lang sering di rekomendasikan adalah perhitungan kebutuhan kalori basal dengan formula G577*S %:.:D*9& yang melibatkan faktor %%, 0% dan 2mur. Sedangkan untuk kebutuhan kalori total perlu dilakukan modifikasi formula dengan menambahkan faktor aktifitas fisik dan faktor stress. #ria / 33,5 B ',8,! K %%( B '5 K 0%( @ '3.> K 2( K 5D K DS

1anita / 35,3 B '",3 K %%( B ',,> K 0%($ '+,! K 2( K 5D K DS #erhitungan kebutuhan kalori pada penderita luka bakar perlu perhatian khusus karena kurangnya asupan kalori akan berakibat penyembuhan luka yang lama dan juga meningkatkan resiko morbiditas dan mortalitas. Disisi lain, kelebihan asupan kalori dapat menyebabkan hiperglikemi, perlemakan hati. #enatalaksanaan nutrisi pada luka bakar dapat dilakukan dengan beberapa metode yaitu / oral, enteral dan parenteral. 2ntuk menentukan sejak + jam pascatrauma sampai dengan +> jam pascatrauma. PERMASALAHAN PAS*A LUKA BAKAR Setelah sembuh dari luka, masalah berikutnya adalah jaringan parut yang dapat berkembang menjadi cacat berat. &ontraktur kulit dapat mengganggu fungsi dan menyebabkan kekakuan sendi atau menimbulkan cacat estetik yang buruk sekali sehingga diperlukan juga ahli ilmu ji a untuk mengembalikan kepercayaan diri. #ermasalahan$permasalahan yang ditakuti pada luka bakar/ *nfeksi dan sepsis Eliguria dan anuria Eedem paru 57DS '5dult 7espiratory Distress Syndrome ( 5nemia &ontraktur &ematian K.MPLIKASI M 6agal ginjal akut M 6agal respirasi akut M Syok sirkulasi M Sindrom kompartemen aktu dimulainya pemberian nutrisi dini pada penderita luka bakar, masih sangat berAariasi, dimulai

M *lius paralitik M 2lkus curling

PR.GN.SIS #rognosis pada luka bakar tergantung dari derajat luka bakar, luas permukaan badan yang terkena luka bakar, adanya komplikasi seperti infeksi, dan kecepatan pengobatan medikamentosa. Luka bakar minor dapat sembuh 5$,0 hari tanpa adanya jaringan parut. Luka bakar moderat dapat sembuh dalam ,0$,+ hari dan mungkin menimbulkan luka parut. Luka bakar mayor membutuhkan lebih dari ,+ hari untuk sembuh dan akan membentuk jaringan parut. 4aringan parut akan membatasi gerakan dan fungsi. Dalam beberapa kasus, pembedahan diperlukan untuk membuang jaringan parut.

KESIMPULAN Mengingat kasus luka bakar merupakan suatu cidera berat yang memerlukan penanganan dan penatalaksanaan yang sangat komplek dengan biaya yang cukup tinggi serta angka morbiditas dan mortalitas karena beberapa faktor penderita, factor pelayanan petugas, factor fasilitas pelayanan dan faktor cideranya. 2ntuk penanganan

luka bakar perlu perlu diketahui fase luka bakar, penyebab luka bakar, derajat kedalaman luka bakar, luas luka bakar. #ada penanganan luka bakar seperti penanganan trauma yang lain ditangani secara teliti dan sistematik. #enatalaksanaan sejak a al harus sebaik @ baiknya karena pertolongan pertama kali sangat menentukan perjalanan penyakit ini.

#rognosis pada luka bakar tergantung dari derajat luka bakar, luas permukaan badan yang terkena luka bakar, adanya komplikasi seperti infeksi dan kecepatan pengobatan medikamentosa.

DAFTAR PUSTAKA DaAid S. #erdanakusuma. #enanganan Luka bakar. 5irlangga 2niAersity #ress. -003 M Sjaifudin .oer. #enanganan Luka %akar. 5irlangga 2niAersity #ress. -003 7 Sjamsuhidajat. 1im De 4ong. %uku 5jar *lmu %edah #enerbit %uku &edokteran. :69. -00!