Anda di halaman 1dari 8

XVIII.

GOLONGAN OBAT DIURETIK


Rizka Amalia Hasanah Zakiya Amilasariy

Intitugas: 1. Beri pengantar/pendahuluan mengenai topik yang anda review. Minimal 1halaman. 2. Isi sub babadalah: 1. Aksi farmakologis obat 2. Data farmakokinetika dan farmakodinamika obat 3. Interaksi yang terjadi dengan obat 4. Tata laksana penanggulangan interaksi 5. Efek samping yang ditimbulkan. 3. Untuk setiap obat jelaskan mekanisme aksi (farmakologis) obat tersebut di dalam tubuh 4. Untuk setiap obat rangkum data pendukung farmakokinetika (waktu paruh, klirens, fraksi terabsorpsi, dsb) 5. Untuk setiap obat jelaskan dan paparkan interaksi yang terjadi dengan obat lain (minimal 10 interaksi). Jelaskan termasuk kelas apakah interaksi obat yang terjadi tersebut. 6. Untuk setiap obat jelaskan tata cara penanganan interaksi tersebut 7. Untuk setiap obat jelaskan efek samping yang terjadi 8. Beri kesimpulan. Minimal 1 paragraf.

PENDAHULUAN

Diuretik adalah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan urine. Diuretik menunjukkan adanya volume urine yang di produksi dan dapat menunjukkan jumlah pengurangan (kehilangan) zat-zat yang terlarut dalam air. Fungsi utama diuretik adalah membobilisasi cairan edema, yaitu mengubah keseimbangan cairan sehingga cairan ekstrasel menjadi normal. Pengaruh diuretik terhadap ekskresi at terlarut penting untuk menentukan tempat kerja diuretik sekaligus meramalkan akibat penggunaan suatu deiretik. Secara umum diuretik dapat dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu: 1) Penghambat mekanisme transport elektrolit di dalam tubuli ginjal yang meliputi benzotiadiazid, diuretik kuat, diuretik hemat kalium, dan dan Inhibitor karbonik anhidrase 2) Diuretic osmotic.

Secara terperinci diuretic dapat dibagi menjadi lima golongan, yaitu: 1. diuretic kuat 2. benzotiadiazid 3. diuretic hemat kalium 4. diuretic osmosis 5. Inhibitor karbonik anhidrase.

Kebanyakkan diuretika bekerja dengan mengurangi reabsorpsi natrium, sehingga pengeluarannya lewat kemih sehingga volume air meningkat. Obat-obat tersebut bekerja khusus pada tubuli, tetapi juga ditempat lain, yaitu: 1. Tubuli proksimal Ultrafiltrat mengandung sejumlah besar garam yang direabsorpsi secara aktif untuk lebih kurang 70%, antara lain ion Na+ dan air, begitu pula glukosa dan ureum. Reabsorpsi berlangsung secara proporsional sehingga susunan filtrat tidak berubah dan tetap isotonis terhadap plasma. Diuretika osmosis (manitol dan sorbitol) bekerja disini dengan merintangi rabsorpsi air dan juga natrium.

2. Lengkung Henle

Semua k.l 25% ion -Cl- yang telah difiltrasi direabsorpsi secara aktif, disusul dengan reabsorpsi pasif dai Na+ dan K+ tanpa air, hingga filtrate menjadi hipotonis. Diuretika lengkungan seperti fulosemida,bumetamida, dan etakrinat bekerja merintangi tranpor -Cl- dan dengan demikian reabsorbsi Na+. Pengeluaran K+ dan air juga diperbanyak.

3. Tubuli distal Di bagian pertama segmen ini, Na+ direabsorpsi secara aktif tanpa air sehingga filtrat menjadi lebih caor dan hipotonis. Senyawa thiasida dan klortalidon bekerja memperbanyak ekskresi sekresi Na+ dan Cl- sebesar 5- 10%. Bagian kedua segmen ini, ion -Na+ ditukarkan dengan ion K+ atau NH4+; proses ini dikendalikan oleh hormon aldiosteron. Antagonis aldosteron (spironolakton) dan zay-zay penghemat kalium (amilorida, triamteren) bertitik kerja disini dengan mengakibatkan sekresi Na+ (kurang dari 5%) dan retensi -K+.

4. Saluran pengumpul Hormon antidiuretik ADH (vasopresin) dari hipofisis bertitik kerja disini dengan jalan mempengaruhi permeabilitas bagi air dari sel-sel saluran ini.

PEMBAHASAN

1.

HIDROCHLORTIAZID

Senyawa sulfamoyl ini (1959) diturunkan dari klorthiazida yang dikembangkan dari sulfanilamida. Bekerja di bagian muka tubuli distal, efek diuretisnya lebih ringan dari diuretika lengkungan tetapi bertahan lebih lama, 6-12 jam. Daya hipotensifnya lebih kuat (pada jangka panjang), maka banyak digunakan sebagai pilihan pertama untuk hipertensi ringan sampai sedang. Sering kali pada kasus yang lebih berat dikombinasikan dengan obat-obat lain untuk memperkuat efeknya khususnya beta blockers. Efek optimal ditetapkan pada dosis 12,5 mg dan dosis diatasnya tidak akan menghasilkan penurunan tensi lagi, (kurva dosis-efek datar). Zat induknya klorthiazida berkhasiat 10 kali lebih lemah, maka kini tidak digunakan lagi.

Farmakodinamik

Farmakokinetik Resorpsinya dari usus sampai 80%, PP-nya k.l 70% dengan plasma-t1/2 6- 15 jam. Ekskresinya terutama lewat memilih secara utuh. Dosis : hipertensi : 12,5 mg pagi p.c, udema: 1-2 dd 25-100 mg, pemeliharaan 25-100 mg 2-3x seminggu. sediaan kombinasi: *lorinid, *moduretic = HCT 50 + amilorida 5 mg, *dytenzide = HCT 25 + triamteren 50 mg.

2.

ACETAZOLAMID

Obat ini, yang diturunkan dari sulfanilamide (1957), di anggap sebagai pelopor thiazida dan merupakan diuretikum pertama yang digunakan secara intermitten. Khasiat diuretisnya berdasarkan perintangan enzim karbonanhidrase yang mengkatalisa reaksiberikut : CO2 + H2O --- H2CO3 --- H+ + HCO3

Karena penghambatan reaksi ini di tubuli proksimal, maka tidak ada cukup ionH+ lagi untuk ditukarkan dengan Na+, K+, bikarbonat dan air. Kini asetazolamida hanya jarang digunakan lagi pada penyakit mata glaucoma untuk menurunkan produksi cairan di dalam mata dan menurunkan tekanan intra-okuler. Berkat efek antikonvulsifnya obat ini dahulu digunakan sebagai obat antilepilepsi. Penggunaan lainnya adalah sebagai obat penyakit ketinggian (hoogtevress, rasa takut di tempat yang amat tinggi) yang bercirikan alkalosis dengan penghambatan pusat nafas ; gejala ini di tanggulangi oleh acidosis yang ditimbulkan asetazolamida.

Farmakodinamik Efek farmakodinamika yang utama dari asetazolamid adalah penghambatan karbonik anhidrase secara nonkompetitif. Akibatnya terjadi perubahan sistemik dan pearubahan terbatas pada organ tempat enzim tersebut berada. Asetazolamid memperbesar ekskresi K+, tetapi efek ini hanya nyata pada permulaan terapi saja, sehingga pengaruhnya terhadap keseimbangan kalium tidak sebesar pengaruh tiazid.

Farmakokinetik Asetazolamid diberikan per oral.Asetozalamid mudah diserap melalui saluran cerna, kadar maksimal dalam darah dicapai dalam 2 jam dan ekskresi melalui ginjal sudah sempurna dalam 24 jam. Obat ini mengalami proses sekresi aktif oleh tubuli dan sebagian direabsorpsi secara pasif. Asetazolamid terikat kuat pada karbonik anhidrase, sehingga terakumulasi dalam sel yang banyak mengandung enzim ini, terutama sel eritrosit dan korteks ginjal. Distribusi penghambat karbonik anhidrase dalam tubuh ditentukan oleh ada tidaknya enzim karbonik anhidrase dalam sel yang bersangkutan dan dapat tidaknya obat itu masuk ke dalam sel. Asetazolamid tidak dimetabolisme dan diekskresi dalam bentuk utuh melalui urin. Resorpsinya baik mulai kerjanya dalam 1-3 jam dan bertahan selama k.l. 10 jam.PP-nya 90% lebih, plasma t1/2-nya 3-6 jam dan diekskresikan lewat kemih secara utuh.

Interaksi obat 1. Acetazolamide dengan Carbamazepine (mek & penanganan) 2. Acetazolamide dengan Teofilin (mek & penanganan)

3. Acetazolamide dengan Efedrin (mek & penanganan) 4. - 10 (. . . . . . . . . .belom dapet :D ) Efek samping Pada dosis tinggi dapat timbul parestesia dan kantuk yang terus-menerus. Asetazolamid mempermudah pembentukan batu ginjal karena berkurangnya sekskresi sitrat, kadar kalsium dalam urin tidak berubah atau meningkat. Reaksi alergi yang jarang terjadi berupa demam, reaksi kulit, depresi sumsum tulang dan lesi renal mirip reaksi sulfonamid.

3.

FUROSEMID

Furosemid atau asam 4-kloro-N-furfuril 5-sulfomoil antranilat masih tergolong derivate sulfonamid. Furosemid masuk kedalam golongan obat diuretik kuat. Obat ini merupakan salah satu obat standard untuk pengobatan gagal jantung dan edema paru. Farmakodinamik Diuretic kuat terutama bekerja dengan cara menghambat reabsorpsi elektrolit Na+/K+/2Cl- di ansa henle asendens bagian epitel tebal; tempat kerjanya dipermukaan sel epitel bagian luminal. (yang menghadap ke lumen tubuli). Pada pemberian secara IV obat ini cenderung meningkatkan aliran darah ginjal tanpa disertai peningkatan filtrasi glomerulus. Perubahan hemodinamik ginjal ini mengakibatkan menurunnya reabsorpsi cairan dan elektrolit di tubuli proksimal serta meningkatnya efek elektrolit di tubuli proksimal serta meningkatnya efek awal dieresis. Diuretic kuat juga menyebabkan meningkatnya eksresi K+ dan kadar asam urat plasma, mekanismenya kemungkinan besar sama dengan tiazid. Eksresi Ca+2 dan Mg+ juga ditingkatkan sebanding dengan peningkatan eksresi -Na+. Berbeda dengan tiazid, golongan ini tidak meningkatkan re-absorpsi Ca+2 di tubuli distal.

Farmakokinetik a. Absorpsi : diuretic kuat mudah diserap melalui saluran cerna. Bioavailabilitas furosemid yaitu sekitar 65%. b. Distribusi : diuretic kuat terikat pada protein plasma secara ekstensif, sehingga tidak difiltrasi di glomerulus, tetapi cepat sekali disekresi melalui system transport asam organic ditubuli proksimal.

c. Eskresi : sebagian besar furosemid dieskresi melalui ginjal dalam bentuk utuh dan dalam konjugasi dengan senyawa sulfhidril terutama sistein dan Nasetil sistein. Hanya sebagian kecil yang diekskresi dalam bentuk glukoronid.

Mulai kerja Furosemid cukup pesat, oral dalam 0,5-1 jam dan bertahan 4-6 jam, intravena dalam beberapa menit dan 2,5 jam lamanya. Resorpsinnya dari usus hanya lebih kurang 50%, PP-nya k.l 97%, plasma t1/2-nya 30-60 menit; ekskresinya melalui kemih secara utuh, pada dosis tinggi juga lewat empedu. Dosis: pada udema oral 40-80 mg pagi p.c, jika perlu atau pada insufisiensi ginjalsampai 250-2000 mg sehari dalam 2-3 dosis. Injeksi i.v (perlahan) 20 40 mg, pada keadaan kemelut hipertensi sampai 500 mg(!). penggunaan i.m . tidak dianjurkan.

Interaksi Obat 1. Furosemid dengan ACE Inhibitor (Captopril, Lisinopril, Elanapril, dll) Kelas Mekanisme : : Furosemid dapat meningkatkan efek ACE inhibitors. Hal ini

kemungkinan karena adanya penghambatan produksi Angiotensin II oleh ACE inhibitor. Diuretik merangsang sekresi renin dan mengaktifkan sistem Renin Angiotensin Aldosteron sehingga memberi efek sinergistik dengan penghambat ACE. Penanganan : Monitoring status cairan dan berat badan secara hati-hati [6].

2.

Furosemid dengan Digoksin Kelas Mekanisme : : Diuretik menginduksi gangguan elektrolit sehingga

mengakibatkan terjadinya aritmia yang diinduksi oleh digoksin. Penanganan : Perlu dilakukan pengukuran kadar kalium darah ketika

menggunakan kombinasi obat ini. Disamping itu juga dapat dilakukan pemberian suplemen pada pasien dengan kadar kalium yang rendah. Pencegahan kehilangan kalium dengan diet pembatasan natrium atau penambahan diuretik hemat kalium juga bermanfaat.

3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Furosemid dengan Gentamisin dan Amikasin Furosemid dengan Indapamid, HCT Furosemid dengan Warfarin Furosemid dengan Asetosal Furosemid dengan Propanolol Furosemid dengan Ciprofloxasin Furosemid dengan Terbutalin

10. Furosemid dengan Teofilin

Efek samping Efek sampingnya berupa umum, pada injeksi i.v terlalu cepat, ada kalanya tetapi jarang terjadi ketulian (reversibel) dan hipotensi. Hipokaliemia reversibel dapat terjadi pula.